• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

4. Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan mengurai sesuatu sampai ke komponen-komponenya dan kemudian menelaah hubungan masing-masing komponen dengan keseluruhan konteks dari berbagai sudut pandang. Penelaah dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah diharapkan.51

Bahan hukum sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) dan bahan hukum primer yang diperoleh dari penelitian lapangan (field research) kemudian disusun secara berurutan dan sistematis dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif, yang merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis, yaitu apa yang dinyatakan oleh sasaran penelitian yang bersangkutan secara tertulis atau lisan dan perilaku nyata.52 Kemudian ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif. Kesimpulan adalah merupakan jawaban khusus atas permasalahan yang diteliti,sehingga diharapkan akan memberikan solusi atas pemasalahan dalam penelitian ini.

51Sri Mamudji, Penelitian dan Penulisan Hukum, (Jakarta : Badan Penerbit FakultasHukum UI, 2005), hal.67

52Ibid, hal 69

BAB II

HUBUNGAN HUKUM DEBITUR DAN BANK SEBAGAI KREDITUR DENGAN DEVELOPER SAAT OBJEK JAMINAN

BELUM DIBANGUN

A. Tinjauan Umum Tentang Jaminan

Dunia perbankan yang semakin menunjukan kemajuannya terutama dalam hal pemberian fasilitas kredit baik kredit investasi, modal kerja maupun pemilikan rumah, pihak bank selalu memulainya dengan pemberian surat penawaran kredit (offering letter) dari bank kepada debitur yang telah lolos seleksi dari bank, yang berisi tentang syarat-syarat maupun bunga dan biaya-biaya serta yang menjadi prioritas bank adalah jaminan debitur yang kemudian akan menjadi agunan kepada bank.

Adapun setelah pemberitahuan melalui surat penawaran kredit (offering letter) diterima dan disetujui oleh debitur, maka akan dilanjutkan dengan pelaksanaan pengikatan kredit berupa akta perjanjian kredit maupun akta pengakuan hutang yang merupakan hubungan hukum terdahulu antara bank dan debitur, yang kemudian dilakukan pengikatan jaminan yang merupakan hubungan hukum lanjutan antara bank dengan debitur. Mengenai hal jaminan akan diuraikan lebih jelas pada bagian berikut ini.

1. Makna Umum Jaminan

Kata “Jaminan” dalam peraturan perundang-undangan dapat dijumpai pada Pasal 1131 KUH Perdata dan Penjelasan Pasal 8 Undang Undang Perbankan 1992,

25

namun dalam kedua peraturan tersebut tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan jaminan. Meskipun demikian dari kedua ketentuan diatas dapat diketahui bahwa jaminan erat hubungannya dengan masalah utang. Biasanya dalam perjanjian pinjam meminjam uang, pihak kreditur meminta kepada debitur agar menyediakan jaminan berupa sejumlah harta kekayaannya untuk kepentingan pelunasan hutang, apabila setelah jangka waktu yang diperjanjikan ternyata debitur tidak melunasi.53

Dalam kehidupan sehari-hari, jaminan adalah benda atau barang yang dijadikan sebagai tanggungan dalam bentuk pinjaman uang. Jaminan menurut kamus diartikan sebagai tanggungan atau sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan.54

Menurut kamus perbankan, jaminan yang diberikan oleh bank yang dapat berupa jaminan fisik atau non fisik. Jaminan fisik berbentuk barang dan jaminan non fisik berupa avalist55. Djuhaendah Hasan memberikan pengertian hukum jaminan dan pengertian jaminan yaitu:

“sarana perlindungan bagi keamanan kreditur yaitu kepastian akan pelunasan hutang debitur atau pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur atau oleh penjamin debitur dan hukum jaminan adalah perangkat hukum yang mengatur tentang jaminan dari pihak debitur atau dari pihak ketiga bagi kepastian pelunasan piutang kreditur atau pelaksanaan suatu prestasi.56

53Gatot Supramono, Perbankan Dan Masalah Kredit, (Jakarta : Karya Unipress, 1995), hal. 56

54Hartono Hadisoeprapto, Pokok-pokok Hukum Perikatan dan Jaminan, http://kuliahade.wordpress.com/2010/04/18/hukum-jaminan-pengertian-dan-macam-macam-jaminan/, terakhir kali diakses pada tanggal 09 Desember 2014

55Avalist,disebut penanggung atau penjamin. (J.C.T. Simorangkir, Rudy T.Erwin, J.T.Prasetyo, Kamus Hukum, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hal.11)

56Ibid

Undang-Undang Perbankan yang berlaku saat ini masih sangat menekankan pada arti pentingnya collateral sebagai salah satu sumber pemberian kredit dalam rangka pendistribusian dana nasabah yang terkumpul olehnya, serta untuk menggerakkan roda perekonomian. Salah satu bentuk collateral dalam bentuk jaminan khusus di luar jaminan yang berlaku umum menurut ketentuan Pasal 1311 Kitab Undang Undang Hukum Perdata.57

Menurut ketentuan Pasal 2 Ayat (1) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang Jaminan Pemberian Kredit, bahwa yang dimaksud dengan jaminan adalah “suatu keyakinan bank atas kesanggupan debitor untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan”.58

Menurut Subekti bahwa:

“Kalau ingin mencari sistem Hukum Jaminan Nasional, maka yang dimaksudkan adalah mencari kerangka daripada seluruh perangkat peraturan yang mengatur tentang jaminan dalam hukum nasional kita dikemudian hari.”59 Jadi hukum jaminan mengatur tentang jaminan piutang seseorang.

Dalam Pasal 1131 KUH Perdata diletakkan asas umum hak seorang kreditur terhadap debiturnya, dalam mana ditentukan bahwa: “Segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.”

57Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja [1], Hak Istimewa, Gadai, Dan Hipotik, (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2007), hal. 63

58Hermansyah [2], loc.cit

59J. Satrio [1], Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 3

Jadi hak-hak tagihan seorang kreditur dijamin dengan:60

a. Semua barang-barang debitur yang sudah ada, artinya yang sudah ada pada saat hutang dibuat;

b. Semua barang yang akan ada; di sini berarti: barang-barang yang pada saat pembuatan hutang belum menjadi kepunyaan debitur, tetapi kemudian menjadi miliknya. Dengan perkataan lain hak kreditur meliputi barang-barang yang akan menjadi milik debitur, asal kemudian benar-benar menjadi miliknya;

c. Baik barang bergerak maupun tak bergerak.

Dengan demikian disadari bahwa piutang kreditur menindih pada seluruh harta debitur tanpa kecuali.

Sesuai dengan tujuannya, barang jaminan bukan untuk dimiliki kreditur karena perjanjian utang-piutang bukan perjanjian jual beli yang mengakibatkan perpindahan hak milik atas suatu barang. Barang jaminan digunakan untuk melunasi hutang dengan cara sebagaimana peraturan yang berlaku, yaitu barang jaminan dijual lelang. Hasilnya untuk melunasi hutang, dan apabila masih ada sisanya dikembalikan kepada debitur.61

Dalam perjanjian hutang-piutang, jaminan atau agunan adalah aset pihak peminjam yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman jika peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut. Jika peminjam gagal bayar, pihak pemberi pinjaman dapat mengeksekusi agunan tersebut dengan cara lelang. Dalam pemeringkatan kredit jaminan sering menjadi faktor penting untuk meningkatkan hasil kredit perseorangan ataupun perusahaan. Bahkan dalam perjanjian kredit gadai,

60Ibid

61Gatot Supramono, loc.cit

jaminan merupakan satu-satunya faktor yang dinilai dalam menentukan besarnya pinjaman.62

Dengan demikian dapat diberikan pengertian, bahwa jaminan adalah suatu perikatan antara kreditur dengan debitur, dimana debitur memperjanjikan sejumlah hartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku, apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utang si debitur.

Berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jaminan maupun kajian terhadap berbagai literatur tentang jaminan, maka ditemukan 5 asas penting dalam hukum jaminan, yakni:63

a. Asas publiciet, yaitu asas bahwa semua hak, baik hak tanggungan, hak fidusia, dan hipotik harus didaftarkan. Pendaftaran ini dimaksudkan supaya pihak ketiga dapat mengetahui bahwa benda jaminan tersebut sedang dilakukan pembebanan jaminan. Pendaftaran hak tanggungan di kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten/Kota, pendaftaran fidusia dilakukan di Kantor Pendaftaran Fidusia pada Kantor Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, sedangkan pendaftaran hipotik kapal laut dilakukan di depan pejabat pendaftaran dan pencatat balik nama, yaitu: syahbandar;

b. Asas specialitet, yaitu bahwa hak tanggungan, hak fidusia, dan hipotik hanya dapat dibebankan atas persil atau atas barang-barang yang sudah terdaftar atas nama orang tertentu;

c. Asas tidak dapat dibagi-bagi, yaitu asas dapat dibaginya hutang tidak dapat mengakibatkan dapat dibaginya hak tanggungan hak fidusia, hipotik, dan hak gadai walaupun telah dilakukan;

d. Asas inbezittstelling, yaitu barang jaminan (gadai) harus berada pada penerima gadai;

62 Mahrina Adibah Nasution, Penerapan The five C’s Of Credit (5C) Dalam Pemberian Kredit Sebagai Salah Satu Upaya Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Kredit Bermasalah (Studi Di PT. Bank Bni Persero Tbk. Cabang Medan), Skripsi Universitas Sumatera Utara, 2012.

63H. Salim, H.S [1], op.cit , hal 9-10

e. Asas horizontal, yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan.

Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan hak pakai, baik tanah negara maupun tanah hak milik. Bangunannya milik dari yang bersangkutan atau pemberi tanggungan, tetapi tanahnya milik orang lain, berdasarkan hak pakai.

Mariam Darus Badrulzaman mengemukakan asas-asas hukum jaminan. Asas-asas itu meliputi Asas-asas filosofis, Asas-asas konstitusional, Asas-asas politis, dan Asas-asas operasional (kongkrit) yang bersifat umum. Asas operasional dibagi menjadi asas sistem tertutup, asas absolut, asas mengikuti benda, asas publisitas, asas spesialitas, asas totalitas, asas asessi perlekatan, asas konsistensi, asas pemisahan horizontal, dan asas perlindungan hukum.64Keempat asas itu disajikan berikut ini:65

a. Asas filosofis, yaitu asas dimana semua peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia harus didasarkan pada filsafah yang dianut oleh bangsa Indonesia, yaitu Pancasila;

b. Asas konstitusional, yaitu asas dimana semua peraturan perundang-undangan dibuat dan disahkan oleh pembentuk undang-undang harus didasarkan pada hukum dasar (konstitusi). Hukum dasar yang berlaku di Indonesia, yaitu:

UUD 1945. Apabila undang-undang yang dibuat dan disahkan tersebut bertentangan dengan konstitusi, undang-undang tersebut harus dicabut;

c. Asas politis, yaitu asas dimana segala kebijakan dan teknik di dalam penyusunan peraturan perundang-undangan didasarkan pada TAP MPR;

d. Asas operasional (konkret) yang bersifat umum merupakan asas yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembebanan jaminan.

2. Jenis-Jenis Jaminan Secara Umum Menurut Hukum Positif

Pengaturan hukum jaminan terdapat di dalam Buku II KUH Perdata dan di luar Buku II KUH Perdata. Ketentuan Hukum Jaminan yang terdapat di dalam Buku II KUH Perdata merupakan kaidah-kaidah hukum yang terdapat dan diatur di dalam

64Mariam Darus Budrulzaman [2], Benda-Benda Yang Dapat Diletakkan Sebagai Obyek Hak Tanggungan Dalam Persiapan Pelaksanaan Hak Tanggungan di Lingkungan Perbankan, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996), hal. 23

65H. Salim, H.S [1], op.cit, hal.10

Buku II KUH Perdata. Ketentuan-ketentuan hukum yang erat kaitannya dengan hukum jaminan, yang masih berlaku dalam KUH Perdata, adalah gadai (Pasal 1150-1161 KUH Perdata) dan Hipotik (Pasal 1162-1232 KUH Perdata).66

a. Jaminan Perorangan (Personal Guaranty)

Istilah jaminan perorangan berasal dari kata borgtocht. Ada juga yang menyebutkan dengan istilah jaminan imateriil. Pengertian jaminan perorangan dapat dilihat dari berbagai pandangan dan pendapat para ahli.67 Sri Soedewi M Sofwan, mengartikan jaminan imateriil (perorangan) adalah: “Jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumya.”68

Jaminan perorangan atau pribadi adalah jaminan seorang pihak ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur. Dalam pengertian lain dikatakan bahwa jaminan perseorangan adalah suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang pihak ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban si berutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan di luar (tanpa) pengetahuan si berutang tersebut.69

Unsur-unsur yang terdapat pada jaminan perorangan, yaitu:70 1) Mempunyai hubungan langsung kepada orang tertentu;

2) Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu; dan

66Ibid, hal 11

67Ibid, hal. 217

68 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan Dan Jaminan Perseorangan, (Yogyakarta: Liberty Offset Yogyakarta, 2001), hal. 46-47

69Hermansyah [2], op.cit, hal. 74

70H. Salim, H.S [1], op.cit, hal. 24

3) Terhadap harta kekayaan debitur umumnya.

Subekti mengartikan jaminan perorangan adalah: “ Suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berhutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan di luar (tanpa) si berhutang tersebut.”71

Subekti mengkaji jaminan perorangan dari dimensi kontraktural antara kreditur dengan pihak ketiga. Selanjutnya ia mengemukakan, bahwa maksud adanya jaminan ini adalah untuk pemenuhan kewajiban si berhutang, yang dijamin pemenuhannya seluruhnya, atau sampai suatu bagian tertentu, harta benda si penanggung (penjamin) dapat disita dan dilelang menurut ketentuan perihal pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan.72

Pada jaminan perorangan selalu dimaksudkan bahwa untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban si berutang, yang dijamin pemenuhan seluruhnya atau sampai suatu bagian (jumlah) tertentu, harta benda si penanggung (penjamin) bisa disita dan dilelang menurut ketentuan-ketentuan perihal pelaksanaan (eksekusi) putusan-putusan pengadilan.73

Jaminan perorangan ini dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu:74 1) Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih;

2) Tanggung-menanggung, yang serupa dengan tanggung renteng; dan 3) Akibat hak dari tanggung renteng pasif;

71Subekti [1], op.cit, hal. 17

72Ibid

73Hermansyah [2], loc.cit

74H. Salim, H.S [1], op.cit, hal. 218

Hubungan hak bersifat ekstern: hubungan hak antara para debitur dengan pihak lain (kreditur)

Hubungan hak bersifat intern: hubungan hak antara sesama debitur itu satu dengan yang lainnya.

4) perjanjian garansi (Pasal 1316 KUH Perdata), yaitu yang bertanggung jawab guna kepentingan pihak ketiga.

Perjanjian penanggungan utang diatur di dalam Pasal 1820 sampai dengan Pasal 1850 KUH Perdata. Yang diartikan dengan penanggungan adalah: “Suatu perjanjian, di mana pihak ketiga, demi kepentingan kreditur, mengikatkan dirinya untuk memenuhi perikatan debitur, bila debitur itu tidak memenuhi perikatannya.”

(Pasal 1820 KUH Perdata)

Jika diperhatikan defenisi tersebut, maka jelaslah bahwa ada tiga pihak yang terkait dalam perjanjian penanggungan utang, yaitu pihak kreditur, debitur dan pihak ketiga. Kreditur disini berkedudukan sebagai pemberi kredit atau orang berpiutang, sedangkan debitur adalah orang yang mendapat pinjaman uang atau kredit dari kreditur. Pihak ketiga adalah orang yang akan menjadi penanggung utang debitur kepada kreditur, manakala debitur tidak memenuhi prestasinya.

Adanya perjanjian penanggungan ini antara lain karena si penanggung mempunyai persamaan kepentingan ekonomi dalam usaha dari peminjam (ada hubungan kepentingan antara penjamin dan peminjam), misalnya si penjamin sebagai direktur perusahaan selaku pemegang saham terbanyak dari perusahaan tersebut secara pribadi ikut menjamin hutang-hutang perusahaan tersebut dari kedua perusahaan induk ikut menjamin hutang perusahaan cabang.75 Sifat perjanjian

75Chairani Buatami, Perkuliahan TPA II, 21 November 2014

penanggungan utang adalah bersifat accesoir76, sedangkan perjanjian pokoknya adalah perjanjian kredit atau perjanjian pinjam uang antara debitur dengan kreditur.

Apabila dikemudian hari seorang debitur telah tidak menepati janji dengan tidak membayar piutangnya sesuai waktu yang diperjanjikan, untuk itu kreditur tidak dapat meminta kepada penaggung utang untuk membayar utang debitur, sebab ketentuan Pasal 1831 KUH Perdata menghendaki supaya harta kekayaan debitur harus lebih dahulu disita dan dijual lelang untuk melunasi utangnya. Kalau hasilnya tidak cukup, baru penanggung diwajibkan membayar kepada kreditur.77

Pada dasarnya penanggung utang tidak wajib membayar utang debitur kepada kreditur, kecuali jika debitur lalai membayar utangnya. Untuk membayar utang debitur tersebut, maka barang kepunyaan debitur harus disita dan dijual terlebih dahulu untuk melunasi utangnya (Pasal 1831 KUH Perdata78).

Hapusnya penanggung utang diatur dalam Pasal 1845 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1850 KUH Perdata. Di dalam Pasal 1845 KUH Perdata disebutkan bahwa perikatan yang timbul karena penanggungan, hapus karena sebab-sebab yang sama dengan yang menyebabkan berakhirnya perikatan lainnya. Pasal ini menunjuk kepada Pasal 138179, Pasal 140880, Pasal 142481, Pasal 142082, Pasal 143783, Pasal 144284, Pasal 157485, Pasal 184686, Pasal 193887, dan Pasal 198488KUH Perdata.

76Accesoir adalah perjanjian yang bersifat tambahan dan dikaitkan dengan perjanjian pokok

77Gatot Supramono, op.cit, hal. 81-82

78 “Si penanggung tidaklah diwajibkan membayar kepada si berpiutang, selainnya jika si berutang lalai, sedangkan benda-benda si berutang ini harus lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya.”

79“Perikatan hapus: karena pembayaran; karena penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan atau penitipan; karena pembaharuan hutang; karena perjumpaan utang atau kompensasi;

b. Jaminan Kebendaan

Dalam KUH Perdata mengenai hak kebendaan harus dibedakan antara

“genotsrechten” (hak menikmati) dan “zakerheidsrechten” (hak jaminan). Yang termasuk “genotsrechten” (hak menikmati) adalah erfpacht (guna usaha), opstal (guna bangunan), vruchtgebruik (guna hasil) dan gebruik en bewoning (pakai)”. Yang dimaksud “zakerheidsrechten” (hak jaminan) adalah “pand” (gadai) dan hipotik.

karena percampuran utang; karena pembebasan utangnya; karena musnahnya barang yang terutang;

karena kebatalan atau pembatalan; karena berlakunya suatu syarat-batal, yang di atur dalam Bab kesatu; karena liwatnya waktu, hal mana akan diatur dalam suatu bab tersendiri.”

80“Selama apa yang dititipkan tidak diambil oleh si berpiutang, si berutang dapat mengambilnya kembali; dalam hal itu orang-orang yang turut berutang dan para penanggung utang tidak dibebaskan”

81“Karena adanya pembaharuan hutang antara si berpiutang dan salah satu dari orang-orang yang berutang secara tanggung-menanggung, maka orang-orang lainnya yang turut berutang dibebaskan dari perikatannya. Pembaharuan hutang yang dilakukan terhadap si berutang-utama membebaskan para penanggung utang. Jika meskipun demikian, dalam hal yang pertama, si berpiutang telah menuntut orang-orang lainnya yang turut berutang, atau dalam hal yang kedua, telah menuntut para penanggung utang supaya mereka turut-serta pada perjanjian baru, dan orang-orang itu menolak, maka perikatan-utang lama tetap berlaku.”

82“Dengan hanya adanya si berutang menunjuk seorang lain yang harus membayar untuk dia, tidak diterbitkan atau pembaharuan hutang. Hal yang sama berlaku terhadap hanya adanya si berpiutang menunjuk seorang lain, yang diwajibkan menerima untuk dia.”

83“Percampuran utang yang terjadi pada dirinya si berutang-utama, berlaku juga untuk keuntungan para penanggung utangnya. Percampuran yang terjadi pada dirinya salah satu dari orang-orang yang berutang secara tanggung menanggung hingga melebihi bagiannya dalam utang yang ia sendiri menjadi orang berutang.”

84“Pembebasan sesuatu utang atau penglepasan menurut persetujuan, yang diberikan kepada si berutang utama, membebaskan para penanggung utang. Pembebasan yang diberikan kepada si penanggung utang, tidak membebaskan si berutang utama. Pembebasan yang diberikan kepada salah seorang penanggung utang, tidak membebaskan para penanggung lainnya.”

85“Dalam halnya penanggung utang yang dibuat untuk sewanya tidak meliputi kewajiban-kewajiban yang terbit dari perpanjangan sewa.”

86“Percampuran yang terjadidiantara pribadinya si berutang-utama dan pribadinya si penanggung utang, sekali-kali tidak mematikan tuntutan hukum si berpiutang terhadap orang yang telah memajukan diri sebagai penanggungnya si penanggung.”

87 “Seorang berutang yang diperintahkan bersumpah oleh salah seorang berpiutang dalam suatu perikatan tanggung-menanggung, dan mengangkat sumpahnya, tidaklah dibebaskan untuk jumlah yang lebih daripada bagian orang yang berpiutang tersebut. Sumpah yang diangkat oleh si berutang-utama, membebaskan para penanggung utang.”

88 “Pemberitahuan yang dilakukan kepada si berutang-utama atau pengakuan orang ini, mencegah daluwarsa terhadap si penanggung utang.”

Berdasarkan Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa :

“Gadai adalah suatu hak yang diperoleh kreditur atas suatu benda bergerak, yang diberikan kepadanya oleh debitur atau orang lain atas hutang debitur sebagai jaminan pembayaran dan memberikan hak kepada kreditur untuk mendapatkan pembayaran lebih dahulu daripada kreditur-kreditur lainnya atas penjualan benda jaminan”

Sebagaimana terlihat dari definisi gadai, yang menjadi objek hak gadai adalah benda bergerak. Benda bergerak yang dimaksud meliputi benda bergerak yang berwujud berupa kenderaan bermotor dan benda bergerak yang tidak berwujud berupa hak untuk mendapat pembayaran uang yang berbentuk surat berharga.

Praktek dunia perbankan saat ini, gadai jarang digunakan dikarenakan adanya lembaga jaminan lainnya yang lebih menguntungkan bank dengan debiturnya seperti apabila debitur menjaminkan kenderaan, maka bank akan menggunakan lembaga jaminan fidusia, berbeda halnya jika barang yang dijaminkan emas, saham dan deposito maka lembaga gadai yang dipakai. Lembaga fidusia berbeda dengan gadai dimana jika gadai maka barang jaminan harus diserahkan kepada penerima gadai, sedangkan fidusia, pemberi fidusia tetap dalam menikmati barang yang difidusiakan atau dikenal pinjam pakai. Bank lebih suka menggunakan lembaga fidusia dibandingkan gadai dikarenakan sering kali barang yang diagunkan tersebut merupakan satu-satunya barang dari pemberi fidusia, jika barang tersebut diambil oleh bank maka perputaran bisnis debitur akan terkendala dan kemungkinan pengembalian pinjaman akan terhambat.

Di samping gadai sebagai hak jaminan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hipotik juga diatur dalam Pasal 1162 Kitab Undang-Undang-Undang-Undang

Hukum Perdata yang berbunyi “Hipotik adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian dari padanya bagi pelunasan suatu perikatan”. Sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, hipotik berlaku untuk jaminan seperti tanah, kapal laut, pesawat terbang. Tapi setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan maka hipotik atas tanah tidak berlaku lagi. Sehingga lembaga hipotik hanya dibebankan kepada :

1) kapal-kapal dalam bobot mati 20 meter kubik;

2) kapal laut;

3) pesawat udara.

Pertanda dari hak kebendaan (zakelijk recht) ialah bahwa itu dapat dikemukakan terhadap semua “rechtsopvolgers” dari “wederparty” (pihak lainnya).89

Jaminan kebendaan merupakan suatu tindakan berupa suatu penjaminan yang dilakukan oleh kreditur terhadap debiturnya, atau antara kreditur dengan seorang pihak ketiga guna menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur. Jaminan kebendaan dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya, tetapi juga dapat diadakan antara kreditur dengan seorang pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari si berutang (debitur).90

Pemberian jaminan kebendaan selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari

Pemberian jaminan kebendaan selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari

Dokumen terkait