Perekonomian Indonesia pada awal tahun penelitian yaitu 2011 menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, tercermin pada pencapaian inflasi pada level yang rendah yaitu sebesar 3,79 persen. Kuatnya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi tidak dapat dihindari telah mendorong inflasi keseluruhan tahun 2013 meningkat menjadi 8,38 persen dari 4,30 persen pada tahun 2012. Apabila dibandingkan dengan inflasi di tahun 2005 dan 2008 saat harga BBM bersubsidi dinaikkan, inflasi 2013 masih
berada di bawah 10 persen, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi tahun 2005 dan 2008 yang tercatat di atas 10 persen.
Kenaikan maupun penurunan inflasi secara langsung akan berdampak pada iklim investasi khususnya di saham syariah. Bila tingkat inflasi naik berarti harga barang-barang naik sehingga indeks JII menurun. Hubungan antara inflasi dengan volatilitas harga saham disebabkan oleh adanya hubungan positif antara tingkat inflasi dan tingkat pertumbuhan uang, dimana peningkatan supply uang akan memungkinkan peningkatan discount rate dan membuat harga saham menjadi lebih rendah. Peningkatan inflasi akan menyebabkan kebijakan ekonomi yang lebih ketat dan akan membuat efek negatif terhadap harga saham. Efek negatif ini tentunya akan mendorong para investor untuk menjual saham yang dimiliki, sehingga akan berakibat meningkatnya volatilitas harga saham syariah.
Sesuai teori, inflasi akan mempengaruhi volatilitas harga saham syariah.
Hasil dari penelitian ini juga mengatakan hal yang sama, bahwa inflasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap volatilitas harga saham syariah. Hasil penelitian yang dilakukan Novita Nurrahmi dan Ahmad Rodoni (2013) serta Lydianita Hugida (2011) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap volatilitas harga saham juga menguatkan pernyataan tersebut.
Gejolak ekonomi (krisis moneter) 1998 yang telah terjadi puluhan tahun yang lalu sampai sekarang masih memperlihatkan sisa-sisa dampaknya. Salah satu fenomena labilnya dunia perekonomian Indonesia yaitu semakin terhempasnya nilai tukar Rupiah ke kisaran angka 13.000 rupiah per dollar US. Nilai tukar (kurs) merupakan salah satu variabel makro ekonomi yang memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap harga saham. Suatu saham dapat terkena dampak positif sedangkan saham lainnya terkena dampak negatif. Bagi perusahaan yang berorientasi impor, depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika yang tajam akan
berdampak negatif terhadap harga saham perusahaan, beda halnya dengan perusahaan yang berorientasi ekspor akan menerima dampak positif dari depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika.
Pada saat nilai tukar dalam negeri mengalami depresiasi, nilai indeks di BEI akan menurun, hal ini disebabkan oleh return yang lebih tinggi di pasar uang sehingga investor akan lebih tertarik untuk menanamkan uangnya di pasar uang.
Penurunan indeks ini berdampak pada tidak banyak terjadi penjualan saham, maka hal ini berakibat volatlitas harga saham cenderung rendah.
Hasil dari penelitian ini bertolak belakang dengan teori di atas, bahwa kurs memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap volatilitas harga saham syariah.
Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Novita Nurrahmi dan Ahmad Rodoni (2013) kurs baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang tidak berpengaruh signifikan terhadap volatilitas indeks saham syariah JII. Investor tidak menggunakan variabel nilai tukar secara langsung untuk menilai harga saham. Depresiasi mata uang menyebabkan penurunan harga saham yang didorong adanya ekspektasi inflasi. Kenaikan inflasi akan meningkatkan discount rate dan menurunkan harga saham.
Suku bunga merupakan harga dari pinjaman atau harga dari penggunaan uang yang dinyatakan dalam persen untuk jangka waktu tertentu. Tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan uang. Perubahan tingkat suku bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan seseorang ataupun institusi untuk melakukan suatu investasi. Dengan membandingkan tingkat keuntungan dan resiko pada pasar modal dengan tingkat suku bunga yang ditawarkan sektor keuangan, investor dapat memutuskan bentuk investasi yang mampu menghasilkan keuntungan yang optimal. Tingkat suku bunga sektor keuangan yang lazim digunakan sebagai panduan investor disebut juga tingkat suku bunga
bebas resiko (risk free) yaitu meliputi tingkat suku bunga bank sentral dan tingkat suku bunga deposito.
Apabila tingkat suku bunga mengalami kenaikan maka hal tersebut akan membuat para investor akan menarik dananya dan menginvestasikannya ke tempat yang mempunyai resiko relatif kecil seperti deposito. Sedangkan apabila tingkat suku bunga mengalami penurunan, akan berdampak positif terhadap harga saham.
Penurunan tingkat suku bunga membuat investor menarik dana yang ditanamkan tersebut dan menginvestasikannya ke aspek yang lebih menguntungkan seperti pasar modal dengan membeli saham. Dengan banyaknya investor yang mengalihkan dananya dari deposito ke pasar modal maka dengan sendirinya akan menyebabkan harga saham di pasar modal akan terdongkrak naik. Suku bunga yang tidak terkendali dapat mengakibatkan turunnya return saham, karena kenaikan tingkat suku bunga akan berdampak negatif terhadap harga saham.
Teori tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Novita Nurrahmi dan Ahmad Rodoni (2013) tingkat suku bunga atau BI Rate berpengaruh secara signifikan terhadap volatilitas indeks saham syariah JII. Namun hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis bertolak belakang dengan teori, tingkat suku bunga berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap volatilitas harga saham syariah. Hasil penelitian penulis diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Lydianita Hugida (2011) yang menyatakan bahwa variabel suku bunga SBI berpengaruh signifikan negatif terhadap volatilitas harga saham.
Dalam ekonomi Islam, suku bunga dihindarkan karena suku bunga termasuk riba sehingga diharamkan bagi pelaku usaha yang menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip syariah Islam. Dalam penelitian ini menggunakan data dari perusahaan-perusahaan yang bergerak sesuai dengan syariah Islam, tentu suku bunga tidak berpengaruh dalam volatilitas harga saham syariah karena dalam syariah Islam menggunakan sistem bagi hasil bukan sistem bunga.
Salah satu ukuran dari keberhasilan suatu perusahaan adalah mencari perolehan laba, karena laba pada dasarnya hanya sebagai ukuran efisiensi suatu perusahaan. Gross Provit atau laba kotor merupakan salah satu jenis laba yang diperoleh oleh perusahaan. Laba yang diperoleh perusahaan tidaklah selalu sama dari satu periode ke periode lainnya. Laba cenderung berubah-ubah. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Jika faktor-faktor yang lainnya tidak berubah, maka setiap kenaikan bahan baku, atau upah tenaga kerja maka laba kotor akan mengalami penurunan.
Riset akuntansi terutama yang mencari hubungan angka laba dengan harga saham selalu menggunakan angka laba operasi atau earning per share (EPS) yang dihitung menggunakan angka laba bersih dan jarang yang menggunakan angka laba bruto. Hasil penelitian Dahler Yolanda dan Rahmat Febrianto dalam karya tulis Ali Imran (2011) membuktikan bahwa angka laba bruto memiliki kualitas laba yang lebih baik dibandingkan kedua angka laba yang lain yang disajikan dalam laporan laba rugi, lebih operatif, dan lebih mampu memberikan gambaran yang lebih baik tentang hubungan antara laba dengan harga saham. Hal tersebut memperkuat hasil penelitian yang dilakukan penulis, bahwa laba bruto berpengaruh signifikan positif terhadap volatilitas harga saham syariah.