• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

4.4.2 Analisis Deskriptif

[ ]

48 5 10 * 1 10 * 25 = −

sehingga diperoleh pembagian kelas sikap (Ao) total sebagai berikut: 10 - 58 = Sangat negatif 59 – 106 = Negatif 107 – 154 = Netral 155 – 202 = Positif 203 – 250 = Sangat positif 4.4.2 Analisis Deskriptif

Nazir (1988) menyatakan bahwa metode analisis deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serat hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Penelitian ini, data dan informasi dari kuisoner diolah dan disajikan dalam bentuk tabulasi deskriptif. Tabulasi deskriptif merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui karakteristik konsumen dan proses pengambilan keputusan pembelian konsumen terhadap minuman lidah buaya Kavera.

4.4.3 Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian minuman lidah buaya Kavera. Regresi berganda dapat meramalkan bagaimana keadaan (naik atau turunnya) variabel

37

terikat (Y) dengan variabel-variabel bebas (X) sebagai faktor prediktor dinaikkan atau diturunkan nilainya. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model kuadrat terkecil biasa atau OLS (ordinary least square). Model analisis regresi dapat digunakan jika jumlah variabel bebasnya minimal dua variabel. Hasil analisis dapat menunjukkan korelasi antara variabel dependen (Y) dengan variabel-variabel bebas (X) yang telah ditentukan.

Volume pembelian minuman lidah buaya Kavera dalam satu bulan merupakan variabel dependen (Y), sedangkan variebel bebas yang diduga mempengaruhi keputusan pembelian minuman lidah buaya Kavera berjumlah delapan variabel, yaitu jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, kemudahan memperoleh, cara pembelian dan pengetahuan tentang Kavera. Masing-masing variabel bebas, dan volume pembelian minuman lidah buaya Kavera yang memiliki hubungan akan menghasilkan nilai positif atau negatif. Hubungan X dan Y dikatakan positif apabila kenaikan X diikuti oleh kenaikan Y, dan sebaliknya hubungan X dan Y dikatakan negatif jika kenaikan X tidak diikuti oleh kenaikan Y.

Model persamaan regresi linier berganda dapat menjelaskan berapa besarnya koefisien korelasi dan koefisien determinasi, sehingga dapat diketahui besarnya hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh X terhadap Y, maka perlu ditentukan persamaan garis regresi.

38

Bentuk persamaan garis regresi dalam penelitian ini adalah: Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4... + β8 X8 + e

dimana:

Y = Volume pembelian Kavera dalam sebulan

α = intersep

β = koefisien yang akan diestimasi

X1 = jenis kelamin (D=0 untuk laki-laki; D=1 untuk perempuan) X2 = jumlah anggota keluarga (orang)

X3 = status perkawinan (D=0 untuk belum menikah; D=1 untuk menikah) X4 = pekerjaan

X5 = pendidikan

X6 = kemudahan memperoleh (D=0 untuk mudah memperoleh; D=1 untuk sulit memperoleh)

X7 = cara pembelian (D=0 untuk mendadak/tergantung situasi; D=1 untuk terencana)

X8 = pengetahuan tentang Kavera (D=0 untuk tidak mengetahui manfaat; D=1 untuk mengetahui manfaat Kavera)

e = error

Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis berguna untuk memerikas atau menguji apakah koefisien regresi yang didapat signifikan atau berbeda nyata. Maksud dari signifikansi adalah suatu nilai koefisien regresi yang secara statistik tidak sama dengan nol. Jika koefisien sama dengan nol, berarti dapat dikatakan bahwa tidak cukup bukti untuk menyatakan variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat. Pengujian hipotesis secara keseluruhan dilakukan untuk melihat pengaruh variabel-variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

Pada pengujian ini beberapa kriteria pengujian statistik yang digunakan untuk mengevaluasi apakah model yang digunakan sudah baik atau belum adalah koefisien determinasi, uji F dan uji t.

39

1. Koefisien Determinasi (R-Sq)

Koefisien determinasi (R2) adalah nilai yang paling penting karena koefisien tersebut menggambarkan sebarapa jauh variabilitas Y dipengaruhi oleh X. Semakin besar koefisien determinasi, maka model semakin baik.

2. Uji F

Uji F digunakan untuk melihat apakah variabel penjelas secara bersama-sama berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen.

a. Hipotesa H0 = βi = 0

H1 = nilai βi yang tidak sama dengan nol

b. Uji Statistik

Nilai Fhitung diperoleh dengan rumus =

) /( ) 1 ( ) 1 /( 2 2 k n R k R − − −

Dimana: R2 = jumlah kuadrat regresi n = jumlah sampel

(1-R2) = jumlah kuadrat sisa k = jumlah parameter c. Kriteria Uji

Apabila: Fhitung > Ftabel maka tolak H0 Fhitung < Ftabel maka terima H0 d. Kesimpulan

3. Uji t

Uji t merupakan suatu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah koefisien regresi signifikan atau tidak.

a. Hipotesa H0 : bi = 0 H1: bi ≠ 0

40 b. Uji Statistik thitung = ) ( i i S β β

dimana: βi = koefisien regresi suatu peubah bebas S(βi) = standar deviasi

c. Kriteria Uji

. Pengujian terhadap hipotesis ini mengikuti aturan pengujian yang telah ditentukan. Pada α = 0,05 variabel bebas dinyatakan memiliki pengaruh nyata

terhadap variabel terikat apabila nilai thitung > nilai ttabel (tolak H0). Sebaliknya α =

0,05 variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jika nilai thitung < nilai ttabel (terima H0).

Langkah berikutnya adalah mencari koefisien korelasi dengan membuat tabel frekuensi dari variabel X dan Y agar perhitungan lebih mudah karena data yang diperoleh adalah data kelompok. Masing-masing data dimasukkan sesuai kelompok yang telah ditentukan. Hasil pertama yang diharapkan adalah nilai Y sama dengan rata-rata dari nilai Y secara keseluruhan yang bisa disimbolkan dengan Y . Akan tetapi, jika nilai Y tidak sama dengan nilai Y maka terjadi penyimpangan total yang harus dijelaskan.

Penyimpangan yang terjelaskan R2 =

Penyimpangan total

Pada regresi berganda dapat terjadi multikolinieritas antara variabel-variabel bebas yang diteliti. Multikolonieritas dapat dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation factor) yang dimiliki masing-masing variabel bebas. Apabila nilai VIF lebih besar dari 10 maka akan terjadi multikolinieritas dan sebaliknya jika nilai VIF lebih kecil dari 10 maka tidak terjadi multikolinieritas.

41

Pada analisis regresi berganda juga perlu dilihat apakah terjadi otokorelasi antar data yang terdapat pada suatu variabel. Otokorelasi dapat diuji dengan menggunakan uji Durbin Watson (DW), dengan ketentuan apabila nilai DW 1,65 < DW < 2,5 berarti tidak ada autokorelasi.

4.4.4 Analisis Sikap Multiatribut Fishbein

Analisis Fishbein merupakan model multiatribut yang paling terkenal. Engel et al (1994) menegaskan bahwa hasil penelitian analisis Fishbein merupakan suatu gambaran preferensi konsumen yang berupa sikap, persepsi dan penilaian suka atau tidak suka serta penilaian positif atau negatif dari produk minuman lidah buaya Kavera. Model Fishbein dapat digambarkan secara simbolis sebagai berikut : Ao =

= n i1 bi ei dimana:

Ao = Sikap terhadap objek.

bi = Kekuatan kepercayaan bahwa objek memiliki atribut i. ei = Evaluasi mengenai atribut i.

n = Jumlah atribut yang menonjol.

Penilaian dengan analisis Fishbein ini diambil dari perhitungan rataan atribut yang dipilih masing-masing responden, lalu diformulasikan ke dalam metode Fishbein. Hasilnya berupa nilai dari variabel-variabel Fishbein (A0, ei, bi) yang ditampilkan dalam suatu tabel untuk setiap kelompok responden. Variabel-variabel Fishbein tersebut adalah:

42

1. Variabel ei menggambarkan evaluasi atribut minuman lidah buaya Kavera yang diukur secara khas pada sebuah skala evaluasi 5 angka yang berjajar dari sangat penting (5), penting (4), kurang penting (3), tidak penting (2), hingga sangat tidak penting (1).

Contoh:

Minuman lidah buaya Kavera mempunyai rasa yang manis Sangat penting __ : __ : __: __:__ sangat tidak penting 5 4 3 2 1

2. Variabel bi menunjukkan seberapa kuat konsumen percaya bahwa minuman lidah buaya Kavera yang diteliti memiliki atribut yang diberikan. Atribut yang digunakan untuk komponen bi harus sama dengan atribut yang digunakan untuk menghitung komponen ei. Skala pengukuran bi juga sama dengan ei yaitu berkisar dari skor 5 hingga skor minimum 1, namun variabel penilaian berbeda.

Contoh:

Minuman lidah buaya Kavera rasanya manis

Sangat manis __ : __ : __: __:__ sangat tidak manis 5 4 3 2 1

3. Variabel A0 menunjukkan penilaian sikap responden terhadap atribut minuman lidah buaya Kavera yang merupakan hasil perkalian setiap skor kepercayaan (bi) dengan skor evaluasi (ei) atributnya.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

5.1 Gambaran Umum Kota Depok

Kota Depok awalnya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bogor. Mengingat perkembangan Kota Depok yang cukup besar, Kota Depok dengan Peraturan Pemerintah No 43 tahun 1981 ditetapkan menjadi kota administratif meliputi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Beji, Pancoran Mas, dan Kecamatan Sukmajaya. Kota administratif Depok letaknya sangat strategis ditinjau dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan dan keamanan. Wilayah ini berbatasan langsung dengan wilayah daerah khusus Ibukota Jakarta, dan merupakan wilayah penyangga untuk meringankan tekanan perkembangan penduduk daerah khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara, yang diarahkan untuk pola pemukiman dan penyebaran kesempatan kerja secara lebih merata sebagaimana dimaksud dalam Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang pengembangan wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi). Dalam perkembangannya selain sebagai pusat pemukiman kota Depok telah tumbuh pula sebagai kota perdagangan, jasa, dan pendidikan.

Secara geografis Depok terletak pada koordinat 60 Lintang Selatan dan 1060 Bujur Timur. Kota Depok sebagai salah satu wilayah termuda di Jawa Barat mempunyai luas wilayah sekitar 200,29 km2. Wilayah Depok berbatasan dengan tiga Kabupaten dan satu Propinsi. Secara lengkap wilayah ini mempunyai batas-batas sebagai berikut:

44

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang dan wilayah daerah khusus Ibukota Jakarta.

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi dan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor.

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor.

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor.

Ibukota Depok sebagai pusat pemerintahan berkedudukan di Kecamatan Pancoran Mas. Tahun 2004 kota Depok yang terdiri dari enam Kecamatan (Sawangan, Pancoran Mas, Sukmajaya, Cimanggis, Beji, dan Limo). Sampai dengan Tahun 2006 Kota Depok mempunyai dan 63 Kelurahan memiliki 818 RW dan 4.494 RT. Jumlah penduduk Kota Depok tahun 2006 adalah 1.420.480 jiwa. Dimana jumlah penduduk laki-laki 719.969 jiwa dan penduduk perempuan sekitar 700.511 jiwa.

5.2 Gambaran Umum Perusahaan 5.2.1 PT Kavera Biotech

PT Kavera Biotech didirikan pada tahun 2004 di Depok. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri minuman. Produk yang diproduksi adalah minuman yang terbuat dari lidah buaya dengan merek dagang Kavera. Tempat produksi minuman lidah buaya ini terletak di lingkungan kampus Universitas Indonesia yaitu di Laboratorium Parangtopo Kampus Baru UI Depok. Pada awalnya laboratorium ini merupakan laboratorium yang digunakan oleh mahasiswa fisika sebagai tempat praktikum. Tapi tempat tersebut sudah lama

45

tidak digunakan sehingga pendiri PT. Kavera Biotech menggunakan tempat tersebut untuk dijadikan kantor pusat PT. Kavera Biotech dan tempat produksi minuman lidah buaya Kavera.

Minuman lidah buaya Kavera diproduksi dalam skala rumahtangga, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak lima orang. Para karyawan tersebut bekerja dari hari senin sampai dengan hari sabtu, dengan jam kerja mulai dari jam 08.00-17.00 WIB sedangkan hari sabtu jam kerja mulai dari 08.00-15.00 WIB.

Minuman lidah buaya Kavera diproduksi dalam dua bentuk yaitu nata dan jus lidah buaya. Kemasan minuman lidah buaya Kavera dikemas ke dalam bentuk botol atau gelas. Harga jual persatuan untuk kemasan gelas adalah Rp 2.500,- sedangkan untuk kemasan botol harganya Rp 5.000,-.

5.2.2 Proses Produksi Minuman Lidah Buaya Kavera

Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan minuman ini adalah lidah buaya. Proses produksi minuman lidah buaya Kavera sangat mudah dan sederhana. Langkah pertama yaitu lidah buaya terlebih dahulu dikupas kulitnya dan daging lidah buaya dibersihkan atau dicuci dengan air agar getah atau lendirnya hilang. Langkah kedua daging lidah buaya yang telah dibersihkan tadi dipotong-potong dalam bentuk dadu atau cacah dengan alat pemotong.

Langkah ketiga daging yang telah dipotong direndam dengan air garam selama satu malam agar dagingnya terasa lebih kenyal, setelah direndam daging lidah buaya tersebut dibersihkan lagi kemudian direbus. Selanjutnya air gula direbus hingga mendidih kemudian didinginkan dan ditambahkan dengan aroma leci.

46

Langkah keempat daging lidah buaya yang sudah direbus di letakkan kedalam botol dan ke dalam gelas, setelah itu ditambahkan air yang telah diberi aroma leci. Langkah terakhir, botol-botol atau gelas tadi disterilisasi pada suhu 90-120 0C selama kurang lebih 15 menit. Proses sterilisasi selesai, botol/gelas yang berisi minuman lidah buaya didinginkan dan diberi label kemudian siap dipasarkan. Proses pembuatan minuman lidah buaya Kavera dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Skema Pembuatan Minuman Lidah Buaya Kavera (PT Kavera Biotech, 2008)

Tanaman lidah buaya

Pencucian kedua Dibersihkan dengan air bersih

Dipanen

direbus

diletakkan dibotol/gelas dan beri air gula

disterilisasi

pelabelan Daging lidah buaya dipotong

Kulit lidah buaya di kupas

Pencucian pertama

Dibersihkan + direndam dengan air garam

Air direbus + air + aroma leci

47

5.3 Karakteristik Responden

Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 70 orang yang merupakan konsumen minuman lidah buaya Kavera. Responden yang diambil adalah konsumen yang pernah mengkonsumsi minuman lidah buaya Kavera dan telah mengkonsumsi produk tersebut minimal tiga kali. Karakteristik umum responden minuman lidah buaya Kavera digambarkan oleh jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan dan status pernikahan.

a. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian, jumlah responden minuman lidah buaya Kavera lebih banyak dikonsumsi oleh responden yang berjenis kelamin perempuan. Jumlah responden perempuan sebanyak 47 orang atau 67,14 persen, sedangkan jumlah responden laki-laki sebanyak 23 orang atau 32,86 persen. Responden yang mengkonsumsi Kavera sebagian besar adalah perempuan, hal ini dikarenakan pihak perempuan merupakan pengambil keputusan utama dalam suatu keluarga. Sebaran jenis kelamin responden produk Kavera dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)

Perempuan 47 67,14

Laki-laki 23 32,86

Total 70 100,00

b. Usia

Usia responden berdasarkan hasil penelitian sangat beragam, mulai dari usia 18 tahun hingga 60 tahun. Pada Tabel 6 dapat dilihat, bahwa responden yang banyak mengkonsumsi minuman lidah buaya Kavera adalah responden yang

48

berada pada selang usia antara 21-30 tahun atau sebanyak 30 persen. Jumlah responden pada usia ≤20 tahun sebanyak 18 orang, kisaran usia 31-40 sebanyak

14 orang dan usia >40 sebanyak 17 orang. Dari data tersebut menunjukkan bahwa pada semua selang usia memiliki nilai persentase yang tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa minuman lidah buaya Kavera bisa dikonsumsi oleh semua jenis usia mulai dari remaja, dewasa hingga orang tua karena minuman tersebut mengandung banyak manfaat.

Tabel 6. Sebaran Responden Berdasarkan Usia

Usia Jumlah (orang) Persentase (%)

≤20 18 25,71 21-30 21 30,00 31-40 14 20,00 >40 17 24,29 Total 70 100,00 c. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan terakhir yang telah ditamatkan. Pendidikan responden dalam penelitian ini beragam, dari responden yang berpendidikan rendah hingga tinggi.

Tabel 7. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)

SD 1 1,43 SLTP 1 1,43 SLTA 38 54,28 Diploma(D3) 6 8,57 Sarjana(S1) 18 25,71 Pascasarjana 6 8,57 Total 70 100,00

49

Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa responden yang berpendidikan rendah yaitu SD dan SLTP masing-masing hanya satu orang. Responden minuman lidah buaya Kavera didominasi oleh SLTA sebanyak 54,28 persen, selanjutnya Sarjana sebanyak 25,71 persen dan sebesar 8,57 persen dimiliki oleh Diploma dan Pascasarjana. Pendidikan terakhir konsumen yang mengkonsumsi minuman lidah buaya Kavera terbanyak adalah SLTA, dimana kebanyakan responden tersebut sedang melanjutkan pendidikan kejenjang universitas yaitu sebagai mahasiswa. Kasali (2001) menjelaskan bahwa pendidikan yang berhasil diselesaikan konsumen bisa menentukan pendapatan dan kelas sosial seseorang. Selain itu, pendidikan juga menentukan tingkat intelektualitas seseorang. Pada gilirannya,tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang dalam pemilihan barang yang dikonsumsinya. Selain itu mahasiswa lebih banyak mengetahui informasi tentang Kavera, karena Kavera diproduksi dalam lingkugan kampus.

d. Pekerjaan

Pekerjaan responden dalam penelitian cukup beragam seperti yang digambarkan pada Tabel 8. Jumlah responden dalam penelitian ini lebih banyak ditemukan pada mahasiswa yaitu sebanyak 40 persen. Minuman lidah buaya Kavera merupakan produk yang diproduksi di dalam lingkungan kampus (Universitas Indonesia), sehingga mahasiswa lebih mengetahui informasi mengenai produk tersebut. Persentase terkecil ditempati oleh ibu rumahtangga yaitu sebesar 7,14 persen, hal ini dikarenakan produk tersebut hanya dijual pada tempat-tempat tertentu sehingga produk minuman ini belum bisa terjangkau atau diketahui oleh masyarakat luas khususnya ibu rumahtangga.

50

Tabel 8. Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Pekerjaan Jumlah (orang) Persentase (%)

Mahasiswa 28 40,00

Pegawai Negeri(PNS) 12 17,14

Pegawai Swasta 17 24,29

Wiraswasta/Penguasaha 8 11,43

Ibu Rumah Tangga 5 7,14

TOTAL 70 100,00

e. Tingkat Pendapatan

Jumlah responden kebanyakan adalah mahasiswa sehingga tingkat pendapatan lebih didominasi pada tingkat pendapatan kurang dari Rp.1.000.000,- sebesar 41,43 persen. Tingkat pendapatan dengan selang Rp.1.000.000-Rp 2.000.000 dan selang Rp. 2.000.001-Rp 5.00.000 masing-masing adalah 18 orang atau sebesar 25,71 persen, sedangkan tingkat pendapatan lebih dari Rp. 5.000.000 adalah berjumlah 5 orang atau sebesar 7,14 persen. Data tingkat pendapatan responden dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Tingkat Pendapatan (Rp) Jumlah (orang) Persentase (%)

< 1.000.000 29 41,43 1.000.000-2.000.000 18 25,71 2.000.001-5.000.000 18 25,71 > 5.000.000 5 7,14 Total 70 100,00 f.Status Pernikahan

Berdasarkan Tabel 10 sebagian besar responden menurut status pernikahan adalah responden yang belum menikah sebesar 57,14 persen. Sedangkan jumlah responden yang sudah menikah adalah sebesar 42,86 persen. Berdasarkan wawancara kepada responden yang belum menikah, keputusan pembelian minuman lidah buaya Kavera umumnya dipengaruhi oleh diri sendiri karena

51

adanya kesadaran akan kebutuhan mengkonsumsi minuman bervitamin untuk menjaga kesehatan, selain itu juga konsumen masih berstatus mahasiswa. Sedangkan konsumen yang telah menikah keputusan pembelian dipengaruhi oleh anggota keluarga yang lain.

Tabel 10. Sebaran Responden Berdasarkan Status Pernikahan

Status Pernikahan Jumlah (orang) Persentase(%)

Belum menikah 40 57,14

Menikah 30 42,86

Total 70 100,00

5.4 Tahapan Proses Keputusan Pembelian Minuman Lidah Buaya Kavera Tahapan proses keputusan pembelian minuman lidah buaya Kavera terdiri lima tahap, yaitu tahap pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, proses pembelian dan evaluasi hasil atau perilaku pasca pembelian. Kelima tahapan proses keputusan pembelian dilakukan secara deskriptif berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara terhadap responden.

5.4.1 Tahap Pengenalan Kebutuhan

Proses pengenalan kebutuhan konsumen dimulai dengan adanya informasi yang cukup mengenai manfaat yang akan diperoleh responden ketika mengkonsumsi minuman lidah buaya Kavera. Pada Tabel 11 dapat dilihat bahwa sebanyak 55,71 persen responden menyadari akan manfaat minuman lidah buaya Kavera berkhasiat bagi kesehatan. Sebagian responden menyatakan bahwa minuman lidah buaya Kavera dapat melancarakan pencernaan, mengatasi panas dalam dan maag, serta untuk kesehatan kulit dan stamina tubuh. Sebanyak 22,86 persen responden mengkonsumsi minuman lidah buaya sebagai minuman

52

selingan. Menurut responden minuman lidah buaya cocok sebagai minuman pelega rasa haus setelah mengkonsumsi makanan. Sebanyak 21,43 persen responden mengkonsumsi Kavera untuk mendapatkan kesegaran, terutama jika diminum dalam keadaan dingin.

Tabel 11. Sebaran Responden Berdasarkan Manfaat Mengkonsumsi Minuman Lidah Buaya Kavera

Manfaat Jumlah (orang) Persentase (%)

Sebagai minuman selingan 16 22.86

Berkhasiat untuk kesehatan 39 55,71

Mendapatkan kesegaran 15 21,43

Total 70 100,00

Pengetahuan responden terhadap manfaat minuman lidah buaya Kavera, maka ada alasan tertentu yang memotivasi responden dalam melakukan pembelian produk tersebut. Motivasi terbanyak responden dalam mengkonsumsi minuman lidah buaya Kavera adalah karena manfaat untuk kesehatan (42,86 %). Seperti yang diketahui bahwa minuman ini terbuat dari bahan-bahan alami atau tanpa pengawet. Jumlah responden yang termotivasi mengkonsumsi karena rasanya yang enak adalah sebanyak 25,71 persen.

Motivasi hanya sekedar coba-coba sebesar 25,29 persen. Hal ini terkait dengan pengujian produk apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan sehingga mereka termotivasi untuk mengkonsumsi kembali. Persentase terkecil responden termotivasi karena melihat orang lain membeli sebesar 7,14 persen. Hal ini dikarenakan kemungkinan melihat orang lain membeli sangat kecil karena produk Kavera masih jarang di pasaran. Motivasi pembelian konsumen dapat dilihat pada Tabel 12.

53

Tabel 12. Sebaran Responden Berdasarkan Motivasi dalam Mengkonsumsi Minuman Lidah Buaya

Motivasi Jumlah (orang) Persentase (%)

Sekedar coba-coba 17 24.29

Rasanya enak 18 25.71

Manfaat untuk kesehatan 30 42,86

Melihat orang lain membeli 5 7,14

Total 70 100,00

Responden memiliki motivasi tertentu dalam mengkonsumsi Kavera, namun terdapat kendala yang menghalangi responden untuk memperoleh produk tersebut. Kendala utama yang dihadapi oleh responden adalah kesulitan dalam memperoleh produk (40 %) karena minuman lidah buaya Kavera diproduksi dalam jumlah terbatas dan dipasarkan hanya pada tempat-tempat tertentu sehingga belum tersebar. Kendala yang lain dalam memperoleh produk Kavera adalah harganya mahal (37,14 %) dan jarak yang jauh dalam memperoleh produk (22,86 %). Data penghalang responden dalam membeli minuman lidah buaya Kavera dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Penghalang Responden dalam Membeli Minuman Lidah Buaya Kavera Penghalang Pembelian Jumlah (orang) Persentase (%)

Harga mahal 26 37,14

Produk sulit diperoleh 28 40,00

Jarak memperoleh produk jauh 16 22,86

Total 70 100,00

5.4.2 Tahap Pencarian Informasi

Responden yang telah mengenali kebutuhannya dalam mengkonsumsi minuman lidah buaya Kavera, maka tahap selanjutnya adalah pencarian informasi untuk memberikan informasi yang lengkap mengenai produk tersebut. Berdasarkan Tabel 14 sumber informasi responden terbanyak berasal dari

54

keluarga atau teman sebesar 71,43 persen. Keluarga atau teman salah satunya mencakup dosen yang mengajar pada saat kuliah.

Sumber informasi yang berasal dari keluarga atau teman nilainya cukup tinggi karena biasanya informasi yang diperoleh melalui mulut ke mulut (word of mouth). Promosi produk Kavera yang dilakukan oleh pihak produsen belum intensif. Hal tersebut dikarenakan selama ini promosi yang dilakukan melalui brosur yang disebar hanya pada acara-acara tertentu seperti pameran. Promosi melalui surat kabar pernah dilakukan sebanyak tiga kali sejak PT Kavera Biotech berdiri tahun 2004. Oleh karena itu informasi yang berasal dari koran hanya sedikit yaitu 1,43 persen.

Tabel 14. Sumber-sumber Informasi Responden terhadap Minuman Lidah Buaya Kavera

Sumber Informasi Jumlah (orang) Persentase (%)

Koran 1 1,43

Pameran/seminar 9 12,86

Keluarga/Teman 50 71,43

Leaflet/brosur 10 14,23

Total 70 100,00

Berdasarkan sumber informasi yang diperoleh, fokus perhatian responden terhadap minuman lidah buaya Kavera adalah khasiat sebesar 47,14 persen, seperti untuk melancarkan pencernaan, mencegah panas dalam dan meningkatkan daya tahan tubuh.

55

Tabel 15. Fokus Perhatian Responden dari Sumber Informasi tentang Minuman Lidah Buaya Kavera

Penilaian Atribut Jumlah (orang) Persentase (%)

Rasa 17 24,28 Harga 3 4,29 Khasiat 33 47,14 Komposisi 16 22,86 Merek 1 1,43 Total 70 100,00

Seperti yang diketahui responden yang meminum Kavera adalah orang yang banyak aktivitas yaitu mahasiswa dan para pekerja. Atribut rasa dan komposisi memiliki nilai tidak jauh berbeda, masing-masing yaitu sebesar 24,28

Dokumen terkait