ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
MOTIVASI PETANI DALAM BERUSAHATANI TEBU
(Studi Kasus : Petani Tebu di Wilayah Kerja
PG Trangkil, Kabupaten Pati)
SKRIPSI
ANITA KARTIKANINGSIH H34066018
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
ANITA KARTIKANINGSIH. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani dalam Berusahatani Tebu (Studi Kasus : Petani Tebu di Wilayah Kerja PG Trangkil, Kabupaten Pati). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan LUKMAN M. BAGA).
Sejarah pengusahaan tanaman tebu dilaksanakan oleh pabrik gula dengan cara menyewa lahan milik petani untuk ditanami tebu. Seiring berjalannya waktu kebijakan mengenai tebu berubah-ubah. Tetapi pada umumnya kebijakan yang dimaksud bertujuan untuk mensejahterakan petani tebu sekaligus memenuhi konsumsi gula dalam negeri. Pengembangan luas areal tanaman tebu masih perlu ditingkatkan lagi untuk meningkatkan produksi gula, menyusul tingginya permintaan gula dalam negeri. Mengatasi kondisi tersebut, memberi motivasi kepada para petani tebu agar terus berusaha meningkatkan produktivitas tanaman tebu sangat diperlukan mengingat adanya peluang bertambahnya luas lahan tebu.
Upaya yang dilakukan tidak cukup hanya dari usaha-usaha pokok atau teknis saja. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kebijakan menyangkut kelembagaan petani, karena kelembagaan yang memerlukan tindakan bersama atau kesadaran bersama suatu masyarakat justru mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada dorongan atau motivasi perorangan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat motivasi yang dimiliki petani dalam berusahatani tebu, (2) mengetahui faktor-faktor kelembagaan yang mempengaruhi motivasi petani dalam berusahatani tebu, (3) menganalisis upaya-upaya kelembagaan guna mendukung motivasi petani berusahatani tebu.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pati dengan responden petani tebu wilayah kerja Pabrik Gula (PG) Trangkil. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Metode pengambilan sampel dengan cara simple random sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan kuantitatif. Lembaga yang diduga berpengaruh terhadap motivasi petani berusahatani tebu yaitu lembaga pelayanan, lembaga penunjang, lembaga penyuluhan, lembaga pengolahan dan bagi hasil, serta lembaga penelitian dan pengembangan. Penelitian ini menggunakan Factor Analysis yang dilanjutkan dengan Analisis Jalur. Metode ini dianalisis dengan bantuan program SPSS versi 13.
Berdasarkan hasil wawancara responden bahwa petani tebu termotivasi untuk berusahatani tebu (41,71%). Analisis deskriptif mengenai sebaran persepsi responden terhadap faktor kelembagaan adalah cukup memuaskan. Kondisi tersebut berbeda dengan lembaga penelitian dan pengembangan persepsi responden menjelaskan bahwa lembaga tersebut tidak memuaskan yaitu sebesar 32 persen.
Hasil dari pengujian Analisis faktor menghasilkan bahwa variabel yang mempengaruhi motivasi berusahatani tebu adalah variabel lembaga pelayanan, lembaga penunjang, lembaga penyuluhan, lembaga pengolahan dan bagi hasil. Variabel yang mempunyai nilai communality yang paling besar adalah lembaga pelayanan dengan nilai communality 0,960. Hal ini berarti lembaga pelayanan
mempunyai pengaruh yang kuat terhadap faktor yang terbentuk, yaitu Lembaga yang bersifat memfasilitasi usahatani tebu (96%).
Hasil analisis jalur didapat bahwa variabel yang paling besar berpengaruh terhadap motivasi berusahatani tebu adalah lembaga pengolahan dan bagi hasil. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka t penelitian sebesar 4,069 > t tabel sebesar 2,000 yang berarti ada hubungan linier antara lembaga pelayanan dan motivasi berusahatani tebu. Besarnya pengaruh lembaga pengolahan dan bagi hasil terhadap motivasi tersebut sebesar 0,701 atau 70,1 %. Variabel kedua yang berpengaruh terhadap motivasi petani adalah lembaga pelayanan. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka t penelitian sebesar 2,938 > t tabel sebesar 2,000 yang berarti ada hubungan linier antara lembaga pelayanan dan motivasi berusahatani tebu. Besarnya pengaruh pelayanan terhadap motivasi tersebut sebesar 0,664 atau 66,4%. Lembaga penunjang (–10,7%) dan penyuluhan (35,1%) kurang berpengaruh dan tidak signifikan.
Rekomendasi alternatif yang perlu dilakukan untuk meningkatkan motivasi berusahatani tebu untuk mendukung peningkatan produktifitas yaitu : Pabrik gula selaku penjamin kredit sebaiknya bekerjasama dengan pihak pendanaan baik itu bank atau dana pemerintah, memberikan layanan bantuan tenaga tebang, dan penentuan rendemen tebu sebaiknya dilakukan secara transparan kepada petani. Upaya yang dilakukan yaitu melalui badan independen pengawasan transparansi perhitungan rendemen yang terdiri dari perwakilan petani, pabrik gula dan APTR.
Hal yang harus dilakukan lembaga pelayanan yaitu dana talangan yang diberikan kepada petani sebaiknya dilakukan secara bergilir bukan berdasarkan criteria, sebaiknya koperasi membuat penambahan gudang untuk penyimpanan pupuk terutama pupuk ZA, dan melakukan kerjasama dengan pihak pendanaan terkait pengadaan sarana jasa traktor yang masih kurang.
Penyuluhan dan pembinaan sebaiknya dilakukan dengan cara terarah pada kelompok kecil sehingga informasi lebih bisa disampaikan dengan baik. Untuk memperbaiki mutu sumber bibit, lembaga ini didorong untuk menyelenggarakan pembenihan sendiri.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
MOTIVASI PETANI DALAM BERUSAHATANI TEBU
(Studi Kasus : Petani Tebu di Wilayah Kerja
PG Trangkil, Kabupaten Pati)
ANITA KARTIKANINGSIH H34066018
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani dalam Berusahatani Tebu (Studi kasus: Petani Tebu di Wilayah Kerja PG Trangkil, Kabupaten Pati)
Nama : Anita Kartikaningsih
NRP : H34066018
Diketahui, Pembimbing
Ir. Lukman M. Baga MA. Ec NIP. 131 846 873
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, Ms NIP. 131 415 082
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani dalam Berusahatani Tebu (Studi Kasus : Petani Tebu di Wilayah Kerja PG Trangkil, Kabupaten Pati)” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, April 2009
Anita Kartikaningsih H34066018
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pati pada tanggal 23 Agustus 1984. Penulis adalah anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak H. Djam’an Djasmani dan Ibu Hj. Siti Mutma’inah.
Penulis mengawali pendidikan formalnya di TK Pertiwi Melati Bumiharjo pada tahun 1989-1991. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN II Bumiharjo pada tahun 1997 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2000 di SLTPN I Winong. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMUN 3 Pati diselesaikan pada tahun 2003.
Penulis diterima pada program Diploma Manajemen Bisnis dan Koperasi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2003. Penulis melanjutkan pendidikan pada program Sarjana pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006. Tahun 2008 pada semester akhir perkuliahan, penulis menikah dengan Khoirul Anwar lulusan dari Sarjana Peternakan IPB. Penulis sangat bahagia dapat menyelesaikan pendidikan formalnya pada Perguruan Tinggi di IPB ini.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani Dalam berusahatani Tebu (Studi Kasus : Petani Tebu di Wilayah Kerja PG Trangkil, Kabupaten Pati)”.
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat motivasi, faktor-faktor kelembagaan yang mempengaruhi motivasi, dan menganalisis upaya-upaya kelembagaan guna mendukung motivasi petani berusahatani tebu.
Namun demikian, sangat disadari masih terdapat kekurangan karena keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan pada skripsi ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, April 2009 Anita Kartikaningsih
UCAPAN TERIMAKASIH
Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Ir. Lukman M. Baga, MA. Ec selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi.
2. Dr. Ir Suharno, MAdev selaku dosen penguji utama pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.
3. Ir. Narni Farmayanti, MSc selaku dosen penguji mewakili komisi akademik dan seluruh dosen serta staf Departemen Agribisnis.
4. Orang tua, mertua, dan keluarga untuk setiap doa yang diberikan. Suami tersayang (Khoirul Anwar, SPt) untuk setiap cinta kasih, motivasi, dan kesabarannya. Semoga ini bisa menjadi persembahan terbaik.
5. Petani tebu di wilayah kerja PG Trangkil serta semua pengurus kelembagaan petani tebu di wilayah kerja PG Trangkil, terimakasih atas waktu dan informasi yang diberikan.
6. Teman-teman sebimbingan (Fadli, Mira, Rudi, Erni, Acnes, dan lainnya) atas kebersamaan, kerjasama, dan bantuan selama bimbingan skripsi.
7. Teman-teman seperjuangan (Imam, Winwork, Pimen, Lisda, Yeni, Putri dan Candra) atas bantuan serta masukannya. Mbak Dewi atas kesediaannya mengedit draf skripsi.
8. Teman-teman Agribisnis penyelenggaraan khusus Angkatan 1 atas semangat dan sharing selama penyusunan skripsi, serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuannya.
Bogor, April 2009 Anita Kartikaningsih
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v DAFTAR LAMPIRAN ... vi I PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 4 1.3. Tujuan Penelitian ... 7 1.4. Manfaat Penelitian ... 7
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 7
II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1. Tanaman Tebu ... 8
2.2. Budidaya Tanaman Tebu ... 9
2.2.1 Budidaya Tanaman Tebu Untuk Tanaman Pertama ... 9
2.2.2 Penggarapan Keprasan Tebu Rakyat ... 12
2.2.3 Usahatani Tebu ... 13
2.3. Petani Tebu ... 15
2.4. Industri gula ... 16
2.5. Manajemen Perdagangan gula Indonesia ... 17
2.6. Motivasi ... 19
2.6.1 Pengertian Motivasi ... 19
2.6.2 Teori-Teori Motivasi ... 20
2.6.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Petani .... 23
2.7. Kelembagaan ... 24
2.8. Penelitian terdahulu ... 25
2.9. Hipotesis Penelitian ... 27
III KERANGKA PEMIKIRAN ... 28
3.1. Kerangka Pemikiran Operasional ... 28
IV METODE PENELITIAN ... 31
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31
4.2. Metode Pengambilan Sampel ... 31
4.3. Jenis dan Sumber Data ... 31
4.4. Metode Pengumpulan Data ... 32
4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 32
4.5.1 Tingkat Motivasi ... 32
4.5.2 Analisis Deskriptif ... 32
4.5.3 Analisis Data ... 33
4.5.4 Analisis Jalur ... 33
4.6. Definisi Operasional ... 34
V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 36
5.1. Kondisi Wilayah ... 36
ii
5.2.1 Umur ... 37
5.2.2 Tingkat Pendidikan ... 37
5.2.3 Jumlah Kebutuhan ... 38
5.2.4 Pengalaman Berusahatani tebu ... 39
5.2.5 jumlah Tanggungan Keluarga Petani ... 39
5.2.6 Penguasaan Luas Lahan Petani ... 40
5.2.7 Pendapatan Petani ... 40
VI HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42
6.1. Kondisi Motivasi Berusahatani Tebu ... 42
6.2. Dimensi Motivasi Berusahatani Tebu ... 43
6.2.1 Lembaga Pelayanan ... 44
6.2.2 Lembaga Penunjang ... 46
6.2.3 Lembaga Penyuluhan ... 47
6.2.4 Lembaga Pengolahan dan Bagi Hasil ... 48
6.2.5 Lembaga Penelitian dan Pengembangan ... 50
6.3. Analisis Dimensi Motivasi Berusahatani Tebu ... 50
6.4. Analisis Jalur ... 55
6.5. Rekomendasi Alternatif ... 57
6.6. Upaya Meningkatkan Transparasi Perhitungan Rendemen ... 61
VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 63
7.1. Kesimpulan ... 63
7.2. Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 65
iii
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Luasan Lahan, Produksi Tebu Rakyat, Rendemen dan Produktivitas yang Dihasilkan di PG.Trangkil
Tahun 1994-2007... ... 4 2. Jenis Lahan, Rendemen, dan Hasil Hablur Rata-Rata ... 9 3. Perbedaan Penelitian dengan Penelitian Terdahulu ... 26 4. Sebaran Umur Responden Petani Tebu Wilayah Kerja
PG Trangkil Tahun 2008 ... 37 5. Sebaran Tingkat Pendidikan Responden Petani Tebu Wilayah kerja
PG Trangkil Tahun 2008 ... 38 6. Sebaran Jumlah Kebutuhan responden Petani Tebu Wilayah Kerja
PG Trangkil Tahun 2008 ... 38 7. Sebaran Pengalaman Berusahatani Tebu Responden Petani Tebu
Wilayah Kerja PG Trangkil Tahun 2008 ... 39 8. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan
Keluarga Tahun 2008 ... 40 9. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Penguasaan Luas
Lahan Tebu Tahun 2008 ... 40 10. Rata-Rata Kontribusi Pendapatan Usahatani Tebu Terhadap
Pendapatan Petani Responden di Wilayah Kerja PG Trangkil
Tahun 2008 ... 41 11. Sebaran Motivasi Berusahatani responden ... 43 12. Sebaran Peran Lembaga Pelayanan Menurut responden
Petani Tebu ... 45 13. Sebaran Peran Lembaga Penunjang Menurut Responden
Petani Tebu ... 46 14. Sebaran Peran Lembaga Penyuluhan Menurut Responden
Petani Tebu ... 48 15. Sebaran Peran Lembaga Pengolahan dan Bagi Hasil Menurut
Responden Petani Tebu ... 49 16. Sebaran Peran Lembaga Penelitian dan Pengembangan Menurut
Responden Petani tebu ... 50 17. Nilai Communality Variabel Kelembagaan Petani Tebu ... 52 18. Jumlah Faktor Yang Didapat Dalam Meringkas Variabel
iv 19. Komponen Variabel Kelembagaan Petani Tebu terhadap
Faktor Fasilitas Produksi dan Hasil (Component Matrix) ... 55 20. Uji Model Regresi Kelembagaan Dengan Motivasi Petani
Berusahatani Tebu (Anova b) ... 56 21. Pengaruh Kelembagaan Secara Parsial Terhadap Motivasi
v
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Luas Lahan Pertanian Tebu dan Jumlah Tebu yang Dihasilkan
di Indonesia Tahun 1995-2007... ... 2 2. Hierarki Kebutuhan Menurut Maslow ... 29 3. Kerangka Pemikiran Operasional ... 26 4. Faktor Yang Terbentuk Dalam Meringkas Variabel
Kelembagaan Petani Tebu (Scree Plot) ... 54 5. Skema Hasil Analisis ... 58
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman 1. Faktor Analysis I ... 67 2. Faktor Analysis II ... 68 3. Regression ... 69 4. Kuesioner Penelitian ... 70I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki keanekaragaman sumberdaya alam, salah satunya adalah dalam bidang perkebunan. Hal ini menjadikan subsektor perkebunan di Indonesia menjadi berkembang dan memiliki keterkaitan secara langsung dengan aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Pada aspek ekonomi, subsektor perkebunan berperan sebagai sumber devisa negara, sumber ekonomi wilayah serta sebagai sumber pendapatan masyarakat. Pada aspek sosial, subsektor perkebunan mampu menyerap tenaga kerja yang besar baik sebagai petani maupun tenaga kerja. Sedangkan pada aspek ekologi, dengan sifat tanaman berupa pohon, subsektor perkebunan dapat mendukung kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup, seperti sumberdaya air, penyedia oksigen, dan mengurangi degradasi lahan (Hafsah, 2002).
Subsektor perkebunan memiliki karakteristik tanaman yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tanaman semusim dan tanaman tahunan. Tanaman semusim merupakan tanaman yang hanya bisa dipanen satu kali dengan siklus hidup satu tahun sekali, misalnya tebu, kapas, dan tembakau. Sementara tanaman tahunan membutuhkan waktu yang panjang untuk berproduksi, bahkan dapat menghasilkan sampai puluhan tahun dan bisa dipanen lebih dari satu kali, misalnya kelapa sawit, karet, kakao, cengkeh, kopi dan lada (Tim Penulis PS, 2008).
Tebu (Saccharum Officanarum L) merupakan tanaman perkebunan semusim yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalam batangnya terdapat zat gula. Tebu termasuk keluarga rumput-rumputan (graminae) seperti halnya padi, jagung, bambu dan lain-lain (Tim Penulis PS, 2008). Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan semusim yang dianggap lebih mudah dikembangkan (Amin, 1996). Zat Gula yang terdapat pada tebu tersebut dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam industri gula. Peningkatan produksi gula dalam negeri berarti mengurangi ketergantungan terhadap impor gula.
Tanaman tebu memiliki luas areal lahan berfluktuasi dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut berlangsung seiring dengan diterapkannya berbagai kebijakan
2 mengenai tanaman tebu. Lebih lengkapnya mengenai perkembangan luas areal tanaman tebu dan jumlah tebu yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Luas Lahan Pertanian Tebu dan Jumlah Tebu yang Dihasilkan di Indonesia Tahun 1995-2007
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008 (diolah)
Tahun 1975 sistem pertebuan mengalami perubahan dari sistem sewa menjadi TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi). Berdasarkan penetapan kebijakan pemerintah dalam inpres No. 9 tahun 1975 pada 22 April 1975 ditentukan bahwa tebu harus ditanam oleh petani sendiri diatas lahannya masing-masing. Pabrik gula tidak dibenarkan lagi untuk menanam tebu sendiri dengan cara menyewa lahan petani. Tetapi diwajibkan memberi bimbingan kepada petani dalam mengenal dan menerapkan teknologi budidaya tebu, berperan sebagai pemimpin kerja di lapang, dan menerima serta menggiling tebu petani menjadi gula kemudian dilakukan bagi hasil (Susanto, 1990).
Perubahan sistem sewa ke sistem TRI diantaranya yaitu (Susanto, 1990): 1) Adanya perubahan hubungan antara petani tebu dengan pabrik gula yang
semula hanya lahannya yang dibutuhkan tetapi setelah TRI lahan dan tenaga petani yang dibutuhkan;
2) Terbentuknya kelompok tani setahun setelah dilaksanakannya TRI.
Pelaksanaan program TRI melibatkan beberapa pihak yang berfungsi sebagai koordinasi, perencana, pengendali, pelayanan, pembinaan dan
3 pengawasan yaitu kelompok tani, Pabrik Gula (PG), Satpel bimas, KUD, BRI, dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI).
Pemerintah berperan dalam pengaturan harga dasar gula yang diatur oleh Surat Keputusan Menteri Keuangan. Sementara melalui SK Menperindag dan Koperasi Nomor 122/KP/III/1981 Badan Urusan Logistik (BULOG) ditetapkan sebagai pembeli tunggal atas seluruh produksi gula dalam negeri, dan sekaligus importir tunggal gula (Susanto, 1990).
Program TRI dirasa kurang berjalan dengan baik karena harga gula sering jatuh dari harga pasarannya, sehingga harga yang semula dipertahankan oleh Bulog menjadi turun dari tahun 1998 sebesar Rp 3.000,00/kg menjadi Rp 2.600,00/kg pada tahun 1999. Adanya penurunan harga ini petani tebu tidak dapat menutupi biaya produksi yang berakibat menurunnya motivasi petani untuk menanam tebu yaitu luas lahan tebu menurun dari tahun 1998 ke tahun 1999 (Gambar 1). Hal lain yang terjadi adalah produktivitas turun dan pabrik gula tidak terpenuhi bahan bakunya (Wirasanti, 2008).
Menurunnya keinginan petani untuk menanam tebu juga disebabkan karena petani kurang merasa memiliki tanaman tebunya. Sebab pada program TRI petani hanya menyerahkan lahan miliknya pada ketua kelompok yang selanjutnya mengelola lahan kelompok tersebut. Sebagian petani masih lebih suka menyewakan lahan sawahnya kepada orang lain atau pabrik gula (Susanto, 1990).
Keinginan petani untuk menanam tebu berangsur-angsur mulai meningkat. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya luas areal tebu secara bertahap pada tahun 2003 (Gambar 1). Kondisi tersebut seiring dengan diterapkannya peraturan budidaya tebu yang memberikan kebebasan kepada petani untuk menanam produk pertanian sesuai dengan prospek pasar.
Pengembangan luas areal tanaman tebu masih perlu ditingkatkan guna peningkatan produksi gula dan semakin tingginya permintaan gula dalam negeri. Kebutuhan gula domestik saat ini diperkirakan mencapai 4,85 juta ton atau lebih, sementara itu produksi gula tebu di Indonesia pada tahun 2008 diperkirakan mencapai 2,40 juta ton atau lebih tinggi dari prediksi Dewan Gula Indonesia (DGI) sebelumnya yaitu sebesar 2,35 juta ton (Arifin, 2008). Sehingga terdapat
4 defisit 2,45 juta ton atau setara 50,5 persen kebutuhan gula domestik yang belum bisa dipenuhi, dan mungkin akan dipenuhi dari impor.
Peningkatan luas areal tanaman tebu dapat diwujudkan dengan peran serta semua pihak termasuk petani. Petani sebagai pelaku utama perlu diikutsertakan dalam peran ini. Sedangkan kesediaan petani menanam tebu yang intensif tergantung pada motivasi yang dimiliki.
1.2. Perumusan Masalah
Luas areal tanaman tebu di Jawa Tengah pada tahun 2007 telah mengalami peningkatan berkisar antara 7-10 persen menjadi 62.500 hektar, meliputi daerah operasi PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, PT. Kebon Agung dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (Disbun, 2007). Kabupaten Pati merupakan wilayah dimana terdapat tiga pabrik gula yang berdekatan, yaitu PG Rendeng, PG Trangkil (PG TK) dan PG Pakis Baru.
Pabrik gula Trangkil merupakan salah satu pabrik milik PT. Kebon Agung yang cukup aktif. Kapasitas produksi tebu yang dihasilkan PG Trangkil mencapai 42.500 kwintal per hari pada tahun 2007. Luasan lahan, produksi tebu, rendemen dan produktivitas yang dihasilkan PG Trangkil dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Luasan Lahan, Produksi Tebu Rakyat, Rendemen dan Produktivitas yang Dihasilkan di PG Trangkil Tahun 1994-2007 Tahun Luas areal (ha) Tebu di giling (ton) Rendemen (%) Produktivitas (ton/ha) 1994 7.813,30 551.531,10 8,05 70,59 1995 7.643,90 501.530,30 6,88 65,61 1996 8.071,20 522.964,50 7,49 64,79 1997 6.401,60 431.475,70 7,13 67,40 1998 8.090,06 472.426,70 4,58 58,40 1999 5.380,46 281.746,70 5,34 52,36 2000 5.990,68 375.855,10 5,42 62,74 2001 7.168,42 416.159,90 5,15 58,05 2002 8.332,06 485.143,80 5,23 58,23 2003 6.645,97 367.892,40 6,21 55,36 2004 7.856,84 496.122,30 6,35 63,15 2005 10.266,63 626.582,70 6,26 61,03 2006 9.010,04 640.713,80 6,43 71,11 2007 11.543,79 757.254,50 6,53 65,60
5 Luas areal tanam tebu di wilayah kerja PG Trangkil mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 1994-2000 luas areal tanam tebu cenderung mengalami penurunan sebesar 1.822,62 ha yaitu dari 7.813,3 ha pada tahun 1994 menjadi 5.990,68 ha pada tahun 2000. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai perubahan kebijakan seperti TRI.
Penurunan secara tajam terjadi setelah dibubarkannya TRI pada tahun 1998 (Inpres No 5 tahun 1998). Hal ini disebabkan karena turunnya rendemen yaitu dari 8,05 persen menjadi sekitar lima persen. Wirasanti (2008) menambahkan bahwa penurunan motivasi berusahatani tebu tersebut selain disebabkan karena faktor rendemen, juga disebabkan karena waktu angkut, tebang dan waktu giling.
Keinginan petani di wilayah PG Trangkil untuk menanam tebu pada tahun 2000-2007 berangsur-angsur meningkat. Hal ini terlihat pada luas areal tanam tebu yang mengalami peningkatan sebesar 5.553,11 ha yaitu dari 5.990,68 ha pada tahun 2000 menjadi 11.543,79 ha pada tahun 2007. Peningkatan kegairahan petani (motivasi berusahatani) mungkin disebabkan karena perubahan kebijakan, harga, sistem kerjasama, dan adanya kelembagaan atau yang lainnya. Hal ini juga didukung dengan adanya peningkatan produksi tebu dan rendemen pada Tabel 1.
Produktivitas belum menunjukkan hal yang sama dengan peningkatan luas lahan bahkan cenderung turun. Pada tahun 2007 produktivitas turun sebesar 5,51 ton per hektar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan produktivitas yang terus menerus dikhawatirkan tidak akan mampu membantu terpenuhinya kebutuhan akan konsumsi gula dalam negeri. Penurunan produktivitas bisa berdampak kepada petani, dan pada akhirnya kegairahan petani untuk menanam tebu akan menurun lagi dalam bertani tebu. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemberian motivasi kepada para petani tebu agar terus berusaha meningkatkan produktivitas tanaman tebu menjadi sangat penting dan sangat diperlukan mengingat adanya peluang bertambahnya luas lahan tebu.
Secara teknis upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut antara lain melalui : (1) intensifikasi yaitu peningkatan produksi pertanian melalui penggunaan teknologi tepat guna antara lain dengan meningkatkan sarana dan prasarana produksi seperti penggunaan bibit unggul, pupuk, obat-obatan dan
6 sebagainya; (2) ekstensifikasi yaitu perluasan areal panen; (3) diversifikasi yaitu penganekaragaman dalam usahatani ; dan (4) rehabilitasi, yaitu peremajaan atau penggantian tanaman yang sudah tidak produktif dengan bibit tanaman baru.
Mubyarto (1994) menambahkan bahwa tidak cukup hanya dari usaha-usaha pokok saja. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kebijakan menyangkut kelembagaan petani, karena kelembagaan yang memerlukan tindakan bersama atau kesadaran bersama suatu masyarakat justru mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada dorongan atau motivasi perorangan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan hasil pertanian yang berujung pada kesejahteraan petani, disamping syarat teknis juga diperlukan syarat institusional atau kelembagaan untuk memotivasi petani dalam peningkatan produktivitas sehingga mencapai sasaran pembangunan pertanian secara maksimal.
Petani di wilayah kerja PG Trangkil terdapat kelembagaan-kelembagaan yang berperan untuk pertanian tebu. Kelembagaan tersebut meliputi APTRI, koperasi petani tebu (Koperasi Serba Usaha Tebu Mandiri), Pabrik gula (PG Trangkil), dan dinas terkait (pemerintah).
Sejak tahun 2000 petani membentuk suatu kelompok dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) yang telah mampu meningkatkan semangat petani untuk mengembangkan agribisnis berbasis tebu. Meningkatnya posisi tawar petani gula terhadap pabrik gula dan pedagang/distributor gula, telah mampu meningkatkan harga gula di dalam negeri pada tingkat yang mampu memberikan insentif bagi produsen gula.
Berdasarkan uraian-uraian di atas bahwa kegairahan (motivasi) petani untuk berusahatani tebu bisa berubah-ubah. Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal dari individu sendiri maupun faktor dari lingkungan luar seperti kelembagaan, maka permasalahan yang ingin dibahas dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana motivasi petani dalam berusahatani tebu ?
2) Faktor-faktor kelembagaan apa saja yang mempengaruhi motivasi petani dalam berusahatani tebu ?
3) Upaya apa saja yang harus dilakukan melalui adanya kelembagaan agar dapat terus mendukung motivasi petani dalam berusahatani tebu?
7 1.3. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk :
1) Mengetahui tingkat motivasi yang dimiliki petani dalam berusahatani tebu; 2) Mengetahui faktor-faktor kelembagaan yang mempengaruhi motivasi petani
dalam berusahatani tebu;
3) Menganalisis upaya-upaya kelembagaan guna mendukung motivasi petani berusahatani tebu.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berbagi pihak yang terkait, antara lain :
1) Petani, kelembagaan petani tebu yang terlibat sebagai bahan informasi; 2) Pemerintah daerah setempat, yang digunakan sebgai bahan masukan dalam
menetapkan dan menerapkan kebijakan;
3) Memberikan informasi awal bagi penelitian selanjutnya terutama penelitian mengenai tebu, koperasi atau penelitian lain dengan topik yang serupa; 4) Masyarakat atau pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
bahan rujukan atau menambah pengetahuan seputar pertanian secara luas (dalam hal ini komoditi tebu).
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor eksternal yaitu kelembagaan petani tebu yang dapat mempengaruhi motivasi petani dalam berusahatani tebu. Kelembagaan ini meliputi lembaga pelayanan yaitu koperasi petani tebu rakyat (KPTR) atau KSU Tebu Mandiri; lembaga penunjang yaitu APTRI; lembaga pengolahan dan bagi hasil (Pabrik Gula); lembaga penyuluhan; serta lembaga penelitian dan pengembangan. Adapun responden yang dipilih adalah petani Tebu Rakyat (TR) di wilayah kerja PG Trangkil Kabupaten Pati.
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Tebu
Tanaman Tebu (Saccharum Officanarum L) merupakan tanaman perkebunan semusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalam batangnya terdapat zat gula. Tebu termasuk keluarga rumput-rumputan (graminae) seperti halnya padi, jagung, bambu dan lain-lain. Daur kehidupan tanaman tebu menurut Rizaldi (2003) terbagi melalui lima fase yaitu :
1) Fase perkecambahan
Dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur satu minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur lima minggu.
2) Fase pertunasan
Dimulai dari umur lima minggu sampai umur 3,5 bulan. 3) Fase pemanjangan batang
Dimulai pada umur 3,5 bulan sampai sembilan bulan. 4) Fase kemasakan
Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal. Kurang lebih terjadi pada bulan Agustus dan setelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula.
5) Fase Kematian
Sedangkan menurutnya, varietas tebu pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1) Varietas Genjah (masak awal), mencapai masak optimal < 12 bulan.
2) Varietas Sedang (masak tengahan), mencapai masak optimal pada umur 12-14 bulan.
3) Varietas Dalam (masak akhir), mencapai masak optimal pada umur lebih dari 14 bulan.
Untuk komposisi jenis lahan, rendemen, dan hasil hablur rata-rata tanaman tebu dapat dilihat pada Tabel 2. Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen. Bila dikatakan rendemen tebu
9 10 persen, artinya bahwa dari 100 kg tebu yang digilingkan di PG akan diperoleh gula sebanyak 10 kg.
Tabel 2. Jenis Lahan, Produksi, Rendemen, dan Hasil Hablur Tebu Rata-Rata
Jenis Lahan
Produksi Tebu Rata-Rata (Kw/Ha) Rendemen Rata-rata (%) Hasil Hablur Rata-Rata (Kw/Ha) Sawah 1.504 (max. 2.093) 8,07 (max. 8,86) 121,4 (max. 169,2) Tegal 1.250 (max. 2.112) 7,58 (max. 8,25) 97,3 (max. 97,3) Pola 1.222 (max. 2.012) 7,81 (max. 8,74) 94,5 (max. 152,1)
Sumber : Kppbumn (2008)
2.2. Budidaya Tanaman Tebu
2.2.1. Budidaya Tanaman Tebu Untuk Tanaman Pertama
Budidaya tanaman tebu untuk tanaman pertama memiliki beberapa tahapan. Tahapan tersebut adalah (Sutardjo, 2002):
1) Perencanaan
Perencanaan tanaman tebu yaitu meliputi jenis tebu yang akan ditanam, bukaan kebun, waktu penanaman, waktu perabukan, dan pemeliharaan tanaman. Denah kebun sudah disiapkan sebelum membuat perencanaan pembukaan tanah.
Perkiraan letak dapat diketahui dengan adanya denah sementara. Berdasarkan pengolahan tanah, panjang got dan jumlah lubang per hektar dapat diperkirakan. Got keliling, got mujur, got malang, dan lubang masing-masing ± 200, 150, 1.500, dan 1.500 meter. Petani memerlukan waktu kira-kira satu minggu untuk membuat perencanaan yang rinci. Perencanaan memungkinkan petani menyelesaikan semua pekerjaan tepat pada waktunya. Perencanaan sangat penting karena menyangkut harapan produksi yang akan didapat.
2) Pembukaan kebun
Pembukaan sebaiknya dimulai dari petak yang paling jauh dari jalan utama. Jangan membuka semua petak sekaligus, sebaiknya diselesaikan per petak. Sebelum ditanam sebaiknya got-got sudah mencapai ukuran standar yaitu got keliling atau mujur (lebar 60 cm dalam 70 cm) dan got malang (lebar 50 cm dalam 60 cm). Buangan tanah got diletakkan di sebelah kiri got. Apabila got
10 diperdalam lagi setelah tanam, maka tanah buangannya diletakkan disebelah kanan got, sehingga masih ada jalan untuk mengontrol tanaman.
Juringan baru dapat dibuat setelah got-got malang mencapai kedalaman 60 cm dan tanah galian got sudah diratakan. Ukuran standar juringan adalah lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah basah, sedangkan untuk tanah kering 25 cm. Pembuatan juringan harus dikerjakan dua kali, yaitu stek pertama dan stek kedua. Tanah galian pertama harus diletakkan berimpitan dengan tali ukuran dan cara meletakkannya harus teratur, sehingga tidak sulit meletakkan tanah galian kedua yang sebagian harus diletakkan di tepi dinding juringan. Tanah galian lain dari stek kedua diletakkan di atas tanah galian stek pertama.
3) Siap tanam
Tanah tegal dan tanah-tanah yang berpadas ukuran standar tidak dapat dicapai meskipun stek kedua sudah dikerjakan. Sebagai kasuran tanah di dalam juringan dapat digarpu atau diratakan. Tebalnya kasuran tergantung pada keadaan. Apabila masih banyak hujan atau tanahnya basah, maka tebalnya ± 10 cm. Musim kemarau yang terik, tebal kasuran ± 15-20 cm dari permukaan tanah aslinya. Kasuran untuk bibit atau stek tebu harus halus, rata dan dibuat agak tinggi sebelah dengan bagian yang rendah terletak di sebelah yang ada jalan airnya.
4) Tanam
Jenis tebu yang akan ditanam adalah jenis tebu yang hasil produksinya tinggi dan sesuai dengan jenis tanah kebun. Bibit stek harus ditanam berimpitan agar mendapatkan jumlah anakan semaksimal mungkin. Bibit yang dibutuhkan ± 70.000 bibit stek per hektar.
Pemeriksaan yang teliti apakah lahan sudah siap ditanam, apakah rumput sudah dibersihkan, dan apakah kasuran sudah cukup tebal dan halus perlu dilakukan sebelum penanaman. Bibit yang akan ditanam harus benar-benar diseleksi di luar kebun. Penyeleksiannya meliputi apakah bibit itu baik, apakah matanya tidak cacat, dan apakah bibit itu berpenyakit atau tidak. Sebelum bibit ditanam permukaan potongan diolesi larutan disinfektans aretan dari 0,5-1 %.
Menanam juringan-juringan harus diairi terlebih dahulu untuk membasahi kasuran, sehingga kasuran hancur dan halus. Cara tanam yaitu tanah kasuran
11 harus diratakan dahulu dan digaris dengan kedalaman ± 5-10 cm. Bibit dimasukkan kedalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap kesamping. Selanjutnya bibit-bibit tersebut ditimbun dengan tanah. Semua tunas dari bibit rayungan menghadap ke satu arah, kecuali tunas yang berada diakhir juringan menghadap kearah yang berlawanan.
5) Penyiraman
Penyiraman pada waktu tanam tidak boleh berlebih-lebihan. Sebaiknya tidak boleh menanam secara kering, karena bibit tidak bisa melekat di tanah. 6) Penyulaman
Penyulaman sisipan hanya boleh dikerjakan 5-7 hari sesudah tanam, yaitu untuk tanaman rayungan bermata satu. Sulamam ke satu diambil dari tanaman rayungan bermata dua atau dari pembiitan. Sulaman ini dikerjakan pada tanaman berumur tiga minggu dan berdaun 3-4 helai. Cara penyulaman yaitu bibit yang mati dicabut lalau dibuat lubang yang diisi dengan tanah gambur. Setelah tanah disirami, bibit yang baik ditanam dan ditimbun dengan tanah kemudian disiram lagi.
7) Pembumbunan tanah
Tambah tanah biasanya dilakukan ketika tebu berumur 3-4 minggu yaitu tanaman sudah berdaun empat helai. Rumput dibubut dan tanaman disiram sampai kenyang sebelum pembumbunan tanaman.
Sesudah pembersihan rumput kemudian dilakukan penyiraman. Tanah yang guludannya ringan tambah tanah kesatu diberikan berupa kriwilan atau tamping kesatu yang ditampingnya tanah kering dan halus. Tebalnya pembunbunan tidak boleh lebih dari 5-8 cm dan harus rata. Bibit harus tertimbun tanah semua agar tidak cepat mengering jika terkena terik matahari. Tanah yang berat dan liat sebaiknya tambah tanah kesatu dilakukan bersama-sama dengan membalik gulud.
Langkah selanjutnya yaitu jugar (menghancurkan tanah). Alat yang dipergunakan untuk menjugar adalah garbu kecil bergigi dua. Bagian yang dijugar adalah kiri dan kanan tanaman.
Pembunbunan yang kedua dapat dilakukan jika anakan tanaman tebu sudah lengkap dan cukup besar ±20 cm. Umur batang tebu yang normal ± 2
12 bulan. Penyulaman kedua (terakhir) diusahakan sudah selesai sebelum pembunbunan kedua dimulai. Pembunbunan ketiga (bacar) yang baik diberikan disekitar dan diantara rumpun-rumpun tebu dan sedikit membukit. Sesudah itu semu got harus diperdalam lagi, got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm. 8) Kletek (melepaskan daun kering)
Pengkletekan pertama dilakukan setelah membalik tanah dengan garpu. Bersamaan dengan pengletekkan, anakan tebu yang diperkirakan tidak akan tumbuh subur sebaikknya dimatikan saja. Pengletekan yang kedua dilakukan ketika tebu berumur 6-7 bulan. Daun-daun yang dilepaskan adalah daun dari ± 7-9 ruas diatas guludan sampai batas daun-daun yang hijau.
9) Penambahan pupuk
Penambahan pupuk sama dengan penambahan bibit di setiap lubang tanaman, semakin tua tanaman tebu maka semakin kurus tanahnya, sehingga mulai menua perlu menambah pupuk Za. Ketentuan standar untuk tebang satu 0,5-1 kw/Ha dan untuk tebang dua 1,5-2 kw/Ha.
Perabukan juga diberikan sebelum tanam yaitu dengan pupuk TSP. Kemudian ± 25 hari sesudah tanam setelah selesai penyulaman kesatu diberikan rabuk Za kesatu lalau disiram. Kebun harus bersih dari rumput-rumputan. Perabukan Za kedua diberikan setelah tanaman berumur ± 1 ½ bulan dan setelah selesai penyulaman kedua. Selesai perabukan semua petak harus disiram dengan hati-hati supaya rabuk tidak mengalir keluar.
2.2.2. Penggarapan Keprasan Tebu Rakyat
Tebu keprasan atau tebu tunas yang biasanya disebut juga tebu unit ke-II, ke-III dan seterusnya. Sifat tebu keprasan adalah menumbuhkan kembali bekas tebu yang telah ditebang baik bekas tebu giling ataupun tebu bibitan. Urut-urutan penggarapan tersebut yaitu :
1) Pembersihan kebun dari klaras dan sisa-sisa tebangan dengan cara membakar sampah (daun kering setelah tebangan).
2) Pengeprasan tunggak/tunggul tebu dengan cangkul yang tajam. Pengeprasan dilakukan paling lambat satu minggu setelah tebu ditebang. Pengeprasan tebu dengan bentuk huruf U terbalik, atau huruf W pada tanaman tebu di sawah.
13 Sedangkan cara mengepras di lahan tegalan adalah mendatar di permukaan tanah.
3) Pembunan (tambah tanah)
Lima hari atau satu minggu setelah dikepras, tanaman diairi. Setelah itu dilakukan penggarapan sebagai bumbun kesatu dan pembersihan rumput-rumputan. Pembumbunan kedua dilakukan 2-3 minggu setelah pemupukan kesatu. Pembumbunan ketiga dikerjakan setelah tebu keprasan berumur 2-2,5 bulan.
4) Pemupukan
Pemupukan kesatu dilakukan setelah 7-10 hari setelah keprasan lalu pemberian air. Jenis pupuk yang biasa digunakan adalah ZA kecuali pada kebun-kebun percobaan yang menggunakan pupuk majemuk, misalnya NPK. Jika keadaan memungkinkan tebu rakyat menggunakan pupuk pelengkap seperti TSP dan KCL. Pemupukan kedua dilakukan setelah bumbunan kedua. Cara pelaksanaannya sama dengan pemupukan kesatu. Hanya saja pupuk ditaburkan disamping kiri rumpun tebu.
5) Penggarapan lainnya yaitu meliputi kletek, dan pemeliharaan got. Penanganan hama penyakit juga diperlukan untuk kelangsungan hidup tanaman.
2.2.3. Usahatani Tebu
Usahatani menurut Rifai dalam Hernanto (1989) adalah setiap organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi usahatani yaitu :
1) Kondisi fisik, faktor teknis topografi, ketinggian, iklim, tanah, air dan irigasi 2) Kondisi biologis : Hama, penyakit gulma
3) Kondisi ekonomis : akses pasar, ketersediaan sarana produksi, kredit, sarana/prasarana transportasi
4) Kondisi sosial : norma, kaidah, adat, kebiasaan, kelembagaan, 5) Kebijakan pemerintah
14 Selain itu Hernanto (1989) juga mengelompokkan ada empat unsur pokok atau faktor-faktor produksi dalam usahatani, yaitu :
1) Tanah sebagai unsur pokok usahatani
Pada umumnya di Indonesia tanah merupakan faktor produksi yang relatif langka dibanding dengan faktor produksi lainnya selain itu distribusi penguasaannya di masyarakat tidak merata. Tanah memiliki sifat luas relatif tetap atau dianggap tetap, tidak dapat dipindah-pindahkan, dan dapat dipindah tangankan atau diperjualbelikan. Karena sifatnya yang khusus tersebut tanah kemudian dianggap sebagai salah satu faktor produksi usahatani, meskipun di bagian lain dapat juga berfungsi sebagai faktor atau unsur pokok modal usahatani. Pada dasarnya dapat dijelaskan empat golongan petani berdasarkan tanahnya:
a. Golongan petani luas (lebih 2 ha) b. Golongan petani sedang (0,5-2 ha) c. Golongan petani sempit (0,5 ha) d. Golongan buruh tani tidak bertanah. 2) Tenaga sebagai unsur pokok usahatani
Tenaga kerja merupakan faktor produksi kedua selain tanah, modal, pengelolaan. Hernanto (1989) menggolongkan jenis tenaga kerja yaitu manusia, ternak, dan mekanik. Tenaga kerja manusia dibedakan atas tenaga kerja pria, wanita, dan anak-anak. Tenaga kerja manusia dapat mengerjakan semua jenis pekerjaan usahatani berdasarkan tingkat kemampuannya. Kerja manusia dipengaruhi oleh : umur, pendidikan, keterampilan, pengalaman, tingkat kecukupan, tingkat kesehatan, faktor alam seperti iklim dan kondisi lahan usahatani. Menurut Rukasah dalam Hernanto (1989) untuk mengetahui potensi tenaga kerja keluarga harus dilipatkan atau dikalikan pencurahannya dalam satu tahun. Sementara konversi tenaga dengan membandingkan tenaga pria sebagai ukuran baku, yaitu 1 HOK = 1 hari kerja pria (HKP), 1 HOK wanita = 0,7 HKP, 1 HK ternak = 2 HKP, dan 1 HOK anak = 0,5 HKP.
3) Modal sebagai unsur pokok usahatani
Modal merupakan unsur pokok usahatani yang penting. Dalam pengertian ekonomi, modal adalah barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi lainnya menghasilkan barang-barang baru, yaitu produksi pertanian.
15 Pada usahatani yang disebut modal adalah tanah, bangunan-bangunan, alat-alat pertanian, tanaman, ternak dan ikan di kolam, bahan-bahan pertanian, piutang di bank, uang tunai. Sementara menurut sifatnya modal terbagi dua, yaitu :
a. Modal tetap, meliputi : tanah bangunan. Modal tetap diartikan modal yang tidak habis pada satu periode produksi. Jenis modal ini memerlukan pemeliharaan agar dapat berdaya guna dalam jangka waktu lama. Jenis modal ini pun terkena penyusutan. Artinya nilai modal menyusut berdasarkan jenis dan waktu.
b. Modal bergerak meliputi alat-alat, bahan, uang tunai, piutang di bank, tanaman ternak, ikan di lapangan. Jenis modal ini habis atau dianggap habis dalam satu periode proses produksi.
Berdasarkan sumbernya dapat dibedakan sumber modal, yaitu : milik sendiri, pinjaman atau kredit, hadiah warisan, dari usaha lain, kontrak sewa.
4) Manajemen (pengelolaan)
Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi yang dikuasainya dengan sebaik-baiknya dan mampu memberikan produksi pertanian sebagaimana yang diharapkan. Ukuran dari keberhasilan setiap pengelolaan itu adalah produktivitas dari setiap faktor maupun produktivitas dari usahanya. Dengan demikian pengenalan secara utuh faktor yang dimiliki dan faktor-faktor yang dapat dikuasai akan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan.
2.3. Petani Tebu
Petani menurut Hernanto (1996) adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan kehidupannya di bidang pertanian dalam arti luas yang meliputi usaha pertanian, peternakan, perikanan (termasuk penangkapan ikan), dan pemungutan hasil laut. Orang yang disebut petani, atau kedudukannya sebagai petani, mempunyai fungsi yang banyak. Dalam industri gula pun usahatani tebu sebagai bahan baku utama gula dilakukan oleh petani. Fungsi petani tebu berdasarkan Artikel Kelembagaan yang disusun oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia/APTRI (2000) antara lain meliputi : 1) Petani/kelompok tani yang tergabung dalam wadah koperasi petani
16 untuk menanam tebu sesuai baku teknis yang ditetapkan serta menyerahkan tebunya untuk digiling di Pabrik Gula yang bersangkutan atas dasar Sistem Bagi Hasil (SBH) atau Sistem Pembelian Tebu (SPT).
2) Petani memperoleh dana kredit melalui koperasi petani tebu yang selanjutnya pengelolaan kreditnya dilakukan oleh Pabrik Gula atas kuasa dari koperasi petani tebu.
2.4. Industri Gula
Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Dengan luas areal sekitar 350 ribu ha pada periode 2000-2005, industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 1,3 juta orang. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah. Karena merupakan kebutuhan pokok, maka dinamika harga gula akan mempunyai pengaruh langsung terhadap laju inflasi. Walaupun pada dua tahun terakhir, kinerja industri gula nasional menunjukkan peningkatan, pada dekade terakhir secara umum kinerjanya mengalami penurunan, baik dari sisi areal, produksi maupun tingkat efisiensi.
Sejalan dengan revitalisasi sektor pertanian, industri gula nasional, atau industri gula berbasis tebu secara umum, harus melakukan revitalisasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, peningkatan investasi merupakan suatu syarat keharusan. Investasi di industri gua berbasis tebu cukup prospektif. Dari sisi pasar, permintaan gula dari dalam negeri masih terbuka sekitar 1,4 juta ton per tahun. Pemerintah dengan berbagai kebijakan promotif dan protektifnya telah menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk pengembangan industri gula berbasis tebu.
Pasar internasional yang dalam tiga tahun terakhir mengalami defisit sebagai akibat tekanan yang dihadapi oleh produsen utama gula dunia juga mengindikasikan investasi pada bidang ini cukup prospektif. Beberapa produk derivat tebu (PDT) seperti ethanol, ragi roti, inactive yeast, wafer pucuk tebu, papan partikel, papan serat, pulp, kertas, Ca-sitrat dan listrik mempunyai peluang pasar yang cukup terbuka, baik di pasar domestic maupun internasional. Guna mewujudkan sasaran pembangunan industri gula berbasis tebu, maka diperlukan
17 investasi baik pada usahatani, pabrik gula dan produk derivatnya, serta investasi pemerintah. Secara keseluruhan, total investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp 8,25 triliun.
Berdasarkan jenis investasi, total investasi untuk usaha primer mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Investasi yang sangat besar diperlukan di bidang usaha industri hilir yang mencapai sekitar Rp 6.817 triliun. Investasi untuk infrastruktur diperkirakan mencapai sekitar Rp 408 miliar. Investasi tertinggi berpeluang dilakukan di Propinsi Papua, Merauke dengan nilai investasi sekitar Rp. 3,437 triliun. Di Jawa Timur, nilai investasi diperkirakan sekitar Rp 3 trliun. Di Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, investasi yang dibutuhkan adalah antara Rp 0,4-0,7 triliun (Deptan, 2005).
2.5. Manajemen Perdagangan Gula Indonesia
Kebijakan manajemen perdagangan atau sistem tataniaga gula yang awalnya dimaksudkan untuk “mengatur” aktivitas impor gula melalui Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (SK No. 643/MPP/Kep/9/2002) tentang Tataniaga Impor Gula (TIG) ternyata telah menimbulkan reaksi dan hasil akhir yang sangat beragam. Kebijakan tataniaga itu memberikan kepada importir produsen (IP) untuk mengimpor gula mentah (raw sugar) dan kepada importir terdaftar (IT) untuk mengimpor gula putih (white sugar) yang tidak lain adalah perkebunan gula yang memiliki perolehan bahan baku 75 persen berasal dari petani.
Perusahaan perkebunan yang memenuhi kualifikasi sebagai IT adalah empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masuk kualifikasi, yaitu: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, PTPN X, PTPN XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI). Pada sisi lain, kebijakan itu juga memberikan peluang bagi pengembangan industri gula rafinasi, yang khusus memutihkan gula mentah impor yang umumnya tidak layak untuk dikonsumsi secara langsung. Catatan penting dari SK 643/2002 tersebut adalah bahwa gula mentah dan gula rafinasi (refined sugar) yang diimpor oleh importir produsen (IP) hanya dipergunakan sebagai bahan baku untuk proses produksi pengolahan gula, dan dilarang diperjualbelikan serta dipindahtangankan.
18 Walaupun debat publik yang berkembang seakan serempak memberi peringatan atas rekam jejak (track record) perkebunan gula yang tidak memiliki pengalaman dalam aktivitas impor, kebijakan tataniaga itu tetap dilaksanakan. Solusi temporal dengan cara memberikan kesempatan kepada BUMN produsen gula itu melakukan kerjasama dengan pelaku usaha perdagangan yang telah terbiasa melakukan impor gula, adalah pilihan terbaik dari sekian macam opsi kebijakan yang semua buruk. Sementara itu, harga gula di pasar internasional berada pada level terendah, hanya sekitar US$ 200 per ton FOB (free on board), sehingga terdapat disparitas yang sangat mencolok dibandingkan dengan harga eceran gula domestik yang di atas Rp 3000 per kilogram. Kekhawatiran terjadinya penyelundupan gula akhirnya menjadi kenyataan, terutama setelah dijumpai puluhan ribu gula selundupan yang diketemukan di sebuah gudang pelabuhan di tahun 2004. Kemudian, upaya perbaikan kebijakan pengaturan impor gula dengan penerbitan Kepmen baru yaitu No. 527MPP/Kep/9/2004 tertanggal 17 September 2004 tentang Ketentuan Impor Gula (KIG). di antaranya dengan kembali melibatkan BUMN Perum (Perusahaan Umum) Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI) dalam perdagangan gula di Indonesia1.
Beberapa analis mencoba memberikan penilaian terhadap kebijakan tataniaga gula yang paling banyak memperoleh perhatian, baik pada masa administrasi Presiden Megawati Soekarnoputri, maupun pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Misalnya, Khudori (2005) menganggap bahwa pengaturan impor gula itu turut berkontribusi pada peningkatan produksi gula, dan seharusnya pula meningkatkan pendapatan petani tebu. Nahdodin dan Rusmanto (2008) bahkan secara eksplisit menyebutkan bahwa kebijakan tataniaga gula cukup efektif melindungi produsen gula berdasarkan indikator harga yang berlaku. Kebijakan impor itu tidak menimbulkan monopoli pemasaran sehingga margin pemasaran tidak membesar dan tidak merugikan konsumen. Namun demikian, kebijakan tataniaga gula di dalam negeri tersebut belum dapat memberikan perlindungan pada melindungi produsen gula (tebu) dari distorsi
1 Diadaptasi dari artikel berrjudul “Ekonomi Swasembada Gula Indonesia” www.kompas.com [14 Juli 2008]
19 harga pada pasar gula dunia. Pada intinya, produsen gula (tebu) di dalam negeri masih tertekan oleh perilaku negara produsen gula yang lebih protektif.
Pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan kinerja kebijakan tataniaga gula dalam lima tahun terakhir adalah bahwa mandat kebijakan tersebut terlalu berat untuk dicapai oleh administrasi pemerintahan yang sedang mengalami persoalan besar transparansi dan akuntabilitas yang amat mengganggu (Arifin, 2008).
2.6. Motivasi
2.6.1. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak. Berdasar pada kata dasarnya motif, motivasi yang ada pada seseorang merupakan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuannya (Handoko, 2003).
Orang dapat dikatakan termotivasi bila sistemnya digairahkan, dibuat aktif, dan prilaku diarahkan pada tujuan yang diinginkan. Singkatnya, sistem tersebut dihidupkan dan dicetuskan untuk terlibat didalam kegiatan pemenuhan kebutuhan atau pengenalan kebutuhan. Kebutuhan atau motif diaktifkan ketika ada ketidak cocokan ini meningkat, hasilnya adalah pengaktifan suatu kondisi kegairahan yang diacu sebagai dorongan (drive). Semakin kuat dorongan tersebut, maka semakin besar respon yang dirasakan (Engel, 1994).
Menurut Winardi (2001) motivasi adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seseorang manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang ada, intinya berkisar sekitar imbalan materi dan imbalan non materi, yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau negatif, dimana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan.
Hasibuan (2001) mengungkapkan bahwa motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi agar mau bekerjasama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan, mau bekerja dan antusias mencapai hasil yang optimal.
Menurut jenisnya, motivasi dapat dibagi dua macam, yaitu motivasi yang bersifat intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan dorongan
20 dalam diri yang selalu ingin untuk belajar dan mengejar prestasi tinggi. Motivasi ekstrinsik merupakan sesuatu yang perlu dimanipulasi sehingga dapat menimbulkan dorongan dalam diri seseorang (Soekamto, 1993).
Berdasarkan definisi-difinisi yang dikemukakan, dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan dorongan dari dalam atau luar diri seseorang untuk bekerja dengan giat agar mencapai tujuan yang diharapkan.
2.6.2. Teori-Teori Motivasi
Teori Hierarki Kebutuhan Maslow (Maslow’s Need Hierarchy Theory). Teori ini merupakan teori yang banyak dianut orang. Teori ini beranggapan bahwa tindakan manusia pada hakekatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya.
Adapun hierarki kebutuhan menurut Maslow adalah sebagai berikut (Hasibuan 2001).
1) Physiology Needs (kebutuhan fisik dan biologis), adalah kebutuhan yang paling utama yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup seperti makan, minum, tempat tinggal dan bebas dari penyakit. Selama kebutuhan ini belum terpenuhi maka manusia tidak akan tenang dan dia akan berusaha untuk memenuhinya. Kebutuhan dan kepuasan biologis ini akan terpenuhi.
2) Safety and security Needs (kebutuhankeselamatan dan keamananan), yaitu kebutuhan akan kebebasan dari ancaman jiwa dan harta, baik di lingkungan tempat tinggal mapun tempat kerja. Merupakan tangga kedua dalam susunan kebutuhan.
3) Affiliation or acceptance Needs (kebutuhan sosial), yaitu kebutuhan akan perasaan untuk diterima oleh orang lain di lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja; kebutuhan akan dihormati; kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal, kebutuhan akan ikut serta.
4) Esteem or status Needs (kebutuhan akan peghargaan atau prestise), yaitu kebutuhan akan penghargaan diri atau penghargaan prestise dari orang lain. 5) Self Actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri), yaitu realisasi lengkap
potensi seorang secara penuh. Untuk pemenuhan kebutuhan ini biasanya seorang bertindak bukan atas dorongan orang lain, tetapi atas kesadaran dan keinginan diri sendiri.
21 Maslow selanjutnya menegaskan bahwa kebutuhan yang diinginkan seseorang itu berjenjang, artinya jika kebutuhan yang pertama terpenuhi, kebutuhan tingkat kedua akan muncul menjadi yang utama. Selanjutnya jika kebutuhan tingkat kedua telah terpenuhi, muncul kebutuhan tingkat ketiga dan seterusnya sampai kebutuhan tingkat kelima seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2. Inti dari teori Maslow adalah bahwa kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hirarki.
5) self actualization 4) Esteem or status 3) Affiliation or acceptance 2) Safety and security 1) Physiological
Gambar 2. Hierarki Kebutuhan Menurut Maslow
Teori-teori yang lain seperti teori ERG Alderfer yang setuju dengan pendapat Maslow bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan yang tersusun dalam suatu hirarki. Akan tetapi hirarki kebutuhan Alderfer hanya meliputi tiga tingkat kebutuhan, (Gibson et al. 1996) yaitu :
1) Eksistensi : adalah kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor-faktor seperti makanan, air, udara, upah, dan kondisi kerja.
2) Keterkaitan : adalah kebutuhan yang dipuaskan oleh hubungan sosial dan hubungan antar pribadi yang bermanfaat.
3) Pertumbuhan : ini adalah kebutuhan dimana individu merasa puas dengan membuat suatu kontribusi (sumbangan) yang kreatif dan produktif.
Selain perbedaan jumlah tingkat hirarki, bedanya dengan teori Maslow yaitu berbeda dalam cara bagaimana orang melangkah melalui rangkaian kebutuhan. Alderfer mengemukakan bahwa sebagai tambahan terhadap proses
22 kemajuan pemuasan yang dikemukakan Maslow, juga terjadi proses pengurangan keputusasaan.
Teori Herzberg mengembangkan teori kepuasan yang disebut teori dua faktor tentang motivasi (Herzberg two factor motivation theory). Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas dan faktor yang membuat orang merasa puas atau faktor-faktor iklim baik atau ekstrinsik-instrinsik. Penelitian awal Herzberg menghasilkan dua kesimpulan (Gibson et al. 1996) yaitu :
Pertama ada serangkaian kondisi ekstrinsik, keadaan pekerjaan yang menghasilkan ketidakpuasan jika kondisi tersebut tidak ada. Kondisi tersebut adalah faktor-faktor yang membuat orang merasa tidak puas atau disebut juga faktor iklim baik karena faktor tersebut diperlukan untuk mempertahankan tingkat yang paling rendah yaitu tidak adanya ketidakpuasan. Faktor-faktor ini mencakup: 1) Upah 2) Jaminan pekerjaan 3) Kondisi kerja 4) Status 5) Prosedur perusahaan 6) Mutu supervisi
7) Mutu hubungan antar pribadi diantara rekan sekerja, bawahan dan atasan. Kedua adalah serangkaian kondisi intrisik, isi pekerjaan, yang apabila dalam pekerjaan tersebut akan menggerakkan tingkat motivasi yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik. Jika kondisi tersebut tidak ada maka tidak akan timbul rasa ketidakpuasan yang berlebihan. Faktor-faktor dari rangkaian ini disebut pemuas atau motivator, yang meliputi :
1) Prestasi 2) Pengakuan 3) Tanggung jawab 4) Kemajuan
5) Pekerjaan itu sendiri 6) Kemungkinan berkembang
23 Model Herzberg pada dasarnya mengangsumsikan bahwa kepuasan bukanlah konsep berdimensi satu (Teori Maslow dan Alderfer) melainkan diperlukan dua. Menurutnya seseorang melakukan suatu pekerjaan atau tindakan dipengaruhi dua hal untuk menafsirkan kepuasan kerja.
Dari teori-teori tersebut pada dasarnya sama-sama bertujuan untuk mendapatkan alat dan cara terbaik dalam memotivasi semangat agar mau melakukan tindakan untuk pencapaian tujuan.
2.6.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani
Lyman dan Raymond mengemukakan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi motivasi seseorang yaitu (Ngadimin, 1998) :
1) Ciri-ciri pribadi seseorang, 2) Tingkat dan jenis pekerjaan, 3) Lingkungan kerja.
Selanjutnya Ia juga mengungkapkan bahwa motivasi merupakan suatu proses psikologis timbul diakibatkan oleh faktor dalam diri seseorang atau faktor di luar diri. Faktor di dalam diri dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman, dan pendidikan atau berbagai harapan cita-cita yang menjangkaumasa depan. Sedangkan faktor di luar diri, dapat ditimbulkan dari berbagai sumber, bisa karena pengaruh pemimpin, kolega atau faktor-faktor lain yang sangat kompleks. Dari pernyataan yang diungkapkan terlihat bahwa tingkat pendidikan bukan merupakan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja.
Mengukur motivasi umumnya terdapat dua cara, yaitu : (1) mengukur faktor-faktor luar tertentu, yang diduga menimbulkan dorongan dalam diri seseorang, dan (2) mengukur aspek tingkah laku tertentu yang mungkin menjadi ungkapan dan motif tertentu (Sabit 1997, diacu dalam Ngadimin 1998).
Berdasarkan uraian diatas, dapat terlihat bahwa secara garis besar faktor yang mempengaruhi motivasi bervariasi. Namun secara umum faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor-faktor faktor-faktor eksternal dan faktor-faktor internal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi seseorang yang datangnya dari dalam diri seseorang. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi seseorang yang bersumber dari lingkungan luar yaitu lingkungan dimana terkait pencapaian
24 tujuan tersebut. Dengan dasar tersebut motivasi petani dalam berusahatani tebu dipengaruhi oleh dua faktor tersebut.
2.7. Kelembagaan
Kelembagaan adalah seperangkat norma dan prilaku yang bertahan dari waktu ke waktu dengan memenuhi kebutuhan kolektif (Uphoff 1993, diacu dalam Suyono 2008). Menurut Suyono (2008) kelembagaan adalah suatu kompleks peraturan-peraturan dan peranan-peranan sosial. Dengan demikian kelembagaan memiliki aspek kultural dan aspek struktural. Segi kultural berupa norma-norma dan nilai-nilai, dan segi struktural berupa berbagai peranan sosial. Kedua segi tersebut berhubungan erat satu sama lainnya.
Sedangkan menurut Mubyarto (1989) dalam Mariyono (1996) kelembagaan adalah organisasi atau kaidah-kaidah, baik formal maupun informal, yang mengatur prilaku dan tindakan anggota masyarakat tertentu baik dalam kegiatan rutin sehari-hari maupun dalam usahanya untuk mencapai tujuan tertentu.
Djatiman (1997) dalam Suyono (2008) menggolongkan institusi atau kelembagaan menjadi tiga : (1) Bureaucratic Institution yaitu institusi yang datangnya dari pemerintah atas birokrasi dan akan tetap menjadi milik birokrasi; (2) Community Based Institution yaitu institusi yang dibentuk pemerintah berdasarkan atas sumberdaya masyarakat yang diharapkan menjadi milik masyarakat, seperti koperasi; (3) Gross Root Institution yaitu institusi yang tumbuh murni dari masyarakat dan merupakan milik masyarakat, contohnya arisan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kelembagaan dapat diartikan sebagai tata aturan atau pola hubungan yang mengatur prilaku dalam suatu sistem. Dapat pula diartikan sebagai bentuk wujud berupa lembaga seperti organisasi tertentu. Kelembagaan merupakan sesuatu yang setabil, mantap dan berpola. Kelembagaan berfungsi untuk tujuan-tujuan tertentu dalam masyarakat yang ditemukan dalam sistem sosial tradisional dan moderen atau berbentuk tradisional dan modern. Selain itu kelembagaan juga berfungsi untuk mengefisienkan kehidupan sosial (Suyono, 2008).
25 Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut maka kelembagaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah setiap kelembagaan yang ada di masyarakat yang mendukung aktifitas masyarakat khususnya petani tebu. Kelembagaan tersebut diharapkan akan membantu untuk mencapai tujuan petani tebu yaitu kesejahteraan.
2.8. Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian Amin (1996) tantang Motivasi dan Prilaku Petani Tebu Rakyat Intensifikasi dalam Menerapkan Teknologi Hasta Usahatani menjelaskan bahwa motivasi berhubungan nyata terhadap prilkau petani dalam menerapkan teknologi hasta usahatani, dengan uji Rank Spearman di dapat rs = 0,831. Prilaku petani dalam menerapkan teknologi ini dilihat dari aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan petani tentang program TRI.
Menurut Amin, Pengetahuan petani dianggap kurang karena banyak petani yang tidak tahu paket teknologi hasta usahatani yang dianjurkan (25,25%) dan yang mengetahui kedelapan paket tersebut (6,25%). Hubungan antara sikap petani dan motivasi diuji Rank Spearman hasilnya signifikan. Sedangkan ketrampilan petani dalam menerapkan teknologi cukup tinggi (81,25%).
Penelitian Maryono (1996) yang berjudul Analisis Alokasi Faktor Produksi dan Kelembagaan Usahatani Tebu di Lahan Kering. Studi kasus Pabrik Gula Madukismo, Kabupaten Bantul menghasilkan bahwa dari regresi data, diperoleh hasil bahwa faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi tebu adalah pupuk ZA dan kredit usahatani. Analisis kelembagaan yang terlibat langsung dengan pengolahan usahatani tebu lahan kering tidak banyak dijumpai perbedaan antara TRIT II kredit dan TRIT non kredit. Perbedaan yang ada hanya terdapat pada aturan pelaksanaannya.
Setiadi (2008) melakukan penelitian dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Motivasi Petani Berusahatani Tebu (Studi Kasus: Petani Tebu Rakyat di Desa Tonjong Wilayah Kerja Pabrik Gula Tersana Baru , Kabupaten Cirebon). Hasil penelitian Setiadi menunjukkan, dari beberapa faktor internal yang diprediksi memiliki hubungan nyata, hanya terdapat dua faktor yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat motivasi petani. Kedua faktor tersebut adalah pendidikan formal dan penguasaan lahan. Sementara hasil pengujian
26 terhadap faktor-faktor eksternal dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman ditemukan ternyata yang berhubungan nyata dengan motivasi berusahatani tebu adalah pendapatan secara ekonomis dan lembaga penunjang (APTRI).
Penelitian-penelitian terdahulu mengenai motivasi maupun kelembagaan tersebut mempunyai perbedaan dengan penelitian yang dilakukan. Untuk lebih lengkapnya mengenai perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perbedaan Penelitian dengan Penelitian Terdahulu
Nama Judul Perbedaan
Nur Syamsiah Amin (1996)
Motivasi dan Prilaku Petani Tebu Rakyat Intensifikasi Dalam Menerapkan Teknologi Hasta Usahatani (Kasus di Wilayah Kerja Pabrik gula Karangsuwung, Kecamatan
Karangsembung, Kabupaten Cirebon)
Meneliti motivasi dan prilaku petani Tebu rakyat intensifikasi terkait penerapan teknologi, Penulis meneliti motivasi petani tebu terkait dengan kelembagaan. Alat analisis yang digunakan Rank Spearman sedangkan penulis menggunakan Factor Analysis dan Jalur.
Mariyono (1996)
Analisis Alokasi Faktor Produksi dan
Kelembagaan Usahatani Tebu Di Lahan Kering (Studi Kasus Pabrik Gula Madukismo, Kabupaten Bantul, Propinsi D. I. Yogyakarta)
Menggunakan fungsi produksi Cob-Douglas dan metode tabulasi dan linier berganda. Sedangkan penulis menggunakan analisis Faktor dan Jalur Rudie Setiadi (2008) Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Motivasi Petani dalam Berusahatani Tebu. (Studi Kasus : Petani Tebu Rakyat Di Desa Tonjong Wilayah Kerja Pabrik Gula Tersana Baru , Kabupaten Cirebon)
Meneliti motivasi berusahatani tebu terkait dengan faktor internal dan eksternal dengan responden kelompok petani tebu di Cirebon, sedangkan penulis meneliti tentang motivasi berusahatani tebu terkait dengan kelembagaan dengan objek petani tebu
di Pati. Rudi menggunakan alat analisis Rank Spearman sedangkan penulis menggunakan analisis Faktor dan Jalur.
27 2.9. Hipotesis Penelitian
Menurut Nasution (2000), definisi hipotesis ialah ”Pernyataan tentatif yang merupakan dugaan mengenai apa saja yang sedang kita amati dalam dari hipotesis utama dan hipotesis kerja. Hipotesis utama yang diajukan adalah ” faktor eksternal yaitu kelembagaan petani berpengaruh terhadap motivasi berusahatani tebu”. Hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji menggunakan data yanag ada. Untuk itu peneliti memerlukan hipotesis pembanding yang bersifat objektif dan netral atau secara teknis disebut hipotesis nol (H0) yaitu ” faktor eksternal yaitu kelembagaan petani tidak berpengaruh terhadap motivasi berusahatani tebu”.
Hipotesis kerja yang membantu penelitian dan akan diuji adalah variabel lembaga pelayanan (KSU Tebu Mandiri), lembaga penunjang APTR, lembaga penyuluhan, lembaga pengolahan dan bagi hasil (PG Trangkil), dan Litbang berpengaruh terhadap motivasi berusahatani tebu.