• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Analisis Data Penelitian 1. Uji Asumsi

3. Analisis Data Tambahan

Analisis data tambahan dilakukan untuk melihat representasi keadaan subjek yang sebenarnya. Analisis data tambahan diuji dengan menggunakan Uji UMann Whitney dengan bantuan program SPSS for Windows versi 16.0.

Hal ini dilakukan karena sebaran data pada variabel stres kerja dan variabel kondisi lingkungan fisik pekerjaan tidak berdistribusi normal.

Hipotesis pada Uji U ini terbagi atas dua bagian yaitu Ho = tidak ada perbedaan dan Ha = ada perbedaan. Dasar pengambilan keputusan dalam Uji U Mann Whitney adalah apabila nilai signifikan (2-tailed) < 0,05, maka ada perbedaan (Ho ditolak). Kemudian, apabila nilai signifikan (2-tailed) > 0,05, maka tidak ada perbedaan (Ho diterima).

a. Uji U tingkat stres kerja dengan usia subjek

Test Statisticsa

SkorStresKerja

Mann-Whitney U 235.500

Wilcoxon W 865.500

Z -.574

Asymp. Sig. (2-tailed) .566

Uji U tingkat stres kerja dengan usia subjek dalam rentang dewasa awal dan dewasa madya menghasilkan nilai sig. 2 tailed sebesar 0,566. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sig. 2 tailed > 0,05 yang berarti Ho diterima, yaitu tidak ada perbedaan tingkat stres kerja pada subjek yang berusia dewasa awal dan dewasa madya.

b. Uji U tingkat stres kerja dengan pengalaman kerja subjek

Test Statisticsa

SkorStresKerja

Mann-Whitney U 211.500

Wilcoxon W 739.500

Z -1.552

Asymp. Sig. (2-tailed) .121

a. Grouping Variable: KategoriMasaKerja

Uji U tingkat stres kerja dengan pengalaman kerja subjek dalam rentang pengalaman kerja 1-10 tahun dan pengalaman kerja ≥ 11 tahun menghasilkan nilai sig. 2 tailed sebesar 0,121. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sig. 2 tailed > 0,05 yang berarti Ho diterima, yaitu tidak ada perbedaan tingkat stres kerja pada karyawan yang memiliki pengalaman kerja 1-10 tahun dengan kayawan yang memiliki pengalaman kerja ≥ 11

c. Uji U persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaan dengan usia subjek Test Statisticsa PersepsiKLFP Mann-Whitney U 195.500 Wilcoxon W 315.500 Z -1.421

Asymp. Sig. (2-tailed) .155

a. Grouping Variable: KategoriUsia

Uji U persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaan dengan usia subjek dalam rentang dewasa awal dan dewasa madya menghasilkan nilai sig. 2 tailed sebesar 0,155. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sig. 2 tailed > 0,05 yang berarti Ho diterima, yaitu tidak ada perbedaan persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaan pada subjek yang berusia dewasa awal dan dewasa madya.

b. Uji U persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaan dengan pengalaman kerja subjek

Test Statisticsa

PersepsiKLFP

Mann-Whitney U 229.000

Wilcoxon W 400.000

Z -1.195

Test Statisticsa

PersepsiKLFP

Mann-Whitney U 229.000

Wilcoxon W 400.000

Z -1.195

Asymp. Sig. (2-tailed) .232

a. Grouping Variable: KategoriMasaKerja

Uji U tingkat stres kerja dengan pengalaman kerja subjek dalam rentang pengalaman kerja 1-10 tahun dan pengalaman kerja ≥ 11 tahun menghasilkan nilai sig. 2 tailed sebesar 0,231. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sig. 2 tailed > 0,05 yang berarti Ho diterima, yaitu tidak ada perbedaan persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaan pada karyawan yang memiliki pengalaman kerja 1-10 tahun dengan kayawan yang memiliki pengalaman kerja ≥ 11 tahun.

E. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan fisik pekerjaan dengan stres kerja pada karyawan di perusahaan tambang. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan Product Moment

Pearson diketahui bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara

kondisi lingkungan fisik pekerjaan dengan stres kerja. Hal tersebut dapat diketahui dari koefisien korelasi (r) sebesar -0,606 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,000. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima, yaitu ada hubungan negatif antara kondisi lingkungan fisisk pekerjaan dan stres kerja pada karyawan di perusahaan tambang. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa semakin baik atau positif persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaan, maka stres kerja yang dialami oleh karyawan akan rendah. Begitu pula sebaliknya, semakin buruk atau negatif persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaan, maka stres kerja yang dialami oleh karyawan akan meningkat.

Hasil pengujian korelasi tersebut menunjukkan bahwa jika karyawan memiliki persepsi yang positif terhadap lingkungan fisik pekerjaannya maka stres kerjanya akan rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Andriani (2004) yang mengatakan bahwa apabila karyawan memiliki persepsi yang positif terhadap lingkungan kerjanya, maka ia akan menerima hal tersebut sebagai hal yang menyenangkan. Selain itu, Rahmawanti dkk (2014) juga mengatakan bahwa persepsi positif yang diberikan karyawan terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaannya akan

membuat karyawan merasa lebih nyaman dan senang dalam bekerja sehingga hal tersebut akan berpengaruh terhadap kinerjanya.

Berkaitan dengan aspek-aspek dalam kondisi lingkungan fisik pekerjaan di pertambangan, karyawan akan merasa hal tersebut bukanlah hal yang dapat menghambat pekerjannya. Pada akhirnya, dengan persepsi positif yang dibangun oleh karyawan mengenai kondisi lingkungan fisik pekerjaan, karyawan akan menganggap kondisi lingkungan fisik pekerjaannya bukanlah sebagai hal yang menekan ataupun mengancam, melainkan sebagai suatu hal yang menyenangkan (Wagner & Hollenback, dalam Wijono, 2010). Hal ini pun akan menghasilkan respon atau dampak positif pada perilaku maupun hal-hal yang dihadapi karyawan di tempat kerja.

Seperti yang dikemukakan oleh Howell dan Robert (dalam Wijono, 2010) yang mengatakan bahwa apabila karyawan memiliki persepsi yang positif terhadap lingkungan fisik pekerjaannya, maka ia akan memperoleh kepuasan dalam bekerja. Lebih lanjut, kepuasan kerja yang dialami oleh karyawan pun akan turut mempengaruhi dan memberikan dampak positif lainnya. Steers dan Rhodes (dalam Munandar, 2012) mengatakan bahwa kepuasan yang dirasakan oleh karyawan akan turut mempengaruhi motivasinya dalam bekerja.

Wijono (2010) menjelaskan bahwa kepuasan kerja yang dialami oleh karyawan erat kaitannya dengan motivasi dan juga semangat kerja karyawan. Karyawan yang merasa puas terhadap pekerjaannya akan memiliki motivasi kerja yang tinggi sehingga karyawan akan bekerja lebih produktif dan memiliki

keinginan untuk berprestasi dalam bekerja. Hal ini kemudian menjelaskan bahwa situasi di lingkungan kerja yang dipersepsikan secara positif akan memberikan dampak yang positif terhadap perilaku maupun hal-hal yang dihadapi karyawan di tempat kerja. Hal tersebut yang kemudian akan mempengaruhi kenyamanan dan keamanan kerja sehingga dalam bekerja karyawan tidak merasa tertekan dan dapat berkurang kadar stresnya.

Sebaliknya, karyawan yang memberikan persepsi negatif terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaannya akan menganggap bahwa kondisi lingkungan fisik pekerjaannya sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan, menekan, ataupun mengancam (Wagner & Hollenback, dalam Wijono, 2010). Hal ini kemudian akan menghasilkan respon atau dampak yang negatif pula terhadap perilaku maupun hal-hal yang dihadapi karyawan di tempat kerja. Wijono (2010) mengatakan bahwa karyawan yang memiliki persepsi negatif terhadap lingkungan fisik pekerjaannya akan memperoleh ketidakpuasan dalam bekerja.

Lebih lanjut, Robbins (dalam Munandar, 2012) mengungkapkan bahwa ketidakpuasan yang dialami oleh karyawan dapat menyebabkan karyawan meninggalkan pekerjaannya, munculnya keluhan-keluhan seputar pekerjaan, serta menghindari sebagian dari tanggung jawab pekerjaan mereka. Kemudian, Wijono (2010) menambahkan bahwa ketidakpuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan juga dapat menyebabkan berbagai masalah seperti kecenderungan karyawan untuk berhenti bekerja, sering kali absen (bolos) kerja, adanya masalah pelanggaran disiplin, dan menurunnya produktivitas kerja. Menurut White (dalam

Wijono, 2010) situasi di lingkungan kerja yang dipersepsikan secara negatif akan memberikan dampak yang negatif pula terhadap perilaku maupun hal-hal yang dihadapi karyawan di tempat kerja. Hal tersebut kemudian akan mempengaruhi kenyamaan dan keamanan karyawan dalam bekerja sehingga karyawan akan merasa tertekan dan mengalami stres sehingga dapat diiindikasikan bahwa semakin negatif persepsi karyawan terhadap kondisi lingkungan fisiknya, maka tingkat stres kerja akan semakin tinggi.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dalam penelitian ini, diketahui bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat stres kerja yang rendah dan persepsi terhadap kondisi lingkungan fisik yang sedang. Hal ini terlihat dari data pada skala stres kerja yang menunjukkan nilai mean empiris lebih kecil daripada mean teoritis, yaitu nilai empiris sebesar 65.18 dan mean teoritis sebesar 95. Kemudian, data pada skala kondisi lingkungan fisik pekerjaan menunjukkan nilai mean empiris lebih besar daripada mean teoritis, yaitu nilai mean empiris sebesar 114.46 dan mean teoritik sebesar 105.

Berdasarkan data dalam penelitian ini, hal-hal yang memungkinkan subjek memiliki persepsi yang positif terhadap kondisi lingkungan fisik pekerjaannya dan tingkat stres kerja yang rendah ialah pengalaman kerja. Pengalaman kerja akan mempengaruhi aktivitas kerja sebab semakin lama seseorang bekerja di tempat kerjanya maka ia akan mengetahui banyak mengenai situasi dan kondisi tempat bekerjanya tersebut (Mochtar dkk, 2013). Subjek dalam penelitian ini memiliki pengalaman kerja yang cukup lama di perusahaan yaitu antara 8 – 30 tahun.

Sehingga dapat diasumsikan bahwa karyawan telah mengenal serta telah melalui proses adaptasi yang cukup baik di lingkungan kerjanya sehingga karyawan merasa bahwa aspek-aspek kondisi lingkungan fisik pekerjaan yang sehari-hari ditemui di pertambangan seperti temperatur panas, pencahayaan, kebisingan yang bersumber dari proses produksi atau peralatan kerja, getaran mekanis yang bersumber dari mesin atau peralatan kerja, siklus udara yang kurang baik, bau-bauan dari mineral tambang, dan radiasi yang berasal mesin atau aktivitas produksi/penambangan, bukanlah hal yang dapat menghambat pekerjannya.

Nadialis dan Nugrohoseno (2014) mengatakan bahwa stres kerja lebih mudah dialami oleh karyawan yang memiliki pengalaman kerja yang lebih pendek. Hal ini disebabkan karena pada tahun-tahun pertama bekerja, karyawan masih harus beradaptasi dan berhubungan dengan beberapa pekerjaan sekaligus. Hal ini dapat mengakibatkan beban tugas dan tekanan yang dimiliki karyawan pada tahun-tahun pertama bekerja sangat besar sehingga dapat memicu munculnya stres kerja. Namun, dengan adanya pendidikan dan pelatihan yang diberikan oleh perusahaan, karyawan dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka sehingga mereka dapat dengan mudah menguasai pekerjaan di bidangnya. Hal tersebut pun dapat mengurangi gejala-gejala stres yang dapat dialami oleh karyawan. Karyawan dengan masa kerja lebih lama cenderung mempunyai kemampuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai pekerjaannya dikarenakan karyawan dianggap telah mempunyai pengalaman yang lebih banyak mengenai pekerjaan

yang telah dilakukannya dan telah beradaptasi dengan baik dengan lingkungan kerjanya meliputi semua bentuk pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari.

Selain itu, usia juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat stres kerja yang dialami oleh seseorang. Menurut Siswanto (dalam Mochtar, 2013), usia berhubungan dengan toleransi seseorang terhadap stres. Subjek dalam penelitian ini sebagian besar berusia dewasa awal (31 subjek) dan dewasa madya (19 subjek). Pada usia dewasa seseorang biasanya lebih mampu mengontrol stres dibanding dengan usia kanak-kanak dan usia lanjut. Pekerja dengan usia dewasa akan semakin mampu menunjukkan kematangan jiwa, dalam arti semakin bijaksana, semakin mampu berpikir rasional, semakin mampu mengendalikan emosi, semakin toleran terhadap pandangan dan perilaku yang berbeda dari dirinya, dan semakin dapat menunjukkan kematangan intelektual dan psikologisnya (Russeng dkk, 2007).

Anderson (dalam Mappiare, 1983) mengatakan individu yang memiliki kematangan psikologis adalah individu yang dapat berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya, dapat mengendalikan perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaan dalam mengerjakan sesuatu atau dengan orang lain, lebih terbuka terhadap kritik dan saran orang lain demi peningkatan dirinya, serta lebih fleksibel dan dapat menempatkan diri dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dengan situasi-situasi baru. Maka dari itu, usia dewasa dan kematangan secara psikologis dapat diasumsikan sebagai salah satu faktor rendahnya tingkat stres kerja yang dialami oleh subjek penelitian.

Dalam penelitian ini tingkat atau kekuatan korelasi antara variabel termasuk dalam kategori yang kuat (r = -0,606). Hal ini juga menunjukkan bahwa kondisi lingkungan fisik pekerjaan hanya memberikan sumbangan sebesar 36,7%. Hal ini menunjukkan terdapat variabel-variabel lainnya yang memiliki hubungan dan pengaruh terhadap variabel stres kerja. Menurut Cooper (dalam Munandar, 2012) variabel-variabel lain yang merupakan faktor-faktor dalam pekerjaan yang dapat menimbulkan stres kerja adalah tuntutan tugas, beban kerja, peran individu dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam pekerjaan, serta struktur dalam organisasi. Selain itu, Luthans (2005) juga menambahkan bahwa perubahan sosial/teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, serta keadaan komunitas/tempat tinggal, serta pola kepribadian tipe A merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat menjelaskan kondisi lingkungan fisik pekerjaan memiliki hubungan negatif dengan stres kerja yang dialami oleh karyawan yang bekerja di perusahaan tambang.

98

BAB V

Dokumen terkait