BAB III METODE PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.2 Analisis Deskriptif
Dalam penelitian ini analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, dan jumlah dari data setiap variabelnya yaitu implementasi SAK ETAP (Y), sosialisasi SAK ETAP (X1), tingkat pendidikan pemilik (X2), skala usaha
(X3), umur usaha (X4), dan budaya organisasi (X5).
1. Analisis Deskriptif Implementasi SAK ETAP (Y)
Uji statistik secara deskriptif implementasi SAK ETAP yang menggambarkan rata-rata, standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif Implementasi SAK ETAP (Y) Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance
Y 200 16 112 53,25 27,051 731,766
Valid N (listwise) 200
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan uji statistik deskriptif pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa rata-rata nilai dari implementasi SAK ETAP pada UMKM adalah 53,25 termasuk dalam kriteria rendah. Kriteria ini mengacu pada deskrispi variabel implementasi SAK ETAP yang terdapat dalam Tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4
Deskripsi Implementasi SAK ETAP (Y)
No. Interval F Presentase Kriteria
1. 16 – 29 54 27% Sangat Rendah 2. 30 – 43 30 15% Rendah 3. 44 – 57 31 16% Cukup Rendah 4. 58 – 71 28 14% Sedang 5. 72 – 85 31 16% Cukup Tinggi 6. 86 – 99 17 9% Tinggi 7. 100 – 113 9 5% Sangat Tinggi Jumlah 200 100% - Rata-Rata 53,25
Kriteria Cukup Rendah
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat ditarik kesimpulan bahwa rata-rata implementasi SAK ETAP berada pada kriteria cukup rendah. Tabel di atas juga menunjukkan frekuensi tertinggi yaitu 64 atau sebesar 32% responden mempunyai kriteria implementasi SAK ETAP sangat rendah, sedangkan frekuensi terendah yaitu 15 atau sebasar 8% responden mempunyai kriteria implementasi SAK ETAP sangat tinggi.
2. Analisis Deskriptif Sosialisasi SAK ETAP (X1)
Uji statistik secara deskriptif sosialisasi SAK ETAP yang menggambarkan rata-rata, standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.5
Statistik Deskriptif Sosialisiasi SAK ETAP (X1)
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance
X1 200 6 30 12,05 4,580 20,978
Valid N (listwise) 200
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan uji statistik secara deskriptif pada Tabel 4.5 menunjukkan bahwa rata-rata nilai dari sosialisasi SAK ETAP adalah 12,05 termasuk dalam kriteria jarang. Kriteria ini mengacu pada deskripsi variabel sosialisasi SAK ETAP yang terdapat dalam Tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6
Deskripsi Sosialisasi SAK ETAP (X1)
No. Interval F Presentase Kriteria
1. 6 – 10 84 42% Tidak Pernah 2. 11 – 15 73 37% Jarang 3. 16 – 20 33 17% Kadang-Kadang 4. 21 – 25 9 5% Sering 5. 26 – 30 1 1% Sangat Sering Jumlah 200 100% - Rata-Rata 12,08 Kriteria Jarang
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat ditarik kesimpulan bahwa rata-rata sosialisasi SAK ETAP dalam kriteria jarang. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa frekuensi responden terbanyak menjawab tidak pernah mendapat sosialisasi terkait SAK ETAP yaitu sebanyak 84 atau 42% dari 200 responden.
Sedangkan frekuensi responden paling sedikit menjawab sangat sering yaitu sebanyak 1 atau 1% dari 200 responden.
3. Analisis Deskriptif Tingkat Pendidikan Pemilik (X2)
Uji statistik secara deskriptif tingkat pendidikan pemilik yang menggambarkan rata-rata, standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.7
Statistik Deskriptif Tingkat Pendidikan Pemilik (X2)
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance
X2 200 1 6 3,45 1,189 1,414
Valid N (listwise) 200
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan uji statistik secara deskriptif pada Tabel 4.7 menunjukkan bahwa nilai tertinggi dari tingkat pendidikan pemilik adalah 6 atau tingkat pendidikan S2. Sedangkan nilai terendah adalah 1 atau pendidikan terkahir SD. Untuk lebih jelasnya berikut tabel ditribusi frekuensi variabel tingkat pendidikan pemilik:
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Tingkat Pandidikan Pemilik (X2)
No. Tingkat Pendidikan Skor F Persentase
1. Tidak tamat SD 0 0 0% 2. SD 1 7 4% 3. SMP 2 35 18% 4. SMA 3 79 40% 5. Diploma 4 21 11% 6. S1 5 57 29% 7. S2 6 1 1% Jumlah 200 100% Rata-Rata 3,45
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat ditarik kesimpulan bahwa frekuensi responden terbanyak memiliki tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 79 atau 40% responden dari 200 responden, sedangkan frekuensi paling sedikit yaitu S2 yaitu hanya 1 responden.
4. Analisis Deskriptif Skala Usaha (X3)
Uji statistik secara deskriptif skala usaha yang menggambarkan rata- rata, standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.9
Statistik Deskriptif Skala Usaha (X3)
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance
X3 200 1 74 7,22 12,101 146,441
Valid N (listwise) 200
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan uji statistik secara deskriptif pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai tertinggi dari skala usaha yang dilihat dari jumlah tenaga kerja adalah 74, sedangkan nilai terendah adalah 1. Rata-rata nilai dari skala usaha adalah 7,22. Distribusi Frekuensi skala usaha berdasarkan batasan usaha mikro, kecil, dan menengah menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut:
Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Skala Usaha berdasarkan Batasan UMKM
No Jumlah Tenaga Kerja F Presentase Kriteria
1 1 – 4 118 59% Usaha Mikro
2 5 – 19 68 34% Usaha Kecil
3 20 – 99 14 7% Usaha Menengah
Jumlah 200 100% -
Rata-Rata 7,22 Usaha Kecil
Berdasarkan Tabel 4.10 diketahui bahwa frekuensi responden terbanyak mempunyai tenaga kerja antara 1 sampai 4 orang, tergolong dalam usaha mikro yaitu sebanyak 118 atau 59% dari 200 responden.
5. Analisis Deskriptif Umur Usaha (X4)
Analisis deskriptif variabel umur usaha dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11
Statistik Deskriptif Umur Usaha (X4)
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance
X4 200 1 37 5,82 5,698 32,470
Valid N (listwise) 200
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat diketahui nilai terendah umur usaha adalah 1 tahun, sedangkan nilai tertinggi adalah 37 tahun. Rata-Rata nilai dari umur usaha adalah 5,7. Berikut distribusi frekuensi umur usaha dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12
Distribusi Frekuensi Umur Usaha (X4)
No. Umur Usaha F Presentase
1. 1 – 4 114 57% 2. 5 – 9 58 29% 3. 10 – 14 8 4% 4. 15 – 19 14 7% 5. 20 – 24 2 1% 6. 25 – 29 2 1% 7. 30 – 34 1 1% 8. 35 – 39 1 1% Jumlah 200 100% Rata-Rata 5,7
Berdasarkan Tabel 4.12 dapat diketahui responden terbanyak dalam penelitian ini memiliki umur usaha 1 sampai 4 tahun yaitu sebanyak 114 responden, tergolong usaha yang masih baru berdiri.
6. Analisis Deskriptif Budaya Organisasi (X5)
Uji statistik secara deskriptif yang menggambarkan rata-rata, standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.13
Statistik Deskriptif Budaya Organisasi (X5)
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance
X5 200 45 100 79,43 10,770 115,984
Valid N (listwise) 200
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada Tabel 4.13 menunjukkan bahwa rata-rata nilai dari budaya organisasi adalah 79,43 termasuk dalam kriteria budaya organisasi yang baik. Kriteria ini mengacu pada Tabel 4.14 berikut:
Tabel 4.14
Deskripsi Budaya Organisasi (X5)
No. Interval F Presentase Kriteria
1. 18 – 34 0 0% Tidak Baik 2. 35 – 51 4 3% Kurang Baik 3. 52 – 68 26 14% Cukup Baik 4. 69 – 85 116 63% Baik 5. 86 – 102 54 21% Sangat Baik Jumlah 200 100% - Rata-Rata 75,43 Kriteria Baik
Sumber: Data diolah tahun 2016
Dari Tabel 4.14 dapat ditarik kesimpulan bahwa rata-rata budaya organisasi yaitu 75,43 termasuk dalam kriteria baik. Hal tersebut
menunjukkan bahwa mayoritas UMKM di Provinsi Jawa Tengah mempunyai budaya organisasi yang baik.
4.1.3 Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Ghozali (2011:160), uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Pengujian normalitas dapat dilihat dari grafik Probability P-Plot
sebagai berikut:
Gambar 4.1
Hasil Uji Normalitas Grafik P-Plot
Pada grafik P-Plot terlihat titik-titik distribusi terletak di sekitar garis lurus diagonal, sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebaran implementasi SAK ETAP memenuhi asumsi normalitas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada analisis Kolmogorof-Smirnov sebagai berikut:
Tabel 4.15
Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 200
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 23,29847496 Most Extreme Differences
Absolute ,082
Positive ,082
Negative -,049
Kolmogorov-Smirnov Z 1,162
Asymp. Sig. (2-tailed) ,134
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Sumber: Data diolah tahun 2016
Tabel 4.15 menunjukkan hasil uji normalitas data yang diperoleh melalui uji Kolmogorov-Smirnov sebesar 1,162 dan signifikansinya 0,134 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
2. Uji Multikolinearitas
Model regresi yang baik tidak terjadi korelasi antar variabel bebas. Untuk mendeteksi multikolinearitas di dalam model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan VIF. Apabila tolerance > 0,10 dan VIF < 10 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat multikolinearitas antara variabel bebas dalam model regresi (Ghozali, 2011:106).
Tabel 4.16
Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa
Model Correlations Collinearity Statistics
Zero-order Partial Part Tolerance VIF 1 (Constant) X1 ,249 ,144 ,125 ,886 1,128 X2 ,227 ,159 ,139 ,939 1,064 X3 ,334 ,251 ,223 ,865 1,156 X4 ,082 ,046 ,039 ,883 1,132 X5 ,381 ,299 ,270 ,893 1,120 a. Dependent Variable: Y
Berdasarkan Tabel 4.16 terlihat bahwa semua variabel bebas mempunyai nilai tolerance lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10. Jadi dapat dikatakan bahwa tidak ada multikolinearitas antara variabel bebas pada model regresi. Hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10, yakni soasialiasai (X1) > 0,10, tingkat pendidikan (X2) > 0,10, skala usaha (X3) >
0,10, umur usaha (X4) > 0,10, dan budaya organisasi (X5) > 0,10. Hasil
perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama, tidak ada satu variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10, yakni sosialisasi (X1) < 10, tingkat pendidikan (X2) < 10, skala usaha (X3)
< 10, umur usaha (X4) < 10, dan budaya organisasi (X5) < 10. Jadi dapat
disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi ini.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas. Untuk mengetahui terjadi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan mengamati grafik scatterplot dengan pola titik-titik yang menyebar di atas dan di bawah sumbu Y. Berikut hasil pengolahan menggunakan program SPSS 21:
Gambar 4.2
Hasil Uji Heteroskedastisitas Grafik Scatterplot
Gambar 4.2 telihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terjadi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk mempredikasi implementasi SAK ETAP pada UMKM berdasarkan masukan variabel independen sosialisasi SAK TAP, tingkat pendidikan, skala usaha, umur usaha, dan budaya organisasi.
Analisis dengan grafik plots memiliki kelemahan yang cukup signifikan karena kemungkinan adanya bias dalam pengamatan Gambar 4.2, oleh karena itu diperlukan uji statistik dengan menggunakan uji glejser agar keakuratan pengujian lebih terjamin.
Tabel 4.17 Hasil Uji Glejser
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 8,131 7,114 1,143 ,254 X1 ,023 ,208 ,008 ,111 ,912 X2 -,318 ,778 -,030 -,409 ,683 X3 ,008 ,080 ,008 ,099 ,921 X4 -,262 ,167 -,117 -1,564 ,119 X5 ,172 ,088 ,145 1,948 ,053
a. Dependent Variable: Abs_Res
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan hasil uji glejser pada Tabel 4.17 menunjukkan bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai probabilitas signifikansi di atas 0,05. Hasil ini berarti tidak ada satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen nilai AbRes. Jadi dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas atau dengan kata lain model regresi mengandung homoskedastisitas.
4.1.4 Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh sosialisasi SAK ETAP (X1), tingkat pendidikan pemilik (X2), skala usaha (X3),
umur usaha (X4), dan budaya organisasi (X5) terhadap implementasi SAK ETAP
(Y).
Tabel 4.18
Hasil Analisis Regresi Berganda Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -29,414 13,269 -2,217 ,028 X1 ,785 ,388 ,133 2,023 ,044 X2 3,259 1,451 ,143 2,246 ,026 X3 ,537 ,149 ,240 3,610 ,000 X4 ,199 ,312 ,042 ,637 ,525 X5 ,717 ,164 ,285 4,363 ,000 a. Dependent Variable: Y
Sumber: Data diolah tahun 2016
Berdasarkan hasil uji regresi berganda pada Tabel 4.18, maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Y = -29,414 + 0,785 X1 + 3,259 X2 + 0,537 X3 + 0,199 X4 + 0,717 X5 + e 1. Konstanta sebesar –29,414
Hasil analisis regresi berganda menunjukkan konstanta sebesar –29,414 yang berarti menunjukkan bahwa ketika nilai semua variabel bebas 0 maka besar implementasi SAK ETAP (Y) adalah –29,414 ditambah dengan variance yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas.
2. Koefisien regresi X1 sebesar 0,785
Koefisien regresi X1 sebesar 0,785 menyatakan bahwa apabila setiap
peningkatan variabel sosialisasi SAK ETAP (X1) sebesar satu satuan maka akan
menyebabkan peningkatan atau kenaikan implementasi SAK ETAP sebesar 0,785 satuan dengan asumsi variabel tingkat pendidikan, ukuran usaha, umur usaha, dan budaya organisasi tetap.
3. Koefisien regresi X2 sebesar 3,259
Koefisien regresi X2 sebesar 3,269 menunjukkan bahwa apabila terjadi
kenaikan sebesar satu satuan tingkat pendidikan pemilik (X2), maka akan terjadi
kenaikan implementasi SAK ETAP sebesar 3,259 satuan dengan asumsi variabel sosialisasi, skala usaha, umur usaha, dan budaya organisasi tetap.
4. Koefisien regresi X3 sebesar 0,537
Koefisien regresi X3 sebesar 0,537 menunjukkan bahwa apabila terjadi
kenaikan sebesar satu satuan variabel skala usaha (X3), maka akan terjadi
kenaikan implementasi SAK ETAP sebesar 0,537 satu satuan dengan asumsi variabel sosialisasi, tingkat pendidikan, umur usaha, dan budaya organisasi tetap. 5. Koefisien regresi X4 sebesar 0,199
Koefisien regresi X4 sebesar 0,199 menunjukkan bahwa apabila terjadi
kenaikan sebesar satu satuan umur usaha (X4), maka akan terjadi kenaikan
implementasi SAK ETAP sebesar 0,199 satuan dengan asumsi variabel sosialisasi, tingkat pendidikan, skala usaha, dan budaya organisasi tetap.
6. Koefisien regresi X5 sebesar 0,717
Koefisien regresi X5 sebesar 0,717 menunjukkan bahwa apabila terjadi
kenaikan sebesar satu satuan budaya organisasi (X5), maka akan terjadi kenaikan
implementasi SAK ETAP sebesar 0,717 satuan dengan asumsi variabel sosialisasi, tingkat pendidikan, skala usaha, dan umur usaha tetap.