• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh. TIURLAN SIHALOHO /M.Kn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh. TIURLAN SIHALOHO /M.Kn"

Copied!
151
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh

TIURLAN SIHALOHO 127011171/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

TIURLAN SIHALOHO 127011171/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(3)

Nama Mahasiswa : TIURLAN SIHALOHO Nomor Pokok : 127011171

Program Studi : Kenotariatan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Pembimbing Pembimbing

(Dr. T. Keizserina Devi A, SH, CN, MHum) (Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus : 27 Januari 2015

(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum

2. Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn 3. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum 4. Notaris Syafnil Gani, SH, MHum

(5)

Nim : 127011171

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis : PENETAPAN HAK PERWALIAN ANAK DIBAWAH

UMUR PADA KASUS PERCERAIAN DALAM

PERKAWINAN CAMPURAN WARGA NEGARA

INDONESIA DAN WARGA NEGARA ASING

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan,

Yang membuat Pernyataan

Nama : TIURLAN SIHALOHO Nim : 127011171

(6)

tentang Kewarganegaraan serta diatur juga dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perkawinan campuran tidak menutup kemungkinan terjadi suatu permasalahan tentang status kewarganegaraan seseorang baik sebagai suami, istri, maupun anak dari hasil perkawinan tersebut. Anak yang lahir dari orang tua yang melakukan perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Kehidupan perkawinan campuran tidak semuanya berakhir dengan kebahagiaan, adakalanya perkawinan harus berakhir dengan perceraian. Perceraian pada perkawinan campuran membawa masalah yang berkepanjangan terutama sengketa hak perwalian anak dan harta bersama.

Perwalian dapat terjadi dalam perkawinan karena adanya perceraian atau karena kematian dari salah satu pasangan yang terikat dalam perkawinan. Sebelum perwalian terjadi, anak-anak berada didalam kekuasaan orang tuanya namun jika orangtuanya melepaskan tanggung jawab dan tidak memenuhi kewajibannya untuk mengurus anak- anaknya, maka kekuasaan orang tua baik salah satu dari nya atau keduanya terhadap anak dapat dicabut. Dasar persyaratan sebagai penerima hak perwalian dirumuskan dalam KUHPerdata dan Undang-Undang Perkawinan juga dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Penentuan perwalian anak sepenuhnya ada ditangan hakim jika memang perwalian terjadi karena perceraian. Pertimbangan mengenai moral dan karakter dari seorang wali dalam menerima hak perwalian juga menjadi masukan bagi seorang hakim untuk memutuskan kepada siapa hak perwalian diberikan.

Hak maupun kekuasaan perwalian atas anak sama dengan kekuasaan orang tua dan hak tersebut melingkupi pribadi anak dan harta benda anak. Tanggung jawab wali dalam hal perwalian diatur dalam ketentuan KUHPerdata, Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2004.

Hak dan tanggung jawab wali akan berakhir seiring dengan berakhirnya hak perwalian.

Penetapan hak perwalian tidak memiliki kriteria khusus harus kepada ibu atau ayah setelah terjadinya perceraian. Biaya pemeliharaan sepenuhnya ditanggung oleh ayah, ini menjadi pertanggungjawaban moral ayah terhadap anak yang masih dibawah umur meskipun hak perwalian diberikan kepada ibu.

Hak perwalian anak tidak terhenti dengan ditentukannya siapa yang mendapatkan hak perwalian, ayah kandung ataupun ibu kandungnya melalui putusan pengadilan yang inkracht. Tugas dan wewenang dari pengadilan dalam hal eksekusi hak perwalian tidak hanya menjalankan eksekusi seperti menyerahkan anak kepada wali yang berhak namun juga berhubungan dengan eksekusi nafkah anak.

Kata kunci : Perkawinan campuran; Perceraian; Kewarganegaraan; Hak perwalian; Tanggung jawab wali; Eksekusi hak perwalian.

(7)

12/2006 on Citizenship; it is also regulated in the Civil Code. In mixed marriage, it is possible that the status of a person’s citizenship such as husband, wife, and their children. It is also possible that a child of a mixed marriage has a father or a mother with different nationality. Not all mixed marriage couples end their marriage happily; sometimes they end in a divorce and a divorce in mixed marriage brings about prolonged problem, particularly in the dispute in guardianship rights and in joint property.

Guardianship can occur in marriage because of a divorce or the death of one of the persons who are bound in a marriage. Before the guardianship occurs, the children are under their parents’ custody; but, when they release their responsibility and do not fulfill their obligation to take care of the children, their rights, either the mother or the father will be abolished. The requirement for the guardianship receiver is formulated in the Civil Code, in Marriage Law, and in Children Protection Law. The provision of guardianship for a child is completely in the hand of a judge if the guardianship is caused by a divorce. The consideration on a guardian’s moral and character in receiving his guardianship also becomes the input for a judge to make a decision of who will be the guardian.

The right and the authority of guardianship on a child is the same as the authority of parents and the right includes the child’s personality and property. A guardian’s responsibility in guardianship is regulated in the Civil Code, in Marriage Law No. 1/1974, and in Child Protection Law No. 23/2004. A guardian’s right and responsibility will end along with the end of the guardianship. Guardianship does not have specific criteria for a wife or for a husband after a divorce occurs. The cost of guardianship is not completely the father’s responsibility; it will be his moral;

responsibility for an under-aged child even though the guardianship is given to the mother.

Guardianship on a child still continues although who will be the guardians, his biological father or his biological mother, has been determined through a valid Court’s verdict. The task and authority of a Court in the execution of guardianship are by handing over the child not only to the guardian who has the right to take care of the child but also to the person who is related to who will support the child financially.

Keywords: Mixed Marriage, Divorce, Citizenship, Guardianship, Guardian’s Responsibility, Execution of Guardianship

(8)

dengan judul “PENETAPAN HAK PERWALIAN ANAK DIBAWAH UMUR PADA KASUS PERCERAIAN DALAM PERKAWINAN CAMPURAN WARGA NEGARA INDONESIA DAN WARGA NEGARA ASING” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

Dalam penyusunan tesis ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam dan tulus kepada yang sangat terhormat dan yang amat terpelajar yaitu :

1. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN.

2. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.Hum.

3. Bapak Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn.

Serta kepada para dosen penguji :

1. Bapak Notaris Syafnil Gani, SH, MHum.

2. Bapak Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum.

atas bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.

Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A (K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(9)

ilmu kepada penulis.

6. Rekan-rekan mahasiswa serta teman-teman tercinta di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang selalu memberikan semangat, dorongan dan bantuan pikiran kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan tesis ini.

7. Para pegawai/karyawan Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang selalu membantu dalam hal manajemen administrasi yang dibutuhkan.

8. Management serta rekan-rekan sekerja di PT.AT Oceanic Offshore yang telah banyak memberikan dukungan moril serta semangat bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Secara khusus, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada orang tua, abang, adik serta kakak & adik Ipar juga anakku Nico Andreas serta semua keluarga besar tercinta yang telah memberikan bantuan moral dan materil serta doa restunya kepada penulis juga kepada bapak Roderick yang telah memberikan banyak bantuan kepada penulis.

Penulis berharap dan mendoakan kiranya Tuhan membalas kebaikan dan jasa Bapak dan Ibu semuanya. Terima Kasih.

Akhir kata, penulis mengharapkan agar penulisan tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Medan, Januari 2015 Penulis,

Tiurlan Sihaloho

(10)

Nama : Tiurlan Sihaloho Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 23 Mei 1974

Status : Cerai

Agama : Kristen

Alamat : Komplek Bukit Surya Indah Blok C9 No 01- Batam

II. KELUARGA

Ayah : Kareman Sihaloho

Ibu : Tumiar Turnip

Abang : 1. Tumbur M. Sihaloho

2. Udin P. Sihaloho

Adik : 1. Togu G. Sihaloho

2. Horman Sihaloho

Anak : Nico Andreas Justine

III. PENDIDIKAN

SD Swasta Methodist Indonesia 6, Medan : 1980-1986 SLTP Negeri Sunggal, Medan : 1986-1989

SMEA Swasta Hasanuddin, Medan : 1989-1992

S1 Fakultas Hukum Universitas Internasional Batam, Batam : 2005-2009 S2 Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum USU : 2012-2015

(11)

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR ISTILAH ... x

DAFTAR SINGKATAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Keaslian Penelitian... 11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 12

1. Kerangka Teori ... 12

2. Konsepsi ... 15

G. Metode Penelitian... 21

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 22

2. Sumber dan Jenis Data ... 23

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 25

4. Analisis Data ... 25

BAB II. PENENTUAN HAK PERWALIAN BAGI ANAK DIBAWAH UMUR TERHADAP PASANGAN BERBEDA KEWARGANEGARAAN ... 27

A. Akibat Hukum Perkawinan Campuran ... 27

(12)

c. Perkawinan Campuran Menurut Hukum Islam ... 31 2. Hak dan Kewajiban Suami Istri Pada Perkawinan

Campuran ... 32 3. Harta Benda Pada Perkawinanan Campuran ... 36 B. Kewarganegaraan Dan Kedudukan Hukum Anak Dari

Perkawinan Campuran ... 39 1. Status Kewarganegaraan Anak Dari Perkawinan

Campuran Menurut Undang-Undang Kewarganegaran Lama ... 39 2. Status Kewarganegaraan Anak Dari Perkawinan

Campuran Menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Baru... 43 3. Kedudukan Hukum Anak Dari Perkawinan Campuran ... 46 a. Anak Sebagai Subjek Hukum ... 46 b. Hak-Hak Dan Perlindungan Hukum Terhadap Anak

Dari Perkawinan Campuran ... 50 c. Status Hukum Anak Dengan Kewarganegaraan Ganda 54 C. Penentuan Perwalian Bagi Anak Dibawah Umur Yang

Memiliki Kewarganegaraan Ganda ... 57 1. Pengertian Perwalian... 57 2. Persyaratan Penerima Perwalian Yang Dikhususkan Bagi

Pasangan. Berbeda Kewarganegaraan ... 61 3. Penentuan Perwalian Bagi Anak Dibawah Umur Yang

Memiliki Kewarganegaraan Ganda ... 63

(13)

1. Permulaan Perwalian Terhadap Anak

Berkewarganegaraan Ganda ... 67

2. Asas-asas Perwalian Terhadap Wali Berbeda Kewarganegaraan ... 70

3. Pengurusan Hak Perwalian Anak Yang Berbeda Kewarganegaraan ... 71

4. Berakhirnya Perwalian ... 73

B. Kewenangan Mendapatkan Hak Perwalian Pada Pasangan Yang Berbeda Kewarganegaraan ... 74

1. Kewenangan Ibu Untuk Mendapatkan Hak Perwalian (Mother Custody) ... 74

2. Kewenangan Ayah Untuk Mendapatkan Hak Perwalian (Father Custody) ... 77

3. Hak Perwalian Secara Bersama Pada Pasangan Berbeda Kewarganegaraan (Joint Custody) ... 79

4. Peranan Badan Hukum Dalam Masalah Hak Perwalian Pada Pasangan Yang Berbeda Kewarganegaraan ... 81

C. Hak Dan Tanggung Jawab Wali Pada Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor : 1705/K/PDT/2011 ... 82

1. Hak Dan Tanggung Jawab Wali ... 82

2. Pembahasan Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor : 1705/K/PDT/2011 ... 84

a. Duduk Perkara ... 84

b. Isi Putusan ... 86

3. Analisa Kasus Nomor : 1705/K/Pdt/2011... 87

(14)

1. Upaya Hukum Ibu WNI Untuk Mendapatkan Hak

Perwalian... 91

2. Pertimbangan Mahkamah Agung Dalam Memberikan Hak Perwalian Kepada Ibu WNI ... 93

B. Akibat Hukum Penetapan Hak Perwalian Kepada Ibu Pada Kasus Nomor 1705/K/Pdt/2011 ... 96

1. Akibat Hukum Atas Hak Perwalian Terhadap Wali Ibu WNI... 96

2. Akibat Hukum Atas Ayah WNA Yang Tidak Mendapatkan Hak Perwalian ... 98

3. Akibat Hukum Atas Anak Dibawah Umur Setelah Perwalian Ditetapkan Kepada Ibu ... 100

C. Pelaksanaan Hak Perwalian Yang Telah Ditetapkan Terhadap Wali ... 104

1. Eksekusi Hak Perwalian Pada Anak Berkewarganegaraan Ganda ... 104

2. Kendala Eksekusi Dalam Hak Perwalian Anak Berkewarganegaraan Ganda ... 108

3. Upaya Hukum Untuk Pemegang Hak Perwalian Apabila Eksekusi Tidak Dapat Dilaksanakan... 110

4. Analisis Data Pada Kasus Nomor : 1705/K/Pdt/201 ... 114

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 119

A. Kesimpulan ... 119

B. Saran ... 120 DAFTAR PUSTAKA ... 122

(15)

Acquiring : Kebebasan untuk mendapatkan Possesing : Kebebasan untuk memiliki Protecting property : Melindungi hak milik Ouderlijke match : Kekuasaan orangtua

Ius soli : Asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran Ius sanguinis : Asas kewarganegaraan berdasarkan keturunan Status Personal : Keadaan-keadaan yang menunjukkan adanya

kaitan antara fakta-fakta mengenai pribadi yang ada didalam suatu perkara dengan sistim hukum yang berlaku

Curatele : Pengampuan

Minderjarig : Orang yang belum cukup umur

Handlichting : Pendewasaan

Regeling op de gemengde huwelijken: Pengaturan mengenai perkawinan campuran

Interlocal : Antar tempat

Interreligieus : Antar agama Intergentiel : Antar golongan

Van rechtswege : Perkawinan antara suami istri secara hukum Choice of law/rechtswahl : Pilihan Hukum

Sociological jurisprundensi : Sosiologi hukum

Policy : Kebijakan

Rechts subyek : Subjek Hukum

Personal miserabile : Tidak cakap hukum Penia aetatis : Pernyataan dewasa

Convention On The Right of The Child: Konvensi Hak Anak

(16)

Statuta mixta : Kelompok kaidah-kaidah yang mengatur tentang bentuk dari suatu perbuatan hukum

Passport : Buku perjalanan ke luar negeri

Konkordansi : Daftar alfabetis kata pokok dr sebuah buku atau karya seorang penulis dng konteks terdekat

Afwezig : Keadaan tidak hadir

Definitif : Sementara

Curia novit just : Dianggap mengetahui semua hukum

Voogdij : Perwalian

Ondeelbaarheid : Asas tidak dapat dibagi-bagi Medevoog : Perwalian karena menikah lagi Bewindvoerder : Pelaksana Pengurusan

Meederjarig : Dewasa

Mother custody : Perwalian oleh Ibu Father custody : Perwalian oleh Ayah Joint custody : Perwalian bersama-sama

Fatherhood : Masalah keayahan

Legal custody : Kewenangan salah satu orang tua untuk membuat keputusan- keputusan penting bagi anak

Physical custody : Merujuk pada tempat tinggal anak

Gender : Jenis kelamin

Preferensi gender : Penunjukan jenis kelamin

Contentius : Gugatan

Verzet : Perlawanan

(17)

Domicile of origin : Domisili asal Domicile of choice : Pilihan domisili

Recidence : Kediaman

Welfare state : Kesejahteraan sosial

Wetmatigheid van bestuur : Peraturan perundang-undangan Public order : Ketertiban umum

Vested rights : Hak-hak yang telah diperoleh

(18)

BHT : Berkekuatan Hukum Tetap

GHR : Regeling op de gemengde huwelijken

HPI : Hukum Perdata Internasional

KUA : Kantor Urusan Agama

KUHPerdata : Ketentuan Undang-Undang Hukum Perdata KUHPidana : Ketentuan Undang-Undang Hukum Pidana

PerCa : Perkawinan Campuran

PK : Peninjauan Kembali

WNA : Warga Negara Asing

WNI : Warga Negara Indonesia

(19)

tentang Kewarganegaraan serta diatur juga dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perkawinan campuran tidak menutup kemungkinan terjadi suatu permasalahan tentang status kewarganegaraan seseorang baik sebagai suami, istri, maupun anak dari hasil perkawinan tersebut. Anak yang lahir dari orang tua yang melakukan perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Kehidupan perkawinan campuran tidak semuanya berakhir dengan kebahagiaan, adakalanya perkawinan harus berakhir dengan perceraian. Perceraian pada perkawinan campuran membawa masalah yang berkepanjangan terutama sengketa hak perwalian anak dan harta bersama.

Perwalian dapat terjadi dalam perkawinan karena adanya perceraian atau karena kematian dari salah satu pasangan yang terikat dalam perkawinan. Sebelum perwalian terjadi, anak-anak berada didalam kekuasaan orang tuanya namun jika orangtuanya melepaskan tanggung jawab dan tidak memenuhi kewajibannya untuk mengurus anak- anaknya, maka kekuasaan orang tua baik salah satu dari nya atau keduanya terhadap anak dapat dicabut. Dasar persyaratan sebagai penerima hak perwalian dirumuskan dalam KUHPerdata dan Undang-Undang Perkawinan juga dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Penentuan perwalian anak sepenuhnya ada ditangan hakim jika memang perwalian terjadi karena perceraian. Pertimbangan mengenai moral dan karakter dari seorang wali dalam menerima hak perwalian juga menjadi masukan bagi seorang hakim untuk memutuskan kepada siapa hak perwalian diberikan.

Hak maupun kekuasaan perwalian atas anak sama dengan kekuasaan orang tua dan hak tersebut melingkupi pribadi anak dan harta benda anak. Tanggung jawab wali dalam hal perwalian diatur dalam ketentuan KUHPerdata, Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2004.

Hak dan tanggung jawab wali akan berakhir seiring dengan berakhirnya hak perwalian.

Penetapan hak perwalian tidak memiliki kriteria khusus harus kepada ibu atau ayah setelah terjadinya perceraian. Biaya pemeliharaan sepenuhnya ditanggung oleh ayah, ini menjadi pertanggungjawaban moral ayah terhadap anak yang masih dibawah umur meskipun hak perwalian diberikan kepada ibu.

Hak perwalian anak tidak terhenti dengan ditentukannya siapa yang mendapatkan hak perwalian, ayah kandung ataupun ibu kandungnya melalui putusan pengadilan yang inkracht. Tugas dan wewenang dari pengadilan dalam hal eksekusi hak perwalian tidak hanya menjalankan eksekusi seperti menyerahkan anak kepada wali yang berhak namun juga berhubungan dengan eksekusi nafkah anak.

Kata kunci : Perkawinan campuran; Perceraian; Kewarganegaraan; Hak perwalian; Tanggung jawab wali; Eksekusi hak perwalian.

(20)

12/2006 on Citizenship; it is also regulated in the Civil Code. In mixed marriage, it is possible that the status of a person’s citizenship such as husband, wife, and their children. It is also possible that a child of a mixed marriage has a father or a mother with different nationality. Not all mixed marriage couples end their marriage happily; sometimes they end in a divorce and a divorce in mixed marriage brings about prolonged problem, particularly in the dispute in guardianship rights and in joint property.

Guardianship can occur in marriage because of a divorce or the death of one of the persons who are bound in a marriage. Before the guardianship occurs, the children are under their parents’ custody; but, when they release their responsibility and do not fulfill their obligation to take care of the children, their rights, either the mother or the father will be abolished. The requirement for the guardianship receiver is formulated in the Civil Code, in Marriage Law, and in Children Protection Law. The provision of guardianship for a child is completely in the hand of a judge if the guardianship is caused by a divorce. The consideration on a guardian’s moral and character in receiving his guardianship also becomes the input for a judge to make a decision of who will be the guardian.

The right and the authority of guardianship on a child is the same as the authority of parents and the right includes the child’s personality and property. A guardian’s responsibility in guardianship is regulated in the Civil Code, in Marriage Law No. 1/1974, and in Child Protection Law No. 23/2004. A guardian’s right and responsibility will end along with the end of the guardianship. Guardianship does not have specific criteria for a wife or for a husband after a divorce occurs. The cost of guardianship is not completely the father’s responsibility; it will be his moral;

responsibility for an under-aged child even though the guardianship is given to the mother.

Guardianship on a child still continues although who will be the guardians, his biological father or his biological mother, has been determined through a valid Court’s verdict. The task and authority of a Court in the execution of guardianship are by handing over the child not only to the guardian who has the right to take care of the child but also to the person who is related to who will support the child financially.

Keywords: Mixed Marriage, Divorce, Citizenship, Guardianship, Guardian’s Responsibility, Execution of Guardianship

(21)

Era globalisasi saat ini perkawinan campuran merupakan suatu hal yang sangat umum. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perkawinan campuran, selain karena globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan juga karena status kehidupan sosial sehingga membawa pasangan yang berbeda kultur dan kewarganegaraan memilih untuk melakukan perkawinan campuran.1 Perkawinan campuran di Indonesia, diatur dalam beberapa kaedah hukum yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan selanjutnya disebut Undang-Undang Perkawinan, Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan selanjutnya disebut Undang-Undang Kewarganegaraan Lama dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan selanjutnya disebut Undang- Undang Kewarganegaraan Baru, serta diatur juga dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang selanjutnya disebut KUHPerdata.

Ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan, perkawinan campuran diartikan sebagai ”perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan”. 2 Dengan berlakunya Undang- Undang perkawinan, pembuat Undang-undang memberikan pengertian perkawinan

1 Nuning Hallet, Mencermati isi rancangan UU Kewarganegaraan,

http://mixedcouple.com/articles/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=51. Diakses 20 Juni 2014

2Pasal 57 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 pasal 57

(22)

campuran dalam arti hanya perkawinan antara Warga Negara Indonesia selanjutnya disebut WNI dan Warga Negara Asing selanjutnya disebut WNA.

Pengaturan tentang perkawinan campuran memang sudah ditetapkan pada saat diberlakukannya Undang-Undang Kewarganegaraan Lama, namun peraturan tersebut belum sepenuhnya dapat mengakomodir kepentingan para pihak dalam perkawinan campuran, terutama perlindungan hukum terhadap WNI, baik yang menikah di luar negeri ataupun yang di Indonesia serta kepentingan anak dari perkawinan campuran.

Namun, setelah Undang-Undang Kewarganegaraan Baru diberlakukan setidaknya dapat mengatasi beberapa persoalan terutama mengenai kewarganegaran bagi anak- anak yang lahir dari perkawinan campuran.3

Secara substansi Undang-Undang Kewarganegaraan Baru lebih mengakomodir kepentingan para pihak daripada Undang-Undang Kewarganegaraan Lama, karena dalam pembentukan Undang-Undang Kewarganegaraan Baru telah mengakomodasi berbagai pemikiran yang mengarah pada perlindungan warganegaranya dengan memperhatikan kesetaraan gender, tetapi yang tidak kalah penting adalah perlindungan terhadap anak-anak hasil perkawinan campuran dengan memberikan status kewarganegaraan terbatas sampai dengan batas usia 18 (delapan belas) tahun dan setelah sampai batas usia tersebut, ia diwajibkan memilih salah satu kewarganegaraannya.4Perlindungan hukum yang diberikan dalam Undang-Undang Perkawinan terhadap warga negaranya khususnya untuk anak yang lahir dari

3 Nuning Hallet, Mencermati isi rancangan UU Kewarganegaraan, http://mixedcouple.com/articles/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=51. Diakses 20 Juni 2014

4 Wicipto Setiadi, Pembaharuan Undang-undang Kewarganegaraan RI, http://www.legalitas.org/?q=node/305 // diakses 29 juni 2014

(23)

perkawinan campuran merupakan penerapan dari fungsi utama hukum yaitu untuk melindungi kepentingan yang ada dalam masyarakat.5

Ketentuan KUHPerdata tidak memuat secara tegas mengenai pengertian perkawinan campuran, hal ini disebabkan karena hubungan perkawinan dianggap hanya dalam hubungan perdata saja. 6 Ratio pasal ini menunjukkan bahwa KUHPerdata memandang perkawinan bukan suatu perbuatan religius yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, melainkan bersifat materi atau kebendaan dan bersifat duniawi. Hubungan perkawinan dari suami dan istri lebih mengagungkan sifat sosiologi dari pada religi. Religi tidak mendapat tempat dalam hubungan perdata pada soal-soal perkawinan. Hal ini didasarkan pada filosofi bahwa KUHPerdata menganut paham serba materi saja dengan mengagungkan individual- liberalistis.7Pengertian ini juga dimaksudkan sebagai suatu tindakan hukum yang dilakukan dengan tujuan untuk hidup bersama dan kekal dalam suatu perkawinan antara dua orang yang berjenis kelamin berlainan dan dilangsungkan menurut cara yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Realita perkawinan campuran tidak hanya terjadi dikota-kota besar seperti Kota Batam, Jakarta ataupun Denpasar namun juga terjadi dikota-kota kecil di Indonesia walaupun skala persentase pada umumnya perkawinan campuran banyak terjadi di kota yang menjadi tempat persinggahan WNA seperti Kota Batam, Jakarta dan Denpasar. Kota–kota tersebut selain sebagai salah satu kota industri di Indonesia juga merupakan tempat persinggahan dari banyak WNA, baik sebagai wisatawan

5Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum, (Bandung : PT. Citra AdityaBakti, 2007), hal. 66

6R. Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta : Pradyna Paramitha, 1990), hal. 7

7Tan Kamelo dan Syarifah Lisa Andriati, Hukum Orang dan Keluarga, (Medan : USU Express, 2011), hal. 39

(24)

maupun sebagai tenaga kerja asing pada perusahaan asing8. Dengan banyaknya terjadi perkawinan campuran terutama antara wanita WNI dengan pria WNA sehingga mendorong sebagian dari pelaku perkawinan campuran untuk mendirikan beberapa organisasi perkawinan campuran di Indonesia dan salah satunya adalah organisasi PerCa yang memiliki misi untuk bisa menjadi wadah yang menaungi kebutuhan dan aspirasi masyarakat perkawinan campuran secara terpadu.9 Berikut adalah tabel data pasangan perkawinan campuran yang dilakukan antara WNA dan WNI di beberapa kota di Indonesia yaitu :

Tabel Data Pasangan Perkawinan Campuran Nomor : 1

Nomor Nama Kota Jumlah Pasangan Perkawinan

Campuran

1 Jakarta 246

2 Denpasar 153

3 Batam 82

4 Balikpapan 62

Sumber : Data internal keanggotan PerCa Indonesia Tahun 2009-2013

Perkawinan campuran di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh ekspatriat kaya dari negara asing dengan orang Indonesia tetapi juga terjadi pada tenaga kerja Indonesia yang ada di luar negeri dengan tenaga kerja dari negara lain. Hal ini didasari oleh kebutuhan dari masyarakat itu sendiri karena semua orang dilahirkan sama-sama bebas dan merdeka serta memiliki hak-hak tertentu yang bersifat alami,

8 Nuning Hallet, Nuning Hallet, Mencermati isi rancangan UU Kewarganegaraan, http://mixedcouple.com/articles/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=51. Diakses 20 Juni 2014

9http://percaindonesia.com/tentang/ diakses tanggal 06 Juni 2014

(25)

inheren, dan tidak dapat dikurangi. Di antara hak-hak itu adalah hak untuk menikmati dan mempertahankan hidup dan hak atas kebebasan mendapatkan, memiliki, dan melindungi hak milik (acquiring, possesing, and protecting property)10, dalam mencari serta mendapatkan kebahagian hidup ditempuh salah satu dari cara yang dilakukan yaitu dengan melakukan perkawinan campuran.

Perkawinan campuran tidak menutup kemungkinan terjadi suatu permasalahan tentang status kewarganegaraan seseorang baik sebagai suami, istri, maupun anak dari hasil perkawinan tersebut. Setiap negara mempunyai asas yang berbeda-beda tentang penentuan status kewarganegaraan seseorang yang mana status kewarganegaraan seseorang tersebut akan menentukan hak dan kewajiban seseorang sebagai warga negara suatu negara.11 Setiap Negara wajib untuk memberikan perlindungan hukum kepada Warga Negaranya tidak terkecuali pada komunitas yang terlibat dalam perkawinan campuran, karena hukum menurut Satjipto bermula dari kehidupan sosial kultural suatu komunitas.12

Hukum dengan warga negara saling membangun satu sama lainnya, ada sebuah kepentingan yang melekat di antara keduanya, sehingga cara-cara bangsa- bangsa berhukum tidak berlangsung dalam suatu ruang hampa, tetapi sarat dengan nutrisi sosial kultural tertentu.13Demikian juga halnya dengan pasangan yang

10 Jimly Asshiddiqie, Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hal. 14

11Junita Sitorus, Perkawinan Campuran Dalam Hukum di Indonesia, (Jakarta: Pintu Gerbang 2004), hal.15

12Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti , 2006) hal. 333

13 Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan, (Bandung : Alumni, 2006), hal.3

(26)

melakukan perkawinan campuran yang harus mendaftarkan perkawinannya di negara masing–masing dengan tujuan untuk mendapatkan perlindungan hukum atas tindakan hukum yang telah dilakukan. Setiap warga negara berhak untuk melakukan perbuatan hukum baik itu hukum nasional maupun hukum internasional dan sudah menjadi kewajiban Negara untuk melindungi warga negaranya selama perbuatan hukum tersebut tidak menyimpang dari kaidah–kaidah hukum Nasional maupun Internasional. Suatu Negara harus tetap menghormati prinsip–prinsip umum hukum Internasional.14

Tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran, menurut teori Hukum Perdata Internasional selanjutnya disebut HPI, dalam menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orangtuanya perlu dilihat dahulu perkawinan orangtuanya sebagai persoalan pendahulua15, apakah perkawinan orangtuanya sah sehingga anak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya. Dalam sistem hukum Indonesia, Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistim hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak-anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke

14 Koerniatmanto Soetoprawiro, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1996), hal. 1

15Sudargo Gautama, Hukum Perdata International Indonesia B Jilid III, ( Bandung : Alumni Bandung, 1995), hal. 86

(27)

match) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam Undang-Undang Kewarganegaraan Baru.16

Manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHPerdata memberikan pengecualian bahwa anak yang masih dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaaan hidup.17Anak yang lahir dari orang tua yang melakukan perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda.

Tidak berbeda dengan perkawinan umumnya, pada perkawinan campuran juga akan timbul hubungan hukum antara suami-isteri dan kemudian dengan lahirnya anak-anak, menimbulkan hubungan hukum antara orang tua dan anak-anak mereka.

Dari perkawinan mereka memiliki harta kekayaan, dan timbullah hubungan hukum antara mereka dengan harta kekayaan tersebut.18Hal ini juga dikaitkan bagaimana perkawinan tersebut dilangsungkan serta di negara mana dan menurut hukum mana perkawinan tersebut didaftarkan. Perkawinan campuran yang dilakukan di Indonesia umumnya tidak hanya dilakukan antara WNA dengan WNI yang sama-sama Muslim tetapi juga antara WNI dan WNA yang Non Muslim.

Kehidupan perkawinan campuran tidak semuanya berakhir dengan kebahagiaan, adakalanya perkawinan harus berakhir dengan perceraian. Perceraian

16Ibid

17Sri Susilowati Mahdi, Surini Ahlan Sjarif, dan Akhmad Budi Cahyono, Hukum Perdata:

Suatu Pengantar , (Jakarta : Gitama Jaya, 2005), hal.21

18Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta : PT Abadi, 2001), hal.1.

(28)

pada perkawinan campuran membawa masalah yang berkepanjangan terutama sengketa hak asuh anak dan harta bersama.19Kehidupan bermasyarakat, perceraian merupakan suatu hal yang ditakuti karena dampaknya bukan saja bagi suami istri melainkan lebih luas kepada anak-anak dan keluarga kedua belah pihak, juga faktor psikologi yang dapat berpengaruh terhadap lingkungan masyarakat. Walaupun agama melarang dan dampaknya tidak baik dalam lingkungan keluarga atau sosial tetapi dalam praktek perkawinan selalu saja terjadi perceraian yang seolah-olah sulit untuk dihindarkan.20Kematian merupakan peristiwa hukum bukan saja untuk memutuskan perkawinan tetapi juga mengakhiri kehidupan seseorang menjadi subyek hukum yang dapat menimbulkan akibat hukum bagi si ahli waris. Berbeda halnya dengan perceraian, para pihak suami atau istri masih dapat melangsungkan perkawinan lagi dengan orang lain, hanya yang menjadi persoalan selanjutnya adalah mengenai harta kekayaan dan anak-anak yang dilahirkan.21

Perceraian dalam perkawinan campuran yang memiliki anak-anak dibawah umur bukanlah suatu hal yang mudah karena dengan berlakunya Undang-Undang Kewarganegaraan Baru bukan menjadi solusi akhir yang bisa mengatasi permasalahan terutama dalam hal penetapan perwalian anak. Berdasarkan Pasal 41 Undang-undang Perkawinan, dikatakan bahwa “meskipun suatu perkawinan putus karena perceraian, tidaklah mengakibatkan hubungan antara orangtua (suami dan istri yang telah bercerai) dan anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut menjadi

19 Irma Devita, irmadevita.com/2012/hak- asuh- anak- pada- perceraian- perkawinan- campuran/diakses pada tanggal 29 Juni 2014

20Tan Kamelo dan Syarifah Lisa Andriati, Op. Cit., hal. 79

21Tan Kamelo dan Syarifah Lisa Andriati, Op. Cit., hal. 80

(29)

putus”.22Hal ini dikaitkan dengan tanggung jawab baik ayah maupun ibu terhadap anak setelah terjadinya perceraian dimana dengan kewarganegaraan yang berbeda setelah putus perkawinan salah satu dari orang tua kembali kenegaranya.

Salah satu kasus hak perwalian yang terjadi di kota Batam antara seorang ibu WNI dengan ayah WNA yang berkewarganegaraan Amerika. Kedua pasangan tersebut melakukan perkawinan campuran secara catatan sipil dengan tunduk pada Undang-undang perkawinan Indonesia dan tidak mendaftarkan perkawinan tersebut di Amerika. Dari perkawinan campuran yang telah dilakukan oleh WNA dan WNI tersebut lahir seorang anak perempuan yang masih berumur 1 (satu) tahun pada saat proses perceraian yang diajukan oleh ayah WNA. Putusan Pengadilan Negeri Batam dan putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru menetapkan hak perwalian diberikan kepada ibu WNI. Demikian juga hasil putusan Mahkamah Agung yaitu Putusan MA No 1705 K/Pdt/2011 tetap memberikan hak perwalian kepada ibu WNI, namun ayah WNA tidak menyerahkan anak tersebut ke ibu WNI. Berdasarkan kasus tersebut diatas maka sangat menarik untuk diteliti mengenai “Penetapan Hak Perwalian Anak Dibawah Umur Pada Kasus Perceraian Dalam Perkawinan Campuran Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing”.

B. Perumusan Masalah

Bertitik tolak pada uraian mengenai latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagaimana menentukan hak perwalian bagi anak dibawah umur terhadap pasangan yang berbeda kewarganegaraan?

22 http://gresnews.com/berita/Tips/121208-hak-asuh-anak-di-bawah-umur-akibat-perceraian diakses pada tanggal 29 Juni 2014

(30)

2. Bagaimana hak dan tanggung jawab wali atas anak dibawah umur yang berbeda kewarganegaraan?

3. Bagaimana pelaksanaan hak perwalian yang telah ditetapkan terhadap wali ? C. Tujuan Penelitian

Merujuk pada judul serta permasalahan dalam penelitian ini maka dapat disampaikan adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui cara menentukan hak perwalian bagi anak dibawah umur terhadap pasangan yang berbeda kewarganegaraan.

2. Untuk mengetahui hak dan tanggung jawab wali atas anak dibawah umur yang berbeda kewarganegaraan

3. Untuk menganalisa pelaksanaan hak perwalian yang telah ditetapkan terhadap wali.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis :

1. Sebagai manfaat teroritis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbang saran untuk perkembangan ilmu hukum serta hukum kenotariatan pada umumnya dan khususnya bidang hukum keluarga yang menyangkut tentang perwalian anak dibawah umur.

2. Sebagai manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan perbandingan untuk penelitian yang akan dilakukan oleh calon notaris maupun mahasiswa

(31)

pasca sarjana pada khususnya juga pada masyarakat umum sebagai acuan serta pedoman hukum terutama bagi pasangan yang telah bercerai dalam perkawinan campuran.

E. Keaslian Penelitian

Setelah melakukan pengecekan serta penelusuran baik di Magister Kenotariatan maupun di Perpustakaan Magister Ilmu Hukum yang ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, sejauh yang diketahui tidak ditemukan judul serta permasalahan yang diangkat sama dengan judul penelitian ini, namun ada beberapa judul yang ada kaitannya dengan perkawinan campuran diantaranya adalah : 1. T. Ferzialdi Hanafiah/ MKn (057011091), judul penelitian : ”Tinjauan Hukum Terhadap Anak-anak yang Memperoleh Status Warga Negara Indonesia dari Hasil Perkawinan Campuran”. Adapun permasalahan yang diangkat pada tesis tersebut yaitu :

a. Bagaimanakan Hak dan Kewajiban hukum yang didapat oleh anak-anak dibawah umur dari perkawinan campuran dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan ?

b. Bagaimanakah penerapan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan dalam proses pendaftaran anak yang lahir dari perkawinan campuran?

c. Masalah-masalah apa yang timbul dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan ?

(32)

2. Yunita/MKn (107011012), judul penelitian : ”Analisis Terhadap Keabsahan Putusan Perceraian Dan Pembagian Harta Bersama Yang Dikeluarkan Oleh Hakim Dari Negara Lain (Singapura) Terhadap Warga Negara Indonesia (Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 612 K/Pdt/2003), 2012”. Pada tesis tersebut, hal –hal yang diangkat menjadi permasalahan ialah : a. Bagaimana keabsahan putusan perceraian yang dikeluarkan oleh Pengadilan

dari negara lain terhadap Warga Negara Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan perundang-undangan lainnya?

b. Bagaimana kekuatan hukum putusan pengadilan dari negara lain tentang pembagian harta bersama terhadap Warga Negara Indonesia?

c. Apakah putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 612 K/Pdt/2003 sudah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia?

Berbeda dengan penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, dalam penelitian ini lebih mengarah kepada permasalahan mengenai penentuan perwalian anak dibawah umur pasca perceraian.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Kehidupan masyarakat pada umumnya terdapat banyak masalah sosial. Dari sekian banyak masalah-masalah sosial itu kita harus mampu menemukan atau menseleksi masalah hukumnya untuk kemudian dirumuskan dan dipecahkan.

Bukanlah pekerjaan mudah untuk menseleksi masalah hukum dari masalah sosial

(33)

lainnya yang sering tumpang tindih dengan masalah hukum dan sukar untuk dicari batasnya.23

Sebagian Ahli Hukum berpedoman bahwa persoalan-persoalan yang terjadi dalam bidang hukum, adalah masalah-masalah sosial yang memerlukan pendekatan secara sosiologi untuk menganalisa masalah-masalah hukum.24Teori berfungsi untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi25 dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada permasalahan- permasalahan yang dapat menunjukkan ketidakbenaran26, selain itu teori juga merupakan pisau analisis bagi seorang peneliti dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian ini teori yang dipergunakan adalah teori yang dikembangkan oleh Gustav Radbuch mengenai teori keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Dalam penetapan Perwalian anak dibawah umur , ketiga unsur tersebut sangat penting untuk diterapkan walaupun dalam prakteknya tidak selalu mudah mengusahakan kompromi secara seimbang antara ketiga unsur tersebut.27

Kepastian hukum adalah tujuan utama dari hukum28, hal ini juga menjadi suatu hal yang sangat penting terutama untuk kepastian hukum mengenai putusan hak

23 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum, (Yogyakarta, Universitas Atmajaya, 2010), hal.42

24Bahder Johan, Methode Penelitian Ilmu Hukum, (Bandung : Mandar Maju, 2008), hal.130

25 J.J.J. M. Wuisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Asas-Asas, Penyunting : M. Hisyam, Fakultas Ekonomi, (Jakarta : Universitas Indonesia, 1996), hal. 203. Lihat juga M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : CV Mandar Maju, 1994), hal.27. menyebutkan bahwa teori yang dimaksud di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkan. Tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dinyatakan benar.

26Ibid

27 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, (Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2010), hal.161

28J.B.Daiyo, Pengantar Ilmu Hukum, Buku Panduan Mahasiswa , (Jakarta : PT. Prenahlindo, 2001), hal.120

(34)

perwalian anak yang akan diberikan kepada Penerima Perwalian, dimana putusan tersebut dibuat berdasarkan sistem yang logis dan praktis serta rechtswerkelijkheid (keadaan hukum yang sungguh-sungguh) dan dalam putusan tersebut tidak terdapat istilah-istilah yang dapat ditafsirkan secara berlain-lainan.29

Tugas–tugas kaidah hukum adalah untuk menjamin adanya kepastian hukum.

Dengan adanya pemahaman kaidah–kaidah hukum tersebut, masyarakat sungguh – sungguh menyadari bahwa kehidupan bersama akan tertib apabila terwujud kepastian dalam hubungan antara sesama manusia.30 Tinjauan untuk unsur kemanfaatan dikaitkan dengan permasalahan dalam penelitian ini yaitu penegakkan dari putusan perwalian anak dimana hak-hak anak dibawah umur dapat dilaksanakan serta ditegakkan. Menurut Sudikno Mertokusumo bahwa masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum. Hukum itu untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakkan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai justru karena hukumnya dilaksanakan atau ditegakkan malah akan timbul keresahan di dalam masyarakat itu sendiri.31

Terdapat dua asas utama dalam menentukan kewarganegaraan dalam kaitannya dengan perwalian bagi anak dibawah umur yang memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu sebagai berikut :32

1. Asas tempat kelahiran (ius soli);

29Soetanto Soepiadhy, Kepastian Hukum ,

http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962e5ebad017dee37f007e 56da92eb74d56 diakses pada tanggal 29 Juni 2014

30Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta : Rineka Cipta, 1995), hal 49-50.

31 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum ( Suatu Pengantar), (Yogyakarta : Liberty, 1991), hal. 161

32Purnadi Purbacaraka dan Agus Brotosusilo, Sendi-sendi Hukum Perdata Internasional Suatu Orientasi , (Jakarta : Rajawali, 1989), hal.579

(35)

Berdasarkan asas ius soli, kewarganegaraan seseorang ditentukan oleh tempat kelahirannya. Bila ia seseorang di Negara X, maka ia merupakan warga Negara dari pada Negara X tersebut. Untuk sementara waktu asas ius soli menguntungkan, yaitu dengan lahirnya anak-anak dari para imigran di Negara tersebut maka putuslah hubungan dengan Negara asal.

2. Asas keturunan (ius sanguinis);

Asas ius sanguinis menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunannya. Seseorang yang lahir dari orang tua yang berkewarganegaraan Y, maka orang tersebut merupakan Warga Negara dari pada Negara Y. Keadaan dalam cara menentukan kewarganegaraan antara berbagai Negara berakibat bahwa dalam keadaan tertentu seseorang dapat mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan dengan kedudukan bipatride atau multi patride, tapi bisa juga seseorang tidak memiliki kewarganegaraan sama sekali yang disebut apatride.

Perwalian dapat terjadi karena adanya perceraian dan dalam praktek dalam suatu perkawinan dapat terjadi perceraian disebabkan kemungkinan bahwa pasangan tidak mengalami kecocokan satu dengan yang lain setelah menjalani masa perkawinan. Secara yuridis formal, suatu perkawinan dapat putus disebabkan 3(Tiga) hal yaitu : pertama, kematian; kedua, perceraian, dan ketiga, atas keputusan pengadilan.33Mengenai perwalian yang dibahas dalam HPI yang disebut sebagai Status Personal dan dalam yurisprudensi Indonesia yang termasuk Status Personal antara lain : perceraian, pembatalan perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, dan kewenangan melakukan perbuatan hukum, soal nama, soal status status anak-anak dibawah umur.34

2. Konsepsi

Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut definisi operasional.35

33Pasal 38 Undang-undang Nomor Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974

34 Sudargo Gautama, Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, (Bandung:

Binacipta, 1977), hal.133.

35Sutan Remy Sjahdeini. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta : Institute Bankir Indonesia, 1983), hal. 10

(36)

Defenisi operasional adalah mendefenisikan suatu variable yang akan diamati dalam proses dengan mana variable itu akan diukur.36

Defenisi-defenisi yang berkaitan dengan pokok penelitian antara lain, yaitu : a. Perwalian

Pengertian Perwalian menurut Pasal 330 ayat (3) KUHperdata yaitu: “Mereka yang belum dewasa dan tidak berada dibawah kekuasaan orangtua, berada dibawah perwalian atas dasar dan cara sebagaimana teratur dalam bagian ketiga, keempat, kelima dan keenam bab ini”.37 Sedangkan menurut para ahli mendefenisikan perwalian itu ada beberapa pengertian diantaranya:

Menurut R. Subekti mengatakan Perwalian (voogdij) adalah pengawasan terhadap anak dibawah umur, yang tidak berada dibawah kekuasaan orangtua serta pengurusan benda atau kekayaan anak tersebut diatur oleh Undang-undang. Anak yang berada dibawah perwalian adalah38:

1). Anak sah yang kedua orangtuanya telah dicabut kekuasaannya sebagai orangtua.

2). Anak sah yang orangtuanya telah bercerai 3). Anak yang hadir dari luar perkawinan

Menurut Riduan Syahrani bahwa perwalian itu sama halnya seperti orang- orang yang belum dewasa dan orang-orang yang ditaruh dibawah pengampuan (curatele) dalam melakukan perbuatan-perbuatan hukum diwakili orangtuanya, kecuali atau pengampunya sedangkan penyelesaian hutang hutang piutang orang- orang yang dinyatakan pailit dilakukan oleh balai harta peninggalan.39

36L.N Jewel, Siegel Marc, Psikologi Industri/Organisasi Modern, Penerjemah, A Hadyana Pudjaatmaka dan Maetasari, (Jakarta : Archan, 1998), hal.27

37Pasal 330, KUHperdata

38R Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Bandung : PT Intermasa, 2003), hal.52

39Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, (Bandung : PT Alumni, 2006), hal.45-48

(37)

Yang dimaksud dengan perwalian dalam penelitian ini adalah perwalian untuk anak dibawah umur yang sah dan lahir dari perkawinan campuran yang didaftarkan menurut sistem hukum perkawinan yang berlaku di Indonesia.

b. Anak dibawah umur

Pengertian anak secara umum dipahami masyarakat adalah keturunan kedua setelah ayah dan ibu.40Sekalipun dari hubungan yang tidak sah dalam kaca mata hukum, Ia tetap dinamakan anak. Jadi defenisi ini tidak dibatasi dengan usia. Dalam pengertian Hukum Perkawinan Indonesia, anak yang belum mencapai usia 18 Tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orangtuanya, selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya.41Adapun pengertian anak menurut pasal 45 KUHP adalah orang yang belum cukup umur, yaitu mereka yang melakukan perbuatan (tindak pidana) sebelum umur 16 (enam belas) tahun.42

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juga terdapat pasal yang memberikan salah satu unsur pengertian tentang anak, seperti yang terdapat dalam Bab IX tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana selanjutnya disebut KUHP, pada pasal 45 berbunyi:43

Dalam menuntut orang yang belum cukup umur (minderjarig) karena melakukan perbuatan sebelum umur enam belas tahun, hakim dapat menentukan, memerintahkan supaya yang bersalah dikembalikan kepada orangtuanya, walinya, atau pemeliharanya, tanpa pidana apapun atau memerintahkan supaya

40WJS Poerdarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1992), hal.38

41Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 47

42Agung Wahyono dan Siti Rahayu, Tinjauan tentang Peradilan Anak di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 1993), hal.19

43 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecth) Diterjemahkan oleh Moeljanto, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2001), Pasal 45

(38)

yang bersalah diserahkan kepada Pemerintah, tanpa pidana apapun yaitu jika perbuatan merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut.

Pasal 45 KUHP sudah dicabut ketentuannya tentang penuntutan anak dikarenakan telah ada Undang-undang yang lebih khusus mengatur tentang masalah anak, yaitu Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

Sedangkan dalam KUHperdata pengertian anak dibawah umur dimaksudkan pada pengertian “kebelum dewasaan”, karena menurut hukum perdata seorang anak yang belum dewasa belum bisa mengurus kepentingan-kepentingan keperdataannya. Untuk memenuhi keperluan ini, maka diadakan peraturan tentang “handlichting”, yaitu suatu pernyataan tentang seorang yang belum mencapai usia dewasa sepenuhnya atau hanya untuk beberapa hal saja dipersamakan dengan seorang yang sudah dewasa.44

Hukum Perlindungan Anak menggunakan dasar hukum yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pengertian anak dibawah umur adalah : “Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”45

c. Perceraian

Perceraian dapat dilakukan atau pun dibenarkan penggunaannya untuk keadaan yang terdesak ataupun suatu upaya terakhir yang dilakukan pasangan yang sudah tidak memiliki hubungan yang harmonis lagi untuk mencegah terjadinya permasalahan yang lebih besar dalam kehidupan rumah tangga, karena itu perceraian adalah pintu darurat perkawinan guna keselamatan bersama.46

44R Subekti, Op. Cit,hal. 55

45Undang-undang tentang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 1 ayat (1)

46 Rusdi Malik, Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta : Universitas Trisakti, 2001), hal.20.

(39)

Pengertian perceraian secara umum adalah terputusnya hubungan perkawinan suami isteri saat keduanya masih hidup di depan hakim pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang.47Pengertian perceraian oleh para ahli telah didefenisikan secara berbeda dalam konteks pemahaman terhadap keluarga.

Menurut Soemiyati bahwa “perceraian adalah putusnya ikatan perkawinan antara suami dan isteri dengan keputusan pengadilan dan ada cukup alasan bahwa diantara suami dan isteri tidak akan dapat hidup rukun lagi sebagai suami isteri”.48 Pemeriksaan perkara perkawinan khususnya perkara perceraian, berlaku hukum acara khusus, yaitu yang diatur dalam :49

1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

2) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 jo Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

4) Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 1987 Tentang Wali Hakim 5) Peraturan-peraturan yang lain yang berkenaan dengan sengketa perkawinan.

6) Kitab-Kitab Figh Islam sebagai sumber penemuan hukum 7) Yurisprudensi sebagai sumber hukum

d. Perkawinan campuran

Pengertian perkawinan campuran sebagaimana tersebut dalam Pasal 1 (Regeling op de gemengde huwelijken) selanjutnya disingkat GHR adalah

” Perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia tunduk kepada hukum-hukum yang berlainan, sedangkan dalam Pasal 2 GHR menyebutkan bahwa, ”Seorang

47Purnadi Purbacakara dan Agus Brotosusilo, Sendi-Sendi Hukum Perdata Internasional, Suatu Orientasi, (Bandung : Alumni, 1983), hal.48.

48Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tetntang Perkawinan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), hal.12

49Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Cetakan ke 3, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), hal. 205

(40)

perempuan (isteri) yang melakukan perkawinan campuran selama itu belum putus maka si perempuan tunduk kepada hukum yang berlaku untuk suaminya, baik hukum publik maupun hukum sipil”50.

Defenisi Perkawinan Campuran dalam pasal 1 GHR menurut Sudargo Gautama memiliki ruang lingkup yang meliputi :

1) Perkawinan campuran antar tempat (interlocal), yaitu perkawinan antara orang-orang Indonesia sendiri yang berasal dari suku atau daerah yang berlainan dan hidup dalam berbagai lingkungan hukum.

2) Perkawinan campuran antar agama (interreligieus), yaitu perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia menganut agama yang berbeda.

3) Perkawinan campuran antar golongan (intergentiel), yaitu perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia berasal dari golongan penduduk yang berbeda.51

Perkawinan campuran yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu perkawinan yang dilangsungkan dan menurut hukum yang berlaku di Indonesia serta didaftarkan dalam catatan sipil. Pencatatan perkawinan di Indonesia termasuk perkawinan campur dilakukan melalui lembaga catatan sipil bagi mereka yang pernikahannya tidak dilakukan berdasarkan agama Islam dan melalui Kantor Urusan Agama (KUA) bagi mereka yang melakukan pernikahan secara agama Islam.52

e. Kewarganegaraan

Warga Negara merupakan salah satu hal yang bersifat prinsipal dalam kehidupan bernegara. Tidaklah mungkin suatu Negara dapat berdiri tanpa adanya

50 Maria Sudibyo, Perjuangan Untuk Mencapai Undang-undang Perkawinan, (Jakarta : Yayasan Idayu, 1981), hal.29

51 Sudargo Gautama, Segi-Segi Peraturan Perkawinan Tjampuran, (Bandung : Alumni, 1973), hal. 2

52Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Pasal 2 tentang Pelaksanaan Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

(41)

Warga Negara. Setiap Negara mempunyai hak untuk menentukan siapa saja yang dapat menjadi warga negaranya, dalam hal ini setiap Negara berdaulat, hampir tidak ada pembatasan.

Menurut Bagir Manan “kewarganegaraan ayah merupakan dasar utama menentukan kewarganegaraan seorang anak. Anak yang lahir dari suatu perkawinan yang sah akan mengikuti kewarganegaraan ayahnya”.53Jika dikaji dari pasal-pasal di dalam Undang-Undang Kewarganegaraan Baru, kewarganegaraan ganda dapat terjadi karena perkawinan campuran dan kelahiran diluar wilayah Republik Indonesia dengan orang tua WNI, hal ini dapat ditemukan di dalam pasal 4 poin c,d,h,l dan pasal 5 Undang-Undang Kewarganegaraan Baru.

G. Metode Penelitian

Metode Penelitian merupakan cara utama yang digunakan Peneliti untuk mencapai tujuan dan menentukan jawaban atas masalah yang diajukan.54Pengertian Metode adalah proses, prinsip–prinsip, dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati–hati, tekun, dan tuntas terhadap suatu gejala untuk merambah pengetahuan manusia.55Pada dasarnya riset atau penelitian adalah setiap proses yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Adapun beberapa pengertian penelitian menurut para ahli adalah:

53Bagir Manan, Hukum Kewarganegaraan Indonesia dalam UU nomor 12 Tahun 2006, (Yogyakarta : FH UII Press, 2009), hal.70

54Mohammad Nasir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988), hal. 51

55Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995), hal. 6.

(42)

Menurut Tuckman, Penelitian merupakan suatu usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah (a systematic attempt to provide answer to question). Sistematis artinya mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu. Jawaban ilmiah adalah rumusan pengetahuan, generaliasi, baik berupa teori, prinsip baik yang bersifat abstrak maupun konkret yang dirumuskan melalui alat primernya yaitu empiris dan analisis.

Penelitian itu sendiri bekerja atas dasar asumsi, teknik dan metode.56 Sedangkan menurut Sugiyono berpendapat bahwa Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.57Dalam penelitian tesis ini digunakan metode sebagai berikut :

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Melakukan suatu penelitian, data merupakan faktor yang sangat penting karena data adalah gejala yang akan dicari untuk diteliti, gejala yang diamati oleh peneliti dan hasil pencatatan terhadap gejala yang diamati oleh peneliti.58Penelitian ini bertolak belakang dari suatu pengertian bahwa penelitian pada hakekatnya mencakup kegiatan pengumpulan data, pengolahan data, analisa data dan konstruksi data yang semuanya dilaksanakan secara sistematis dan konsisten.59

Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian yuridis normatif yaitu penelitian yang mengacu kepada norma–norma hukum yang terdapat dalam peraturan

56Jonathan Sarwono, Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS 13, ( Yogyakarta : PT.

Raja Grafindo Persada, 2006), hal.15

57Sugiyono, Methode Penelitian Bisnis, (Bandung : Alfabeta, 2004), hal.1

58Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Peran dan Penggunaan Perpustakaan di Dalam Penelitian Hukum, (Jakarta : PDHUI, 1979), hal.1

59Ibid

(43)

perundang–undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif, yang berawal dari premis umum kemudian berakhir pada suatu kesimpulan khusus.60Dalam hal ini pengkajian dikaitkan dengan Hak Perwalian Anak serta Kewarganegaraan yang dimiliki oleh Anak dari hasil perkawinan campuran.

Dilihat dari sifatnya, penelitian pada tesis ini bersifat deskriptif analitis, yaitu penelitian yang bertujuan untuk membuat gambaran atau lukisan secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai permasalahan, sifat–sifat serta hubungan fenomena yang diselidiki.61Selain itu juga dengan penelitian deskriptif analisis bisa didapatkan gambaran semua gejala dan fakta serta menganalisa permasalahan yang ada sekarang.62 Hal ini diseimbangkan dengan menganalisa putusan dari Mahkamah Agung mengenai hak perwalian anak.

2. Sumber dan Jenis Data

Data merupakan keterangan-keterangan atau fakta-fakta yang dikumpulkan dari suatu populasi atau bagian populasi yang akan digunakan untuk menerangkan ciri-ciri populasi yang bersangkutan.63 Untuk memperoleh data yang relevan atau sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka diperlukan data sekunder dan data premier sebagai bahan penunjang dalam penelitian ini. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya64, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh melalui bahan kepustakaan.65

60Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi, Filsafat Ilmu, Metode Penelitian dan Karya Tulis Ilmiah Hukum, (Bandung : Monograf, 2007), hal.6-7

61Soerjono Soekanto, Metodologi Research, (Yogyakarta : Andi Offset, 1998), hal.3.

62Winarno Surakhmad, Dasar dan Tehnik Research, (Bandung : Tarsito, 1978), hal. 132.

63R Lungan, Aplikasi Statiska dan Hitung Peluang, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2006), Hal.13

64J Supranto, Methode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2003), hal.2

65Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), hal.81

(44)

Jenis penelitian ini yuridis normatif maka sumber dan jenis datanya terfokus pada data sekunder yang meliputi bahan – bahan hukum dan dokumen hukum termasuk kasus hukum yang menjadi pijakan dasar peneliti dalam rangka menjawab permasalahan dan tujuan penelitian. Bahan – bahan hukum dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.

Menurut Soerjono Soekanto bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari norma atau kaidah dasar yaitu Pembukaan,Undang-Undang Dasar 1945, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan misalnya hukum adat, yurisprudensi, traktat dan KUHP.66 a. Bahan hukum primer yaitu :

1) Hukum dan Peraturan Perundang–undangan Tentang Perkawinan 2) Undang – Undang Tentang Kewarganegaran

3) Undang-Undang Perlindungan Anak

4) Peraturan Perundangan dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan pelaksanaan hukum perkawinan di Indonesia

b. Bahan hukum sekunder yaitu :

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Hukum Perdata Internasional, buku–

buku, literatur, artikel, makalah, dan tulisan– tulisan yang berkaitan dengan perkawinan campur dan hak perwalian anak yang lahir dari perkawinan campuran.

66Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 1981), hal.151-152

(45)

c. Dokumen atau arsip resmi yang berkaitan dengan kasus perwalian anak yaitu Putusan Mahkamah Agung Nomor : MA No 1705/K/Pdt/2011

d. Bahan hukum tersier berupa kamus hukum.

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Data yang telah dikumpul melalui proses kegiatan pengumpulan data belum sepenuhnya dapat dipergunakan dan dapat memberikan arti pada tujuan penelitian.

Penelitian belum dapat ditarik kesimpulan untuk mendapatkan tujuan dari penelitian sebab data itu masih merupakan bahan mentah, sehingga diperlukan usaha untuk mengolahnya. 67 Berkaitan dengan penelitian yuridis normatif maka metode pengumpulan data berstandar pada data sekunder yaitu dengan cara studi pustaka, wawancara , studi dokumenter, serta menggali masalah – masalah hukum yang telah dibukukan.

4. Analisis Data

Suatu Penelitian sangat penting dilakukan analisis data karena hal tersebut adalah proses menyusun data agar data dapat ditafsirkan.68Untuk menganalisi permasalahan yang diangkat pada tesis ini, selain mengambil rujukan dari Putusan Mahkamah Agung dalam hal tentang penetapan hak perwalian anak juga diselaraskan dengan peraturan hukum yang terkait dengan permasalahan tersebut dengan memakai

67Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), hal. 64

68Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2000), hal.

102

(46)

metode kualitatif.69Metode ini tidak bisa dipisahkan dengan pendekatan masalah, spesifikasi penelitian, dan jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian yang dilakukan. Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis.70

Tahapan analisis data dimulai dengan melakukan pemeriksaan terhadap data yang terkumpul yaitu melalui studi pustaka dan mengupas Putusan Mahkamah Agung yang diambil sebagai referensi penelitian, inventarisasi karya ilmiah, peraturan perundang-undangan, yang berkaitan dengan judul penelitian baik media cetak dan laporan-laporan hasil penelitian lainnya untuk mendukung studi kepustakaan.

69 Lexy J.Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hal.101.

70Ibid

Gambar

Tabel Data Pasangan Perkawinan Campuran Nomor : 1

Referensi

Dokumen terkait

Menurut ahli waris Masnidar di Banda Aceh, yang ayahnya meninggal dunia, pembagian harta warisan dilakukan dengan cara mengadakan perjanjian damai dengan ahli-ahli waris lain,

Tergugat keberatan karena berdasarkan PPAJB Nomor 38 Tanggal 30 Mei 2011, ditegaskan dalam Pasal 3 PPAJB tersebut bahwa apabila pihak kedua tidak dapat melunaskan harga pembelian

Dengan demikian, temuan ini menunjukkan bahwa level chaos dan derajat keacakan sinyal otak lobus frontal pada penderita skizofrenia lebih rendah dibandingkan subjek normal

Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Guna Bangunan Yang Terbit Terlebih Dahulu Setelah Adanya Hak Pengelolaan Atas Objek Yang Sama adalah dengan membatalkan Hak Pengelolaan

Dari penjelasan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa pengertian orangtua dalam penelitian ini adalah ayah dan ibu dari anak (jika anak itu tinggal bersama ayah dan ibu)

Dalam penguasaan tanah sepadan pantai untuk memperoleh haknya tidak mendapat jual beli yang tidak riil dari tanah sepadan pantai yang tealah berubah disebabkan oleh alam, sifat

Untuk mengetahui tingkat perbedaan minat anak pada penggunaan sikat gigi konvensional dengan sikat gigi berlampu sebagai pengukur waktu (Light Up Timer Toothbrush) pada

Jumlah laba atau keuntungan per sekali trip operasi penangkapan ikan PT Perikanan Nusantara Cabang Benoa, Bali pada kapal ukuran 60 GT pada kondisi nyata ini tentu merugikan