BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
METODE PENELITIAN A.Metode Penelitian
F. Analisis Data
71
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Teknik analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau mengambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2013, hlm.207-208). Untuk menentukan tingkat validitas multimedia pembelajaran, peneliti memakai skala Ratting Scale. Menurut Sugiyono (2013, hlm. 141) mengemukakan bahwa dengan skala pengukuran Ratting Scale, data mentah yang diperoleh, berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Peneliti menggunakan skala Ratting Scale karena untuk mengukur jawaban dari responden akan lebih fleksibel, tidak terbatas dari pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur pengetahuan, proses kegiatan dan lain-lain. Agar dapat digunakan sesuai maksud penelitian, maka data kualitatif ditranformasikan lebih dahulu berdasarkan bobot skor yang ditetapkan menjadi data kuantitatif, yaitu satu, dua, tiga, dan empat. Data ini merupakan kuantitatif yang selanjutnya dianalisis dengan statistik deskriptif.
Selanjutnya tingkat validasi multimedia pembelajaran dalam penelitian ini digolongkan dalam empat kategori dengan menggunakan skala sebagai berikut:
Gambar 3.6 Skala Pengukuran
Tabel 3.2 Kategori tingkat validitas
Skor Presentase Interpretasi 1 0% – 25% Tidak baik 2 25% – 50% Kurang baik 3 50% – 75% Cukup baik 4 75% – 100% Sangat baik
0% 25% 50% 75% 100%
72
Cara menghitung persentase validitass dengan ratting scale digunakan rumus sebagai berikut (Sugiyono,2013, hlm. 143-144) :
Persentase validitas =
Keterangan Rumus :
Jumlah Skor Kriterium adalah apabila setiap butir mendapatkan skor tertinggi. Rumus untuk mencari Jumlah Skor Kriterium sebagai berikut (Sugiyono, 2013, hlm.143):
Dari angket tersebut, data penelitian yang bersifat kualitatif dalam hal ini komentar, saran, dan kesimpulan dijadikan dasar dalam merevisi multimedia pembelajaran sebelum diujicobakan.
Sedangkan untuk menghitunng validitas instrumen untuk siswa oleh para ahli digunakan validitas isi (content validity) dengan teknik penilaian ahli ( jugement) dimana validitas isi suatu alat ukut dinilai dan diselidiki dengan meminta pertimbangan kelompok ahli (expert judgement). Pada penelitian ini, validitas isi dengan teknik penilaian ahli digunakan untuk menentukan apabila butir instrument tersebut sesuai dengan tujua pembelajaran atau indikator yang ditetapkan.
Dibutuhkan ahli dari tunagrahita dan guru kelas untuk memvalidasi instrument untuk siswa tersebut. Hasil dari para ahli dikatakan valid jika perolehan skornya diatas 50%. Adapun perhitungannya yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan : P = Presentase
F = Jumlah yang cocok N = Jumlah penilai
Jumlah Skor Hasil Pengumpulan Data
Jumlah Skor Kriterium X 100%
Jumlah Skor Kriterium = Skor Tertinggi x Jumlah Butir x Jumlah Responden
P = F
73
Kriteria butir validitas dibagi empat, yaitu :
1. Valid =
2. Cukup Valid =
3. Kurang Valid =
4. Tidak Valid =
Hasil dari jugement terhadap tiga orang ahli diperoleh hasil dengan
presentase 100%, artinya ditinjau dari validitas instrument ini layak digunakan.
Adapun hasil perhitungan dari validitass dapat dilihat pada lampiran. 3 3 x 100% = 100% 2 3 x 100% = 66,6% 1 3 x 100% = 33,3% 0 3 x 100% = 0%
Rahmadhani. 2014
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DALAM BIDANG BERHITUNG
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Multimedia pembelajaran Senang Berhitung merupakan salah satu alternatif bagi guru SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa) dalam melakukan proses pembelajaran di kelas. Dengan adanya multimedia pembelajaran Senang Berhitung, proses pembelajaran akan terasa lebih menarik dan menyenangkan dan siswa tunagrahita ringan akan lebih mudah memahami materi pelajaran.
Berdasarkan hasil yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian dan pengembangan didapatkan beberapa kesimpulan yang disesuai dengan tujuan penelitian, antara lain sebagai berikut:
1. Proses pengembangan multimedia pembelajaran untuk anak tunagrahita ringan dalam bidang berhitung meliputi tahap analisis kebutuhan pengguna dan program, desain multimedia dan pembelajaran , pengembangan multimedia pembelajaran dengan validasi para ahli, implementasi kepada anak tunagrahita ringan dan penilaian berdasarkan tangapan dan respoon siswa.
2. Ditinjau dari berbagai aspek seperti aspek umum, rekayasa perangkat lunak, dan komunikasi visual dari multimedia pembelajaran untuk anak tunagrahita ringan dalam bidang berhitung yang dikembangkan telah mendapatkan penilaian katergori sangat baik yaitu sebesar 85.02%, menunjukan bahwa prototype yang telah dibuat, dari segi validasi ahli media layak digunakan oleh siswa tunagrahita ringan dalam pembelajaran. Dari segi validasi ahlli materi prototype ini mendapatkan presentase validasi sebesar 85.12% yang dikategorikan sangat baik dan layak untuk diujicobakan.
116
3. Ditinjau dari beberapa tanggapan dan respon dari siswa terhadap multimedia pembelajaran ini apabila dirata-ratakan secara keseluruhan ialah 90.77%. Dari angka tersebut dapat dinyatakan bahwa multimedia pembelajaran Senang Berhitung mendapatkan tanggapan dan respon yang bagus dari anak tunagrahita ringan, sebanyak 100% siswa senang, bersemangat dan tertarik belajar mengenal bilangan menggunakan multimedia ini dan 100% siswa menyukai gambar, animasi, suara dan fitur yang ada dalamnya.
B. Saran
Dalam proses kegiatan belajar mengajar alat peraga atau media pembelajaran sangat penting dalam menunjang berlangsungnya pembelajaran yang efektif terutama untuk anak tunagrahita ringan. Materi yang sulit disampaikan pada anak dapat terjembatani dengan adanya media pembelajaran, media pembelajaran juga harus bersifat inovatif dan menarik minat anak untuk mempelajari suatu materi pelajaran, sehingga pada saat pembelajaran berlangsung anak tidak merasa tertekan dengan materi yang disampaikan, namun anak akan merasa senang jika materi yang disampaikan dengan media pembelajaran dikemas secara menarik.
Melihat dari hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan peneliti, ada beberapa saran yang ingin disampaikan peneliti yaitu:
1. Peneliti menyadari multimedia pembelajaran untuk anak tunagrahita ringan yang dikembangan masih memiliki banyak kekurangan. Dilihat dari segi substansi materi, tampilan, interaktifitas dan masih banyak kekurangan lainnya yang peneliti tidak sadari. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya dapat menyajikan materi pelajaran yang lebih lengkap, dan pembuatan multimedia agar lebih interaktif dan menarik lagi.
2. Terlepas dari berbagai kekurangannya, multimedia pembelajaran yang telah dikembangkan oleh peneliti ini, sekiranya dapat diujicobakan di instansi lain.
117
3. Melihat potensi pengembangan media sejenis pada bidang pendidikan alangkah baiknya jika peneliti selanjutnya terus melakukan pengembangan pada mata pelajaran lainnya. Tentunya dengan standar yang lebih baik lagi.
4. Media yang dikembangkan baru diuji kelayakan dan kegunaannya saja dalam pembelajaran. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai efektivitas penggunaannya, baik berkaitan dengan peningkatan motivasi siswa, pemahaman, maupun aspek aspek lain yang nantinya berguna bagi kemajuan dunia pendidiakan.
5. Sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi, telah hadir teknologi touchscreen pada laptop, tablet pc dan smartphone. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkan multimedia pembelajaran berbasis touchscreen agar mempermudah penggunaan multimedia pembelajaran oleh anak tunagrahitaa.
Rahmadhani. 2014
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DALAM BIDANG BERHITUNG
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Afwan. (2013) Efektifitas Penggunaan Media Puzzle Rumah Angka untuk Pemahaman Angka 1 sampai 10 pada Anak Tunagrahita Ringan Kelas II/C di SLB Amal Bhakti Kec, 2X11 Enam Lingkung. Jurnal Ilmmiah Pendidikan Khusus. Jurusan Pendidikan Luar Biasa. II (3), hlm. 62.
Amin, M. dan Dwidjosumarto, A. (1979). Pengantar Pendidikan Luar Biasa.Jakarta : Raja Grafindo Persada
Arsyad, A. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta Utara : Raja Grafindo Persada.
Darmawan, D. (2012). Teknologi Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Delphie, B. (2006). Pembelajaran Anak Tunagrahita. Bandung : Refika Aditama.
Delphie, B. (2009). Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi. Sleman : Intan Sejati Klaten.
Delphie, B. (2009). Matematika Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Sleman : Intan Sejati Klaten.
Departemen Pendidikan Nasional (2008). Matematika Untuk SD/MI Kelas 1. Jakarta : Depdiknas.
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2009). Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Jakarta Selatan : Ditplb.
Kustandi, C. dan Sutjipto, B. (2013). Media Pembelajaran. Bogor : Ghalia Indonesia.
Latief (2010, 20 Mei). Ah, Pengajaran Guru Masih Membosankan!. Kompas, [Online], halaman 8. Tersedia: http://www.kompas.com. [8 September 2014]
119
Latief (2011, 31 Januari). Mau Dibawa Kemana Matematika Kita. Kompas [Online], halaman 4. Tersedia: http://www.kompas.com. [8 September 2014]
Libal, A. (2009). Namaku Bukan Silamban Pemuda Penyandan Tunagrahita. Sleman : Intan Sejati Klaten.
Mulyani, A. (2008). Pengaruh Media Animasi Komputer Terhadap Hasil Belajar Sains Anak Tunagrahita Ringan . Jurnal UPI. PLB FIP UPI. Hlm. 1
Mulyanta dan Leong, M. (2009). Tutorial Membangun Multimedia Interaktif – Multimedia Pembelajaran.Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Munir (2005). Konsep dan Aplikasi Program Pembelajaran Berbasis Komputer (Computer Based Interaction), P3MP, UPI.
Munir (2010). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung : Alfabeta.
Munir (2012). Multimedia - Konsep & Aplikasi dalam Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Nandi. (2006) Penggunaan Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Geografi di Persekolahan. Jurnal “GEA”. Jurusan Pendidikan Geografi. VI (1), hlm. 2. Napitupulu, E. L. (2013, 15 Februari). Pemanfaatan TIK disekolah Minim. Kompas
[Online], halaman 6. Tersedia: http://www.kompas.com. [8 September 2014]
Nasution, S. (1987). Metode Research. Bandung : Jemmars.
Nurseto, T. (2011) Membuat Media Pembelajaran yang Menariik. Jurnal Ekonomi & Pendidikan. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. VIII (1), hlm. 34.
Putra, N. (2011). Research & Development – Penelitian dan Pengembangan : Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Rusman, (2005). Model-model Multimedia Interaktif Berbasis Komputer, P3MP, UPI.
Sadiman, A.S. dkk. (2010). Media Pendidikan - Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatnya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
120
Sundayana, R. (2013). Media Pembelajaran Matematika. Bandung : Alfabeta.
Sundarmawan dan Ariyus, D. (2007). Interaksi Manusia & Komputer.Yogyakarta : Andi.
Sundayana, R. (2013). Media Pembelajaran Matematika. Bandung : Alfabeta.
Sugiyono (2013). Metode Penelitian Pendidikan – Pendekatan Kuntitaif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sultan, Alsultan.2006.Develoved of A Computer Aided Instruction (CAI) Package In Remote Sensing Educational. Jurnal International Volume XXXVI, part 6.
Surapranata, S. (2006). Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretassi Hasil Tes. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Whitton, N. (2007). Motivation and computer game based learning. In ICT: Providing choices for learners and learning. Proceedings ascilite Singapore 2007. http://www.ascilite.org.au/conferences/singapore07/procs/whitton.pdf
Yulianda, C. (2012) Meningkatkan Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan Anak Tunagrahita Ringan Melalui Media Flip Chart. Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus. E-journal UNP. I (3), hlm. 49.