Berisi tentang analisis deskriptif, pengujian hipotesis, dan pembahasan.
Bab V Penutup:
Berisi tentang kesimpulan, saran, daftar rujukan, lampiran-lampiran, dan riwayat hidup penulis.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Toleransi Antar Umat Beragama
1. Toleransi menuju kerukunan
Dalam percakapan sehari-hari seolah-olah tidak ada perbedaan antara toleransi dengan kerukunan. Antara kedua kata ini, terdapat perbedaan, namun saling membutuhkan. Kerukunan mempertemukan unsur-unsur yang berbeda, sedang toleransi merupakan sikap dari kerukunan. Tanpa kerukunan, toleransi tidak pernah ada, sedangkan toleransi tidak pernah tercermin bila kerukunan belum terwujud.
Istilah toleransi (Said Agil Husin Al-Munawar, 2003: 13)
berasal dari bahasa Inggris, yaitu: “tolerance” berarti sikap
membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Bahasa Arab menterjemahkan dengan “tasamuh”, berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.
Toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama, yang didasarkan kepada: setiap agama menjadi tanggung jawab pemeluk agama itu sendiri dan mempunyai bentuk ibadah dengan sistem dan cara tersendiri yang menjadi tanggung jawab pemeluknya, maka toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama bukanlah toleransi dalam masalah-masalah keagamaan, melainkan perwujudan sikap keberagamaan pemeluk suatu agama dalam pergaulan antara
orang yang tidak seagama, dalam masalah-masalah kemasyarakatan atau kemaslahatan umum.
Dalam mewujudkan kemaslahatan umum, agama telah menggariskan dua pola dasar hubungan yang harus dilaksanakan oleh pemeluknya, yaitu: hubungan secara vertikal dan hubungan secara horizontal. Yang pertama adalah hubungan pribadi dengan Khaliknya yang direalisasikan dalam bentuk ibadah sebagaimana telah digariskan oleh setiap agama. Hubungan ini dilaksanakan secara individual, tetapi lebih diutamakan secara kolektif atau berjama’ah (shalat dalam agama Islam). Hubungan kedua adalah hubungan antara manusia dengan sesamanya. Pada hubungan ini tidak hanya terbatas pada linkungan suatu agama saja, tetapi juga berlaku untuk orang yang tidak seagama,
yaitu dalam bentuk kerjasama dalam masalah-masalah
kemasyarakatan. Dalam hal inilah berlaku toleransi dalam pergaulan hidup antara umat beragama. Perwujudan toleransi seperti ini walaupun tidak berbentuk ibadah, namun bernilai ibadah, karena; kecuali melakukan suruhan agamanya, juga bila pergaulan antara umat beragama berlangsung dengan baik, berarti tiap umat beragama telah memelihara eksistensi agama masing-masing.
Ibadah dalam pengertian luas tidak hanya sebatas hubungan antara manusia dengan Khaliknya, juga meliputi segala ucapan, perbuatan dan tindakan yang bernilai baik, seperti membangun masyarakat dan bangsa, membela negara, termasuk membicarakan
masalah Internasional sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang tergabung dalam PBB. Hal seperti ini termasuk toleransi antar umat beragama.
Di Indonesia, kehidupan beragama berkembang dengan subur. Pelaksanaan upacara-upacara keagamaan baik dalam bentuk ibadah maupun dalam bentuk peringatan tidak hanya terbatas rumah-rumah atau tempat-tempat resmi masing-masing agama, tapi juga pada tempat lain seperti di kantor-kantor dan di sekolah-sekolah. Di sini berlaku toleransi, yaitu berupa fasilitas atau izin mempergunakan tempat dari atasan (beragama lain) yang bersangkutan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi menyiapkan generasi penerus. Dalam menanamkan dan membina sikap toleransi antara sesama murid, terutama yang tidak seagama hanya sebatas membantu menyiapkan sarana yang diperlukan untuk upacara yang dimaksud, dan bukan ikut menghadiri atau melaksanakan upacara agama tertentu.
Dengan memegang prinsip bahwa; ajaran setiap agama; sikap toleransi merupakan ciri kepribadian bangsa Indonesia; dorongan hasrat kolektif untuk bersatu; situasi Indonesia sedang dalam era pembangunan maka toleransi yang dimaksud dalam pergaulan antar umat beragamabukanlah toleransi yang statis yang pasif, melainkan toleransi dinamis yang aktif. Toleransi statis adalah toleransi dingin tidak melahirkan kerjasama. Bila pergaulan antara umat beragama
hanya dalam bentuk statis, maka kerukunan antar umat beragama hanya dalam bentuk teoritis. Kerukunan teoritis melahirkan toleransi semu. Toleransi dinamis adalah toleransi aktif melahirkan kerjasama untuk tujuan bersama, sehingga kerukunan antar umat beragama bukan hanya dalam bentuk teoritis, tetapi sebagai refleksi dari kebersamaan umat beragama sebagai satu bangsa.
Agama tidak pernah berhenti dalam mengatur tata kehidupan manusia karena itu kerukunan dan toleransi antara umat beragama: bukan sekedar hidup berdampingan yang pasif saja, akan tetapi lebih dari itu; untuk berbuat baik, dan berlaku adil antara satu sama lain. Bagi umat Islam dan agama lainnya seyogianya perbedaan agama jangan sampai menghalangi untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap masuia tanpa diskriminasi agama dan kepercayaan. Bagi umat Islam yang menimbulkan batas pemisah dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara dan antar negara, bukan perbedaan keyakinan agama atau perbedaan warna kulit, tetapi kadar ketaqwaan dan pengamalan ajaran agama yang diyakini.
Toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama berpangkal dari penghayatan ajaran agama masing-masing. Bila toleransi dalam pergaulan hidup ditinggalkan, berarti kebenaran ajaran agama tidak dimanfaatkan sehingga pergaulan dipengaruhi saling curiga mencurigai dan saling berprasangka.
Perwujudan toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama direalisasikan dengan cara (Said Agil Husin Al-Munawar, 2003: 16), pertama, setiap penganut agama mengakui eksistensi agama-agama lain dan menghormati segala hak asasi penganutnya. Kedua, dalam pergaulan bermasyarakat, setiap golongan umat beragama menampakkan sikap saling mengerti, menghormati dan menghargai.
Kerukunan hidup umat beragama adalah sangat penting. Dari pelajaran sejarah di sepanjang pertemuan antar umat beragama dan antar bangsa di berbagai belahan dunia , betapa konflik, perang agama dan etnis telah mengakibatkan korban yang paling dahsyat bagi umat manusia. Oleh karena itu, panggilan agama-agama dapat berperan untuk mewujudkan kebenaran, keadilan, persaudaraan sejati dan damai sejahtera, sehingga kehadiran agama bukan menjadi masalah melainkan solusi banyak masalah. Sebenarnya kerukunan ini adalah dambaan setiap orang. Karena dengan rukun tidak ada ketegangan kita dapat hidup tenang, damai mendidik anak, membangun masyarakat dan negara dengan baik. Maka jikalau kehadiran agama hanya selalu memunculkan ketakutan dan kekacauan serta kerusakan, agama-agama itu akan ditinggalkan oleh pemeluknya. Sebab ternyata tidak menjadi berkat, melainkan menjadi laknat bagi manusia (M. Zainuddin, 2010: 191).
2. Menumbuhkan sikap toleransi
Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari kehidupan yang saling berinteraksi untuk mewujudkan segala sesuatu yang dicita-citakan. Untuk mewujudkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan tersebut tidak mungkin dikerjakan setiap pribadi semata, melainkan harus adanya peran serta lingkungan. Selain itu, manusia adalah komunitas individu yang harus menghargai individu lainnya, agar tercipta sebuah kerukunan dan kehidupan yang terbuka.
Tumbuhnya sikap toleransi menjadi simbol yang sangat kuat untuk mencerminkan masyarakat yang pluralistik, dan menjadikan pluralisme mengakar dalam diri mereka. Kebersamaan dalam perbedaan sudah menjadi kata kunci masyarakat. Mereka yakin perbedaan tidak akan hilang, akan tetapi jika perbedaan tersebut tidak dijadikan segalanya maka tidak mungkin menyebabkan perpecahan.
Bagaimana sikap orang-orang Muslim atau agama lain bersandingan dalam satu pola kehidupan, yang harus melakukan interaksi setiap saat karena mereka bertetangga dan selalu membutuhkan pertolongan. Begitu juga halnya dengan umat Kristiani, mereka benar-benar tidak bisa terlepas dari proses interaksi tersebut.
Penumbuhan sikap toleransi dalam masyarakat umumnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Hal ini dapat dilakukan baik lewat sarana formal maupun informal. Salah satu wilayah formal yang mempunyai peran yang sangat besar dalam menumbuhkan kesadaran
dan sikap toleransi dalam diri setiap orang adalah lewat pendidikan. Pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah (SMP-SMA), maupun Universitas atau Perguruan-perguruan Tinggi, diharapkan memberi penekanan tentang perlunya mempunyai sikap saling menghormati dan toleransi dalam lingkungan pendidikan maupun masyarakat. Kesadaran tentang pentingnya toleransi yang sudah tumbuh dalam lingkungan pendidikan ini menjadi penting ketika anak-anak didik tersebut terjun langsung dalam masyarakat. Inilah peran penting lembaga pendidikan yang diperlukan.
Wilayah lain yang juga sangat potensial untuk menumbuhkan kesadaran dan sikap toleransi ini adalah keluarga. Keluarga, sebagai wilayah pendidikan informal, sangat membantu para anggotanya dalam memunculkan sikap toleransi. Hal ini sangat penting karena dalam keluargalah seorang individu pertama kali berinteraksi. Jika dalam keluarga sendiri sudah ditekankan tentang pentingnya sikap saling menghormati dan toleransi, maka kesadaran seorang individu mau tidak mau akan tumbuh sesuai dengan apa yang ada dalam keluarganya. Demikianlah pentingnya orang tua sebagai pendidik pertama dari sorang individu.
Selain itu, peran pesantren juga sangat diharapkan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif, mempunyai potensi dan peran yang sangat signifikan dalam menumbuhkan sikap dan kesadaran toleransi. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam,
banyak yang secara non-formal terdidik di pesantren. Oleh karena itu, sangatlah penting menumbuhkan budaya toleransi di lingkungan pesantren. Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan juga cukup dipercaya masyarakat, selain interaksi dan dan dialog antar penghuni pesantren juga interaksi dengan lingkungan luar. Misalnya terjadinya kerjasama dalam sebuah kegiatan keagamaan yang melibatkan agama non-Islam.
Cara lain untuk menumbuhkan sikap tersebut dalam masyarakat dan di antara pemeluk agama adalah dengan seringnya melakukan kerjasama, baik secara individual maupun kolektif. Intensitas kerjasama antar pemeluk agama ini menjadi penting karena dengan demikian akan muncul suatu kesadaran bahwa dari keberagaman agama dapat muncul suatu manfaat yang sangat besar dalam kerjasama. Sebagai contoh, rata-rata masyarakat, baik Islam, Kristen, maupun agama lainnya, bersedia jika diundang dalam acara pernikahan, gotong royong, atau lainnya yang diselenggarakan oleh pemeluk agama lain. Mereka bahkan siap memberi bantuan baik dari segi materi maupun tenaga. Dengan demikian dari seringnya kerjasama ini akan muncul sikap saling menghargai dan bertoleransi (Mukti Ali, 2006: 99).
B. Perkembangan Islam
1. Sejarah masuknya Islam di Indonesia
Kedatangan Islam abad VII sampai abad XII di beberapa daerah Asia Tenggara dapat dikatakan baru pada tahap awal pembentukan komunitas Muslim yang terutama terdiri dari para pedagang. Abad XIII sampai abad XVI, terutama dengan munculnya kerajaan bercorak Islam, merupakan kelanjutan penyebaran Islam (Abdullah, Jilid 5, 2002: 28).
Perlu ada pembentukan yang tegas antara tahap kedatangan, penyebaran dan pembentukan struktur pemerintahan atau kerajaan. Ketiga tahap tersebut memerlukan waktu dan proses panjang, tergantung pada situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapi Islam. Apabila pada gelombang pertama hanya menghasilkan komunitas Muslim yang terutama dari para pedagang Muslim dengan penyebaran Islam yang sangat terbatas, maka pada gelombang kedua sejak abad XIII, penyebaran Islam lebih mantap dan meluas karena sejak saat itu di pesisir Aceh Utara di daerah Lhokseumawe muncul kerajaan Islam yang pertama di Asia Tenggara, dikenal dengan Kerajaan Samudra Pasai. Berdirinya kerajaan Islam ini berimbas pada kelancaran perdagangan yang dilakukan orang-orang Islam dari Arab, Persia, Irak dan India Selatan. Hal ini juga berpengaruh pada kedekatan hubungan Kerajaan Samudra Pasai dengan Semenanjung Malaka, yang kemudian menyebabkan raja Malaka memeluk Islam.
Pada abad XIV-XV, perkembangan Islam di daerah pesisir Jawa juga semekin jelas, bahkan Islam berkembang bukan hanya di Bandar, tetapi juga masuk ke pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan dan Troloyo. Pada abad XIV Kerajaan Majapahit tengah mencapai puncak kejayaannya, tetapi dengan toleran menerima para pedagang Muslim memasuki ibukotanya dan membolehkan mereka membentuk komunitasnya sendiri. Para pedagang tersebut diterima oleh masyarakat dan pihak kerajaan karena sikapnya yang akomodarif, hal
ini dibuktikan dengan mengajarkan ilmu kanuragan kepada
masyarakat, sehingga menambah kekuatan keamanan Majapahit, selain itu juga sikapnya yang mudah membantu terhadap masyarakat yang terkena musibah, dengan demikian, Islam secara kultural dapat berangsur-angsur diterima oleh masyarakat lokal saat itu (Karim, 2003, IV: 45-51)
2. Faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam
Penyebaran Islam di bumi Indonesia sama sekali tidak melalui proses kekerasan atau pemaksaan. Tetapi Islam diterima oleh masyarakat Indonesia karena ajaran-ajarannya yang memihak pada pada persamaan dan keadilan, termasuk dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan lain-lain. Sebagai contoh adalah yang dialami oleh masyarakat Hindu Paria (kasta terendah) yang dipekerjakan oleh kelompok elit. Mereka hanya dikasih makan, akan tetapi tidak
memiliki kemerdekaan apapun, sehingga pada akhirnya mereka tertarik untuk memeluk Islam karena tidak membedakan kelompok.
Ajaran ketuhanan yang membingungkan mereka, benar-benar dirasakan tidak rasional, yaitu ajaran tentang Trimurti yang membagi kekuasaan Tuhan menjadi tiga; Brahma, Wisnu, dan Siwa, maka pada saat mereka mendengar ajaran Islam tentang Tauhid, mereka lebih tertarik, karena baik penciptaan ataupun pemeliharaan, dan pembinasaan berada di satu kekuasaan (Aden Wijdan SZ dkk, 2007: 48).
Masyarakat Indonesia tertarik dengan kebiasaan hidup yang baik umat Islam, yang senantiasa memelihara kebersihan, hidup
hormat-menghormati, suka tolong-menolong, hidup bermasyarakat,
menyayangi alam tumbuh-tumbuhan dan binatang, memahami makna dan arti alam sekitar, melaksanakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan pada Pencipta alam semesta, serta melakukan amal baik dan menghindari perbuatan jahat, agar mereka mendapat kebahagiaan dalam alam kehidupan yang abadi dikampung akhirat.
Faktor lain yang mempengaruhi pesatnya perkembangan Islam adalah peran para wali dalam menyebarkan Islam terutama di pulau Jawa. Para wali berkelana dari dusun ke dusun, memberikan ajaran moral keagamaan yang secara tidak langsung membantu pemeliharaan keamanan. Karena itu, mereka selalu dihormati dan dibantu oleh raja. Mereka dibantu oleh murid-muridnya yang setia tinggal di padepokan.
Tugasnya sebagai Da’i mereka harus siap menghadapi ancaman -ancaman yang mengancam jiwa dan raga. Oleh karena itu, mereka juga diajari olah kanuragan. Dengan kemampuan itu, mereka disegani olah para penyamun, perampok, serta penjahat-penjahat lainnya. Kerajaan Demak atau Mataram II membentuk ekspedisi-ekspedisi ke perbatasan untuk menangkap para penjahat, agar keamanan dapat dipelihara. Ekspedisi itu diperkuat oleh ahli-ahli agama, para murid dari wali sanga, bertindak sebagai penasehat militer yang sekarang hampir sama dengan imam tentara. Ternyata berkat gemblengan dan tempaan guru-guru mereka, mereka menjadi penasehat yang ampuh dan sekaligus sebagai pemelihara mental bala tentara sehingga ekspedisi-ekspedisi itu berhasil dengan baik. Kepercayaan masyarakat pun pada agama Islam semakin meningkat dan rakyat pun banyak yang memeluk Islam (M. Abdul karim, 2007: 327-330).
3. Hambatan dan peluang terhadap perkembangan Islam
a. Tantangan yang dihadapi
Problematika dakwah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari abad ke abad, tentu sangat variatif. Tiap-tiap masa dan era memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Karena itu, dinamika agama (Islam) di manapun ia berada sangat ditentukan oleh gerakan-gerakan dakwah yang dilakukan oleh umatnya.
Pada zaman Nabi SAW, problematika dakwah diperhadapkan pada akulturasi budaya dan kondisi masyarakat yang telah
memeluk agama selain agama Islam, bahkan berbagai perubahan sebagai akibat banyaknya ummat Islam yang hijrah ke Madinah sekaligus merubah sistem ekonomi, sosial budaya dan bahkan status sosial.
Sepeninggal Nabi SAW, problematika dakwah tetap muncul ke permukaan. Adanya sebagian umat Islam yang enggan mensosialisasikan ajaran agama, misalnya tidak mengeluarkan zakat, termasuk problematika yang tak terbantahkan. Di masa-masa berikutnya, perpecahan umat Islam ke dalam berbagai aliran yang berdampak pada renggangnya solidaritas dan ukhuwah
islāmiyah, juga merupakan problematika abadi yang dihadapi oleh
umat Islam sepanjang sejarahnya.
Untuk zaman modern ini, problematika dakwah dihadang oleh kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin mempermantap terjadinya globalisasi dalam segala bidang kehidupan.
Dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi tersebut bisa berbentuk positif, tapi juga negatif. Segi positifnya antara lain adalah mempermudah penyampaian dakwah melalui jaringan-jaringan alat komunikasi canggih (seperti, telepon, radio, televisi, internet dan lain sebagainya). Segi negatifnya antara lain semakin meningkat berbagai jenis kejahatan dan akibatnya adalah semakin terkikis sosialisasi ajaran-ajaran agama di kalangan masyarakat.
Contoh kasus; banyak di antara mereka yang terlambat melaksanakan shalat, bahkan ada yang meninggalkan shalat, karena terlena duduk berlama-lama di depan televisi atau internet dan semacamnya. Pada kasus lain, khususnya yang banyak menerpa generasi muda sekarang ini adalah terbiusnya mereka dengan obat-obat terlarang, misalnya, ganja, narkoba dan semacamnya
(http://www.artikelbagus.com/2011/04/problematika-dakwah- dalam-men-sosialisasikan-ajaran-islam-di-kalangan-generasi-muda-di-kec-paleteang-kab-pinrang.html#ixzz3MblcSPi4 di akses pada tanggal: 22 Desember 2014 pukul: 14:32 WIB).
b. Peluang terhadap perkembangan Islam
Jika kita memperhatikan potensi Islam baik dalam vitalitas, totalitas, dan universalitas Islam dibutuhkan masyarakat manusia sekarang dan masa mendatang, kiranya ada harapan terang dalam cakrawala dunia Islam. Sistem yang dimiliki oleh Islam dapat diharapkan menjadi alternatif paling baik dari lainnya yang sudah terasa dalam kepengapan. Hal ini dapat ditambah lagi dengan letak strategis kawasan Islam mulai selat Bosporus sampai Kepulauan Indonesia dalam lintasan geo-politik yang dapat ikut mendukung peranan Islam sebagai sistem sosio-kultural yang diharapkan. Masih ditambah lagi, dengan kekayaan sumber daya alam dinegara-negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam, atau yang resmi menyebut dirinya negara Islam, yang menjadi
kebutuhan dunia, termasuk bagi negara-negara maju. Islam pada masa sekarang dan mendatang mendapatkan peluang untuk tampil sebagai agama yang dapat memberikan konsep-konsep pemecahan kemelut global dunia modern ini (Muhammad Tholchah Hasan, 2000: 1).
Di Indonesia dalam dasawarsa terakhir ini ada gejala baru yang menarik dan menggembirakan, yaitu tumbuhnya semangat dan kesadaran beragama (Islam) di kalangan:
Pertama :Masyarakat kampus.
Besarnya minat mahasiswa di kampus-kampus PTN (Perguruan Tinggi Negeri) atau PTS (Perguruan Tinggi Swasta) terlibat dalam studi tentang Islam, dalam LDK (Lembaga Dakwah Kampus) atau lain sebagainya, di samping lembaga-lembaga ke-Islaman seperti Masjid, pusat-pusat studi Islaman dan diskusi-diskusi ke-Islaman.
Kedua : Masyarakat birokrat.
Bersemangatnya para birokrat dan pejabat pemerintahan dalam menampilkan diri dengan identifikasi Muslim, sepeti adanya Tarawih keliling, BAZIS (Badan Amal, Zakat, Infaq, dan Shadaqah), MTQ (Musabaqah Tilawatil
Pemerintahan, adanya minat untuk terlibat dalam kegiatan ke-Islaman.
Ketiga :Masyarakat bisnis.
Munculnya beberapa pengusaha eksekutif muda yang trampil dengan wajah Muslim. Banyaknya kegiatan ke-Islaman di pusat-pusat industri, hotel-hotel berbintang, dan keterlibatan dalam event-event strategis yang bersifat Nasional maupun Internasional.
Fenomena-fenomena tersebut akan memberikan dampak yang baik terhadap eksistensi Islam di tengah arus globalisasi, meskipun tidak jarang mengundang kesalahpahaman dan konflik-konflik internal (Muhammad Tholchah Hasan, 2000: 230).
BAB III
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran umum lokasi penelitian
Gambaran umum diperoleh berdasarkan dari hasil wawancara kepada salah satu tokoh masyarakat yang ada di Dusun Margosari, yaitu Bapak Yuwono. Adapun hasil dari wawancara adalah sebagai berikut:
1. Keadaan geografis Dusun Margosari
Dusun Margosari terletak di Kelurahan Ngadirojo Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Jarak dengan kelurahan ± 500 m, jarak dengan kecamatan ± 6 km dan jarak dengan kabupaten ± 20 km.
a. Batas wilayah Dusun Margosari
Dusun Margosari berbatasan dengan dusun lain yaitu:
Sebelah utara : Dusun Tomo
Sebelah Selatan : Dusun Kadang
Sebelah barat : Dusun Ngadirojo
Sebelah timur : Dusun Kembang
b. Luas wilayah
Luas wilayah Dusun Margosari ± 210.000 m²
c. Monografis Dusun Margosari
Jumlah penduduk Dusun Margosari 305 jiwa terbagi dalam 2 RT.
Mata pencaharian warga masyarakat Dusun Margosari adalah wiraswasta. Berdasarkan data dari Dusun Margosari diperoleh rincian mata pencaharian sebagai berikut:
Tabel 3.1
Tabel mata pencaharian penduduk Dusun Margosari tahun 2014
No Pekerjaan Jumlah
1. Wiraswasta 90%
2. Petani 5%
3. Lain-lain 5%
2) Kondisi agama
Kondisi agama di Dusun Margosari 272 jiwa beragama Muslim sedangkan yang memeluk agama Kristen berjumlah 33 jiwa. Di Dusun Margosari toleransi berjalan dengan baik antara tetangga beda agama yang ditunjukkan dengan adanya sikap saling menghormati dan tolong menolong.
B.
Laporan hasil penelitian1. Data tentang toleransi antar umat beragama Tabel 3.2 Data tentang toleransi
No Nama responden Jawaban angket 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 12 13 14 15 1 Warsimi A A A A A A A A A A A A A A A 2 Juriyah A A A A A A A A A A A A A A A 3 Yuwono A A A A A A A A A A A A A A A 4 Patmi A B B A B B A A B A A A A A B 5 Haryono B A B A A A A A A A A A A B B 6 Sabar A A A A A A A A A A A A A B B 7 Sulistiyani A A A B A A A A A A A A A A B 8 Sriyono A A A A A A A A A A A A A A A 9 Wartiyah A A A B A B A A A A A A A B B 10 Suyadi A A A B A B A A A A A A B A B 11 Widodo A B B B A A A A A A A A B B B 12 Pareng A B B A A A A A A A A A A A B 13 Bejo A B B A B A A A A A A A A A A 14 Suyatmi A A B A A A A A A A A A A A A 15 Suyatno A A A A A A A A A A A A A A A 16 Sugini A A A A A A A A A A A A A A A 17 Mahmud A A A A A A A A A A A A A A A 18 Riyono A A A A A A A A A A A A A A A 19 Anwari A A A A A A A A A A A A A A A 20 Sriyati A A A A A A A A A A A A A A A 21 Sriyatun A A A A A A A A A A A A A A A
22 Riwiyarti A A A A A A A A A A A A A A A 23 Yudi A A A A A A A A A A A A A A A 24 Nanto A A A A A A A A A A A A A A A 25 H. Huda A A A A A A A C A A A A A A A 26 P. Juman A A A A A A A C A A A A A A A 27 Rafa A. A A A A A A A A A B A A A A C 28 Wakimin A A A A A A A C A B B A A B A 29 Riyadi A A A A A A A C A A A A A B A 30 Jumiati A A A A A A A C A A A A A A A 31 Salinem A A A A A A A C C B B A A B A 32 Koimatun A A A A A A A C A A A A A A A 33 Jasri A A A A A A A C A A A A A A A 34 Jumino A A A A A A A C A A A A A A A 35 Isman A A A A A A A C A A A A A A A 36 Sutiyem A A A A A A A C A A A A A A A 37 Tono A A A A A A A C A A A A A A A 38 Sriyadi A A A A A A A A A A A A A A A 39 Wahyuni A A A A A A A A A A A A A A A 40 Jumiyati A A A A A A A A A A A A A A A
Keterangan jawaban angket:
A. Ya (menandakan sikap toleransi yang baik).
B. Kadang-kadang (menandakan sikap toleransi yang kurang baik).
2. Kegiatan kemayarakatan yang ada di Dusun Margosari
Kegiatan kemasyarakatan yang ada di Dusun Margosari merupakan hasil wawancara yang diperoleh berdasarkan informasi dari Bapak Yono. Adapun kegiatannya sebagai berikut:
a. Karang Taruna
Karang taruna merupakan kegiatan remaja baik remaja putra maupun putri. Kegiatan ini dilaksanakan sebulan sekali yaitu setiap tanggal 10 pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan dirumah-rumah warga secara bergiliran. Peserta kegiatan ini bukan hanya dari kalangan remaja yang menganut Islam saja, melainkan juga dari kalangan remaja yang beragama Kristen.
b. Kerja Bakti
Kerja bakti adalah kegiatan kemasyarakatan yang dilaksanakan