BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Pemekaran provinsi adalah sebuah proses dari desentralisasi dan dekonsentrasi yang membuat kepala daerah setempat berperan aktif dalam pembangunan pada daerahnya masing-masing. Desentralisasi dan dekonsentrasi yang terjadi yaitu pelimpahan sebagian wewenang pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah untuk berperan lebih besar dalam pembangunan di daerah tersebut. Pemekaran pun merupakan sebuah proses yang memungkinkan terbentuknya suatu provinsi baru yang tercipta dari provinsi sebelumnya. Pemekaran tersebut dapat terjadi apabila sudah melalui sejumlah mekanisme yang sudah tercantum dalam Undang – Undang.
Terbentuknya provinsi – provinsi baru didasari atas keinginan daerah tersebut untuk mendapatkan otonomi lebih untuk mengatur dirinya sendiri terlepaskan dari provinsi sebelumnya. Proses pemekaran provinsi sendiri di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1999. Sejak saat itu hingga saat ini telah terdapat 8 provinsi hasil pemekaran yang terbentuk yaitu sebagai berikut :
a. Provinsi Kepulauan Riau dari Provinsi Riau;
b. Provinsi Banten dari Provinsi Jawa Barat;
c. Provinsi Maluku Utara dari Provinsi Maluku;
52 d. Provinsi Papua Barat dari Provinsi Papua;
e. Provinsi Kalimantan Utara dari Provinsi Kalimantan Timur;
f. Provinsi Sulawesi Barat dari Provinsi Sulawesi Selatan;
g. Provinsi Bangka Belitung dari Provinsi Sumatera Selatan;
h. Provinsi Gorontalo dari Provinsi Sulawesi Utara.
Tabel 4.1 Nilai Komponen IPM Tahun 2019
Provinsi 2019
AHH HLS RLS PPK
KEPULAUAN BANGKA
BELITUNG 70.50 11.94 7.98 12959
KEPULAUAN RIAU 69.80 12.83 9.99 14466
BANTEN 69.84 12.88 8.74 12267
KALIMANTAN UTARA 72.54 12.84 8.94 9343
GORONTALO 67.93 13.06 7.69 10075
SULAWESI BARAT 64.82 12.62 7.73 9235
MALUKU UTARA 68.18 13.63 9 8308
PAPUA BARAT 65.90 12.72 7.44 8125 Sumber : Badan Pusat Statistik
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tabel 4.1 diatas memperlihatkan komponen dari indeks pembangunan manusia yaitu angka harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, pengeluaran per kapita. Ada kesenjangan yang terjadi di antara provinsi tersebut antara lain yaitu harapan hidup penduduk provinsi yang berada dibawah umur 70 tahun selain provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan provinsi Kalimantan Utara, sedangkan pada bagian rata – rata lama sekolah
53
menunjukkan bahwa provinsi Kepulauan Riau sudah menyelesaikan pendidikan dasar yaitu 9 tahun ketimbang provinsi lainnya.
Grafik 4.1 Rata – rata IPM pada Provinsi hasil pemekaran Tahun 2015 - 2019
Sumber : Badan Pusat Statistik, Data diolah oleh penulis
Sesuai dengan laporan United Nations Development Programme (2019) yang memperlihatkan adanya ketimpangan pembangunan manusia yang digambarkan dengan ketimpangan IPM tak terkecuali terjadi di Indonesia. Ketimpangan pembangunan manusia ataupun indeks pembangunan manusia di Indonesia meskipun tak terlalu besar namun dapat memperlihatkan adanya perbedaan keadaan pembangunan manusia di setiap provinsi. Terlebih lagi adanya perbedaan keadaan pembangunan manusia atau indeks pembangunan manusia di provinsi yang mengalami pemekaran dengan provinsi hasil pemekaran. Berdasarkan grafik 1.1 dan grafik 4.1 menunjukkan status indeks pembangunan manusia pada provinsi yang mengalami
54
pemekaran dengan provinsi hasil pemekaran beragam, adapun sesama provinsi hasil pemekaran menunjukkan perkembangan nilai IPM yang beragam. Perbedaan perkembangan tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya perbedaan pengelolaan daerah pada masing-masing provinsi dan lebih lanjutnya keberhasilan provinsi hasil pemekaran dengan provinsi yang mengalami pemekaran membuka harapan bahwa provinsi hasil pemekaran dapat lebih baik menuju kesejahteraan.
Grafik 4.2 Rata - Rata Jumlah Infrastruktur Kesehatan per 1000 Tahun 2015 - 2019
Sumber : Kementerian Kesehatan RI, Data diolah penulis
Grafik 4.2 menunjukkan jumlah rata – rata rumah sakit yang memberikan arti bahwa jumlah rumah sakit dan puskesmas secara keseluruhan masih berada pada kisaran 60 per 1000 penduduk. Jumlah yang sedikit mengingat jumlah populasi yang besar pada setiap provinsi. Permsalahan ini dibutuhkan program khusus untuk peningkatan jumlah rumah sakit itu sendiri.
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00
55
Grafik 4.3 Rata - Rata Jumlah Infrastruktur Pendidikan per 1000 Penduduk Tahun 2015 - 2019
Sumber : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan BPS, Data diolah oleh penulis
Grafik 4.3 menunjukkan jumlah rata – rata infrastruktur sekolah dasar dan menengah pertama negeri untuk per seribu penduduk pada masing – masing provinsi.
Ketimpangan terjadi di antara provinsi – provinsi tersebut. Sebuah kebijakan khusus perlu dibuat oleh masing – masing provinsi yang jumlah infrastruktur pendidikan sedikit seperti Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Banten dan Provinsi Kalimantan Utara. Memang patut disadari bahwa ketersediaan infrastruktur sekolah menyesuaikan dengan jumlah penduduk yang berusia sesuai jenjang pendidikan pada wilayah tersebut namun harus diperhatikan distribusinya agar tidak terjadi penumpukan siswa pada
0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50
56
suatu sekolah. Terlebih lagi yaitu masalah kualitas dari masing – masing sekolah agar menunjang pembelajaran dalam melaksanakan pembangunan manusia.
Grafik 4.4 Rata - Rata Jumlah Infrastruktur Jalan per 100km2 Tahun 2015 - 2019
Sumber : Kementerian PUPR, Data diolah oleh penulis
Grafik 4.3 menunjukkan jumlah rata – rata panjang jalan provinsi pada setiap provinsi. Grafik tersebut menampilkan bahwa jumlah terbanyak dimiliki oleh Provinsi Papua Barat menandakan bahwa konektivitas antar kabupaten atau kota sangat bergantung pada jalan provinsi. Terlebih jumlah yang sedikit pada Provinsi Sulawesi Barat membutuhkan pertumbuhan yang signifikan. Infrastruktur jalan provinsi dibutuhkan untuk konektivitas antar kabupaten atau kota dalam suatu provinsi, meskipun kebutuhan atau pembangunan disesuaikan dengan kondisi geografis tersendiri..
57
Grafik 4.2, grafik 4.3 dan grafik 4.4 menunjukkan bahwa penyediaan infrastruktur di masing – masing provinsi berbeda jumlahnya. Ketimpangan ketersediaan tersebut dapat dipahami dengan perkembangan nilai IPM antar provinsi yang berbeda. Salah satu pertimbangan yang mencerminkan perbedaan tersebut adalah jumlah populasi yang berbeda di setiap provinsi dan jumlah luas wilayah yang berbeda sehingga jumlah ketersediaan masing – masing infrastruktur disesuaikan dengan kondisi sosial maupun geografis. Ketimpangan yang sangat kentara terlihat adalah pada jumlah infrastruktur kesehatan yang sangat timpang antar provinsi bahkan pada semua provinsi.
Tabel 4.2 Deskripsi Statistik
Variabel Rata – Rata Median Maksimum Minimum Std. Dev.
IPM 68.13281 68.26 74.84 61.73 3.69388
EDU 1.38155 1.198 2.456 0.349 0.670735
RD 32.79528 30.0205 66.28 3.443 20.37974
HEA 0.1258 0.085 0.329 0.019 0.085901
Sumber : Eviews 9, Data diolah oleh penulis
Tabel 4.2 nilai deskriptif dari nilai masing-masing variabel pada sampel penelitian yang digunakan. Pada variabel IPM terlihat nilai rata menunjukkan nilai sekitar 68 yang menunjukkan keberhasilan pembangunan manusia yang berhasil memperlihatkan konsistensi untuk mencapai kategori atas pada peringkat pembangunan manusia. Nilai pada variabel RD atau jalan provinsi menunjukkan nilai
58
rata – rata sebesar 32 yang berarti rata – rata panjang jalan provinsi dan kabupaten yaitu 32 km, namun memperlihatkan kekhawatiran yaitu nilai minimum yang menandakan ada provinsi yang memiliki panjang jalan provinsi yang sedikit namun hal ini dapat dimaklumi dikarenakan beberapa sampel penelitian merupakan berbentuk kepulauan.
Variabel EDU atau sekolah SD dan SMP negeri memperlihatkan nilai yang fantastis yaitu nilai total atau jumlah sekolah hal ini dapat didasari pada kebutuhan pendidikan dasar minimal 9 tahun yang disesuaikan dengan populasi penduduk sesuai dengan karakteristik masing-masing sampel. Sedangkan pada variabel HEA atau rumah sakit negeri dan puskesmas memperlihatkan nilai yang kecil ketimbang dari variabel lainnya..