• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Masalah Permasalahan Dok.Penelitian

6.2 Analisis Empat Kuadran

Model cetak biru kinerja digunakan dalam melakukan evaluasi dan menganalisis indikator kinerja BPKAD Provinsi Papua. Peneliti melakukan identifikasi atas indikator kinerja dengan melihat aspek upaya dan dampak tiap-tiap kuadran apakah

orientasi menunjukkan hanya mengarah pada penyedia layanan atau telah berorientasi pada manfaat layanan yang diberikan kepada masyarakat. Pengelompokkan dilakukan mengacu pada pertanyaan berikut:

1. Kuantitas upaya: berapa banyak pelayanan yang diberikan? 2. Kualitas upaya: seberapa baik pelayanan yang diberikan?

3. Kuantitas hasil: seberapa banyak konsumen/publik yang menjadi lebih baik? 4. Kualitas hasil: berapa persen konsumen yang menjadi lebih baik dan bagaimana

mereka menjadi lebih baik?

Identifikasi indikator kinerja keluaran atas program/kegiatan pada BPKAD Papua yang dipaparkan sebelumnya, menghasilkan peta indikator kinerja berikut ini.

Gambar 6.2 Peta Indikator Kinerja BPKAD Papua Tahun 2013 Sumber: Data diolah dari analisis empat kuadran

Gambar 6.3 Peta Indikator Kinerja BPKAD Papua Tahun 2014 Sumber: Data diolah dari analisis empat kuadran

Kuantitas Kualitas

12  43

 7 

 

13

UPAYA  DAMPAK  Kuantitas Kualitas

15  40

 8 

 

10

UPAYA  DAMPAK 

Berdasarkan pada hasil pemetaan indikator kinerja BPKAD Papua selama tahun 2013 dan tahun 2014 diatas menunjukkan bahwa indikator kinerja selama dua periode berjalan terletak pada kuadran II yaitu pada kualitas upaya. Indikator kinerja yang terletak di kuadran II ini menjelaskan bahwa indikator kinerja BPKAD selama tahun 2013-2014 mengutamakan kualitas dari upaya yang dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada publik, namun sudah mengarah kepada besaran kualitas dari hasil untuk memberikan manfaat pelayanan kepada publik. Hal tersebut sesuai sebagaimana yang dinyatakan Friedman (2005) bahwa indikator kinerja yang baik menunjukkan target indikator kinerja dalam kualitas menjadi urutan prioritas dibandingkan kuantitas. Bila diurutkan menurut prioritas indikator kinerja dengan menganggap semua indikator yang ada telah memenuhi kriteria indikator yang baik, maka hasilnya sebagai berikut:

1. Kualitas Hasil: 13 (17%) (2013), 10 (14%) (2014) 2. Kualitas Upaya: 43 (57%) (2013)), 40 (55%) (2014) 3. Kuantitas Hasil: 7 (9%) (2013), 8 (11%) (2014) 4. Kuantitas Upaya: 12 (16%) (2013), 15 (20%) (2014)

Dilihat dari proporsi persentasenya, dapat dilihat bahwa kondisi indikator kinerja berbasis upaya atau aktivitas internal diatas yang menduduki lebih dari 50% untuk dua tahun periode tahun 2013-2014 dari indikator kinerja program/kegiatan, namun sebaliknya untuk indikator kinerja yang berorientasi pada aktivitas eksternal berbasis dampak sudah dapat menjawab manfaat kegiatan yang dirasakan publik maupun BPKAD Papua dengan proporsi diatas 15% untuk periode tahun 2013-2014.

Secara urutan prioritas indikator kinerja menuurut Friedman (2005) yang lebih memprioritaskan kualitas dibanding kuantitas maka kondisi tersebut sudah menunjukkan urutan prioritas untuk menuju kearah yang lebih baik. Dilihat dari model cetak biru kinerja, maka indikator kinerja keluaran ini akan menghasilkan indikator kinerja berorintasi pada manfaat layanan yang diberikan kepada publik.

Dari kondisi indikator kinerja BPKAD Papua yang mayoritas berada pada kuadran II yang baru sebatas pada kualitas dalam upaya memberikan layanan kepada publik disebabkan oleh rendahnya kualitas aparat/personil di kalangan BPKAD Papua yang bertugas untuk penyusunan dan pengembangan indikator kinerja serta pengguna indikator kinerja, rendahnya kualitas aparat/personil disebabkan kurangnya pemahaman akibat dari mutasi yang tidak bisa dihindari saat berjalannya proses penyusunan dan pengembangan indikator kinerja. Serta persoalan lain adalah kelengkapan dan validitas data yang diperlukan saat proses pengembangan dan penyusunan indikator kinerja masih sangat kurang, setiap unit/bidang masih sebatas memasok data. Hal tersebut yang mengakibatkan banyaknya indikator kinerja di BPKAD Papua menjadi sulit untuk diukur sehingga indikator kinerja menjadi tidak mencerminkan sebuah capaian untuk merubah situasi untuk memenuhi kebutuhan/kepentingan publik maupun BPKAD Papua ke kondisi yang lebih baik.

Dalam menyusun indikator kinerja BPKAD Papua melakukan penyusunan yang telah disesuaikan dengan pedoman penyusunan indikator kinerja yang dituangkan

dalam Perda Papua No.11/2008, Pergub Papua No.10/2011, dan mengikuti juga Permenpan No.20/2008 tentang pedoman penyusunan indikator kinerja utama serta pedoman dan petunjuk lainnya. Seluruh pedoman dan petunjuk tersebut mensyaratkan bahwa indikator kinerja yang disusun haruslah berorientasi kepada outcome, sehingga harapannya kedepan BPKAD Papua dapat berfokus pada permasalahan yang ada pada publik.

Pada wawancara yang dilakukan, sebagian besar nara sumber menegaskan bahwa pejabat ataupun staf masih memiliki kesulitan teknis dalam mengembangkan dan menggunakan indikator kinerja.

”Persoalan tentang arah indikator kinerja baik tiap bidang ataupun keseluruhan di BPKAD ini yang kami rasakan contohnya saja bidang kami bidang anggaran , secara teknis dalam pelaksanaan masih banyak staf bahkan beberapa kasub yang masih kurang dalam pengetahuan teknisnya. Jadi kalau mereka akan mengerjakan tugas untuk program/kegiatan biasanya harus berproses dari awal. Yah jadi bisa dibayangkan bagaimana setiap bidang sering merasa keteteran dalam proses pengembangan indikator kinerja bidangnya, sekalipun kita memiliki petunjuk teknis dan pedoman, tapi personil tiap unit kurang mendapat pelatihan, kita hanya disodorkan tanpa diberikan pengarahan optimal akibatnya seperti hanya sekedar setor data bagian atas lalu bagian program yang melakukan pemilahan. Kami sangat berharap, paling tidak kita memiliki satu pegawai/staf dengan kemampuan teknis yang cukup tinggi supaya bisa ada peningkatan sesuai dengan kualitas yang diharapkan untuk dicapai, apalagi kalau sedikit-sedikit terjadi mutasi sangat menjadi persoalan.” (Kabid Anggaran)

Nara sumber dari bidang lain yang dengan jawaban wawancara yang juga diberikan oleh bidang lain yang bertanggung jawab dalam pengembangan indikator kinerja:

“Seperti yang tadi saya jelaskan, pedoman ya kita punya pedoman dari peraturan gubernur sama Peraturan mentri no.20 tahun 2008 tentang pedoman

penyusunan indikator kinerja, nanti dari situ kita jadikan acuan. Cuma sama saja non pada saat proses pengerjaan tu kita sering mengalami kesulitan, dengan waktu yang sangat mepet kita dituntut untuk segera menyelesaikan tugas sementara kita juga dituntut untuk mengerti konsep-konsep yang dinyatakan dalam pedoman yah itu yang akhirnya menjadikan kita jadi frustasi karena kayak semua harus beres sekaligus dampaknya yah ke hasil yang jadi tidak maksimal, sebenarnya kita juga membutuhkan pelatihan yang lebih dalam perancangan, penerapan dan penggunaan tidak sekedar disodori pedoman supaya kita juga bisa menjadi pegawai yang punya kemampuan baik dalam proses perencanaan hingga pelaporan kinerja. Lalu kalau sudah ada pegawai/tenaga ahli yang sudah dibentuk tu bisa dipertahankan, jangan di pindah-pindah lagi, supaya tidak mulai dari nol lagi. Itu sih harapannya.” (Kasubbag Pelaporan&Pertanggung jawaban)

Berdasarkan pemaparan diatas, bila dikaitkan dengan teori institusional maka dalam proses penyusunan segala dokumen kinerja mulai dari dokumen perencanaan hingga dokumen pelaporan, berserta komponen-komponennya mulai dari sasaran kinerja, tujuan, hingga indikator kinerja didalamnya maka BPKAD Provinsi Papua dapat dikatakan berada dalam situasi isomorfisma koersif karena adanya persyaratan peraturan/perundang-undangan yang mewajibkan setiap instansi untuk menyusun LAKIP, situasi ini menunjukkan kepatuhan simbolis/formalitas karena peraturan yang diberikan oleh pemerintah pusat. Serta isomorfisme mimetik, terlihat dalam proses penyusunan laporan kinerja BPKAD Papua masih sering mengacu pada atau bahkan meniru dari laporan kinerja dari pemerintahan daerah lain yang lebih maju dan dianggap sukses, hal tersebut dirasa merupakan cara tercepat dan termudah untuk menghasilkan laporan serta untuk mendapatkan legitimasi.

Dokumen terkait