• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data

Dalam dokumen LAPORAN HASIL PENELITIAN (Halaman 19-0)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.4 Analisis Data

Data-data yang telah dikumpulkan baik data primer maupun sekunder yang diperoleh dari hasil wawancara, studi dokumen maupun observasi, kemudian disusun secara sistematis sesuai dengan kategori atau tema-tema tertentu setelah dilakukan reduksi padanya. Hasil reduksi tersebut kemudian didisplay sesuai dengan kategori atau tema tertentu agar mudah difahami, sehingga akhirnya dapat diambil pemahaman-pemahaman darinya sebagai bahan untuk membuat kesimpulan. Proses pengumpulan data, reduksi, display data dan penarikan kesimpulan bukanlah sesuatu yang berlangsung linear melainkan sebuah siklus interaktif atau bersifat timbal balik yang tidak terpisahkan, sebagaimana diagram berikut :

Proses analisis data sampai dengan pengambilan kesimpulan dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :

a. deskripsi, yaitu merentang karakteristik baik persamaan maupun perbedaan dari masing-masing data dalam kategori tertentu.

b. formulasi, yaitu menemukan tendensi-tendensi atau pola-pola hubungan antar elemen atau variabel dari tiap kategori.

c. interpretasi, yaitu analisis mengenai mengapa dan bagaimana karakteristik atau tendensi-tendensi tersebut dapat terjadi, yang dalam hal ini akan dibantu dengan penggunaan teori-teori yang relevan.

Reduksi Data Pengumpulan Data

Penggambaran/Kesimpulan

Display Data

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Partisipasi politik adalah salah satu mekanisme pembagian kekuasaan secara vertikal antara negara dengan warganya. Namun bukan dalam arti pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang menjalankan kekuasaan, partisipasi politik disini merujuk kepada aktifitas politik warga negara dengan tujuan mengawasi dan mengontrol para penguasanya. Oleh karena itu, partisipasi politik sangat dibutuhkan karena merupakan penanda ada tidaknya legitimasi kekuasaan negara.

Perkembangan partisipasi politik di Indonesia sangat berbeda dari periode ke periode.

Di masa pemerintahan kolonial Belanda, partisipasi politik mengambil berbagai bentuk organisasi masa, baik serikat buruh, organisasi berbasis agama, etnisitas, kelas sosial, ideologi, maupun profesi. Ketertutupan negara kolonial terhadap partisipasi politik membuat gerak organisasi-organisasi tersebut terbatas dan mereka yang berupaya mengkritik pemerintah dipenjarakan.

Namun dalam periode kepartaian selama sepuluh tahun pasca kemerdekaan, partisipasi politik mewujud penuh, kedalam partiapasi terbuka, seperti partai politik berperan dominan, kompetisi politik terbuka, masyarakat sangat leluasa berorganisasi, dan dapat menggunakan prasarana sosial seperti media secara bebas. Namun, pada dua dekade kemerdekaan, partisipasi politik dibatasi. Kekuasaan terpusat pada presiden sehingga menyempitkan area partisipasi politik warga dari pembuatan dan pelaksanaan kebijakan negara.

Orde Baru menjalankan mekanisme politik reperesif dan otoriter. Mulai dari pengerdilan partai politik hingga mencabut landasan organisasi terhadap bentuk-bentuk partisipasi politik warga. Politik masa mengambang menjadi dasar mekanisme partisipasi politik warga. Mekanisme ini mencerabut individu dari kelompok yang mewarnai diri dengan berbagai nilai dan pandangan hidup. Agama, etnisistas, ataupun kelas sosial dilarang dipakai sebagai basis partiaipasi politik. Dalam periode pemerintahannya rejim ini hanya membolehkan basis profesi sebagai pilihan politik warga.

Namun di era demokrasi sekarang ternyata pengalaman partisipasi politik dipandang dari kesejarahan diatas perlahan mulai ditinggalkan. Partisipasi politik sekarang telah mewujud kedalam beberapa faktor yang menjadi penanda meningkatnya partisipasi warga dalam pemilihan umum.

Salah satu yang menjadi penanda tersebut adalah seberapa besar kesiapan dan kemampuan para penyelenggara pemilihan umum (KPU) mempersiapkan pelaksanaan suatu pemilihan umum dapat meningkatkan partisipasi politik warga negara. Bukan rahasia umum lagi bahwa selama ini anggapan minimnya kemampuan pihak-pihak penyelenggara pemilu menjadi penghalang terbesar bagi terciptanya pemilu dan pemilukada yang berkualitas.

Secara nasional menunjukkan bahwa pelaksanaan pemilu dan pemilukada selama ini terkesan dijalankan secara acak-acakan, penuh dengan mobilisasi, politik uang, keruh dengan intimidasi dan konflik kepentingan. Selain itu, KPU yang sejatinya mampu menjaga independensi, tegas menjalankan aturan main, malah ikut menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Sejumlah persoalan tersebut ternyata tidak sepenuhnya terjadi di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Pelaksanaan pemilihan umum tahun 2014 oleh pihak KPU Kabupaten Bangli relatif telah berjalan dengan baik. KPU Kabupaten Bangli telah melakukan tugas dan kewajibannya sebagai penyelenggara sesuai amanat dalam undang-undang, namun ada pula fakta yang tidak terbantahkan adanya pendapat lain, semuanya akan menjadi kajian dalam penelitian ini sebagaimana dijelaskan kedalam beberapa kategori berikut ini.

4.1. Sosialisasi Penyelenggaraan Pemilu.

Secara umum, kinerja KPU Kabupaten Bangli terkait sosialisasi yang dilakukan selama pemilu tahun 2014 sudah berjalan dengan cukup baik. Salah seorang informan menganggap bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh pihak penyelenggara menjelang pemilihan umum berupa pemasangan baliho, spanduk, stiker dan lain-lain, adanya bimbingan teknis (bimtek) ke petugas-petugas lapangan atau panitia pemilu dan pemilukada. Usaha KPU Kabupaten Bangli melakukan bimtek sebagai langkah awal untuk meningkatkan pengetahuan yang lebih baik kepada pelaksana dibawah supaya mempermudah pelaksanaan pemilu atau pemilukada. Bimtek ini diberikan selama kurang lebih dua minggu baru kemudian hasil bimtek ini disosialisasikan kepada pihak lain.

Demikian pula sosialisasi di tingkat pedesaan, lembaga ini telah melakukan semacam pelatihan-pelatihan ke petugas-petugas lapangan desa (PPS dan PPK). Langkah ini dinilainya sebagai koordinasi awal antara penyelenggara dan pemilih sebelum atau menjelang pemilu dilaksanakan (Wawancara Senin 1 Juli 2015. Wayan Rajen petugas PSS dan Kepala Banjar Desa Pengodan Kabupaten Bangli).

Fakta lain yang menyatakan sosialisasi cukup bagus dan sudah jelas di mata pemilih ditandai dengan metode penyampaian, sebagaimana penilaian yang berasal dari kalangan orang tua (bapak ataupun ibu), mereka dipanggil oleh KPU Kabupaten Bangli ke desa untuk

ikut praktek memilih seperti, mencoblos, melipat dan memasukan kartu suara. KPU Kabupaten Bangli mendatangi mereka ketika mereka sedang melakukan arisan.

Demikian pula di kalangan bapak-bapak, mereka menerima metode penyampaian sosialisasi lewat rapat adat (paruman) di balai banjar. Paruman ini diadakan sebanyak dua kali, yaitu penyiaran hakikat pemilu dan bentuk pencoblosan, sehingga masyarakat bisa langsung mengetahui baik di tingkat kecamatan hingga sampai ke dusun (Wawancara, Selasa 12 Juli 2015. Wayan Sujana, Warga Desa Penatahan Kecamatan Susut).

Namun ada pula fakta yang berasal di Kecamatan Kintamani. Di daerah ini sosialisasi yang disampaikan tidak seluruhnya dapat dilakukan secara langsung oleh aparat KPU Kabupaten Bangli, akan tetapi diteruskan kepada masyarakat melalui aparat desa, seperti desa pakraman dan banjar dinas. Aparat inilah yang memberikan penjelasan tentang bagaimana pelaksanaan pemilihan umum tersebut, baik pemilihan umum kepala daerah maupun pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden di tahun 2014. Sosialisasi yang dilakukan aparat desa setelah mendapatkan pengarahan dari KPU itu meliputi tentang tata cara pemilihan, partai yang ikut dalam pemilu serta calon presiden yang akan berkompetisi di pemilu (Wawancara Rabu 8 Juli 2015, I Nyoman Karang, Nyoman Bilawan, Dewa Gde Adiputra, Ketut Rimpin, Warga Kintamani).

Pengakuan lain yang menguatkan pernyataan diatas, bahwa KPU Kabupaten Bangli telah melakukan sosialisasi terkait dengan pelaksanaan pemilu yang sesuai dengan jadwal.

Pernyataan tersebut berasal dari salah seorang kepala dusun yang juga PPS dan PPK. Dia menyatakan bahwa sebelum mereka memperbaiki data, KPU Kabupaten Bangli telah mengirimkan data valid sementara kepada mereka baru kemudian mereka melakukan pengecekan. Pengiriman data satu bulan sebelum pengesahan data valid disahkan, cara seperti ini mereka anggap sebagai cara KPU Kabupaten Bangli memberikan waktu kepada mereka leluasa untuk memperbaiki data.

Demikian pula dengan sosialisasi tahapan pemilu. Menurutnya peran KPU Kabupaten Bangli dalam sosialisasi tahapan pemilukada (tahapan pemilu, pendaftaran calon, penetapan calon, kampanye, masa tenang, pemungutan dan penghitungan suara, rekapitulasi penetapan calon terpilih, penyelesaian sengketa, pengusulan pengangkatan calon) sudah berjalan baik. Di antara sekian tahapan diatas, tahapan penetapan dan kampanye menjadi pusat perhatian dan evaluasi masyarakat. Dua tahapan ini menurut sebagian besar narasumber penelitian, KPU Kabupaten Bangli telah melakukan upaya sosialisasi dengan maksimal, karena selama proses pelaksanaan kedua tahapan itu di masyarakat tidak merasakan

terjadinya kericuhan atau kekacauan (Wawancara Sabtu, 11 Juli 2015, I Wayan Rajen Kepala Banjar Padpahan Desa pengodan, Kecamatan Bangli).

Namun ada pula pemilih yang memiliki pendapat lain terhadap sosialisasi yang dilaksanakan oleh pihak KPU Kabupaten Bangli. Mereka menilai KPU Kabupaten Bangli belum sepenuhnya melakukan sosialisasi karena lembaga tersebut belum melakukan sosialisasi sampai ke tingkat dusun terutama persiapan dalam rangka pemilihan kepala daerah mendatang. Sosialisasi hanya sebatas pemasangan spanduk dan baliho, tentang pemilukada serentak.

Bahkan terdapat pengakuan lain dari narasumber penelitian yang menyatakan bahwa sosialisasi justru banyak dijalankan sendiri oleh para calon. Pernyataan ini didasari pengalaman beberapa warga selama pelaksanaan pemilu legislatif 2014. Mereka melihat bahwa para calon mendatangi mereka saat selesai persembahyangan di Pura. Pemahaman kami sosialisasi dari para calon dilakukan saat usai persembahyangan di Pura. Memang yang datang adalah para bapak-bapak. Kalangan istri perbekel hanya diundang satu kali ke kantor bupati. Pada kegiatan tersebut kami diberikan sosialisasi cara untuk memilih yang benar (Wawancara, Senin 20 Juli 2015, Ni Wayan Suniasih, warga desa Tembuku Kecamatan Tembuku).

Pendapat narasumber lain yang kontradiktif dengan pernyataan diatas, justru berasal dari pedagang yang berjualan di Pasar Umum Daerah Kabupaten Bangli. Menurut dia, sosialisasi yang dilakukan oleh KPU tidak pernah sampai ke mereka. Dirinya lebih mengerti dan memahami sosialisasi berasal dari televisi dari pada pemasangan spanduk dan baliho.

Tidak ada upaya KPU Kabupaten Bangli yang masuk ke pedagang-pedagang pasar.

Mereka justru mendapatkan informasi pelaksanaan pemilu berasal dari pecalang yang datang ke pasar dan membagi-bagikan uang. Pecalang mendatangi mereka memberi tahu informasi mengenai pelaksanaan pemilu sambil membagi-bagikan uang atau stiker dari calon-calon tertentu (Wawancara Senin 11 Juli 2015. Samroni, pedagang pasar Kabupaten Bangli).

Pernyataan yang sama sebagaimana dikatakan oleh seorang penyandang disabilitas Kabupaten Bangli. Baginya justru mendapatkan sosialisasi dari media televisi dan radio.

Menurutnya penyelenggara tidak berpihak kepada penyandang disabilitas dalam pemungutan suara seperti kertas suara dengan huruf braile, atau bilik suara khusus. Pada saat pemilihan dirinya lebih memilih diantar anaknya termasuk dicobloskan dan ikut masuk ke bilik suara, (Wawancara Senin 11Juli 2015. Wayan Suhartika, penyandang disabilitas Desa Temuku).

Variabel lain yang menjadi pusat perhatian masyarakat dalam sosialisasi terkait dengan model penyampaian sosialisasi yang paling efektif kepada masyarakat. Sebagian

besar pemilih menyampaikan pendapatnya bahwa media penyampaian sosialisasi pemilu yang paling mereka sukai adalah melalui spanduk, baliho, atau stiker.

Alasannya karena media spanduk, baliho dan lain-lain yang dipasang di tempat-tempat strategis lebih muda dipahami dan lebih lama dibandingkan dengan penyampaian melalui televisi. Model penyampaian seperti itu menurut mereka mudah mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh KPU Kabupaten Bangli dalam sosialisasi pemilihan umum (Wawancara Senin 11 Juli 2015. I Wayan Rata Warga Desa Demulih Kecamatan Susut).

Namun ada pula yang paling dikehendaki oleh warga yaitu model penyampaian lewat hiburan tradisional misalnya bondres dan gerak jalan sehat dimana didalamnya ada unsur hiburan dan door prize atau undian sehingga gebyarnya terasa di masyarakat. Langkah ini bisa melibatkan massa dengan cukup besar sehingga target sosialisasi bisa sampai, (Wawancara, Sabtu 11 Juli 2005, Nengah Pasti dan Nengah Dharma warga kecamatan Bangli).

Pilihan lain dalam model penyampaian sosialisasi agar tepat sasaran adalah dengan mengadakan sosialisasi lewat panggung hiburan dengan menampilkan wayang. Alasannya, wayang lebih menarik perhatian banyak orang karena sebagian besar warga merupakan masyarakat petani yang berusia tua dan minim pendidikan, sehingga sosialisasi melalui media tontonan wayang ini dianggap efektif (Wawancara Selasa 12 Juli 2015. Putu Windu Eka Suryantini dan Sang Kompyang Mangku, warga Desa Taman Kecamatan Bangli).

Dari segi sosialisasi atau penyampaian informasi saat perhelatan pemilu legislatif tahun 2014 lalu dianggap sebagian besar narasumber penelitian ini tidak begitu banyak persoalan. Hanya saja dari segi teknis pelaksanaan justru tidak pernah sepi dari persoalan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

4.1.1. Data Pemilih

Persoalan klasik yang selalu dihadapi penyelenggara pemilu dalam setiap kali pelaksanaan pemilu adalah persoalan data pemilih tetap atau DPT. Persoalannya KPU Kabupaten Bangli tidak mampu menyiapkan data pemilih yang akurat. Data pemilih justru menjadi persoalan yang tidak dapat diselesaikan dari ke pemilu ke pemilu. Sejumlah persoalan tersebut misalnya, munculnya peserta pemilu ganda (misalnya pemilih dengan alamat dan tanggal lahir sama, tetapi mempunyai dua sampai lima nomor induk (NIK) juga adanya pemilih yang diduga fiktif.

Persoalan ini selalu menjadi sumber persoalan yang seringkali dipersoalkan oleh peserta pemilu (Parpol) karena dianggap sebagai pintu masuk pihak tertentu untuk melakukan

kejahatan dalam pemilu. Kekhawatiran seperti ini seringkali muncul dari penyelenggara di daerah karena daerah dianggap tidak mampu bekerja sesuai prosedur penetapan daftar pemilih di daerahnya masing-masing. Beberapa problem tersebut diantaranya fasilitas tahapan penentuan DPT yang tidak tepat waktu. Ketidaktepatan waktu bisa terjadi karena anggaran yang terlambat, juga bisa pula faktor alam. Jika itu terjadi, maka kemungkinan besar data-data tidak bisa terkirim.

Fakta tersebut ternyata dihadapi pula oleh KPU Kabupaten Bangli. Menurut beberapa narasumber penelitian, masih ada sejumlah persoalan terkait data pemilih. Persoalannya pada pemutakhiran data pemilih seperti persoalan nama, daftar nama ganda daftar pemilih meninggal, masih mewarnai usaha KPU Kabupaten Bangli mengatasi persoalan data pemilih.

Bahkan masih terkait persoalan data pemilih bagi orang yang sudah meninggal menurut pengakuan salah seorang perbekel merupakan persoalan yang sulit diatasi, karena selalu muncul dalam data based KPU Kabupaten Bangli dan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan walaupun sudah beberapa kali dilakukan pemutakhiran data. Kendala pemutakhiran data pemilih datang dari daftar pemilih yang sudah meninggal selalu muncul kembali dalam data KPU dan catatan sipil, padahal kami sudah melakukan validasi data (Wawancara dengan Perbekel Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Senin 20 Juli 2015). Hal tersebut dikuatkan dengan pengakuan sumber lain, yang mengatakan persoalan data pemilih untuk orang meninggal selalu tidak tuntas, bahkan orang yang sudah pindah pun menjadi bagian dari persoalan ini. Bahkan orang yang sudah pindah domisili pun, ternyata tetap muncul kembali pada saat pengesahan daftar pemilih tetap.

Berikut dibawah ini adalah contoh gambar pemutakhiran data pemilih yang diperlihatkan oleh Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) kepada peneliti. Gambar diambil pada waktu peneliti melakukan wawancara di rumahnya.

Gambar 2.

Contoh Kartu Pemutakhiran Data Pemilih

Sementara itu, terdapat pula form A3-KWK.KPU yang sering dikeluhkan oleh petugas-petugas diatas terkait data pemilih yang meninggal maupun yang pindah domisili. Hal ini seperti yang tampak pada foto di bawah ini.

Gambar 3.

Gambar coretan daftar pemilih yang sudah tidak terdaftar dalam pemutakhiran data pemilih.

Memang diakui bahwa persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) masih tidak sinkron. Seringkali kami sudah mencoret data penduduk yang pindah atau meninggal ternyata masih muncul kembali. Kami tidak tahu bagaimana proses yang berjalan

sehingga data seperti ini (Wawancara dengan Ketua KPPS Dusun Antugan, Desa Jehem Kecamatan Tembuku, senin 20 Juli 2015).

Bahkan ada salah satu petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) dibuat kesal dengan persoalan pemutahiran data pemilih. Mereka seolah tidak dihargai hasil kerja selama mereka melakukan pendataan di lapangan. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik, menurut narasumber ini berpotensi pada munculnya kecurangan.

Mengenai pemutakhiran data pemilih diakui sudah ada PPS dan PPDS.

Kendalanya kami seringkali dibuat kesal. Kami yang ada di desa sudah pontang-panting mendata penduduk satu per satu termasuk yang meninggal atau pindah tempat. Namun saat data disetor, nama-nama yang sudah meninggal atau dicoret ternyata ditampilkan kembali. Kami menjadi kesan seolah tidak ada penghargaan kerja kerasa kami di lapangan. Seolah kami para kelian tidak ada kerjaannya. Padahal kami mendata satu persatu. Ini apabila tidak diantisipasi maka akan berpotensi adanya kecurangan, (Wawancara, Selasa 12 Juli 2014. Sang Kompyang Mangku, Guru Warga Desa Taman Kecamatan Bangli).

Namun ada pula narasumber penelitian yang mengapresiasi kinerja KPU Kabupaten Bangli dalam hal pemutakhiran data pemilih. Menurutnya KPU Kabupaten Bangli menetapkan data pemilih sudah dilakukan sesuai dengan prosedur pemutakhiran, karena sebelum data valid diumumkan terlebih dahulu telah ada beberapa petugas yang berusaha melakukan pemutakhiran data dengan masuk ke rumah-rumah.

Pada pendataan pemutakhiran data pemilih memang sekarang sudah ada PPDP yang diangkat dari PPS atau PPK. PPDP ini selanjutnya mengadakan pendataan dan kemudian memasang sticker pada setiap rumah yang sudah di data. Data inilah yang kemudian di-update menjadi data pemilih yang mutakhir, (Wawancara, Senin 11 Juli 2015, Nengah Pasti dan Nengah Dharma warga Kecamatan Bangli).

Pemutakhiran data pemilih sudah bisa terjamin karena ada peran dari PPDP yang datang dari PPS. PPDP ini yang akan melakukan cross check data pemilih langsung ke rumah-rumah warga termasuk para kelian (Wawancara Selasa 12 Juli 2015, Anak Agung Ketut Anggradiguna Perbekel Desa Susut Kecamatan Susut). Ketidakberesan DPT menjadi tanggungjawab penyelenggara pemilu menyelesaikan masalah tersebut.

Keterbukaan KPU untuk terus memperbaiki DPT, termasuk membuka DPT adalah bentuk keinginan KPU melibatkan partisipasi publik. Munculnya masalah DPT bisa jadi disebabkan oleh KPU sendiri karena ada pandangan praktis penyelenggara untuk

memasukan semua data pemilih wilayah terkait, karena mereka berpikir yang terpenting memasukan semua daftar pemilih dulu baru dilakukan verifikasi.

Hanya saja persoalan muncul justru dari Panitia Pendaftar Pemilih (pantarlih) terutama yang terjadi di sejumlah daerah yang tidak bekerja maksimal. Tidak sedikit pula KPU Kabupaten maupun Kota yang hanya sekedar mencocokan data diatas kertas, padahal, daftar pemilih seharusnya merupakan data sesungguhnya yang merupakan hasil pemutakhiran riil di masyarakat.

4.1.2. Pendistribusian Logistik

Menjelang pemilu dilaksanakan seringkali publik mengkhawatirkan ketidakmampuan penyelenggara mempersiapkan kelengkapan pemilihan umum berupa pendistribusian alat-alat logistik menjelang pemilu. Publik lebih sering pesimis dengan kemampuan KPU dapat mendistribusikan logistik pemilu yang sesuai jadwal karena terkait dengan beberapa kendala alam yang sering dihadapi penyelenggara yang mengakibatkan tertundanya pelaksanaan pemilu.

Permasalahan lain menyangkut pendistribusian surat suara. Pengalaman pemilu 2014 persiapan pengadaan logistik khususnya surat, biasanya KPU melakukan tender pengadaan logistik Pemilu 2014 yang dilakukan secara terdesentralisasi ke KPU Kabupaten dan Provinsi. Desentralisasi tender pengadaan logistik dilakukan untuk meminimalisasi penyimpangan dan memudahkan pengontrolan, efisiensi, dan efektifitas.

Namun kenyataannya sering terjadi persoalan distribusi yang menyebabkan surat suara tertukar. Pihak KPU sendiri mencatat sedikitnya 770 TPS yang tersebar di 107 kabupaten/kota di 30 provinsi harus menggelar pemungutan suara ulang karena surat suara pada pemilihan anggota legislatif tertukar. Sebagian dari 770 TPS itu telah menggelar pemilu ulang (Kompas.com, 15/4/14).

Ternyata berdasarkan keterangan para narasumber penelitian, kondisi ini tidak terjadi di Kabupaten Bangli. Pendapat pemilih terkait pendistribusin alat-alat logistik pemilu seperti kotak suara, kertas suara, kertas dan tinta selama pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden tahun 2014 dianggap sudah tidak ada masalah. Jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya pendistribusian logistik pemilu 2014 sudah ada kemajuan. Pendistribusian logistik dibandingkan dengan pemilu tahun 2009 pemilu tahun 2014 sudah ada kemajuan (wawancara, Senin 27 Juli 2015 Nyoman Basma, Komang Charles, Madya Yani, Nyoman Gede, anggota DPRD Kabupaten Bangli).

Pendapat tersebut dibuktikan dengan pendistribusian logistik pemilu di tingkat desa yang dianggap sudah berjalan baik. Kalau di daerah saya belum pernah terjadi apa-apa, terkait kinerja KPU Kabupaten Bangli dalam pendistribusian logistik. KPU Kabupaten Bangli sudah melaksanakanan tugasnya dengan baik (Wawancara Senin 11Juli 2015 I Wayan Rata Warga Desa Demulih Kec. Susut, Bangli). Demikian pula yang terjadi di Desa Jehem pendistribusian logistik, semua berjalan aman dan tidak ada lagi hambatan (Wawancara senin 20 Juli 2015. Made Rencana Perbekel Desa Jehem Kecamatan Tembuku).

Kinerja KPU dalam distribus logistik pemilu 2014 sudah sangat baik dan berjalan lancar. Menurut salah seorang informan karena KPU Kabupaten Bangli sudah dipersiapkan alat-alat logistik pemilu sehari sebelum pencoblosan (H-1). Selain itu KPU sudah mempersipkan tenaga-tenaga yang cukup kompoten dibidangnya, (Wawancara Wayan Suniasih, Senin 20 Juli 2014).

Terkait distribusi logistik pemilu yang cukup baik ini, diakui pula seorang narasumber penelitian. Persiapan KPU Kabupaten Bangli mengenai pendistribusian logistik pemilu cukup matang. Hal ini dinilai dari peran KPU Kabupaten Bangli untuk mengecek dengan membuka terlebih dahulu dan dilakukan cross check oleh masing-masing petugas PPS, dan kalau selesai digembok kembali dan didrop di masing-masing-masing-masing desa. Hal ini tujuannya adalah untuk mengecek agar tidak terjadi kerusakan atau kekurangan logistik yang bisa menghambat proses pemilihan (Wawancara, Senin 11 juli 2015. Nengah Dharma Warga Kelurahan Kawan, Kecamatan Bangli).

4.2. Perilaku Memilih dan Politik Uang

Antara perilaku memilih dan tingkat partisipasi memilih seseorang dalam pemilihan umum memiliki hubungan yang sangat erat. Oleh karena itu, salah satu indikator dari tingginya perilaku memilih warga dapat diukur dari tingginya tingkat partisipasi politik pada saat pemilihan umum diselenggarakan.

Antara perilaku memilih dan tingkat partisipasi memilih seseorang dalam pemilihan umum memiliki hubungan yang sangat erat. Oleh karena itu, salah satu indikator dari tingginya perilaku memilih warga dapat diukur dari tingginya tingkat partisipasi politik pada saat pemilihan umum diselenggarakan.

Dalam dokumen LAPORAN HASIL PENELITIAN (Halaman 19-0)

Dokumen terkait