• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.4. Analisis Framing

Pada dasarnya framing adalah metode untuk melihat cara bercerita (story

telling) media atas peristiwa. Cara bercerita itu tergambar pada “cara melihat”

terhadap realitas yang dijadikan berita. “Cara melihat” ini berpengaruh pada hasil

akhir dari konstruksi realitas. Analisis framing ini adalah analisis yang dipakai

untuk melihat bagaimana media merekonstruksi realitas. Analisis framing juga

dipakai untuk bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh media. Tiap hari

bisa disaksikan dan dibaca bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh

media.

Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis

untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa

saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses

konstruksi. Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna

tertentu. Hasilnya, pemberitaan media pada sisi tertetnu atau wawancara

teknik jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan

ditampilkan. (Eriyanto, 2002:3)

Frame pada awalnya dimaknai sebagai konseptual atau perangkat

kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik kebijakan, dan wawancara

yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas.

Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada tahun 1974

yang mengandalkan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of

behaviour) yang membimbing individu dalam membaca realitas (Sobur,

2001:162). Realitas itu sendiri tercipta dalam konsepsi wartawan, sehingga

berbagai hal yang terjadi seperti faktor dan orang didistribusikan menjadi

peristiwa yang kemudian disajikan untuk khalayak.

Menurut pandangan G.J. Aditjondro framing adalah sebagai metode

penyajian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari

secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan

terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah yang punya

konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya.

(Sudibyo dalam Sobur, 2001:165)

Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah

cara-cara ideologi media saat mekonstruksi fakta. Analisis ini mencermati

strategi seleksi, penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar menjadi

lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk

menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya, dengan kata lain,

pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.

Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menetukan fakta apa yang

diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa

kemana berita tersebut. (Nugroho, Eriyanto, Surdiasis dalam Sobur, 2001:162)

Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada

dalam kategori penelitian konstruksi. Paradigma ini memandang realitas

kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari konstruksi.

Karenanya, konsentrasi peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi, dengan

cara apa konstruksi itu dibentuk. Ada dua karateristik penting dari pendekatan

konstruksionis. Pertama, pendekatan kostruksionis menekankan pada politik

pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambaran tentang

realitas. Makna bukanlah sesuatu yang absolut, konsep statik yang ditemukan

dalam suatu pesan. Makna adalah suatu proses aktif yang ditafsirkan seseorang

dalam suatu pesan. Kedua, pendekatan konstruksionis memeriksa bagaimana

pembentukan pesan dari sisi komunikator, dan dalam sisi penerima ia

memeriksa pesan bagaimana konstruksi makna individu ketika menerima

pesa.(Eriyanto, 2002:40)

Dalam ranah studi komunikasi analisis framing mewakli tradisi yang

mengedepankan pendekatan multidisipliner untuk menganalisa fenomena atau

akyivitas komunikasi yang ada. Perspektif komunikasi framing dipakai untuk

mebedakan cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Karena

itu konsep framing selalu berkaitan erat dengan proses seleksi isu dan

Disini framing dipandang sebagai penempatan informasi dalam konteks yang

khas sehingga isu tertentu tersebut mendapatkan alokasi yang besar dari pada

isu-su yang lain.

Framing ini pada akhirnya menentukan bagaimana realitas itu hadir di

hadapan pembaca. Melalui framing inilah dapat ditentukan bagaimana realitas

itu harus dilihat, dianalisis dan diklasifikasikan dalam kategori tertentu. Dalam

hubungannya dengan penelitian berita, framing dapat mengakibatkan suatu

peristiwa yang sama dapat menhasilkan berita yang secara radikal berbeda

apabila wartawan mempunyai frame yang berbeda ketika melihat peristiwa

tersebut dan menuliskan pandangannya dalam berita, karena asumsi dasar dari

framing adalah bahwa individu wartawan selalu menyertakan pengalaman

hidup, pengalaman sosial, dan kecenderungan psikologinya ketika menafsirkan

pesan datang kepadanya.

Melalui analisis framing akan dapat diketahu siapa mengendalikan

siapa, iuntungkan dan siapa dirugkan, sipa menindas dan siapa tertindas.

Kesimpulan-kesimpulan seperti ini sangat mungkin di peroleh karena analisis

framing merupakan suatu seni-kreativitas yang memiliki kebebasan dalam

menafsirkan dengan menggunakan teori dan metodologi tertentu. (Eriyanto,

2002:vi).

2.1.5 Konsep Framing Gamson dan Modigliani

William A. Gamson adalah salah satu ahli yang paling banyak menulis

penting untuk memahami dan mengerti pendapat umum yang berkembang atas

suatu isu atau peristiwa. Pendapat umum tidak cukup kalau hanya didasarkan pada

data survei khalayak, tetapi perlu dihubungkan dan dibandingkan dengan

bagaimana media mengemas dan menyajikan suatu isu. Sebab, bagaimana media

menyajikan suatu isu menentukan bagaimana khalayak memahami dan mengerti

suatu isu. (Eriyanto, 2002 : 217).

Gamson adalah seorang sosiolog, jadi titik perhatian Gamson adalah

tentang gerakan sosial (social movement), gerakan sosial Gamson tidak mau

menyinggung studi media, elemen penting dari gerakan sosial. Hal inilah yang

menimbulkan framing, frame merujuk pada skema pemahaman individu sehingga

seseorang dapat menempatkan, mempersepsi, mengidentifikasi dan memberi label

peristiwa dalam pemahaman tertentu. (Eriyanto, 2002 : 218).

Dalam suatu peristiwa, frame berperan dalam mengorganisasi pengalaman

dan petunjuk tindakan, baik secara individu maupun kolektif. Dalam pemahaman

ini, frame tentu saja berperan dan menjadi aspek yang menentukan dalam

partisipasi gerakan sosial. Elit membingkai peristiwa sedemikian rupa sehingga

khalayak mempunyai perasaan yang sama. Keberhasilan gerakan atau protes

sosial diantaranya ditentukan oleh sejauh mana khalayak mempunyai pandangan

yang sama atas suatu isu, musuh bersama dan tujuan bersama. (Eriyanto, 2002 :

219).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis William A. Gamson.

Dalam hal ini Gamson dibantu oleh Modigliani, dalam formulasi yang mereka

yang tersusun sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna dari peristiwa

yang berkaitan dengan suatu wacana. Framing adalah pendekatan untuk

mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh

wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Gamson dan Modigliani

menyebut cara pandang itu sebagai kemasan (package). Menurut mereka, frame

adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan

menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek

suatu wacana. Kemasan (package) adalah rangkaian ide-ide yang menunjukkan

isu apa dibicarakan dan peristiwa mana yang relevan. Package adalah semacam

skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi

makna pesan-pesan yang ia sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan-

pesan yang ia terima. (Eriyanto, 2002 :223-224)

2.1.6 Perangkat Framing Gamson dan Modigliani

Dalam pandangan Gamson, framing dipahami sebagai seperangkat gagasan

atau ide sentral ketika seseorang atau media memahami dan memaknai suatu isu.

Ide sentral ini akan didukung oleh perangkat wacana lain sehingga antara satu

bagian wacana dengan bagian lain saling kohesif.

Ada dua perangkat bagaimana ide sentral ini diterjemahkan dalam teks

berita. Pertama, perangkat framing (framing device). Perangkat ini berhubungan

dan berkaitan langsung dengan ide sentral atau bingkai yang ditekankan dalam

teks berita. Perangkat framing ini ditandai dengan pemakaian kata, kalimat,

Perangkat penalaran berhubungan dengan kohesi dan koherensi dari teks tersebut

yang merujuk pada gagasan tertentu. (Eriyanto, 2002 : 226-227).

Framing devices terdiri dari :

1. Methapors (perumpamaan atau pengandaian), secara literal dipahami sebagai

cara memindahkan makna sesuatu dengan merelasikan dua fakta memakai

analogi, sering berupa kiasan menggunakan “seperti” atau “bak/bagai”.

2. Catchphrases (frase yang menarik, kontras, menonjol dalam suatu wacana,

umumnya berupa jargon atau slogan), merupakan istilah, bentukan kata atau frase

khas cerminan fakta yang mrujuk pada pemikiran atau semangat sosial tetentu

guna mendukung politik kekuasaan. (Siahaan, 2001 : 85). Jargon adalah kata atau

istilah khas yang digunakan sebuah kelompok masyarakat tertentu, yang

kemudian diadopsi dalam konteks ideologi kekuasaan dan masyarakat luas.

Slogan yaitu kalimat pendek yang maknanya mudah diingat dan memberi

semangat dan membawa efek menggerakkan dukungan. (Siahaan, 2001 : 93).

3. Exemplaar (mengaitkan bingkai dengan contoh, uraian teori, perbandingan

yang memperjelas bingkai). Exemplar adalah menguraikan atau mengemas fakta

tertentu secara mendalam agar memiliki bobot makna lebih pada satu sisi untuk

dijadikan rujukan. Posisinya sebagai pelengkap dalam kesatuan wacana.

Tujuannya memperoleh pembenaran beroperasinya kukuasaan.

4. Depiction (penggambaran isu yang bersifat konotatif, umumnya berupa

kosakata, lesikon untuk melabeli sesuatu). Depiction sendiri adalah penggambaran

fakta memakai kata, istilah, kalimat bermakna konotatif dan bertendensi khusus

5. Visual Images (gambar, grafik, citra yang mendukung bingkai secara

keseluruhan, berupa foto, kartun atau grafik untuk menekankan dan mendukung

pesan yang ingin disampaikan. Visual images gunanya untuk mengekspresikan

kesan, seperti perhatian atau penolakan dengan menggunakan huruf yang

dibesarkan/dikecilkan, ditebalkan/dimiringkan atau digaris bawahi serta

pemakaian bermacam warna.

1. Sedangkan reasoning devices terdiri dari :Roots (analisis kausal atau sebab

akibat), mengedepankan hubungan yang melibatkan suatu objek atau lebih yang

dianggap sebagai sebab terjadinya hal yang lain.

2. Appeals to Principle (premis dasar, klaim-klaim moral) adalah upaya

memberikan alasan pembenaran dengan memakai logika dan prinsip moral untuk

mengklaim sebuah kebenaran saat membangun wacana.

3. Consequences adalah efek atau konsekuensi yang didapat dari bingkai.

Tabel 2.1. Perangkat Framing William A. Gamson dan Modigliani Frame

Central organizing idea for making senses of relevants events, suggesting, what is at issues (opini leader dalam suatu berita itu yang mempengaruhi suatu isu)

Framing Devices Reasoning Devices

(perangkat framing) : (perangkat penalaran) :

1. Methapors 1. Roots

2. Catchphrases 2. Appeals to Principle

3. Exemplaar 3. Concequences

4. Depiction 5. Visual Images

2.1.7 Hierarchy of Influence

Media pada dasarnya adalah cerminan dan refleksi dari masyarakat

secara umum. Karena itu, media bukanlah saluran yang bebas, media juga

subyek yang mengkonstruksi realitras, lengkap dengan pandangan, bias dan

pemihakannya.

Di dalam suatu pemberitaan, pembaca kerap berharap media bertindak

netral dan seimbang ketika memberitakan pihak-pihak yang berkonflik.

Kecenderungan atau erbedaan setiap media dalam memproduksi informasi

kepada khalayak dapat diketahui dari pelapisan-pelapisan yang melingkupi

institusi media. Pemela shoemaker dan Stephen D. Reese membuat “Hierarchy

of Influence” yang menjelaskan hal ini

Berikut adalah penjelasan dari gambar diatas:

1. Pengaruh individu-individu pekerja media. Diantaranya adalah

karateristik pekerja komunikasi, latar belkang personal dan profesional.

2. Pengaruh rutinitas media, apa yang dihasilkan oleh media massa

dipengaruhi oleh kegiatan seleksi-seleksi yang dilakukan oleh

komunikator, termasuk tenggat waktu (deadline) dan rintangtan waktu

yang lain, keterbatasan tempat (space), kepercayaan reporter pada sumber-

sumber resmi dalam berita yang dihasilkan

3. Pengaruh organisasional, salah satu tujuan yang penting dari media adalah

mencari keuntungan materiil. Tujuan-tujuan media akan berpengaruh pada

isi yang diberitakan.

4. Pengaruh dari luar organisasi media. Pseudoevent dari kelompok

kepentingan terhadap isis media. Pseudoevent dari praktisi public relations

dan pemerintah yang membuat peraturan-peraturan di bidang pers.

5. pengaruh ideologi, ideologi merupakan pengaruh yang paling menyeluruh

dari semua pengaruh. Ideologi disini diartikan sebagai mekanisme

simbolik yang menyediakan kekuatan kohesif yang memeprsatukan di

dalam masyarakat. (Sobur, 2004:138-139)

Dokumen terkait