• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Ekonomi

a. Infrastruktur Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Infrastruktur rumah sakit dan puskesmas memegang peranan krusial dalam penanganan kesehatan bagi masyarakat setempat. Rumah sakit merupakan fasilitas kesehatan yang mempunyai fungsi dan kemampuan daripada fasilitas pelayanan kesehatan lainnya termasuk klinik maupun puskesmas bahkan mempunyai fungsi untuk merawat pasien yang membutuhkan tindakan yang lebih. Pada salah satu komponen dari indeks pembangunan manusia yaitu angka harapan hidup terletak semacam hubungan yang rasional antara jumlah ketersediaan rumah sakit terhadap harapan hidup masyarakat pada suatu wilayah. Infrastruktur rumah sakit yang digunakan yaitu rumah sakit pemerintah daerah yang dikelola oleh pemerintah

72

provinsi, kabupaten maupun kota yang notabene adalah rumah sakit negeri yang memberikan keunggulan ketimbang rumah sakit swasta. Apalagi pemerintah memiliki program jaminan kesehatan yang memudahkan masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan dari ketersediaan infrastruktur rumah sakit.

Pemerintah memiliki program jaminan kesehatan yang memudahkan masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan dari ketersediaan infrastruktur puskesmas menjadi faskes (fasilitas kesehatan) rujukan untuk pengobatan sebelum mencapai kebutuhan perawatan yang lebih lanjut ke rumah sakit.

Hubungan rasional antara ketersediaan rumah sakit dan puskesmas terhadap peningkatan indeks pembangunan manusia didasari pada peningkatan infrastruktur rumah sakit akan meningkatkan ketersediaan akses kesehatan bagi penduduk sekitar.

Rumah sakit menjadi fasilitas kesehatan yang mempunyai kapabilitas tertinggi untuk pelayanan kesehatan ketimbang lainnya, sedangkan puskesmas menjadi akses kesehatan pertama dalam hal kesehatan inilah yang menjadi penting bagi ketersediaan rumah sakit dan puskesmas untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat setempat yang meningkatkan angka harapan hidup bagi masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan IPM. Penelitian oleh Kristanto, dkk., (2019) menemukan bahwa yang mempengaruhi angka harapan hidup suatu populasi adalah jumlah tenaga medis yang tersedia hingga asuransi kesehatan dan juga menemukan bahwa akses yang mahal yaitu transportasi menuju fasilitas kesehatan yang mahal membuat masyarakat tidak mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan tersebut. Arisman (2018) juga menemukan bahwa jumlah populasi yang besar serta pertumbuhan yang meningkat

73

berpengaruh negatif terhadap IPM, yang dapat diartikan bahwa seharusnya jumlah ketersediaan fasilitas kesehatan yaitu puskesmas haruslah proporsional jumlah pembangunannya dengan pertumbuhan penduduk.

Pada penelitian ini terutama variabel infrastruktur kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia tidak memiliki hubungan yang berpengaruh. Ada kemungkinan bahwa ketersediaan infrastruktur kesehatan yaitu rumah sakit tidak mempengaruhi indeks pembangunan manusia karena menurut Agenor (2010) bahwa ada kemungkinan suatu infrastruktur untuk berpengaruh pada pembangunan haruslah mencapai sekian banyak jumlah ketersediaannya hal ini juga mengingat bahwa jumlah rumah sakit sedikit. Hasil penelitian dan kesimpulan ini dikuatkan oleh penelitian dari Kristanto, dkk., (2019) namun bertolak belakang dengan penelitian dari Mohanty, dkk. (2016), Paramita, dkk. (2020),dan Pradita, dkk. (2015).

b. Infrastruktur Pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Infrastruktur sekolah dasar dan menengah pertama yang merupakan dasar pendidikan atau wajib belajar, seseorang di Indonesia yaitu 9 tahun. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia serta meningkatkan sumber daya agar berkualitas di masa depannya. Jenis sekolah pada sekolah dasar dan menengah pertama yang digunakan dalam penelitian ini juga adalah sekolah negeri yang memberikan keunggulan dalam biaya pendidikan sekolah ketimbang sekolah swasta dikarenakan beban biaya yang ditanggung oleh pemerintah. Pertimbangan biaya pendidikan pada sekolah swasta membuat daya serap siswa untuk bersekolah disana

74

kurang diminati ketimbang sekolah negeri. Biaya administrasi, biaya gedung ataupun biaya lainnya diluar dari dana yang dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran siswa yang menjadi keunggulan bagi sekolah negeri dikarenakan bagi orang tua siswa tidak dikenakan atas biaya tersebut. Atas dasar hal tersebut sekolah negeri menjadi sangat diminati ketimbang sekolah swasta.

Terpilihnya infrastruktur sekolah terutama pendidikan wajib yaitu 9 tahun yang diwakilkan oleh sekolah dasar dan menengah pertama didasari atas masih adanya provinsi yang memperoleh rata-rata lama sekolah kurang dari 9 tahun. Hal ini menandakan adanya hambatan dari perkembangan manusia yang terjadi pada provinsi tersebut serta rendahnya serapan pelajar yang tidak bersekolah. Laporan dari (United Nations Development Programme (2019) mengatakan bahwa pembangunan manusia pada saat sekarang haruslah setiap individu memiliki kapabilitas dasar yang ditandai dengan pencapaian pendidikan primer yang pada konteks Indonesia diartikan dengan pendidikan setara 9 tahun atau hingga sekolah menengah pertama. Penelitian ini menemukan adanya hubungan negatif antara ketersediaan dari infrastruktur sekolah yaitu sekolah negeri terutama sekolah dasar dan menengah pertama terhadap indeks pembangunan manusia. Hal ini menandakan kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhi jumlah penduduk yang berhasil menyelesaikan pendidikan 9 tahun yang pada akhirnya tercermin pada peningkatan indeks pembangunan manusia di suatu provinsi.

Isu pemerataan akses sekolah pun menjadi salah satu pertimbangan bagi seseorang untuk bersekolah terlebih lagi letak lokasi sekolah tersebut. Tantangan

75

aksesibilitas dan kondisi geografis terkadang membuat tingkat partisipasi sekolah rendah. Pemerataan ketersediaan selain dari kenaikan tingkat ketersediaannya namun juga harus diperhatikan dari persebaran yang proporsional di setiap wilayah menyesuaikan dengan tantangan yang ada. Aksesibilitas dan transportasi menjadi tantangan yang dapat menghambat efektivitas ketersediaan sekolah untuk meningkatkan tingkat partisipasi sekolah yang berdampak pada indeks pembangunan manusianya (Filmer, 2004), terutama pada sistem transportasi menuju ke sekolah (Lokhsin dan Yemtsov, 2005).

Penelitian Kharisma, dkk., (2020) menemukan bahwa banyak penduduk yang tidak menyelesaikan pendidikan 9 tahun atau keluar dari sekolah selama masa sekolah berlangsung dikarenakan dari pendapatan orang tua murid tersebut atau rendahnya pendapatan orang tua dari seorang anak. Ketimpangan gender juga mempengaruhi pencapaian pendidikan seseorang dimana perempuan lebih rendah ketimbang laki – laki dan lebih lanjutnya latar belakang pendidikan orang tua mempengaruhi pencapaian atau target pendidikan dari seorang anak. Bahkan banyak orang tua memilih untuk mendahulukan pendidikan anak laki – laki ketimbang anak perempuan. Hal ini mendasari kemungkinan bahwa populasi yang didominasi oleh perempuan mengakibatkan rendahnya rata – rata lama sekolah dari suatu penduduk.

Penelitian ini variabel infrastruktur sekolah tidak berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia. Hasil penelitian dan kesimpulan ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Mohanty, dkk., (2016) yang menemukan hasil yaitu jumlah infrastruktur sekolah berpengaruh positif terhadap indeks pembangunan

76

manusia, demikian juga bahwa penyediaan sekolah yang baik juga penting selain ketersediaan infrastruktur tersebut, terlebih aspek kualitas dari sekolah tersebut yang membutuhkan perhatian khusus.

c. Infrastruktur Infrastruktur Jalan terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Infrastruktur jalan terutama jalan provinsi kota dan jalan kabupaten/kota memiliki peranan yang vital dalam persebaran dan distribusi kegiatan transaksi ekonomi antar dan dalam wilayah yaitu ibukota provinsi dengan kabupaten dan kota.

Berdasarkan hal tersebut menggambarkan bahwa kegiatan ekonomi pada ibukota provinsi dengan kabupaten maupun kota bahkan kabupaten dengan kota dipengaruhi oleh infrastruktur jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota. Peranan inilah yang memungkinkan infrastruktur jalan yaitu jalan provinsi berdampak terhadap indeks pembangunan manusia. Hal ini dengan adanya hubungan yang rasional antara infrastruktur jalan terhadap salah satu komponen indeks pembangunan manusia yaitu hidup layak yang digambarkan dengan produk domestik bruto per kapita memungkinkan adanya kesempatan dan akses yang merata terhadap aktivitas ekonomi yang sama antar wilayah kabupaten maupun kota. Penelitian oleh Kharisma dan Nuraeiny (2018) menemukan bahwa infrastruktur jalan berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB per kapita.

Pengaruh ketersediaan infrastruktur jalan terhadap IPM yang dapat digambarkan melalui produk domestik bruto wilayah tersebut didasari pada efektivitas dari ketersediaan jalan tersebut. Banyak hal yang dapat yang mempengaruhi

77

efektivitasnya seperti kondisi jalan, material pembuat jalan hingga letak akses terhadap jalan tersebut. Beragam hal diatas dapat mempengaruhi dari ketersediaan infrastruktur jalan contohnya kondisi jalan yang baik sehingga memudahkan mobilitas barang dan penduduk sekitar hingga keadaan yang rusak yang menghambat mobilitas tersebut,bahkan material pembuat jalan yang mungkin dapat menghambat mobilitas pada beberapa jenis kendaraan yang dapat melaluinya hingga letak akses yang terhadap jalan tersebut dapat menentukan seseorang apakah efisien melalui jalan tersebut ataupun tidak. Hal ini didasari pada kondisi geografis masing – masing wilayah yang beragam yang menghasilkan beragam kemungkinan yang ada bagi mobilitas penduduk sekitar salah satu contohnya yaitu wilayah dalam penelitian ini yaitu Kepulauan Riau yang memungkinkan daya akses dari jalan terhambat dengan kondisi geografis tersebut sehingga memungkinkan bagi moda transportasi lainnya seperti pelabuhan melalui kapalnya menjadi lebih efektif ketimbang jalan raya ataupun seperti wilayah Papua Barat yang berbukit sehingga jalan provinsi ataupun yang tidak beraspal semakin sedikit pengaruhnya bagi infrastruktur untuk meningkatkan IPM wilayahnya sehingga jalan menjadi vital untuk mengakses tempat – tempat sentral seperti sekolah, rumah sakit, pasar, ataupun gedung pemerintah.

Penelitian oleh Mohanty, dkk., (2016) juga mengatakan bahwa kemungkinan kondisi suatu jalan lebih penting daripada panjang jalan tersebut, dan juga ketimpangan pembangunan jalan di perkotaan ketimbang di pedesaan. Agenor (2010) mengatakan salah satu kemungkinan suatu infrastruktur seperti jalan tidak berpengaruh terhadap pembangunan adalah efek jaringan yaitu ketika infrastruktur seperti jalan tidak

78

mempengaruhi secara langsung namun sebagai pelengkap dari infrastruktur lainnya seperti pasar, sekolah, rumah sakit dan lain – lain, demikian memberikan arti bahwa pembangunan infrastruktur jalan tidak akan berpengaruh sebelum infrastruktur lainnya efektif dimanfaatkan.

Pada penelitian ini terutama variabel infrastruktur jalan terhadap indeks pembangunan manusia tidak memiliki hubungan berpengaruh. Hal tersebut memberikan arti bahwa peningkatan jumlah infrastruktur jalan tidak berdampak pada peningkatan indeks pembangunan manusia di suatu wilayah. Hasil penelitian dan kesimpulan ini dikuatkan dengan penelitian yang menemukan hal sama dengan penelitian sebelumnya yaitu Mohanty, dkk. (2016) namun berbeda dengan Sapkota (2014), Kusharjanto dan Kim (2011) dan Nugroho (2015).

Semua infrastruktur yang digunakan pada penelitian ini ditemukan tidak berpengaruh terhadap IPM. Penelitian ini membangun kesadaran akan perhatian terhadap tingkat ketersediaan infrastruktur kesehatan, infrastruktur pendidikan dan infrastruktur jalan penting akan pengaruhnya terhadap indeks pembangunan manusia yang mencerminkan kesejahteraan pada masyarakat di dalamnya. Program – program yang tepat perlu dihadirkan oleh masing – masing pemerintah provinsi setempat untuk meningkatkan jumlah ketersediaan dari masing – masing infrastruktur dan rencana pemanfaatannya agar infrastruktur tersebut optimal digunakan serta harapan bagi provinsi hasil pemekaran yang masih berumur muda agar dapat mensejajarkan diri dengan provinsi pemekaran yang sudah terlebih dulu ada. Patut disadari juga dibutuhkan kebijakan khusus mengembangkan potensi manusia atau IPM di semua

79

wilayah agar tidak ada ketimpangan yang telah terjadi. Pengembangan dan pembangunan akses transportasi yang merata terhadap fasilitas tersebut pun harus diperhatikan agar ketersediaan infrastruktur tersebut dapat dinikmati oleh semua orang dengan akses yang setara.

80 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini membahas tentang pengaruh infrastruktur terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia tahun 2015 – 2019. Berdasarkan analisis, temuan dan pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, peneliti memperoleh kesimpulan yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Infrastruktur kesehatan tidak berpengaruh positif terhadap indeks pembangunan manusia pada provinsi hasil pemekaran di Indonesia periode tahun 2015 - 2019.

2. Infrastruktur pendidikan tidak berpengaruh positif terhadap indeks pembangunan manusia pada provinsi hasil pemekaran di Indonesia periode tahun 2015 - 2019.

3. Infrastruktur jalan tidak berpengaruh positif terhadap indeks pembangunan manusia pada provinsi hasil pemekaran di Indonesia periode tahun 2015 - 2019.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dijelaskan pada bagian atas, maka peneliti memberikan saran atas dasar temuan, analisis dan kesimpulan sebagai berikut :

81 1. Bagi Pemerintah

Perlu adanya program yang secara spesifik dirancang oleh masing – masing daerah untuk mencapai kesetaraan wajib belajar 9 tahun. Penyediaan infrastruktur sekolah yang dapat dicapai oleh siswa di berbagai lokasi dibutuhkan agar menyesuaikan dengan kondisi geografis yang ada serta. Infrastruktur rumah sakit dan puskesmas perlu pembangunan yang masif agar dapat meningkatkan angka harapan hidup pada masyarakat setempat sehingga meningkatkan indeks pembangunan manusia. Infrastruktur jalan perlu ditingkatkan kualitas jalan yang tersedia agar meningkatkan efektivitas arus mobilitas manusia, barang dan jasa antar wilayah dalam provinsi.

2. Bagi Civitas Akademika

Untuk peneliti lainnya maupun penelitian yang meneliti tema serupa agar dapat menambahkan variabel penelitian untuk menambah temuan baru tentang infrastruktur terhadap indeks pembangunan manusia dan juga penggunaan alat metodologi yang lebih mutakhir agar mendapatkan hasil temuan yang lebih terbarukan.

82

DAFTAR PUSTAKA

Agenor, P.-R. (2010). A theory of infrastructure-led development. Journal of Economic Dynamics & Control, 34, 932-950.

Ananta, P. (2013). Determinants Of Human Development In Lampung Province.

Jurnal Ekonomi Pembangunan, 2(3), 243-257.

Arisman. (2018). Determinant of Human Development Index in ASEAN Countries.

Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 7(1), 113-122.

doi:http//dx.doi.org/10.15408/sjie.v7i1.6756

Badan Pusat Statistik. (2015). Indeks Pembangunan Manusia 2014. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Transportasi Darat 2018. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2020). Indikator Kesejahteraan Rakyat 2019. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Baeti, N. (2013). Pengaruh Pengangguran Pertumbuhan Ekonomi dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2011. Economics Development Analysis Journal, 3(2), 85-98.

Faradis, R., & Afifah, U. N. (2020). Indeks Komposit Pembangunan Infrastruktur Provinsi-Provinsi di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, 33–55.

Filmer, D. (2004). If You Build It, Will They Come? School Availability and School Enrollment in 21 Poor Countries. New York: World Bank Policy Research Working Paper 3340.

Gujarati, D. N. (2003). Basic Econometrics. New York: McGraw-HiII/lrwin.

Kementerian Kesehatan. (2019). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018. Jakarta.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Indonesia Educational Statistics In Brief 2018/2019. Jakarta.

Kementerian PUPR. (2018). Buku Informasi Statistik Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (BIS-PUPR) 2018. Jakarta.

83

Kharisma, B., & Nuraeiny, V. (2018). Infrastruktur dan Output Perkapita Antar Provinsi di Indonesia. Media Trend Berkala Kajian Ekonomi dan Studi Pembangunan, 133(2), 277-290. doi:10.21107/mediatrend.v13i2.4369

Kharisma, B., Hadiyanto, F., & Remi, S. S. (2020). Schooling Decisions in Indonesia:

a Lesson From Indonesian Crisis. Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 9(1), 81-92. doi:10.15408/sjie.v9i1.12479

Kristanto, E., Daerobi, A., & Samudro, B. R. (2019). Indonesian Life Expectancy:

Role of Health Infrastructure and Socio-Economic Status. Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 8(2), 159-178.

Kusharjanto, H., & Kim, D. (2011). Infrastructure and human development: the case of Java, Indonesia. Journal of the Asia Pacific Economy, 16(1), 111 - 124.

doi:10.1080/13547860.2011.539407

Kusuma, W. D. (2019). Pengaruh Infrastruktur Ekonomi dan Sosial dalam

Pembangunan Daerah. Jurnal Anggaran dan Keuangan Negara Indonesia (AKURASI), 1(2), 114-129.

Lokhsin, M., & Yemtsov, R. (2005). Has Rural Infrastructure Rehabilitation in

Georgia Helped the Poor? The World Bank Economic Review, 19(2), 311-333.

Matekenya, W., Moyo, C., & Jeke, L. (2020). Financial inclusion and human development: Evidence from Sub-Saharan Africa. Development Southern Africa.

Mohanty, A. K., Nayak, N. C., & Chaterjee, B. (2016). Does Infrastructure Affect Human Development? Evidences from Odisha, India. Journal of

Infrastructure Development, 8(1), 1-26. doi:10.1177/0974930616640086 Mylevaganam, S. (2017). The Analysis of Human Development Index (HDI) for

Categorizing the Member States of the United Nations (UN). Open Journal of Applied Sciences, 7, 661-690. doi:10.4236/ojapps.2017.712048

Nugroho, S. S. (2015). Peran Infrastruktur Dasar Terhadap Penurunan Kemiskinan Di Indonesia. Kajian Ekonomi dan Keuangan, 19(1), 27-44.

Nurmalasari, R., Ispriyanti, D., & Sudarno. (2017). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menggunakan Metode Regresi Logistik Ordinal dan Regresi Probit Ordinal. JURNAL GAUSSIAN, 6(1), 111-120.

84

Nwokoye, E. S., Onugha, C. B., & Kalu, C. K. (2020). DRIVERS OF HUMAN CAPITAL DEVELOPMENT: EVIDENCE FROM NIGERIA. Timisoara Journal of Economics and Business, 13(1), 15-30.

Paramita, S. A., Yamazaki, C., & Koyama, H. (2020). Determinants of life expectancy and clustering of provinces to improve life expectancy: an ecological study in Indonesia. BMC Public Health, 20, 351.

doi:10.1186/s12889-020-8408-3

Pradita, R. N., Yasin, H., & Safitri, D. (2015). Pemodelan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia kaupaten/ Kota di Jawa Timur menggunakan Geographically Weighted Ordinal Logistic Regression.

JURNAL GAUSSIAN, 4(3), 639-650.

Sapkota, J. B. (2014). Access to Infrastructure and Human Development: Cross-Country. JICA-RI Working Paper, No. 70 March 2014, 1-26.

Sen, A. (1999). Commodities and Capabilities. New Delhi: Oxford University Press.

Shuaibu, M., & Oladayo, P. T. (2016). Determinants of Human Capital Development in Africa: A Panel Data Analysis. Oeconomia Copernicana, 7(4), 523-549.

Sulistyowati, N., Sinaga, B. M., & Novindra. (2017). Impacts of Government and Household Expenditure on Human Development Index. JEJAK: Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan, 10(2), 412-428. doi:10.15294/jejak.v10i2.11305 Teguh, M. (2005). Metodologi Penelitian Ekonomi Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT

Raja Grafindo Persada.

Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2014). Economic development (12th ed.). New Jersey:

Pearson Education, Inc.

Torrisi, G. (2010). Public infrastructure: definition, classification and measurement issues. MPRA (Munich Personal RePEc Archive)(NO. 25850).

Ul-Haq, M. (1995). Reflections on human development. New York: Oxford University Press, Inc.

United Nations Development Programme. (2016). Human Development Report 2016 : Human Development for Everyone. New York: UNDP.

United Nations Development Programme. (2019). Human Development Report 2019 : Beyond income, beyond averages, beyond today: Inequalities in human development in the 21st century. New York: United Nations Development Programme.

85

Widarjono, A. (2007). Ekonometrika : Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis.

Yogyakarta: Ekonisia UII.

86 LAMPIRAN 1. Lampiran Data Penelitian

Provinsi Tahun EDU HEA RD IPM

87

2017 2.200 0.209 19.477 67.20 2018 2.312 0.213 19.233 67.76 2019 1.164 0.117 19.233 68.70

PAPUA BARAT 2015 1.731 0.329 8.353 61.73

2016 1.698 0.321 8.693 62.21 2017 1.739 0.322 10.865 62.99 2018 1.733 0.322 11.547 63.74 2019 0.935 0.166 11.451 64.70

2. Lampiran Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests Equation: Untitled Test cross-section fixed effects

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 32.599892 (7,29) 0.0000 Cross-section

Chi-square

87.302209 7 0.0000

3. Lampiran Uji Hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: Untitled

Test cross-section random effects Test Summary Chi-Sq.

Statistic

Chi-Sq.

d.f.

Prob.

Cross-section random 8.036948 3 0.0453

88 4. Lampiran Model Fixed Effect Model

Dependent Variable: IPM Method: Panel Least Squares

Sample: 2015 2019 Periods included: 5 Cross-sections included: 8 Total panel (balanced) observations: 40 Variable Coefficient Std.

Error

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.971757 Mean dependent var 68.45600 F-statistic 99.77986 Durbin-Watson stat 1.255889 Prob(F-statistic) 0.000000

89 5. Lampiran Efek Individu Fixed Effect Model

PROVINSI EFFECT

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

0.858632

KEPULAUAN RIAU 6.382037

BANTEN 2.918618

KALIMANTAN UTARA -1.198360

GORONTALO 0.033471

SULAWESI BARAT -2.910018

MALUKU UTARA -0.619885

PAPUA BARAT -5.464495

6. Lampiran Uji Normalitas

0 Skewness 0.292652 Kurtosis 2.135713 Jarque-Bera 1.815957 Probability 0.403339

90 7. Lampiran Uji Heteroskedastisitas

Dependent Variable: RESABS Method: Panel Least Squares

Sample: 2015 2015 Periods included: 5 Cross-sections included: 8 Total panel (balanced) observations: 40 Variable Coefficient Std.

Error

t-Statistic Prob.

C -0.614974 0.708935 -0.867462 0.3928 HEA 3.991434 3.673864 1.086440 0.2862 EDU 0.061849 0.352915 0.175251 0.8621 RD 0.016447 0.019754 0.832594 0.4119

8. Lampiran Uji Multikolinearitas

EDU RD HEA

EDU 1.000000 0.680986 -0.535151 RD 0.680986 1.000000 -0.283065 HEA -0.535151 -0.283065 1.000000