BAB IV ANALISIS TERHADAP PEMISAHAN HARTA BERSAMA DALAM
A. Kasus Posisi
Kasus yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah kasus permohonan dengan Nomor.
381/Pdt.P/2015/PN.Tng dengan pemohon bernama :
I. Astrid Rosalina Broederick, Pemegang Kartu Tanda Penduduk No.
3674065209840014, berlaku sampi dengan 12 September 2017, umur 31 tahun, agama Islam, karyawan swasta, berlamat di Komp. Kedaung Hijau No. C-18, RT001 / RW005, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, selanjutnya disebut sebagai Pemohon I.
II. Darren Graham Broederick, Pemegang Passport Nomor E 4092692 berlaku sampai dengan 31 Oktober 2022, dan Kartu Ijin Tetap No. 2D41JE0076-N berlaku sampai dengan 12 Maret 2019, umur 49 tahun, agama Islam, Wiraswasta, berlamat di Komp.
Kedaung Hijau No. C-18, RT001 / RW005, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, selanjutnya disebut sebagai Pemohon II.
Para pemohon diwakili oleh Ratna Sari Hartono,S.H., Advokat pada RAA Legal Consultant, yang beralamat di Green Palace Apartment Tower Raffles 11/AA, Jl. Kalibata Raya no. 1, Jakarta Selatan-12750, berdasarkan Surat Kuasa Khusus terrtanggal 22 Juni 2015. Pengadilan Negeri tersebut telah membaca Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Tangerang Tanggal 1 Juli 2015 Nomor: 381/Pdt.P/2015/PN.TNG tentang penunjukan hakim yang memeriksa perkara tersebut. Telah membaca permohonan pemohon beserta surat-surat lainnya yang terdapat dalam berkas permohonan tersebut. Telah membaca
penetapan hari sidang. Telah mendengar keterangan para saksi, keterangan para pemohon serta memperhatikan surat-surat bukti yang diajukan oleh para pemohon.
Para pemohon telah mengajukan permohonannya tertanggal 23 Juni 2015 yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Tangerang tanggal 29 Juni 2015 dibawah Register Nomor 381/Pdt.P/2015/PN.TNG dengan alasan-alasan sebagai berikut. Bahwa perkawinan antara Astrid Rosalina Broederick dengan Darren Graham Broederick merupakan perkawinan campuran (mixed marriage) antara dua orang yang berbeda kewarnegaraan yang telah dilangsungkan di Kantor Catatan Sipil Stamford Grand, Glenelg Australia, pada tanggal 7 Juli 2007 sesuai dengan Akte Perkawinan (terjemahan) No. Registrasi 20104363 dan Kutipan Tanda Pelaporan nikah No. 470/21-DKCS/OA/2008 tertanggal 8 Oktober 2008 yang dikeluarkan oleh Pencatatan Sipil Kabupaten Tangerang.
Bahwa Para Pemohon mempunyai penghasilan masing-masing cukup menopang kehidupan baik untuk kepentingan pribadinya maupun keluarga, sehingga baik Pemohon I maupun Pemohon II tidak memerlukan bantuan di bidang ekonomi atau keuangan antara satu dengan yang lainnya, namun demikian dalam urusan keluarga Pemohon II tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas kesejahteraan keluarganya, membiayai semua kebutuhan rumah tangganya dan biaya sekolah anak-anaknya sesuai dengan kedudukannya sebagai kepala keluarga.
Bahwa seharusnya Para Pemohon membuat perjanjian perkawinan tentang pemisahan harta sebelum dilangsungkannya perkawinan, akan tetapi oleh karena kealpaan dan ketidaktahuan Para Pemohon sehingga baru sekarang Para Pemohon membuat perjanjian perkawinan tentang pemisahan harta. Bahwa Pemohon I dan Pemohon II telah dikaruniai 2 (dua) orang anak, sebagai berikut :
James Aditya Broederick, lahir di Australia, 13 Agustus 2008 sesuai dengan Passport no. A 5496096 , Akte Kelahiran No. 20416856 yang dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Australia.
Jessica Amelia Broederick, lahir si Singapura, 7 Juli 2014 sesuai dengan Passport No.
N 9639907, Akte Kelahiran No. T1420498E yang dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Singapura, Tanda Bukti Pelaporan Kelahiran No. 474.1/41-2014 Ke3I/CAPIL /P.
Bahwa hal tersebut sebagaimana dengan Pasal 186 KUH Perdata disebutkan bahwa
“Selama perkawinan, si isteri boleh mengajukan tuntutan akan pemisahan harta benda kepada Hakim, tetapi hanya dalam hal-hal …2e… dan guna segala apa yang menurut hakim menjadi hak isteri, akan menjadi kabur….”.
Bahwa hal tersebut juga dipertegas di dalam Pasal 139 KUH Perdata yang berbunyi :
“Para calon suami isteri dengan perjanjian kawin dapat menyimpang dari peraturan-peraturan undang-undang mengenai harta bersama asalkan hal itu tidak bertentangan dengan tata tertib umum dan diindahkan pula ketentuan-ketentuan berikut”.
Bahwa menurut Pasal 140 KUH Perdata yang berbunyi : “Perjanjian itu tidak boleh mengurangi hak-hak yang bersumber pada kekuasaan si suami sebagai suami, dan pada kekuasaan sebagai bapak, tidak pula hak-hak yang oleh undang-undang diberikan kepada yang masih hidup paling lama. Demikian pula perjanjian itu tidak boleh mengurangi hak-hak yang diperuntukkan bagi si suami sebagai kepala persatuan suami isteri;….namun hal ini tidak mengurangi wewenang isteri untuk mensyaratkkan bagi dirinya pengurusan harta kekayaan pribadi…., baik barang-barang bergerak maupun barang-barang tidak bergerak disamping penikmatan penghasilannya pribadi secara bebas. Mereka juga berhak untuk membuat perjanjian, bahwa meskipun ada golongan harta bersama, barang-barang tetap, surat-surat pendaftaran dalam buku besar
pinjaman-pinjaman Negara, surat-surat berharga lainnya dan utang-piutang yang diperoleh atas nama isteri, atau yang selama perkawinan pihak isteri jatuh kedalam harta bersama, tidak booleh dipindahtangankan atau dibebani oleh suaminya tanpa persetujuan isteri.
Bahwa perjanjian kawin adalah suatu perjanjian yang dibuat berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dan memiliki kekuatan yang mengikat keduanya, sebagaimana diterangkan oleh Pasal 1338 KUH Perdata: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku bagi sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Bahwa berdasarkan fakta-fakta dan perundang-undangan, pencatatan pemisahan harta benda dalam perkawinan pada Kantor Catatan Sipil dan/atau KUA dikategorikan sebagai Peristiwa Penting lainnya dan dapat dilakukan pelaporan serta pencatatannya oleh Pejabat Kantor Catatan Sipil dan/atau KUA dengan adanya penetapan pengadilan negeri yang telah memperoleh kekuatan hukum.
Bahwa menurut Pasal 1 Ayat (17) Undang-Undang No.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang berbunyi: “Peristiwa penting adalah kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, perubahan nama, dan perubahan status kewarnegaraan”. Bahwa menurut Pasal 56 Ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang administrasi Kependudukan yang berbunyi : “Pencatatan Peristiwa Penting lainnya dilakukan pejabat pencatatan sipil atas permintaan Penduduk yang bersangkutan setelah adanya penetapan pengadilan negeri yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. Bahwa untuk keperluan pencatatan pemisahan harta benda dalam perkawinan pada Pejabat pencatatan sipil diperlukan pennetapan pengadilan yang memiliki kewenangan untuk menerangkan suatu keadaan hukum tertentu.
Bahwa sebagai bahan pertimbangan, kasus yang sama telah diperiksa dan diputus oleh berbagai pengadilan negeri di Indonesia, yaitu:
a. Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, DKI Jakarta Nomor.
251/Pdt.P/2014/PN.Jkt.Pst. Tertanggal 25 November 2014 atas nama Julianan Wistarina dan Hiroaki Kuramitsu;
b. Penetapan pengadilan Negeri Jakarta Selatan, DKI Jakarta Nomor.
85/Pdt.P/PN.Jkt.Sel. Tertanggal 19 Maret 2015 atas nama Sri Wulandari dan Noel Morrow;
c. Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang, Nomor. 269/Pdt.P/2015/PN.Tng. Tertanggal 10 Juni 2015 atas nama Anita Andrita Dewi dan Stephen Georg Winkler.
Berdasarkan alasan-alasan sebagaimana disebutkan di atas, memohon kepada Ketua pengadilan Negeri Tangerang untuk dapat menerima dan mengabulkan Permohonan Penetapan Pengadilan untuk pemisahan harta benda dalam perkawinan campuran antara Astrid Rosalina Broderick dan Darren Graham Broederick, para Pemohon Seluruhnya.
Memutuskan, menyatakan pemisahan harta Pemohon I dan Pemohon II terhadap harta-harta yang akan timbul di kemudian hari tetap terpisah satu dengan yang lainnya, sehingga tidak lagi berstatus bersama, yang dapat dituangkan dalam satu kesepakatan tertulis dan diadakan dengan akta notariil yang selanjutnya akan didaftarkan di Pengadilan Negeri Tangerang. Memutuskan bahwa dalam urusan keluarga Pemohon II tetap bertanggug jawab sepenuhnya atas kesejahteraan keluarganya, membiayai semua kebutuhan rumah tangganya dan biaya sekolah anak-anaknya sesuai dengan kedudukannya sebagai kepala keluarga. Memutuskan, memerintahkan atau setidak-tidaknya memberikan kuasa kepada Pejabat/Pegawai Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tangerang untuk mencatatkan kesepakatan tertulis yang diadakan dengan
akta notariil pada catatan pinggir Akte Perkawinan Pemohon. Menetapkan biaya perkara menurut hukum.