BAB III. PENUTUP 11 DAFTAR PUSTAKA
B. Analisis data Sejarah
Ada dua faktor penting yang menyebabkan masyarkaat Islam mudah berkembang di Aceh, yaitu:
a. Letaknya yang strategis dalam hubungannya dengan jalur Timur Tengah dan Tiongkok
b. Pengaruh Hindu-Budha dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang tidak begitu berakar kuat di
kalangan rakyat Aceh, karena jarak antara Palembang dan Aceh cukup jauh.
Keterangan Ibu Batutah dapat ditarik kepada sistem pendidikan yang berlaku di zaman Kerajaan Pase sebagai berikut:
a. Materi pendidikan dan epngajarna agmaa bidang syari’at ialah Fiqih Mazhab Syafi’i
b. Sistem pendidikannya secar ainformal berupa majlis taklim dan halaqah
c. Tokoh pemerintahan merangkap sebagia tokoh ulama
d. Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.
Perlak merupakan daerah yang telretak sangat strategi sdi Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hidun. Berdasarkan faktor demikian maka Islam dengan mudah sekali bertapak di Perlak tanpa kegoncangan sosial dengan penduduk Pribumi. Di Perlak terdapat suatu lemabga pendidikan lainnya berupa majlis taklim tinggi, yang dihadairi khusus oleh para muri yang sudah alim dan mendalam ilmunya. Pada majlis ta’lim ini diajarkan kitab-kitab agama yang punya bobot dan pengetahuan tinggi, seperti kitan Al Um karangan imam Syafi’i dan sebagainya.
Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahaun dengan sarjana-sarjananya yang tekrnal di dalam dan di luar negeri, sehingga banyaklah orang luar yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu. Bahkan ibukota Kerajaan Aceh Darussalam terus berkembang menjadi kota internasional danmenjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Dalam bidang pendidikan di Kerajaan Aceh Darussalam adalah benar-benar mendapat perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan Ilmu pengetahuan, diantaranya:
1. Balai Seutia Hukama
Merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendekiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2. Balai Seutia Ulama
Merupakan jawaban pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
3. Balai Jamaah Himpunan Ulama
Merupakan kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan-persoalan pendidikan dan ilmu kependidikannya
Jenjang pendidikan yang ada: 1. Meunasah (Madrasah)
Terdapat di setiap kampung, berfungsi bsegaai sekolah dasar 2. Rangkang
Diselenggarakan di setiap mukim, merupakan masjid sebagai tempat berbagai aktivitas umat termasuk pendidikan
3. Dayah
Terdapat disetiap daerah ulebalang dan terkadang berpusat di masjid, dapat disamakan dengan Madrasah Aliyah sekarang.
4. Dayah Teuku Cik
Dapat disamakan dengan perguruan tinggi atau akademi.
Kerajaan Islam Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa tersebut, maka penyiaran agama Islam semakin meluas, pendidikan dan pengajaran Islam pun bertambah maju.
Pelaksanaan pendidikan islam di Kerajaan Demak
Tentang sistem pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh, yaitu dengan mendirikan mesjid di tempat-tempat yuang menjadi sentral di suatu daerah, disana diajarkan pendidikan agama di abwah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam.
Pelaksanaan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam
Pada zaman Kerajaan Mataram, pendidian sudah mendapat perhatian sedemikian rupa, seolah-olah tertanam semajam kesadaran akan pendidikan pada masyarakat kala itu. Meskipun tidak ada semacam undang-undang wajib belajar, tetapi anak-anak usia sekolah tampaknya harus belajar pada tempat-tempat pengajian di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri.
Selain pelajarna Al Qur’an, jug ada tempat pengajian kitab, bagi murid-murid yang jkhatam mengaji al Qur’an. Tempat pengajiannya disebut pesantre. Para santri harus tinggal di asrama yang dinamai pondok, di dekat pesantren tersebut.
Sistem pengajian kitab agama di Pesantren Kalimantan sama dengan sistem pengajian kitab di pondok pesantren di Jawa, terutama cara-cara menerjemahkannya ke dalam bahasa daerah. Salah saorang tokoh Islam yang masuk di Kalimantan Barat ialah Syarif Abdurrahman AL Kadri dari Handramaut pada thaun 1735 M dan kawin dengan putra Dayak yang akhirnya mewarisi Kerajaan di Kalimantan Barat Pontianak.
Salah seorang pejuang Islam lain dari Kalimantan Selatan ialah pangeran Antasari lahir pada tahun 1790 M – 1862 M, cucu dari Pangeran Amir, putra Sultan Tahmidillah I. Pangeran Antasari Melawan Belanda untuk memebela Agama Islam dan tana air. Ia diberi gelar oleh rakyat sebagai Khalifah Amirul Mukminin.
Dakwah Islam di Maluku menghadapi dua tantangan, yaitu yang datang dari orang-orang yang masih animis dan dari orang Portugis yuang mengkristenkan penduduk Maluku. Sultan Sairun adalah tokoh yang paling keras melawan orang Portugis dan usaha Kristenisasi di Maluku. Tokoh missi Khatolik yang pertama di Maluku ialah Fransiscus Zaverisu tahun 1546 M. Ia berhasil mengkatolikkan sebagian dari penduduk Maluku.
Agama Islam yang telah kuat di Sulawesi Selatan itu menjalar masuk ke Kepulauan Nusa Tenggara, yaitu ke Bima (Sumbawa) dan Lombok, dibawa oleh pedagang-pedagang Bugis. Sumbawa di Kuasai Kerajaan Gowa pada tahun 1616 M.
BAB III PENUTUP
Dari beberapa penjelasan di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam pada masa kerjaan Islam di Indonesia sudah mulai menyebar luas hal tersebut dibuktikan dengan adanya tingkatan-tingkatan jenjang pendidikan yang diberikan kepada para santri- santrinya serta beberapa tempat yang dijadikan lembaga pendidikannya.
Selain itu isi pendidikan yang diberikan pada masa itu sepertihalnya disebutkan di pembahasan di atas adalah pembahasan mengenai fiqih yang bermazhabkan kepada imam as Syafi’i, begitupula kitab-kitab yang dipelajari.
Sehingga pada masa itu merupakan awal dari pendidikan Islam di Indonesia yang banyak dipelopori oleh para kerajaan-kerjaan Islam pada masa itu.