BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Analisis Perubahan Konsentrasi Logam Berat Pada Air Lindi
4.5.2 Analisis Konsentrasi Logam Pb (Timbal)
4.5.2.1 Analisis Deskriptif Perubahan Konsentrasi Logam Pb
Logam timbal yang diukur dalam penelitian ini merupakan konsentrasi timbal pada air lindi. Pengukuran konsentrasi timbal dilakukan setiap hari pada tahap 1, setiap seminggu sekali pada tahap 2, dan setiap 2 minggu sekali pada tahap 3. Pengukuran timbal dilakukan dengan menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Hasil pengecekan konsentrasi timbal pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.16 berikut.
Gambar 4.14 Konsentrasi Logam Pb di Air Lindi Pada Tiap Reaktor
Konsentrasi awal logam Pb yang diperoleh pada reaktor aerob adalah 0,254 mg/L, sedangkan konsentrasi awal logam Pb yang diperoleh pada reaktor anaerob adalah 0,249 mg/L. Selama tahap 1, konsentrasi logam Pb di kedua reaktor menunjukkan tren penurunan. Konsentrasi logam Pb yang diperoleh pada akhir tahap 1 untuk masing-masing reaktor adalah 0,122 mg/L untuk reaktor aerob dan 0,094 mg/L untuk reaktor anaerob.
Penurunan konsentrasi logam Pb pada tahap awal terjadi karena peningkatan nilai pH air lindi. Peningkatan nilai pH menuju ke kondisi basa mengakibatkan adanya peningkatan atas jumlah ion sulfida yang terbentuk (Hwidong et.al., 2011). Sama halnya dengan logam Cu, logam Pb merupakan jenis logam yang mudah bereaksi dengan ion sulfida. Hasil reaksi dari ion Pb2+ dengan ion S2- akan menghasilkan endapan timbal sulfida. Dengan terbentuknya endapan tersebut, maka jumlah logam Pb yang terlarut dalam air lindi menjadi lebih sedikit.
Selanjutnya pada tahap 2, konsentrasi logam Pb pada tiap reaktor cenderung fluktuatif. Selama tahap 2, konsentrasi logam Pb pada reaktor aerob berkisar antara 0,059 mg/L – 0,103 mg/L. Sedangkan konsentrasi logam Pb pada reaktor anaerob berkisar antara 0,038 mg/L – 0,080 mg/L. Konsentrasi logam Pb pada reaktor aerob meningkat tajam pada awal tahap 3. Konsentrasi logam Pb pada reaktor aerob meningkat dari 0,103 mg/L pada hari ke-49, menjadi 0,193 mg/L pada hari ke-63. Sedangkan konsentrasi logam Pb pada reaktor anaerob juga turut
yang terjadi pada reaktor aerob. Konsentrasi logam Pb pada reaktor anaerob naik dari 0,080 mg/L pada hari ke-49, menjadi 0,106 mg/L pada hari ke-63.
Pada tahap 3, konsentrasi logam Pb pada reaktor aerob mengalami tren penurunan. Konsentrasi Pb pada reaktor aerob turun dari 0,193 mg/L pada hari ke-63 menjadi 0,023 mg/L pada hari ke-133. Namun hal berbeda justru terjadi pada nilai konsentrasi logam Pb yang terbentuk di reaktor anaerob. Nilai konsentrasi logam Pb meningkat tajam pada hari ke-105 penelitian. Konsentrasi logam Pb pada reaktor anaerob meningkat dari 0,135 mg/L pada hari ke-91, menjadi 0,188 mg/L pada hari ke-105. Hingga akhir penelitian, konsentrasi logam Pb pada kedua reaktor masih bersifat fluktuatif. Pada hari ke-147, konsentrasi logam Pb di reaktor aerob adalah 0,052 mg/L, sedangkan di reaktor anaerob adalah 0,097 mg/L.
Salah satu faktor yang menyebabkan konsentrasi logam Pb dapat meningkat adalah nilai COD air lindi. Nilai COD merupakan indikator penting yang digunakan untuk menggambarkan kondisi air lindi dan juga menggambarkan tingkat stabilisasi sampah. Kenaikan nilai COD menandakan bahwa ada peningkatan terhadap kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk menguraikan material organik. Nilai COD pada reaktor aerob mengalami kenaikan pada hari ke-63. Sebelumnya, nilai COD di reaktor aerob pada hari ke-49 adalah 2.880 mg/L.
Kemudian nilai COD naik menjadi 3.640 mg/L. Naiknya nilai COD menandakan bahwa jumlah asam organik yang terbentuk akibat proses degradasi mengalami peningkatan. Asam organik akan bereaksi dengan logam Pb yang terkandung dalam sampah, sehingga menghasilkan ion Pb2+ yang kemudian terlarut dalam air lindi (Yu-Yang et.al., 2009).
Secara keseluruhan, konsentrasi logam Pb yang ditemukan pada reaktor aerob bernilai lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi logam Pb yang ditemukan pada reaktor anaerob. Penambahan udara yang diberlakukan pada sistem menyebabkan konsentrasi logam Pb yang terlarut pada air lindi menjadi lebih tinggi. Kehadiran oksigen menyebabkan kemampuan buffer air lindi mengalami penurunan, sehingga pada akhirnya mengakibatkan adanya kenaikan tingkat mobilitas dari logam Pb.
Lindi Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Pb
Sesuai dengan hasil analisis deskriptif diatas, bahwa perubahan konsentrasi logam Pb yang ditemukan pada penelitian ini dipengaruhi oleh nilai pH air lindi, nilai COD air lindi, dan nilai field capacity sampah. Untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel secara pasti, maka akan dilakukan uji korelasi dan uji regresi linear berganda. Dalam uji ini, parameter yang dijadikan sebagai variabel bebas adalah pH air lindi, temperatur sampah, nilai COD, nilai BOD, nilai field capacity, nilai oksigen terlarut, dan rasio C/N. Variabel terikat yang dimasukkan dalam model ini adalah konsentrasi logam Pb pada air lindi. Dari hasil uji korelasi, diperoleh koefisien pearson seperti yang terdapat pada Tabel 4.13 sebagai dasar penentuan hubungan.
Tabel 4.13 Koefisien Korelasi Pearson Tiap Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Pb
Parameter Korelasi Pearson Aerobik Anaerobik
pH Air Lindi -0,557 -0,572
Temperatur Sampah 0,328 0,291
COD 0,330 0,308
BOD 0,435 0,521
Field Capacity 0,542 0,439
DO 0,000 0,588
Rasio C/N -0,204 -0,584
Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Dari hasil uji statistik diatas, dapat dilihat hubungan antara tiap variabel bebas terhadap konsentrasi logam Pb yang dinyatakan dengan koefisien pearson (R). Namun dari seluruh variabel bebas yang ada, tidak ada yang memiliki nilai R lebih besar dari 0,60. Beberapa parameter yang memiliki koefisien pearson mendekati nilai 0,60 antara lain adalah nilai pH air lindi, nilai BOD, dan nilai field capacity. Dari hasil diatas juga dapat dikatakan bahwa parameter bebas yang paling berpengaruh pada kedua reaktor adalah nilai pH air lindi. Nilai R untuk parameter pH air lindi adalah -0,557 untuk reaktor aerobik dan -0,572 untuk reaktor anaerobik.
Nilai R untuk pH air lindi bertanda negatif yang menandakan bahwa ketika nilai pH
cenderung turun dan begitu pula sebaliknya.
Selanjutnya, untuk menentukan apakah terdapat pengaruh secara nyata dari tiap variabel bebas yang ada terhadap variabel terikat yang digunakan dalam model tersebut, maka telah dilakukan uji ANOVA. Dari hasil uji ANOVA, diperoleh bahwa nilai F hitung (hasil uji ANOVA dapat dilihat pada Lampiran 11) untuk reaktor aerob adalah 1,33 dan untuk reaktor anaerob adalah 2,31. Koefisien F hitung yang diperoleh tersebut memiliki nilai yang lebih kecil bila dibandingkan dengan F tabel dengan nilai sebesar 3,14. Hal ini menandakan bahwa model regresi dengan menggunakan parameter diatas tidak dapat digunakan untuk memprediksi keberadaan logam Pb pada air lindi.
Walaupun dari hasil uji ANOVA diketahui bahwa model yang digunakan tidak dapat memprediksi konsentrasi logam Pb, namun tetap perlu diketahui apakah setiap variabel diatas mampu mempengaruhi perubahan konsentrasi logam Pb secara parsial. Untuk menentukan hal tersebut, maka dilakukan uji t dengan menggunakan koefisien regresi parsial. Pada Tabel 4.19 berikut ini dapat dilihat nilai koefisien regresi untuk kedua reaktor.
Tabel 4.14 Nilai Koefisien Regresi Tiap Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Pb
Model Reaktor Aerobik Reaktor Anaerobik
t Sig. t Sig.
1
(Constant) 0,90 0,39 2,19 0,05
pH Air Lindi -1,07 0,31 -1,27 0,23
Temperatur Sampah -0,43 0,68 -1,59 0,14
COD -1,37 0,20 -0,34 0,74
BOD 1,29 0,23 1,34 0,21
Field Capacity 0,18 0,86 -0,65 0,53
Oksigen Terlarut -0,44 0,67 -1,29 0,23
Rasio C/N 0,33 0,75 -1,70 0,12
a. Dependent Variable: Logam Pb
Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Dari hasil uji t diketahui bahwa nilai t tabel untuk jenis data seperti diatas untuk tingkat kepercayaan sebesar 5% adalah 1,81. Sedangkan dari hasil pada Tabel
kecil dibandingkan dengan t tabel yang ada. Lebih lanjut kesimpulan mengenai hubungan parsial tiap parameter dapat dilihat pada Tabel 4.20 berikut ini.
Tabel 4.15 Hasil Uji Regresi Parsial Tiap Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Pb
Parameter Reaktor
Aerobik Anaerobik
pH Air Lindi × ×
Temperatur
Sampah × ×
COD × ×
BOD × ×
Field Capacity × ×
Oksigen Terlarut × ×
Rasio C/N × ×
Keterangan : √ : memiliki pengaruh parsial terhadap perubahan konsentrasi logam Pb
× :tidak memiliki pengaruh parsial terhadap perubahan konsentrasi logam Pb
Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Pada Tabel 4.16 dan Tabel 4.17 dapat dilihat bahwa nilai koefisien determinasi yang diperoleh dari hasil uji statistik untuk reaktor aerobik dan anaerobik masing-masing adalah . Hal ini menjelaskan bahwa besarnya persentase pengaruh nilai pH air lindi, nilai temperatur sampah, nilai COD, nilai BOD, nilai oksigen terlarut, rasio C/N, dan nilai field capacity sampah terhadap perubahan konsentrasi logam Pb adalah 48,20% untuk reaktor aerob dan 61,70% untuk reaktor anaerobik. Dari nilai persentase diatas, maka dapat diketahui bahwa pengaruh faktor lain yang tidak terukur dalam penelitian ini terhadap perubahan konsentrasi nilai Pb pada air lindi adalah 51,80% untuk reaktor aerob dan 38,30% untuk reaktor anaerob.
Perubahan Konsentrasi Logam Pb Di Reaktor Aerobik
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 0,694a 0,482 0,119 0,058
a. Predictors: (Constant), Rasio CN, Temperatur Sampah, Field Capacity, pH Air Lindi, DO, COD, BOD
b. Dependent Variable: Logam Pb Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Tabel 4.17 Koefisien Determinasi Model Hubungan Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Pb Di Reaktor Anaerobik
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 0,786a 0,617 0,350 0,045
a. Predictors: (Constant), Rasio C/N, Temperatur Sampah, Field Capacity, pH Air Lindi, DO, COD, BOD
b. Dependent Variable: Logam Pb Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Dari hasil uji regresi tersebut diperoleh bahwa model regresi untuk memprediksi perubahan konsentrasi logam Pb akibat adanya pengaruh beberapa variabel bebas adalah sebagai berikut :
Untuk reaktor aerob :
𝑦 = 0,651 − 0,046 𝑥1 − 0,008 𝑥2+ 0,001 𝑥3 − 0,024 𝑥4+ 0,006 𝑥5 Untuk reaktor aerob :
𝑦 = 1,197 − 0,020 𝑥1 − 0,017 𝑥2− 0,271 𝑥3 − 0,094 𝑥4− 0,023 𝑥5 Dengan nilai y merupakan perubahan konsentrasi logam Pb pada masing-masing reaktor, X1 merupakan nilai pH air lindi, X2 merupakan nilai temperatur sampah, X3 merupakan nilai field capacity sampah, X4 merupakan nilai oksigen terlarut, dan X5 merupakan nilai rasio C/N sampah. Konstanta sebesar 0,651 pada reaktor aerob dan 1,197 pada reaktor anaerob menandakan bahwa jika tidak ada variabel bebas, maka perubahan konsentrasi logam Pb pada reaktor adalah sebesar konstanta tersebut.
4.5.3.1 Analisis Deskriptif Perubahan Konsentrasi Logam Zn
Keberadaan logam Zn penting untuk diketahui karena logam Zn merupakan salah satu jenis logam yang memiliki konsentrasi cukup tinggi di landfil. Pengecekan konsentrasi logam Zn pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Pengecekan konsentrasi logam Zn pada air lindi ini dilakukan setiap hari pada tahap awal penelitian, setiap seminggu sekali pada tahap 2 penelitian dan setiap 2 minggu sekali pada tahap 3 penelitian. Hasil pemantauan konsentrasi logam Zn pada air lindi dapat dilihat pada Gambar 4.17 berikut ini.
Gambar 4.15 Konsentrasi Logam Zn di Air Lindi Pada Tiap Reaktor Konsentrasi logam Zn yang terukur di kedua reaktor pada awal penelitian tergolong cukup besar. Pada reaktor aerob, besar konsentrasi logam Zn yang terukur adalah 3,785 mg/L dan pada reaktor anaerob besar konsentrasi logam Zn yang terukur adalah 3,305 mg/L. Nilai serupa juga diperoleh pada penelitian yang dilakukan oleh Yu-Yang et.al. (2010), dimana konsentrasi logam Zn pada air lindi yang terukur berkisar antara 0,75 mg/L – 3,13 mg/L. Namun konsentrasi logam Zn yang diperoleh dalam penelitian ini bernilai lebih besar bila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ehrig (1983), dengan besar konsentrasi berkisar antara 0,03 mg/L – 1,20 mg/L. Tingginya konsentrasi logam Zn yang ditemukan
sampel. Keberadaan material logam yang masih ditemukan di TPS merupakan penyebab tingginya kandungan logam Zn pada air lindi.
Konsentrasi logam Zn yang terukur terus mengalami penurunan selama tahap 1 penelitian. Konsentrasi logam Zn di reaktor aerob turun dari 3,785 mg/L pada kondisi awal menjadi 1,233 mg/L pada akhir tahap 1. Sedangkan konsentrasi logam Zn di reaktor anaerob turun dari 3,305 mg/L pada kondisi awal menjadi 1,216 mg/L pada akhir tahap 1. Konsentrasi logam Zn yang ditemukan selama tahap 1 penelitian tergolong lebih besar bila dibandingkan dengan hasil yang ditemukan pada tahap selanjutnya. Erses dan Onay (2003) menyatakan bahwa konsentrasi maksimum logam Zn akan ditemukan pada tahap asidifikasi dari proses degradasi sampah. Hal ini sesuai dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini.
Konsentrasi maksimum logam Zn ditemukan pada awal penelitian pada masing-masing reaktor.
Kelarutan logam berat pada air lindi akan sangat dipengaruhi oleh nilai pH. Jika nilai pH menurun atau berada dalam rentang pH asam, maka kelarutan logam berat akan meningkat. Sebaliknya, jika nilai pH meningkat atau berada dalam rentang pH basa, maka kelarutan logam berat akan menurun. Selain pH air lindi, faktor lain turut yang mempengaruhi konsentrasi logam Zn terukur adalah volume air lindi yang terbentuk. Peningkatan volume air lindi yang terjadi selama tahap awal penelitian menjadi pemicu turunnya konsentrasi logam Zn (Yu-Yang et.al., 2009).
Selanjutnya pada tahap 2, konsentrasi logam Zn di kedua reaktor terus menunjukkan tren penurunan. Hingga akhir tahap 2, konsentrasi logam Zn yang ditemukan pada reaktor aerob adalah 0,163 mg/L, sedangkan konsentrasi logam Zn yang ditemukan pada reaktor anaerob adalah 0,122 mg/L. Kondisi ini terus berlanjut hingga waktu penelitian memasuki tahap 3. Konsentrasi logam Zn yang ditemukan di kedua reaktor pada hari ke-91 adalah 0,042 mg/L untuk reaktor aerob, dan 0,026 mg/L untuk reaktor anaerob. Pada akhir penelitian, sudah tidak ditemukan logam Zn pada kedua reaktor.
Lindi Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Zn
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa kelarutan logam Zn pada air lindi dipengaruhi oleh nilai pH air lindi dan kandungan zat organik yang terbentuk dari proses dekomposisi sampah. Untuk menentukan antara karakteristik fisik kimia sampah dan air lindi terhadap konsentrasi logam Zn, maka variabel yang akan digunakan sebagai masukan variabel bebas dalam model ini adalah nilai pH air lindi, temperatur sampah, nilai COD, nilai BOD, nilai field capacity, nilai oksigen terlarut, dan rasio C/N. Sedangkan variabel terikat yang dimasukkan dalam model ini adalah konsentrasi logam Zn pada air lindi.
Penentuan hubungan kedua variabel tersebut dilakukan dengan uji korelasi dan uji regresi linear berganda. Dari hasil uji korelasi maka dapat diketahui apakah tiap variabel bebas memiliki hubungan yang cukup kuat terhadap perubahan konsentrasi logam Zn. Sedangkan dari hasil uji regresi maka dapat ditentukan apakah kedua variabel bebas tersebut memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan konsentrasi logam Zn atau tidak. Dari hasil pengujian telah diperoleh koefisien pearson (R) untuk masing-masing reaktor. Nilai R dapat dilihat pada Tabel 4.18.
Tabel 4.18 Koefisien Korelasi Pearson Tiap Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Zn
Parameter Korelasi Pearson Aerobik Anaerobik
pH Air Lindi -0,889 -0,637
Temperatur Sampah 0,666 0,808
COD 0,731 0,817
BOD 0,815 0,938
Field Capacity 0,797 0,841
DO -0,019 0,577
Rasio C/N -0,195 -0,448
Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Dari hasil uji statistik diatas, dapat dilihat hubungan antara tiap variabel bebas terhadap konsentrasi logam Zn yang dinyatakan dengan koefisien pearson (R). Dari seluruh parameter bebas yang dijadikan model untuk penentuan hubungan, hanya nilai oksigen terlarut dan rasio C/N yang tidak memenuhi
hubungan yang kuat terhadap perubahan konsentrasi logam Zn. Sedangkan parameter lain seperti pH air lindi, temperatur sampah, nilai COD, nilai BOD, dan nilai field capacity sampah merupaakan parameter yang memiliki hubungan cukup kuat terhadap perubahan konsentrasi logam Zn.
Uji ANOVA dilakukan untuk menentukan apakah variabel bebas yang diasumsikan dalam model secara nyata mampu memberikan pengaruh terhadap kelarutan logam Zn pada air lindi. Dari hasil uji ANOVA, diperoleh bahwa nilai F hitung untuk reaktor aerob adalah 12,09 dan untuk reaktor anaerob adalah 40,30 (Hasil uji ANOVA dapat dilihat pada Lampiran 11) . Nilai F hitung yang diperoleh tersebut lebih besar dibandingkan dengan F tabel dengan nilai sebesar 3,14. Hal ini menandakan bahwa model regresi dengan menggunakan seluruh parameter fisik kimia sampah dan air lindi dapat digunakan untuk memprediksi variabel terikat (konsentrasi logam Zn).
Setelah diketahui bahwa kedua variabel bebas tersebut memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat, maka selanjutnya adalah menentukan apakah tiap variabel bebas mampu berpengaruh secara parsial. Cara menentukan pengaruh terpisah tersebut dilakukan dengan uji t dengan menggunakan koefisien regresi parsial. Untuk menentukan hal tersebut, maka dilakukan uji t dengan menggunakan koefisien regresi parsial. Pada Tabel 4.19 berikut ini dapat dilihat nilai koefisien regresi untuk kedua reaktor.
Konsentrasi Logam Zn
Model Reaktor Aerobik Reaktor Anaerobik
t Sig. t Sig.
1
(Constant) 1,33 0,21 1,18 0,27
pH Air Lindi -1,81 0,10 -0,90 0,39
Temperatur Sampah -0,39 0,70 0,35 0,74
COD -0,55 0,60 2,61 0,03
BOD 1,04 0,32 0,81 0,44
Field Capacity 0,81 0,44 0,97 0,35
Oksigen Terlarut -1,10 0,30 -1,85 0,09
Rasio C/N -0,44 0,67 -4,28 0,00
Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Dari hasil uji t diketahui bahwa nilai t tabel untuk jenis data seperti diatas untuk tingkat kepercayaan sebesar 5% adalah 1,81. Sehingga dapat dikatakan hubungan tiap parameter bebas terhadap perubahan konsentrasi logam Zn adalah sebagai berikut :
Tabel 4.20 Hasil Uji Regresi Parsial Tiap Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Zn
Parameter Reaktor
Aerobik Anaerobik
pH Air Lindi √ ×
Temperatur
Sampah × ×
COD × ×
BOD × √
Field Capacity × ×
Oksigen Terlarut × √
Rasio C/N × √
Keterangan :
√ : memiliki pengaruh parsial terhadap perubahan konsentrasi logam Zn
× :tidak memiliki pengaruh parsial terhadap perubahan konsentrasi logam Zn
Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Nilai koefisien determinasi yang diperoleh dari hasil uji statistik dapat dilihat pada Tabel 4.21 dan Tabel 4.22 berikut ini. Dari hasil uji diperoleh bahwa nilai koefisien determinasi untuk masing-masing reaktor adalah 0,894 untuk reaktor aerobik dan 0,966 untuk reaktor anaerobik. Hal ini menjelaskan bahwa besarnya
reaktor aerob dan 96,60% untuk reaktor anaerobik. Persentase sebesar 10,60%
untuk reaktor aerob dan 3,40% untuk reaktor anaerobik merupakan persentase pengaruh yang diakibatkan oleh variabel lain yang tidak terukur dalam penelitian ini.
Tabel 4.21 Koefisien Determinasi Model Hubungan Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Zn Di Reaktor Aerobik
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 ,946a ,894 ,820 0,450
a. Predictors: (Constant), Rasio C/N, Temperatur Sampah, Field Capacity, pH Air Lindi, DO, COD, BOD
b. Dependent Variable: Logam Zn Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Tabel 4.22 Koefisien Determinasi Model Hubungan Variabel Bebas Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Zn Di Reaktor Anaerobik
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 ,983a ,966 ,942 0,249
a. Predictors: (Constant), Rasio C/N, Temperatur Sampah, Field Capacity, pH Air Lindi, DO, COD, BOD
b. Dependent Variable: Logam Zn Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)
Dari hasil uji regresi tersebut diperoleh bahwa model regresi untuk memprediksi perubahan konsentrasi logam Zn akibat adanya pengaruh beberapa variabel bebas adalah sebagai berikut :
Untuk reaktor aerob :
𝑦 = 7,454 − 0,601 𝑥1 − 0,055 𝑥2+ 0,022 𝑥3 − 0,459 𝑥4− 0,058 𝑥5 Untuk reaktor aerob :
𝑦 = 3,576 − 0,080 𝑥1 + 0,021 𝑥2+ 2,269 𝑥3 − 0,750 𝑥4− 0,328 𝑥5 Dengan nilai y merupakan perubahan konsentrasi logam Zn pada masing-masing reaktor, X1 merupakan nilai pH air lindi, X2 merupakan nilai temperatur sampah, X3 merupakan nilai field capacity sampah, X4 merupakan nilai oksigen
reaktor aerob dan 3,576 pada reaktor anaerob menandakan bahwa jika tidak ada variabel bebas, maka perubahan konsentrasi logam Zn pada reaktor adalah sebesar konstanta tersebut.
4.5.4 Analisis Konsentrasi Logam Cd (Kadmium)
4.5.4.1 Analisis Deskriptif Perubahan Konsentrasi Logam Cd
Logam Cd merupakan salah satu logam berat yang sering ditemukan keberadaannya pada air lindi. Pengecekan konsentrasi Cd yang diukur dalam penelitian ini menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry).
Pengukuran konsentrasi logam Cd diukur setiap hari pada tahap 1 penelitian, setiap 1 minggu sekali pada tahap 2 penelitian dan setiap dua minggu sekali pada tahap 3 penelitian. Hasil dari pengukuran logam Cd pada air lindi di kedua reaktor dapat dilihat pada Gambar 4.18 berikut ini.
Gambar 4.16 Konsentrasi Logam Cd di Air Lindi Pada Tiap Reaktor
Dari hasil pengecekan, diperoleh bahwa konsentrasi awal Cd yang diperoleh pada tiap reaktor adalah 0,064 mg/L untuk reaktor aerob dan 0,076 mg/L untuk reaktor anaerob. Perubahan konsentrasi Cd cenderung fluktuatif selama tahap 1. Pada akhir tahap 1, ditemukan bahwa konsentrasi logam Cd di reaktor aerob meningkat dari yang sebelumnya adalah 0,016 mg/L pada hari ke-2 menjadi 0,093
logam Cd meningkat dari yang sebelumnya adalah 0,029 mg/L pada hari ke-2, menjadi 0,094 mg/L pada hari ke-7.
Memasuki tahap 2, konsentrasi Cd pada tiap reaktor turun secara drastis di awal tahap. Konsentrasi logam Cd di reaktor aerob mencapai nilai 0,016 mg/L pada, sedangkan konsentrasi logam Cd di reaktor anaerob mencapai nilai 0,023 mg/L pada awal tahap 2. Pada akhir tahap 2, konsentrasi Cd tiap reaktor kembali mengalami peningkatan. Konsentrasi logam Cd di reaktor aerob naik dan mencapai titik maksimum di hari ke-42, dengan nilai konsentrasi sebesar 0,101 mg/L.
Sedangkan untuk konsentrasi logam Cd di reaktor anaerob juga turut mengalami kenaikan di hari ke-42, dengan nilai konsentrasi sebesar 0,074 mg/L.
Selanjutnya pada tahap 3, konsentrasi Cd di tiap reaktor menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam. Pada hari ke-63 sudah tidak ditemukan keberadaan logam Cd di tiap reaktor. Namun, keberadaan logam Cd kembali muncul pada hari ke-119 dengan konsentrasi sebesar 0,004 mg/L untuk reaktor aerob dan 0,006 mg/L untuk reaktor anaerob. Pada akhir penelitian, konsentrasi logam Cd pada reaktor aerob adalah 0,016 mg/L, sedangkan pada reaktor anaerob tidak ditemukan logam Cd.
Perubahan konsentrasi logam Cd baik itu meningkat atau menurun dipengaruhi oleh nilai pH air lindi. Flyhammar et.al. (1999) menyatakan bahwa pengurangan nilai pH air lindi yang disertai dengan adanya intrusi oksigen ke dalam bioreaktor dapat meningkatkan mobilisasi logam Cd pada sampah untuk larut pada air lindi. Hal inilah yang mengakibatkan konsentrasi logam Cd sempat turun ketika nilai pH air lindi mengalami kenaikan selama awal tahap 1.
4.5.4.2 Analisis Hubungan Perubahan Karakteristik Fisik Kimia Sampah dan Air Lindi Terhadap Perubahan Konsentrasi Logam Cd
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian analisis deskriptif bahwa perubahan konsentrasi Cd pada air lindi diakibatkan oleh nilai pH air lindi, kandungan material organik terlarut dan intrusi oksigen yang diberikan pada
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian analisis deskriptif bahwa perubahan konsentrasi Cd pada air lindi diakibatkan oleh nilai pH air lindi, kandungan material organik terlarut dan intrusi oksigen yang diberikan pada