PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA
A. Islamisasi dan Metode Peng-Islaman Tanah Gowa
Mengenai kapan tepatnya masuknya Islam secara resmi di Kerajaan Gowa terdapat berbagai versi yang berkisar antara tahun 1603-1607, seperti versi pertama dikemukakan oleh beberapa Sejarawan, di antaranya Roelof Blok22[10], Raffles23[11], Couver24[12], dan
Erkelens25[13], Schrieke26[14]; serta A. Ligtvoet27[15] yang mengutip dari Lontara’ Bilang (buku
diary Kerajaan Gowa-Tallo):
Hera 1603 Hijara’sanna’ 1015 22 Satembere’, 9 Jumadele’ Awala’, malam Juma’ Namantama Islam karaenga rua sisari’battang 22 23 24 25 26 27
Artinya :
1603 Masehi 1015 Hijriah
22 September, 9 Jumadil Awal, malam Jum’at, kedua raja bersaudara memeluk agama Islam.
Pendapat yang kedua mengatakan Islam masuk di Kerajaan Gowa pada tahun 1605, hal ini dikemukakan oleh Crawfurd, Matthes yang mengambil pijakan dari Kronik Tallo28[16].
Sementara pendapat yang ketiga Islam masuk di Kerajaan Gowa nanti pada tahun 1607, dikemukakan dalam “Makasaarsche Historien”29[17].
Mengenai beberapa versi tentang awal mula tepatnya Islam masuk di Kerajaan Gowa telah berhasil dipecahkan oleh Noorduyn, dengan mengatakan bahwa sebenarnya itu hanya merupakan satu perbedaan semu, jadi haya kekhilafan saja (kesalahan penulisan), dari hasil rumusan dan analisanya serta perhitungan yang akurat yang diambil dari buku diary Kerajaan Gowa juga, maka dia berkesimpulan bahwa waktu yang tepat masuknya Islam di Kerajaan Gowa adalah hari Kamis tanggal 22 September 1605 bertepatan tanggal 9 Jumadil Awal 1014 Hijriah30[18].
Raja yang memeluk Islam pada tanggal itu ialah Raja Tallo’ yang juga menjabat Mangkubumi dalam Kerajaan Gowa, yakni I Mallingkang Daeng Manyonri’, dan bergelar Arab Sultan Abdullah Awwalul Islam. Kemudian diikuti pada saat yang bersamaan Raja Gowa I Mangnga’rangngi Daeng Manrabia juga mengucapkan syahadat dan bergelar Sultan Alauddin31[19]. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa dan Tallo’ berhasil di-Islamkan,
sebagai buktinya diadakan sholat Jum’at yang pertama kalinya di Tallo’ yakni pada tanggal 9 Nopember 1607 M (18 Rajab 1016 H). Seperti yang dikemukakan oleh Ligtvoet32[20].
28 29 30 31 32
Hera 1607 Hijara’ sanna’ 1017 9 Noembere’, 18 Ra’ja’, hari Juma’. Naunru Mammenteng jumaka ri Tallo’, uru sallanta.
Maksudnya:
1607 Masehi 1017 Hijriah
9 November, 18 Rajab, hari Jum’at, mula-mula diadakan Sholat Jum’at di Tallo’, ketika pertama-tama masuk Islam.
Sholat Jum’at pertama ini adalah merupakan suatu peristiwa yang menandakan resminya Kerajaan Gowa menjadi negeri Islam, atau boleh dikatakan resminya Kerajaan Gowa beralih dari daar al harb (wilayah kafir) dan merupakan awal wilayah Kerajaan Gowa masuk dalam bagian daar al Islam (dunia Islam)33[21].
Para Sejarawan mendapatkan kesulitan dalam meneliti motivasi yang mendorong kedua raja dari kerajaan Makassar tersebut sehingga mau menerima Islam, karena naskah-naskah yang ada tidak menerangkan secara khusus tentang hal tersebut, sehingga para sejarawan hanya bisa memperkirakannya34[22].
Peng-Islaman Raja Gowa-Tallo, juga memiliki beberapa versi35[23], baik menurut
Lontara’ bilang; Lontara Patturioloangari tu-Gowaya, Lontara Sukkukna ri Wajo, maupun dari cerita-cerita rakyat yang berkembang di Makassar.
Pertama, menurut Lontara’ Sukkukna ri Wajo36[24], bahwa usaha Islamisasi telah dimulai sejak tibanya orang Melayu di Gowa, lewat seorang ulama’ yang bernama Anahkoda Bonang untuk berdagang dan menyiarkan agama Islam. Namun karena ia tidak memahami dengan baik budaya masyarakat setempat, maka ia gagal meng-Islamkan Raja Gowa, karena yang ia sampaikan hanya larangan-larangan yang menakutkan. Selanjutnya kira-kira pada awal abad XVII tibalah di Gowa tiga orang alim ulama yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau. Mereka konon diutus oleh Sultan Aceh dan Johor, untuk mengembangkan dan menyiarkan
33 34 35 36
agama Islam di Sulawesi Selatan. Sebelum mereka ke Gowa, mereka telah mengetahui dan memahami budaya orang Makassar-Bugis lewat orang Makassar dan Bugis yang berdiam di Riau dan Johor. Sesampainya di Gowa, mereka memperoleh keterangan dari orang-orang Melayu yang bermukim di Gowa, bahwa Raja yang paling dihormati dan dimuliakan di Sulawesi-Selatan ialah Datuk Luwu, sedangkan yang paling kuat pengaruhnya adalah Raja Gowa dan Tallo, maka mereka memutuskan untuk terlebih dahulu meng-Islamkan Datuk Luwu, barulah sesudah itu raja-raja lainnya.
Kedua, Chambert Loir 37[25] mengatakan bahwa menurut cerita rakyat Makassar, ulama
yang membawa Islam ke Sulawesi Selatan adalah orang yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau, Sumatera Barat yang bernama Abdul Makmur Khatib Tunggal Dato’ ri Bandang38[26]. Ia adalah seorang murid dari seorang Wali Songo di Jawa Timur yakni Sunan
Giri39[27]. Ia tiba di pelabuhan Tallo, dengan menumpang sebuah perahu yang aneh. Setibanya di
darat, Dato’ ri Bandang melakukan sholat, sesudah itu ia berzikir dengan tasbihnya dan mulai membaca Al-Qur’an, yang membuat penduduk setempat terpukau. Kemudian di antara mereka segera memberitahukan kapada Raja Tallo tentang perilaku orang asing tersebut.
Pada saat Raja Tallo mendengar hal tersebut, kemudian bergegas pergi menemui Dato’ ri Bandang. Raja Tallo menyapa Dato’ ri Bandang begitu ia melihatnya dan menanyakan kepadanya: “Tuhan apa yang kamu sembah?”. Dato’ ri Bandang menjawab bahwa “Tuhanku tuhanmu juga”. Raja Tallo terkesan dengan penampilan dan tutur kata Dato’ ri Bandang dalam menjelaskan ajaran islam, atas kemauannya sendiri raja minta di-Islamkan dan meminta Dato’ ri Bandang untuk tinggal di Tallo, untuk mengajarkan Islam kepada rakyatnya.
Ketiga, menurut cerita rakyat versi lain, tokoh Abdul Makmur Khatib Tunggal, memang pernah ada dan menjadi guru agama dalam istana Kerajaan Gowa dan Tallo. Dia adalah salah seorang dari tiga ulama yang sengaja diundang oleh pihak kerajaan untuk menjalankan da’wah 37
38 39
Islamiyah di negeri ini. Dua ulama lai adalah Khatib Sulung Dato’ Patimang dan Khatib Bungsu Dato’ ri Tiro. Pada saat raja Tallo menyambut kedatangan Dato’ ri Bandang di pintu gerbang istana, Raja Tallo mengucapkan salam. Hal ini menunjukkan bahwa baginda sudah Islam. Versi ketiga ini, memperlihatkan bahwa agama Islam sudah ada di Sulawesi Selatan dan telah dianut oleh individu-individu yang telah mempelajarinya, sebelum resmi dinyatakan sebagai agama kerajaan pada tahun 1605.
Keempat, menurut sumber lain yakni sumber tradisional berupa kronik Tallo, Islamisasi di Makassar berawal, ketika Mangkubumi Gowa, yakni I Manlikaang Daeng Manyonri’, tertarik pada agama Kristen yang dianut orang Portugis dan agama Islam pada orang-orang Melayu. Untuk itu ia mengunjungi Arung Matoa Wajo (raja kerajaan sahabat yang dituakan sering dimintai pendapatnya mengenai masalah-masalah penting). La Mungkace’ Touddama(ng) (1567- 1607), yang bukan muslim, membicarakan dan membandingkan persoalan-persoalan ke-tauhidan antara agama Kristen dan Islam, oleh karena tidak puas dengan penjelasan La Mungkace’40[28],
maka akhirnya ia berketetapan untuk mengundang mubalig yang tersohor pada masa itu yaitu Dato’ ri Bandang Abdul Makmur Khatib Tunggal orang Minangkabau dari Koto Tangah, datang bersama Khatib Sulaiman yang kemudian dikenal dengan nama Dato’ Patimang dan Khatib Bungsu yang bernama Dato’ ri Tiro, maka mulailah Islamisasi dilakukan di kerajaan kembar Gowa-Tallo itu41[29].
Kelima, dalam kisah lain diceritakan ketika Raja Tallo’ (Mangkubumi Kerajaan Gowa) berada dalam keraguan antara memilih Islam atau Kristen, Karaeng Matoaya meminta didatangkan paderi Portugis dari Malaka dan Ulama Islam dari Aceh (menurut Gervaise), dari Mekah (menurut Tavernier), dan bersumpah dia akan memeluk agama mereka yang pertama tiba. Pada saat Gubernur Malaka mengabaikan kewajibannya sebagai orang kristiani, orang Islam yang pertama tiba dan menang. Menurut analisa Pelras keraguan ini muncul diakibatkan para penguasa di Sulawesi-Selatan menemukan aspek tertentu dalam sejarahnya yang mereka 40
khawatirkan akan membahayakan ketertiban sosial dan mengancam kekuasaannya, sehingga ia ragu untuk menentukan pilihan, sekalipun mereka sebenarnya simpati pada kedua ajaran tersebut42[30].
Mengenai siapa sebenarnya tiga ulama tersebut juga masih mengundang berbagai perbedaan pendapat, apakah ia benar dari Koto Tangah Minangkabau, atau ulama yang diutus dari Aceh, ataukah ulama yang didatangkan dari Arab Mekkah.
Dalam satu sumber lokal Bima disebutkan bahwa Dato’ ri Bandang adalah seorang Arab yang tinggal di Sumatera bernama Syekh Maulana Jalaluddin, sedangkan Dato’ ri Tiro dianggap sebagai orang Aceh yang berasal dari Pidie dan menyelesaikan studinya di Tiro43[31]. Juga
sebagaimana yang telah disebutkan di atas mengenai beberapa versi peng-Islaman di Kerajaan Gowa-Tallo (lihat: versi keempat, menurut Kronik Tallo’), bahwa sultan Tallo, meminta didatangkan ulama dari Aceh, ada yang mengatakan dari Mekkah.
Lain halnya dalam Babad Lombok, didapatkan informasi bahwa Sunan Giri memerintahkan para pangeran dari Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara bagian timur; Lembu Mangkurat berangkat ke Banjar; Dato’ Bandan (mungkin yang dimaksud Dato’ ri Bandang) diutus ke Makassar, Timor, Seram dan Selayar; Pangeran Prapen (putranya sendriri) ke Lombok, Bali, dan Sumbawa44[32].
Terlepas dari vesi mana yang mendekati kebenaran, yang jelas bahwa ketiga ulama45[33]
tersebutlah yang memiliki peranan penting dalam upaya peng-Islaman para penguasa kerajaan lokal, dan masyarakatnya di daerah Sulawesi Selatan. Keberhasilan da’wah ketiga ulama tersebut sehingga Islam berkembang begitu pesat tidak dapat dipungkiri berkat ketepatan metode yang digunakan dalam menyebarkan Islam di Kerajaan Gowa yakni melalui institusi keraton. Pola ini
42 43 44 45
adalah pola islamisasi dikenal dengan “Konversi Keraton”46[34]. Proses Islamisasi seperti ini
hanya dapat dilakukan dalam suatu struktur negara yang telah memiliki basis legitimasi geonologis. Konversi agama dijalankan, tetapi pusat kekuasaan telah ada lebih dahulu. Pola ini juga terjadi di Ternate dan Banjarmasin47[35].
Kedudukan raja di Kerajaan Gowa yang disebut “sombaya”, memiliki kekuasaan yang sangat luas. Rakyat Kerajaan Gowa memandang Sombaya sebagai titisan dewata, yang “berdarah putih” yang merupakan anak keturunan tumanurung, sebelum terjadinya Islamisasi dan dipandang sebagai bayang-bayang Tuhan atau wakil Tuhan di bumi sebagai Islamisasi48[36].
Sombaya dianggap sebagai manusia mulia yang memiliki kalompoang sebagai sumber legitimasi kekuasaan49[37] sehingga apa pun kebijakan yang ditetapkannya, maka rakyat wajib
mentaatinya. Hal ini mirip dengan konsep kekuasaan raja di Tanah Jawa, yang menganggap raja merupakan wakil penguasa dari Hyang Maha Agung. Pangeran Puger mengatakan raja adalah “warananing Allah” (wakil, proyeksi atau layar penjelmaan Tuhan). Jadi raja memegang kekuasaan negara secara mutlak. Tugasnya memelihara tegaknya hukum dan keadilan, dan karena itu semua wajib taat kepadanya, siapa yang berani menentang raja berarti berani menentang kehendak Hyang Maha Agung.50[38]
Dalam tradisi perpolitikan di Sulawesi-Selatan, seorang yang akan diangkat sebagai raja, maka biasanya didahului dengan sutau “kontrak” antara calon raja dan dewan batesalapang, seperti yang dituturkan dalam lontara’ berikut ini:
...Bahwasanya kami telah mengangkat engkau menjadi raja kami, engkau adalah raja dan kami menjadi abdimu. Bahwa engkau menjadi sangkutan tempat kami bergantung dan kami telah lau (semacam labu tempat air) yang bergantung kepadamu. Bahwa apabila sangkutan itu patah, lalu tak pecah berantakan lau itu, maka hianatlah kami. Bahwa kami tak tertikam oleh senjatamu, 46
47 48 49 50
sebaliknya engkau pun tak tertikam oleh senjata kami. Bahwa hanya dewatalah yang membunuh kami dan hanya dewata jugalah yang membunuhmu. Bertitalah engkau dan kami menaatinya, kalau kami menjinjing maka kami tidak memikul, kalau kami memikul, maka kami tidak menjinjing. Engkau adalah angin dan kami adalah daun kayu, akan tetapi hanyalah daun kayu kering yang engkau luruhkan. Engkau adalah air dan kami hanyalah batang kayu hanyut, tetapi hanya air pasang besar saja yang dapat menghanyutkannya, walaupun anak kami, walaupun istri kami, jika kerajaan tidak menyukainya, maka kami pun tak menyukainya. Bahwasanya kami mempertuan engkau, tetapi harta benda kami bukanlah engkau menguasainya. Bahwa engkau pantang mengambil ayam kami dari tenggeramannya, pantang engkau mengambil telur di pekarangan kami, tidak mengambil kelapa kami sebutir pun, dan tidak mengambil pinang setandan pun dari kami. Bahwa apabila engkau menghendaki suatu barang dari kami, engkau membelinya yang patut engkau beli, engkau menggantinya yang patut engkau ganti, engkau memintanya yang patut engkau minta, maka kami akan memberikannya kepada engkau, pantang engkau mengambil begitu saja milik kami. Bahwa raja tidak menetapkan suatu keputusan tentang masalah dalam negeri tanpa gallarang, dan gallarang tak menetapkan sesuatu tentang peperangan tanpa raja....51[39](terj.).
Jika kita melihat keterangan dari naskah lokal di atas, maka rakyat wajib menjunjung tinggi segala titah raja, apalagi yang berkaitan dengan kepentingan kerajaan. Raja memiliki kharisma, kewibaan, wewenang, dan kekuasaan. Hal inilah yang dimanfaatkan ketiga dato’ tersebut, sehingga ketika raja berhasil di-Islamkan, maka dengan mudah rakyat yang dipimpinnya akan mengikutinya.52[40]
Dari kalangan elite ini kemudian Islam menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Strategi memilih meng-Islamkan kalangan elite lebih dulu merupakan strategi yang jitu, karena jika sesuatu hal telah diterima kaum elite, rakyat tinggal mengikuti. Kewibawaan elite di mata rakyat luar biasa besarnya. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang.53[41]
Selain itu yang mempercepat tersebarnya Islam di Makassar, adalah Islam memiliki daya tarik tersendiri jika dibandingkan dengan keyakinan tradisional yakni, memiliki keunggulan dalam menyangkut nilai-nilai sosial yang lebih manusiawi dan demokratis serta rasional. Islam menenmpatkan individu pada kedudukan dengan martabat yang sama. Raja menempati posisi
51 52 53
yang sederajat terhadap rakyatnya. Hal ini berbeda dengan masa sebelumnya yang memandang raja sebagai keturunan dewa yang bersemayam di dunia atas dan dunia bawah. Oleh karena itu raja cenderung untuk berkuasa secara absolut. Disebabkan keunggulan-keunggulan ajaran Islam itulah yang menyebabkan Islam lebih mudah diterima dibandingkan dengan ajaran-ajaran yang lain.54[42]
Hal yang perlu juga menjadi perhatian bahwa dibalik keberhasilan da’wah Islam di Makassar, tidak semua orang begitu saja dengan mudah beralih keyakinannya, sebab dalam tradisi lokal55[43] didapatkan keterangan bahwa usaha Islamisasi pada awalnya ditentang oleh
sejumlah bissu’, beberapa di antara mereka terpaksa mengungsi ke Kaili (daerah Sulawesi Tengah), selain itu beberapa bangsawan Gowa, di antaranya putra Karaeng Matoaya juga mengadakan perlawanan, bahkan ia mencoba akan menyerang Dato’ ri Bandang, namun akhirnya berhasil di-Islamkan juga.
Selasa, 13 Maret 2012