• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Finansial

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Analisis Finansial

Analisis finansial ditujukan untuk mengetahui tingkat kelayakan (secara

ekonomis) dari produksi yoghurt susu kecambah kacang hijau. Pada penelitian ini

dilakukan analisis finansial untuk perlakuan yang telah memenuhi kriteria yang

diharapkan yaitu pada perlakuan konsentrasi starter 4 % dan lama fermentasi 20 jam

(A2B3).

Parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan produksi

yoghurt susu kecambah kacang hijau meliputi BEP, NPV, Gross B/C, IRR dan PP.

hasil perhitungan analisis finansial dapat dilihat pada lampiran 11.

1. Kapasitas Produksi

Kapasitas produksi yang direncanakan pada perusahaan yoghurt susu

kecambah kacang hijau adalah 19.500 liter tahun. Produk yoghurt susu

kecambah kacang hijau tahun dilakukan selama 312 hari kerja. Data – data

kapasitas produksi dapat dilihat pada lampiran 8.

2. Biaya Produksi

Biaya produksi adalah biaya yang harus dikeluarkan agar dapat

menjalankan suatu usaha. Biaya produksi terdiri atas biaya tetap dan biaya

produksi langsung/biaya tidak tetap.

Biaya tetap adalah biaya yang bersifat independent atau tidak berubah

terhadap pemakaian alat. Biaya tidak tetap adalah biaya yang besarnya dapat

berubah – ubah sejalan dengan besarnya produksi yang dilakukan. Total biaya

produksi per tahun adalah Rp. 161.297.850,--

3. Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi perusahaan roti manis adalah :

Harga pokok =

=

= Rp. 2067,9 ,- / gelas atau

= Rp. 2100,- / gelas

Total Biaya Produksi

Kapasitas

Rp.

161.297.850,-78.000

4. Harga Jual

Harga jual produk yoghurt susu kecambah kacang hijau dihitung

berdasarkan harga pokok ditambah keuntungan yang ingin dicapai, harga jual

produk yoghurt susu kecambah kacang hijau ditetapkan Rp. 3500,-/gelas

dengan perhitungan sebagai berikut :

Harga Jual = Harga Pokok + Keuntungan 40%

= Rp. 2100 + Rp. 840

= Rp. 2.940,-/bungkus atau

=Rp. 3000,- / bungkus

5. Break Event Point (BEP)

Break Event Point (BEP) menunjukkan nilai pada saat total angka

penjualan sama dengan pengeluaran. Analisis finansial ditunjukkan untuk

menentukan jumlah produk atau jumlah penghasilan yang harus dicapai agar

tercipta titik impas penerimaan dan pengeluaranya, sehingga dapat diketahui

keadaan perusahaan pada waktu tertentu. Berdasarkan perhitungan pada

lampiran.12 diperoleh nilai BEP produk yoghurt sebagai berikut :

a. Biaya titik impas = Rp. 99.661.675,8,-

b. Persen titik impas = 42,5 %

6. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) adalah selisih antara nilai investasi data

sekarang dengan nilai penerimaan bersih dimasa datang. Dari perhitungan

dapat diketahui suatu perusahaan layak untuk dilaksanakan apabila NPV>0.

Perhitungan pada lampiran.13 diperoleh bahwa perhitungan NPV

adalah sebesar Rp. 69.980.040,- yang berarti proyek tersebut layak untuk

dilaksanakan.

7. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C)

Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) adalah nilai perbandingan antara

manfaat (pendapatan) dengan pengeluaran (biaya produksi). Suatu proyek

layak untuk dilaksanakan apabila Gross B/C > 1. Dari perhitungan pada

lampiran 11 diperoleh Gross B/C sebesar 1,145 sehingga Gross B/C > 1,

berarti proyek tersebut layak untuk dilaksanakan.

8. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat suku bunga yang

menunjukkan persamaan nilai penerimaan bersih dengan jumlah investasi

(modal) awal suatu proyek yang sedang dikerjakan. Proyek dapat

dilaksanakan apabila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga bank yang

sedang berlaku.

Dari hasil perhitungan pada lampiran 13 nilai IRR diperoleh sebesar

24,42 %, sehingga lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat suku bunga bank

(20%) yang berarti proyek tersebut layak untuk dilaksanakan.

9. Payback Periode (PP) adalah panjangnya waktu yang diperlukan agar dana

yang tertanam dalam suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya.

Payback Periode dari suatu investasi yang diusulkan lebih pendek dari

Payback Periode maksimum (umur ekonomis), maka usul investasi tersebut

diterima. Dari perhitungan Payback Periode pada lampiran.12 diperoleh

sebesar 2,4 tahun. Hal tersebut berarti investasi pada proyek ini dapat kembali

secara keseluruhan dalam waktu 2,4 tahun. Berdasarkan Payback Periode

yang diperoleh, maka proyek ini dapat diterima karena jangka waktunya lebih

pendek dibanding dengan umur ekonomis 5 tahun.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Hasil penelitian menunjukkan terjadi interaksi yang nyata antara perlakuan

jumlah starter dan lama fermentasi terhadap total asam, protein terlarut, total

BAL, kesukaan rasa, tekstur dan aroma yoghurt susu kecambah kacang hijau

yang dihasilkan, sedangkan parameter pH tidak terjadi interaksi yang nyata.

2. Perlakuan jumlah starter 4 % dan lama fermentasi 20 jam menghasilkan yoghurt

susu kecambah kacang hijau merupakan perlakuan terbaik. Berdasarkan

parameter fisik, kimia dan organoleptik yoghurt susu kecambah kacang hijau

yang dihasilkan memiliki kadar total asam (0,565 %), ph (4,5), protein terlarut

(2,449%), total BAL (7,6 log cfu/ml), tingkat kesukaan rasa (135,5), tekstur

(116), dan aroma (142).

3. Hasil perhitungan finansial yang diperoleh adalah sebagai berikut : Break Event

Point Rp. 99.661.675,8 sebesar 42,5 %, dan kapasitas titik impas 8287,5

liter/tahun, Internal Rate of Return (IRR) mencapai 24,42 %, Payback Period

(PP) dicapai dalam waktu 2,4 tahun, Net Present Value (NPV) sebesar Rp.

69.980.040,- dan Benefit Cost Ratio sebesar 1,145.

B. Saran

Pada penelitian lebih lanjut mengenai rasa, warna dan tekstur yoghurt susu

kecambah kacang hijau, perlu dilakukan penambahan essence rasa, warna dan zat

pengental agar produk yoghurt susu kecambah kacang hijau lebih disukai konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 1997. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Karya Aksara. Jakarta

Anonymous, 2008. Alternatif Jangan Kecilkan Fungsi Taoge.

http://www.gloria-cyber-ministres.com.

Anonymous, 2009, Apa Saja Kandungan Dalam Taoge. http://www.asupan-gizi.com

Anonymous, 2009. Manfaat Susu Kedelai. http://www.info-sehat.com

deMan, John, 1989. Kimia Pangan. Institut Teknologi Bandung

Winarno F.G, 1993. Ilmu Pangan dan Gizi. Penerbit Pustaka Utama, Jakarta

Gardner, F. P, 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan H. Susilo. Universitas

Indonesia, Press, Jakarta

Gaspers, U. 1994. Metode Perancangan Percobaan. Armico, Jakarta

Hamidah, U. 2000. Pengaruh Penambahan Ubi Jalar dan Kercambah Kacang Kedelai pada

Pembuatan Produk Ektruksi. Laporan Skripsi Fakultas Teknologi Hasil Pertanian

Universitas Brawijaya.

Huzaif, H, 2009. Karbohidrat, Lemak, Protein dan Jantung Koroner.

http//www.indomedia.com

Irfahmi, Nehno, 2008. Apa Saja Yang Terkandung Dalam Taoge.http://www.infoboga.com

Kamil, J. 1997. Teknologi Benih. Angkasa Raya. Padang

Kanetro dan Wariyah, 2002. Penurunan Aktifitas Lipoksigenase Kacang – Kacangan dengan

Perkecambahan Untuk Menghilangkan Flavor Langu dalam Jurnal PATPI hal :

101 – 109

Kiranawati, 2002. Evaluasi Mutu Susu Pra Kecambah Biji Kacang Tunggak. Thesis

Universitas Brawijaya, Malang

Nurdin, 2007. Cara Membuat Yoghurt Yang Benar. http//www.usahakecilmenengah.com

Soedioetama, Djaenni.1976. Ilmu Gizi. Dian Rakyat. Jakarta

Sudarmadji, S, 1997. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty,

Yogyakarta

Sukardi, M, 2002. Optimasi Penambahan Sari Kecambah JagungGuna Meningkatkan

Kualitas Dan Rasa Soyghurt Untuk Diet Jantung Koroner. Jurnal Skripsi

Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya

Suharno, 2001. Pengaruh Suplementasi Kecambah Kacang Hijau dan Penambahan Tepung

Tapioka Terhadap Sifat Fisik, Kimia dan Organoleptik Tortila Berbasis Jagung.

Skripsi Unibraw

Susanto dan Saneto, 1994. Teknologi Hasil Pertanian, Bina Ilmu, Surabaya

Taufiq, Tauhana, 2004. Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Panjang. cetakan pertama, penerbit

Absolut, Yogyakarta

Waljiono, Kanetro. B. Sutardi, 2001. Pengaruh Jenis Perkecambahan Kacang – Kacangan

dan Rasio Air Ekstraksi Terhadap Sifat Kimia, Fisik dan Kesukaan Panelis

Terhadap Susu Kecambah yang Dihasilkan. dalam jurnal PATPI. Hal : 365 –

370

Waljiono, M, 2003. Proses Pembuatan Tepung Semi Murni Karagina DiPT. Amartha

Carrageenan Indonesia, Gempol-Pasuruan. Universitas Pembangunan Nasional

Surabaya

Yusmarini, 2004. Evaluasi Mutu Yoghurt yang dibuat dengan Penambahan Beberapa Jenis

Gula. Jurnal Natur Indonesia, Universitas Riau, PekanBaru

Lampiran 1. Prosedur Analisa

1. Analisa Kadar Protein Terlarut dengan metode Kjeldahl (Sudarmadji, 1997)

 Diambil 10 gr bahan dan masukkan dalam labu kjeldahl 500 ml dan ditambahkan

10 ml H

2

SO

4

(93-98% bebas N). Ditambahkan 5 gr campuran Na

2

SO

4

– HgO

(20:1) untuk katalisator.

 Didihkan sampai jernih dan lanjutkan pendidihan selama 30 menit. Setelah dingin

dicuci dinding dalam labu kjeldahl dengan aquadest dan didihkan lagi selama 30

menit.

 Setelah dingin ditambahkan 140 ml aquades, tambahkan 35 ml larutan

NaOH-Na2S2O3 dan beberapa butiran zink.

 Kemudian dilakukan destilasi, destilat ditampung sebanyak 100 ml dalam

erlemeyer yang berisi 25 ml larutan jenuh asam borat dan beberapa tetes indicator

methylene blue .

 Dititrasi larutan yang diperoleh dengan 0,2 HCL.

 Dihitung total N atau % protein dalam contoh

 Perhitungan jumlah total protein :

Jumlah Total Protein = ml HCL x N HCL x 0,01400 f mg/ml x 100 %

gr contoh

Keterangan :

f = factor pengenceran dalam contoh ( f = 6,25 )

2. Analisa Total Mikroba TPC (Fardiaz, 1992)

 Bahan dilarutkan, kemudian diencerkan, dibuat pengenceran bertingkat 1,

10-2, 10-3 dan seterusnya, kemudian dikocok.

 Setelah itu dipippet ke dalam cawan petri steril menggunakan pipet 1 ml.

Sebaiknya waktu antara pengenceran dengan waktu menuang ke dalam cawan petri

tidak lebih dari 30 menit.

 Kemudian dimasukkan agar cair steril yang telah didinginkan sampai 50 º C

sebanyak 15 ml, diusahakan jangan sampai cawan petri terkontaminasi. Petri

digerakkan diatas meja dengan gerakan melingkar agar bakteri menyebar secara

merata.

 Setelah agar memadat, cawan – cawan tersebut dapat diinkubasi dengan posisi

terbalik selama 24 – 48 jam.

Perhitungan mikroba :

3. Analisa pH ( Hadiwiyoto, 1994 )

a. Knop diletakkan

b. Bagian elektroda pada ph-meter dimasukkan dalam larutan buffer pH 4 untuk

dikalibrasi, kemudian dibilas dengan aquadest steril dan dikeringkan dengan tissue

c. Setelah itu elektroda dimasukkan ke dalam larutan buffer pH 7 untuk dikalibrasi,

kemudian dibilas dengan aquadest steril dan dikeringkan dengan tissue

d. Elektroda dimasukkan ke dalam larutan sampel sebanyak 10 ml

e. Angka akan tertera pada layar pH meter

4. Analisa Total Asam ( Hadiwiyoto, 1994 )

a. Mengambil sampel sebanyak 10 ml, dimasukkan ke dalam erlemeyer dengan

menggunakan pipet

b. Menambahkan 2 – 3 tetes indicator phenolphthalein 1 %

c. Mentitrasi dengan larutan NaOH 0,1 N, sampai warna berubah menjadi merah

muda

d. Kemudian total asam dihitung dengan menggunakan rumus :

Kadar asam laktat = V x N x 90 x 100 %

W (ml sampel)

Keterangan : V : Volume NaOH untuk penetralan contoh

N : Normalitas NaOH

W : Berat contoh (ml)

5. Uji Organoleptik ( aroma, rasa dan tekstur) ( Kartika, 1998 )

a. Uji organoleptik dilakukan terhadap sampel berdasarkan metode skala scoring test,

yaitu memberikan nilai terhadap tingkat kesukaan panelis terhadap setiap

perlakuan.

Dokumen terkait