TESIS
Oleh
MILA LAILYANA 157011021 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
MILA LAILYANA 157011021 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, MHum
2. Prof. Dr. Hasim Purba, SH, MHum
3. Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, MHum
4. Dr. Edy Ikhsan, SH, MA
Nim : 157011021
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP
PEMEGANG HAK GUNA BANGUNAN (HGB)
YANG TIDAK DAPAT DIPERPANJANG
SETELAH ADANYA HAK PENGELOLAAN
(HPL)
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
Nama : MILA LAILYANA
Nim : 157011021
Seperti pemberian Hak atas tanah untuk Hak Pengelolaan diatas tanah hak guna bangunan yang hak nya masih dalam proses permohonan perpanjangan hak nya kembali. Berdasarkan masalah tersebut maka judul yang akan diangkat dalam tesis ini adalah “Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang hak guna bangunan yang tidak dapat diperpanjang setelah adanya hak pengelolaan (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor : 276PK/PDT/2011). Adapun yang menjadi rumusan masalah adalah Bagaimana Kedudukan Hukum HGB yang terbit terlebih dahulu setelah adanya HPL atas objek yang sama? Bagaimana Perlindungan hukum terhadap pemegang hak guna bangunan yang terbit terlebih dahulu setelah adanya hak pengelolaan atas objek yang sama? Bagaimana Dasar Pertimbangan hakim dalam putusan Mahkamah Agung Nomor : 276PK/PDT/2011?
Jenis penelitian hukum dengan metode pendekatan yuridis normatif.
Penelitian dengan metode yuridis normatif ialah dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statue approach), penelitian hukum doktriner yang mengacu kepada norma-norma hukum. Dengan Sifat penelitian deskriptif analitis dengan menggunakan Data sekunder. Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode berpikir deduktif.
Kedudukan Hukum HGB yang terbit terlebih dahulu setelah adanya HPL atas objek yang sama yaitu masih tetap sah dan mempunyai kekuatan sebagai pembuktian yang kuat atas suatu objek tanah sepanjang HGB tersebut masih berlaku dan jangka waktunya belum berakhir. Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Guna Bangunan Yang Terbit Terlebih Dahulu Setelah Adanya Hak Pengelolaan Atas Objek Yang Sama adalah dengan membatalkan Hak Pengelolaan yang terbit diatas objek Hak Guna Bangunan karena apabila syarat-syarat permohonan perpanjangan hak guna bangunan telah sesuai peraturan Pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah maka tidak ada alasan BPN menolak perpanjangan Hak Guna Bangunan tersebut. Dasar Pertimbangan hakim dalam memutuskan putusan Mahkamah Agung Nomor : 276PK/PDT/2011 sudah sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku sehingga hakim dalam pertimbangannya menolak Peninjauan Kembali dalam perkara ini.
Kata Kunci : Perlindungan Hukum, Perpanjangan Hak Guna Bangunan, Hak
Pengelolaan
applying for the extension of his rights again. Based on the issue, the title to be addressed in this thesis is "Legal Protection Against Concessionaires that can not be renewed after the right of management (Study of Supreme Court Decision Number:
276PK / PDT / 2011). As for the formulation of the problem is How HGB Legal Status that comes first after the existence of HPL over the same object? How to Legal Protection against pre-emptive rights holders after the existence of management rights over the same object? How to Base Judge Consideration in Supreme Court Decision Number: 276PK / PDT / 2011?
Type of legal research with normative juridical approach method. Research with normative juridical method is by using approach of legislation (statue approach), research of doctrinal law which refers to legal norms. With the nature of descriptive analytical research using secondary data. Further drawn conclusions by using deductive thinking methods.
The position of HGB Law which comes first after the existence of HPL over the same object that is still valid and has the strength as a strong proof of an object of land as long as the HGB is still valid and the term is not over. Legal Protection Against Pre-Owned Right Holder Holders After the Right of Management of the Same Object is to cancel the Right of Management issued above the object of Building Use Right because if the terms of the application for renewal of the right to use the building have been in accordance with the provisions of Article 26 of Government Regulation Number 40 In 1996 on the Right to Build, Right to Build and Use Right on Land, there is no reason for BPN to refuse the extension of the Building Use Right.
Basic Judge Consideration in deciding Supreme Court Decision Number: 276PK / PDT / 2011 is in conformity with the prevailing regulations so that the judge in its consideration refuses Review in this case.
Keywords: Legal Protection, Extension of Right to Build, Right of Management
sekolah Pasca Sarjana Program Studi Magister Kenotariatan (M.Kn) serta dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul “PERLINDUNGAN HUKUM PEMEGANG HAK GUNA BANGUNAN (HGB) YANG TIDAK DAPAT DIPERPANJANG SETELAH ADANYA HAK PENGELOLAAN (HPL)“ serta shalawat beriring salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa manusia dari zaman jahiliah ke zaman islamiah, sehingga manusia dapat mengenal kebaikan, dapat membedakan mana yang benar dan salah, serta mengajarkan manusia untuk mengenal Allah sang pencipta kehidupan dan kematian.
Penulis menyadari bahwa penulisan tesis in masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan untuk penyempurnaan tesis ini.
Pada kesempatan ini, tidak lupa dengan segala hormat penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada orang yang telah berjasa tiada batasnya yang selalu mencurahkan kasih dan sayang tanpa pamrih, berjuang dalam mendidik, selalu mendoakan penulis dimanapun berada, dan menyemangati tanpa batas adalah orang tua penulis yaitu: H. Bustamam Ganie, SE dan Drs. Hj. Sri Handriaty, penulis ucapkan jutaan terimakasih kepada orang tua, semoga setiap amalan kebaikan yang penulis lakukan juga dicatatkan untuk kedua orang tua, Amin ya rabbal Alamin
Dalam menyelesaikan penulisan tesis ini juga tiada kesempurnaan tanpa
adanya bimbingan, masukan , kritikan dan arahan-arahan para pembimbing dan para
penguji, dan oleh karena itu penulis ucapkan terima kasih sebanyak-banyakanya
kepada para pembimbing, yakni Bapak Prof. Dr. Muhhammad Yamin, SH, MS,
CN., selaku ketua komisi pembimbing, Bapak Prof. Dr. Muhammad Syafruddin
Kalo, SH, M.Hum, selaku anggota komisi pembimbing dan Bapak Prof. Dr. Hasim
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH., CN., M.Hum, selaku ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Para profesor dan guru besar serta staff pengajar dan juga kepada seluruh karyawan biro administrasi Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Kepada Abang, Kakak dan Adik penulis Al Hamidy M.I.T, Dr. Meutia Wardhanie Ganie, Mochammad Siddiq Bustamam terima kasih atas doa serta dukungan penuh terhadap penyelesaian tesis ini.
6. Kepada Keluarga besar H. M. Ganie dan H. Saman Bakrie terima kasih atas motivasi dan doa yang telah di berikan selama ini.
7. Kepada teman terdekat penulis Dwi Sulistyo yang telah memberikan dukungan yang tak henti-hentinya kepada penulis baik keluangan waktu, dan kesediaan membantu dalam proses penulisan penelitian tesis ini
8. Kepada sahabat-sahabat terbaik penulis, Kathy Carissa Bangun, Cyndi Fransiska Ulina Hutagalung, Syahnaz Miyagi Munira, Tiesa Saleh, Indah Firmaja, Abdurrahman Harit’s Ketaren, Michael Benhard Marhain Sipayung, Zaki Alyamani, Merico Sitorus, dan Calvin Benyamin Panjaitan.
9. Kepada teman-teman seperjuangan stambuk 2015 khususnya Group C Stambuk
2015 yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam berdiskusi mengenai
perkuliahan dan saling memberi dukungan.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati dan harapan penulis, semoga tesis ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dan berguna baik bagi penulis, bagi perseroan, bagi notaris, dunia Akademik dan seluruh pihak yang berkaitan dalam bidang kenotariatan.
Medan, Februari 2018 Penulis,
Mila Lailyana
Nama : Mila Lailyana
Tempa/Tanggal Lahir : Medan, 19 Januari 1994
Alamat : Jl. Alumunium ampera II komplek Bank Indonesia No. 6 - Medan
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 24 Tahun
Kewarganegaraan : Indonesia
Nama Ayah : H. Bustamam Ganie, S.E
Nama Ibu : Drs. Hj, Sri Handriaty
II. PENDIDIKAN
1. SD Negeri 091680 Bosar Maligas Simalungun (1999-2005) 2. SMP Swasta Panca Budi Medan (2005-2008)
3. SMA Swasta Harapan-1 Medan (2008-2011)
4. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2011-2015)
5. Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2015-2018)
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 13
D. Manfaat Penelitian ... 13
E. Keaslian Penulisan ... 14
F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional... 16
1. Kerangka Teori ... 16
2. Landasan Konsepsional... 23
G. Metode Penelitian... 24
1. Jenis Penelitian... 25
2. Sifat Penelitian ... 25
3. Sumber Data... 26
4. Teknik Pengumpulan Data... 27
5. Analisis Data ... 27
BAB II KEDUDUKAN HUKUM HGB YANG TERBIT TERLEBIH DAHULU SETELAH ADANYA HPL ATAS OBJEK YANG SAMA ... 29
A. Tinjauan Umum tentang Hak Pengelolaan ... 29
B. Tinjauan Umum Tentang Hak Guna Bangunan (HGB)... 43
C. Kedudukan Hukum HGB Yang Terbit Terlebih Dahulu Setelah
Adanya HPL Atas Objek Yang Sama ... 48
B. Sertipikat Cacat Hukum ... 59
C. Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang HGB Yang Terbit Terlebih Dahulu Setelah Adanya HPL Atas Objek Yang Sama ... 65
1. Perlindungan hukum bagi pemegang HGB setelah adanya HPL ... 65
2. Perlindungan Hukum Bagi Pemegang HPL... 76
BAB IV DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR : 276PK/PDT/2011... 93
A. Kasus Posisi ... 93
B. Dasar Pertimbangan Hakim ... 106
C. Analisa Pertimbangan Hakim ... 113
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 117
A. Kesimpulan ... 117
B. Saran... 117
DAFTAR PUSTAKA ... 119
A. Latar Belakang
Tanah merupakan kebutuhan hidup manusia yang sangat mendasar. Manusia hidup serta melakukan aktivitas di atas tanah sehingga setiap saat manusia selalu berhubungan dengan tanah, dapat dikatakan hampir semua kegiatan hidup manusia baik secara langsung maupun tidak langsung selalu memerlukan tanah. Pada saat manusia meninggal dunia masih juga memerlukan tanah untuk pengkuburannya.
Begitu pentingnya tanah bagi kehidupan manusia, maka setiap orang akan selalu berusaha memiliki dan menguasainya.
Tanah mempunyai peranan besar dalam dinamika pembangunan, maka di dalam Undang- Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) disebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ketentuan mengenai tanah juga dapat kita lihat dalam Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau yang biasa disebut dengan UUPA (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960).
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, guna menjamin kepastian hak dan kepastian hukum atas tanah UUPA telah menggariskan adanya kewajiban untuk melaksanakan pendaftaran tanah di seluruh Indonesia, sebagaimana diamanatkan Pasal 19 UUPA. Ruang Lingkup pendaftaran tanah menurut UUPA adalah:
1. Pengukuran, Perpetaan dan Pembukuan Tanah
2. Pendaftaran hak – hak atas tanah dan peralihan hak- hak tersebut.
3. Pemberian surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.
Dengan demikian maka pendaftaran ini akan menghasilkan peta-peta pendaftaran, surat-surat ukur untuk kepastian tentang letak, batas dan luas tanah, keterangan dan subjek yang bersangkutan, status haknya, serta beban- beban apa yang berada di atas tanah tersebut dan yang terakhir menghasilkan sertipikat sebagai alat pembuktian yang kuat.
1Secara etimologi sertipikat berasal dari bahasa Belanda “Certificat” yang artinya surat bukti atau surat keterangan yang membuktikan tentang sesuatu. Jadi kalau dikatakan sertipikat tanah adalah Surat Keterangan yang membuktikan hak seseorang atas sebidang tanah, atau dengan kata lain keterangan tersebut menyatakan bahwa ada seseorang yang memiliki bidang-bidang tanah tertentu dan pemilikan itu mempunyai bukti yang kuat berupa surat yang dibuat oleh instansi yang berwenang inilah yang disebut sertipikat tanah tadi.
2Surat tanda bukti hak atau sertipikat tanah itu dapat berfungsi menciptakan tertib hukum pertanahan serta membantu meningkatkan kegiatan perekonomian rakyat, misalnya menjadikan sertipikat tersebut sebagai Jaminan. Sebab yang namanya sertipikat hak adalah tanda bukti atas tanah yang telah terdaftar oleh badan resmi yang sah dilakukan oleh Negara atas dasar Undang-undang.
31Sudarta, Gautama, Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria, Alumni, Bandung, 1981, h.41
2Mhd.Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Mandar Maju, Bandung 2008, h. 198
3Ibid
Penerbitan sertipikat tanah masih dapat dipertanyakan keefektifannya dalam memberikan kepastian dan perlindungan hukum, apakah sertipikat benar-benar melindungi hak (subyek) atau hanya bukti fisik sertipikatnya saja, karena sering terjadi ketika dibawa ke pengadilan dapat saja diakui secara formal sertipikatnya, tetapi tidak melindungi subyek dan obyeknya. Peradilan Tata Usaha Negara dapat saja menolak menyatakan untuk membatalkan sertipikat tanah, tetapi peradilan umum menyatakan orang yang terdaftar namanya dalam sertipikat tidak berhak atas tanah yang disengketakan.
4Pendaftaran tanah dalam UUPA menganut sistem negatif, sehingga keterangan yang tercantum di dalam surat bukti hak mempunyai kekuatan hukum dan harus diterima oleh hakim sebagai keterangan yang benar sepanjang tidak ada alat pembuktian yang lain yang dapat membuktikan sebaliknya. Jika terjadi hal demikian maka pengadilan akan memutuskan alat pembuktian mana yang benar.
Pendaftaran tanah tidak menyebabkan mereka yang tidak berhak menjadi berhak karena namanya keliru dicatat sebagai yang berhak. Mereka yang berhak dapat menuntut diadakan pembetulan dan jika tanah yang bersangkutan sudah berada di dalam penguasaan pihak ketiga, ia berhak menuntut penyerahan kembali kepadanya.
5Undang-Undang Pokok Agraria merupakan hukum tanah positif tertua yang berlaku di Indonesia hingga saat ini juga mengatur mengenai macam-macam hak
4Ibid,
5Hasan, Kusumah, Hukum Agraria I, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, h. 77
atas tanah sebagaimana dimuat dalam Pasal 16 dan Pasal 53 UUPA dimana kemudian dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bidang, yaitu:
1. Hak atas tanah yang bersifat tetap,
Hak atas tanah ini akan tetap ada selama UUPA masih berlaku atau belum dicabut dengan undang-undang yang baru. Jenis hak ini sebagaimana pula yang telah diatur dalam UUPA itu sendiri, antara lain Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, Hak Membuka Tanah, Hak Sewa untuk Bangunan, dan Hak Memungut Hasil Hutan.
2. Hak atas tanah yang bersifat sementara
Hak atas tanah yang dalam waktu singkat akan dihapuskan dikarenakan mengandung sifat-sifat pemerasan, bersifat feodal, dan bertentangan dengan jiwa UUPA. Macam-macam hak atas tanah ini adalah Hak Gadai (Gadai Tanah), Hak Usaha Bagi Hasil (Perjanjian Bagi Hasil), Hak Menumpang, dan Hak Sewa Tanah Pertanian.
3. Hak atas tanah yang akan ditetapkan dengan undang-undang
Hak atas tanah yang akan ditetapkan dengan undang-undang yaitu hak atas tanah yang akan lahir kemudian dan akan ditetapkan melalui undang-undang, seperti hak pengelolaan dan hak milik satuan rumah susun.
Selain memberikan hak atas tanah, negara juga melakukan pengaturan
penguasaan tanah. Hal ini diakibatkan adanya kolonialisme yang menimbulkan
monopoli dan ketimpangan dalam penguasaan tanah yang membutuhkan adanya
penanganan secara sistematis. Untuk itu, setidaknya ada dua masalah mendasar dalam hukum tanah sejak Indonesia mencapai kemerdekaan pada tahun 1945. Pertama, terkait masalah kepemilikan tanah yang tidak proporsional dan kebutuhan tanah yang semakin meningkat. Hal ini yang kemudian memunculkan lembaga land reform, distribusi tanah, bagi hasil, dan hubungan sewa-menyewa antara pemilik tanah dan penggarap. Kedua, mengenai jawaban untuk memecahkan masalah-masalah di atas dimana memunculkan ide untuk melakukan pembaharuan dalam hukum tanah itu sendiri.
Akibat adanya ketimpangan dalam penguasaan tanah dan adanya pandangan bahwa tanah sebagai benda ekonomi setiap orang, maka permasalahan akan tanah rawan memunculkan konflik maupun sengketa. Definisi konflik menurut Coser, adalah Conflicts involve struggles between two or more people over values, or competition for status power, or scarce resources. Jika konflik itu telah nyata
(manifest) maka hal tersebut disebut sengketa
6, sungguhpun sebaliknya, menurut Peraturan Kepala BPN Nomor 11 Tahun 2016, sengketa pertanahan hanya menyangkut pihak perseorangan, namun, jika sudah bersifat manifest dan menyangkut masyarakat banyak maka disebut dengan konflik.
Masalah pertanahan yang sering timbul di tengah-tengah masyarakat adalah terkait dengan pemberian hak atas tanah, baik dengan jenis hak atas tanah yang sama ataupun yang berbeda pada satu bidang tanah, yang lazimnya dikenal dengan
6Maria SW Sumardjono, Nurhasan Ismail, dan Isharyanto, Mediasi Sengketa Tanah, (Kompas, Jakarta, 2008), h 2.
tumpang tindih (overlapping) hak atas tanah. Akibatnya adalah akan muncul ketidakpastian hukum bagi pemegang hak atas tanah sehingga akan menimbulkan sengketa antara para pemegang hak atas tanah tersebut. Apabila terbit dua hak atas tanah, yang dalam hal ini ditandai dengan penerbitan dua sertipikat tanah atas bidang yang sama, tentu saja terdapat perbedaan data yuridis dan data fisik dalam pengajuan pendaftaran hak atas tanah tersebut. Perbedaan yang berkaitan dengan data fisik biasanya terjadi terkait dengan perbedaan luas tanah dan batas yang ada di lapangan.
Sedangkan perbedaan data yuridis menyangkut alas hak atau bukti perolehan atas tanah tersebut.
Masalah yang berhubungan dengan tanah harus mendapat perhatian dan penanganan yang khusus dari pemerintah sebagai penyelenggara administrasi pertanahan agar dapat memberikan jaminan kepastian hukum atas tanah. Agar jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan terwujud, maka sangat diperlukan tersedianya perangkat hukum tertulis, yang lengkap dan jelas serta dilaksanakan secara konsisten serta penyelengaraan pendaftaran tanah yang efektif.
7Pada hakekatnya, kasus sengketa pertanahan merupakan benturan kepentingan (conflict of interest) di bidang pertanahan antara siapa dengan siapa (para pihak), sebagai contoh konkret antara perorangan dengan perorangan, perorangan dengan badan hukum, badan hukum dengan badan hukum dan lain sebagainya, maka terhadap kasus pertanahan dimaksud antara lain dapat diberikan
7Boedi, Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan UUPA, Isi dan Pelaksanaan, Djamban, Jakarta, 2005, h. 69
pelayanan penyelesaian kepada yang berkepentingan (masyarakat dan pemerintah).
Menurut Rusmadi Murad, pengertian sengketa tanah atau dapat juga dikatakan sebagai sengketa hak atas tanah, yaitu timbulnya sengketa hukum yang bermula dari pengaduan suatu pihak (orang atau badan) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas tanah, baik terhadap status tanah, prioritas, maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
8Menurut Sarjita, sengketa pertanahan adalah : “perselisihan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang merasa dirugikan pihak-pihak tersebut untuk penggunaan dan penguasaan hak atas tanahnya, yang diselesaikan melalui musyawarah atau melalui pengadilan.
9Sifat permasalahan dari suatu sengketa ada beberapa macam yaitu masalah yang menyangkut prioritas untuk ditetapkan sebagai pemegang hak yang sah atas tanah yang berstatus hak atas tanah yang belum ada haknya, bantahan terhadap sesuatu alas hak/bukti perolehan yang digunakan sebagai dasar pemberian hak, kekeliruan/kesalahan pemberian hak yang disebabkan penerapan peraturan yang kurang atau tidak benar, dan sengketa/masalah lain yang mengandung aspek-aspek sosial praktis.
108Rusmadi, Murad, Penyelesaian Sengketa Hukum Atas tanah, Alumni, Bandung, 1991, h. 32
9Sarjita, Teknik dan Strategi Penyelesaian Sengketa Pertanahan, Tugujogja Pustaka, Yogyakarta, 2005, h. 8
10Rusmadi, Murad, Op.cit, h.23
Jika dilihat dari substansinya, maka sengketa pertanahan meliputi pokok persoalan yang berkaitan dengan peruntukan dan/atau penggunaan serta penguasaan hak atas tanah, keabsahan suatu hak atas tanah, dan pendaftaran hak atas tanah termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya. Sedangkan dilihat dari tipologi masalah tentang pendaftaran hak yaitu sertipikat ganda, sertipikat palsu, konversi hak yang cacat hukum, peralihan hak yang cacat hukum dan cacat administrasi, permohonan pemblokiran/skorsing.
11Adanya tumpang tindih pemberian hak atas tanah yang sama oleh Badan Pertanahan Nasional juga merupakan suatu masalah yang sangat sering terjadi.
Seperti pemberian Hak atas tanah untuk Hak Pengelolaan diatas tanah hak guna bangunan yang telah disetujui permohonan perpanjangan haknya kembali.
Pada tahun 1971 PT.Indobuild.Co diberi tugas oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk membangun Gedung Konferensi ( Conference Hall ) yang bertaraf internasional dengan segala kelengkapannya dan hotel bertaraf internasional yang sudah harus selesai pertengahan tahun 1974 untuk dipergunakan dalam suatu event internasional yaitu Konferensi PATA.
Gubernur akan membantu soal-soal penyelesaian masalah tanah dan perizinan lainnya dan semua biaya-biaya untuk itu dibebankan kepada PT.Indobuild.CO dan tanah yang diperlukan menjadi tanggung jawab sepenuhnya Gubernur. Sebagai realisasi hal-hal tersebut diatas, kemudian terbit surat
11Kanwil BPN Propinsi Sumatera Utara, Bahan Pembinaan Teknis Penyelesaian Masalah Pertanahan, Kanwil BPN Sumatera Utara, Medan, 2005, h.4
keputusan gubernur DKI Jakarta No. 1744/71 tanggal 21 Agustus 1971 tentang tanah Ex Jakindra seluas 13 Ha (tiga belas Hektar) dan diserahkan kepada PT.
Indobuild.CO dengan surat No. 0217/71 tanggal 15 September 1971, untuk memenuhi ketentuan pasal 19 Undang-Undang No. 5 tahun 1960 Jo. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1961 tentang pendaftaran tanah, maka penggugat mengajukan permohonan hak melalui kantor Sub Direktorat Agraria setempat (kini kantor pertanahan Jakarta Pusat) atas tanah seluas 13 Ha (tiga belas Hektar) , atas permohonan tersebut maka permohonan hak tersebut dikabulkan dengan terbitnya Surat Keputusan No. 181/HGB/Da/72 tanggal 3 Agustus 1972 yang ditanda tangani oleh Direktur Jenderal Agraria atas nama Menteri Dalam Negeri tentang pemberian Hak Guna Bangunan (HGB) kepada PT. Indobuild.CO dengan jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun terhitung sejak tanggal didaftarkannya pada sub direktorat Agraria Jakarta Pusat. Atas pendaftaran tersebut terbitlah sertifikat HGB No. 20/Gelora atas tanah seluas 143.000 m2 (seratus empat puluh tiga ribu meter persegi) untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun terhitung sejak tanggal 13 September 1973 dan berakhir pada tanggal 4 Maret 2003.
Pertimbangan pemberian Hak Guna Bangunan (HGB) oleh Menteri Dalam
Negeri adalah “Bahwa tanah yang dimaksud adalah tanah negara …” sehingga
untuk kepentingan praktis dan perhitungan bisnis pada tahun 1973 Sertifikat
HGB No. 20 atas nama Penggugat dipecah menjadi 2 (dua) sertifikat, masing-
masing HGB No. 26/Gelora tanah seluas 57.120 m² (lima puluh tujuh ribu
seratus dua puluh meter persegi) dan HGB No. 27/Gelora seluas 83.666m²
(delapan puluh tiga ribu enam ratus enam puluh enam meter persegi) atas nama Penggugat yang masa berakhir HGB tersebut tetap pada tanggal 4 Maret 2003.
Sementara itu, untuk memenuhi keputusan PP No. 40 Tahun 1996 tentang HGU, HGB, Hak Pakai Atas Tanah khususnya Pasal 27 yang mengatur tentang perpanjangan jangka waktu HGB atau pembaharuannya diajukan selambat- lambatnya 2 (dua) tahun sebelum berakhir nya jangka waktu HGB tersebut atau perpanjangannya, PT. Indobuild.CO mengajukan perpanjangan HGB pada tanggal 10 Januari 2000, atas Permohonan tersebut Badan Pertanahan Nasional (BPN) menerbitkan surat keputusan perpanjangan HGB. Salah satu dasar dikabulkannya permohonan perpanjangan HGB No. 26/Gelora dan HGB No. 27/Gelora didasarkan atas ketentuan Pasal 26 PP No. 40 Tahun 1996.
Surat Keputusan Perpanjangan HGB No. 26/Gelora dan HGB No.27/Gelora
oleh Turut BPN masih mengacu pada pemberian HGB pertama kali oleh Menteri
Dalam Negeri R.I No. 181/HGB/Da/72 tanggal 3 Agustus 1972 adalah tanah negara
yang diperoleh Penggugat karena penunjukan dan pemberian izin oleh Gubernur
KDKI Djakarta dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota
Djakarta tanggal 21 Agustus 1971 No. 1744/A/K/BKD/71 dan Surat Pernyataan
Direktur Gelanggang Olahraga Senayan tanggal 27 Juli 1972 No. 34/Dir/ 141 /1972
dus pada saat pemberian HGB pertama kali tahun 1973 status tanah adalah tanah
negara, demikian pula pada saat pemberian perpanjangannya. Maka dari itu SHGB
No. 26/gelora dan No. 27/Gelora diperpanjang jangka waktunya sampai tahun 2033
tanpa menyebutkan status HGB itu berada di atas HPL atas nama sekretariat Negara.
Pada tahun 1989, BPN pusat mengeluarkan Surat Keputusan No.
169/HPL/BPN/89 yang bertujuan untuk mengamankan asset-aset Negara dan menyatakan kawasan Gelora Senayan termasuk kawasan Hotel Hilton, berada diatas hak pengelolaan Lahan No.1 atas nama Sekretariat Negara. Dengan adanya Surat Keputusan itu maka PT. Indobuild.CO selaku pemegang HGB harus melepaskan haknya sebelum masa HGB-nya habis dan membuat perjanjian kerja sama dengan Badan Pengelola Gelora Senayan (BPGS) selaku pemegang HPL, guna memperoleh HGB baru yang berada diatas HPL.
Tetapi BPN telah membuat kekeliruan dalam surat keputusan No.
169/HPL/BPN/89 tanggal 15 Agustus 1989 tentang pemberian Hak Pengelolaan terhadap Sekretariat Negara, dikarenakan BPN memasukkan tanah HGB No.
26/Gelora dan HGB No. 27/Gelora ke dalam hak pengelolaan tersebut diatas padahal diatas tanah tersebut masih ada hak yaitu HGB No. 26/Gelora dan HGB No. 27/Gelora atas nama PT.Indobuild.CO yang baru akan berakhir tanggal 2003.
Kepala BPN juga telah melampaui wewenangnya dalam dictum putusan kedua dengan kalimat : “menerima pelepasan tanah-tanah Hak Guna Bangunan dst…”
bahwa PT.Indobuild.CO tidak pernah menyatakan melepaskan haknya kepada Negara, demikian pula PT.Indobuild.CO tidak pernah memberikan kuasa kepada BPN untuk menyatakan melepaskan haknya kepada Negara.
Bahwa dimasukkannya sertifikat HGB No. 26/Gelora dan sertifikat HGB
No. 27/Gelora kedalam surat keputusan tersebut diatas adalah cacat hukum
dengan dasar bahwa ketika PT.Indobuild.CO menerima pemberian HGB
berdasarkan SK Menteri dalam negeri RI No. 181/HGB/Da/72 tanggal 13 Agustus 1972 adalah merupakan tanah Negara dan tidak ada hak-hak diatasnya. Bahwa status tanah Negara didasarkan atas Surat keputusan Gubernur KDKI Djakarta tanggal 21 Agustus 1971 No. 1744/A/K/BKD/71 dan pernyataan direktur gelanggang olahraga senayan tanggal 27 Juli 1972 bahwa tanah yang dikuasai dan di haki oleh PT.Indobuild.CO tidak lagi bagian dari kompleks tanah Gelora Senayan yang letaknya pun tidak di tengah-tengah melainkan berada diluar lingkungan kompleks Gelora Senayan, Maka beralasan dan sah menurut hukum apabila pemberian perpanjangan HGB No. 26/Gelora dan HGB No. 27/Gelora oleh BPN sah menurut hukum.
Berdasarkan masalah tersebut maka judul yang akan diangkat dalam tesis ini adalah “Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Guna Banguan (HGB) yang tidak dapat diperpanjang setelah adanya Hak Pengelolaan (HPL)”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dan untuk lebih memfokuskan diri dalam membahas masalah penelitian, maka diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana Kedudukan Hukum HGB yang terbit terlebih dahulu setelah adanya HPL atas objek yang sama?
2. Bagaimana Perlindungan hukum terhadap pemegang HGB yang terbit
terlebih dahulu setelah adanya HPL atas objek yang sama?
3. Bagaimana Dasar Pertimbangan hakim dalam putusan Mahkamah Agung Nomor : 276PK/PDT/2011?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang akan penulis lakukan adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kedudukan hukum HGB yang terbit terlebih dahulu setelah adanya HPL atas objek yang sama
2. untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap pemegang HGB yang terbit terlebih dahulu setelah adanya HPL diatas objek yang sama.
3. Untuk mengetahui Dasar Pertimbangan hakim dalam putusan Mahkamah Agung Nomor : 276PK/PDT/2011.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang sedang diteliti.
b. Memberikan sumbangan pemikiran dalam perkembangan ilmu hukum,
khususnya yang berkaitan dengan pembahasan tentang sengketa hak atas tanah.
c. Diharapkan dapat menambah referensi/literatur sebagai bahan acuan bagi penelitian yang akan datang apabila melakukan penelitian dibidang yang sama dengan bahan yang telah diteliti.
2. Manfaat Praktis
a. Mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir dinamis, dan untuk mengetahui kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.
b. Mencari kesesuaian antara teori yang telah didapatkan di bangku kuliah dengan pembahasan yang telah dilakukan oleh para ahli dalam literatur-literatur.
c. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan masalah penelitian ini.
E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik hasil-hasil penelitian yang sudah ada maupun yang sedang dilakukan di Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, belum ada penelitian yang membicarakan masalah “Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Guna Bangunan (HGB) yang tidak dapat diperpanjang setelah adanya Hak Pengelolaan (HPL)”.
Dari hasil penulusuran keaslian penelitian, penelitian yang menyangkut
“Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Guna Bangunan (HGB) yang tidak
dapat diperpanjang setelah adanya Hak Pengelolaan (HPL)” yang pernah dilakukan
oleh mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Sumatera Utara yaitu :
1. Tesis yang berjudul : “Pelaksanaan eksekusi diatas Hak Pengelolaan (HPL) No.
3 Milik PT. Kawasan Industri Medan Persero (Studi Putusan Peninjauan Kembali N0. 94PK/PDT/2004). Penelitian ini dilakukan oleh Rosdiana Sari Maharani (NIM : 117011078) tahun 2013. Adapun rumusan masalahnya adalah :
a. Bagaimana tinjauan umum tentang eksekusi?
b. Bagaimana pelaksanaan eksekusi diatas Hak Pengelolaan (HPL) No. 3 Milik PT. Kawasan Industri Medan Persero (Studi Putusan Peninjauan Kembali N0. 94PK/PDT/2004)?
c. Apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Peninjauan Kembali N0. 94PK/PDT/2004?
2. Tesis yang berjudul : “Kajian hukum terhadap kedudukan bank selaku pemegang hak tanggungan atas berakhirnya sertipikat hak guna bangunan diatas hak pengelolaan yang menjadi objek jaminan (studi Bank Internasional Indonesia, Tbk Cabang Diponegoro Medan). Penelitian ini dilakukan oleh Melki Suhery Simamora (NIM : 117011118) tahun 2013. Adapun rumusan masalah nya adalah :
a. Bagaimana pemberian kredit di Bank Internasional Indonesia, Tbk Cabang Diponegoro Medan?
b. Apa saja hambatan dalam perpanjangan sertipikat hak guna bangunan
diatas hak pengelolaan?
c. Bagaimana perlindungan pemegang hak tanggungan atas berakhirnya sertipikat hak guna bangunan diatas hak pengelolaan yang menjadi objek jaminan (studi Bank Internasional Indonesia, Tbk Cabang Diponegoro Medan)?
3. Tesis yang berjudul : Mekanisme penggunaan sebagian hak pengelolaan (HPL) Bandara Kuala Namu oleh pihak ketiga. Penelitian ini dilakukan oleh : Yuheni Hasariah Siregar (NIM :127011141) tahun 2015. Adapun rumusan masalahnya adalah:
a. Bagaimana bentuk hubungan hukum antara PT. Angkasa Pura II dengan pihak ketiga yang menggunakan bagian atas ruang Bandara Kuala Namu serta lahan tanah yang dimiliki bandara tersebut yang merupakan Hak Pengelolaan bandara?
b. Bagaimana pelaksanaan pemberian hak penggunaan atau pemanfaatan ruang yang merupakan hak pengelolaan (HPL) Bandara Kuala Namu kepada pihak ketiga oleh PT. Angkasa Pura II?
c. Bagaimana langkah hukum yang perlu dilakukan PT. Angkasa Pura II dalam pemberian bagian HPL atas tanah Bandara Kuala Namu terhadap pihak ketiga, untuk menciptakan kepastian hukum, atas distribusi tanah diatas hak pengelolaan tersebut?
F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional 1. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam
membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis.
Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.
12Teori berguna untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta- fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Teori memberikan petunjuk- petunjuk terhadap kekurangan-kekuragan pada pengetahuan peneliti.
13Konsep teori menurut M. Solly Lubis ialah : “Kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, mengenai suatu kasus ataupun permasalahan (problem) yang bagi si pembaca menjadi bahan perbandingan, pegangan teori, yang mungkin ia setuju ataupun tidak disetujuinya, ini merupakan masukan eksternal bagi peneliti.
14Teori yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah Teori Kepastian Hukum dan Teori Perlindungan Hukum. Teori yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah :
a. Teori Kepastian Hukum
Teori kepastian hukum dikemukakan oleh Roscoe Pound.
15Teori kepastian hukum berarti bahwa dengan adanya hukum setiap orang mengetahui yang mana dan seberapa besar hak dan kewajibannya. Kepastian bukan hanya berupa pasal-pasal dalam Undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan
12M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994 , h 80,
13Soerjono Soekanto, Ringkasan Metodolgi Penelitian Hukum Empiris, IND-HLL-CO, Jakarta, 1990, h. 67.
14M. Solly Lubis, Filsafat ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, h. 80.
15Peter Mahmud Marzuki, Pengantar lmu Hukum, Kencana Pranada Media Group, Jakarta, 2008, h. 158.
hakim yang satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.
16Menurut Utrecht, Kepastian Hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.
17Menurut Sudikno Mertokusomo : Kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan putusan dapat dilaksanakan, walau kepastian hukum erat kaitannya dengan keadilan namun hukum tidak identik dengan keadilan. Hukum bersifat umum, mengikat setiap orang, sedangkan keadilan bersifat subyektif, individualistis dan tidak menyama ratakan.
18Soerjono Soekanto berpendapat, bagi kepastian hukum yang penting adalah peraturan dan dilaksanakan peraturan itu sebagaimana yang ditentukan. Apakah hukum itu harus adil dan mempunyai kegunaan bagi masyarakat adalah diluar pengutamaan kepastian hukum
19.
16Ibid, h. 159
17Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, h. 24
18Soedikno Mertokusomo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2002, h.
160
19Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, Alumni, Bandung, 1982, h 21.
Menurut M. Solly Lubis : Kepastian hukum ialah kejelasan peraturan hukum mengenai hak, kewajiban dan status seseorang atau suatu badan hukum.
Kepastian hak, kewajiban dan kepastian status ini mendatangkan ketertiban, keteraturan, ketenangan bagi yang bersangkutan, karena dengan adanya kejelasan seperti diatur oleh hukum, maka seseorang tahu benar bagaimana status atau kedudukannya, seberapa jauh hak maupun kewajibannya dalam kedudukan tersebut.
20Menurut pendapat Gustav Radbruch tersebut didasarkan pada pandangannya bahwa kepastian hukum adalah kepastian tentang hukum itu sendiri, kepastian hukum merupakan produk dari hukum atau lebih khusus dari perundang-undangan, berdasarkan pendapatnya tersebut. Maka menurut Gustav Rudbruch, hukum positif yang mengatur kepentingan-kepentingan manusia dalam masyarakat harus slalu ditaati meskipun hukum positif itu kurang adil.
Kepastian hukum dikemukankan oleh Jan M. Otto sebagaimana yang dikutip oleh Bernard Arief Sidharta, yaitu kepastian hukum dalam situasi tertentu mensyaratkan sebagai berikut :
211) Tersedia aturan-aturan hukum yang jelas atau jernih, konsisten dan mudah diperoleh (accessible), yang diterbitkan oleh kekuasaan Negara.
2) Bahwa instansi-instansi penguasa (pemerintah) menerapkan aturan-aturan hukum secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya.
3) Bahwa mayoritas warga pada prinsipnya menyetujui muatan isi dan karena itu menyesuaikan perilaku mereka terhadap aturan-aturan tersebut.
20M.Solly Lubis,Serba-serbi Politik dan Hukum, PT. Sofmedia, Jakarta, 2011, h 54,
21Bernard Arief Sidharta, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2006, h 85
4) Bahwa hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpihak menerapkan aturan-aturan hukum itu secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum, dan
5) Bahwa keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan.
Kelima syarat yang dikemukakan Jan M. Otto tersebut menunjukkan bahwa kepastian hukum dapat dicapai jika substansi hukumnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat, aturan hukum yang mampu menciptakan kepastian hukum adalah hukum yang lahir dan mencerminkan budaya masyarakat. Kepastian hukum yang seperti inilah yang disebut dengan kepastian hukum yang sebenarnya (realistic legal certainly), yaitu mensyaratkan adanya keharmonisan antara Negara dengan rakyat dalam berorientasi dan memahami sistem hukum.
Kepastian Hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum. Sifat umum dari aturan-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata-mata untuk kepastian.
22Teori Kepastian Hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap
22Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (suatu kajian filosofis dan sosiologis), Penerbit Toko Gunung Agung, Jakarta,2002, h 82-83
individu.
23Tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan akhirnya menimbulkan keresahan, tetapi terlalu menitik beratkan kepada kepastian hukum, terlalu ketat mentaati peraturan hukum, akibatnya kaku dan akan menimbulkan rasa tidak adil, apapun yang terjadi peraturannya adalah demikian dan harus ditaati atau dilaksanakan. Undang-undang itu sering terasa kejam apabila dilaksanakan secara ketat. Teori Kepastian Hukum digunakan dalam peneltian ini Untuk mengetahui bagaimana perjanjian antara Menteri dengan PT. Indobuild sehinggga diterbitkan sertipikat HGB Nomor 26/Gelora dan Nomor 27/Gelora.
b. Teori Perlindungan Hukum
Menurut Satjipto Raharjo, ”Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti, ditentukan keluasan dan kedalamannya. Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut hak. Tetapi tidak di setiap kekuasaan dalam masyarakat bisa disebut sebagai hak, melainkan hanya kekuasaan tertentu yang menjadi alasan melekatnya hak itu pada seseorang.
24Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak
23Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada MediaGroup, Jakarta, 2008, h 137
24Satjipto Rahardjo, Ilmu hukum, Citra Aditya Bakti, Cetakan ke-V, Bandung, 2000. h. 53.
sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.
25Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.
26Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.
2) Perlindungan Hukum Represif.
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Teori perlindungan hukum digunakan dalam penelitian ini dengan alasan sebagai berikut: Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum terhadap pemegang HGB akibat terbitnya HPL sehingga pemegang HGB tidak dapat memperpanjang sertipikat HGB nya.
25Setiono, Rule of Law (Supremasi Hukum), Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta,2004, h. 3.
26Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta,2003, h. 14.
2. Landasan Konsepsional
Suatu kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin akan diteliti akan tetapi merupakan suatu abstraksi dari gejala tersebut. Gejala ini sendiri biasanya dinamakan fakta, sedangkan konsep merupakan uraian mengenai hubungan dalam fakta tersebut.
27Melaksanakan penelitian ini, perlu disusun serangkaian operasional dan beberapa konsep yang akan dipergunakan dalam penulisan ini, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya salah pengertian dan sebagainya.
a. Perlindungan Hukum adalah tindakan atau upaya melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.
28b. Hak Guna Bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu paling lama 30 tahun.
29c. Hak pengelolaan adalah Hak atas tanah yang diberikan atas tanah yang dikuasai Negara dan hanya dapat diberikan kepada badan-badan hukum
27Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1989, h 132
28Setiono, Op.cit. h 3
29Pasal 35, UUPA Nomor 5 tahun 1960
Pemerintah atau Pemerintah Daerah baik untuk dipergunakan untuk usahanya sendiri maupun untuk kepentingan pihak ketiga.
30G. Metode Penelitian
Penelitian (research) sesuai dengan tujuannya dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. Usaha mana dilakukan dengan metode-metode ilmiah yang disebut dengan metodologi penelitian.
31Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu
“methods” yang berarti cara atau jalan sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
32Metode penelitian merupakan hal yang penting dalam upaya mencapai tujuan tertentu di dalam penulisan tesis ini. Hal ini agar terhindar dari suatu penilaian bahwa penulisan tesis dibuat dengan cara sembarangan dan tanpa didukung dengan data yang lengkap. Penulisan sebagai salah satu jenis karya tulis ilmiah yang membutuhkan data-data yang mempunyai nilai kebenaran yang dapat dipercaya. Untuk memperoleh data-data sebagaimana yang dimaksud maka dilakukan suatu metode tertentu, karena setiap cabang ilmu pengetahuan mempunyai metode penulisan tersendiri.
30R. Atang Ranoemihardja, Perkembangan Hukum Agraria Di Indonesia, Aspek-Aspek Dalam Pelaksanaan UUPA Dan Peraturan Perundangan Lainnya Dibidang Agraria Di Indonesia, Tarsito, Bandung,1982, h 16.
31Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1973, h.5.
32Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997, h. 16.
Sebagai suatu penelitian yang ilmiah, maka rangkaian kegiatan penelitian diawali dengan pengumpulan data sehingga analisis data yang dilakukan dengan memperhatikan kaidah-kaidah penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum dengan metode pendekatan yuridis normatif. Penelitian dengan metode yuridis normatif ialah dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statue approach),
33penelitian hukum doktriner yang mengacu kepada norma-norma hukum
34maka penelitian ini menekankan kepada sumber-sumber bahan sekunder, baik berupa peraturan-peraturan maupun teori-teori hukum, yang memfokuskan pengumpulan semua perundang- undangan yang terkait di dalam buku, melakukan pengkajian peraturan perundang- undangan yang berhubungan dengan pengaturan hukum dan implikasi pelaksanaannya di Indonesia maupun hukum yang diputuskan melalui proses penelitian.
2. Sifat Penelitian
Metode penelitian yang dipergunakan dalam menyelesaikan penulisan tesis ini adalah bersifat deskriptif analitis, yang mengungkapkan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian.
33Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, h. 39.
34Bambang Waluyo, Metode Penelitian Hukum, PT. Ghia Indonesia, Semarang, 1996, h. 13.
Demikian juga hukum dalam pelaksanaannya di dalam masyarakat yang berkenaan dengan objek penelitian.
353. Sumber Data
Penelitian ini menitik beratkan pada studi kepustakaan. Dalam mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan dalam penulisan tesis ini menggunakan data sekunder. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari studi kepustakaan dari arsip- arsip, bahan pustaka data resmi pada instansi pemerintah, Undang-Undang, makalah yang ada kaitannya dengan masalah yang sedang diteliti yang terdiri dari:
a. Bahan Hukum Primer,
36yaitu bahan hukum yang mengikat yaitu seperti Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, Undang-Undang Hak Tanggungan Nomor : 4 tahun 1996, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pemerintah No.40 tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah
b. Bahan Hukum Sekunder yaitu bahan hukum yang menjelaskan bahan hukum primer, antara lain berupa buku, hasil-hasil penelitian, tulisan atau pendapat pakar-pakar hukum.
c. Bahan Hukum tertier, yaitu bahan-bahan hukum yang sifatnya penunjang untuk dapat memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti jurnal hukum, jurnal ilmiah, surat kabar, internet serta makalah-makalah yang berkaitan dengan objek penelitian.
35Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, h 105-106.
36Ronny Hanitjo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghia Indonesia, Jakarta, 1988, h. 55.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggung jawabkan hasilnya, maka data dalam penelitian ini diperoleh melalui Studi Kepustakaan. Menurut Bambang Waluyo, “sebagai penelitian hukum yang bersifat normatif, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian kepustakaan (Librabry Research) yakni upaya untuk memperoleh data dari penelusuran literature kepustakaan, peraturan perundang- undangan, majalah, koran, artikel, dan sumber lainnya yang relevan dengan penelitian”.
375. Analisis Data
Sesuai dengan sifat penelitian ini yang bersifat deskriptif analitis, dimana analisis data merupakan sebuah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan.
38Data kualitatif bersifat mendalam dan rinci, sehingga juga bersifat panjang-lebar. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu metode analisis data yang mengelompokkan dan menyeleksi data yang diperoleh melalui studi kepustakaan sehingga dapat menjawab permasalahan. Sebelum analisis dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang telah dikumpulkan kemudian keseluruhan data tersebut akan disusun secara sistematis sehingga
37Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta, 1996, h. 14.
38Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, h. 103.
menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan tanah yang akan dibahas dalam penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang baik pula.
Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya ditarik ke hal- hal yang khusus dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk preposisi-preposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus.
3939Mukti Fajar & Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, h. 109.
A. Tinjauan Umum tentang Hak Pengelolaan 1. Pengertian Hak Pengelolaan
Hak bangsa Indonesia selain beraspek perdata juga beraspek publik. Hal ini tercermin berdasarkan pasal tersebut sehingga negara berhak mengatur semua peruntukan tanah yang ada diwilayah Indonesia bahkan memberikan tanah kepada siapapun untuk dipergunakan. Ditinjau dengan latar belakang wilayah Indonesia yang luas yang terdiri dari ribuan pulau-pulau sehingga perlu adanya pelimpahan wewenang otonomi daerah. Hal ini sesuai dengan pernyataan :
“Hak menguasai dari negara tersebut diatas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional”.
40Hak bangsa Indonesia melalui hak menguasai dari negara melimpahkan wewenang kepada otonomi daerah melalui Hak Pengelolaan (HPL), pada hakekatnya Hak Pengelolaan adalah hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya.
41Hak Menguasai dari negara merupakan pelimpahan tugas kewenangan bangsa Indonesia yang dilakukan oleh wakil-wakil bangsa Indonesia pada waktu menyusun undang- undang Dasar 1945. Sebagaimana halnya dengan hak bangsa, hak menguasai dari
40Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun1960, Pasal 2 ayat (4)
negara yang berupa lembaga hukum dan sebagai hubungan hukum konkrit merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.
42Hak Pengelolaan adalah suatu hak atas tanah yang tidak sama sekali ada istilah dalam UUPA dan khusus hak ini demikian pula luasnya terdapat di luar ketentuan dari UUPA. Hak Pengelolaan lahir dan berkembang sesuai dengan terjadinya perkembangan suatu daerah. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak perkantoran yang terdapat di kota-kota besar mempergunakan tanah dengan Hak Pengelolaan.
43Menurut Effendi Perangin
44, nama Hak Pengelolaan berasal dari bahas Belanda beheersrecht yang diterjemahkan dengan hak penguasaan. Hak penguasan ini dimiliki oleh instansi pemerintah, jawatan atau departemen.
Menurut A.P Parlindungan, cikal bakal Hak Pengelolaan lahan sangat unik. Semulah istilahnya diambil dari bahasa belanda yaitu beheersrecht, yang diterjemahkan menjadi hak penguasaan. Hak penguasaan dimaksud adalah hak penguasaan atas tanah-tanah Negara.
45Menurut R. Atang Ranoemiharjda
46, Hak Pengelolaan adalah hak atas tanah yang diberikan atas tanah yang dikuasai oleh Negara dan hanya dapat diberikan kepada badan-badan hukum pemerintah atau pemerintan daerah baik untuk dipergunakan untuk usahanya sendiri maupun untuk kepentingan pihak ketiga.
42Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Cet 12, Djambatan, Jakarta, 2008, h. 273
43AP Parlindungan, Hak Pengelolaan Menurut Sistem UUPA, Mandar Maju, Bandung, 1994, h.1
44Supriadi, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, h. 148
45Effendi Perangin, Hukum Agraria Di Indonesia (Suatu Telaah Dari Sudut Pandang
Menurut Boedi Harsono, bahwa Hak Pengelolaan pada hakikatnya bukan hak atas tanah, melainkan merupakan “gempilan” hak menguasai dari Negara. Pemegang Hak Pengelolaan mempunyai kewenangan untuk menggunakan tanah yang dihaki bagi keperluan usahanya tetapi itu bukan tujuan pemberian hak itu kepadanya. Tujuan utamanya adalah bahwa tanah yang bersangkutan disediakan bagi penggunaan oleh pihak-pihak lain yang memerlukan.
47Menurut Maria S.W. Sumardjono, Hak Pengelolaan merupakan
“bagian” dari hak menguasai dari Negara yang (sebagian) kewenangannya dilimpahkan kepada pemegang Hak Pengelolaan. Oleh karena itu, Hak Pengelolaan merupakan fungsi/kewenangan publik sebagimana hak menguasai dari negara dan tidak tepat untuk disamakan dengan “hak” sebagimana diatur dalam pasal 16 UUPA karena hak atas tanah hanya menyangkut aspek keperdataan.
48Adanya Hak Pengelolaan dalam Hukum Tanah Nasional tidak disebut dalam UUPA, secara implisit pengertian itu diturunkan dari Pasal 2 ayat (4) UUPA yang menentukan sebagai berikut:
“Hak menguasai Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah”
47R. Atang Ranoemihardja, Perkembangan Hukum Agraria Di Indonesia, Aspek-Aspek Dalam Pelaksanaan UUPA dan Peraturan Perundang Lainnya DI Bidang Agraria Di Indonesia, Tarsito, Bandung. h. 16
48Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang