• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PENELITIAN

C. Analisis Deskreptif Statistik

Uji deskreptif statistik dilakukan untuk menunjukkan jumlah data (N) Yang digunakan dalam penelitian ini, nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean) serta standar deviasi dari masing-masing variabel. Adapun hasil perhitungan statistik deskriptif adalah sebagai berikut:

Tabel 12Tabel 4.3

Hasil Uji Deskreptif Statistik

P_LABA NPF FDR GWM DKI KI ROA NIM CAR

Mean 0.625080 0.039238 0.997454 0.053586 0.646400 0.980014 0.031352 0.063826 0.243220 Median 0.247500 0.029850 0.919600 0.051200 0.670000 0.999900 0.011350 0.065450 0.185700 Maximum 6.758500 0.351500 2.892000 0.104000 1.000000 1.000000 0.381000 0.153300 0.734400 Minimum -0.893900 0.000000 0.460800 0.050000 0.250000 0.808100 0.000400 0.021200 0.110300 Std. Dev. 1.418003 0.050472 0.366479 0.008275 0.179179 0.045481 0.075520 0.028149 0.153386 Skewness 2.351106 4.851793 3.406640 4.915283 -0.052528 -2.369521 3.920173 0.918454 1.682401 Kurtosis 9.189742 30.62358 16.52574 29.28721 4.011976 7.613579 17.35683 4.148283 4.953859 Sum 31.25400 1.961900 49.87270 2.679300 32.32000 49.00070 1.567600 3.191300 12.16100 Sum Sq. Dev. 98.52592 0.124825 6.581046 0.003355 1.573152 0.101358 0.279457 0.038827 1.152837 Observations 50 50 50 50 50 50 50 50 50

Sumber: Output Eviews7 (data diolah)

Hasil uji statistik deskreptif yang telah dilakukan dengan menggunakan eviews7 menunjukkan bahwa pada rasio NPF terendah (minimum) adalah 0,000 berasal dari Bank Maybank Syariah pada tahun 2011, sedangkan rasio NPF tertinggi (maksimum) adalah 0,3515 berasal dari

70

Maybank Syariah pada tahun 2015. Adapun nilai rata-rata (mean) NPF sebesar 0,03923 dan standar deviasi NPF sebesar 0,05047. Dengan melihat nilai mean rasio NPF maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik nilai rata-rata NPF pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2011-2015 berada di bawah 5%. Hal ini menunjukkan NPF pada Bank Umum Syariah telah memenuhi peraturan Bank Indonesia yang masuk dalam kategori sehat adalah bank yang memiliki nilai minimal NPF di bawah 5%. Dan dari rentan waktu 2011-2015 menandakan bahwa rasio NPF memiliki kategori sehat.

Data rasio FDR nilai terendah (minimum) adalah 0,4608 berasal dari Bank Victoria Syariah pada tahun 2011, sedangkan rasio FDR dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 2,8920 berasal dari Maybank Syariah pada tahun 2011. Adapun nilai rata-rata (mean) FDR sebesar 0,99745 dan standar deviasi FDR sebesar 0,3664793. Dengan melihat nilai mean rasio FDR maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik nilai rata-rata FDR pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2011-2015 berada di atas 85%. Hal ini menunjukkan FDR pada Bank Umum Syariah telah memenuhi peraturan Bank Indonesia yang masuk dalam kategori sehat adalah bank yang memiliki nilai minimal FDR di bawah 85%. Dan dari rentan waktu 2011-2015 menandakan bahwa rasio FDR memiliki kategori cukup sehat.

Data rasio GWM nilai terendah (minimum) adalah 0,0500 berasal dari Bank Jabar Banten Syariah pada tahun 2015, sedangkan rasio GWM dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 0,1040 berasal dari Bank Mega Syariah pada tahun 2015. Adapun nilai rata-rata (mean) GWM sebesar 0,05358% dan

71

standar deviasi GWM sebesar 0,08274. Dengan melihat nilai mean rasio GWM maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik nilai rata-rata GWM pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2011-2015 berada di atas 5%. Hal ini menunjukkan GWM pada Bank Umum Syariah telah memenuhi peraturan Bank Indonesia yang masuk dalam kategori sehat adalah bank yang memiliki nilai minimal GWM sebesar 5%. Dan dari rentan waktu 2011-2015 menandakan bahwa rasio FDR memiliki kategori sehat.

Data jumlah dewan komisaris Independen nilai terendah (minimum) adalah 25% berasal dari Bank Jawa Barat Syariah pada tahun 2014 dan 2015, sedangkan jumlah dewan komisaris dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 100% berasal dari Bank Victoria Syariah tahun 2013dan 2014, Bank Mega Syariah 2011-2013 dan Bank Bukopin Syariah pada 2011. Adapun nilai rata- rata (mean) jumlah dewan komisaris yang dimiliki yaitu 67% dari jumlah dewan komisaris suatu bank syariah dan dengan standar deviasinya sebesar 0,1791. Hal ini menandakan bahwa komposisi dewan komisaris independen merupakan keseluruhan dari dewan komisaris perusahaan yang ada.

Data kepemilikan institusional atas saham yang dimiliki pihak institusi nilai terendah (minimum) adalah 80,81% berasal dari Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2014, sedangkan kepemilikan saham institusional dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 100% berasal dari BJBS tahun 2011-2015, Bank Jawa Barat Syariah dan Maybank Syariah pada 2011-2015. Adapun nilai rata-rata (mean) kepemilikan institusional sebesar 98% dan standar deviasi KI sebesar 0,0454. Dengan melihat nilai mean KI

72

maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik nilai saham yang dimiliki oleh institusi pada Bank Umum Syariah di Indonesia sangat tinggi.

Data rasio ROA nilai terendah (minimum) adalah -0,2013 berasal dari Maybank Syariah pada tahun 2015, sedangkan rasio ROA dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 0,3810 berasal dari Bank Mega Syariah pada tahun 2012. Adapun nilai rata-rata (mean) ROA sebesar 0,02137 dan standar deviasi ROA sebesar 0,07899. Dengan melihat nilai mean rasio ROA maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik nilai rata-rata ROA pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2011-2015 berada di atas 1,25%. Hal ini menunjukkan ROA pada Bank Umum Syariah telah memenuhi peraturan Bank Indonesia yang masuk dalam kategori sehat adalah bank yang memiliki nilai minimal ROA berada diatas 1,25%. Dan dari rentan waktu 2011-2015 menandakan bahwa rasio ROA memiliki kategori cukup sehat.

Data rasio NIM nilai terendah (minimum) adalah 0,0212 berasal dari Bank Victoria Syariah pada tahun 2011, sedangkan rasio NIM dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 0,1533 berasal dari Bank Mega Syariah pada tahun 2011. Adapun nilai rata-rata (mean) NIM sebesar 0,06382 dan standar deviasi NIM sebesar 0,02814. Dengan melihat nilai mean rasio NIM maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik nilai rata-rata NIM pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2011-2015 berada di atas 2%. Hal ini menunjukkan NIM pada Bank Umum Syariah telah memenuhi peraturan Bank Indonesia yang masuk dalam kategori sehat adalah bank yang memiliki

73

nilai minimal NIM di atas 2%. Dan dari rentan waktu 2011-2015 menandakan bahwa rasio NIM memiliki kategori sangat sehat.

Data rasio CAR nilai terendah (minimum) adalah 0,1110 berasal dari Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2012, sedangkan rasio CAR dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 0,7344 berasal dari Maybank Syariah pada tahun 2011. Adapun nilai rata-rata (mean) CAR sebesar 0,24302 dan standar deviasi CAR sebesar 0,15346 . Dengan melihat nilai mean rasio CAR maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik nilai rata-rata CAR pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2011-2015 berada di atas 8%. Hal ini menunjukkan CAR pada Bank Umum Syariah telah memenuhi peraturan Bank Indonesia yang masuk dalam kategori sehat adalah bank yang memiliki nilai minimal CAR sebesar 8%. Dan dari rentan waktu 2011-2015 menandakan bahwa rasio CAR memiliki kategori sangat sehat.

Data pertumbuhan laba nilai terendah (minimum) adalah -0,08939 berasal dari Bank Mega Syariah pada tahun 2014, sedangkan pertumbuhan laba dengan nilai tertinggi (maksimum) adalah 6,7585 berasal dari Bank Victoria Syariah pada tahun 2011. Adapun nilai rata-rata (mean) pertumbuhan laba sebesar 0,62508 dan standar deviasi pertumbuhan laba sebesar 1,41800. Dengan melihat nilai mean variabel pertumbuhan laba Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2011-2015 menunujukkan bahwa Bank Umum Syariah di Indonesia memiliki pertumbuhan laba yang cukup baik.

74

Dokumen terkait