• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Paparan Data dan Validasi Data

6. Perbandingan Kelancaran Prosedural dalam Pemecahan Masalah

Tinggi dan Efikasi Diri Rendah

Pada proses menerapkan prosedur, kedua subjek dapat mengetahui apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan pada soal. Namun, hanya subjek dengan efikasi diri tinggi yang dapat mencermati masalah dengan baik. Subjek dengan efikasi diri rendah tidak terampil merepresentasi kalimat verbal ke dalam bentuk kalimat matematika. Akibatnya, subjek dengan efikasi diri rendah tidak mampu membuat hubungan antara informasi yang ia peroleh dengan penetapan tujuan permasalahannya.

Pada proses memilih dan memanfaatkan prosedur, subjek yang memiliki efikasi diri tinggi mencari himpunan penyelesaian dengan dua metode, yakni gabungan dan dan metode eliminasi. Alasannya menggunakan kedua metode tersebut adalah agar memudahkan perhitungannya dalam mencari himpunan penyelesaian. Subjek dengan efikasi diri tinggi mengatahui prinsip dari metode yang ia gunakan meskipun masih bersifat umum. Sedangkan subjek yang memiliki efikasi diri rendah menggunakan metode eliminasi. Ia menggunakan metode

147

tersebut karena ia tidak tahu dengan metode lain. Akan tetapi pada prosedurnya juga subjek dengan efikasi diri rendah tidak mengetahui prinsip dari metode yang ia gunakan.

Pada proses memodifikasi atau memperhalus prosedur, kedua subjek melakukan prosedur penyelesaiannya dengan langkah yang detail/halus. Meskipun jawaban kedua subjek tidak tepat, namun subjek dengan efikasi diri tinggi lebih unggul dibanding subjek dengan efikasi diri rendah. Subjek dengan efikasi diri tinggi melakukan penyelesaiannya sesuai dengan penetapan tujuan masalahnya, sedangkan subjek dengan efikasi diri rendah tidak mampu melakukan penyelesaian sesuai dengan tujuan permasalahan yang ia tetapkan di awal.

Meskipun penyelesaiannya masih bersifat umum, namun perbedaan dari kedua subjek sangat signifikan. Terlihat dari subjek yang memiliki efikasi diri tinggi yang lebih unggul dibandingkan dengan subjek yang memiliki efikasi diri rendah. Selain karena kemampuan yang masing-masing dimiliki, efikasi diri juga bisa mempengaruhi tindakan subjek. Pada saat wawancara, subjek yang memiliki efikasi diri tinggi menjawab pertanyaan dengan jelas sedangkan subjek yang memiliki efikasi diri rendah terlihat takut menjawab pertanyaan sehingga ia lebih memilih diam ketimbang menjelaskan hasil pekerjaannya.

Fakta ini sesuai dengan pendapat Bandura (Alfaiz dan Yandri, 2015) bahwa efikasi diri mempengaruhi tindakan seseorang dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Berdasarkan dimensi efikasi diri (Bandura, 1997), kekuatan akan keyakinan yang dimiliki individu menentukan ketahanan dan keuletannya dalam mempengaruhi sikapnya untuk memotivasi diri untuk tetap gigih dalam mencapai

148

suatu tujuan. Seperti pada subjek yang memiliki efikasi diri rendah, pengharapannya lemah dan ragu akan kemampuannya sehingga ia cenderung menghindar pada masalah yang diberikan.

7. Perbandingan Kelancaran Prosedural dalam Pemecahan Masalah Matematika Siswa Efikasi Diri Tinggi antara Gaya Kognitif Field

Independent dan Gaya Kognitif Field Dependent

Pada proses menerapkan prosedur, kedua subjek mampu mencermati permasalahan dengan baik. Subjek field independent dan subjek field dependent mampu mengolah informasi yang ia peroleh dan menetapkan tujuan dari permasalahan kemudian membuat hubungan-hubungan yang relevan yang menjadi bagian dari rencana penyelesaiannya.

Pada proses memilih dan memanfaatkan prosedur, subjek yang memiliki gaya kognitif field independent lebih memilih menggunakan metode eliminasi meskipun ia bisa menggunakan metode lainnya. Sedangkan subjek yang memiliki gaya kognitif field dependent memilih menggunakan metode berdasarkan kondisi masalah yang ia hadapi, maksudnya ia memilih metode yang tidak terlalu memerlukan banyak perhitungan. Subjek field independent mengetahui prinsip dari metode yang ia gunakan, begitu pun dengan subjek field dependent namun masih bersifat umum.

Pada proses memodifikasi atau memperhalus prosedur, kedua subjek melakukan penyelesaian masalah sesuai dengan tujuan permasalahan yang ditetapkan di awal. Selain itu kedua subjek melakukan prosedur menggunakan langkah yang detail. Namun, subjek field dependent kurang teliti pada saat melakukan perhitungan sehingga hasil yang ia peroleh kurang tepat.

149

Subjek dengan gaya kognitif field independent dan subjek dengan gaya kognitif field dependent keduanya memahami soal dengan baik. Keduanya sama-sama mampu mencermati masalah yang ada pada soal, tetapi memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah tersebut. Meskipun terlihat memiliki kemampuan yang sama, namun cara mereka melakukan analisis berbeda. Subjek yang memiliki gaya kognitif field dependent mengerjakan prosedur dengan cara yang lebih umum dibanding subjek yang memiliki gaya kognitif field independent. Selain itu, cara belajar keduanya pun berbeda. Subjek yang memiliki gaya kognitif

field independent lebih menyukai belajar secara individu sedangkan subjek yang

memiliki gaya kognitif field dependent lebih menyukai belajar matematika secara kelompok atau diskusi dengan teman atau guru.

Fakta tersebut sejalan dengan pendapat Desmita (2012) yang menyatakan bahwa gaya kognitif field independent dan field dependent mencerminkan cara analisis seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Rahman (2010) menjelaskan implikasi siswa yang memiliki gaya kognitif field independent cenderung memilih belajar matematika secara individual sedangkan siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent memilih belajar matematika secara kelompok. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Nasution (1982) yang membandingkan tipe field independent dan field dependent, yaitu individu field

independent tidak memerlukan petunjuk yang terperinci, sedangkan individu field dependent memerlukan petunjuk yang lebih terperinci untuk memahami sesuatu.

150

8. Perbandingan Kelancaran Prosedural dalam Pemecahan Masalah Matematika Siswa Efikasi Diri Rendah antara Gaya Kognitif Field

Independent dan Gaya Kognitif Field Dependent

Pada proses menerapkan prosedur, kedua subjek dapat mengetahui apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan pada soal. Namun, hanya subjek field

independent yang mampu mencermati masalah yang diberikan. Subjek field independent mampu mengubah kalimat verbal menjadi kalimat matematika atau

model dan mampu membuat pemisalan variabel yang ia gunakan. Sedangkan subjek field dependent tidak mampu mencermati masalah yang diberikan. Akibatnya, subjek field dependent membuat kalimat matematika tetapi ia tidak mengerti maksud dari model yang ia buat. Pemisalan variabel yang ia buat adalah kalimat yang diketahui yang ada pada soal.

Pada proses memilih dan memanfaatkan prosedur, subjek field independent menggunakan metode gabungan sedangkan subjek field dependent menggunakan metode eliminasi. Akan tetapi, hanya subjek field independent yang memahami prinsip dari metode yang ia gunakan.

Pada proses memodifikasi atau memperhalus prosedur, kedua subjek melakukan prosedur dengan langkah yang detail meskipun ada kesalahan dalam prosedurnya. Kedua subjek pada awalnya telah menetapkan tujuan dari permasalahan yang diberikan namun hanya subjek field independent yang mampu menyelesaikan sesuai dengan tujuan tersebut. Meskipun hasil penyelesaiannya kurang tepat, namun field independent menyelesaikan masalahnya dengan prosedur yang relevan. Sedangkan subjek field dependent tidak tepat dalam melakukan prosedur penyelesaian masalah. Sejak awal, subjek field dependent juga

151

menggunakan persamaan yang berbeda di setiap proses eliminasi variabel yang ia lakukan.

Perbedaan kedua subjek sangat signifikan. Meskipun sama-sama memiliki efikasi diri yang sama, namun masih ada penguatan motivasi dari dalam diri masing-masing yang dipengaruhi oleh gaya kognitif yang mereka miliki. Seperti pada subjek yang memiliki gaya kognitif field dependent yang tidak menyukai matematika, motivasi internal yang ia miliki kurang dari motivasi internal individu yang memiliki gaya kognitif field independent. Hal ini mempengaruhi kemampuan yang mereka miliki. Selain itu, subjek yang memiliki gaya kognitif field

independent cenderung memilah informasi dan menyusunnya berdasarkan persepsi

yang ia buat, sedangkan subjek yang memiliki gaya kognitif field dependent cenderung hanya mengetahui informasi yang ia peroleh tanpa mengetahui bagaimana cara mengolahnya.

Anastasi dan Susana (Uno, 2006) menyatakan bahwa implikasi dari perbedaan gaya kognitif yang dimiliki oleh individu cenderung memiliki kemampuan yang berbeda pula. Individu yang memililiki gaya kognitif field

independent lebih mengutamakan motivasi internal dan penguatan internal,

sedangkan individu yang memiliki gaya kognitif field dependent cenderung bekerja dengan motivasi eksternal dan lebih tertarik pada penguatan eksternal (Witkin, 1977; Nasution 1982). Anastasi dan Susana (Uno, 2006) menyatakan bahwa implikasi dari perbedaan gaya kognitif yang dimiliki oleh individu cenderung memiliki kemampuan yang berbeda pula. Hal ini berimplikasi pada proses pembelajaran hingga saat mereka diberikan suatu masalah matematika. Individu

152

yang memiliki gaya kognitif field independent memiliki kemampuan menganalisis untuk memisahkan objek dari lingkungannya, sedangkan individu yang memiliki gaya kognitif field dependent cenderung berpikir global dan menerima struktur yang sudah ada (Witkin, 1977).

153

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait