• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS TERHADAP PEMISAHAN HARTA BERSAMA DALAM

B. Analisis Hakim Atas Putusan

Dalam perkara No.381/Pdt.P/2015PN.Tng yang telah mendaftarkan permohonannya ke Panitera Pengadilan Negeri Tangerang bahwasanya para Pemohon para Pelaku perkawinan campuran yang telah melangsungkan perkawinannya memohon untuk membuat perjanjian perkawinan dimana guna dari perjanjian perkawinan bagi mereka adalah untuk menyatakan pemisahan harta-harta yang didapat baik sebelum dan sesudah perkawinan berlangsung ataupun harta-harta yang akan didapat dikemudian hari.

Berdasarkan hal tersebut pertimbangan majelis hakim dalam penetapan .381/Pdt.P/2015PN.Tng, sebagai berikut:

Bahwa pada hari persidangan yang ditetapkan untuk itu hadir para pemohon dan kuasanya. Setelah ditanyakan oleh Hakim yang memeriksa perkaraa tersebut tentang isi permohonannya, para pemohon menyatakan tetap pada permohonannya. Menimbang, bahwa untuk meperkuat dalil permohonannya, telah diajukan bukti surat berupa :

Fotocopy Akta Perkawinan yang dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Stamford Grand, Glenelg Australia, pada tanggal 7 Juli 2007, No. Registrasi 20124363.

Fotocopy Kutipan Tanda Pelaporan Nikah No. 470/21-DKCS/OA/2008 tertanggal 8 Oktober 2008 yang dikeluarkan oleh Pencatatan Sipil Kabupaten Tangerang.

Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atas nama Astrid Rosalina Broederick No.

3674065209840014, berlaku sampai dengan 12 September 2017.

Fotocopy Kartu Keluarga No. 3674061804100280 dikeluarkan pada tanggal 2 September 2014.

Fotocopy Passport atas nama Darren Graham Broederick Nomor E 4092692 berlaku sampai deengan 31 Oktober 2022.

Fotocopy Kartu Ijin Tinggal No. 2D41JE0076-N atas nama Darren Graham Broederick berlaku sampai dengan 12 Maret 2019.

Fotocopy Passport atas nama James Aditya Broederick No. A 5496096.

Fotocopy Akte Kelahiran James Aditya Broederick No. 20416856.

Fotocopy Passport atas nama Jessica Amelia Broderick No. N 9639907.

Fotocopy Akte Kelahiran atas nama Jessica Amelia Broderick No. T1420498E.

Fotocopy Tanda Bukti Pelaporan Kelahiran atas nama Jessica Amelia Broderick No.

474.1/41-2014/p.Ke3I./CAPIL.

Fotocopy Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, DKI Jakarta Nomor.251/Pdt.P/2014/PN. Jkt. Pst. Tertanggal 25 November 2014 atas nama Juliani Wistarina Luthan dan Hiroaki Kuramitsu.

Penetapan pengadilan Negeri Jakarta Selatan, DKI Jakarta Nomor.

85/Pdt.P/PN.Jkt.Sel. Tertanggal 19 Maret 2015 atas nama Sri Wulandari dan Noel Morrow.

Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang, Nomor. 269/Pdt.P/2015/PN.Tng. Tertanggal 10 Juni 2015 atas nama Anita Andrita Dewi dan Stephen Georg Winkler.

Menimbang, bahwa bukti-bukti surat tersebut di atas telah diberi materai yang cukup dan telah dicocokkan dengan aslinya, sehingga dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah, kecuali bukti penetapan tidak ada buktinya.

Menimbang, bahwa selain bukti surat sebagaimana tersebut di atas, Pemohon juga telah menghadirkan para saksi yang telah disumpah yang pada pokoknya memberikan keterangan sebagai berikut:

1. Saksi Mebby Mahdarena Dumashary :

Bahwa saksi kenal dengan para pemohon sudah sekitar 3 (tiga) tahun, dan saksi kerja pada perusahaan milik Astrid (pemohon I).

Bahwa para pemohon tidak bekerja dalam satu perusahaan, Astrid bekerja di perusahaannya sendiri yang begerak dibidang jasa seperti pengadaan barang, trading dan sebagainya dan bertindak sebagai direkturnya yang beralamatkan di Perumahan Kedaung.

Bahwa setahu saksi para pemohon telah menikah di Australia, yang kemudian pernikahannya tersebut telah dilaporkan poada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Indonesia, dan dalam perkawinan mereka telah dikaruniai dua orang anak laki-laki dan peremnpuan yang lahir di Australia dan lahir di Singapura .

Bahwa setahu saksi, pemohon II bekerja sebagai pilot pada perusahaan penerbangan Singapura.

Bahwa benar saksi tahu mereka bermaksud untuk melakukan pemisahan harta dalam perkawinan karena sering mendapatkan kesulitan bila akan melakukan perbuatan hukum seperti transaksi yang berhubungan dengan tanah, karena pemohon II sebagai suami pemohon I masih berstatus sebagai Warga Negara Asing ( WNA ).

Bahwa setahu saksi pemohon II suami pemohon I sebagai pemegang pasport E 4092692 berlaku sampai dengan 31 Oktober 2022 serta mempunyai Kartu Ijin Tinggal Tetap No.2D41JE0076-N berlaku sampai dengan 12 Maret 2019.

Bahwa setahu saksi pemohon II bekerja sebagai pilot dan mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya serta tidak masalah dengan adanya pemisahan harta karena tujuannya untuk istri dan anak-anaknya.

2. Saksi Zulfikar Rico Tamara :

Bahwa saksi tahu para pemohon telah melakukan pernikahan di Australia tanggal 7 Juli 2007 yang kemudian perkawinannya tersebut telah dilaporkan kepada pihak Kantor Catatan Sipil di Indonesia.

Bahwa dalam perkawinan mereka telah dikaruniai 2 ( dua ) orang anak laki-laki dan perempuan yang lahir di Australia dan lahir di Singapura.

Bahwa setahu saksi pemohon II masih berstatus sebagai Warga Negara Asing, dan bekerja di Perusahaan Penerbangan sebagai pilot .

Bahwa benar mereka bermaksud akan melakukan pemisahan harta agar lebih mudah dalam pengurusan asset yang mereka punya dan jelas kepemilikannya , yang semuanya sebenarnya bertujuan untuk kebutuhan dalam keluarga dan masa depan anak-anak mereka.

Menimbang, bahwa terhadap keterangan para saksi tersebut., para pemohon menyatakan membenarkannya. Menimbang, bahwa dipersidangan para pemohon juga telah didengar keterangannya yang antara lain menerangkan :

• Bahwa benar para pemohon saling kenal di Indonesia yang kemudian melangsungkan perkawinannya di Australia serta perkawinannya telah dilaporkan di Kantor Catatan Sipil Kabupaten Tangerang.

• Bahwa para pemohon tinggal di Indonesia dan pemohon II tinggal di Indonesia sejak tahun 2007, sebagai pemegang paspor No.E 4092692 berlaku sampai dengan 2022 dan juga pemegang Kartu Ijin Tinggal Tetap N0.2D41JE0076-N berlaku sampai 12 Maret 2019.

• Bahwa benar dalam perkawinannya, mereka telah dikaruniai 2 ( dua ) orang anak laki-laki dan perempuan masing-masing lahir di Australia dan lahir di Singapura.

• Bahwa pemohon I bekerja pada perusahaannya sendiri berkantor di Perumahan Kedaung Hijau sebagai direkturnya dan usahanya bergerak di bidang jasa dan perdagangan , sedangkan pemohon II sebagai suami pemohon I bekerja sebagai pilot pada perusahaan penerbangan Singapura.

• Bahwa baik pemohon I maupun pemohon II masing-masing mempunyai penghasilan untuk menopang kehidupan keluarga.

• Bahwa sampai dengan saat ini pemohon I mengalami kesulitan untuk melakukan perbuatan hukum berkaitan dengan transaksi yang berhubungan dengan tanah karena suami pemohon I yakni pemohon II masih berstatus sebagai Warga Negara Asing.

• Bahwa dengan adanya pemisahan harta dalam perkawinan, nantinya pemohon II dapat berbuat sesuatu yang berarti dalam keluarga seperti memberikan uang kepada pemohon I dan selanjutnya pemohon I dapat

Menimbang Tentang Hukumnya, bahwa maksud dan tujuan permohonan para pemohon adalah sebagaimana tersebut diatas, yang pada pokoknya adalah: bahwa para pemohon bermaksud hendak melakukan pemisahan harta dalam perkawinan terhitung sejak ditetapkannya oleh pengadilan dengan maksud agar kedepan pemohon I dapat bertransaksi dengan pihak lain yang berhubungan dengan tanah, untuk menopang kehidupan dalam rumah tangga dan masa depan anak-anak para pemohon.

Menimbang, bahwa yang menjadi pertanyaan adalah apakah diperkenankan melakukan pemisahan harta dalam perkawinan setelah dilakukannya perkawinan .

Menimbang, bahwa dalam ketentuan pasal 29 ayat (1) UU.No.1 Tahun 1974 ditentukan : “bahwa perjanjian perkawinan dilakukan pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan“. Dalam pasal 29 ayat ( 2) UU.No.1 Tahun 1974 ditentukan:

“perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan”.

Menimbang, bahwa selanjutnya dalam ketentauan pasal 29 ayat (4) UU.No.1 Tahun 1974 tersebut ditentukan : “bahwa perjanjian perkawinan tersebut dimungkinkan untuk merubah perjanjian tersebut apabila kedua belah pihak ada perjanjian untuk mengubah dan perubahan itu tidak merugikan pihak ketiga “.

Menimbang, apabila kita menyimak dari ketentuan tersebut diatas, seakan-akan tidak ada tempat untuk adanya perjanjian kawin setelah dilakukannya perkawinan.

Menimbang, bahwa dalam ketentuan pasal 139 KUH Perdata disebutkan : “ Para calon suami istri dengan perjanjian kawin dapat menyimpang dari peraturan perundang-undangan mengenai harta bersama asalkan hal itu tidak bertentangan dengan tata tertib umum dan diindahkan pula ketentuan-ketentuan berikut “. Selanjutnya dalam pasal 140 KUH Perdata berbunyi : “ Perjanjian itu tidak boleh mengurangi hak-hak yang bersumber pada kekuasaan si suami sebagai suami dan pada kekuasaan sebagai bapak, tidak pula hak-hak yang oleh undang-undang diberikan kepada yang masih hidup paling lama.

Demikian pula perjanjian itu tidak boleh mengurangi hak-hak yang diiperuntukkan bagi suami sebagai keala persatuan suami istri; …namun itu tidak mengurangi wewenang istri untuk mensyaratkan bagi dirinya pengurusan harta kekayaan pribadi ,baik barang-barang bergerak maupun barang-barang tidak bergerak disamping penikmatan penghasilannya pribadi secara bebas. Mereka juga berhak membuat perjanjian, meskipun ada golongan harta bersama, barang-barang tetap, surat-surat pendaftaran dalam buku besar pinjaman-pinjaman Negara, surat-surat berharga lainnya dan piutang-piutang yang diperoleh atas nama istri, atau yang selama perkawinan dan pihak istri jatuh kedalam harta bersama, tidak boleh dipindah tangankan atau dibebani oleh suami tanpa persetujuan istri ‘ .

Menimbang, bahwa dalam ketentuan pasal 186 KUH Perdata juga disebutkan bahwa :

“ selama perkawinan, si istri boleh mengajukan tuntutan akan pemisahan harta benda kepada hakim, tetapi hanya dalam hal-hal……… 2e…… dan guna segala apa yang menurut hukum menjadi gak istri, akan menjadi kabur …..” .

Menimbang, bahwa perjanjian kawin yang akan dibuat oleh para pemohon tersebut diatas adalah suatu perjanjian yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama antara pemohon I dengan pemohon II di dalam perkawinannya, sehingga berdasarkan ketentuan pasal 1338 KUH Perdata, perjanjian kawin yang akan dibuatnya tersebut akan mengikat kedua belah pihak.

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagaimaa telah disebutkan diatas, maka menurut hemat Hakim yang memeriksa perkara ini, masih terdapat celah hukum untuk dapat dikabulkannya permohonan perjanjian kawin setelah perkawinan dilangsungkan, dengan ketentuan harus memenuhi persyaratan atau batasan-batasan seperti :

Adanya kepentingan yang menghendaki dibuatnya perjanjian kawin tersebut.

Tidak merugikan ahli waris ataupun pihak ketiga dengan adanya perjanjian kawin tersebut.

Perjanjian yang akan dibuat tersebut dimaksudkan untuk mempermudah pengaturan harta.

Perjanjian kawin yang akan dibuat tidak boleh bertentangan dengan hukum dan norma-norma lainnya.

Menimbang, bahwa apakah permohonan pemisahan harta yang diajukan oleh para pemohon tersebut diatas telah memenuhi persyaratan-persyaratan / batasan-batasan sebagaimana tersebut diatas.

Menimbang, bahwa dari keterangan para saksi dihubungkan dengan surat-surat bukti yang diajukan oleh para pemohon serta berdasarkan keterangan para pemohon yang bermaksud melakukan pemisahan harta dalam perkawinan dengan alasan pemohon I tidak dapat bertransaksi dengan pihak lain yang berhubungan dengan tanah karena suami pemohon I yakni pemohon II masih berstatus sebagai Warga Negara Asing, dan tujuan / maksud pemisahan harta tersebut agar pemohon II dapat berbuat sesuatu dalam keluarganya seperti memberikan uang kepada pemohon I untuk selanjutnya bisa bertransaksi dengan pihak lain untuk membeli rumah atau tanah yang dapat menopang kehidupan rumah tangga, kebahagiaan dalam keluarga dan demi masa depan anak-anak para pemohon.

Menimbang, bahwa permohonan pemisahan harta yang diajukan oleh para pemohon tersebut semata-mata untuk kepentingan keluarga para pemohon serta menopang kehidupan keluarga serta masa depan anak-anak para pemohon dan tidak terkait dengan pihak ketiga dan niat atau maksud tersebut juga hanya sekedar mempermudah pengaturan harta karena suami pemohon I masih berstatus Warga Negara Asing dan tidak pula bertentangan dengan hukum atau norma-norma lainnya yang hidup dalam masyarakat , sehingga menurut hemat hakim yang memriksa perkara ini permohonan para pemohon cukup beralasan dan patut untuk dikabulkan.

Menimbang, bahwa dengan dikabulkannya pemisahan harta dalam perkawinan tersebut, nantinya tidak ada lagi harta bersama dalam perkawinan para pemohon tersebut.

Menimbang, bahwa selanjutnya sebagaimana telah dipertimbangkan diatas perkawinan para pemohon dilangsungkan di Australia, dan perkawinan tersebut telah dilaporkan pada Kantor Dinas Catatan Sipil Kabupaten Tangerang, maka tentang adanya perjanjian kawin tentang pemisahan harta setelah perkawinan tersebut haruslah dipandang dan dapat diicatat sebagai peristiwa penting lainnya yang berhubungan dengan

perkawinan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 point ( 17 ) jo. pasal 68 UU.No 23 Tahun 2006 Jo. Pasal 1 point (17) jo. Pasal 68 ayat (2) tentang perubahan atas UU.No.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

Menimbang, bahwa selanjutnya mengenai urusan keluarga dalam arti pemohon II sebagai kepala keluarga karena permohonan ini diajukan atas kesepakatan bersama antara pemohon I dan pemohon II, maka pemohon II tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas kesejahteraan dan kebahagiaan dalam keluarganya.

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana telah dikemukakan diatas, maka permohonan para pemohon dikabulkan seluruhnya, dan karena permohonan ini adalah kepentingan para pemohon maka para pemohon dihukum untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini yang besarnya sebagaimana dalam amar penetapan.

C. Akibat Hukum Pemisahan Harta Bersama Dalam Perkawinan Campuran