VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF PENGUSAHAAN KOMODITI SUSU
6.3. Analisis Daya Saing Skala Usaha Sapi Laktasi > 3 Ekor
Hasil Perhitungan dari penerimaan, biaya produksi, biaya operasional dan biaya tataniaga dapat dilihat pada Lampiran 7. Setelah perhitungan-perhitungan tersebut dilakukan, maka disusunlah matriks PAM yang dapat dilihat pada Table 17
Tabel 17. Matriks Analisis Kebijakan Pengusahaan Saapi Perah Desa Tajurhalang Bulan Maret 2006 (Rp/ liter)
Keterangan Penerimaan Output
Biaya Input Keuntungan
Tradeable Non Tradeable Harga Finansial 2152,27 89,77 1331,1 731,14 Harga Ekonomi 2196,43 92,78 1100,34 1003,31 Dampak kebijakan - 44,16 - 3,01 230,76 - 272,17
Dari Tabel 17 dapat dilakukan perhitungan untuk mendapatkan nilai- nilai yang akan menjadi indikator tingkat keuntungan yang diproleh dari pengusahaan sapi perah pada kondisi finansial dan ekonomi. Nilai- nilai tersebut dapat digunakan untuk menentukan keunggulan kompetitif dan komparatif serta pengaruh kebijakan pemerintah pada output dan input.
6.3.1. Analisis keunggulan Kompetitif
Berdasarkan hasil analisis pada Table 17 dapat dilihat penerimaan usahatani susu secara finansial adalah sebesar Rp. 2152,27 per liter susu. Biaya total yang dikeluarkan adalah Rp 1.420,87 per liter susu yang terdiri dari biaya input tradeable sebesar Rp 89,77 dan biaya input non tradeable sebesar Rp
1331,1. Keuntungan finansial yang didapat yaitu 731,14 Artinnya bahwa keuntungan yang diterima pada pengusahaan sapi perah dengan adannya kebijakan pemerintah sebesar Rp 731,14 per liter dimana penerimaan produsen berdasarkan financial lebih besar dari pengeluaran biaya input tradable dan input domestik. Dengan nilai PP ( Private profitability ) yang lebih besar dari nol menunjukkan bahwa secara finansial pengusahaan sapi perah yang di Desa Tajurhalang menguntungkan untuk dijalankan.
Hasil analisis matriks PAM menunjukkan bahwa nilai PCR yang diperolah ada 0,65 (lampiran 11). Semakin kecil nilai PCR yang diperoleh maka akan semakin besar tingkat keunggulan kompetitif yang dimiliki, maka hasil dari analisis tersebut dapat dikatakan bahwa usahatani sapi perah Desa Tajurhalang efisien secara finansial dan memiliki keunggulan secara kompetitif. Nilai PCR sebesar 0,65 mempunyai arti bahwa untuk mendapatkan nilai tambah output sebesar satu rupiah pada harga private diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar 0,65 rupiah. Berarti pengunaan faktor domestik sudah efisien sehingga layak untuk diusahakan. Dalam penelitian ini berarti dengan adannya kebijakan Pemerintah, untuk memperoleh nilai tambah sebesar Rp 2152,27 perliter sus u diperlukan tambahan biaya faktor produksi domestik sebesar Rp 1331,1.
6.3.2. Analisis Keunggulan Komparatif
Analisis keunggulan komparatif dapat diukur dengan menggunakan keuntungan social (SP) dan Domestic Resource Cost(DRC). Pada table 17 dapat dilihat besarnya keuntungan sosial yang diperoleh dari pengusahaan sapi perah di Desa Tajurhalang bernilai positif (>0) yaitu 1003,31 per liter susu yang berarti
pengusahaan sapi perah tersebut menguntungkan secara ekonomi walaupun tanpa adannya kebijakan peme rintah.
Hasil analisis menunjukan bahwa nilai DRC yang diperoleh 0,52. Nilai DRC sebesar 0,52 dalam penelitian ini berarti bahwa untuk memperoleh nilai tambah sebesar Rp 2196,43 per liter susu diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 1100,34, sehingga dapat dikatakan bahwa komoditas susu efisien dalam menggunakan sumberdaya ekonomi, seperti ketersediaan pakan dan obat-obatan. Nilai DRC yang kurang dari satu menunjukan bahwa usahatani sapi perah Desa Tajurhalang efisien secara ekonomi dan memiliki keunggulan komparatif. Hal tersebut menunjukan bahwa tanpa adannya kebijakan atau intervensi pemerintah komoditas susu lebih efisien secara ekonomi. Semakin kecil nilai DRC maka komoditas tersebut akan semakin memiliki daya saing komparatif dalam kond isi tanpa adannya intervensi pemerintah atau dalam kondisi pasar persaingan sempurna.
Jika dibandingkan dengan keuntungan ekonomi, keuntungan private atau PP( Privat profitability) yang diperoleh lebih kecil (SP>PP). Nilai PP lebih kecil dari SP berarti bahwa pengusahaan sapi perah lebih menguntungkan saat tidak adannya intervensi pemerintah baik terhadap input maupun output. Nilai Private Profit (PP) yang lebih kecil disebabkan harga ditingkat peternak lebih rendah dari harga dipasar internasional. Hal tersebut dikarenakan harga susu di pasar Internasional dihitung berdasar harga c.i.f ditambah biaya tataniaga yang nilainnya lebih tinggi dibandingkan dengan harga finansial susu yang dihitung berdasar harga pasar susu lokal. Selain itu biaya input non tradeable yang dikeluarkan berdasar analisis finansial jauh lebih tinggi sehingga keuntungan
privat yang diperoleh dari pengusahaan susu lebih rendah dari pada keuntungan sosialnya. Faktor yang menyebabkan biaya input non tradeable lebih tinggi secara finansial dibandingkan dengan biaya input non tradeable secara ekonomi karena ada beberapa bahan campuran untuk pakan ternak yang diimpor daari luar negeri sehingga harga menjadi lebih mahal, selain itu obat-obatan yang digunakan oleh peternak juga berasal dari luar negeri sehingga harganya juga lebih mahal.
6.3. 3. Analisa Dampak Kebijakan Pemerintah
6.3.3.1. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Output
Hasil analisis menunjukan bahwa nilai OT adalah negatif yaitu sebesar Rp. 44,16 .per liter susu. Artinya harga output di pasar domestic pada pengusahaan sapi perah lebih rendah dibandingkan harga dipasar internasional atau terdapat transfer output dari produsen ke konsumen sebesar Rp 44,16, sehingga konsumen atau pedagang harus membeli komoditas lebih rendah dari harga yang seharusnya diterima apabila pasar tidak terdistorsi atau tanpa kebijakan pemerintah. Hal ini mengindikasikan adannya kebijakan pemerintah berupa Pemberlakuan tarif impor hanya sebesar 5 % sehingga banyak IPS (Industri Pengolaahan Susu) yang akan membeli susu impor dari luar negeri. Tarif Impor yang rendah tersebut mmenyebabkan produsen dalam negeri sulit untuk bersaing dengan susu impor yang memiliki kualitas lebih bagus. Gabungan Koperasi susu Indonesia (GKSI) mengusulkan agar tarif impor susu dinaikan menjadi 15 % hal tersebut dilakukan untuk melindungi produsen susu dalam negeri.
Nilai Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) adalah rasio antara penerimaan yang dihitung berdasarkan harga bayangan. NPCO merupakan
indikasi dari transfer output. Berdasarkan Tabel, nilai NPCO pada komoditas susu adalah sebesar 23,19 atau lebih besar dari satu (NPCO>1) menunjukan tidak adannya proteksi harga, yaitu kebijakan pemerintah menyebabkan harga yang diterima produsen lebih rendah dari harga bayangannya. Artinnya seluruh konsumen dan produsen dalam negeri menerima harga lebih rendah dari harga yang seharusnya (harga dunia), sehingga terjadi transfer pendapatan dari peternak kepada konsumen kepada. Tarif impor susu yang diberlakukan oleh pemerintah adalah sebesar 5 persen. Hasil analisis menunjukan bahwa produsen menerima harga 0,5 persen lebih rendah dari harga yang seharusnya diterima dengan ada kebijakan. Tetapi besarnya tarif tersebut masih sangat kecil. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sedang mengupayakan agar besarnya tarif impor ditingkatkan menjadi 15-20 %.Usulan tersebut dibuat agar produsen atau peternak mendapatkan intensif dari pemerintah untuk meningkatkan produksinnya.
6.3.3.2. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input
Dampak kebijakan pemerintah terhadap input ditunjukan oleh nilai Transfer Input (IT), Transfer Faktor (FT) dan Koefisien Proteksi Nominal pada input. Nilai transfer input (IT) merupakan selisih antara biaya input tradeable pada harga finansial dengan biaya input tradeable pada harga bayangan. Apabila nilai IT yang diperoleh positif berarti terdapat kebijakan subsidi negatif atau pajak pada input produksi, sebaliknya jika nilai IT yang diperoleh negatif menunjukan adannya kebijakan subsidi pada input, karena subsidi pada harga input akan mengakibatkan biaya yang dikeluarkan untuk input pada tingkat harga private lebih rendah dari pada tingkat harga sosial. Berdasarkan hasil analisis
diperlihatkan bahwa nilai IT adalah sebesar –3,01. Nilai tersebut berarti bahwa kebijakan pemerintah pada input tradeable menguntungkan produsen sebesar Rp 3,01 per liter susu. Artinnya terdapat pajak atau tarif impor atas input asing dengan harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya diterima tanpa adannya distorsi pasar. Dengan kata lain, tidak terdapat transfer pendapatan dari peternak kepada produsen input asing. Keuntungan private yang diperoleh juga akan lebih besar jika terdapat kebijakan dari pemerintah.
Nilai NPCI menunjukan tingkat proteksi atau distorsi yang dibebankan pemerintah pada input tradeable bila dibandingkan tanpa adannya kebijakan. Nilai NPCI yang lebih besar dari satu (>1) berarti terdapat kebijakan proteksi terhadap produsen input berupa pajak terhadap input tersebut, sehingga akan menaikan harga input tradeable di pasar domestik diatas harga efisienya. Sementara sektor yang menggunakan input tersebut akan dirugikan dengan tingginya harga beli input produksi. Sebaliknya nilai NPCI yang lebih kecil dari satu (<1) berarti terdapat subsidi terhadap input tersebut. Berdasarkan hasil analisis nilai NPCI yang diperoleh yaitu 0,96. Nilai ini berarti terdapat kebijakan proteksi terhadap produsen input, sedangkan produsen susu dirugikan karena biaya produksi meningkat dengan menggunakan input tersebut. Dampak kebijakan input asing terhadap komoditas susu mengakibatkan biaya produksi menjadi lebih tinggi, karena peternak harus membeli input asing (pakan ternak dan obat-obatan) dengan harga yang lebih mahal dari harga seharusnya, yaitu 0,96 persen. Sebaliknya, pihak produsen atau importir pakan ternak dan obat-obatan diuntungkan sebesar persentase kenaikan harga yang harus ditanggung peternak. Tingginya harga input asing terjadi karena pelaksanaan pengadaan pakan ternak
dan obat-obatan telah dilepas sepenuhnya ole h pemerintah kepada pihak swasta (Produsen atau importir pakan ternak dan obat-obatan), sedangkan pemerintah hanya menjamin dan mengawasi stok pupuk dimasing- masing daerah.
Input yang digunakan dalam proses produksi selain faktor produksi yang dapat diperdagangkan (tradeable), juga digunakan faktor produksi domestik dimana harga ditentukan oleh harga domestik. Transfer Faktor (FT) menunjukan kebijakan pemerintah terhadap input domestic yang merupakan selisih antara biaya produksi non tradeable yang dihitung pada harga finans ial dengan biaya produksi non tradeable yang dihitung pada harga bayangan. Hasil analisis menunjukan nilai FT pada pengusahaan sapi perah adalah Rp 230,76 Nilai ini menunjukan bahwa harga input non tradeable yang dikeluarkan oleh pemerintah pada tingkat harga finansialnya lebih tinggi dibandingkan dengan biaya input non tradeable yang dikeluarkan pada harga sosial. Artinya kebijakan pemerintah bersifat melindungi produsen input domestik, misalnya melalui subsidi. Kondisi ini mengakibatkan peternak harus membayar input domestik lebih mahal daripada harga sosialnya, sementara produsen input domestik mendapatkan tambahan keuntungan Rp230,76 sehingga produsen susu mendapatkan kerugian 230,76 per liter.
Indikator-indikator dari keunggulan komparatif dan kompetitif serta dampak kebijakan pemerintah yang diperoleh dari matriks PAM dapat dilihat pada Tabel 18
Tabel 18. Indikator- indikator dari policy Analysis Matrix (PAM) Indikator Besaran (Nilai) Keuntungan Privat (Rp/Liter)
Rasio Biaya Privat (Rp/kg) Keuntungan Sosial (Rp/kg)
Biasya Sumberdaya Domestik (Rp/kg) Transfer Output(Rp/kg)
Koefisien Proteksi Output Nominal Transfer Input(Rp/kg)
Koefisien Transfer Input Nominal Transfer Faktor (Rp/kg)
Koefisien Proteksi Efektif Transfer Bersih (Rp/kg) Koefisien Keuntungan Rasio Subsidi bagi Produsen
736,14 0,65 1003,31 0,52 - 44,16 23,19 - 3,01 0,96 230,76 0,98 - 272,17 0,72 - 0,123
6.3.3.3. Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Input -Output
Kebijakan pemerintah pada input-output adalah analisis gabungan antara kebijakan input dan kebijakan output. Dampak kebijakan secara keseluruhan baik terhadap input maupun output dapat dilihat dari Koefisien Proteksi Efektif (EPC), Transfer bersih (NT), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP).
Hasil analisis menunjukan bahwa nilai koefisien Proteksi Efektif (EPC <1) yaitu sebesar 0,98. Artinya kebijakan pemerintah terhadap input-output
menyebabkan produsen susu tidak memperoleh tambahan keuntungan sebesar 98 persen dari nilai harga bayangan. Hal tersebut menunjukan bahwa kebijakan pemerintah tidak memberikan proteksi yang cukup baik pada sistem usahatani sapi perah. Produsen menerima harga input tradeable atau harga output dibawah harga efisiennya (lebih rendah dari harga dunia). Hal ini mengindikasikan produsen yang mengusahakan komoditas susu tidak menikmati subsidi akibat adannya kebijakan pemerintah yang tidak melindungi produsen sapi perah.
Hasil analisis juga memperlihatkan Koefisien Keuntungan (PC) yaitu rasio antara keunt ungan bersih aktual dengan keuntungan bersih ekonomi. Nilai PC menunjukan pengaruh gabungan pada output, input tradeable. Rasio PC ini digunakan untuk melihat dampak kebijakan yang menyebabkan perbedaan tingkat keuntungan finansial dan keuntungan ekonomi. Nilai PC yang diperoleh adalah 0,72 atau lebih kecil dari satu memiliki arti bahwa kerugian peternak bila ada pengaruh intervensi atau kebijakan dari pemerintah adalah sebesar 72 persen dari kerugian yang diterima tanpa adannya kebijakan. Denga n kata lain keuntungan yang diterima peternak lebih kecil jika dibandingkan dengan keuntungan bersih sosialnya.
Jika dilihat dari Tabel 18 nilai NT adalah negatif yaitu Rp 272,17 per liter yang berarti bahwa sudah ada kebijakn pemerintah terhadap input maupun output tidak memberikan intensif ekonomi untuk meningkatkan produksi susu. Keuntungan yang diperoleh produsen ketika ada kebijakan dari pemerintah lebih rendah Rp 272,17 dibandingkan kerugian apabila tidak ada campur tangan pemerintah.
Rasio Subsidi bagi produsen (SRP) merupakan rasio antara transfer bersih dengan penerimaan berdasarkan harga bayangan. Nilai SRP negatif (<0) menunjukan adannya kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi terhadap input yang lebih besar dari biaya imbangan untuk berproduksi, sedangkan bila nilai SRP positif (>0) berarti adannya kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi terhadap input lebih rendah dari biaya imbangan untuk berproduksi.
Nilai SRP yang diperoleh adalah negatif 0,12. Nilai SRP ini berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan produsen susu mengeluarkan biaya produksi lebih besar 12 persen dari biaya Opportunity cost.