• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Uji Ekstrak Alkaloid terhadap Mencit ( Mus musculus )

4.2.1 Analisis Data

Metode analisis yang dipakai adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) non faktorial. Hasil perambangan menurut rancangan acak lengkap non faktorial, dimana ulangan (r)= 3 dan jumlah perlakuan (t) = 4 adalah sebagai berikut:

Kombinasi perlakuan (n)= t x r = t.r kombinasi perlakuan 1 2 3 A B D 4 D 6 7 8 5 C A C B 9 10 11 12 B C A D

Analisis data efektifitas Alkaloid terhadap tingkat kehamilan Mencit adalah tertera pada tabel 4.3 dengan mengitung:

1. Faktor Koreksi (FK) adalah nilai untuk mengkoreksi nilai rata-rata dari ragam data FK = Y..2/ tr

= 8,3333

2. Jumlah Kuadrat total (JKT) JKT = ∑ Yij2 – FK

= 15.6667

3. Jumlah Kuadrat perlakuan (JKP) JKP = (∑ Yi.2/ r) – FK

= 14.3333

4. Jumlah Kuadrat galat (JKG) JKG = JKT – (JKP+JKK)

= 1.3333

5. Kuadrat Tengah kelompok (KTK) KTK = JKP/ t-1

= 4.7777

6. Kuadrat Tengah galat KTG KTG = JKG/t(r-1)

= 0.1666

7. Nilai F hitung (Fhit) dengan F tabel (Ftab)

Fhit = Kuadrat Tengah Perlakuan/ Kuadrat Tengah Galat = KTP/KTG

= 28.6776

Ftab pada tingkat 5% = 4.07 Ftab pada tingkat 1% = 7.50

Jika Fhit > Ftab pada taraf nyata 1% maka perlakuan berpengaruh sangat nyata Jika Fhit > Ftab pada taraf nyata 5% tetapi lebih kecil daripada nilai F tabel pada

Jika Fhit < Ftab pada taraf nyata 5% maka perlakuan berpengaruh tidak nyata Data hasil tercantum dalam tabel 4.3

Tabel 4.3 Sidik Ragam (RAL) dengan ulangan yang sama dari Data hasil dalam tabel 4.2

Sumber Keragaman Derajat bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah

Fhit Ftab 5% Ftab 1%

Perlakuan 3 14.3333 4.7777 28.6776** 4.07 7.50

Galat 8 1.3333 0.1666

Umum 11 15.6667 1.4242

**

(sangat signifikan)

Diperoleh harga F hitung yang lebih besar dari F tabel pada tingkat 1%, menunjukkan ekstrak Alkaloid yang diperoleh dari buah Terung Belanda hasil perpaduan antara tanaman Lancing dengan Terung Belanda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tingkat kehamilan Mencit.

Dari Tabel 4.2 dan Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa efektifitas maksimum ekstrak Alkaloid dalam menghambat kehamilan Mencit adalah pada tingkat 10% dimana tidak ditemukan lagi sejumlah Mencit yang mengalami kehamilan. Dan dapat juga dilihat bahwa pada konsentrasi ekstrak alkaloid 5% masih ditemukan mencit yang mengalami kehamilan. Hal ini mungkin disebabkan karena konsentrasi ekstrak yang masih terlalu rendah sehingga fungsinya sebagai inhibitor dalam proses spermatogenesis masih kurang. Sehingga mencit mengalami kehamilan

Hal ini menunjukkan bahwa buah Terung Belanda hasil perpaduan antara tanaman Lancing dengan tanaman Terung Belanda mangandung Solasodin yang sebelumnya tidak terdapat pada buah Terung Belanda yang konvensional. Sehingga tanaman perpaduan keduanya telah mengandung sifat dari kedua tanaman. Perpaduan keduanya menyebabkan transpor energi, distribusi zat hara, makro dan mikro nutrien, produk biosintesis dan metabolismenya berjalan sebagaimana tanaman normalnya, termasuk di dalamnya transport Solasodin dari tanaman Lancing sebagai batang bawah ke tanaman Terung Belanda sebagai tanaman atas. Sehingga tanaman perpaduannya mengandung Solasodin yang diketahui dapat menghambat kehamilan.

Mencit mengalami fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang berarti “kegilaan” atau “gairah”, hipotalamus terstimulasi untuk melepaskan gonadotropin-releasing hormone (GRH). Estrogen menyebabkan pola perilaku kawin pada mencit, menstimulasi pertumbuhan folikel yang dipengaruhi follicle stimulating hormone (FSH) sehingga terjadi ovulasi. Kandungan FSH ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan luteinizing hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit akan mengalami kehamilan. Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih aktif, dengan kata lain mencit berada dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit jantan. Fase estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan, mencit jantan akan mendekati mencit betina dan akan terjadi kopulasi. Pada tahap ini vagina pada mencit betinapun membengkak dan berwarna merah. Tahap ini terjadi selama 12 jam. Lalu tahap estrus akhir dimana terjadi ovulasi yang hanya berlangsung selama 18 jam. Kehamilan hari pertama ditanda dengan adanya sumbat vagina pada mencit betina, dan kehamilan berlanjut bila terjadi perubahan bentuk mikrovili dari panjang ke membulat dan semakin hari semakin besar. Dimana rata-rata periode kehamilan mencit adalah 20 hari.

Tetapi perlu dikatahui bahwa Solasodin tidak mempengaruhi produksi testosteron Mencit tersebut. Berarti produksi testosteron tidak terpengaruh maka segala proses fisiologi yang memerlukan testosteron juga tidak akan terpengaruh. Proses–proses fisiologi yang memerlukan testosteron tersebut antara lain: perkembangan dan pemeliharaan organ genetalia, sifat kelamin sekunder, perkembangan sistem otot rangka.

Hal ini menunjukkan bahwa testosteron masih dapat melakukan fungsinya sebagai senyawa maskulinisasi, walaupun fungsi testosterone tidak dapat bekerja baik pada spermatogenesis dan pemeliharaan sperma pada Mencit yang diberi ekstrak Solasodin dari buah Terung Belanda hasil perpaduan kedua tanaman tadi, karena spermatogenesis dan pemeliharaan spermatozoa tergantung pula dengan FSH

Solasodin bersifat kompetitif terhadap terhadap reseptor FSH sehinga FSH kalah bersaing dalam mengikatkan diri direseptornya, yang terikat direseptor FSH justru Solasodin. Tidak adanya FSH ini mengganggu atau menghambat spermatogenesis dan menurunkan kualitas spermatozoa, walaupun testosteron yang diproduksi tidak terpengaruh. Kadar testosteron yang tidak terpengaruh karena biosintesis testosterone tidak melibatkan FSH, namun melibatkan LH (Latenizing Hormone) dan reseptor LH berbeda dengan reseptor FSH. Reseptor LH yang terdapat di interstedial sel rupanya tidak terpengaruh oleh adanya Solasodin sehingga LH juga tidak mengalami gangguan dalam mengikatkan diri direseptornya, sedangkan LH berperan dalam stimulasi produksi testosteron. (Wiryawan,2009)

LH yang dilepaskan oleh hipofisis akan terikat pada reseptornya di sel–sel interstetial testis. Setelah terjadi ikatan antara LH dan reseptornya maka akan terbentuk mesenger kedua yang berupa cAMP. Terbentuknya cAMP mengaktifkan protein kinase yang akan mempengaruhi inti sel agar gen–gen yang mengatur biosintesis testosterone menjadi aktif dan mulailah terjadi sintesis testosteron. Biosintesis testosteron melibatkan berbagai zat, enzim dan hormon steroid lainnya termasuk hormon–hormon dalam golongan estrogen dan androgen. Dengan tidak terpengaruhnya reseptor LH oleh Solasodin yang dikandung oleh Terung Belanda hasil perpaduan kedua tanaman tadi maka proses biosintesis testosteron menjadi tidak terhambat sehingga fungsi testosterone sebagai hormon maskulinisasi dan mempertahankan libido dapat berjalan normal. Biosintesis androgen memerlukan kolesterol sebagai prekursornya. Karena Solasodin tidak mempengaruhi reseptor LH maka proses biosintesis testosteron, mulai dari sintesis prekursor (kolesterol) dan reaksi-reaksi selanjutnya tidak terganggu. (McKee, T. 2003)

BAB 5

Dokumen terkait