• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran 25 Lembar Uji Referensi

E. Pembahasan Temuan Penelitian

1. Pembelajaran terpadu tipe connected dapat meningkatkan konsep diri siswa dalam pembelajaran matematika.

Dari penelitian ini, pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran terpadu tipe connected mampu meningkatkan konsep diri siswa dalam belajar matematika. Pada tahap penelitian pendahuluan siswa yang memiliki konsep diri rendah atau negatif terlihat dari perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa kurang memberikan perhatian saat belajar dan kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Mereka masih terlihat takut ketika harus mengerjakan soal di depan kelas, malu bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti, dan tidak sungguh-sunggu dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Pada siklus I

   

model pembelajaran terpadu tipe connected sudah mulai diterapkan. Ketika diskusi kelompok, sosialisasi siswa terhadap teman satu kelompoknya masih kurang. Hal ini terbukti ketika siswa tersebut merasa bingung dalam mengerjakan tugas kelompok, ia hanya diam atau mengerjakan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran matematika seperti: mencoret-coret buku atau melipat kertas. Perilaku yang mereka tunjukkan ini adalah ungkapan dari perasaan mereka yang kurang tertarik mempelajari matematika. Hal inipun terlihat di awal pelajaran, mereka tampak malas untuk memulai pelajaran sedangkan ketika pelajaran berakhir mereka terlihat senang.

Kondisi seperti ini menunjukkan konsep diri siswa dalam belajar matematika pada siklus I masih rendah, padahal konsep diri itu sangat berpengaruh dalam proses belajar. Oleh karena itu penelitian ini dilanjutkan dengan siklus II.

Model pembelajaran terpadu tipe connected ini dilanjutkan pada tindakan di siklus II. Ketika peneliti menyampaikan materi yang akan diajarkan, terlebih dahulu mengaitkan materi tersebut dengan materi sebelumnya sehingga memudahkan kerangka berpikir siswa tentang materi yang akan dipelajari.

Hasil yang diperoleh setelah menerapkan model pembelajaran terpadu tipe connected menunjukkan siswa menjadi bersemangat dan kelihatan senang selama proses pembelajaran matematika, telihat antusias memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru, memiliki keberanian untuk mengerjakan soal di depan kelas. Siswa yang mengalami kesulitan tidak malu untuk bertanya baik pada guru maupun teman. Saat diskusi kelompok siswa mampu bekerja sama dengan baik, ini memperlihatkan meningkatnya kemampuan sosialisasi siswa.

Peningkatan konsep diri ini dapat dilihat dari hasil lembar observasi yaitu pada siklus I rata-rata persentasenya sebesar 36,3 % dan pada sklus II sebesar 68,3%. Jadi peningkatan jumlah siswa sebesar 32% sehingga pada siklus II ini rata total persentasenya sebesar 68,3 %. Bukti

   

lain dapat dilihat dari hasil skala konsep diri yang menunjukkan bahwa pada siklus I, siswa yang memiliki kategori konsep diri tinggi sebesar 22,9 %, konsep diri sedang sebesar 60%, dan kategori konsep diri rendah sebesar 17,1 %. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan tingkat konsep diri siswa, dimana ada sebesar 37,1 % siswa yang berkategori konsep diri tinggi dan 62,9 % siswa yang berkategori konsep diri sedang, dan tidak satupun siswa yang berada pada kategori konsep diri rendah. Disamping itu dari hasil wawancarra dengan siswa dan guru diperoleh data bahwa siswa sudah memiliki kemampuan dalam belajar matematika yang ditunjukkkan dengan rasa percaya diri dan keberanian dalam belajar matematika.

2. Pembelajaran terpadu tipe connected dapat meningkatkan keatifan siswa selama proses pembelajaran matematika.

Berdasarkan pengamatan selama berlangsungnya pembelajaran dengan mennggunakan pembelajaran terpadu tipe connected, siswa menjadi lebih aktif karena diharuskan berdiskusi dengan anggota kelompoknya yang lain untuk memecahkan soal pada lembar kerja siswa. Siswa juga dapat mengorganisir pengetahuan bagaimana penyelesaian soal dari kelompok lain dengan cara yang berbeda.

3. Pembelajaran terpadu tipe connected dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

Seiring dengan meningkatnya konsep diri siswa dalam belajar matematika, yaitu adanya pandangan positif dari dalam diri siswa terhadap kemampuannya dalam belajar matematika sehingga mendorong terjadinya perubahan-perubahan yang positif pada perilaku siswa. Hal ini menimbulkan efek yang positif terhadap hasil belajar siswa pada pelajaran matematika. Peningkatan hasil belajar ditunjukkan dari hasil pada siklus I dan II. Selain itu penerapan model pembelajaran terpadu tipe connected membantu siswa dalam memahami konsep yang diajarkan sehingga

   

   

mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan teori Forgarty yang mengemukakan bahwa model connected memberikan pelajaran yang lebih bermakna dan efektif. Hal ini dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 4.14

Perolehan Statistika Deskriptif dari Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II

Keterangan Siklus I Siklus II

Rata-rata 74,8% 81,5%

Nilai Tertinggi 95 100

Nilai Terendah 55 70

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata siswa meningkat sebesar 6,7% yaitu dari 74,8% pada siklus I menjadi 81,5% pada siklus II. Nilai tertinggi pada siklus I adalah 95 dan 100 pada siklus II. Sedangkan untuk nilai terendah 55 pada siklus I dan 70 pada siklus II. Dapat disimpulakan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa baik pada nilai rata-rata maupun nilai tertinggi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dengan menerapkan model pembelajaran terpadu tipe connected pada materi persamaan garis lurus dan system persamaan linesr dua variable, dan pembahasannya sebagimana telah diuraikan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya konsep diri siswa dalam belajar matematika diantaranya: dikarenakan dalam pembelajaran matematika guru belum menggunakan pembelajaran yang bervariatif, lebih kepada pemberian tugas dan PR, guru jarang menghubungkan konsep yang telah diajarkan dengan konsep yang akan diajarkan. Bimbingan yang dilakukan guru baik secara individual dan kelompok dalam proses pembelajaran matematika belum begitu intensif, siswa kurang menyenangi pelajaran matematika karena memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan dalam belajar matematika di masa lalu sehingga mempengaruhi perilaku siswa dalam pembelajaran matematika, siswa kurang berani bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti, dan siswa kuranng sungguh-sunguh dalam mengerjakan tugas, sehingga kurang terlatih mengerjakan soal.

2. Pembelajaran terpadu tipe connected dapat meningkatkan konsep diri siswa dalam pembelajaran matematika. Peningkatan konsep diri ini dapat dilihat dari hasil lembar observasi, skala konsep diri, wawancara dengan guru kolaborator dan siswa. Peningkatan konsep diri sekaligus meningkatkan prestasi belajar siswa pada siklus I dan II.

3. Penerapkan model pembelajaran terpadu tipe connected ini mempengaruhi perilaku siswa dalam belajar matematika yaitu siswa lebih bersemangat dan kelihatan senang selama proses pembelajaran matematika, mereka telihat antusias memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru,

112   

113   

memiliki keberanian untuk mengerjakan soal di depan kelas, dan ketika mengalami kesulitan mereka tidak segan lagi untuk bertanya baik pada guru maupun teman. Proses diskusi kelompok yang merupakan bagian dari pembelajaran terpadu tipe connected membuat siswa mampu bekerja sama dengan baik. Siswa yang belum mengerti merasa terbantu dengan penjelasan dari siswa lainnya, hal ini juga menunjukkan peningkatan sosialisasi siswa.

B. Saran

1. Guru matematika khususnya di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta, disarankan dapat menerapkan pembelajaran terpadu tipe connected karena pembelajaran ini mampu meningkatkan konsep diri siswa dan menciptakan suasana baru yang menyenangkan dalam belajar matematika, sehingga siswa dapat mencapai prestasi yang optimal.

2. Pihak sekolah hendaknya memberikan dukungan pada pengembangan pembelajaran terpadu tipe connected sehingga proses pembelajaran matematika dapat berjalan secara efektif.

3. Pada setiap akhir pertemuan, sebaiknya guru selalu menganalisa kekurangan-kekurangan yang ada sehingga pertemuan selanjutnya akan menjadi lebih baik.

4. Pada pembelajaran terpadu tipe connected, siswa disarankan ungtuk lebih aktif dan mampu bekerja sama dengan baik, sehingga akan lebih mudah mengerti dan memehami materi yang diajarkan.

Untuk data yang berdistribusi normal: • Nilai maksimum : 4 x 40 = 160 • Nilai minimum : 1 x 40 = 40 • Luas jarak sebarannya : 160 – 40 = 120 • σ = 120/5 = 24

• µ = 40 x 2,5 = 100

Maka pengkategorisasiannya sebagai berikut:

Kategorisasi tinggi apabila (µ + 1,0 σ) ≤ x {100 + 1,0 (24)} ≤ x (100 + 24) ≤ x

124 ≤ x

Kategorisasi sedang apabila (μ - 0,1 σ) ≤ X < (μ + 0,1 σ) {100 - 1,0 (24)} ≤ X < {100 + 1,0 (24)}

(100 - 24) ≤ X < (100 + 24) 76 ≤ X < 124

Kategorisasi rendah apabila X < (μ - 0,1 σ) X < {100 - 1,0 (24)}

X < (100 - 24)

Lampiran 4

LEMBAR KERJA SISWA 1

Persamaan linear dengan dua variabel (SPLDV) adalah persamaan yang memiliki dua variabel dimana variabelnya berpangkat satu.

Penyelesaian persamaan linear dua variabel dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1. ………

2. ………

System persamaan linear dua variabel adalah dua persamaan linear dua variabel yang memiliki satu pasang penyelesaian yang sama.

Perbedaan antara Persamaan linear Dua Variabel dan Sistem Persamaan Linear dua Variabel yaitu :

1. ……….

2. ……….

Diskusikan soal-soal di bawah ini bersama kelompokmu! Jawablah soal-soal dibawah ini dengan benar!

1. Manakah di antara persaman-persamaan berikut yang merupakan persamaan linear? a. 4p + 2 = 8 ... . b. 2a = 4 – 3a ... c. x2 – 2x + 1 = 0 ...

2. Diantara persamaan-persamaan berikut manakah yang merupakan sistem persamaan liner dua variabel?

a. 4x + 5y = 13 dan 2p +3q = 7 ...

b. 2p + 3q = 8 dan p – 2q = -3 ...

c. 3. B . 3x + 2y d ... dan x = 3y ...

Buatlah grafikk penyelesaiian dari perssamaan lineaar x – y = 3! . x 0 y 4. T a. .. b .. Tentukan nila . x + 3a = 5a ... . 4p – 2x = ... 1 2 ai x dan y da a ... 10p ... 2 3 4 5 ari persamaa ... ... an-persamaan ... ... n berikut! ... ...

c. 3y + 2b = 14b

... 5. entukan koefisien dan variabel pada persamaan 5p – 3q = 1!

... ...

T

LKS 2

Sistem Persamaan Linear Dua variabel

1. Metode Sub

punan penyelesaian dari:

ya: 3x titusi o Tentukan him 3x -2y = 6 4x + 2y = 22 Penyelesaiann 3x – 2y = 6 -2y = 6 – Y =

-

Y =

-

a i y ke persamaan (2) Subtitusik n n lai 4x + 2y = 22 4x + 2 (

- )

= 22 .. .... .... = .... .... .... X = .. ...

ubtit ilai x ke persamaan lain:

idapat nilai y = ....

elesaiannya adalah {(....,....)}

2. Metode Eiminasi

impunana penyelesaian dari:

ya: .... = .... .... .... .... = .... .... .... .. S usikan n D

Maka himpunan peny

o Tentukan h 2x – 3y = 11 3x + 4y = -8 Penyelesaiann 2x – 3y = 11 [x....] 3x + 4y = -8 [x....] .... = ...

3. Metode Grafik

himpunan penyelesaian dari

nnya = 1 o Tentukan x – y = 1 x – 2y = 3 penyelesaia ¾ x – y x 0 y 0

Maka oord t titiknya adalah (...,...) dan (...,...)

¾

k ina

x – 2y = 3 x 0

y 0

Maka oord t titiknya adalah (...,...) dan (...,...)

Grafi

Y

X

Maka himpunan penyelesaiannya adalah {(....,....)}

himpunan penyelesaian dari:

k ina k Latihan Tentukan a. 5x + 2y = 11 dan 6x – 3y = 51 b. 4x – 2y = -4 dan -3y + 5y = 38

LKS 3

1. Dua buah bilangan cacah berjumlah 60 dan selisih kedua bilangan itu 30.

2. Banyak siswa putra dan putri adalah 48 anak. Siswa putra lebih banyak

.

3. Harga 2 pasang sepatu dan 3 pasang sandal adalah Rp 90.000,00,

l!

4. Dua buah sudut saling berpenyiku. Besar sudut yang satu 2 kali sudut yang

5. Keliling sebuah persegi panjang adalah 160 cm. Sedangkan panjangnya 20

Tentukan kedua bilangan itu!

daripada siswa putri. Selisih banyak siswa putra dan putri adalah 4 anak Tentukan banyak masing–masing siswa!

sedangkan harga 3 pasang sepatu dan 4 pasang sandal adalah Rp 130.000,00. Tentukan harga sepasang sepatu dan sepasang sanda

lain. Tentukan besar sudut masing–masing!

cm lebih panjang dari lebarnya. Tentukan panjang dan lebar persegi panjang tersebut!

Lampiran 5

KISI-KISI INSTRUMEN TES AKHIR SIKLUS I

No Kompetensi Dasar Ranah kognitif Jumlah C2 C3 C4

1 Menentukan persamaan garis yang melalui dua titik, dan melalui sebuah titik dengan tertentu. 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 - 6

2 Menentukan koordinat titik potong dua garis

7, 9, dan 10 - 8 4 Jumlah

9 - 1

10

Ket: C2 : Pemahaman C3 : Penerapan C4 : Analisa

Lampiran 8

Tes Akhir Siklus 2

1. Berikan 5 contoh bentuk persamaan linear dua variabel dengan bentuk

variabel yang berbeda!

2. Himpunan penyelesaian dari 2x + 3y =9 dan x + 2y = 4 adalah....

3. Himpunan penyelesaian dari 3a – 5b = 8 dan 7a + 2b = 5 adalah....

4. Nilai p dan q memenuhi persamaan 2p- q = 4 dan 3p + 5q = 19, maka nilai p + q

adalah....

5. Nilai x dan y memenuhi persamaan 6x – 3y = -15 dan 3x + 5y = 12, makan nilai

dari 2x + y =....

6. Harga 2 pensil dan 3 buku adalah Rp. 9.000,00, sedangkan harga 1 pensil dan

4 buku adalah Rp. 9.500,00, berapakah harga 1 buku?

7. Umur budi lebih muda 6 tahun dari dua kali umur Ani. Jumlah umur mereka

adalah 30 tahun. Berapakah umur Budi?

8. Panjang suatu persegi panjang lebuh 5 cm dari lebarnya. Jika keliling persegi

tersebut adalah 22 cm. Berapakah p x l?

9. Enam mangga dan dua apel dijual dengan harga Rp. 9.000,00. Sedangkan 16

mangga dan 8 apel dijual dengan harga Rp. 28.000,00. Maka harga apel tersebut adalah..

Lampiran 7

KISI-KISI INSTRUMEN TES AKHIR SIKLUS II

No Indikator Ranah kognitif Jumlah C2 C3 C4

1 Mengenal SPLDV dalam

berbagai bentuk dan variable. 1 - - 1

2 Menentukan penyelesaian SPLDV dengan substitusi, eliminasi dan grafik.

2,3,4,5 - - 4

3 Menyelesaikan bentuk masalah sehari-hari yang melibatkan SPLDV.

- - 6,7,8,9 4

4 Membuat model matematika dari masalah sehari-hari yang melibatkan SPLDV. - 10 - 1 Jumlah

5 1 4

10

Ket: C2 : Pemahaman C3 : Penerapan C4 : Analisa

MATERI

A. Persamaan Linear dengan dua variabel (PLDV)

a. Pengertian Persamaan Linear dengan Dua Variabel (PLDV).

Perhatikan persamaan 3x + 2y = 6. Persamaan ini memiliki dua

variabel yaitu x s y dn masing-masing variabel tersebut

berpangkat satu. Persamaan seperti 3x + 2y = 6 ini disebut

persamaan linear dengan dua variabel.

Jadi, persamaan linear dengan dua variabel (SPLDV) adalah persamaan yang memiliki dua variabel dimana variabelnya

berpangkat satu.

b. Penyelesaian Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV).

Misalkan diberikan persamaan 2x + y = 4. Penyelesaiannya dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

Cara 1: Mencoba mensubtitusikan dua nilai pada masing-masing

variabel secara bersamaan.

¾ Misalkan diambil nilai x = 1 dan y = 1, Maka 2(1) + 1 = 4

2 + 1 = 4

3 = 4 (salah)

¾ Untuk x = 2 dan y = 1, maka 2(2) + 1 = 4

5 = 4 (salah) Untuk x = 1 dan y = 2, maka 2(1) + 2 = 4

4 = 4 (benar)

Ternyata x = 1 dan y = 2 merupakan penyelesaian dari 2x + y = 4.

Cara 2: Mencoba hanya satu variabel yang disubtitusi nilainya.

¾ Misalkan nilai x = 1, maka 2(1) + y = 4 2 + y = 4

y = 2 untuk x = 1 dan y = 2, maka 2(1) + 2 = 4

4 = 4 (benar)

Jadi, x = 1 dan y= 2 merupakan penyelesaian 2x + y = 4

¾ Misalkan nilai y = 4, maka 2x + 4 = 4 2x = 0 x = 0 untuk x = 0 dan y = 4, maka 2(0) + 4 = 4

4 = 4 (benar)

Berdasarkan cara kedua diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Jika suatu nilai disubtitusikan ke sebuah variabel, maka kita

peroleh nilai variabel lain yang keduanya merupakan penyelesaian dari PLDV.

2. Untuk sebuah PLDV, terdapat lebih dari satu penyelesaian.

c. Grafik penyelesaian PLDV.

Grafik penyelesaian dari persamaan x + y = 4, sbb:

x 0 1 2 3 4 y 4 3 2 1 0 Y 4 3 2 1 X 0 1 2 3 4

B. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)

a. Pengertian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV).

Misalkan diketahui persamaan x + y = 5 dan 2x – y = 4. Pada kedua persamaan tersebut jika x diganti 3 dan y diganti 2, diperoleh:

x + y = 3 + 2 = 5 merupakan kalimat benar.

2x – y = 2(3) – 2 = 4 merupakan kalimat benar.

Ternyata pengganti x = 3 dan y = 2 memenuhi persamaan x + y =

5 maupun 2x – y = 4. Jadi kedua persamaan itu mempunyai

penyelesaia yang sama, yaitu pasangan x = 3 dan y = 2. Dalam

hal ini x – y = 4 disebut sistem prsamaan linear dua variabel (SPLDV), karena memiliki penyelesaian yang sama.

Jadi, system persamaan linear dua variabel adalah dua persamaan linear dua variabel yang memiliki satu pasang

penyelesaian yang sama.

System persamaan dua variabel (SPLDV) dapat dinyatakan dengan dua cara berikut ini:

1. x + y = 5 dan 2x – y = 4 2. x + y = 5

2x – y = 4

C. Perbedaan antara Persamaan linear Dua Variabel dan Sistem Persamaan Linear dua Variabel.

a. Sebuah PLDV adalah sebuah persamaan yang mandiri, artinya

penyelesaian PLDV tersebut tidak terkait dengan PLDV yang lain,

b. Sedangkan SPLDV terdiri dari dua PLDV yang saling terkait, dalam

arti penyelesaian dari SPLDV harus sekaligus memenuhi kedua PLDV pembentuknya.

¾ Menyatakan suatu variabel dengan variabel lain pada persamaan linear

Contoh:

Tentukan penyelesaian dari x dan y pada persamaan- persamaan berikut ini!

1. x + a = 4a 2. 2y - 4b = 10b Jawab: 1. x + a = 4a 2. 2y – 4b = 10b x = 4a – a 2y = 10b + 4b x = 3a 2y = 14b y = 14b/2 y = 7b

¾ Variabel dan koefisien pada system persamaan linear dua variabel

1. Pada bentik aljabar 6p, 6 dsebut koefisien dan p disebut variabel.

2. Pada bentuk aljabar -3x, -3 disebut koefisien dan x disebut variabel.

Perhatikan system persamaan linear berikut! 2x + 3y = dan 3x – y = 5

2 adalah koefisien dari x Pada 2x

x adalah variabel

3 adalah koefisien dari y pada 3y

y adalah variabel -1 adalah koefisien dari y pada -y

y adalah variable

¾ Penyelesaian atau akar dan bukan akar system persamaan linear dua variabel.

Contoh:

1. Diketahui system persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5. Tunjukkan bahwa x = 4 dan y = 3 merupakan akar atau penyelesaiannya!

Jawab:

Nilai x = 4 dan y = 3 disubtitusikan pada persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5, diperoleh:

x + 2y = 10 2x – y = 5

4 + 2(3)= 10 2(4) – 3 = 5

4 + 6 = 10 8 – 3 = 5

10 = 10 (benar) 5= 5 (benar)

Karena selalu diperoleh kalimat benar, maka x = 4 dan y = 3 merupakan akar atau penyelesaian dari system persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5.

2. Diketahui system persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5. Tunjukkan bahwa x = 6 dan y = 2 merupakan akar atau penyelesaiannya!

Jawab:

Nilai x = 6 dan y = 2 disubtitusikan pada persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5, diperoleh:

x + 2y = 10 2x – y = 5

6 + 2(2)= 10 2(6) – 2 = 5

6 + 4 = 10 12 – 2 = 5

10 = 10 (benar) 10 = 5 (salah)

Karena salah satu persamaan menjadi kalimat salah, maka x = 6 dan y = 2 bukan merupakan akar atau penyelesaian dari system persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5.

Menyelesaikan SPLDV dengan metode subtitusi, eliminasi, dan grafik.

Tentukan himpunan penyelesaian SPLDV berikut:

¾ x + y =2

¾ 3x + y = 6

Penyelesaian:

Langkah 1. Tuliskan masing-masing persamaan dalam bentuk (1) dan (2).

¾ x + y =2 …(1)

¾ 3x + y = 6 …(2)

Langkah 2. Pilih salah satu persamaan, kemudian nyatakan salah satu variabelnya dalam bentuk lainnya.

x + y = 2

y = 2 – x …(3)

langkah 3. Nilai variabel y pada persamaan (3) menggantkan y pada persamaan (2). 3x + y = 6 3x +(2 – x) = 6 3x – x = 6 – 2 2x = 4 X = 2

Langkah 4. Nilai x yang didapat, disubtitusikan pada salah satu persamaan awal untuk mendapatkan nilai y.

x + y = 2 2 + y = 2 y = 2 – 2 y = 0

dari perhitungan tersebut didapat nilai x = 2 dan y = 0 maka himpunan penyelesaiannya adalah {(2,0)}

Metode Eliminasi

Langkah 1. Menghilangkan salah satu variabel dengan menyetarakan koefisiennya terlebih dahulu.

x + y =2 [x3] 3x + 3y = 6 3x + y = 6 [x1] 3x + y = 6 -

2y = 0 y = 0

Langkah 2. Menghilangkan variabel yang lainnnya denggan menyetarakan koefisiennya terlebih dahulu.

x + y = 2 3x + y = 6 - -2x = -4 x = 2

dari perhitungan tersebut didapat nilai x = 2 dan y = 0 maka himpunan penyelesaiannya adalah {(2,0)}

Metode Grafik

¾ x + y = 2

x 0 2 y 2 0

Diperoleh titik (0,2) dan (2,0)

¾ 3x + y = 6

x 0 2 y 6 0

Diperoleh titik (0,6) dan (2,0)

Grafik Y 8 6 4 2 X 0 2 4 6 8

Model matematika dari masalah sehari-hari yang melibatkan SPLDV

Contoh:

Ani membeli dua buku dan tiga pensil. Harga seluruhnya Rp. 2.000,00.

Ubahlah pernyataan di atas dalam kalimat matematika. Jawab:

Misalkan: Pensil : x

Buku : y

Dua buku berarti : 2y

Tiga pensil berarti : 3x

Harga seluruhnya : Rp. 2.000,00

PEDOMAN WAWANCARA GURU PRA PENELITIAN

Wawancara dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal :

Responden :

Tempat :

Tujuan Wawancara : Mengidentifikasi kondisi awal proses pembelajaran matematika pada kelas yang akan diteliti.

1. Hambatan-hambatan apa yang Bapak rasakan ketika mengajar matematika dikelas VIII-E?

2. Bagaimana reaksi siswa ketika Bapak memberikan pekerjaan rumah? 3. Apakah siswa selalu mengerjakan tugas-tugas yang Bapak berikan baik

secara individu maupun kelompok?

4. Apakah siswa bertanya ketika mengalami kesulitan dalam belajar matematika?

5. Ketika siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal di depan kelas, apakah siswa berani melaksanakan tugas tersebut?

6. Apakah Bapak melihat kekecewaan dalam diri siswa ketika memperoleh nilai jelek dalam pelajaran matematika?

7. Apakah ketika Bapak memberikan soal matematika, siswa semangat dan ulet dalam mengerjakannya?

8. Apakah siswa selalu mengeluh dalam belajar matematika?

9. Apakah bapak melakukan pendekatan emosional kepada siswa yang bapak ajarkan?

10.Metode pembelajaran seperti apa yang selama ini bapak gunakan dalam proses belajar mengajar matematika di sekolah?

11.Apakah bapak sering memberikan motivasi kepada siswa agar selalu meningkatkan prestasinya belajar matematikanya?

12.Apakah dalam proses pembelajaran matematika bapak membimbing siswa baik secara individual maupun kelompok belajar?

13.Menurut pendapat bapak bagaimana konsep diri siswa (pandangan siswa terhadap kemampuan yang dimilikinya) dalam belajar matematika, kira- kira berapa persen siswa yang memiliki konsep diri tinggi dalam kelas? 14.Bagaimana pendapat bapak mengenai pembelajaran terpadu tipe connected

HASIL WAWANCARA DENGAN GURU PRA PENELITIAN

Wawancara dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal :

Responden :

Tempat :

Tujuan Wawancara : Mengidentifikasi kondisi awal proses pembelajaran matematika pada kelas yang akan diteliti.

1. Hambatan-hambatan apa yang Bapak rasakan ketika mengajar matematika dikelas VIII-E?

Jawaban:

Hambatan dalam proses belajar mengajar matematika yang kami hadapi bervariasi, tidak hanya masalah materi yang kami ajarkan tetapi juga masalah psikologis siswa. Misalnya dalam proses pembelajaran, ketika siswa susah sekali memahami dan meresapi materi yang kami ajarkan, ada sebagian yang sudah paham tetapi ada sebagian yang belum paham. Nah dengan kondisi seperti ini kami berpikir haruskah materi itu dilanjutkan padahal ada siswa yang belum paham atau di sisi lain mengejar target kurikulum.

2. Bagaimana reaksi siswa ketika Bapak memberikan pekerjaan rumah? Jawaban:

Yang jelas reaksi siswa bervariasi, bagi siswa-siswa yang berprestasi mereka terlihat senang, bagi siswa yang biasa-biasa saja mereka terlihat biasa aja, tapi bagi siswa-siswa yang kurang berprestasi

mereka terlihat tidak senang, mungkin karena tidak bisa. Tetapi selama kami memberikan PR kepada siswa, alhamdulillah mereka pasti mengerjakannya dan memang hal itu sudah kami tekankan.

3. Apakah siswa selalu mengerjakan tugas-tugas yang Bapak berikan baik secara individu maupun kelompok?

Jawaban:

Sebagaimana yang tadi telah saya jelaskan, kami menekankan siswa untuk selalu mengerjakan tugas yang kami berikan.

4. Apakah siswa bertanya ketika mengalami kesulitan dalam belajar matematika?

Jawaban:

Ya…ada beberapa siswa yang selalu bertanya ketika mengalami kesulitan atau kurang mengerti baik dalam penerimaan materi atau dalam mengerjakan soal, ada siswa yang diam saja namun ketika kita datangi ke tempat duduknya baru siswa tersebut mau bertanya, tetapi ada juga siswa yang bener-bener cuek dan masa bodoh.

5. Ketika siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal di depan kelas, apakah siswa berani melaksanakan tugas tersebut?

Jawaban:

Ya…beragam, jika soal yang kita berikan itu mampu mereka selesaikan mereka berani tetapi jika soal dianggap sukar, mereka akan enggan untuk maju.

6. Apakah Bapak melihat kekecewaan dalam diri siswa ketika memperoleh nilai jelek dalam pelajaran matematika?

Kelihatannya memang begitu, mereka kecewa ketika mendapatkan nilai jelek, namun ada juga siswa yang kelihatan acuh saja ketika mendapatkan nilai jelek walaupun hanya segelintir orang saja.

7. Apakah ketika Bapak memberikan soal matematika, siswa semangat dan ulet dalam mengerjakannya?

Jawaban:

Tergantung soalnya juga, ketika soal itu oleh siswa dirasakan mudah maka mereka antusias untuk mengerjakannya, dan ketika soal dirasa sulit maka mereka terlihat kurang antusias dan akan bertanya kepada kami selaku gurunya.

8. Apakah siswa selalu mengeluh dalam belajar matematika? Jawaban:

Sebagian siswa sering mengeluh, terutama ketika mereka menghadapi soal matematika yang sulit.

9. Apakah bapak melakukan pendekatan emosional kepada siswa yang bapak ajarkan?

Jawaban:

Hanya beberapa siswa saja dan itu juga yang berprestasi karena mereka sering sekali bertanya baik di dalam maupun diluar jam pembelajaran.

10.Metode pembelajaran seperti apa yang selama ini bapak gunakan dalam proses belajar mengajar matematika di sekolah?

Biasanya saya memberikan penjelasan materi dengan metode ceramah, demonstrasi, tanya jawab, dan penugasan.

11.Apakah bapak sering memberikan motivasi kepada siswa agar selalu meningkatkan prestasi belajar matematikanya?

Yang jelas saya selalu mengingatkan siswa untuk mengulang pelajaran matematika di rumah karena pengulangan itu sangat penting agar mereka lebih mengerti.

12.Apakah dalam proses pembelajaran matematika bapak membimbing siswa baik secara individual maupun kelompok belajar?

Kadang-kadang siswa kami bimbing, misalnya kami beri penjelasan ketika mereka kurang mengerti dan lain sebagainya

13.Menurut pendapat bapak bagaimana konsep diri siswa (pandangan siswa terhadap kemampuan yang dimilikinya) dalam belajar matematika, kira- kira berapa persen siswa yang memiliki konsep diri positif dalam kelas?

Menurut saya hanya beberapa siswa/I saja yang memiliki konsep

Dokumen terkait