INPUT • RTRW Provins
A. Analisis Fisik Dasar dan Lingkungan
Analisis fisik dasar dan lingkungan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no 20 tahun 2007 untuk mengenali karakteristik sumber daya alam tersebut, dengan menelaah kemampuan dankesesuaian lahan, agar penggunaan lahan dalam pengembangan wilayah dan/atau kawasan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Hasil studi analisis fisik dan lingkungan ini akan menjadi masukan dalam penyusunan rencana tata ruang maupun rencana pengembangan wilayah dan/ atau kawasan (rencana tindak, rencana investasi, dan lain-lain), karena akan memberikan gambaran kerangka fisik pengembangan wilayah dan/atau kawasan. Data yang diperlukan dalam analisis fisik dasar dan lingkungan antara lain:
Topografi/ kemiringan lahan
Peta kemiringan lahan nantinya diturunkan dari peta topografi, karena penataan wilayah dan peruntukannya banyak sekali ditentukan oleh kondisi kemiringan suatu wilayah. Dalam pembagian atau klasifikasi kemiringan lereng di wilayah dan/atau kawasan perencanaan atas beberapa kelas sebagai berikut: 1) Kemiringan lereng 0 % - 2% 2) Kemiringan lereng > 2% - 5% 3) Kemiringan lereng > 5% - 15% 4) Kemiringan lereng > 15% - 40% 5) Kemiringan lereng > 40%
Pada peta topografi dengan skala dan kelengkapan yang memungkinkan, selang kemiringan > 5% - 15%, dibagi lagi atas: > 5% - 8%, dan > 8% - 15%.
Laporan Pendahuluan Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Kab. Lamongan
Praktek Perencanaan Wilayah
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, FTSP, ITS Surabaya
J
IV-11
Morfologi/ Bentang Alam
Dalam peta morfologi nantinya pengelompokan bentuk bentang alam berdasarkan rona, kemiringan lereng secara umum, dan ketinggiannya, pada beberapa satuan morfologi.
Satuan morfologi dataran
Satuan morfologi dataran adalah bentuk bentang alam yang didominasi oleh daerah yang relatif datar atau sedikit bergelombang, dengan kisaran kemiringan lereng 0% - 5%. Lebih rinci lagi satuan morfologi dataran ini dapat dibedakan atas dua subsatuan, yakni subsatuan morfologi dataran berkisar antara 0% - 2%; dan subsatuan morfologi medan bergelombang dengan kisaran kemiringan lereng lebih dari 2% hingga 5%.
Satuan morfologi perbukitan
Satuan morfologi perbukitan adalah bentuk bentang alam yang
memperlihatkan relief baik halus maupun kasar, membentuk bukit-bukit dengan kemiringan lereng yang bervariasi.
Secara lebih rinci satuan morfologi perbukitan dapat dibagi lagi atas tiga sub satuan, yakni: sub satuan morfologi perbukitan landai dengan kemiringan lereng antara 5% - 15% dan memperlihatkan relief halus; subsatuan morfologi perbukitan sedang dengan kemiringan lereng berkisar antara 15% - 40% dan memperlihatkan relief sedang, dan subsatuan morfologi perbukitan terjal dengan kemiringan lebih dari 40% dan memperlihatkan relief kasar.
Satuan morfologi tubuh gunung berapi
Satuan tubuh gunung berapi ini hampir sama dengan satuan morfologi perbukitan, dan umumnya merupakan sub satuan perbukitan sedang hingga terjal, namunmembentuk kerucut tubuh gunung berapi. Satuan tubuh gunung berapi ini perlu dipisahkan dari satuan perbukitan, karenatubuh gunung berapi mempunyai karakterisitk tersendiri dan berbeda dari perbukitan umumnya, seperti banyak dijumpai mata air, kandungan-kandungan gas beracun, dan sumber daya mineral lainnya yang khas gunung berapi.
Hidrologi/ ketersediaan air
Dalam peta hidrologi yang dimaksud di sini adalah yang berkaitan dengan data kondisi keairan, baik air permukaan maupun air tanah. Untuk itu penyajian data hidrologiini dibedakan atas air permukaan dan air tanah.
Air permukaan adalah air yang muncul atau mengalir di permukaan seperti: mata air, danau, sungai, dan rawa. Pada data air permukaan ini masing-masing jenis sumber air tersebut hendaknya diikuti besaran atau
Praktek Perencanaan Wilayah
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, FTSP, ITS Surabaya
IV-12
debitnya, sehingga dapat terlihat potensi air permukaan secara umum. Khususuntuk sungai disajikan lengkap dengan Wilayah Sungai (WS) dan Daerah Aliran Sungai (DAS) nya, karena masing-masing WS umumnya mempunyai karakteristik berbeda, demikian juga dengan DAS yang diharapkan dapat memberikan gambaran potensi sungai sampai orde yang terkecil. Sedangkan air tanah dalam yakni air tanah yang memerlukan teknologi tambahan untuk pengadaannya, secara umum dapat diketahui dari kondisi geologinya, yang tentunya memerlukan pengamatan struktur geologi.
Klimatologi
Data klimatologi adalah data iklim berdasarkan hasil pengamatan pada stasiun pengamat di wilayah yang bersangkutan dan/atau daerah sekitarnya, meliputi: 1) Curah hujan, 2) Hari hujan, 3) Intensitas hujan, 4) Temperatur rata-rata, 5) Kelembaban relatif,
6) Kecepatan dan arah angin,
7) Lama penyinaran (durasi) matahari.
Geologi/ Jenis Batuan
Dalam analisis geologi untuk mengetahui kondisi geologi regional wilayah dan/atau kawasan perencanaan dan daerah sekitarnya, maka diperlukan data fisiografi daerah yang lebih luas. Fisiografi ini akan memperlihatkan gambaran umum kondisi fisik secara regional baik menyangkut morfologi, pola pembentuknya, pola aliran sungai, serta kondisi litologi dan struktur geologi secara umum.
Geologi wilayah ini memuat semua unsur geologi seperti yang dikehendaki pada geologi umum, hanya lebih terinci yang kemungkinan akan berbeda dari peta geologi umum, karena dilakukan penelitian pada skala lebih besar. Geologi permukaan adalah kondisi geologi tanah/batu yang ada di permukaan dan sebarannya baik lateral maupun vertikal hingga kedalaman batuan dasar serta sifat-sifat keteknikan tanah/batu tersebut, dalam kaitannya untuk menunjang pengembangan kawasan. Peta geologi permukaan yang memuat sebaran lateral tanah/batu juga diikuti dengan susunan tanah/batu hingga batuan dasar yang diperoleh dari hasil pemboran dangkal yang menunjukkan penyebaran vertikal dari tanah/ batu tersebut.
Laporan Pendahuluan Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Kab. Lamongan
Praktek Perencanaan Wilayah
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, FTSP, ITS Surabaya
J
IV-13
Jenis Tanah
Jenis tanah merupakan salah satu faktor yang menentukan kesesuaian penggunaan lahan terhadap kegiatan tertentu, khususnya yang terkait dengan pengembangan kegiatan budidaya dan non budidaya. Kriteria jenis tanah sebagai berikut:
1. Alluvial, tanah glei, planosol, hidromorf kelabu, latorik air tanah termasuk dalam tingkat tidak peka terhadap erosi
2. Latosol termasuk dalam tingkat kurang peka terhadap erosi
3. Brown forest soil, noncolcic brown, mediteran termasuk dalam tingkat agak peka terhadap terhadap erosi
4. Andosol, loterik, grumosol, potsol, podsolik termasuk dalam tingkat peka terhadap erosi
5. Regosol, litosol, organosol, rezina termasuk dalam tingkat sangat peka terhadap erosi
Bencana alam
Peta bencana alam pada dasarnya adalah untuk mengetahui gejala atau proses alam yang terjadi akibat upaya alam mengembalikan keseimbangan ekosistem yang terganggu baik oleh proses alam itu sendiri ataupun akibat ulah manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam ini. Kemungkinan bencana alam yang akan timbul di suatu daerah, dalam hal inibencana alam beraspek geologi, seperti: banjir, longsor/gerakan tanah, amblesan, letusan gunung berapi, gempa bumi, kekeringan, dan lainnya, pada dasarnyadapat dikenali dari kondisi geologi, sejarah bencana alam yang pernah terjadi diwilayah tersebut, dan gejala bencana alam dalam bentuk lokal atau mikro yang kemungkinan akan meluas atau merupakan indikasi terjadinya bencana yang lebih makro.
Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di wilayah dan/atau kawasan perencanaan perlu diketahui secara terinci, terutama sebaran bangunan yang bersifat tidak meluluskan air/ kedap air. Hal ini berkaitan erat dengan rasio tutupan lahan yang ada saat ini yang nantinya digunakan dalam penghitungan ketersediaan air tanah bebas.
Selain untuk mengetahui rasio tutupan lahan, data penggunaan lahan juga diperlukan untuk mengetahui pengelompokan peruntukan lahan. Di samping itu dengan mengetahui sebaran penggunaan lahan di wilayah ini, maka akan terlihat pada daerah-daerah mana penggunaan lahan yang ternyata
Praktek Perencanaan Wilayah
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, FTSP, ITS Surabaya
IV-14
menyimpang dari kesesuaiannya atau melampaui kemampuannya, sehinggadapat dijadikan masukan juga dalam memberikan rekomendasi kesesuaian lahan.
Gambar 4.3 Bagan Alur Analisis Fisik Dasar
Sumber: Hasil Analisa, 2016