HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pertumbuhan Sektoral
4.2 Analisis Hasil Kajian
4.2.1 Regulasi Kewenangan dan Implementasinya a) Penetapan Suku Bunga
Salah satu kewenangan dalam MOU Helsinki sesuai dengan Klausul 1.3.1 dan juga dicantumkan dalam UUPA adalah hak Pemerintah Aceh untuk mene-tapkan suku bunga sendiri. Petunjuk pelaksanaan dari klausul ini sendiri belum pernah dibuat baik oleh Pemerintah Aceh maupun oleh Pemerintah Pusat.
Pemberlakuan Qanun Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuan-gan Syariah yang mengatur kewajiban semua lembaga keuanKeuan-gan di Aceh untuk menggunakan sistem syariat dalam operasinya juga menjadi persoalan baru.
Perubahan sistem keuangan ini membutuhkan penyesuaian kembali terhadap aturan-aturan perbankan, termasuk mengenai suku bunga ini8.
b) Hak Memperoleh Dana melalui Utang Luar Negeri
Hak yang lain adalah untuk memperoleh dana pinjaman dari luar negeri.
Dalam MOU Helsinski Klausul 1.3.1 tertera bahwa Aceh memiliki Hak untuk memperoleh dana melalui utang luar negeri. Namun, Dalam Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA), Pasal 186 ayat 1 tertera bahwa, “Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat memperoleh pinjaman dari pemerintah yang bersumber dari luar negeri setelah mendapat persetujuan menteri keuan-gan dan mendapat pertimbankeuan-gan menteri dalam negeri.”
Dalam UUPA, Pasal 186 ayat 3 tertera juga bahwa “Ketentuan lebih lanjut mengenai dana pinjaman dari dalam dan/atau luar negeri serta bantuan luar negeri diatur dengan Qanun. Hingga saat ini belum ada Qanun atau petunjuk pelaksanaan lainnya yang mengatur tentang pinjaman luar negeri. Bahkan, da-lam Peraturan Pemerintah No.56 Tahun 2018, Pasal 4 ayat 1 tertera “daerah dila-rang melakukan pinjaman langsung kepada luar negeri”. Sebagai catatan, penga-turan mengenai pinjaman luar negeri yang harus memperoleh persetujuan dari
8 Mengacu pada Qanun No. 11/2018 Pasal 65, semua Lembaga Keuangan yang beroperasi di Aceh wajib menyesuaikan paling lama 3 (tiga) tahun sejak Qanun ini diundangkan.
menteri dalam negeri ini memiliki alasan agar menjaga solvabilitas daripada pemerintah daerah. Jika sebuah provinsi terlilit utang, hal ini dapat mempen-garuhi stabilitas keuangan di daerah yang pada akhirnya dapat mempenmempen-garuhi stabilitas keuangan secara nasional. Fakta sejarah menunjukkan bahwa masalah stabiltas keuangan dapat memunculkan serta memperbesar peluang terjadinya krisis keuangan dan krisis ekonomi.
c) Perdagangan Dalam Negeri dan Internasional
Hak Aceh lainnya dalam MoU Helsinki menyangkut perdagangan inter-nal dan internasiointer-nal. Dalam Klausul 1.3.2. MoU Helsinki tercantum bahwa, Aceh berhak melaksanakan perdagangan dan bisnis secara internal dan in-ternasional, serta mencari FDI. Dalam UUPA, Pasal 165 ayat 1 tertera bahwa
“Penduduk Aceh berhak melaksanakan perdagangan dan bisnis serta investa-si secara internal dan internainvesta-sional sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.” Berikutnya, dalam UUPA Pasal 166 tertulis “pemerintah pusat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan keringan pajak ekspor barang jadi dari Aceh, fasilitas investasi, dan lain-lain fasiltas fiskal yang diusulkan oleh Pemerintah Aceh.” Namun, belum ada Qanun ataupun petunjuk pelaksanaan lainnya yang mengatur tentang perdagangan serta keringanan pajak atau kuti-pan yang berhubungan dengan perdagangan atau investasi asing.
d) Pengelolaan Sumber daya Hayati Laut
Kewenangan Aceh yang lain adalah dalam hal mengelola sumber daya hayati laut Aceh. MoU Helsinki Klausul 1.3.3 menyatakan Aceh memiliki ke-wenangan untuk mengelola sumber daya hayati di wilayah laut Aceh. UUPA Pasal 162 memuat tentang pengelolaan perikanan dan kelautan.
Untuk melaksanakan kewenangan ini diperlukan Qanun dan Pergub yang mengatur tentang perizinan dan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan. Kemudian diperlukan qanun yang mengatur tentang pembagian ke-wenangan menyangkut pengelolaan perikanan dan kelautan antara Pemerintah
KAJIAN MOU HELSINKI DAN IMPLEMENTASI UUPA
78
Pusat, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
e) Penguasaan Cadangan Hidrokarbon dan Sumber daya Lainnya
Hak Aceh lainnya yang tertera dalam MoU Helsinki adalah hak men-guasai 70 persen hasil dari semua cadangan hidrokarbon dan sumber daya alam lainnya. Dalam MoU Klausul 1.3.4. tertera, Aceh memiliki hak untuk mengua-sai 70 persen hasil dari semua cadangan hidrokarbon dan sumber daya alam lainnya yang ada saat ini dan di masa datang di wilayah Aceh maupun wilayah laut Aceh. Dalam UUPA Pasal 181 memuat “Bagi hasil pertambangan umum bagi Aceh adalah 80 persen” dan “bagi hasil minyak dan gas adalah 70 persen.”
Sudah ada Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), namun regulasi lanjutan per-lu dipertegas dan otonom, hak sumber daya lainnya tentang kewenangan ini masih belum ada.
f) Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Laut dan Udara
Hak pembangunan dan pengelolaan pelabuhan laut dan udara merupa-kan hak Aceh lainnya dibidang ekonomi. Dalam MoU Helsinki pada Klausul 1.3.5. tercantum, “Aceh melaksanakan pembangunan dan pengelolaan pelabu-han laut dan udara.” Dalam UUPA Pasal 167 hingga Pasal 170 mengatur ten-tang pengembangan kawasan pelabuhan bebas Sabang. Pasal 169 dan Pasal 170 dalam UUPA juga mengatur tentang pelimpahan kewenangan penerbitan per-izinan yang diperlukan untuk pengembangan kawasan Sabang. Kemudi-an, dalam UUPA Pasal 172 mengatur tentang pembangunan dan pengelolaan pelabuhan laut dan udara di Aceh.
Untuk melaksanakan kewenangan ini diperlukan regulasi lanjutan dan atau qanun atau petunjuk pelaksanaan tentang penerbitan perizinan berkenaan yang berkenaan dengan kawasan pelabuhan bebas Sabang. Diperlukan regulasi lanjutan dan atau qanun yang mengatur tentang pembangunan dan pengem-bangan pelabuhan laut dan udara yang ada di Aceh. Diperlukan pula regulasi lanjutan dan atau qanun yang mengatur tentang pembangunan dan
pengem-bangan pelabuhan serta wewenang menerbitkan perizinan di pelabuhan-pela-buhan selain kawasan pelapelabuhan-pela-buhan bebas Sabang, seperti pelapelabuhan-pela-buhan Krueng Geu-kuh dan Kuala Langsa.
g) Transparansi Pengumpulan dan Pengalokasian Pendapatan
Dalam MOU Helsinki tertera perihal yang menyangkut transparansi da-lam pengumpulan dan pengalokasian pendapatan antara pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh. Klausul 1.3.8 mencantumkan “Pemerintah RI bertekad menciptakan transparansi dalam pengumpulan dan pengalokasian pendapatan antara Pemerintah Pusat dan Aceh dengan menyetujui auditor luar melakukan verifikasi atas kegiatan tersebut dan menyampaikan hasil-hasilnya kepada kepa-la pemerintahan Aceh.”
Dalam kaitan ini, diperlukan peraturan penunjang yang menjelaskan me-kanisme yang dapat menjamin transparansi dalam pengumpulan adan pengalo-kasian pendapatan antara pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh. Diperlukan pula peraturan penunjang yang menyertakan auditor eksternal untuk menja-min transparansi perhitungan pembagian pendapatan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh, serta mendefinisikan secara lebih rinci tentang “auditor luar”. Dibutuhkan pengaturan tentang mekanisme proses verifikasi transparan-si pengumpulan dan pengalokatransparan-sian pendapatan antara pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh.
Sebagai sebuah Undang-Undang, UUPA merupakan suatu bentuk kebija-kan nasional yang lahir untuk mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Aceh sesuai dengan kerangka MoU Helsinki. Kini, sudah hampir 13 tahun MoU Helsinki diimplementasi melalui UUPA. Harus diakui, banyak perkembangan dan kemajuan yang telah terjadi terutama dari aspek ekonomi dan kesejahter-aan masyarakat. Sungguhpun demikian, setidaknya masih terdapat butir-butir MoU yang belum kunjung terealisasi sesuai yang dijanjikan.
Dibutuhkan langkah-langkah konkret terutama dari Pemerintah Pusat untuk merealisasikan seluruh isi perdamaian yang telah disepakati.
Memasti-KAJIAN MOU HELSINKI DAN IMPLEMENTASI UUPA
80
kan seluruh kebijakan dapat berjalan dengan baik dengan membuat pedoman teknis pelaksanaan dari seluruh kesepakatan tersebut. Dengan demikian, mani-festasi dari ketulusan dan iktikad baik dalam memastikan tegaknya seluruh per-janjian tersebut akan mendorong lahirnya perdamaian abadi di Aceh.
Butir-butir yang belum terakomodir dan juga bertentangan dengan isi batang tubuh UUPA tersebut antara lain: