BAB III METODE PENELITIAN
3.3 Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Terikat (Dependen)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010:61). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah implementasi Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada UMKM. Indikator yang digunakan untuk mengukur variabel implementasi SAK ETAP merujuk dari pedoman Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2009), dan siklus laporan keuangan menurut Priyatno (2009). Berdasarkan pedoman penyusunan laporan keuangan SAK ETAP oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2009) dan siklus laporan keuangan SAK ETAP oleh Priyatno (2009) dikembangkan hingga dihasilkan indikator yang dapat mewakili dan mampu mengukur atau menggambarkan variabel implementasi SAK ETAP. Untuk lebih jelasnya indikator implementasi SAK ETAP disajikan pada Tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1
Indikator Implementasi SAK ETAP
Indikator Item
Siklus akuntansi laporan keuangan SAK ETAP
Mengidentifikasi bukti transaksi penerimaan kas dengan lengkap
Mengidentifikasi bukti transaksi pengeluaran kas dengan lengkap
Mencatat (menjurnal) transaksi ke dalam buku jurnal Memposting jurnal ke buku besar
Indikator Item
Membuat jurnal penyesuaian Menyusun neraca lajur
Membuat jurnal penutup dan pembalik Pencatatan persedian Membuat catatan persediaan dengan lengkap Kelengkapan Laporan
Keuangan
Neraca
Laporan laba/rugi
Laporan perubahan modal/ekuitas Laporan arus kas
Laporan catatan atas laporan keuangan (CALK) Frekuensi Laporan
Keuangan
Mempunyai periode laporan keuangan Kepatuhan terhadap
SAK ETAP
Mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP
Sumber: Priyatno (2009), dan Ikatan Akuntan Indonesia (2009)
Untuk mengukur variabel implementasi SAK ETAP adalah dengan menggunakan skala semantic defferensial. Semantic defferensial yaitu skala yang bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban sangat positifnya terletak di bagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak di bagian kiri garis atau sebaliknya (Sugiyono, 2010:140). Dengan menggunakan skala tersebut, alternatif pilihan jawaban yang disediakan adalah angka 1 sampai 7, angka 1 berarti tidak dilaksanakan sampai dengan angka 7 berarti sepenuhnya dilaksanakan, semakin tinggi angka semakin tinggi tingkat pelaksanaan pencatatan keuangan perusahaan berdasarkan SAK ETAP. Pada variabel ini terdapat 7 pilihan jawaban karena untuk memberikan lebih banyak pilihan jawaban, karena pada variabel implementasi SAK ETAP memerlukan rentang penilaian yang lebih banyak dari dilaksankan sampai sepenuhmya dilaksankan.
3.3.2 Variabel Bebas (Independen)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2010:61). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
1. Sosialisasi SAK ETAP
Sosialisasi SAK ETAP dalam penelitian ini yaitu sosialisasi yang didapatkan oleh pemilik UMKM mengenai SAK ETAP yang merupakan usaha yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait yang dapat memberikan sosialisasi SAK ETAP seperti Dinas Koperasi dan UMKM, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), atau lembaga lainnya. Indikator informasi dan sosialisasi SAK ETAP yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Rudiantoro dan Siregar (2012) yaitu dari sumber-sumber informasi dan sosialisasi SAK ETAP yang dapat diperoleh oleh pemilik UMKM, antara lain:
1) Media, seperti koran, majalah, internet. 2) Seminar atau pelatihan akuntansi.
3) Instansi Pemerintah, seperti: Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, dan atau dinas lainnya.
4) Lembaga Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
5) Pelatihan akuntansi dari Lembaga Pendidikan Tinggi.
6) Pelatihan akuntansi dari organisasi, seperti: Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan atau organisasi lainnya.
Variabel ini diukur menggunakan skala likert 1 sampai 5, nilai 1 untuk jawaban tidak pernah, nilai 2 untuk jarang, nilai 3 untuk kadang-kadang, nilai 4 untuk sering, dan nilai 5 untuk sangat sering.
2. Tingkat Pendidikan Pemilik
Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan formal pemilik, yaitu pendidikan yang diperoleh dibangku sekolah formal antara lain: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Diploma, dan Sarjana. Indikator tingkat pendidikan pemilik pada penelitian ini mengacu pada penelitian Rudiantoro dan Siregar (2012), untuk mengukur indikator tersebut adalah dengan memberikan nilai 0 jika tidak tamat SD, 1 jika pendidikan SD, 2 jika SMP, 3 jika SMA/SMK, 4 jika Diploma, 5 jika S1, dan 6 untuk S2.
3. Skala Usaha
Skala usaha merupakan ukuran yang menunjukkan besar kecilnya sebuah perusahaan yang dapat diukur dari total aktiva, total pendapatan, dan jumlah tenaga kerja yang dimiliki perusahaan. Indikator skala usaha yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Holmes dan Nicholls (1988) yaitu berdasarkan jumlah tenaga kerja yang dimiliki UMKM. Total aktiva dan total pendapatan perusahaan tidak digunakan sebagai indikator karena dikhawatirkan responden tidak mengetahui secara pasti total aktiva yang dimiliki dan total pendapatan perusahaan, sehingga data yang didapatkan kurang akurat. Untuk mengukur variabel skala usaha
menggunakan angka absolut berdasarkan jumlah tenaga yang dimiliki UMKM.
4. Umur Usaha
Umur usaha merupakan lamanya perusahaan berdiri yang dihitung dari tahun perusahaan berdiri. Indikator umur usaha yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Rudiantoro dan Siregar (2012) yaitu umur perusahaan diukur berdasarkan waktu (dalam tahun) sejak pendirian perusahaan sampai dengan penelitian ini dilakukan. Untuk mengukur variabel umur usaha adalah dengan menggunakan angka absolut dari umur usaha yang dihitung dari perusahaan tersebut berdiri sampai penelitian ini dilakukan. 5. Budaya Organisasi
Budaya organisasi adalah nilai-nilai, prinsip-prinsip, tradisi, dan cara- cara bekerja yang dianut bersama oleh para anggota organisasi dan mempengaruhi cara mereka bertindak (Robbins dan Coulter, 2010:63). Indikator untuk mengukur budaya organisasi yang digunakan adalah berpedoman pada 7 (tujuh) dimensi kebudayaan menurut Robbins dan Coulter (2010) yang secara keseluruhan menangkap hakikat budaya organisasi. Untuk mengukur variabel budaya organisasi dengan menggunakan skala likert 1 sampai 5, dengan alternatif jawaban sangat tidak setuju hingga sangat setuju, angka 1 untuk jawaban sangat tidak setuju yang berarti mempunyai budaya organisasi rendah, hingga angka 5 untuk jawaban sangat setuju yang berarti mempunyai budaya organisasi sangat baik. Indikator yang digunakan untuk mengukur variabel budaya organisasi antara lain:
a. Inovasi dan Pengambilan Risiko b. Perhatian terhadap detail
c. Orientasi hasil d. Orientasi manusia e. Orientasi tim f. Agresivitas g. Stabilitas