• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

C. Analisis GAP

2. Analisis GAP 2

GAP 2 diperoleh dari selisih antara skor rata-rata persepsi manajemen tentang harapan konsumen dan skor rata-rata spesifikasi standar kinerja kualitas jasa yang ditetapkan.

Apabila didapat hasil gap positif, maka persepsi manajemen tentang harapan konsumen lebih besar dari spesifikasi standar kinerja kualitas jasa yang ditetapkan sehingga kesenjangan tidak terjadi. Dan apabila didapat hasil gap negatif, maka persepsi manajemen tentang harapan konsumen lebih kecil dari spesifikasi standar kinerja kualitas jasa yang ditetapkan sehingga kesenjangan terjadi. Kemudian apabila didapat hasil 0, maka persepsi manajemen tentang harapan konsumen dengan spesifikasi standar kinerja kualitas jasa yang ditetapkan adalah sama. Sehimgga dapat dikatakan manajemen telah mencukupi harapan nasabah atau ideal.

Tabel IV.28

GAP 2 Per Dimensi Kualitas Jasa

Dimensi Skor Rata-rata Persepsi Manajemen Skor Rata-rata Spesifikasi Kualitas Pelayanan GAP 2 TANGIBLE 4,45 4,5 -0,05 RELIABILITY 4,5 4,5 0 RESPONSIVENESS 4,53 4,5 0,03 ASSURANCE 4,38 4,25 0,13 EMPATHY 4,35 4,25 0,10 Rata-rata seluruh dimensi 4,44 4,4 0,04

Sumber : lampiran 2 yang diolah

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa terdapat nilai gap yang negatif, yaitu pada dimensi tangible (-0,05). Berarti manajemen belum cukup berhasil dalam menetapkan spesifikasi atau standar kualitas pelayanan yang sesuai dengan persepsi mereka tentang harapan nasabah pada fasilitas fisik, perelengkapan dan penampilan para karyawan. Dan dimensi reliability memiliki nilai ideal, yaitu 0. Hal ini berarti manajemen dalam menetapkan spesifikasi atau standar kualitas pelayanan sesuai dengan persepsi manajemen tentang harapan konsumen.

Sedangkan pada keseluruhan persepsi manajemen telah dapat sepenuhnya diterjemahkan ke dalam spesifikasi standar kualitas pelayanan karena nilai GAP keseluruhan positif, yaitu 0,04.

a) Penyebab GAP 2

Ada empat faktor yang mempengaruhi terjadinya GAP 2, yaitu

management commitment to service quality, goal setting, task standardization, dan perception of feasibility. Nilai ideal adalah nilai yang dicapai untuk mengetahui seberapa baik persepsi memenuhi

harapan. Nilai ideal yang harus dipenuhi adalah sebesar 5. Apabila

nilai rata-rata belum mencapai nilai ideal, maka dapat dikatakan

bahwa factor-faktor tersebut mempunyai andil untuk menyebabkan

kesenjangan. Dan apabila nilai rata-rata factor telah mencapai nilai

ideal, maka factor-faktor tersebut tidak memiliki andil dalam

terjadinya kesenjangan Besarnya nilai GAP yang menjadi penyebab

Tabel IV.29

Penyebab GAP 2

Penyebab GAP 2 Nilai Rata-rata Nilai Ideal GAP MANAGEMENT COMMITMENT TO SERVICE QUALITY 2,81 5 -2,19 GOAL SETTING 3,63 5 -1,37 TASK STANDARDIZATION 3,88 5 -1,12 PERCEPTION OF FEASIBILITY 3,33 5 -1,67

Sumber : lampiran 2 yang diolah

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa faktor-faktor tersebut pada BPR Kota Salatiga belum ideal. Faktor utama penyebab terjadinya GAP 2 adalah management commitment to service quality atau komitmen manajemen terhadap kualitas pelayanan karena memiliki nilai GAP yang paling besar, yaity -2,19. Sedangkan pada faktor task standardization memberikan efek paling kecil terhadap terjadinya GAP 2. Hal ini karena nilai GAP nya paling kecil, yaitu -1,12.

b) Menutup GAP 2

Ada empat faktor yang dapat digunakan untuk menutup GAP 2

tersebut, yaitu :

1) Management Commitment To Service Quality

Salah satu faktor terjadinya GAP 2 adalah tidak adanya komitmen

manajemen terhadap kualitas pelayanan. Sering suatu perusahaan

daripada pendekatan berdasarkan pemakai. Sehingga berakibat

pada kurangnya perhatian untuk melayani konsumendengan baik.

Kepemimpinan merupakan unsur penting dalam manajemen

kualitas total. Dalam proses penyampaian pelayanan yang optimal

membutuhkan kepemimpinan dan komitmen manajemen. Tidak

adanya komitmen manajemen terhadap kualitas pelayanan akan

berdampak pada gagalnya penetapan spesifikasi kualitas

pelayanan yang tepat.

Dalam proses evaluasi kualitas pelayanan di BPR Kota Salatiga

ini, komitmen manajemen sangat kurang terhadap kualitas

pelayanan. Oleh karena itu perlu dilakukan segera

langkah-langkah perbaikan agar komitmen manajemen terhadap kualitas

pelayanan dapat meningkat. Hal ini dapat dimulai dengan

kesadaran tiap manajer tentang pentingnya pelayanan yang

berkualitas karena pada jangka panjang akan mempengaruhi

kelanjutan perusahaan. Kemudian komitmen manajemen dapat

diwujudkan dalam tindakan dan kebijakan yang lebih

mengutamakan kualitas, sehingga dapat member contoh dan

memotivasi para karyawan.

2) Goal Setting

Perusahaan yang ingin mencapai kualitas pelayanan yang tinggi

harus menetukan tujuan. Berdasarkan evaluasi pada BPR Kota

ideal. Hal ini berarti penetapan tujuan dari BPR yang berkaitan

dengan kualitas pelayanan belum optimal. Sehingga penetapan

tujuan yang berkaitan dengan kualitas pelayanan perlu

ditingkatkan.

Yang dapat dilakukan adalah menetapkan tujuan yang

berorientasi pada kualitas dan menetapkan standar kualitas

pelayanan yang khusus sesuai dengan tujuan perusahaan. Selain

itu, BPR juga dapat membuat proses formal bagi karyawan untuk

menetapkan tujuan dari kualitas pelayanan.

3) Task Standardization

Ada beberapa bagian dari tugas-tugas yang dianggap dapat

dikerjakan tanpa adanya standarisasi secara formal, yaitu faktor

pengetahuan, keramahtamahan, dan kemampuan karyawan dalam

memberi kesan kepada pelanggan. Tidak adanya standarisasi dan

keformalan kerja menimbulkan kesulitan dalam pengawasan kerja

dan tidak ada pedoman bagi karyawan untuk menyelesaikan

tugasnya.

Untuk mengoptimalkan standarisasi tugas agar tiap-tiap bagian

dapat berfungsi sesuai dengan tugasnya, BPR dapat menerapkan

perbaikan prosedur operasional sehingga dapat member

pelayanan secara konsisten. Agar dapat berjalan dengan baik

sesuai dengan tugasnya serta perlunya penetapan standar tugas

yang jelas untuk tiap bagian.

4) Perception Of Feasibility

Suatu usaha yang sukses dalam pelayanan kualitas memiliki

persepsi bahwa semua yang diinginkan nasabah adalah bias

dilaksanakan. Dengan demikian hal ini akan memacu untuk selalu

mencari cara untuk memuaskan nasabah.

Untuk meningkatkan persepsi manajer akan kemampuan BPR

dalam memenuhi harapan nasabah, dapat dilakukan pelatihan dan

pemberdayaan karyawan serta penelitian yang mendukung

sehingga kemampuan BPR dan karyawannya untuk memberikan

kualitas pelayanan yang layak dapat meningkat.

Dokumen terkait