• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Finansial

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-43)

a. Asumsi-Asumsi Umum

Finansial merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pendirian suatu usaha. Tujuan utama dari analisis finansial adalah untuk mengetahui prospek suatu usaha melalui perhitungan biaya dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.

Perkiraan biaya yang digunakan pada analisis finansial memerlukan suatu asumsi sesuai dengan kondisi pada saat dianalisis agar analisis tersebut memiliki dasar perhitungan. Asumsi-asumsi yang digunakan meliputi :

a. Analisis finansial dilakukan untuk kurun waktu 5 tahun b. Harga Jual Produk ditetapkan sebesar Rp.2,000

c. Perhitungan dilakukan berdasarkan harga konstan

d. Satuan waktu analisis adalah dalam tahun, dengan satu tahun operasi sama dengan 12 bulan, satu bulan sama dengan 25 hari, sehingga satu tahun sama dengan 300 hari.

e. Harga bahan baku ditetapkan sebagai berikut, kelapa Rp. 2,500/buah, ubi jalar merah Rp. 1,500/Kg, gula pasir Rp. 6,500/Kg, garam Rp. 1,000/Kg, CMC (Carboxy Methyl Celulose) Rp. 125,000/Kg, GMS (Gliseril Mono Stearat) Rp. 100,000/Kg, cone Rp 35,000/Bal (1Bal=500 cone), garam curah Rp. 1,200/Kg, dan es balok Rp. 18,000/balok.

f. Upah tenaga kerja ditetapkan sebesar Rp. 1,000,000/bulan/orang. Penetapan upah ini mengacu kepada Upah Minimum Regional (UMR) di Bogor yaitu sebesar Rp. 893,412/bulan/orang yang mulai berlaku bulan Januari 2009.

g. Proyek dimulai pada tahun 0, mulai berproduksi pada tahun I dan pembayaran pinjaman dimulai tahun I hingga tahun V.

h. Jumlah penjualan tahun pertama hingga tahun kedua 60%, tahun ketiga sebanyak 70%, dan tahun keempat hingga tahun kelima 80%. i. Perhitungan penyusutan peralatan dilakukan dengan metode garis

lurus dengan nilai sisa dianggap nol.

j. Biaya perawatan peralatan adalah 2.5% dari depresiasi yang dilakukan pertahunnya

k. Biaya pemasaran selama lima tahun ditetapkan sebesar 10% dari hasil penjualan.

l. Sumber dana proyek berasal dari 30% modal sendiri dan 70% modal pinjaman yang berasal dari bank, dengan alternatif sumber pinjaman yaitu bank konvensional dan bank syariah.

m.Pembayaran pinjaman dari bank dilakukan mulai tahun pertama, dengan bunga 0.8% setiap bulannya dari tahun pertama hingga ketiga, dan 0.9% di tahun keempat dan kelima.

n. Bagi hasil yang dilakukan dengan bank syariah adalah 40% untuk bank dan 60% untuk pemilik usaha.

o. Perusahaan dikenakan pajak penghasilan yang besarnya ditetapkan sesuai dengan UU No 17 th 2000 tentang pajak penghasilan yaitu 10% untuk keuntungan sampai 25-50 juta, 15% untuk keuntungan diatas 50 juta sampai 100 juta dan 30% untuk keuntungan diatas 100 juta.

b. Kebutuhan Modal Investasi

Modal investasi adalah modal yang diperlukan dalam pembangunan proyek. Modal investasi terdiri dari biaya pengadaan tanah, gedung, mesin dan peralatan, dan biaya lainnya yang berhubungan dengan pembangunan proyek. Modal investasi dalam pendirian usaha es puter ubi jalar merah terdiri dari modal tetap berupa biaya pengadaan peralatan kantor, peralatan produksi, dan biaya perizinan legalitas hukum serta modal kerja untuk pelaksanaan awal operasional pabrik selama 3 bulan.

Modal investasi yang dibutuhkan adalah Rp. 126,745,786 termasuk dana modal tetap sebesar Rp. 52,180,000 dan modal kerja sebesar Rp. 74,565,786. Modal tetap sebesar 52,180,000 terdiri atas biaya perizinan dan legalitas hukum sebesar Rp.1,000,000, dan biaya pembelian peralatan kantor dan produksi yang diperlukan sebesar Rp. 51,180,000, harga ini termasuk dengan biaya pengangkutan ke lokasi produksi. Kebutuhan dana investasi tesebut dapat dilihat pada Lampiran 27.

Sumber pembiayaan modal investasi berasal dari modal sendiri dan pinjaman bank, dengan alternatif dua sumber pinjaman yaitu, bank

syariah dan bank konvensional. Kebutuhan modal investasi sebesar Rp. 126,745,786; 30% berasal dari modal sendiri dan 70% berasal dari pinjaman bank, sehingga total pinjaman bank sebesar Rp. 88,722,050.

Sekarang ini, di Indonesia sedang digalakkan program kewirausahaan, sehingga banyak Bank-Bank di Indonesia yang menyediakan paket-paket yang memudahkan masyarakat untuk melakukan pinjaman di Bank tersebut. Salah satunya adalah BNI 46. BNI mengeluarkan paket yang disebut BNI Wirausaha, dimana tingkat bunga yang dikenakan cukup bersahabat. Jika peminjaman dana wirausaha masih dibawah Rp.100,000,000, maka setiap bulannya mulai dari tahun pertama hingga tahun ketiga akan dikenakan bunga sebesar 0.8%, dan pada tahun keempat dan kelima menjadi 0.9% per bulannya. Rincian sistem pembayaran pinjaman bank konvensional dapat dilihat pada Lampiran 30.

Adanya kontroversi sistem bunga yang diterapkan bank konvensional menyebabkan munculnya sistem perbankan syariah. Saat ini masyarakat cukup banyak yang beralih bertransaksi di bank syariah. Hal ini menyebabkan perkembangan perbankan syariah cukup menunjukkan geliatnya.

Analisis Kelayakan usaha es puter ubi jalar merah juga dilakukan jika sumber pembiayaan modal investasi sebesar 70% berasal dari bank syariah. Selain adanya angsuran tetap tanpa bunga, dilakukan pula sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil yang disepakati diasumsikan sebesar 40% keuntungan diserahkan kepada bank, sedangkan 60% keuntungan diserahkan kepada pemilik. Bagi masyarakat beragama muslim, penggunaan sistem syariah dianggap lebih syar’i. Di sisi lain sistem syariah juga dinilai lebih aman dalam kelangsungan usaha karena pemilik usaha tidak dikenakan bunga jika usaha mengalami kerugian. Rincian sistem pembayaran pinjaman bank Syariah dapat dilihat pada Lampiran 31.

c. Biaya Produksi dan Harga Pokok Produksi

Biaya produksi adalah biaya yang dibutuhkan sebuah usaha untuk memproduksi produk yang dapat dijual sehingga mendatangkan keuntungan. Biaya produksi pendirian usaha es puter ubi jalar merah terdiri atas biaya bahan baku dan biaya operasional. Total biaya produksi perbulannya Rp. 24,855,262.

Biaya bahan baku dalam pembuatan es puter ubi jalar merah adalah biaya untuk pembelian bahan baku seperti, kelapa, ubi jalar, gula pasir, garam, CMC (Carboxy Methyl Celullose), GMS (Gliseril Mono Stearat), cone, garam curah, dan es balok. Total biaya bahan baku perbulannya adalah Rp. 9,494,700.

Biaya operasional adalah biaya yang tetap harus dibayarkan meskipun kegiatan produksi terhenti. Biaya operasional dalam pendirian usaha es puter ubi jalar meliputi, biaya sewa tempat untuk menjual, energy, air, transportasi dan komunikasi, administrasi, pemasaran, biaya penyusutan dan perawatan alat serta biaya tenaga kerja.

Tenaga kerja yang dipekerjakan ada tujuh orang, dengan rincian tiga orang bagian produksi, tiga orang bagian penjualan, dan satu orang bagian administrasi. Dengan upah Rp.1,000,000/bulan/orang. Rincian biaya produksi es puter ubi jalar merah dapat dilihat pada Lampiran 28.

d. Volume dan Proyeksi Penjualan

Volume produksi es puter ubi jalar merah adalah 900 cone/hari, 22500 cone/bulan, dan 270.000 cone/tahun. Proyeksi penjualan es puter ubi jalar merah diasumsikan pada tahun pertama hingga tahun kedua berhasil terjual 60% pertahunnya, tahun ketiga 70%, dan tahun keempat hingga tahun kelima sebanyak 80%. Rincian proyeksi penjualan dapat di lihat pada Lampiran 29.

e. Arus Tunai (Cashflow)

Arus tunai merupakan laporan penerimaan dan total pengeluaran kas tahunan yang menunjukkan transaksi uang tunai yang berlangsung

selama periode kajian akuntansi tertentu. Arus tunai dapat menginformasikan kas perusahaan pada akhir tahun. Arus tunai dibagi menjadi arus kas awal (initial cashflow), arus kas operasioanl (operational cash flow), dan arus kas akhir (terminal cash flow).

Dalam kasus ini, arus kas awal adalah biaya investasi dan modal kerja selama tiga bulan. Arus kas operasional terdiri dari laba bersih, penyusutan, dan faktor bunga. Dan arus kas akhir meliputi nilai sisa dan pengembalian modal kerja. Dalam penelitian ini analisis arus tunai (cashflow) dianalisis berdasarkan sistem pada dua jenis bank, yaitu bank konvnesional dan bank syariah. Arus tunai pendirian usaha es puter ubi jalar merah dapat dilihat pada Lampiran 33 untuk analisis dengan bank konvensional dan Lampiran 37 untuk analisis dengan bank syariah.

Dengan menggunakan arus tunai (cashflow) dapat dilakukan analisis terhadap kriteria investasi, perhitungan BEP (Break Event Point) dan analisis sensitivitas. Kriteria investasi yang dilakukan pada usaha dengan sumber pendanaan berasal dari bank konvensional meliputi analisis terhadap NPV, Net B/C, IRR, PBP, dan perhitungan BEP, sedangkan pada sumber pendanaan dari bank syariah dilakukan analisis hanya pada kriteria investasi Net B/C, PBP, dan perhitungan BEP. Berikut ini adalah hasil analisis terhadap kriteria investasi, perhitungan BEP, dan analisis sensitivitas.

1. NPV (Net Present Value)

NPV (Net Present Value) adalah jumlah nilai arus tunai pada masa sekarang setelah dikurangi dengan modal investasi yang dianggap sebagai ongkos investasi selama waktu tertentu. NPV dihitung dengan menggunakan discount factor (DF) sebesar 16%. Dengan nilai investasi sejumlah Rp. 126,745,786; PV (Present value) memberikan nilai negatif hanya pada tahun ke-0. Hal ini menunjukkan pendirian usaha es puter ubi jalar merah memerlukan sejumlah biaya untuk investasi sedangkan pada tahun yang sama usaha belum beroperasi. Tahun pertama hingga tahun kelima PV bernilai positif.

Hal ini menunjukkan bahwa arus kas masuk melebihi arus kas keluar. NPV diperoleh dengan menghitng selisih PV yang bernilai positif dengan PV yang bernilai negatif.

Proyek dikatakan layak untuk dijalankan apabila, NPV bernilai positif. NPV pendirian usaha es puter ubi jalar merah adalah Rp. 106,206,319.52 dengan sumber pendanaan berasal dari bank konvensional. Nilai ini menunjukkan bahwa proyek layak untuk dijalankan. Nilai ini memberi arti bahwa proyek ini mampu memberikan keuntungan bersih sebesar Rp. 106,206,319.52 di masa mendatang, apabila diukur dengan mata uang sekarang. Nilai NPV penting untuk diketahui untuk mengukur besar perolehan dari proyek jika dinilai dengan uang sekarang karena pengaruh laju inflasi yang besarnya diduga dengan angka diskon atau angka pengurangan (discount factor).

2. IRR (Internal Rate of Return)

Internal Rate of Return merupakan suatu tingkat bunga yang dapat menjadikan nilai sekarang dari proceeds yang akan diterima, sama dengan nilai sekarang dari nilai out lays-nya. Nilai IRR dapat menunjukkan kemampuan proyek untuk menghasilkan keuntungan yang dinyatakan dalam rate of return (tingkat pengembalian modal) yang menghasilkan nilai NPV sama dengan nol. Suatu usaha dikatakan layak untuk dijalankan apabila nilai IRR berada di atas tingkat suku bunga yang ditetapkan sebagai discount rate, yaitu 16%. IRR yang diperoleh proyek ini adalah 38.79%. Hal ini menunjukkan bahwa proyek ini layak untuk dijalankan. Nilai IRR yang mendekati nilai tingkat suku bunga mengindikasikan bahwa modal yang ditanamkan kurang banyak memberikan keuntungan.

3. Net B/C

Net B/C (Net Benefit/Cost Ratio) adalah salah satu kriteria investasi yang dihitung dengan membandingkan antara nilai laba

bersih dengan biaya yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut. Nilai B/C yang diperoleh untuk pendirian usaha es puer ubi jalar merah adalah sebesar 3.22 jika sumber pendanaan berasal dari bank konvensional dan 2.22 jika sumber pendanaan berasal dari bank syariah. Suatu industri dapat dikatakan layak bila nilai Net B/C lebih dari 1. Hal ini menunjukkan bahwa pendirian usaha es puter ubi jalar merah layak untuk dijalankan. Makin besar nilai Net B/C maka makin besar keuntungan yang diperoleh. Nilai sebesar 3.22 atau 2.22 memiliki arti bahwa setiap pengeluaran sebesar Rp. 1 akan menghasilkan keuntungan (benefit) sebesar Rp. 3.22 atau Rp. 2.22.

4. PBP (Pay Back Period)

PBP (Pay Back Period) adalah suatu jangka waktu kembalinya investasi yang telah ditanamkan dengan menggunakan penerimaan bersih/proceed yang diterima setiap tahunnya. PBP proyek ini jika menggunakan sumber pendanaan yang berasal dari ank konvensional adalah 2 tahun 72 hari, sedangkan dengan bank syariah adalah 2 tahun 130 hari. Sebuah proyek dikatakan layak jika PBP proyek lebih cepat dari pada umur proyek. PBP biasanya dipengaruhi oleh besar modal dan nilai B/C proyek. Makin tinggi nilai B/C maka PBP semakin cepat, dan semakin sedikit modal yang digunakan PBP akan semakin cepat pula.

5. BEP (Break Even Point)

BEP (Break Even Point) merupakan suatu tingkat produksi dimana perusahaan belum mendapatkan keuntungan, tetapi juga tidak mengalami kerugian. Rincian perhitungan BEP dapat di lihat pada Lampiran 35.

Perbedaan sumber pendanaan menyebabkan perbedaan pula pada hasil perhitungan BEP. Hasil perbandingan perhitungan BEP dengan sumber pendanaan berasal dari bank konvensional dan bank syariah dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Perhitungan BEP dengan Sumber Pendanaan yang Berbeda

TAHUN BEP (UNIT)

BANK KONVENSIONAL BANK SYARIAH

1 115,578 119,141 2 114,682 118,582 3 116,082 143,930 4 124,832 152,391 5 123,471 152,391

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-43)

Dokumen terkait