• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 Hasil Analisis Data. .1 Uji Asumsi Klasik

5.1.5 Analisis Determinasi (R 2 )

diterima dan Ho ditolak. Secara statistik jumlah pemetik berpengaruh sangat nyata terhadap produktivitas tanaman teh di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar. 5.1.4 Analisis Korelasi (R)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2,…Xn) terhadap variabel dependen (Y) secara serentak.

Dari hasil analisis regresi, lihat pada output moddel summary dan disajikan pada tabel 9 berikut ini:

Tabel 9. Koefisien Korelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .913a .833 .805 861.75784

a. Predictors: (Constant), luas lahan, kapasitas pemetik, umur tanaman, umur pangkasan, jumlah p

b. Dependent Variable: produktivitas Sumber : data primer yang diolah (2015)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh angka R sebesar 0.913. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat antara faktor – faktor produksi yang ada terhadap produktivitas teh.

5.1.5 Analisis Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu (Ghozali, 2001 dalam Sutrisni 2010). Nilai koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 10 dibawah ini:

Tabel 10. Koefisien Determinasi (R2)

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .913a .833 .805 861.75784

55 Hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS versi 20 dapat diketahui bahwa koefisien determinasi (R Square) yang diperoleh sebesar 0,833 Hal ini berarti 83,3% produktivitas teh dapat dijelaskan oleh variabel umur tanaman teh, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan, sedangkan sisanya yaitu 16,7% produktivitas tanaman teh dipengaruhi oleh va riabel-variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

5.1.6 Uji F

Hasil perhitungan parameter model regresi secara bersama-sama diperoleh pada tabel 11 berikut ini :

Tabel 11. Hasil Analisis Regresi Secara Bersama-sama (Uji F) ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regressi on 107702145.633 5 21540429.127 29.006 .000 b Residual 21536170.653 29 742626.574 Total 129238316.286 34

Sumber : Data primer yang diolah (2015)

Uji F digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan (bersama-sama). Hasil uji F dikaitkan dengan hipotesis yang diajukan, yaitu:

b. H0 berarti tidak ada pengaruh yang signifikan dari umur tanaman, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan.

c. H1 berarti ada pengaruh yang signifikan dari umur tanaman, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan.

d. Pengujian pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel dependen dilakukan dengan menggunakan uji F. Hasil perhitungan statistic menunjukkan nilai F hitung = 29,006 dengan signifikansi sebesar 0,000 <

56 0,05. Hal ini berarti bahwa secara bersama-sama umur tanaman, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tanaman teh.

5.2 Pembahasan

Produktivitas teh di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar dari tahun ke tahun sering mengalami penurunan. Penurunan produktivitas teh ini dapat kita lihat pada tabel 12 berikut ini :

Tabel 12. Hasil Produktivitas Teh pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar

No Tahun Produktivitas

Pucuk (kg/ha) Kering (kg/ha)

1 2010 12.652 2.811 2 2011 13.865 3.082 3 2012 15.307 3.403 4 2013 14.173 3.159 5 2014 13.666 3.384 Jumlah 69.663 15.839 Rata-rata 13.933 3.168

Sumber : Afdeling A PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar (2015)

Dapat kita lihat pada tabel diatas dimulai sejak tahun 2012 sampai 2014 produktivitas teh di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar mengalami penurunan. Hal ini di disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi produksi diantara adalah (1) tanaman (populasi, umur tanaman, jenis tanaman, umur pangkas, dan potensi genetik); (2) lingkungan tempat tumbuh (iklim, yang terdiri atas curah hujan, hari hujan, suhu udara, kelembaban udara, serta panjang penyinaran matahari); (3) tanah yang meliputi jenis, topografi, elevasi, fisik, kimia dan biologi tanah. Pada penelitian ini hanyamembahas lima faktor produksi diantaranya adalah umur tanaman, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik, dan luas lahan.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh faktor-faktor produksi ini terhadap produktivitas teh.

57 1. Umur Tanaman Teh

Umur tanaman teh secara statistik berpengaruh tidak nyata terhadap produksi teh perhektar di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar. Koefisien regresi untuk umur tanaman teh bernilai negatif, dimana asumsi yaitu semakin bertambah umur tanaman maka produksi perhektar teh (produktivitas) akan berkurang. artinya semakin tua atau semakin bertambah umur tanaman teh maka akan menghasilkan produksi perhektar yang semakin menurun. Kesimpulan ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Adimulya (2006) bahwa ) Tanaman teh yang umurnya semakin tua produksinya akan menurun yang disebabkan oleh melemahnya tanaman, karena umur ekonomi tanaman teh berproduksi baik kira-kira selama 40-50 tahun, jika telah melebihi dari waktu tersebut maka produksi teh akan turun. Hal ini juga didukung oleh pendapat Raharja (2010) yang menyatakan produksi teh semakin menurun karena umur disebabkan oleh tanaman yang semakin tua, akan semakin banyak bagian tanaman yang tidak produktif berupa batang atau cabang serta bagian akar yang besar. Dengan semakin banyaknya bagian tanaman yang tidak produktif, akan semakin banyak pula energi yang dihasilkan melalui fotosintesis dan makanan yang diserap dari dalam tanah yang digunakan untuk menyangga kelangsungan hidup dari bagian tanaman yang tidak produktif tersebut. Sebaliknya semakin sedikit energi yang dapat dimanfaatkan tanaman untuk menghasilkan pucuk sehingga potensi produksi tanaman teh akan menurun dengan semakin bertambahnya umur tanaman secara relatif, walaupun kondisi tanaman tersebut cukup baik. Menurut Adimulya (2006) tanaman teh dikenal mempunyai umur panjang mencapai 100 tahun. Meskipun demikian umur ekonominya hanya kira-kira 40-50 tahun. Melemahnya tanaman

58 yang menyebabkan produksi menurun dapat disebabkan oleh umur tanaman teh yang sudah tua. Produksi kebun mencapai puncaknya pada umur 21-30 tahun dan setelah itu maka produksi akan menurun.

Umur teh pada PTPN VI unit usaha Danau Kembar saat ini sudah ada yang memasuki 35 tahun dengan tahun tanam 1980. Oleh karena itu produksi ataupun produktivitas tanaman teh ini mulai berkurang. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Adimulya (2006) bahwa produksi puncak tanaman teh ini pada umur 20-30 tahun sedangkan pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar Sudah melebihi 30 tahun, sehingga produksi/Produktivitasnya menurun.

2. Umur Pangkasan

Umur pangkasan secara statistik berpengaruh tidak nyata terhadap produksi teh perhektar di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar. Koefisien regresi untuk umur pangkasan bernilai negatif, artinya semakin bertambah umur pangkasan teh maka produksi perhektar akan semakin menurun. Kesimpulan ini sesuai dengan yang dinyatakan Tobroni (1988) dalam Mutiara (2010) bahwa Produktivitas tanaman teh akan menurun sebanding dengan bertambahnya umur pangkas. Semakin tua umur pangkasan, maka akan semakin banyak bagian yang membutuhkan hasil fotosintesis sehingga pucuk yang dihasilkan berukuran lebih kecil dan lebih ringan meskipun jumlah pucuk semakin banyak.

Raharja (2010) juga menyatakan pada tahun ketiga atau keempat setelah dilakukan pemangkasan produksi tanaman teh biasanya menurun, karena umur produksi yang bagus berkisar 3-4 tahun setelah pemangkasan.

Pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar dilakukan pemangkasan mencapai pada umur 55 bulan hal ini menyebabkan produksi menurun, karena seharusnya

59 umur pemangkasan yaitu berkisar 3-4 tahun. Sebaiknya agar produksi tidak lagi menurun sebaiknya waktu pangkasan di sesuaikan dengan baik.

3. Jumlah pemetik

Jumlah pemetik secara statistik jumlah pemetik sangat berpengaruh nyata terhadap produksi teh di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar. Koofisien regresi untuk jumlah pemetik bernilai positif artinya semakin banyak jumlah pemetik maka produksi perhektar akan semakin meningkat. Secara umum jika jumlah tenaga kerja ditambah maka akan menghasilkan produksi yang lebih dari tanpa penambahan tenaga kerja. Kesimpulan penelitian ini mendukung hasil penelitian adimulya (2006) yang menyatakan jumlah tenaga pemetik berpengaruh nyata pada taraf 99% terhadap hasil produktivitas dan nilai koefisiennya sebesar 0,943 menurut pembagian daerah produksi, nilai koefisien jumlah pemetik masih berda di daerah rasional. Hal tersebut berarti penambahan tenaga pemetik masih dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Apabila jumlah pemetik dinaikkan 0,943% atau sama dengan 1%, maka produktivitas pucuk meningkat sebesar 1%.

Jumlah pemetik pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar sekarang yaitu sebanyak 26 orang pemetik gunting, 15 orang pemetik mesin. Sebenarnya pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar ini masih mengalami kekurangan tenaga pemetik, hal ini yang sering menyebabkan target tidak tercapai. Karena jumlah pemetik mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Jika ada penambahan jumlah pemetik maka produksi juga akan bertambah.

4. Kapasitas Pemetik

Kapasitas pemetik secara statistik kapasitas pemetik berpengaruh sangat nyata terhadap produksi teh perhektar di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar.

60 Koefisien regresi untuk kapasitas pemetik bernilai positif, artinya semakin besar kapasitas pemetik maka akan menghasilkan produksi perhektar yang semakin tinggi. Kapasitas setiap pemetik berbeda-beda karena itu merupakan kemampuan seorang untuk memetik atau menghasilkan produksi. Dalam pemetikan teh biasanya pemetik mempunyai target yang harus dicapai, biasanya target ini berkisar pada berat 45 – 50 kg pucuk. Jika pemetik menghasilkan lebih dari target maka itu akan terhitung sebagai premi. Oleh karena itu biasanya pemetik akan mengejar premi. Jumlah dari total target dan premi itu merupakan kapasitas pemetik dalam satu hari.

5. Luas Lahan

Luas lahan secara statistik berpengaruh sangat nyata terhadap produksi perhektar teh di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar. Koefisien regresi untuk luas lahan bernilai negatif, artinya semakin bertambah luas lahan maka akan menghasilkan produksi perhektar yang semakin turun. Kesimpulan ini berbanding terbalik dengan yang dinyatakan Irmayani Noer dan Agus (2007) yang menyatakan luas areal tanam dan produksi dipengaruhi oleh perubahan harga dan produksi perhektar juga dipengaruhi oleh perubahan areal tanam, dalam penelitiannya Irmayani Noer dan Agus (2007) menyimpulkan bahwa peningkatan produksi sebagai akibat peningkatan jumlah areal tanam.

Menurunnya produksi disini disebabkan oleh beberapa kendala lain, seperti pada lahan yang luas proses manajemen mulai dari pemeliharaan dan lainnya susah dibandingkan dengan luasan lahan yang sempit. Contohnya dapat kita lihat pada tabel 13 berikut ini:

61 Tabel 13. Luas Lahan dan Produksi Perhektar Teh pada PTPN VI Unit Usaha

Danau Kembar

No Luas Lahan (ha) Produktivitas (kg/ha)

1 6,42 16948 2 6,32 16948 3 8,91 12584 4 6,92 16948 5 6,72 16948 6 9,7 12816 7 9,41 12686 8 7,36 16948 9 7,36 16948 10 9,02 12568 11 9,12 16948 12 10,32 16947 13 5,41 16948 14 7,91 16948 15 10,09 12659 16 9,59 12562 17 9,07 12520 18 7,26 16948 19 7,49 16948 20 9,32 12625 21 7,81 16948 22 10,99 16948 23 7,80 16948 24 7,97 16948 25 7,18 16948 26 6,55 16948 27 6,31 12938 28 6,01 15618 29 5,70 16948 30 5,72 16948 31 8,99 16948 32 9,00 16948 33 4,10 12759 34 7,57 16948 35 8,71 16947

Sumber : PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar (2015)

Terlihat pada tabel 13 diatas produksi perhektar yang dihasilkan sama dengan luasan lahan yang berbeda, hal ini disebabkan karena pada luasan lahan yang besar proses pengelolaannya akan susah dibandingkan dengan luas lahan yang sempit. Contohnya pada luasan lahan yang besar penyerangan hama dan

62 penyakit sangat mudah dan untuk mengendalikannya sangat susah, jika dibandingkan dengan luasan lahan yang kecil.

Luas lahan yang bertambah dan produksi perhektar teh menurun ini juga disebabkan oleh kurang baiknya manjemen yang dilakukan pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar ini. Manajemen yang kurang baik ini diantaranya adalah : 1. Dilihat dari segi pemeliharaan.

Pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar ini melakukan pemeliharaan yaitu : a. Pemupukan

Pemupukan merupakan bagian pemeliharaan kebun teh yang sangat penting dan harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh karena anggaran biaya pemupukan merupakan pengeluaran yang sangat besar, jika dilakukan tidak tepat maka akan merugikan perusahaan. Pemupukan yang dilakukan pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar ini masih kurang tepat karena pemupukan yang dilakukan tidak sesuai dengan dosis yang ditetapkan sehingga menghasilkan produksi yang kurang optimal. Menurut Balai Penelitian dan Pengembangan Perkebunan dosis pupuk yang digunakan pada tanaman teh adalah sebagai berikut :

Tabel 14. Jenis, Dosis dan Aplikasi Pemupukan Pada Tanaman Teh

Jenis pupuk Hara Dosis optimal Aplikasi setahun

Urea, ZA N 250 – 350 3 – 4 kali

TSP, PARP P2O5 60 – 120 1 – 2 kali

MOP, ZK K2O 60 – 180 2 – 3 kali

Kieserit MgO 30 – 75 2 – 3 kali

Sumber : Balai Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, (2010).

Pada tabel dapat kita lihat untuk bahwa pupuk urea, ZA untuk tanaman teh adalah 250-350 sedangkan yang digunakan pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar hanya sebagian, ini dapat dilihat pada kasus pemupukan pada blok 8 dengan luas 7,91 ha tapi pupuk Urea dan ZA yang digunakan hanya 673 kg dan

63 260 Kg. dapat dihitung pemakaian Urea hanya 85kg/ha dan ZA 33kg/ha, jika dijumlahkan sehingga mendapatkan hasil 118kg/ha. Dapat kita simpulkan bahwa penggunaan pupuk yang dilakukan kurang dari dosis yang ditetapkan.

e. Pengendalian hama dan penyakit.

Pengendalian hama dan penyakit merupakan salah satu factor penting untuk mendapatkan produksi yang maksimal. Hama adalah semua hewan atau organisme yang mengambil, memakan, dan merusak secara langsung bagian tanaman, sedangkan penyakit adalah semua pathogen yang merusak fungsi, bentuk dan nilai ekonomi tanaman teh. Organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat keberhasilan produksi tanaman teh. Manajemen dalam pengendalian hama dan penyakit ini juga kurang optimal karena disini hanya melakukan pembasmian hama dan penyakit yang ada dan belum melakukan pencegahan atas hama dan penyakit tersebut. Dan juga dosis yang digunakan kurang tepat karena ada juga penyakit atau hama yang tidak bisa dikendalikan dengan dosis yang digunakan, seharusnya kalau tidak bisa dikendalikan dengan dosis yang ditetapkan dosis yang digunakan bisa ditingkatkan.

f. Pemangkasan

Pemangkasan dilakukan untuk mempertahankan kondisi bidang petik sehingga memudahkan dalam pekerjaan pemetikan dan mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi. Pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar pemangkasan yang dilakukan kurang tepat karena umur pangkasan yang dilakukan terlalu terlalu tua mencapai 4,5 tahun sedangkan seharusnya tanaman teh itu dipangkas umur 3-4

64 tahun. Karena manjemen pemangkasan yang dilakukan kurang baik menyebabkan produksi menurun.

g. CWC (Ceminal Weding Chemis)

CWC (Ceminal Weding Chemis) merupakan kegiatan penyemprotan gulam secara kimia pada sekitar tanaman teh termasuk jalur jalan dan gulma yang ada dibawah pokok teh. Pengendalian gulma dengan cwc juga memiliki target kerja sehingga pengendalian yang dilakukan tidak optimal, kadang pada lahan yang telah dilakukan cwc gulmanya tidak mati sehingga dapat menghambat pertumbuhan pucuk teh. Ini disebabkan penyerapan hara oleh teh tidak optimal. Ada halnya gulma tidak mati yang disebabkan oleh dosis yang digunakan tidak tepat. Pada lahan yang pertumbuhan gulmanya banyak dosis seharusnya ditingkatkan, contohnya pada kasus CWC yang dilakukan pada blok 15 dengan dosis yang digunakan 0,066/l air namun pada dosis itu gulma tidak mati, seharusnya dosis yang digunakan bisa ditambahkan agar gulma mati, walaupun asisten telah menyuruh meningkatkan dosis tapi mandor tidak mengikutinya. h. Polling Out

Polling out adalah membersihkan tanaman pengganggu yang tumbuh sudah melebihi tinggi teh, yang bermunculan diatas permukaan tanaman teh. Polling out ini bagusnya dilakukan pada lahan yang akan dipetik, kalau tidak dilakukan sebelum pemetikan maka pucuk yang dihasilkan mutunya kurang baik karena bercampur dengan gulma. Produksi yang dihasilkan juga akan menurun yang disebabkan oleh waktu yang terpakai oleh tenaga kerja untuk mencabut gulma sebelum dipetik dan mengahasilkan produksi yang tidak optimal. Ini disebabkan

65 oleh bagian pemetikan yang sudah memasuki areal tersebut namun bagian polling out belum masuk ke areal tersebut.

2. Dilihat dari segi tenaga kerja.

Menurut Sulistiana (2015) tenaga kerja adalah penduduk dalam usia kerja (berusia15-64 tahun) atau tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut Machfudz, 2007:97 dalam Sulistiana (2015) Faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting untuk diperhatikan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup, bukan saja dilihat dari tersedianya lapangan kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja. Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan tenaga karja adalah :

a. Ketersediaan tenaga kerja b. Kualitas tenaga kerja.

c. Jenis kelamin akan menentukan jenis pekerjaan.

d. Tenaga kerja yang bersifat temporer atau musiman dalam sektor pertanian. e. Upah tenaga kerja perempuan dan laki-laki tentu berbeda

Tenaga kerja pemetikan yang tersedia pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar adalah sebagai berikut :

66 Tabel 15. Luas Lahan dan Jumlah Tenaga Kerja Pemetikan pada PTPN VI Unit

Usaha Danau Kembar

No Luas Lahan (ha) Jumlah Tenaga Kerja (orang)

1 6,42 3 2 6,32 3 3 8,91 4 4 6,92 3 5 6,72 3 6 9,7 4 7 9,41 4 8 7,36 3 9 7,36 3 10 9,02 4 11 9,12 4 12 10,32 4 13 5,41 2 14 7,91 3 15 10,09 4 16 9,59 4 17 9,07 4 18 7,26 3 19 7,49 3 20 9,32 4 21 7,81 3 22 10,99 4 23 7,80 3 24 7,97 3 25 7,18 3 26 6,55 3 27 6,31 3 28 6,01 3 29 5,70 2 30 5,72 2 31 8,99 4 32 9,00 4 33 4,10 2 34 7,57 3 35 8,71 4

Sumber : Afdeling A PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar (2015)

Tabel diatas dapat kita lihat bahwa pada peningkatan luas lahan tidak diikuti oleh pertambahan jumlah tenaga kerja. Contohnya pada tabel no 1 luasan lahan 6,42 ha dengan tenaga kerja 3 orang sedangkan pada no 8 luasan lahan 7,36 ha dengan jumlah tenaga kerja tetap 3 orang, berarti disini ada penambahan luasan

67 lahan sedangkan tenaga kerja yang digunakan tetap, seharusnya jika ada pertambahan luas lahan maka harus diikuti dengan pertambahan jumlah tenaga kerja agar pencapaian produksi optimal

Berdasarkan analisis diatas dapat dilihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas teh yang berpengaruh nyata dan signifikan adalah jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan dan sedangkan umur tanaman teh dan umur pangkasan berpengaruh tidak nyata dan tidak signifikan terhadap produktivitas teh.

Berdasarkan lima faktor yang dianalisis dapat diketahui bahwa kapasitas pemetik adalah yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas dibandingkan 4 faktor lainnya karena nilai signifikan kapasitas pemetik 0,000 dimana faktor tersebut berpengaruh sangat nyata terhadap produktivitas.

Hasil analisis korelasi (R) diperoleh nilai R sebesar 0,9013. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat antara umur tanaman teh, umur pangkasan teh, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan terhadap produktivitas teh karena nilai R hampir mendekati 1. Dimana menurut Sugiyono (2007) dalam Priyatno (2010) menyatakan nilai R semakin mendekati 1 berarti hubungan yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah.

Analisis determinasi digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel independen (X1, X2,…Xn) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). Koefisien ini menunjukkan seberapa besar persentase variasi variabel independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variasi variabel dependen. R2 sama dengan 0, maka tidak ada sedikitpun persentase

68 sumbangan pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen, atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model tidak menjelaskan sedikitpun variasi variabel dependen. Sebaliknya R2 sama dengan 1, maka persentase sumbangan pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen adalah sempurna, atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model menjelaskan 100% variasi variabel dependen.

Berdasarkan hasil analisis korelasi, diperoleh angka R2 (R Square) sebesar 0,833 atau 83,3%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independen ( umur tanaman, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan ) terhadap variabel dependen (produktivitas) sebesar 83,3% atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model (umur tanaman, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan) mampu menjelaskan sebesar 83,3% variasi variabel dependen (produktivitas). Sedangkan sisanya sebesar 16,7% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

Adjusted R Square adalah nilai R Square yang telah disesuaikan. Menurut Santoso cit. Priyatno (2010) bahwa untuk regresi dengan lebih dari dua variabel independen digunakan Adjusted R2 sebagai koefisien determinasi. Nilai adjusted R Square adalah 0,805 atau 80,5%. Sedangkan Standard Error of teh Estimate adalah kesalahan model regresi dalam memprediksikan nilai Y. Dari hasil regresi didapatkan nilai 861,75784 atau 861,75784kg (satuan produksi), hal ini berarti banyaknya kesalahan dalam prediksi produktivitas teh di PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar sebesar 898,02745kg.

69 Nilai F statistik ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen dengan membandingkan nilai F statistik dengan F Tabel.

Berdasarkan hasil uji menggunakan spss 20 diperoleh bahwa F stat atau F hitung sebesar 29,006 sedangkan F Tabel 2,55. Artinya F statistik (29,0061 ) > F Tabel (2,55). Dari hasil tersebut dapat diambil keputusan bahwa secara bersama-sama dari semua variabel independen umur tanaman, umur pangkasan, jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu produktivitas teh.

70

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar, maka Penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Faktor umur tanaman dan umur pangkasan teh berpengaruh tidak nyata

terhadap produktivitas tanaman teh. Jumlah pemetik, kapasitas pemetik dan luas lahan berpengaruh sangat nyata terhadap produktivitas tanaman teh terhadap produktivitas tanaman teh pada tingkat signifikan 5%.

2. Hasil analisis regresi dari faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas teh adalah sebagai berikut :

Y = 16.683,561 +(– 11,057 X1) +(-118,292 X2) + 1120 ,122 X3 + 78,038 X4+ (–530,427 X5)

6.2.Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka Penulis mengajukan beberapa saran yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas teh pada PTPN VI Unit Usaha Danau Kembar untuk masa yang akan datang menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang lainnya yang dapat mempengaruhi tingkat produktivitas teh seperti curah hujan, ketinggian tempat yang digunakan.

71

DAFTAR PUSTAKA

Adimulya, V. 2006. Analisis Produksi Teh (Camellia sinensis (L) O.Kuntze) di Kebun Jolotigo, PTPN IX, Pekalongan, Jawa Tengah. Institut Pertanian Bogor.

Detik Com. 2014. Kinerja Ekspor Teh. http://news.detik.com/ transisipresiden/read/2014/01/15/120323/2467516/1036/index.php Direktorat Jenderal perkebunan. 2013. Perkembangan Produksi Komoditi

Perkebunan 2008-2013. http://ditjenbunpertanian.go.id/tinymcpuk/gam Bar/file/produksi Estimasi 2013.pdf

Hartoyo,A.M.S. 2003. Teh dan Khasiatnya bagi Kesehatan. Kanisius. Yogyakarta. Johan, E. 2008. Pengaruh Ketinggian Pangkasan pada Tanaman Teh Klon TRI 2024 Saat Kemarau Terhadap Pertumbuhan Tanaman Setelah Dipangkas. Jurnal Penelitian Teh dan Kina. Pusat Penelitian Teh dan Kina. Bandung. 58–65.

Murti, K. 2003. Buku Ajar Budidaya Tanaman Teh dan Karet. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Payakumbuh.

Mutiara, D. 2010. Pengelolaan Pemetikan Tanaman Teh (Camellia sinensis (L) O.Kunt.) di Unit Perkebunan Tambi PT. Tambi, Wonosobo, Jawa

Dokumen terkait