BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI
B. Analisis dan Evaluasi Rasio Modal Kerja
a. Rasio Lancar (Current Ratio)
Persamaan yang digunakan untuk menghitungnya adalah 100% x Lancar Hutang Lancar Aktiva Lancar Rasio
48
Berdasarkan persamaan tersebut maka dapat diperoleh Rasio Lancar seperti pada tabel berikut:
Tabel 4.5
Perbandingan Rasio Lancar
PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dengan Industri Perkebunan di Indonesia
Periode Tahun 2003 sampai Tahun 2007 (dalam jutaaan rupiah)
Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Rasio Rasio Industri Perkebunan 2003 357.636 1.760.916 20,30% 79,12% 2004 633.341 1.746.918 36,25% 89,72% 2005 415.065 868.810 47,75% 147,52% 2006 397.512 784.121 50,70% 151,81% 2007 539.735 933.191 57,83% 170,33% Sumber: www.idx.co.id (data diolah, 2008)
Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa rasio lancar perusahaan pada tahun 2003 adalah sebesar 20,30% atau 0,20 kali, ini berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.0,20 aktiva lancar, yaitu hutang lancar sebesar Rp. 1.760.916 dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 357.636. Pada tahun 2004 rasio lancar perusahaan adalah sebesar 36,25% atau 0,36 kali, ini berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.0,36 aktiva lancar, yaitu hutang lancar sebesar Rp. 1.746.918 dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 633.341.
Tahun 2005 rasio lancar perusahaan adalah sebesar 47,77% atau 0,47 kali, ini berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.0,47 aktiva lancar, yaitu hutang lancar sebesar Rp. 868.810 dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 415.065. Pada tahun 2006 rasio lancar perusahaan adalah sebesar 50,70% atau 0,50 kali, ini berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.0,50 aktiva lancar, yaitu hutang
lancar sebesar Rp. 784.121 dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 397.512. Sedangkan pada tahun 2007 rasio lancar perusahaan adalah sebesar 57,83% atau 0,57 kali, ini berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.0,57 aktiva lancar, yaitu hutang lancar sebesar Rp. 933.191 dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 539.735.
Bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia dari tahun 2003 sampai tahun 2007 terlihat jelas bahwa angka rasio lancar pada PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk sangat rendah dimana angka rasio lancarnya tidak sampai 100% atau diatas 1. Rendahnya rasio lancar dari tahun 2003 sampai tahun 2007 dikarenakan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk lebih mengorientasikan kegiatan operasional seperti untuk pengembangan tanaman perkebunan yang berumur diatas 1 tahun atau dalam jangka panjang. Hal ini terlihat dari penempatan dana pada pos-pos aktiva tidak lancar seperti piutang plasma, tanaman perkebunan, biaya tangguhan dan lain-lain, sehingga jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan tidak mampu menutupi jumlah hutang lancarnya dan dalam kondisi yang demikian dapat dikatakan bahwa perusahaan dalam keadaan tidak likuid.
Secara teori jika kewajiban lancar meningkat lebih cepat dibandingkan aktiva lancar, maka rasio lancar akan turun dan hal ini dapat menimbulkan masalah karena rasio lancar memberikan indikator terbaik atas besarnya klaim kreditor jangka pendek yang dapat ditutup oleh aktiva yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas relatif lebih cepat (Brigham, 2001:80).
50
b. Rasio Cepat (Acid Test Ratio)
Berdasarkan laporan keuangan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk, maka rasio cepat perusahaan dapat disajikan dalam tabel 4.6 yang diperoleh dengan menggunakan persaman sebagai berikut:
100% x Lancar Hutang Persediaan -Lancar Aktiva Cepat Rasio Tabel 4.6
Perbandingan Rasio Cepat
PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dengan Industri Perkebunan di Indonesia
Periode Tahun 2003 sampai Tahun 2007 (dalam jutaaan rupiah) Tahun Aktiva
Lancar
Persediaan Hutang Lancar
Rasio Rasio Industi Perkebunan 2003 357.636 65.231 1.760.916 16,60% 48,12% 2004 633.341 88.439 1.746.918 31,19% 66,79% 2005 415.065 80.915 868.810 38,46% 94,66% 2006 397.512 142.495 784.121 32,52% 108,64% 2007 539.735 130.636 933.191 43,83% 109,97% Sumber: www.idx.co.id (data diolah, 2008)
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa pada tahun 2003 rasio cepat perusahaan adalah sebesar 16,60% atau 0,16 kali. Rasio ini menunjukkan bahwa setiap Rp.1,00 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 0,16 aktiva lancar atau Rp. 1.760.916 hutang lancar akan dijamin aktiva lancar sebesar Rp. 357.636. Pada tahun 2004 rasio cepat perusahaan adalah sebesar 31,19% atau 0,31 kali. Rasio ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 0,31 aktiva lancar atau Rp. 1.746.918 hutang lancar akan dijamin aktiva lancar Rp. 633.341.
Tahun 2005 rasio cepat perusahaan adalah sebesar 38,46% atau 0,38 kali. Rasio ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.
0,38 aktiva lancar atau Rp. 868.810 hutang lancar akan dijamin aktiva lancar Rp. 415.065. Pada tahun 2006 rasio cepat perusahaan adalah sebesar 32,52% atau 0,33 kali. Rasio ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 0,33 aktiva lancar atau Rp. 784.121 hutang lancar akan dijamin aktiva lancar Rp. 397.512. Tahun 2007 rasio cepat perusahaan adalah sebesar 43,83% atau 0,44 kali. Rasio ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 0,44 aktiva lancar atau Rp. 933.191 hutang lancar akan dijamin aktiva lancar Rp. 539.735.
Bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia maka rasio cepat yang dimiliki PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dari tahun 2003 sampai tahun 2007 jumlahnya sangat rendah atau tidak sampai 100%, sedangkan suatu perusahaan akan dikatakan likuid bila rasio lancarnya berada diatas 100% karena semakin besar rasio lancar yang dimiliki suatu perusahaan maka akan semakin baik. Rendahnya rasio cepat yang dimiliki PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk bila dibandingkan denga industri perkebunan dikarenakan banyaknya dana yang menganggur dalam perusahaan yang disebabkan banyaknya jumlah persediaan pada PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk. Dalam kondisi yang demikian maka dapat dikatahui bahwa PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dalam keadaan tidak likuid.
Secara teori dapat dikatakan bahwa suatu perusahaan yang mempunyai rasio cepat kurang dari 1:1 atau 100% dapat dikatakan kurang baik tingkat likuiditasnya (Riyanto, 2001:27).
52
c. Rasio Kas (Cash Ratio)
Berdasarkan laporan keuangan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk, maka rasio kas dapt disajikan dalam tabel 4.7 yang diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
100% x Lancar Hutang Efek Kas Kas Rasio Tabel 4.7
Perbandingan Rasio Kas
PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dengan Industri Perkebunan di Indonesia
Periode Tahun 2003 sampai Tahun 2007 (dalam jutaaan rupiah) Tahun Kas Efek Hutang
Lancar
Rasio Rasio Industri Perkebunan 2003 109.008 115.977 1.760.916 12,77% 15,28% 2004 102.845 387.463 1.746.918 28,06% 34,20% 2005 215.137 - 868.810 24,76% 40,91% 2006 152.292 - 784.121 19,42% 52,28% 2007 257.045 - 933.191 27,54% 57,55%
Sumber: www.idx.co.id (data diolah, 2008)
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dianalisis rasio kas yang dimiliki oleh PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk. Tahun 2003 rasio kas perusahaan adalah sebesar 12,77% atau 0,13 kali. Ini memberi pengertian bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin Rp. 0,12 kas atau Rp. 1.760.916 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 109.008 kas.
Tahun 2004 rasio kas perusahaan adalah sebesar 28,06% atau 0,28 kali. Ini memberi pengertian bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin Rp. 0,28 kas atau Rp. 1.746.918 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 102.845 kas. Tahun 2005 rasio kas perusahaan adalah sebesar 24,76% atau 0,25 kali. Ini memberi pengertian
bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin Rp. 0,25 kas atau Rp. 868.810 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 215.137 kas.
Tahun 2006 rasio kas perusahaan adalah sebesar 19,42% atau 0,19 kali. Ini memberi pengertian bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin Rp. 0,19 kas atau Rp. 784.121 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 152.292 kas. Tahun 2007 rasio kas perusahaan adalah sebesar 27,54% atau 0,28 kali. Ini memberi pengertian bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar akan dijamin Rp. 0,28 kas atau Rp. 933.191 hutang lancar akan dijamin oleh Rp. 257.054 kas.
Apabila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia dari tahun 2003 sampai tahun 2007 maka terlihat jelas rasio kas yang dimiliki PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera jumlahnya sangat rendah. Hal ini terjadi karena jumlah kas yang dimiliki perusahaan jumlahnya sangat kecil serta penempatan dana pada investasi jangka pendek atau efek hanya terjadi pada tahun 2003 dan tahun 2004 sementara PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk memiliki jumlah hutang lancar yang besar, sehingga jumlah kas yang dimiliki perusahaan tidak mampu menutupi kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan. Secara toeri semakin besar jumlah kas yang ada didalam perusahaan berarti semakin tinggi tingkat likuiditasnya. Ini berarti bahwa perusahaan mempunyai resiko yang lebih kecil untuk tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya (Riyanto, 2001:94).
Berdasarkan komponen rasio likuiditas maka secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi perusahaan dalam keadaan tidak likuid, artinya perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban –kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan
54
aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Hal ini ditunjukkan rendahnya unsur-unsur jumlah aktiva seperti kas, piutang, persediaan dan unsur aktiva lancar lainnya.
2. Rasio Aktivitas
a. Rasio Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)
Berdasarkan laporan keuangan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk, maka rasio perputaran piutang dapat disajikan dalam tabel 4.8 yang diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Piutang rata -Rata Bersih Kredit Penjualan Piutang Perputaran Rasio Tabel 4.8
Perbandingan Rasio Perputaran Piutang
PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dengan Industri Perkebunan di Indonesia
Periode Tahun 2003 sampai Tahun 2007 (dalam jutaaan rupiah Tahun Penjualan
Kredit Bersih
Rata-Rata Piutang
Rasio Rasio Industri Perkebunan 2003 1.098.056 - - - 2004 1.256.785 29.344,5 42,82 kali 11,78 kali 2005 1.654.294 37.258,5 44,40 kali 31,26 kali 2006 1.832.860 51.117,5 35,85 kali 30,47 kali 2007 2.148.413 46.753,5 45,95 kali 18,04 kali
Sumber: www.idx.co.id (data diolah, 2008)
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa pada tahun 2004 perusahaan memiliki angka rasio perputaran piutang sebesar 42,82 kali dalam setahun atau dalam satu periode. Berarti bahwa dalam satu tahun dana yang tertanam dalam piutang berputar sebesar 42,82 kali. Pada tahun 2005 perusahaan memiliki angka rasio
perputaran piutang sebesar 44,40 kali dalam setahun atau dalam satu periode. Berarti dalam satu tahun dana yang tertanam dalam piutang berputar sebesar 44,40 kali.
Tahun 2006 perusahaan memiliki angka rasio perputaran piutang sebesar 35,85 kali dalam setahun atau dalam satu periode. Berarti bahwa dalam satu tahun dana yang tertanam dalam piutang berputar sebesar 35,85 kali. Pada tahun 2007 perusahaan memiliki angka rasio perputaran piutang sebesar 45,95 kali dalam setahun atau dalam satu periode. Berarti dalam satu tahun dana yang tertanam dalam piutang berputar sebesar 45,95 kali. Bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia dari tahun 2003 sampai tahun 2007 maka rasio perputaran piutang yang dimilki PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk tingkat perputarannya lebih besar. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya penjualan dari tahun 2003 sampai tahun 2007 dan pembayaran lebih banyak dilakukan secara tunai yang menyebabkan rendahnya penjualan secara kredit atau rendahnya piutang usaha sehingga tingkat perputaran piutang pada PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk lebih besar bila dibandingkan dengan Industri perkebunan.. Ini berarti bahwa penagihan piutang yang dilakukan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk lebih baik bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia.
Secara teori rendahnya perputaran piutang merupakan indikasi kurangnya kebijakan penagihan dan sejumlah tagihan yang jatuh tempo masih terdapat dalam catatan perusahaan (Van horne, 2005:213).
56
b. Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over)
Berdasarkan laporan keuangan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk, maka rasio perputaran piutang dapat disajikan dalam tabel 4.9 yang diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Persediaan rata -Rata Penjualan Pokok Harga Persediaan Perputaran Rasio Tabel 4.9
Perbandingan Rasio Perputaran Persediaan
PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dengan Industri Perkebunan di Indonesia
Periode Tahun 2003 sampai Tahun 2007 (dalam jutaaan rupiah Tahun Harga Pokok
Penjualan
Rata-Rata Persediaan
Rasio Rasio Industri Perkebunan 2003 711.019 - - - 2004 867.395 76.835 11,29 kali 5,43 kali 2005 1.119.741 84.677 13,22 kali 8,34 kali 2006 1.300.825 111.705 11,64 kali 6,40 kali 2007 1.596.085 136.565,5 11,68 kali 2,70 kali Sumber: www.idx.co.id (data diolah, 2008)
Berdasarkan Tabel 4.9 maka dapat dianalisis perputaran persediaan pada PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk. Pada tahun 2004 perputaran persediaan adalah sebesar 11,29 kali. Hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam hal penggunaan persediaan dalam menghasilkan penjualan. Angka rasio 11,29 kali menunjukkan dalam setahun perusahaan mampu memutar dana dalam persediaan guna menghasilkan penjualan sebanyak 11,29 kali. Pada tahun 2005 perputaran persediaan adalah sebesar 13,22 kali. Hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam hal penggunaan persediaan dalam menghasilkan
penjualan. Angka rasio 13,22 kali menunjukkan dalam setahun perusahaan mampu memutar dana dalam persediaan guna menghasilkan penjualan sebanyak 13,22 kali.
Pada tahun 2006 perputaran persediaan adalah sebesar 11,64 kali. Hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam hal penggunaan persediaan dalam menghasilkan penjualan. Angka rasio 11,64 kali menunjukkan dalam setahun perusahaan mampu memutar dana dalam persediaan guna menghasilkan penjualan sebanyak 11,64 kali. Pada tahun 2007 perputaran persediaan adalah sebesar 11,68 kali. Hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam hal penggunaan persediaan dalam menghasilkan penjualan. Angka rasio 11,68 kali menunjukkan dalam setahun perusahaan mampu memutar dana dalam persediaan guna menghasilkan penjualan sebanyak 11,68 kali.
Bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia dari tahun 2003 sampai tahun 2007 maka rasio perputaran persediaan yang dimiliki PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk lebih besar tingkat perputarannya. Ini berarti bahwa PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk lebih baik dalam mengelola persediaan bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia. Hal ini dikarenakan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk memiliki persediaan bahan mentah, persediaan barang dalam proses, serta persediaan barang jadi jumlahnya lebih kecil bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan sehingga waktu perputaran persediaan yang terjadi pada PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk lebih cepat bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan. Semakin tinggi rasio perputaran persediaan berarti semakin baik karena semakin sering penjualan yang dihasilkan.
58
Secara teori perputaran persediaan yang rendah menunjukan bahwa perusahaan menyimpan terlalu banyak persediaan. Kelebihan persediaan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak produktif dalam mengelola persediaan dan merupakan investasi dengan tingkat pengembalian yang rendah (Brigham, 2001:81). c. Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over)
Berdasarkan laporan keuangan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk, maka rasio perputaran piutang dapat disajikan dalam tabel 4.10 yang diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Lancar Hutang -Lancar Aktiva Bersih Penjualan Kerja Modal Perputaran Rasio Tabel 4.10
Perbandingan Rasio Perputaran Modal Kerja
PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dengan Industri Perkebunan di Indonesia
Periode Tahun 2003 sampai Tahun 2007 (dalam jutaaan rupiah) Tahun Penjualan Bersih Aktiva Lancar Hutang Lancar
Rasio Rasio Industri Perkebunan 2003 1.098.056 367.636 1.760.916 0,62 kali 7,52 kali 2004 1.256.785 633.341 1.746.918 1,12 kali 18,56 kali 2005 1.654.294 415.065 868.810 3,64 kali 11,17 kali 2006 1.832.860 397.512 784.121 4,74 kali 6,92 kali 2007 2.148.413 539.735 933.191 5,46 kali 2,98 kali Sumber: www.idx.co.id (data diolah, 2008)
Tahun 2003 rasio perputaran modal kerja perusahaan adalah sebesar 0,62 kali dalam arti bahwa modal kerja berputar sebanyak 0,62 kali dalam satu tahun atau satu periode untuk menghasilkan penjualan pada tahun tersebut atau modal kerja yang ada mampu berputar sebanyak 0,62 kali untuk mencapai penjualan sebesar Rp. 1.098.056. Tahun 2004 rasio perputaran modal kerja perusahaan adalah sebesar 1,12 kali dalam
arti bahwa modal kerja berputar sebanyak 1,12 kali dalam satu tahun atau satu periode untuk menghasilkan penjualan pada tahun tersebut atau modal kerja yang ada mampu berputar sebanyak 1,12 kali untuk mencapai penjualan sebesar Rp. 1.256.785. Tahun 2005 rasio perputaran modal kerja perusahaan adalah sebesar 3,64 kali dalam arti bahwa modal kerja berputar sebanyak 3,64 kali dalam satu tahun atau satu periode untuk menghasilkan penjualan pada tahun tersebut atau modal kerja yang ada mampu berputar sebanyak 3,64 kali untuk mencapai penjualan sebesar Rp. 1.654.294. Tahun 2006 rasio perputaran modal kerja perusahaan adalah sebesar 4,74 kali dalam arti bahwa modal kerja berputar sebanyak 4,74 kali dalam satu tahun atau satu periode untuk menghasilkan penjualan pada tahun tersebut atau modal kerja yang ada mampu berputar sebanyak 4,74 kali untuk mencapai penjualan sebesar Rp. 1.832.860. Tahun 2007 rasio perputaran modal kerja perusahaan adalah sebesar 5,46 kali dalam arti bahwa modal kerja berputar sebanyak 5,46 kali dalam satu tahun atau satu periode untuk menghasilkan penjualan pada tahun tersebut atau modal kerja yang ada mampu berputar sebanyak 5,46 kali untuk mencapai penjualan sebesar Rp. 2.148.413. Bila dibandingkan dengan Industri Perkebunan di Indonesia dari tahun 2003 sampai tahun 2007 maka rasio perputaran modal kerja yang dimiliki PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia lebih rendah tingkat perputarannya. Hal ini dikarenakan rendahnya penjualan bersih yang dihasilkan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk dari tahun 2003 sampai tahun 2007. rendahnya penjualan bersih dari tahun 2003 sampai tahun 2007 disebabkan lamanya proses produksi, lamanya barang disimpan di gudang serta besarnya pengeluaran setiap harinya seperti pembelian bahan mentah, upah karyawan dan
pengeluaran-60
pengeluaran lainnya. Semakin tinggi rasio perputaran modal kerja berarti semakin baik karena semakin sering penjualan yang dihasilkan, tetapi pada PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk perputaran modal kerja sangat rendah sehingga penjualan yang dihasilkan sedikit.
Secara teori perputaran modal kerja yang rendah menunjukkan adanya kelebihan modal kerja yang mungkin disebabkan rendahnya perputaran persediaan, piutang atau adanya saldo kas yang terlalu besar (Munawir, 2002:80).