Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu merupakan variabel kelembagaan yang berhubungan dengan motivasi berusahatani tebu, yaitu : Lembaga pelayanan (X1), Lembaga Penunjang (X2), Lembaga penyuluhan (X3),
51 Lembaga pengolahan dan bagi hasil (X4), Lembaga Penelitian dan pengembangan (X5).
Pengolahan data yang dilakukan pada analisis faktor bertujuan untuk menilai variabel mana saja yang dianggap layak untuk dilakukan pada analisis selanjutnya. Hasil pengolahan awal yang terbentuk tersebut memperlihatkan angka Kasier Measure of Sampling Adequacy (KMO MSA) mencapai 0,882 dengan signifikasi 0,000 dan nilai Chi Square pada tes Bartlett’ sebesar 318.797. Oleh karena angka MSA sudah diatas 0,5 dan signifikasi jauh di bawah 0,05 (0,000<0,05), maka variabel awal dapat dianalisis lebih lanjut (Lampiran 1). Pada pengolahan awal ini diperoleh empat faktor dominan yang mempengaruhi motivasi berusahatani. Proses analisis yang dilakukan adalah dengan mengeluarkan variabel yang memiliki nilai MSA di bawah 0,5 dari pemilihan variabel.
Terdapat dua kali proses pemilihan variabel yang layak dalam penelitian ini, hal ini dikarenakan masih terdapat variabel yang memiliki nilai MSA di bawah 0,5 setelah proses pemilihan variabel. Uji kelayakan variabel yang pertama dapat dilihat pada Lampiran 1 pada Tabel Anti Image Matrices (anti image correlation matrices). Pada Tabel tersebut terlihat ada satu variabel yang memiliki MSA kurang dari 0,05 yaitu variabel lembaga penelitian dan pengembangan (0,402).
Variabel yang memiliki nilai MSA terkecil tersebut adalah variabel lembaga penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengembangkan pertanian tebu. Informasi mengenai pengembangan pertanian tebu kurang dirasakan oleh para petani responden, sehingga kurang memotivasi petani dalam berusahatani tebu. Variabel litbang ini direduksi dalam analisis selanjutnya.
Setelah variabel litbang dikeluarkan dari pemilihan variabel sisanya diolah kembali. Pada pemilihan proses variabel yang kedua tidak ada variabel yang memiliki nilai MSA di bawah 0,5 dan dihasilkan empat variabel yang memenuhi syarat yang dianalisis lebih lanjut (Lampiran 2).
Proses pemilihan variabel yang kedua ini menghasilkan satu faktor utama yang membentuk motivasi berusahatani tebu dengan eigenvalue yang lebih besar
52 dari satu dan dapat menjelaskan 94,887 persen dari total faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi berusahatani tebu, dan sebanyak 5,113 persen dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini. Angka KMO MSA mengalami kenaikkan dari 0,882 menjadi 0,885 dan tetap signifikan (0,000). Nilai MSA mengalami kenaikkan setelah membuang variabel yang tidak memenuhi persyaratan.
Nilai communality menunjukkan proporsi keragaman dari suatu variabel asal yang dapat dijelaskan oleh faktor yang terbentuk. Semakin tinggi nilai communality sebuah variabel berarti semakin erat hubungannya dengan faktor yang terbentuk dan semakin besar juga keragaman variabel tersebut yang dijelaskan oleh faktor yang terbentuk. Tabel 17 menunjukkan nilai communality dari empat variabel yang dianalisis berdasarkan urutan dari yang terbesar sampai yang terkecil.
Tabel 17. Nilai Communality Variabel Kelembagaan Petani Tebu
No Variabel Nilai Communality
1 Lembaga Pelayanan 0,960
2 Lembaga Penunjang 0,954
3 Lembaga Penyuluhan 0,951
4 Lembaga Pengolahan dan Bagi Hasil 0,930
Tabel 17 terdapat variabel yang mempunyai nilai communality yang paling besar adalah lembaga pelayanan dengan nilai commonality 0,960. Hal ini berarti lembaga pelayanan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap faktor yang terbentuk, yaitu lembaga yang bersifat fasilitas yang diperlukan dalam usahatani tebu. Variabel lembaga pelayanan memiliki sebaran persepsi yang bervariasi (Tabel 12), hal tersebut disebabkan karena pada beberapa indikator antara petani dan lembaga pelayanan kurang mempunyai hubungan yang erat, yaitu pada indikator pemanfaatan kredit, dan jumlah talangan.
Terdapat 18 persen petani yang sama sekali tidak pernah mengajukan kredit ke KPTR, hal ini dapat dipahami bahwa tidak seluruh petani meminjam ke koperasi terutama kredit saprodi seperti pupuk dan obat-obatan. Hal ini wajar, karena kemampuan petani berbeda-beda.
53 Setelah lembaga pelayanan, diikuti oleh tiga variabel lainnya yang memiliki nilai communality di bawahnya yaitu variabel lembaga penunjang dengan nilai communality 0,954. Variabel ini sebagai variabel pembentuk motivasi berusahatani tebu terbesar kedua. Variabel lembaga penunjang ini mempunyai variasi yang sebagian besar mengelompok pada kategori cukup memuaskan. Dilihat dari indikator Kinerja APTRI dalam menuntut keadilan rendemen, keadaan harga dasar gula sejak didirikan APTRI, dan keikutsertaan APTRI dalam pelelangan harga menunjukkan bahwa responden cukup puas akan penunjang tersebut.
Variabel lembaga penyuluhan mempunyai nilai communality 0,951, variabel ini sebagai variabel pembentuk motivasi berusahatani tebu ketiga setelah variabel lembaga penunjang. Variabel lembaga pengolahan dan bagi hasil dengan nilai communality 0,930, variabel ini merupakan pembentuk faktor terendah. Hal ini dikarenakan kurang bervariasinya persepsi responden terhadap variabel ini. Tetapi variasinya mengelompok pada kategori sangat sering dan cukup memuaskan.
Setelah dilakukan tahap awal yaitu analisis faktor yaitu penyaringan terhadap sejumlah variabel hingga didapat variabel-variabel yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Selanjutnya dilakukan proses inti dari analisis faktor yaitu melakukan ekstrasi terhadap sekumpulan variabel yang ada sehingga terbentuk satu atau lebih faktor. Motode yang digunakan yaitu Principal Component Analysis.
Agar terdapat perbedaan yang nyata pada nilai loading dari setiap variabel tersebut, maka dilakukan proses rotasi. Rotasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rotasi metode varimax, yang bertujuan untuk memperbesar nilai loading, sehingga diperoleh distribusi loading yang lebih jelas dan berbeda nyata.
Pernyataan hasil yang didapat terlihat bahwa proses factoring hanya menghasilkan satu faktor saja. Dengan demikian, tidak diperlukan proses rotasi lagi, karena proses rotasi digunakan untuk memperjelas variabel masuk pada faktor mana, yang berarti harus ada lebih dari satu faktor.
54 Tabel 18 dapat dilihat component 1 memiliki angka Eugenvalues di atas satu (3,795). Sedangkan pada component 2, angka eigenvalue langsung dibawah angka satu (0,094), maka proses faktor bisa dihentikkan. Hal ini menunjukkan bahwa satu faktor adalah paling bagus untuk meringkas keempat variabel tersebut. Tabel 18. Jumlah Faktor yang Didapat dalam Meringkas Variabel
Kelembagaan Petani Tebu (Total Variance Explained) Component Initial Eigenvalues
Extraction Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % Total % of Variance Cumulative % 1 3,795 94,887 94,887 3,795 94,887 94,887 2 ,094 2,346 97,232 3 ,062 1,554 98,786 4 ,049 1,214 100,000
Extraction Method: Principal Component Analysis.
Gambar 4 terlihat bahwa dari satu ke dua faktor (garis dari sumbu component number = 1 ke 2), arah garis menurun dengan tajam. Sedangkan pada faktor 2 sudah di bawah angka satu dari sumbu Y (Eugenvalue). Hal ini menunjukkan bahwa satu faktor adalah paling bagus untuk meringkas keempat variabel tersebut. Faktor tersebut adalah fasilitas produksi dan hasil.
4 3 2 1 Component Number 4 3 2 1 0 Ei ge nv al ue Scree Plot
Hasil dari rotasi varimax ini tidak mengubah jumlah faktor yang telah terbentuk melainkan hanya mengubah loadingnya saja. Setiap variabel yang Gambar 4. Faktor yang Terbentuk dalam Meringkas Variabel
Kelembagaan Petani Tebu (Scree Plot)
55 terdapat pada faktor yang terbentuk harus memenuhi ketentuan cut off point (nilai loadingnya harus lebih besar dari 0,5), agar variabel tersebut secara nyata termasuk bagian dari suatu faktor. Pada Tabel 19 terlihat bahwa semua angka faktor loadings pada component ada di atas angka pembatas (cut off point). Dengan demikian sebuah faktor yang terbentuk yaitu faktor fasilitas produksi dan hasil sudah bisa mewakili semua variabel yang ada.
Tabel 19. Komponen Variabel Kelembagaan Petani Tebu Terhadap Faktor Fasilitas Produksi dan Hasil (Component Matrix)
Component 1 Pelayanan ,980 Penunjang ,977 Penyuluhan ,975 Bagi Hasil ,965
Extraction Method: Principal Component Analysis. a 1 components extracted.
Keempat variabel yang diteliti dengan proses factoring dapat direduksi menjadi hanya satu yaitu faktor fasilitas produksi dan hasil. Faktor yang terbentuk terdiri atas variabel lembaga pelayanan, lembaga penunjang, lembaga penyuluhan, dan lembaga pengolahan dan bagi hasil.
Karena angka korelasi positif maka dapat disimpulkan bahwa makin baik kinerja kelembagaan yaitu pelayanan, penunjang, penyuluhan, dan bagi hasil maka semakin mendorong petani berusahatani tebu dengan baik. Hasilnya yaitu peningkatan produktivitas.
6.4. Analisis Jalur
Analisis yang digunakan untuk menghitung pengaruh keempat variabel bebas terhadap variabel tergantung dapat digunakan teknik analisa jalur yang menggunakan model satu persamaan jalur. Dari hasil analisis jalur yang terbentuk dapat dilihat pengaruh secara gabungan maupun pengaruh secara parsial.
Pengaruh gabungan dari keempat variabel kelembagaan terhadap motivasi ditunjukkan pada angka R square sebesar 0,84. Angka tersebut mempunyai maksud bahwa pengaruh variabel pelayanan, penunjang, penyuluhan, dan bagi
56 hasil secara gabungan terhadap motivasi petani berusahatani tebu adalah 84 persen. Adapun sisanya sebesar 16 persen dipengaruhi oleh faktor lainnya.
Untuk mengetahui model regresi sudah benar atau salah, diperlukan uji dengan kriteria yang digunakan yaitu jika signifikansi penelitian lebih kecil dari taraf uji yang digunakan (0,05). Angka signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka ada hubungan linier antara variabel predictors yang diuji dengan variabel dependen.
Angka signifikasi tersebut menunjukkan terdapat hubungan linier antara lembaga bagi hasil, penunjang, penyuluhan, pelayanan dengan motivasi berusahatani tebu. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Uji Model Regresi Kelembagaan dengan Motivasi Petani Berusahatani Tebu (Anova b)
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 20,465 4 5,116 59,027 ,000(a) Residual 3,901 45 ,087 Total 24,366 49
a Predictors: (Constant), Bagi Hasil, Penunjang, Penyuluhan, Pelayanan b Dependent Variable: Motivasi
Pengaruh secara parsial dapat dilihat dengan uji T, sedangkan melihat besarnya pengaruh digunakan angka beta. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Pengaruh Kelembagaan Secara Parsial Terhadap Motivasi Berusahatani Tebu (Coefficients a)
Model Unstandardized coefficients Standardized coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1,286 ,202 6,365 ,000 Pelayanan ,575 ,196 ,664 2,938 ,005 Penunjang -,090 ,183 -,107 -,492 ,625 Penyuluhan -,286 ,166 -,351 -1,722 ,092 Bagi Hasil ,594 ,146 ,701 4,069 ,000
a Dependent Variable: Motivasi
Pengaruh parsial masing-masing variabel tersebut adalah : 1. Hubungan antara pelayanan dan motivasi
57 Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka t penelitian sebesar 2,938 > t tabel sebesar 2,000 yang berarti ada hubungan linier antara lembaga pelayanan dan motivasi berusahatani tebu. Besarnya pengaruh pelayanan terhadap motivasi tersebut sebesar 0,664 atau 66,4%.
2. Hubungan antara penunjang dan motivasi
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka t penelitian sebesar -0,492 < t tabel sebesar -2,000 yang berarti tidak ada hubungan linier antara lembaga penunjang dan motivasi berusahatani tebu. Besarnya pengaruh lembaga penunjang terhadap motivasi tersebut sebesar -0,107 atau – 10,7% dianggap tidak signifikan. Hal ini tercermin dari angka signifikasi sebesar 0,625 yang lebih besar dari 0,05.
3. Hubungan antara penyuluhan dan motivasi
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka t penelitian sebesar -1,722 < t tabel sebesar -2,000 yang berarti tidak ada hubungan linier antara lembaga penyuluhan dan motivasi berusahatani tebu. Besarnya pengaruh penyuluhan terhadap motivasi tersebut sebesar -0,351 atau -35,1% dianggap tidak signifikan. Hal ini tercermin dari angka signifikasi sebesar 0,092 yang lebih besar dari 0,05. 4. Hubungan antara bagi hasil dan motivasi
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka t penelitian sebesar 4,069 > t tabel sebesar 2,000 yang berarti ada hubungan linier antara lembaga pelayanan dan motivasi berusahatani tebu. Besarnya pengaruh lembaga bagi hasil terhadap motivasi tersebut sebesar 0,701 atau 70,1 %.
Hasil analisis jalur dapat disimpulkan bahwa variabel yang paling besar berpengaruh terhadap motivasi berusahatani tebu adalah lembaga pengolahan dan bagi hasil. Selanjutnya adalah lembaga lembaga pelayanan, lembaga penunjang, dan lembaga penyuluhan.