BAB IV PENYAJIAN HASIL PENELITIAN
C. Analisis Data
Berdasarkan teknik analisa data yang penulis gunakan yaitu teknik deskriptif dengan persentase. Adapun cara yang digunakan jika data telah terkumpul maka diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu data yang bersifat kualitatif yakni data yang digambarkan dengan kata-kata atau data yang berbentuk kalimat, dan data yang bersifat kuantitatif yakni data yang berwujud angka-angka dalam bentuk persentase.
5 Heri Susanto, Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir, Wawancara, Tanggal 14 Mei 2012
Berikut ini penulis paparkan hasil analisis data terhadap tiga orang guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir berdasarkan penyajian data. Adapun hasil analisis tersebut adalah:
1. Data pada aspek pertama, yaitu memberikan angka atau penilaian dalam belajar. Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 10 atau 83,33% dan untuk jawaban “kadang-kadang” diperoleh sebanyak 2 kali atau 16,66% sedangkan jawaban “tidak pernah” 0 atau 0%. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengevaluasi juga telah baik. Guru berusaha untuk memberikan penilaian di setiap pertemuan, untuk meningkatkan semangat belajar siswa dikemudian hari.
2. Data pada aspek kedua, yaitu .Memberi hadiah berupa materi atas prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 0 atau 0% dan untuk jawaban “kadang-kadang” sebanyak 1 kali atau 8,33% sedangkan jawaban “tidak pernah” sebanyak 11 kali atau 91,66. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh keterbatasan guru dalam masalah dana untuk memberikan hadiah berupa materi kepada siswa, dan sekolah juga tidak menyediakan dana
khusus untuk pemberian hadiah, sebab karena itu aspek ini kurang terlaksana oleh guru.
3. Data pada aspek ketiga, yaituMemberi pujian kepada siswa dalam proses pembelajaran.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 5 kai atau 41,66% dan untuk jawaban “kadang-kadang”
sebanyak 7 kali atau 58,33% sedangkan jawaban “tidak pernah” 0 atau 0%. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh masih ada guru yang belum terbiasa memberi pujian, sangat mungkin karena anggapan mereka yang belum menempatkan pujian sebagai sesuatu yang penting dalam proses pembelajaran.
4. Data pada aspek keempat, yaitu Memberikan tugas atau latihan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 2 kali atau 16,66% dan untuk jawaban “kadang-kadang”
sebanyak 8 kali 66,66% sedangkan jawaban “tidak pernah” sebanyak 2 kali atau 16,66%. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh guru belum efektif dalam memberikan latihan dan tugas dalam proses pembelajaran.
5. Data pada aspek kelima, yaitu Memberikan atau mengembalikan hasil belajar siswa.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali
observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 1 kali atau8,33% dan jawaban “kadang-kadang” sebanyak 8 kali atau 66,66% sedangkan jawaban “tidak pernah” sebanyak 3 kali atau 25%.
Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh guru yang belum terbiasa mengembalikan pekerjaan siswa, akan tetapi sebagian guru telah melaksanakannya dengan tujuan agar siswa bisa lebih meningkatkan motivasi belajarnya.
6. Data pada aspek keenam, yaituMemberikan hukuman berupa tugas atau non fisik bagi siswa yang melanggar peraturan dalam belajar.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 3 kali atau 25% dan untuk jawaban “kadang-kadang” sebanyak 5 kali atau 41,66% sedangkan untuk jawaban “tidak pernah” sebanyak 4 kali atau 33,33. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh guru yang masih kurang dalam memahami tentang hukuman yang digunakan dalam pendidikan itu sendiri.
7. Data pada aspek ketujuh, yaituMenggunakan metode yang bervariasi.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 7 kali atau 58,33% dan untuk jawaban “kadang-kadang” sebanyak 5 atau 41,66%
sedangkan jawaban “tidak pernah” 0 atau 0%. Berdasarkan pengamatan
penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh pengetahuan guru yang sudah memahami dengan baik tentang penggunaan metode yang bervariasi dalam belajar, karena guru memahami tujuan pembelajaran tidak bisa di capai dengan baik apabila hanya menggunakan satu metode.
8. Data pada aspek kedelapan, yaituMembacakan indikator-indikator tujuan hasil pembelajaran.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 4 kali atau 33,33% dan untuk jawaban “kadang-kadang”
sebanyak 8 kali atau 66,66% sedangkan untuk jawaban “tidak pernah” 0 atau 0%. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh pengetahuan guru dalam memahami indikator pencapaian kompetensi dalam pembelajaran.
9. Data pada aspek kesembilan, yaituMenciptakan persaingan atau kompetisi antar siswa. Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 3 kali atau 25% dan jawaban “kadang-kadang” sebanyak 9 kali atau 75% sedangkan jawaban “tidak pernah” diperoleh 0 atau 0%.
Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh guru masih merasa kesulitan dalam menciptakan persaingan antar siswa, karena
faktor siswa di dalam satu kelas yang begitu banyak menghambat guru dalam memperhatikan perkembangan mereka.
10. Data pada aspek kesepuluh, yaitu tidak meninggalkan kelas ketika siswa diberi tugas.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh sebanyak 5 kali atau 41,66% dan untuk jawaban “kadang-kadang”
sebanyak 7 kali atau 58,33%. Sedangkan “tidak pernah” 0 atau 0%.
Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Guru sudah melaksanakan aspek ini dengan baik, hal ini bisa terlihat dari sikap guru yang tidak pernah meninggalkan siswa dalam belajar demi kepentingannya yang lain.
11. Data pada aspek kesebelas, yaituMenciptakan suasana yang menyenangkan.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban “selalu” diperoleh 0 atau 0% dan untuk jawaban “kadang-kadang” sebanyak 12kali atau 100%
sedangkan jawaban “tidak pernah” 0 atau 0%. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam terlihat bahwa guru belum terampil dalam menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kelas, karena masih ada sebagian guru yang tidak terbiasa menyelipkan hal-hal yang lucu dalam pembelajaran.
12. Data pada aspek keduabelas, yaitu Menghubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa.Berdasarkan hasil yang dilakukan penulis dari 12 kali observasi dapat diketahui bahwa untuk jawaban
“selalu” diperoleh sebanyak 3 kali atau 25% dan untuk jawaban “kadang-kadang” sebanyak 9 kali atau 75% sedangkan jawaban “tidak pernah” 0 atau 0%. Berdasarkan pengamatan penulis selama observasi maupun wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam. Aspek ini dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran dan menghubungkannya dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi guru dalam membangkitkan motivasi ekstrinsik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islamadalah sebagai berikut:
1. Tingkat pendidikan guru
UU No. 14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan hasil kajian yang penulis temukan, ternyata pada umumnya guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir telah berpendidikan tingkat serjana keguruan.
Adapun hasil wawancara penulis dengan 3 orang guru Pendidikan Agama Islam di SMA N 2 Tapung Hilir yang mengatakan bahwa, Tupon merupakan alumni S1 Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan melanjutkan A4 di UIN Suska Riau Pekanbaru.6 Selanjutnya Muhammad Harir merupakan alumni S1 Kimia Universitas Islam Negeri
6Tupon, Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir, Wawancara, Tanggal 10 Mei 2012
Sunan Kalijaga Yogyakarta.7 Dan Heri Susanto merupakan alumni dari S1 Pendidikan Agama Islam di UISU.8
2. Faktor sarana dan prasarana
Pada umumnya sarana dan prasarana di SMA N 2 Tapung Hilir masih tergolong kurang. Di Sekolah ini belum terdapat Perpustakaan dan persediaan buku-buku penunjang yang sulit didapat oleh siswa.
3. Faktor organisasi kelas
Faktor organisasi kelas juga sangat mempengaruhi guru dalam membangkitkan motivasi ekstrinsik siswa dalam belajar. Di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir jumlah murid dalam satu kelas ada mencapai 40 orang. Hal ini sangat mempengaruhi guru dalam membangkitkan motivasi pada peserta didik di dalam kelas.
Dengan demikian dari hasil rekapitulasi akhir yang diperoleh untuk mengetahui kompetensi guru dalam membangkitkan motivasi ekstrinsik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir adalah:
Selalu sebanyak 43 x 3 = 129
Kadang-kadang sebanyak 81 x 2 = 162 Tidak Pernah sebanyak 20 x 1 = 20 +
144 = 311
Untuk N = (jumlah item x jumlah skor x jumlah observasi x jumlah guru)
7Muhammad Harir, Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir, Wawancara, Tanggal 09 Mei 2012
8 Heri Susanto, Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir, Wawancara,Tanggal 19 Mei 2012
N = 12 x 3 x 4 x 3 = 432 Dari hasil di atas diperoleh:
Dari hasil N di atas selanjutnya penulis akan mencari persentase dengan menggunakan rumus:
P = x 100 %
= x 100
= 71,99%
Dari hasil di atas menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam membangkitkan motivasi ekstrinsik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir di kategorikan
“cukup”. Hal ini diketahui dari persentase yang diperoleh diatas yaitu71,99%karena berada pada rentang 60-75%.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara yang telah penulis lakukan, setelah dianalisa dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru dalam membangkitkan motivasi ekstrinsik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islamdikategorikan “Cukup”. Hal ini dapat diketahui dari persentase yang di dapat adalah 71,99%. Dengan demikian sesuai standar yang telah penulis tetapkan jika nilai berkisar antara 60-75% maka dikategorikan cukup. Maka kompetensi guru dalam membangkitkan motivasi ekstrinsik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tapung Hilir dikategorikan
“Cukup”.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi guru dalam membangkitkan motivasi ekstrinsik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA N 2 Tapung Hilir adalah:
1. Tingkat pendidikan guru 2. Faktor sarana dan prasarana 3. Faktor organisasi kelas
B. Saran
Berdasarkan penelitian ini maka penulis memberikan saran untuk dapat dipertimbangkan, sebagai berikut:
1
1. Untuk para guru, khususnya guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, untuk memperhatikan dan meningkatkan kompetensinya dalam membangkitkan motivasi pembelajaran agar menjadi lebih baik.
2. Diharapkan kepada para guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan pendidikannya dan menambah wawasannya dengan membaca serta melengkapi koleksi buku-buku tentang motivasi pembelajaran.
3. Diharapkan kepada para guru untuk saling berkonsultasi antara teman sejawat terutama mengenai peningkatan mutu profesi dan kepada kepala sekolah diharapkan agar dapat memberikan pembinaan dan pengarahan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan professional mereka.
4. Diharapkan kepada pihak pengelolah sekolah, agar memperhatikan sarana dan prasarana demi meningkatkan kualitas pembelajaran agar tercapainya tujuan Pendidikan yang diharapkan.
Ahmad Sabri, Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Ciputat Press, 2007
Anas Sudijono, Pengantar Statistik pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2010 Aunurrahman, Belajar Dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2009
Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2009 E.Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung: Remaja Rosdakarya,2005 Hidayat Syah, Metodologi Penelitian pendidikan, Pekanbaru: Suska Pers,2007 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta: Bumi Aksara, 2011 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005
Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2011 _____________, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta:
Bumi Aksara, 2009
Ramayulis, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2010 Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru,
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011
Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar-Mengajar, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2002
_______________, Prosedur Penelitian(Suatu Pendekatan Praktik), Jakarta:
Rineka Cipta, 2006
Syafruddin, Efektifitas Kebijakan Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008
Syaiful Bahri Djamarah, Azwan Zain, Sterategi Belajar Mengajar, Jakarta:
Rineka Cipta, 2006
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 2005
___________, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2010
___________, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2007
Zakiyah Darajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2002