• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Rasio C/N Sampah Terhadap Waktu

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 115-0)

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Deskriptif Parameter Fisik Sampah dan Air Lindi

4.2.5 Analisis Rasio C/N Sampah Terhadap Waktu

Rasio C/N merupakan salah satu parameter yang memiliki peran penting dalam proses dekomposisi sampah. Rasio C/N merupakan hasil pembagian antara total karbon terhadap total nitrogen yang terkandung dalam sampah. Pengukuran rasio C/N dilakukan dengan mengukur total karbon dan total nitrogen secara spektrofotometri. Pada penelitian ini, pengukuran rasio C/N dilakukan satu kali pada awal penelitian dan satu kali di setiap akhir tahap penelitian. Pada Gambar 4.9 dapat dilihat data rasio C/N yang diperoleh pada penelitian ini.

Gambar 4.9 Rasio C/N Pada Kedua Reaktor

Sumber : Lampiran 8

Nutrien yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk menunjang pertumbuhan dan kinerjanya antara lain adalah karbon dan nitrogen. Pada awal penelitian diperoleh bahwa rasio C/N sampah adalah 9,35, dengan nilai total karbon adalah 29,27 dan total nitrogen adalah 3,13. Selanjutnya pada akhir tahap 1 diperoleh bahwa nilai rasio C/N mengalami peningkatan. Rasio C/N pada reaktor aerobik adalah 18,83 dan untuk reaktor anaerobik adalah 16,17. Mc Bean et.al.

(1995) menyatakan bahwa nilai rasio C/N yang baik untuk mendukung proses penguraian sampah adalah 16,00. Maka dengan hasil rasio C/N yang telah diperoleh pada penelitian ini, dapat dikatakan bahwa rasio C/N tersebut mendukung proses dekomposisi material organik sampah.

Selanjutnya, rasio C/N pada kedua reaktor mengalami penurunan pada akhir tahap 2. Rasio C/N yang diperoleh untuk reaktor aerobik adalah 15,57 dan untuk reaktor anaerobik adalah 12,19. Nilai ini terus mengalami penurunan hingga akhir penelitian, dimana rasio C/N yang diperoleh pada akhir penelitian adalah 9,51 untuk reaktor aerobik dan 10,61 untuk reaktor anaerobik. Penambahan air dan resirkulasi air lindi yang diberikan pada bioreaktor memberikan dampak positif terhadap degradasi sampah. Perlakuan ini dianggap mampu untuk menjaga keseimbangan nutrien yang diperlukan oleh mikroorganisme dalam mendekomposisi material organik (Warith et.al, 1999).

4.3.1 Analisis Nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD)

Pengukuran nilai kebutuhan oksigen biokimiawi (BOD) dilakukan setiap hari pada tahap 1, setiap seminggu sekali pada tahap 2, dan setiap dua minggu sekali pada tahap 3. Pengukuran nilai BOD dilakukan menggunakan metode titrimetric dengan menggunakan air danau sebagai larutan seeding. Pengukuran nilai BOD dilakukan untuk mengetahui tingkat biodegradabilitas dari material organik yang terkandung dalam sampah (Sekman et.al., 2011). Berikut ini merupakan hasil pengukuran nilai BOD pada tiap reaktor.

Gambar 4.10 Grafik Nilai BOD Pada Tiap Reaktor

Sumber : Lampiran 6

Dari Gambar 4.10 dapat dilihat bahwa nilai BOD awal untuk tiap reaktor adalah 25.291,80 mg/L untuk reaktor aerob dan 30.790,02 mg/L untuk reaktor anaerob. Nilai BOD yang diperoleh pada penelitian ini serupa dengan hasil penelitian Sekman et.al. (2011), dengan nilai sebesar 30.000 mg/L. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian El-Fadel et.al. (2012) diperoleh bahwa nilai BOD awal air lindi adalah sebsar 40.000 mg/L.

Nilai BOD air lindi pada tiap reaktor sempat mengalami peningkatan pada hari kedua pengoperasian. Dari hasil pengukuran, diperoleh nilai BOD air lindi untuk reaktor aerob pada hari kedua pengoperasian adalah 44.037,07 mg/L

air lindi terus mengalami penurunan hingga akhir tahap 1. Penurunan nilai BOD air lindi terjadi karena adanya perlakuan resirkulasi air lindi dan penambahan air yang diberlakukan setiap hari selama tahap 1 (El-Fadel et.al., 2012). Pada akhir tahap 1, nilai BOD air lindi yang diperoleh pada reaktor aerob adalah sebesar 34.457,96 mg/L. Sedangkan nilai BOD air lindi yang diperoleh pada reaktor anaerob adalah sebesar 23.460,74 mg/L.

Nilai BOD pada tiap reaktor terus menunjukkan penurunan hingga akhir tahap 2. Besar persentase penyisihan nilai BOD yang diperoleh hingga akhir tahap 2 adalah 94,7% untuk reaktor aerob dan 92,8% untuk reaktor anaerob. Berdasarkan penelitian Sutthasil et.al. (2014), waktu yang diperlukan untuk menyisihkan 90%

nilai BOD pada reaktor aerob adalah selama 60 hari. Hal ini tidak berbeda jauh dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, dimana penurunan nilai BOD sebesar 90% diperoleh pada hari ke-49 penelitian.

Penurunan nilai BOD air lindi terus berlanjut hingga tahap 3 penelitian.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa nilai BOD air lindi pada akhir tahap 3 untuk reaktor aerob adalah 312,03 mg/L. Sedangkan nilai BOD air lindi pada reaktor anaerob adalah 520,05 mg/L. Dengan demikian, besar persentase penyisihan BOD pada reaktor aerobik adalah 99,29% terhadap nilai maksimum BOD dan pada reaktor anaerobik adalah 98,72% terhadap nilai maksimum BOD.

4.3.2 Analisis Nilai Chemical Oxygen Demand (COD)

Kebutuhan oksigen kimiawi (COD) merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur penurunan kandungan organik pada sampah (Yangfei et.al. 2011).

Nilai COD digunakan untuk menggambarkan proses penguraian zat organik yang terjadi secara langsung (Zhongping et.al., 2010). Pengukuran nilai COD dilakukan setiap hari pada tahap 1, seminggu sekali pada tahap 2, dan dua minggu sekali pada tahap 3. Pengukuran nilai COD dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri.

Gambar 4.11 Grafik Nilai COD Pada Tiap Reaktor

Sumber : Lampiran 7

Sesuai dengan Gambar 4.11, diketahui bahwa nilai COD awal yang diperoleh untuk masing-masing reaktor adalah 48.700 mg/L untuk reaktor aerob dan 66.100 mg/L untuk reaktor anaerob. Pada hari kedua pengoperasian, nilai COD pada reaktor aerobik mengalami peningkatan yang cukup tajam. Nilai COD air lindi pada reaktor aerob meningkat dari 48.700 mg/L menjadi 78.100 mg/L. Sedangkan nilai COD air lindi pada reaktor anaerob justru mengalami penurunan dari 66.100 mg/L menjadi 65.000 mg/L pada hari kedua pengoperasian. Nilai COD pada masing-masing reaktor cenderung fluktuatif pada tahap 1 pengoperasian.

Adanya kenaikan nilai COD yang diperoleh pada awal penelitian terjadi karena material organik yang terkandung dalam sampah dipecah menjadi senyawa organik yang lebih kecil dan kemudian akan larut dala air lindi (Zhongping et.al., 2010). Selanjutnya, nilai COD air lindi yang mengalami penurunan menandakan bahwa proses dekomposisi material organik yang terjadi berlangsung dalam periode yang singkat (Giannis et.al., 2007).

Pada tahap 2, nilai COD air lindi untuk tiap reaktor menunjukkan tren penurunan. Penurunan nilai COD pada air lindi dapat dibagi menjadi 3 fase. Pada fase pertama, nilai COD turun secara cepat akibat tingginya kandungan material organik dalam sampah. Pada fase kedua, nilai COD mulai turun secara perlahan.

mikroorganisme dalam bioreaktor landfill. Mikroorganisme memiliki peran penting dalam proses degradasi material organik pada sampah. Ketika jumlah mikroorganisme mulai berkurang, proses degradasi sampah mulai berjalan lambat.

Fase terakhir adalah fase dimana nilai COD mulai stabil (Sekman et.al, 2011). Nilai COD air lindi yang terukur pada akhir penelitian adalah 852 mg/L untuk reaktor aerob dan 846 mg/L untuk reaktor anaerob. Besar persentase penyisihan COD ditinjau terhadap nilai maksimum adalah 99,03% untuk reaktor aerob dan 98,76%

untuk reaktor anaerob.

Adanya perlakuan aerasi pada reaktor aerob menyebabkan proses konversi karbon berjalan lebih cepat. Hal inilah yang menyebabkan nilai COD pada reaktor aerob bernilai lebih kecil dibandingkan dengan nilai COD yang diperoleh pada reaktor anaerob. Selama proses degradasi aerob berlangsung, senyawa organik yang bersifat kompleks akan diurai menjadi senyawa organik sederhana oleh mikroorganisme dengan menggunakan enzim. Senyawa organik yang telah terurai ini akan terus dipecahkan menjadi molekul yang lebih sederhana oleh bakteri aerob, hingga akhirnya membentuk karbon dioksida, air, nitrat, dan sulfat (Qifei et.al., 2008).

4.3.3 Analisis Rasio BOD/COD

Rasio BOD5/COD merupakan rasio yang mengindikasikan jumlah senyawa organik yang dapat terdegradasi secara biologis pada air lindi. Rasio BOD5/COD yang bernilai diantara 0,02- 0,13 menandakan bahwa air lindi memiliki tingkat biodegradabilitas yang sangat rendah. Sedangkan bila rasio BOD5/COD yang bernilai antara 0,40 – 0,80 menandakan bahwa air lindi memiliki tingkat biodegradabilitas yang tinggi. Sedangkan pada landfill yang dianggap telah stabil, rasio BOD5/COD bernilai kurang dari 0,1 (Giannis et.al., 2007). Hasil rasio BOD5/COD yang diperoleh pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.12 berikut.

Gambar 4.12 Rasio BOD5/COD Pada Kedua Reaktor

Sumber : Lampiran 6 dan Lampiran 7

Pada penelitian ini, rasio BOD5/COD yang ditemukan pada awal tahap 1 adalah 0,52 untuk reaktor aerobik dan 0,47 untuk reaktor anaerobik. Nilai ini menandakan bahwa air lindi pada kedua reaktor memiliki tingkat biodegrabilitas yang cukup tinggi. Selanjutnya, nilai rasio BOD5/COD pada kedua reaktor menunjukkan tren penurunan. Pada akhir tahap 1, rasio BOD5/COD pada masing-masing reaktor adalah 0,39 untuk reaktor aerobik dan 0,34 untuk reaktor anaerobik.

Selanjutnya pada tahap 2, rasio BOD5/COD untuk kedua reaktor menunjukkan perubahan yang fluktuatif. Rasio BOD5/COD kedua reaktor pada periode ini tergolong rendah. Pada reaktor aerob, rasio BOD5/COD yang ditemukan berkisar antara 0,22 – 0,46. Sedangkan pada reaktor anaerob, rasio BOD5/COD yang ditemukan berkisar antara 0,18 – 0,29. Rasio BOD5/COD kedua reaktor pada tahap 2 terlihat lebih rendah dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Sekman et.al.

(2011) menyatakan bahwa seiring dengan berlangsungnya proses degradasi material organik pada sampah, rasio BOD5/COD akan menunjukkan tren yang menurun.

Pada akhir tahap, rasio BOD5/COD pada kedua reaktor masih bersifat fluktuatif . Namun rentang nilai rasio BOD5/COD pada kedua reaktor masih menunjukkan bahwa air lindi memiliki tingkat biodegradabilitas yang cukup baik.

akan bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan reaktor anaerobik. Hal ini terjadi karena jumlah senyawa organik yang terdegradasi pada reaktor aerobik lebih banyak dibandingkan dengan reaktor anaerobik (Sekman et.al., 2011).

Nilai BOD5 dan COD air lindi sering kali digunakan untuk menentukan kemampuan dekomposisi material organik. Beberapa penelitian terdahulu memperoleh bahwa tren penurunan nilai BOD akan sejalan dengan tren penurunan nilai COD, baik itu pada reaktor yang dioperasikan secara aerobik dan juga reaktor yang dioperasikan secara anaerobik. Untuk menunjukkan hubungan antara nilai BOD5 dan COD yang diperoleh pada penelitian ini, maka akan dilakukan uji korelasi.

Tabel 4.2 Korelasi Antara Nilai BOD5 dan COD Air Lindi

Parameter COD BOD

COD

Pearson Correlation 1 0,969**

Sig. (2-tailed) 0,000

N 18 18

BOD

Pearson Correlation 0,969** 1 Sig. (2-tailed) 0,000

N 18 18

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)

Dari hasil uji statistik yang tercantum pada Tabel 4.2 diatas, diperoleh bahwa koefisien korelasi pearson untuk kedua variabel adalah 0,969. Nilai ini menandakan bahwa antara nilai BOD5 dan nilai COD air lindi memiliki hubungan yang sangat kuat. Koefisien korelasi pearson yang bernilai positif menandakan bahwa hubungan antara nilai BOD5 air lindi dan nilai COD air lindi merupakan hubungan yang searah.

4.4 Analisis Hubungan Perubahan Karakteristik Fisik Kimia Sampah dan Air Lindi Terhadap Pengurangan Volume Sampah

Pengurangan volume sampah dalam bioreaktor landfill terjadi sebagai hasil dari proses degradasi material organik yang ada dalam sampah. Proses

merupakan karakteristik fisik-kimia dari sampah dan air lindi. Dalam penelitian ini, beberapa jenis parameter fisik-kimia sampah dan air lindi yang diamati antara lain adalah temperatur sampah, pH air lindi, field capacity sampah, nilai DO air lindi, total karbon, total nitrogen, nilai COD air lindi, dan nilai BOD air lindi. Selanjutnya untuk menentukan apakah setiap parameter yang diuji dalam penelitian ini memiliki pengaruh terhadap pengurangan volume sampah, maka perlu dilakukan analisis dengan menggunakan bantuan matriks hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.

Keberlangsungan proses dekomposisi material organik pada bioreaktor landfill sangat dipengaruhi oleh tiap parameter fisik dan kimia sampah dan air lindi.

Untuk mengetahui hubungan antara perubahan karakteristik fisik kimia sampah dan air lindi terhadap pengurangan volume sampah, maka dilakukan uji statistik korelasi. Setelah mengetahui korelasi antar variabel, maka selanjutnya akan diuji apakah model variabel bebas tersebut mampu untuk memprediksi variabel terikat atau tidak.

Beberapa parameter fisik kimia sampah dan air lindi yang diamati dalam penelitian ini, antara lain adalah pH air lindi, temperatur sampah, field capacity sampah, nilai COD, nilai BOD, nilai oksigen terlarut, dan rasio C/N akan dijadikan sebagai variabel bebas. Sedangkan parameter penurunan ketinggian sampah akan dijadikan sebagai variabel terikat mewakili pengurangan volume sampah pada bioreaktor. Pada Tabel 4.3 berikut ini dapat dilihat hasil uji korelasi terhadap penurunan ketinggian sampah dengan menggunakan koefisien pearson sebagai dasar penentuan hubungan.

Ketinggian Sampah

Parameter Korelasi Pearson Aerobik Anaerobik

pH Air Lindi -0,745 -0,598

Temperatur Sampah 0,473 0,608

COD 0,696 0,797

BOD 0,718 0,810

Field Capacity 0,772 0,836

DO -0,283 0,392

Rasio C/N 0,054 -0,278

Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)

Dari hasil uji korelasi, diperoleh bahwa beberapa variabel bebas memiliki nilai R yang lebih besar dari 0,40 (Sesuai dengan Tabel 3.10). Berdasarkan Tabel 4.3, maka variabel bebas yang memiliki korelasi cukup kuat terhadap penurunan ketinggian sampah adalah nilai pH air lindi, temperatur sampah, nilai COD, nilai BOD, dan nilai field capacity sampah. Sethi et.al. (2013) menyatakan bahwa proses stabilisasi sampah dapat berlangsung lebih cepat seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan mikroorganisme. Laju pertumbuhan mikroorganisme akan meningkat ketika nilai pH berada dalam rentang optimum, yaitu antara 6,7 – 7,5. Dari hasil uji korelasi ditemukan bahwa nilai R parameter pH air lindi untuk reaktor aerobik adalah -0,745, sedangkan untuk reaktor anaerobik adalah -0,598. Hal ini menandakan bahwa pH air lindi memiliki korelasi yang cukup kuat terhadap proses dekomposisi sampah yang terlihat melalui penurunan ketinggian sampah. Nilai negatif pada koefisien pearson menandakan bahwa hubungan antara nilai pH air lindi merupakan hubungan yang berkebalikan.

Selain nilai pH air lindi, parameter lainnya yang memiliki korelasi cukup kuat terhadap penurunan muka sampah adalah nilai COD dan nilai BOD air lindi.

Nilai COD dan BOD air lindi merupakan parameter yang menggambarkan proses penguraian zat organik yang terjadi secara langsung (Zhongping et.al., 2010). Nilai COD dan BOD sering kali digunakan untuk menentukan kemampuan dekomposisi material organik. Dari hasil uji korelasi diperoleh bahwa nilai R untuk COD air lindi pada reaktor aerobik adalah 0,696 dan pada reaktor anaerobik adalah 0,797.

Sedangkan nilai R untuk BOD air lindi pada reaktor aerobik adalah 0,718 dan pada

tersebut menyatakan bahwa korelasi yang terbentuk terhadap penurunan ketinggian sampah bersifat kuat. Dari nilai R juga dapat dikatakan bahwa dengan semakin stabilnya nilai COD dan BOD air lindi, maka penurunan ketinggian sampah juga turut stabil.

Nilai field capacity sampah merupakan parameter yang amat penting dalam proses dekomposisi material organik. Nilai field capacity sampah dapat mempengaruhi aktivitas mikroorganisme, mendistribusikan nutrien dan enzim, serta mampu memberikan kondisi yang ideal untuk proses dekomposisi sampah (Noble dan Arnold, 1991). Dari hasil uji korelasi, diperoleh bahwa nilai R untuk parameter field capacity pada kedua reaktor bernilai lebih dari 0,60. Hal ini menandakan bahwa hubungan antara field capacity terhadap penurunan ketinggian sampah merupakan hubungan yang kuat.

Parameter temperatur sampah juga merupakan parameter yang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme dan reaksi kimia yang berlangsung dalam sistem (Sethi et.al., 2013). Nilai temperatur sampah yang optimum untuk menunjang kinerja mikroorganisme berada diantara rentang 34oC – 40oC. Dari hasil uji korelasi diperoleh bahwa nilai R temperatur sampah pada reaktor aerobik adalah 0,473. Nilai ini menunjukkan bahwa sifat korelasi antara temperatur sampah terhadap penurunan ketinggian sampah di reaktor aerobik adalah cukup kuat. Sedangkan untuk nilai R temperatur sampah pada reaktor anaerobik adalah 0,608. Hal ini menunjukkan bahwa sifat hubungan antara variabel bebas tersebut terhadap penurunan ketinggian sampah adalah cukup kuat.

Selanjutnya untuk beberapa parameter fisik-kimia sampah seperti nilai oksigen terlarut dan rasio C/N menunjukkan korelasi yang cukup rendah. Nilai R untuk kedua parameter ini di kedua reaktor lebih kecil dari 0,40.

Selanjutnya untuk menentukan apakah terdapat pengaruh yang nyata dari parameter bebas terhadap parameter terikat yang digunakan dalam model tersebut, maka telah dilakukan uji ANOVA. Dari hasil uji ANOVA (terdapat pada Lampiran 11), diperoleh bahwa nilai F hitung untuk reaktor aerobik adalah 8,52 dan untuk reaktor anaerob adalah 10,53. Koefisien F hitung yang diperoleh tersebut memiliki nilai yang lebih besar bila dibandingkan dengan F tabel dengan nilai sebesar 3,14.

dapat digunakan untuk memprediksi penurunan ketinggian sampah.

Dengan mengetahui bahwa parameter bebas yang dimasukkan mampu memberikan pengaruh secara bersama-sama terhadap penurunan ketinggian sampah, maka selanjutnya perlu diketahui apakah masing-masing parameter bebas memberikan pengaruh secara parsial (terpisah). Untuk menentukan hal tersebut, maka dilakukan uji t dengan menggunakan koefisien regresi parsial. Pada Tabel 4.4 berikut ini dapat dilihat nilai koefisien regresi untuk kedua reaktor.

Tabel 4.4 Nilai Koefisien Regresi Tiap Variabel Bebas Terhadap Penurunan Ketinggian Sampah

Model Reaktor Aerobik Reaktor Anaerobik

t Sig. T Sig.

1

(Constant) -0,43 0,67 -2,63 0,03

pH Air Lindi 1,22 0,25 1,56 0,15

Temperatur Sampah -0,54 0,60 2,64 0,02

COD -0,87 0,41 1,78 0,11

BOD 1,40 0,19 -1,81 0,10

Field Capacity 0,43 0,68 2,36 0,04

Oksigen Terlarut -0,06 0,95 -0,34 0,74

Rasio C/N 0,87 0,40 0,67 0,52

a. Dependent Variable: Penurunan Ketinggian Sampah Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)

Dari hasil uji t diketahui bahwa nilai t tabel untuk jenis data seperti diatas untuk tingkat kepercayaan sebesar 95% adalah 1,81. Sehingga dapat dikatakan hubungan tiap parameter bebas terhadap penurunan ketinggian sampah adalah sebagai berikut :

Ketinggian Sampah

Parameter Reaktor

Aerobik Anaerobik

pH Air Lindi ×

Temperatur

Sampah × ×

COD ×

BOD × ×

Field Capacity × ×

Oksigen Terlarut × ×

Rasio C/N ×

Keterangan : √ : memiliki pengaruh parsial terhadap penurunan ketinggian sampah

× :tidak memiliki pengaruh parsial terhadap penurunan ketinggian sampah

Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)

Selanjutnya pada Tabel 4.6 dan Tabel 4.7 dibawah dapat dilihat bahwa nilai koefisien determinasi yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah 0,856 untuk reaktor aerobik dan 0,881 untuk reaktor anaerobik. Hal ini menjelaskan bahwa besarnya persentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah 85,60% untuk reaktor aerob dan 88,10% untuk reaktor anaerobik. Sedangkan sisa persentase untuk tiap reaktor menyatakan bahwa ada faktor lain yang turut mempengaruhi penurunan ketinggian sampah namun tidak terukur dalam penelitian ini.

Tabel 4.6 Koefisien Determinasi Model Hubungan Variabel Bebas Terhadap Penurunan Ketinggian Sampah di Reaktor Aerobik

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 0,944a 0,891 0,814 0,022

a. Predictors: (Constant), Rasio C/N, Temperatur Sampah, Field Capacity, pH Air Lindi, DO, COD, BOD

b. Dependent Variable: Penurunan Ketinggian Sampah Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)

Penurunan Ketinggian Sampah di Reaktor Anaerobik

Model R R

Square

Adjusted R Square

Std.

Error of the Estimate

1 0,896a 0,804 0,666 0,023

a. Predictors: (Constant), Rasio C/N, Temperatur Sampah, Field Capacity, pH Air Lindi, DO, COD, BOD

b. Dependent Variable: Penurunan Ketinggian Sampah Sumber : Hasil Olahan SPSS (2015)

Dari hasil uji regresi tersebut diperoleh bahwa model regresi untuk memprediksi penurunan ketinggian sampah akibat adanya pengaruh beberapa variabel bebas adalah sebagai berikut :

Untuk reaktor aerob :

𝑦 = 243,91 − 13,41 𝑥1− 3,24 𝑥2+ 0,61 𝑥3 − 9,46 𝑥4+ 0,82 𝑥5 Untuk reaktor aerob :

𝑦 = 177,54 − 3,79 𝑥1 − 2,01 𝑥2+ 128,43 𝑥3 − 18,65 𝑥4− 6,18 𝑥5 Dengan nilai y merupakan ketinggian sampah pada masing-masing reaktor, X1 merupakan nilai pH air lindi, X2 merupakan nilai temperatur sampah, X3 merupakan nilai field capacity sampah, X4 merupakan nilai oksigen terlarut, dan X5 merupakan nilai rasio C/N sampah. Konstanta sebesar 243,91 pada reaktor aerob dan 177,54 pada reaktor anaerob menandakan bahwa jika tidak ada variabel bebas, maka ketinggian sampah pada reaktor adalah sebesar konstanta tersebut. Tanda negatif menyatakan adanya hubungan yang berkebalikan antara ketinggian sampah dengan variabel bebas tersebut.

4.5 Analisis Perubahan Konsentrasi Logam Berat Pada Air Lindi

Konsentrasi logam berat pada air lindi merupakan salah satu parameter penting yang perlu diperhatikan kuantitasnya. Informasi mengenai keberadaan logam berat pada air lindi dapat digunakan untuk mendesain fasilitas pengolahan air lindi yang perlu diterapkan serta dapat digunakan untuk analisis risiko lingkungan yang mungkin terjadi.

Beberapa jenis logam berat yang sering kali ditemukan terdapat pada air lindi adalah seng, tembaga, kadmium, timbal, nikel, kromium, dan merkuri (Lu

akibat adanya proses fisis yang terjadi, seperti reaksi korosi, reaksi presipitasi, dan reaksi kompleksasi.

4.5.1 Analisis Konsentrasi Logam Cu Pada Air Lindi

4.5.1.1 Analisis Deskriptif Perubahan Konsentrasi Logam Cu Pada Air Lindi Pengukuran konsentrasi logam Cu tersebut dilakukan dengan menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometryi). Pengukuran konsentrasi logam Cu dilakukan setiap hari pada tahap 1, setiap seminggu sekali pada tahap 2, dan setiap 2 minggu sekali pada tahap 3. Gambar 4.15 memperlihatkan konsentrasi Logam Cu pada air lindi untuk tiap reaktor.

Gambar 4.13 Konsentrasi Logam Cu di Air Lindi Pada Tiap Reaktor

Sumber : Hasil Olahan Penulis (2015)

Konsentrasi logam Cu yang diperoleh pada awal penelitian adalah 0,222 mg/L untuk reaktor aerob dan 0,149 mg/L pada reaktor anaerob. Nilai konsentrasi logam Cu menunjukkan tren yang menurun hingga akhir tahap 1. Konsentrasi Cu2+

pada reaktor aerob turun dari 0,222 mg/L menjadi 0,080 mg/L pada akhir tahap 1.

Sedangkan konsentrasi logam Cu pada reaktor anaerob juga turun dari 0,149 mg/L menjadi 0,080 mg/L pada akhir tahap 1.

mengukur keberadaan logam Cu pada air lindi. Penelitian yang dilakukan oleh Kjeldsen et.al. (2002) di Jerman memperoleh bahwa rentang konsentrasi logam Cu berkisar antara 0,004 mg/L – 1,4 mg/L. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Christensen et.al. (2001) menemukan bahwa konsentrasi logam Cu yang ada pada air lindi berkisar antara 0,18 mg/L – 1,30 mg/L. Pada penelitian ini, rentang konsentrasi logam Cu yang ditemukan berkisar antara 0,049 mg/L – 0,222 mg/L.

Penurunan konsentrasi logam Cu pada awal tahap penelitian terjadi sejalan dengan nilai pH air lindi yang mengalami peningkatan. Selama tahap 1 penelitian, nilai pH air lindi meningkat dari 5,31 menjadi 6,92 untuk reaktor aerob. Sedangkan untuk reaktor anaerob, nilai pH air lindi meningkat dari 5,36 menjadi 6,53. Nilai pH yang cenderung naik tersebut mengakibatkan daya larut logam berat yang terdapat dalam sampah menjadi turun. Selain akibat peningkatan nilai pH, penurunan konsentrasi logam logam Cu pada fase awal juga terjadi akibat adanya perlakuan resirkulasi air lindi yang diberlakukan terhadap kedua reaktor. Perlakuan

Penurunan konsentrasi logam Cu pada awal tahap penelitian terjadi sejalan dengan nilai pH air lindi yang mengalami peningkatan. Selama tahap 1 penelitian, nilai pH air lindi meningkat dari 5,31 menjadi 6,92 untuk reaktor aerob. Sedangkan untuk reaktor anaerob, nilai pH air lindi meningkat dari 5,36 menjadi 6,53. Nilai pH yang cenderung naik tersebut mengakibatkan daya larut logam berat yang terdapat dalam sampah menjadi turun. Selain akibat peningkatan nilai pH, penurunan konsentrasi logam logam Cu pada fase awal juga terjadi akibat adanya perlakuan resirkulasi air lindi yang diberlakukan terhadap kedua reaktor. Perlakuan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 115-0)