• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.4 Metode dan Prosedur Analisis

4.4.1 Analisis Deskriptif mengenai Persepsi Pendaki terhadap

Analisis deskriptif adalah jenis analisis data yang dimaksudkan untuk mengungkapkan keadaan atau karakteristik data sampel. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik statistik deskriptif seperti tabel frekuensi, grafik, ukuran pemusatan atau ukuran penyebaran (Muljono 2012).

Persepsi pendaki terhadap kualitas lingkungan jalur pendakian Cemoro Kandang dianalisis secara deskriptif. Hal ini dilakukan untuk mengetahui persepsi pendaki terhadap kualitas lingkungan jalur pendakian Cemoro Kandang. Persepsi yang dianalisis antara lain terkait keadaan vegetasi, mata air, udara, dan kebersihan lingkungan sekitar jalur pendakian Cemoro Kandang. Persepsi tentang kebakaran hutan karena aktivitas pendakian, pengetahuan pendaki tentang akibat penebangan pohon di sekitar jalur pendakian, serta persepsi terhadap perilaku membuang sampah di sekitar jalur pendakian juga dianalisis. Analisis deskiptif tentang persepsi pada penelitian ini menggunakan Skala Likert.

Menurut Riduwan dan Sunarto (2007), Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Pada penelitian ini digunakan Skala Likert untuk mengetahui persepsi pendaki pendaki terhadap kualitas lingkungan di sekitar jalur

pendakian seperti kualitas vegetasi, mata air, udara, dan kondisi jalur pendakian yang kotor karena sampah. Skala Likert juga digunakan untuk mengetahui persepsi pendaki terhadap aktivitas pendakian yang dapat mengancam kelestarian lingkungan.

Persepsi pendaki dengan skala Likert diketahui dengan memilih alternatif

jawaban seperti “Sangat Setuju (SS)”, “Setuju (S)”, “Tidak Setuju (TS)” dan “Sangat Tidak Setuju (STS)” terhadap pernyataan yang diajukan. Alternatif

jawaban Alternatif jawaban Sangat Setuju (SS) memiliki poin 4, Setuju (S) memiliki poin 3, Tidak Setuju (TS) memiliki poin 2 dan Sangat Tidak Setuju (STS) memiliki poin 1. Masing-masing jumlah responden yang memilih alternatif jawaban dikalikan dengan masing-masing poin dari alternatif jawaban tersebut, kemudian hasilnya dijumlahkan untuk mengetahui kriteria interpretasi skor dari pernyataan yang ditanyakan kepada responden.

4.4.2 Analisis Willingness to Pay (WTP) maksimum pendaki terhadap pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

Menurut Fauzi (2014), analisis Willingness to Pay (WTP) pada Contingent Valuation Method (CVM) digunakan untuk menanyakan seberapa besar WTP seseorang dalam menerima perubahan kualitas dan kuantitas dari layanan barang dan jasa sumber daya alam dan lingkungan. Maka dari itu, pada penelitian ini analisis WTP digunakan untuk mengetahui kemampuan membayar maksimum pendaki terhadap upaya pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang. Kesediaan membayar (WTP) maksimum pendaki terhadap pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang menggambarkan seberapa besar pendaki menginginkankan perubahan kualitas lingkungan jalur pendakian Cemoro Kandang yang lebih baik, sehingga pendaki dapat menikmati keindahan alam yang ditawarkan di Wana Wisata Puncak Lawu secara nyaman.

Menurut Fauzi (2014), CVM adalah metode analisis yang mengandalkan teknik survei, sehingga pada penelitian ini dibutuhkan kontruksi skenario hipotetik yang akan sangat berpengaruh kepada nilai WTP yang diduga. Menurut Fauzi (2014), kontruksi skenario hipotetik juga akan sangat bergantung dari

konteks yang dianalisis. Jenis pertanyaan dan skenario yang diajukan juga sangat berpengaruh terhadap outcome yang akan dihasilkan.

Skenario hipotetik pada penelitian ini dibentuk berdasarkan penurunan kualitas lingkungan dan ancaman terhadap kelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang Wana Wisata Puncak Lawu. Skenario hipotetik pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Wana Wisata Puncak Lawu mengandalkan kualitas lingkungan dan kelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang sebagai daya tarik wisata. Saat ini kualitas lingkungan jalur pendakian Cemoro Kandang mengalami penurunan. Kelestarian jalur pendakian juga terancam. Banyaknya sampah yang menumpuk di sekitar jalur pendakian mengganggu kenyamanan pendaki di jalur pendakian Cemoro Kandang. Kebakaran hutan yang disebabkan oleh kelalaian pendaki dalam mematikan sisa api unggun dan kecerobohan dalam membuang puntung rokok berpotensi menyebabkan kebakaran hutan di sekitar jalur pendakian. Penebangan pohon untuk api unggun juga mengancam kelestarian vegetasi dan ekosistem di sekitar jalur pendakian Cemoro Kandang. Masalah-masalah tersebut menyebabkan penurunan kualitas dan ancaman bagi kelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang yang akan berdampak pada hilangnya potensi wisata di Wana Wisata Puncak Lawu. Hilangnya potensi tersebut juga berdampak kepada tidak tercapainya keberlanjutan wisata di Wana Wisata Puncak Lawu. Untuk mengatasi hal tersebut, pengelola Wana Wisata Puncak Lawu berencana melakukan upaya pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang yang bertujuan untuk mengurangi sampah yang ada di jalur pendakian, menjaga kelestarian vegetasi dan ekosistem dari kebakaran dan penebangan pohon, serta melakukan perawatan jalur pendakian dan pengembangan sarana yang mendukung kelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang. Pengelola Wana Wisata Puncak Lawu sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian jalur pendakian memerlukan partisipasi dari pendaki yang berperan sebagai konsumen jasa lingkungan di Wana Wisata Puncak Lawu. Diperlukan kesediaan membayar pendaki terhadap pelestarian jalur pendakian.

Setelah skenario hipotetik diajukan kepada responden, tahapan beriktunya adalah metode elisitasi. Metode elisitasi adalah teknik mengekstrak informasi

kesanggupan membayar dari responden dengan menanyakan besaran pembayaran melalui format tertentu (Fauzi 2014). Pada penelitian ini akan menggunakan format single bounded dichotomous. Menurut Fauzi (2014), format elisitasi single-bounded (referendum) adalah metode yang paling popular untuk analisis CVM. Metode dilakukan dengan menanyakan kepada responden sejumlah nilai penawaran (bid) tertentu yang diajukan sebagai nilai kesediaan membayar untuk pelestarian lingkungan jalur pendakian, sehingga akan didapatkan jawaban “ya” atau “tidak” terhadap nilai bid. Pada penelitian ini digunakan empat bid yang ditanyakan kepada responden. Tiap bid ditanyakan masing-masing kepada 20 responden. Berikut bid yang ditawarkan :

1. Bid untuk WTP sebesar Rp 2 500.00 2. Bid untuk WTP sebesar Rp 5 000.00 3. Bid untuk WTP sebesar Rp 10 000.00 4. Bid untuk WTP sebesar Rp 15 000.00

Besarnya bid diperoleh berdasarkan wawancara dan diskusi dengan pihak pengelola, pendaki, dan beberapa pakar. Menurut Fauzi (2014), penentuan tarif (pricing) terkait dengan tiket masuk suatu kawasan wisata alam, semestinya bukan hanya didasarkan pada hitungan retribusi semata, namun juga harus

mempertimbangkan “harga” dari jasa lingkungan yang dihasilkan dari kawasan

tersebut. Berdasarkan studi literatur, wawancara dan diskusi, maka ditentukan batas bawah nilai penawaran (bid) yaitu sebesar Rp 2 500.00 dan batas atas bid sebesar Rp 15 000.00. Menurut Fauzi (2014), penentuan retribusi pada tempat wisata seringkali tidak sesuai dengan nilai objek wisata yang sebenarnya, sehingga pada penentuan bid pada penelitian ini dilakukan studi literatur, diskusi dan wawancara terlebih dahulu kepada pengelola, pendaki ,dan beberapa pakar untuk menghindari underpricing atau overpricing. Gambar 3 menunjukkan struktur elisitasi untuk single bounded dichotomous choice pada penelititan ini.

Apakah anda sanggup membayar ?

n1 n2 n3 n4

Rp 2 500.00 Rp 5 000.00 Rp 10 000.00 Rp 15 000.00

Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Gambar 3 Struktur elisitasi single bounded dichotomous choice

Pada Gambar 3 tersebut n1 sampai n4 menggambarkan jumlah sampel pada setiap kelompok bid dari Rp 2 500.00 sampai Rp 15 000.00, di mana setiap kelompok sampel diambil secara purposive. Jumlah sampel pada tiap kelompok yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah sebesar 20 responden tiap kelompoknya, sehingga total sampel keseluruhan adalah 80 responden.

Perhitungan nilai Willingness to Pay (WTP) pada penelitian ini dengan menggunakan model Logit. Pengolahan model Logit dilakukan menggunakan software Minitab 15 dengan pengolahan regresi Logistik dimana variabel respon adalah keputusan responden (Ya atau Tidak) pada setiap bid yang ditawarkan kepada tiap responden. Dengan pengolahan regresi logistik tersebut, maka kemudian didapatkan model persamaan Logit. Menurut Fauzi (2014), pada model logit nilai WTP dapat diduga dengan koefisien yang diperoleh dari logit yakni α =

β / σ (vektor koefisien yang berhubungan dengan variabel bebas) dan δ = -1 / σ, (vektor koefisien yang berhubungan dengan variable bid). Nilai harapan rataan WTP dapat diduga dari kedua koefisien tersebut, yaitu :

... (10) Menurut Fauzi (2014), selain dengan metode ekonometrik, perhitungan nilai WTP dapat dilakukan dengan pendekatan non-parametrik Turnbull. Pendekatan metode Turnbull mengandalkan distribusi jawaban “tidak” dari responden

terhadap respon pertanyaan lelang (bid). Dengan mengetahui distribusi responden

yang menjawab “tidak”, maka batas bawah (lower bound WTP) dari WTP dan nilai rataan WTP. Nilai lower bound WTP pada metode Turnbull dihitung dengan formula sebagai berikut:

∑ ... (11)

Pada perhitungan rataan WTP dengan metode Turnbull, distribusi jawaban

“tidak” dapat dikategorikan pada monotonically increasing atau non- monotonically increasing. Jika distribusi jawaban “tidak” menunjukkan peningkatan yang monotonik, maka perhitungan WTP dapat dilakukan dengan formula untuk mencari nilai lower bound WTP pada metode Turnbull, namun jika tidak menunjukkan peningkatan yang monotonik maka dilakukan langkah- langkah untuk menggabungkan (pooled) nilai lelang sehingga nilai mean WTP dapat dihitung berdasarkan formula yang sama untuk mencari nilai lower bound WTP pada metode Turnbull (Fauzi 2104).

Menurut Fauzi (2014), dengan metode non-parametrik Turnbull terdapat perhitungan variance (keragaman) yang digunakan untuk menghitung seberapa besar tingkat kepercayaan kita terhadap pendugaan nilai rataan WTP. Menurut Haab dan McConnel (2012) dalam Fauzi (2014), untuk menghitung keragaman (variance) dari WTP dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

( ) ∑

( ) ... (12)

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP maksimum pendaki terhadap pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang juga diketahui dengan analisis regresi logistik menggunakan software Minitab 15 Faktor-faktor tersebut merupakan variabel yang dimasukkan ke dalam model logit. Berikut variabel yang akan dimasukkan ke dalam model :

1. Nilai penawaran (bid)

Variabel ini dianggap penting karena besarnya nilai penawaran (bid)

terhadap bid yang ditawarkan. Semakin tinggi nilai bid maka peluang pendaki

menjawab “tidak” adalah semakin tinggi. 2. Pendapatan

Variabel pendapatan akan mempengaruhi kesediaan membayar maksimum (WTP) pendaki. Semakin tinggi pendapatan pendaki maka semakin tinggi peluang menjawab “ya” terhadap kesediaan membayar.

3. Biaya kunjungan

Variabel biaya kunjungan akan mempengaruhi kesediaan membayar (WTP) maksimum pendaki. Semakin rendah biaya kunjungan yang dikeluarkan maka semakin tinggi peluang pendaki menjawab “ya” terhadap kesediaan membayar. Kesediaan membayar (WTP) maksimum akan menambah total biaya yang dikeluarkan pendaki untuk melakukan kunjungan ke tempat wisata.

4. Persepsi kualitas lingkungan

Variabel persepsi kualitas lingkungan yaitu persepsi pendaki terhadap kualitas lingkungan di jalur pendakian Cemoro Kandang. Pendaki dengan persepsi lingkungan “baik” adalah pendaki yang menganggap kualitas lingkungan di jalur pendakian Cemoro Kandang masih baik, sedangkan pendaki dengan persepsi kualitas lingkungan “kurang baik” adalah pendaki yang menganggap kualitas lingkungan di jalur pendakian Cemoro Kandang sudah mulai tercemar. Variabel persepsi kualitas lingkungan akan mempengaruhi kesediaan membayar (WTP) maksimum pendaki terhadap pelestarian lingkungan jalur pendakian Cemoro Kandang. Pendaki yang memiliki persepsi lingkungan “baik” maka semakin besar peluang untuk

menjawab “tidak” terhadap kesediaan membayar.

Pada penelitian ini digunakan analisis regresi logistik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar (WTP) maksimum pendaki terhadap pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang. Variabel respon pada penelitian ini adalah peluang kejadian untuk menjawab “ya” atau “tidak” terhadap kesediaan membayar (WTP) pada nilai penawaran (bid) yang ditawarkan, sedangkan variabel penjelas pada penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar (WTP) pendaki terhadap pelestarian

jalur pendakian Cemoro Kandang. Persamaan regresi logit pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

... (13)

Keterangan :

: Peluang pendaki bersedia membayar “ya” atau “tidak” 1 = Jawaban “Ya”

0 = Jawaban “Tidak” : Intersep

: Koefisien regresi

: Nilai penawaran atau bid (rupiah/pendakian) : Pendapatan (rupiah/bulan)

: Biaya kunjungan (rupiah)

: Persepsi pendaki terhadap kualitas lingkungan 1 = persepsi pendaki untuk kualitas lingkungan “baik”

0 = persepsi pendaki untuk kualitas lingkungan “kurang baik”

Variabel-variabel peubah diatas diduga berpengaruh nyata terhadap kesediaan membayar (WTP) pendaki untuk pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang. Variabel BID, BKU, dan PER diduga berpengaruh negatif terhadap kesediaan membayar (WTP) pendaki, sedangkan variabel PDP diduga berpengaruh positif terhadap kesediaan membayar (WTP) pendaki untuk pelestarian jalur pendakian Cemoro Kandang.

Dokumen terkait