• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data

Dalam dokumen TESIS. Oleh. TIURLAN SIHALOHO /M.Kn (Halaman 45-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

4. Analisis Data

Suatu Penelitian sangat penting dilakukan analisis data karena hal tersebut adalah proses menyusun data agar data dapat ditafsirkan.68Untuk menganalisi permasalahan yang diangkat pada tesis ini, selain mengambil rujukan dari Putusan Mahkamah Agung dalam hal tentang penetapan hak perwalian anak juga diselaraskan dengan peraturan hukum yang terkait dengan permasalahan tersebut dengan memakai

67Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), hal. 64

68Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2000), hal.

102

metode kualitatif.69Metode ini tidak bisa dipisahkan dengan pendekatan masalah, spesifikasi penelitian, dan jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian yang dilakukan. Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis.70

Tahapan analisis data dimulai dengan melakukan pemeriksaan terhadap data yang terkumpul yaitu melalui studi pustaka dan mengupas Putusan Mahkamah Agung yang diambil sebagai referensi penelitian, inventarisasi karya ilmiah, peraturan perundang-undangan, yang berkaitan dengan judul penelitian baik media cetak dan laporan-laporan hasil penelitian lainnya untuk mendukung studi kepustakaan.

69 Lexy J.Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hal.101.

70Ibid

BAB II

PENENTUAN HAK PERWALIAN BAGI ANAK DIBAWAH UMUR TERHADAP PASANGAN BERBEDA KEWARGANEGARAAN

A. Akibat Hukum Perkawinan Campuran 1. Pengertian Perkawinan Campuran

Tujuan perkawinan menurut Pasal 1 Undang–Undang Perkawinan yaitu pada bagian kalimat kedua yang berbunyi “...dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Pengertian dari tujuan perkawinan tersebut juga merupakan suatu hal yang didambakan oleh setiap pasangan yang ingin melangsungkan perkawinan baik yang melakukan perkawinan secara hukum Islam, catatan sipil maupun perkawinan yang dilangsungkan secara adat dan rumusan tujuan perkawinan tersebut mengandung arti bahwa diharapkan perkawinan dapat memberikan kebahagian lahir batin untuk jangka waktu yang lama, bukan hanya bersifat sementara bagi suami isteri yang terikat dalam perkawinan tersebut. Sehingga berdasarkan rumusan tersebut, undang-undang membuat pembatasan yang ketat terhadap perceraian atau pemutusan hubungan perkawinan.

Perkawinan campuran yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda kewarganegaran pada masa penjajahan Belanda ada diatur dalam pasal 1 GHR yang dalam kutipan aslinya berbunyi : huwelijken tussen personen die in Indonesie aan verschillend recht onderworpen zijn, worden gemengde huwelijken geneoemd (perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang

berlainan disebut perkawinan campuran).71 Hal ini bermakna bahwa perkawinan campuran diartikan bahwa perkawinan tersebut hanya dilakukan di Indonesia dan menurut hukum yang mengatur pada masa tersebut. Pengertian mengenai perkawinan campuran pada saat ini di Indonesia, dapat ditinjau dari beberapa aspek dan sistem, yang kemudian dipersempit menjadi menjadi 3 sistem, yaitu :

a. Perkawinan Campuran Menurut KUHPerdata

Pengertian mengenai perkawinan campuran dalam sistem ini di atur dalam KUHPerdata (Burgerlijk wetboek) yang pengaturannya di peruntukkan bagi golongan eropah, golongan Timur Asing-Cina dan untuk sebahagian golongan Timur Asing bukan Cina, serta untuk sebagian atau seluruh orang-orang lain yang tunduk pada KUHPerdata. Peraturan tersebut tetap berlaku bagi orang yang termasuk golongan yang disebutkan tidak merubah hukum perdata yang berlaku bagi mereka.72 Perkawinan campuran diartikan sebagai perkawinan antara WNI dengan WNA dan pengaturan mengenai perkawinan campuran tidak banyak disinggung dalam KUHPerdata serta esensinya mengenai perkawinan hanya mengatur tentang syarat – syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukannya suatu perkawinan, hal ini sesuai dengan pandangan dari para Ahli yang menyusun KUHPerdata dengan mengartikan bahwa soal perkawinan hanya dilihat dalam hubungan perdata saja.73

71R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safioedin, Hukum Orang dan Hukum Keluarga, (Bandung : Alumni, 1985), hal. 25

72 Nani Suwondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat, ( Jakarta : Ghalia Indonesia , 1982) hal. 69

73Pasal 26, KUHperdata

Menurut R Subekti, pasal 26 KUHPerdata tersebut hendak menyatakan bahwa suatu perkawinan yang sah hanya perkawinan yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh KUHPerdata dan bahwa syarat-syarat dan peraturan agama dikesampingkan, hal ini juga dapat diartikan bahwa perkawinan itu hanya ditinjau sebagai suatu lembaga hukum dan tidak bergantung pada pandangan-pandangan keagaman dari pasangan calon suami dan istri.74

Namun demikian sebagaimana yang terdapat dalam KUHPerdata bahwa Indonesia mengakui adanya perkawinanan campuran yang dilakukan diluar Indonesia dan dilakukan menurut hukum yang berlaku dimana pasangan tersebut melangsungkan perkawinannya, selama perkawinan tersebut telah mengikuti ketentuan yang diatur dalam undang-undang dan kemudian di catatkan di Indonesia paling lama setahun setelah perkawinan dilaksanakan.75

Perkawinan campuran yang akan dilakukan oleh pasangan yang berbeda kewarganegaran dapat dilangsungkan selama persyaratan telah dipenuhi seperti yang diatur dalam KUHPerdata karena perkawinan merupakan salah satu hak asasi manusia sehingga tidak satupun aturan yang dapat menghalangi sepanjang persyaratan dan ketentuan telah dipenuhi termaksud juga yang paling mendasar yaitu bahwa perkawinan didasarkan pada kerelaan masing-masing pihak untuk menjadi suami istri, untuk saling menerima dan saling melengkapi satu sama lainnya, tanpa ada paksaan dari pihak manapun juga karena jika tanpa adanya persetujuan kedua belah pihak maka dapat dijadikan alasan pembatalan perkawinan76, tidak terkecuali terhadap pelaku dari perkawinan campuran.

74R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safioedin, Op.Cit., hal.13

75Pasal 83, KUHPerdata

76Pasal 87, KUHPerdata

b. Perkawinan Campuran Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974

Undang-Undang Perkawinan mengartikan bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia yang tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.77Dari rumusan tersebut, perkawinan campuran yang dimaksud dalam Undang-Undang Perkawinan terbatas pada perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita di Indonesia, dimana yang bersangkutan (calon mempelai)78:

1). tunduk pada hukum yang berlainan;

2). karena perbedaan kewarganegaraan

3). salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia

Undang-Undang Perkawinan, secara sempit pengertiannya hanya mengarah kepada perbedaan kewarganegaraan namun tidak membahas secara rinci mengenai pelaksanaan ataupun tata cara untuk melangsungkan perkawinan campuran dan mengenai perkawinan campuran dibahas dalam 5 (lima) pasal yaitu dari pasal 57 sampai pasal 61 Undang-Undang Perkawinan. Selain itu perkawinan campuran yang dimaksud oleh Undang-Undang Perkawinan terbatas hanya pada perkawinan campuran internasional, yakni perkawinan yang akan dilakukan antara seorang WNI

77Pasal 57, Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974

78Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perorangan dan Kekeluargaan di Indonesia, ( Jakarta: Sinar Grafika, 2006 ) hal. 297

dengan seorang WNA dan masing–masing calon mempelai dengan sendirinya tunduk pada hukum yang berlainan.79

Perkawinan campuran tidak diatur secara khusus pada Undang-Undang Perkawinan namun pada dasarnya apabila ada pasangan yang akan melakukan perkawinan campuran maka pasangan tersebut juga harus mematuhi semua persyaratan yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang Perkawinan selama perkawinan dilaksanakan di Indonesia dan menurut hukum di Indonesia. Hal ini sesuai dengan prinsip domisili yang dianut dalam HPI dimana dalam menjalankan aturan hukum, prinsip domisili sangat tepat diterapkan di Republik Indonesia dengan berpegang pada alasan praktis yaitu dengan diperkecil berlakunya hukum asing dan dengan prinsip ini dapat mendatangkan keuntungan, karena dengan demikian akan lebih banyak jaminan bahwa hakim Indonesia akan memakai hukumnya secara baik, karena ia lebih mengenal hukumnya sendiri daripada hukum asing dalam menyelesaikan suatu perkara dengan WNA.80

c. Perkawinan Campuran Menurut Hukum Islam

Pada dasarnya setiap ketentuan hukum agama di Indonesia tidak mengizinkan umatnya untuk melakukan perkawinan dengan umat beragama lainnya. Ini berarti sejak berlakunya Undang-Undang Perkawinan, seharusnya tidak akan ada lagi perkawinan beda agama, karena perkawinan beda agama merupakan perkawinan diluar ketentuan hukum masing-masing agama dan juga kepercayaannya.81Dalam

79Ibid

80BPHN, Latar Belakang Penyusuan RUU Hukum Perdata Internasional Indonesia, Jurnal Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, September 1983, hal.9

81Rachmadi Usman, Op.Cit, hal. 316

hukum Islam perkawinan diartikan sebagai suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga untuk keturunan, yang dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan hukum syari’at Islam.82

Pengertian mengenai perkawinan campuran dalam hukum Islam yaitu perkawinan antara laki dan perempuan yang berbeda keyakinan atau berbeda agama dan kebangsaannya (asal keturunannya) atau kewarganegaraannya. 83 Namun penjelasan tentang hukum perkawinan pria muslim dengan wanita non muslim, disepakati oleh para ulama menyatakan bahwa bagi seorang pria muslim haram mengawini wanita non muslim dari bangsa Arab yang sewaktu turunnya Al Qur’an mereka tetap menyembah berhala.84

Hukum Islam memperbolehkan perkawinan campuran dengan ketentuan agama yang dianut oleh kedua pasangan sama-sama beragama Islam, dan merupakan larangan apabila seorang pria beragama Islam menikahi wanita yang bukan beragama Islam begitu pula sebaliknya.

2. Hak Dan Kewajiban Suami Istri Pada Perkawinan Campuran

Mengenai hak dan kewajiban suami istri yang telah terikat dalam perkawinan campuran, tidak berbeda dengan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh pasangan yang menikah secara adat, agama maupun dengan hukum nasional. Hak dan kewajiban antara suami-istri adalah hak dan kewajiban yang timbul karena adanya

82Zahry Hamid, Pokok-pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, (Yogyakarta : Binacipta, 1976) hal. 1

83Hasballah Thalib dan Iman Jauhari, Kapita Selekta Hukum Islam, (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2004) hal. 152

84Ahmad ABD Madjid, Masa’il Fiqhiyyah, (Pasuruan Jawa Timur : PT Garoeda Buana Indah, 1991), hal.9

perkawinan antara mereka. Pada setiap perkawinan, masing-masing pihak (suami dan isteri) dikenakan hak dan kewajiban. Pembagian hak dan kewajiban disesuaikan dengan proporsinya masing-masing. Bagi pihak yang dikenakan kewajiban lebih besar berarti ia akan mendapatkan hak yang lebih besar pula,85sesuai dengan fungsi dan perannya. Hak dan kewajiban suami istri dalam pasal 30 sampai dengan pasal 34 Undang-Undang Perkawinan, sedangkan dalam hukum Islam mengenai hak dan kewajiban suami istri diatur dalam beberapa surat dalam Al Qur’an yaitu antara lain dalam surat al-Baqarah dan surat al-Nisa juga dalam Hadist Nabi.

Hak dan kewajiban suami istri diatur dari pasal 103 sampai dengan pasal 118 pada buku I KUHPerdata. Dari ketiga referensi hukum yang disebutkan, pada dasarnya tujuan pengaturan dari hak dan kewajiban suami istri dalam perkawinan adalah supaya tercipta keluarga yang damai dan harmonis dan juga agar suami istri dapat menegakkan rumah tangga yang merupakan sendi dasar dari dari susunan masyarakat. Oleh karena itu suami istri wajib untuk saling mencintai, saling menghormati, saling setia dan saling membantu lahir dan batin seorang kepada yang lain.86

Pada prinsipnya hak dan kedudukan suami istri adalah seimbang, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam kehidupan sosial di masyarakat, walaupun pada praktek terkadang ada perbedaan hak dan kewajiban suami istri didasarkan pada

85Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama, cetakan. I (Bandung: Mandar Maju, 1990), hal 15-116, dalam Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan, bahasa oleh Agus Nuryanto, cet. I, alih bahasa Agus Nuryanto (Yogyakarta:

LKIS, 2003), hal 37-65

86Wibowo Turnadi, Hak dan Kewajiban Suami Istri, http://www.jurnalhukum.com/hak-dan-kewajiban-suami-istri/, diakses tanggal 20 september 2014

perbedaan elemen keadaan yang baik. Tetapi ini saling berhubungan dan selalu tidak harmonis. Dalam banyak situasi tuntutan yang suami istri lakukan mungkin bertentangan. Masalah penyesuaian kemudian timbul yang dari pandangan etika, mungkin melibatkan evaluasi komparatif tentang kebaikan yang dilibatkan dalam suatu pengertian pada kondisi mana suami istri bisa didamaikan ataupun diselaraskan.87

Secara umum setiap manusia tidak terkecuali sebagai pendukung hak dan kewajiban, namun tidak semuanya cakap untuk melakukan perbuatan hukum.88 Berhubungan dengan perbuatan hukum, undang-undang memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi kedua belah pihak dalam melakukan perbuatan hukum, namun dalam KUHPerdata istri tidak memiliki kecakapan dalam melakukan perbuatan hukum.89 Meskipun demikian keduanya memiliki peran yang berbeda.

Suami sebagai kepala keluarga, sedangkan istri sebagai ibu rumah tangga. Suami wajib melindungi dan memenuhi semua keperluan rumah tangga sesuai dengan kemampuannya, sedangkan istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.90

Persamaan hak dan kewajiban antara suami istri juga diakui oleh hukum negara barat seperti hukum keluarga Perancis yang diberlakukan pada tanggal 4 Juni 1970, dimana dalam hukum keluarga tersebut menyatakan bahwa suami dan isteri

87Morris Ginsberg, Keadilan Dalam Masyarakat, ( Bantul : Pondok Edukasi, 2003), hal. 6

88Djaja S. Meliala, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Orang dan Hukum Keluarga, (Bandung , CV Nuansa Aulia, 2006) , hal. 23

89Pasal 108 KUHPerdata

90Komariah, Hukum Perdata, ( Malang : Universitas Muhammadiyah , 2002 ), hal. 61-62

mempunyai kewajiban yang sama dalam mengurus kepentingan keluarga dan memilih tempat tinggal bersama. Sejak berlakunya undang-undang ini, kesamaaan kedudukan suami dan istri menjadi asas fundamental hukum keluarga Perancis.91 Tinjauan mengenai hak dan kewajiban ini dari sudut pandangan hukum negara lain diselaraskan karena adanya perbedaan kewarganegaraan dari pasangan perkawinan campuran yang tidak menutup kemungkinan bahwa pasangan tersebut akan mengikuti atau tunduk pada salah satu hukum dimana mereka akan tinggal atau juga kemungkinan tunduk pada yuridiksi dua hukum yang berbeda. Hak dan kewajiban berurusan dengan hukum. Keseluruhan bangunan hukum disusun dari kedua hal tersebut. Semua jaringan hubungan yang diwadahi oleh hukum senantiasa berkisar pada hak dan kewajiban tersebut. Dalam hukum pada dasarnya hanya dikenal dua stereotif tingkah laku, yaitu menuntut yang berhubungan dengan hak dan berutang yang berhubungan dengan kewajiban.92

Pasangan perkawinan campuran yang akan melakukan perkawinan campuran di Indonesia maka sebaiknya pasangan tersebut harus terlebih dahulu mempelajari serta mengerti akan semua pengaturan mengenai perkawinan terlebih mengenai hak dan kewajiban bagi masing–masing pasangan sehingga perkawinan tersebut bisa berjalan langgeng dan terutama juga anak-anak yang lahir dari perkawinan campuran bisa memiliki keluarga yang bahagia walaupun ada perbedaan kultur dan cara hidup yang berbeda karena memiliki orang tua yang berbeda kewarganegaraan.

91AbdulKadir Muhammad, Perkembangan Hukum Keluarga dibeberapa Negara Eropah, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1998 ) hal.7

92Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum , ( Bandung : Alumni Bandung , 1996 ), hal.66

3. Harta Benda Pada Perkawinan Campuran

Persoalan mengenai harta benda dalam perkawinan sangat penting karena salah satu faktor yang cukup signifikan tentang bahagia dan sejahtera atau tidaknya suatu kehidupan rumah tangga terletak kepada harta benda, walaupun kenyataan sosial menunjukkan masih adanya keretakan rumah tangga bukan disebabkan harta benda namun faktor lain, namun tidak dipunggiri bahwa harta benda merupakan penopang dari kesejahteraan suatu rumah tangga.93

Menurut ketentuan Pasal 119 KUHPerdata, sejak dilangsungkannya perkawinan antara suami istri secara hukum (van rechtswege ) terjadilah kebersamaan harta perkawinan sejauh hal tersebut tidak menyimpang dari perjanjian kawin.

Dengan demikian terbukti bahwa walaupun ada kebersamaan secara bulat, tetapi ada kemungkinan bahwa barang-barang tertentu yang diperoleh suami atau istri dengan cuma-cuma, yaitu karena pewarisan secara testamentair, secara legaat atau hadiah, tidak masuk dalam kebersamaan harta kekayaan itu, tetapi menjadi milik suami pribadi atau milik istri pribadi.94 Hal ini terdapat dalam ketentuan pasal 120 KUHPerdata, sedangkan dalam Pasal 35, 36 dan 37 Undang-Undang Perkawinan tentang harta benda yaitu : harta bawaan, hadiah dan warisan; harta bersama suami isteri; dan bila terjadi perceraian, harta diatur menurut hukumnya masing-masing, ialah hukum agama, hukum adat dan hukum lainnya. Dalam Undang-Undang Perkawinan ada kewenangan yang sama pada masing-masing suami istri untuk

93Tan Kamelo dan Syarifah Lisa Andriati, Op. Cit., hal. 65

94Ahmad Kusari, Perkawinan SebagaiSsebuah Perikatan , (Jakarta : Rajawalipers, 1995), hal.12

mengelola (beheer) ataupun menentukan pengalihan (vevreemden) atas harta masing-masing, sehingga tidak perlu adanya persetujuan dari pihak lain untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing dan hal ini sesuai dengan apa yang berlaku pada hukum adat.95

Pengaturan harta benda dalam perkawinan campuran merujuk pada Konvensi HPI Den Haag mengenai hukum harta benda perkawinan yang ditandatangani pada tanggal 23 Oktober 1976 (Convention in the law applicable to matrimonial property regimes), ditentukan bahwa pertama-tama kepada suami-isteri diberi kebebasan untuk menentukan sendiri hukum yang akan berlaku bagi harta benda perkawinan mereka.

Jika mereka tidak menggunakan kesempatan ini, akan berlakulah hukum intern dari negara tempat kedua suami isteri menetapkan kediaman sehari-harinya yang pertama setelah perkawinan. Pasal 4 ayat 1 berbunyi : “if the spouses, before marriage, have not designated the the applicable law their matrimonial property regime is governed by the internal law of the state in which both sponses establish they first habitual residence after marriage ”96.Melalui konvensi ini tiap-tiap negara yang ikut meratifikasi mengakui adanya pilihan hukum (choice of law/rechtswahl) walaupun biasanya pilihan hukum lebih condong dipakai dalam hal kontrak (perjanjian) dengan pembatasan yaitu sepanjang tidak melanggar ketertiban umum dan tidak boleh

95Rusdi Malik, Memahami Undang-Undang Perkawinan, ( Jakarta : Universitas Trisakti, 2009 ), hal. 61

96 Bakri A. Rahman dan Ahmad Sukardja, Hukum Perkawinan Menurut Islam, Undang undang Perkawinan dan Hukum Perdata/BW, ( Jakarta : Hidakarya Agung, 1981) hal. 69

menjelma menjadi penyelundupan hukum. 97 Untuk permasalahan harta pada perkawinan campuran akan menjadi masalah Hukum Perdata Internasional, karena akan terpaut 2 (dua) sistem hukum perkawinan yang yang berbeda, yang dalam penyelesaiannya dapat digunakan ketentuan Pasal 2 dan Pasal 6 ayat (1) GHR Stablaat 1898 yaitu diberlakukan hukum pihak suami. Masalah harta perkawinan campuran ini apabila pihak suami warga negara Indonesia, maka tidak ada permasalahan, karena diatur berdasarkan hukum suami yaitu Undang-Undang Perkawinan.

Perbedaan lain yang sangat mendasar mengenai harta perkawinan pada perkawinan campuran dengan perkawinan secara hukum nasional maupun hukum yang berlaku di Indonesia adalah mengenai kepemilikan harta khususnya pada harta tidak bergerak seperti kepemilikan tanah ataupun rumah setelah terjadinya perkawinan. Hal ini terjadi karena adanya larangan kepemilikan harta tidak bergerak tersebut terhadap WNA. Hal lain yang juga yang membedakan serta memberikan pengaruh mengenai harta dalam perkawinan campuran bagi wanita WNI yaitu terhadap asset yang dimilikinya seperti tanah dengan status hak milik, hak guna bangunan maupun hak guna usaha baik karena pewarisan, peralihan hak melalui jual beli, hibah atau wasiat, maka dia wajib melepaskan hak-haknya dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak-hak tersebut.98 Pelepasan hak tersebut dapat dilakukan dengan cara menjual atau menghibahkan hak-hak atas tanah tersebut

97Sudargo Gautama, Op Cit, hal. 168-170

98Pasal 21 ayat 3 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Undang-Undang Pokok-Pokok Agraria

apabila telah melakukan pernikahan yang sah dengan Pria WNA. Jika jangka waktu tersebut telah lewat, maka hak-hak tersebut hapus karena hukum dan tanah-tanah tersebut jatuh pada negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebani tetap berlangsung.99

Ketentuan tersebut dapat dikecualikan dengan adanya perjanjian kawin pisah harta yang dibuat sebelum perkawinan berlangsung. Perjanjian kawin tersebut dibuat dengan akta autentik yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, yaitu baik di Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Kantor Catatan Sipil.100 Apabila akta perjanjian kawin tersebut tidak disahkan pada pegawai pencatat perkawinan terkait, maka secara hukum, perkawinan yang berlangsung tersebut dianggap sebagai perkawinan percampuran harta. Undang-Undang Perkawinan menggariskan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Kecuali, kedua belah pihak membuat perjanjian perkawinan untuk menghindari percampuran harta secara hukum.101

B. Kewarganegaraan Dan Kedudukan Hukum Anak Dari Perkawinan Campuran

1. Status Kewarganegaraan Anak Dari Perkawinan Campuran Menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Lama

Sejarah mengenai kelahiran Undang-Undang Kewarganegaraan di Indonesia pada mulanya terbentuk karena banyaknya permasalahan-permasalahan mengenai

99Kartini Muljadi, Hak-Hak Atas Tanah (Jakarta : Prenada Media, 2005), hal 22

100 Pasal 29 Undang Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974Tentang Perkawinan

101 Irma Devita, Hak Waris WNI yang menikah dengan WNA , http://irmadevita.com/2012/kewarganegaraan-status-pemilikan-tanah-warisan-pada-perkawinan-campuran/ diakses pada tanggal 22 September 2014

kewarganegaraan yang tidak diatur dalam undang-undang yang berlaku pada saat itu.

Salah satu yang mengatur mengenai kewarganegaraan pada masa pasca kemerdekaan yaitu Undang-undang Nomor 3 Tahun 1946, namun dalam pasal-pasal tersebut tidak secara rinci mengatur mengenai WNA yang mana pada masa tersebut masih banyak WNA tinggal dan menetap di Indonesia, terutama orang-orang Belanda dan Eropah.

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut pada waktu itu Republik Indonesia Serikat dengan kerajaan Belanda melakukan konfrensi meja bundar dan salah satu yang dibicarakan dan disetujui dalam konfrensi tersebut yaitu perihal pembagian warganegara dengan jalan menentukan siapa saja yang menjadi warga negara masing-masing setelah Republik Indonesia serikat berdaulat penuh dan lepas dari penjajahan kolonial Belanda. Hal ini merupakan pelaksanaan dari hak opsi kewarganegaraan yaitu mengenai hak seseorang untuk memilih atau menerima tawaran kewarganegaraan suatu negara tertentu, dan sebaliknya hak repudiasi adalah hak seorang menolak tawaran kewarganegaraan suatu negara tertentu.102

Permasalahan mengenai kewarganegaraan pada awal kemerdekaan tidak saja dialami oleh orang-orang Belanda dan Eropah namun juga bagi orang Tiongha yang

Permasalahan mengenai kewarganegaraan pada awal kemerdekaan tidak saja dialami oleh orang-orang Belanda dan Eropah namun juga bagi orang Tiongha yang

Dalam dokumen TESIS. Oleh. TIURLAN SIHALOHO /M.Kn (Halaman 45-0)

Dokumen terkait