• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran 25 Lembar Uji Referensi

C. Analisis Data

Tahap analisis dimulai dengan membaca keseluruhan data yang diperoleh peneliti dari berbagai sumber. Diantaranya sebagai berikut: 1. Lembar Observasi

Lembar observasi juga digunakan untuk menganalisis dan merefleksi setiap siklus. Hasil dari observasi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

   

Tabel 4.10

Hasil Analisis Lembar Observasi Konsep Diri Siswa Pada Siklus I dan II

Berdasarkan tabel di atas, dapat diperol h e informasi konse dp iri siswa pada siklus I d

a. K o n s e p D i r i U m u m

No Aspek Konsep Diri

Siklus I Siklus II

Persentase (%)

Persentase (%)

1 Konsep Diri Umum

Berani mengerjakan soal di

depan kelas 23,7 59,8

Mentaati peraturan yang

berlaku 57,2 85,8

Mengeluarkan pendapat daam

berdiskusi kelompok 30,6 66,3

Dapat mengambil keputusan 19 68,6

Jumlah rata-rata 32,7 70,1

2 Konsep Diri Akademik

Mampu menjelaskan dengan baik materi yang sedang dipelajari

20,2 61,5 Bertanya pada guru atau teman

tentang materi yang belum dipahami

37,6 77,5 Dapat memecahkan soal 15 54,4

Mampu mengerjakan tugas

dengan baik 45,1 66,3

Jumlah rata-rata 29,5 64,9

3 Konsep Diri Sosial

Mampu bersosialisasi dengan

baik 45,7 69,2

Memiliki banyak teman 54,9 73,4

Memperhatikan dan

mendengarkan penjelasan guru 59 76,9 Membantu teman yang

kesulitan dalam belajar 27,7 59,8

Jumlah rata-rata 46,8 69,8

Total dan Rata-rata Persentase 36,3 68,3

Pada siklus I dan II dapat dilihat persentase peningkatan pada setiap indikator. Jumlah siswa yang mengalami peningkatan konsep diri pada indikator siswa berani mengerjakan soal di depan kelas sebesar 36,1%, untuk indikator mentaati peraturan yang berlaku sebesar 28,6%, indikator mengeluarkan pendapat dalam berdiskusi kelompok sebesar 35,7%, dan pada indikator dapat mengambil keputusan sebesar 49,6%. Rata-rata peningkatan konsep diri siswa

   

pada aspek konsep diri umum pada siklus I dan II adalah sbesar 37,4%.

b. Konsep Diri Akademik

Indikator pada aspek konsep diri akademik meliputi mampu menjelaskan dengan baik materi yang sedang dipelajari, bertanya pada guru atau teman tenatang materi yang belum dipahami, dapat memecahkan soal, dan mampu mengerjakan tugas dengan baik. Jika masing-masing indikator tersebut kita bandingkan hasilnya antara siklus I dan II maka persentase peningkatan untuk setiap indikator adalah sebesar 41,3%, 39,9%, 39,4%, dan 21,2%. Untuk rata-rata peningkatan konsep diri siswa pada aspek konsep diri akademik pada siklus I dan II adalah sbesar 25,4%.

c. Konsep Diri Sosial

Indikator pada aspek konsep diri sosial meliputi mampu bersosialisasi dengan baik, memiliki banyak teman, memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru, dan membantu teman yang kesulitan dalam belajar. Jika masing-masing indikator tersebut kita bandingkan hasilnya antara siklus I dan II maka persentase peningkatan untuk setiap indikator adalah sebesar 23,5%, 18,5%, 17,9%, dan 32,1%. Untuk rata-rata peningkatan konsep diri siswa pada aspek konsep diri akademik pada siklus I dan II adalah sbesar 23%.

Dari hasil skor pada lembar observasi, jumlah rata-ratayang dicapai pada siklus I terlihat bahwa konsep diri siswa terhadap matematika masih sangat rendah yaitu 36,3 %. Akan tetapi pada siklus II, jumlah rata-rata konsep diri siswa dalam belajar matematika mengalami peningkatan yaitu 68,3 %. Dan peningkatan tertinggi ada pada aspek konsep diri umum yaitu siswa mulai berani mengerjakan soal di depan

   

kelas, mentaati peraturan yang belaku, mengeluarkan pendapat dalam berdiskusi kelompok, dan dapat mengambil keputusan. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran terpadu tipe connected dapat meningkatkan konsep diri siswa dalam belajar matematika.

2. Skala Konsep Diri

Skala konsep diri diberikan kepada siswa sebanyak dua kali yaitu pada akhir siklus I dan akhir siklus II. Skala terdiri dari 40 pernyataan dengan 4 pilihan jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Nilai skor pada setiap pernyataan telah dijelaskan pada bab III. Hasil dari skala konsep diri siswa dalam belajar matematika setelah dikategorisasikan disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.11

Persentase Kategorisasi Skala Konsep Diri Siswa Dalam Belajar Matematika Pada Siklus I Dan II

Kategori Konsep Diri Siklus I Siklus II Jumlah Siswa Persentase Jumlah Siswa Persentase Tinggi 8 22,9% 13 37,1% Sedang 21 60% 22 62,9% Rendah 6 17,1% - -

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa pada siklus I tingkat konsep diri siswa dalam belajar matematika mencapai tiga kategori yaitu kategori tinggi, kategori rendah dan kategori tinggi, dengan masing- masing persentase yaitu 22,9%, 60%, dan 17,1%. Pada siklus II terjadi peningkatan yaitu tidak ada lagi siswa yang berkategori konsep diri rendah, sehingga kategori yang ada yaitu kategori tinggi dan kategori

   

sedang dengan persentase 37,1% dan 62,9%. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria keberhasilan yang ditentukan telah tercapai dan membuktikan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran terpadu tipe connected dapat meningkatkan konsep diri siswa dalam belajar matematika.

Hasil yang diperoleh dari lembar observasi dan skala konsep diri tersebut dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.12

Hubungan Perolehan Persentase Lembar Observasi dan Hasil Kategorisasi Skala Konsep Diri Siswa dengan Kriteria Keberhasilan

Siklus Persentase total rata- rata pada lembar observasi Kategorisasai konsep diri pada

skala

Keterangan

I 36,3%

Konsep diri tinggi (22,9%) Konsep diri sedang

(60%) Konsep diri rendah

(17,1%)

Persentase total rata-rata yang diperoleh pada lembar observasi pada siklus I yaitu 36,3% < 50%, dan kategorisasi konsep diri pada skala menempati 3 tingkat yaitu, konsep diri tinggi, sedang, dan rendah sehingga penelitian dilanjutkan ke siklus II

II 68,3%

Konsep diri tinggi (37,1%) Konsep diri sedang

(62,9%)

Persentase rata-rata yang diperoleh dari lembar observasi pada siklus II yaitu 68,3% > 50%, dan kategorisasi konsep diri siswa pada skala berada pada 2 tingkat yaitu kategorisasi tinggi ddan sedang sehingga penelitian dihentikan pada siklus II.

   

3. Wawancara

Setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II, hasil wawancara yang diperoleh memiliki perubahan pada pendapat guru dan siswa terhadap pelajaran matematika. Hasil wawancara dengan guru pada akhir siklus I dan siklus II dirangkum sebagai berikut:

a. Siswa merasa senang belajar matematika dengan penerapan model pembelajaran terpadu tipe connected.

b. Model pembelajaran terpadu tipe connected cocok diterapkan pada pembelajaran matematika.

c. Meningkatnya konsep diri siswa pada siklus II yang ditandai dengan munculnya keberanian siswa untuk bertanya dan mengerjakan soal di depan kelas, siswa mampu mengeluarkan pendapat ketika proses diskusi berlangsung, memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru serta siswa mampu bersosialisasi dengan baik dalam diiskusi kelompok.

d. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan, terutama pada siklus II. e. Dalam diskusi kelompok siswa sudah dapat bekerja sama dengan baik

antar anggota kelompok, apabila ada salah satu anggota kelompok yang belum mengerti maka anggota kelompok yang lain bersedia untuk membantu menjelaskan.

Sedangkan hasil wawancara kepada seluruh siswa mengenai pembelajaran yang dilakukan pada siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut:

a. Siswa menyukai pelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran terpadu tipe connected.

b. Sebagian besar siswa mengakui bahwa sekarang mereka memiliki keberanian untuk bertanya tentang materi yang belum mereka mengerti pada guru dan teman serta selalu siap jika disuruh mengerjakan soal di depan kelas karena mereka tidak takut jika melakukan kesalahan dalam menjawab soal tersebut.

   

c. Siswa merasakan ada perubahan dalam dirinya ketika belajar matematika baik dirumah maupun di sekolah, mereka jadi lebih semangat dan rajin dalam belajar matematika.

d. Bimbingan yang dilakukan peneliti dan guru kolaborator pada proses pembelajaran dirasakan siswa sangat membantu, karena selain mempermudah mereka mengerti materi yang diajarkan juga membuat siswa lebih dekat kepada peneliti dan guru kolaborator.

e. Siswa merasa senang karena hasil belajar yang diperoleh mengalami peningkatan.

f. Belajar dengan cara diskusi kelompok sangat disenangi siswa karena siswa dapat langsung bertanya dan berdiskusi kepada teman satu kelompok tentang hal-hal yang ingin diketahui pada materi yang dipelajari.

4. Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dilihat dari tugas individu, tugas kelompok dan tes akhir siklus I dan siklus II yang diberikan peneliti. Tugas individu diberikan pada akhir pembelajaran, untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah dijelaskan begitu juga tugas kelompok diberikan pada akhir pembelajaran. Tugas kelompok, siswa dapat bekerja sama dalam mengerjakan tugas dan siswa dapat berperan sebagai tutor sebaya sehingga siswa yang mempunyai kemampuan lebih dapat membantu siswa yang lainnya. Sedangkan tes akhir siklus I dan siklus II, dilakukan setelah materi pada siklus I dan siklus II selesai disampaikan. Siswa diharapkan dengan penerapan pembelajaran terpadu tipe connected hasil belajar siswa akan meningkat, dapat dilihat pada tabel.16 sebagai berikut.

   

Tabel 4.13

Tes Akhir siklus I dan II

Interval F Siklus I Siklus II 45-68 5 - 68-79 18 14 79-89 10 15 89-99 2 2 =100 - 4 Nilai rata 74,8 81,5

Dokumen terkait