Bab IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN
B. Analisis hasil penelitian :
1. Analisa penentuan dan pengakuan pendapatan
Perusahaan ini mengakui pendapatan dari proyek yang dikerjakan ini dengan menggunakan metode persentase penyelesaian. Hal ini tentu saja tidak bertentangan dengan teori, bahkan menurut penulis metode inilah yang paling tepat karena prestasi berkala perusahaan diperlihatkan dalam laporan laba rugi perusahaan. Dimana dalam pengerjaan proyek membutuhkan waktu lebih dari satu tahun, perusahaan tidak menunggu sampai proyek selesai dikerjakan baru mengakui pendapatan dari proyek tersebut, karena apabila hal ini dilakukan, perhitungan laba rugi perusahaan tidak dapat mencerminkan hasil operasi perusahaan secara layak dan wajar.
Perusahaan mengakui pendapatan berdasarkan kemajuan fisik proyek yang dilaksanakan. Metode persentase penyelesaian ditentukan dengan ukuran hasil (output measures) pada hasil kemajuan yang dicapai secara fisik.
Alasan perusahaan untuk mengukur persentase penyelesaian proyek dengan ukuran hasil fisik adalah karena metode inilah yang paling sesuai dengan keadaan atau kondisi yang dihadapi dalam mengerjakan suatu proyek. Memang diakui bahwa dengan menggunakan metode ini bisa saja terjadi kesalahan penaksiran yang ada pada akhirnya mengakibatkan ketidak wajaran laporan laba rugi, tetapi perusahaan menjelaskan bahwa hal tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi dan kalaupun terjadi jumlahnya akan relatif kecil sehingga tidak sampai membuat laporan laba rugi tidak wajar, mengingat perusahaan mempunyai tenaga-tenaga ahli dan berpengalaman.
Sebaliknya apabila perusahaan menggunakan metode ukuran masukan (metode biaya ke biaya) sering terjadi biaya untuk menyelesaikan proyek ini maupun proyek lainnya menjadi tidak tepat disebabkan hal-hal diluar kuasa perusahaan, seperti naiknya harga bahan secara drastis karena minimnya persediaan bahan dipasar. Hal ini sering terjadi pada bahan aspal dan semen. Penyebab lainnya adalah keadaan alam yang tidak sesuai dengan yang diperkirakan semula, misalnya cuaca yang terus menerus buruk sehingga pelaksanaan pekerjaan atau proyek terganggu yang pada akhirnya memperbesar biaya pelaksanaan proyek. Memang diakui revisi taksiran biaya penyelesaian dapat saja dilakukan perusahaan tetapi apabila faktor-faktor yang mempengaruhi biaya penyelesaian tersebut sering berubah-ubah secara drastis maka hal tersebut tentu sangat merepotkan perusahaan dalam hubungannya dengan pembuatan revisi taksiran biaya penyelesaian.
Pengakuan pendapatan yang dibuat setiap akhir tahun pada suatu proyek akan sangat membantu manajemen menilai dan mengevaluasi tingkat kemajuan proyek yang telah dicapai, walaupun akan menambah pekerjaan yang dilakukan.
Namun demikian hal tersebut tidak menyalahi teori. Total pendapatan yang diakui setiap akhir tahun harus sama dengan yang diakui pada tahun tersebut.
Menurut penulis penggunaan metode pengukuran penyelesaian atas dasar ukuran hasil (output measures) yang dilakukan setiap akhir tahun oleh perusahaan dapat diterima dengan alasan yang wajar dan yang penting diingat bahwa metode yang dipilih itu tidak melanggar teori dan prinsip akuntansi yang lazim, dalam hal ini Standar Akuntansi Keuangan yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hasil penelitian, perusahaan juga memperoleh pendapatan diluar usaha konstruksi. Pendapatan tersebut dalam laporan laba rugi digolongkan ke dalam pendapatan lain-lain. Pemisahan pendapatan dari dari operasi normal dengan pendapatan diluar operasi normal yang dibuat perusahaan adalah sangat tepat karena dengan demikian memakai laporan laba rugi akan memperoleh gambaran yang baik mengenai kegiatan perusahaan bila dibandingkan kedua golongan pendapatan tersebut disatukan.
Pengakuan pendapatan sampai dengan penerimaan pembayaran piutang yang dibuat perusahaan pada prinsipnya sama dengan teori yang dijelaskan pada bab II, kecuali dalam hal perusahaan membuat suatu nama perkiraan prestasi kerja belum ditagih. Perkiraan ini dibuat untuk menampung pendapatan yang sudah diakui tetapi belum dapat ditagih ke pemberi kerja. Perlakuan demikian menyebabkan timbulnya nama perkiraan tersebut dalam golongan piutang pada neraca sebesar penahanan (retention money) yang dilakukan oleh pemberi kerja sesuai dengan isi perjanjian kontrak. Piutang yang ditagih adalah sebesar perkiraan piutang usaha konstruksi yang didebet dengan mengkredit prestasi pekerjaan yang belum ditagih
Secara teori pada metode persentase penyelesaian maupun metode kontrak selesai, jurnal-jurnal yang dibuat tidak sama dengan yang terdapat pada perusahaan. Pengakuan pendapatan dijurnal dengan mendebet perkiraan konstruksi dalam proses dan biaya konstruksi dan mengkredit perkiraan pendapatan. Pada saat dilakukan penagihan, nama perkiraan prestasi pekerjaan belum ditagih tidak akan terlihat di laporan laba rugi. Dibuatnya nama perkiraan ini adalah untuk mengetahui besarnya piutang usaha yang telah ditagih ke pemberi kerja.
Berdasarkan sistem pencatatan pengakuan pendapatan yang dibuat oleh perusahaan bila dibandingkan dengan teori, tidak akan menyebabkan berbedanya pendapatan yang diakui perusahaan pada laporan laba rugi sesuai dengan estimasi yang dibuat oleh pemberi kerja.
2. Analisa penentuan dan pengakuan biaya
Secara umum biaya dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok yaitu biaya yang dapat dihubungkan langsung dengan pendapatan dan biaya-biaya yang berhubungan dengan periode terjadinya. Adapun biaya yang berhubungan langsung dengan pendapatan adalah harga pokok penjualan, biaya komisi, dan lain-lain. Sedangkan biaya yang berhubungan dengan periode terjadinya adalah biaya gaji kantor, biaya penyusutan, biaya administrasi dan umum dan biaya lainnya.
PT. Sibacipta Telekomindo mengklasifikasikan biaya kedalam dua golongan yaitu biaya proyek dan biaya umum dan administrasi. Biaya proyek terdiri dari bahan baku, biaya tenga kerja, biaya operasional dan biaya transport. Sedangkan biaya umum dan administrasi terdiri dari biaya gaji kantor, biaya perjalanan, air, listrik dan lainnya. Penentuan biaya ini berkaitan erat dengan jumlah pendapatan yang akan diakui dalam periode berjalan karena penggunaan metode persentase penyelesaian.
Penentuan ini juga berhubungan dengan besarnya laba kotor yang akan diakui dalam suatu proyek.
Dalam pengklasifikasian biaya, apakah suatu biaya digolongkan kepada biaya langsung proyek atau merupakan biaya umum dan administrasi, perusahaan belum melakukannya dengan teliti. Hal ini dapat dilihat dari biaya penyusutan sarana dan peralatan yang digunakan untuk pekerjaan suatu kontrak digolongkan kepada umum dan administrasi. Menurut PSAK No.34 jenis biaya ini merupakan biaya langsung proyek. Kekeliruan dalam masalah penggolongan biaya akan mempengaruhi secara langsung besarnya laba yang akan diakui pada periode yang bersangkutan.
Pengakuan biaya yang dilakukan oleh perusahaan seiring dengan penggunaan barang dan jasa. Khususnya untuk biaya penyusutan aktiva tetap, perusahaan mengalokasikannya secara sistematis dan rasional. Untuk jenis-jenis biaya yang merupakan biaya bersama, perusahaan belum melakukan suatu pembebanan yang tepat untuk jenis biaya ini, misalnya saja dalam pembebanan biaya listrik. Untuk biaya listrik, seluruh biaya ini dibebankan pada bagian umum dan administrasi. Padahal biaya listrik ini sebahagian juga merupakan proyek. Akibat dari kesalahan pembebanan ini maka biaya proyek akan berkurang jumlahnya, yang akibatnya mempengaruhi besarnya laba kotor yang akan diakui.
Dalam akuntansi harus diadakan suatu perbandingan yang layak untuk biaya-biaya yang sifatnya merupakan biaya-biaya bersama. Dalam hal ini biaya-biaya listrik, perusahaan hendaknya melakukan suatu perbandingan yang layak antara biaya listrik untuk umum dan administrasi serta biaya listrik untuk proyek. Demikian juga halnya dengan penyusutan untuk aktiva tetap harus dialokasikan kedalam biaya umum dan administrasi serta biaya proyek.
Perusahaan dalam hal pengakuan biaya menggunakan metode accrual basis, dimana dengan menggunakan ini biaya sudah dapat diakui walaupun belum terjadi atau tidak terjadi pengeluaran kas atau setara dengan kas. Contoh biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas ataupun setara dengan kas adalah biaya penyusutan. Untuk kewajaran laporan keuangan maka biaya-biaya tersebut juga harus diadakan pisah batas yang layak antara biaya-biaya untuk periode berjalan dengan biaya-biaya untuk periode berjalan dengan biaya untuk periode berikut.
Penggunaan metode akrual basis juga sudah tepat karena walaupun belum terjadi pengeluaran kas atau setara dengan kas, biaya sudah dapat diakui untuk periode berjalan. Dalam hal ini perusahaan harus konsisten dalam menggunakan metode akrual basis untuk menentukan dan mengakui pendapatan dan biaya.
3. Analisa penentuan laba konstruksi pada PT Sibacipta Telekomindo Besarnya laba yang akan diakui oleh perusahaan tidak terlepas dari besarnya pendapatan dan biaya yang terjadi pada periode tersebut. PT
Sibacipta Telekomindo mengakui laba konstruksi dengan cara mengurangkan pendapatan yang diperoleh dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan selama suatu periode tertentu. Selisih yang timbul merupakan laba atau rugi pada periode tersebut. Jika selisih tersebut positif maka yang timbul adalah laba dan sebaliknya, jika selisih tersebut adalah negatif maka yang timbul adalah rugi.
Dalam mengakui laba, perusahaan juga menggunakan metode akrual basis. Menurut penulis metode yang digunakan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau biasa digunakan oleh para profesi akuntan.
Dalam penyajian laporan laba rugi, perusahaan menggunakan konsep all inclusive, dimana semua pendapatan dan biaya baik yang berasal dari operasi normal perusahaan maupun yang tidak ada hubungannya dengan operasi normal perusahaan dimasukkan kedalam perhitungan laba rugi perusahaan.
Jurnal penentuan laba merupakan hasil proses pencatatan pengakuan pendapatan dan pencatatan penentuan beban, maka pada dasarnya jurnal pencatatan laba yang
dibuat perusahaan adalah berbeda dengan jurnal penentuan laba yang seharusnya menurut teori pada usaha jasa konstruksi metode persentase penyelesaian. Walaupun demikian, dengan praktek yang dibuat perusahaan juga akan menghasilkan laporan laba rugi yang sama dengan jika digunakan metode pencatatan sesuai dengan teori.
Menurut penulis, konsep penyajian laba yang dianut oleh perusahaan adalah tepat karena dengan konsep ini pengguna laporan keuangan akan mengetahui berapa besar laba yang dihasilkan dari operasi normal perusahaan dan berapa besar laba yang diperoleh dari operasi yang tidak ada hubungannya dengan operasi normal perusahaan.
Sehubungan dengan penentuan laba ini, Ikatan Akuntan Indonesia juga mengatakan bahwa konsep yang digunakan di Indonesia adalah konsep All Inclusive, dalam konsep all inclusive laba didefinisikan sebagai total perubahan dalam kepemilikan yang diakui dengan mencatat transaksi atau revaluasi perusahaan selama periode tertentu, kecuali untuk distribusi deviden, dan transaksi modal. Dalam konsep ini pendapatan atau biaya yang diakui bukan hanya yang berasal dari operasi normal perusahaan saja tetapi juga termasuk didalamnya yang bersifat luar biasa (extra ordinary).
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2004: No.25 Paragraf 52) sebagai berikut :
Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut ; a. laba atau rugi dari aktivitas normal ; dan
b. pos luar biasa
Ad. a. setiap aktivitas yang dilakukan oleh sebuah perusahaan sebagai bagian dari usahanya dan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan usaha utama perusahaan tersebut ( 2004 : 25 : 06).
Ad. b. penghasilan atau beban yang timbul dari kejadian atau transaksi yang secara jelas berbeda dari aktivitas normal perusahaan dan karenanya tidak diharapkan untuk sering kali terjadi secara teratur ( 2004 : 25 : 06 ).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab-bab terdahulu khususnya bab empat, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengakuan pendapatan dan biaya pada PT. Sibacipta Telekomindo telah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan nomor 34 tentang akuntansi jasa konstruksi namun perusahaan belum melakukan dengan tepat penggolongan biaya seperti biaya penyusutan sarana dan prasarana dan peralatan yang digunakan untuk pekerjaan suatu kontrak yang merupakan biaya proyek tetapi dimasukkan ke biaya umum dan administrasi
2. Perusahaan mengakui pendapatan setiap akhir tahun atau akhir periode akuntansi dengan menggunakan metode persentase penyelesaian bukan dengan metode kontrak selesai. Persentase penyelesaian diukur dengan menggunakan ukuran hasil (output measures) bukan berdasarkan metode biaya ke biaya ( cost to cost).
3. Untuk jenis biaya yang merupakan biaya bersama, perusahaan masih kurang memperhatikan pengalokasian atau pembebanan biaya tersebut kedalam biaya proyek atau biaya umum dan administrasi. Akibat dari kesalahan pembebanan ini akan mempengaruhi besarnya laba kotor yang akan diakui.
4. Metode pengakuan dan penentuan laba yang digunakan adalah all inclusive concept, yaitu pendapatan yang diperoleh dibandingkan dengan total biaya yang terjadi selama periode akuntansi tersebut selisihnya merupakan laba atau rugi periode bersangkutan.
Berdasarkan kesimpulan yang sudah diuraikan, penulis akan memberikan saran-saran yang menyangkut perusahaan yang diharapkan dapat berguna untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada perusahaan dalam batas kemampuan penulis.
1. Dalam penggolongan biaya harus dilakukan dengan lebih teliti apakah suatu biaya merupakan biaya proyek atau merupakan biaya umum dan administrasi, misalnya saja biaya penyusutan peralatan proyek digolongkan sebagai biaya umum dan administrasi. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 34 biaya penyusutan peralatan proyek ini seharusnya digolongkan ke dalam biaya proyek, hal ini perlu diperhatikan agar pendapatan, biaya diakui menunjukkan keadaan yang sebenarnya dari perusahaan.
2. Untuk biaya-biaya yang sifatnya merupakan biaya bersama, misalnya saja dalam pengalokasian biaya listrik, untuk biaya listrik seluruh biaya ini dibebankan pada bagian umum dan administrasi, padahal biaya listrik ini sebahagian juga merupakan biaya proyek. Perusahaan hendaknya membuat suatu alokasi yang layak untuk biaya tersebut karena biaya itu harus dibebankan pada biaya yang dikerjakan dan biaya umum dan administrasi. Hal ini perlu dilakukan dengan teliti karena berhubungan langsung dengan laba kotor yang diakui
DAFTAR PUSTAKA
Carter, William. K, 2009, Akuntansi Biaya, Edisi 14, Alih bahasa: Krista, Salemba Empat, Jakarta.
Dyckman, Thomas R, Roland E. Dukes, and Charles J. Davis, 2000. Akuntansi Intermediate, Edisi ketiga, Alih bahasa : Munir Ali, Erlangga, Jilid I, Jakarta. Harnanto, 2002. Akuntansi Keuangan Menengah, Buku I, Cetakan keempat, Liberty,
Yogyakarta.
Hendriksen, Eldon S, 1999, Teori Akuntansi, Edisi keempat, terjemahan Gunawan Hutahuruk, Erlangga, Jakarta.
Husein, Umar, 2000. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis, Edisi Baru, Cetakan Ketiga, PT.Raja Grafindo Persada.
Kieso, Donald E, Jerry J. Weygandt, and Terry D. Warfield, 2002. Akuntansi Intermediate, Edisi Kesepuluh, Alih bahasa : Herman Wibowo dan Ancella A. Hermawan, Erlangga, Jilid III, Jakarta.
Skousen, K. Fred, 2001, Akuntansi Intermediate, Alih bahasa: Nugroho Widjajanto, Buku Satu, PT. Dian Mas Cemerlang, Jakarta.
Soemarso S.R, 2009. Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi Revisi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan Per 1 Oktober 2004, Penerbit Salemba Empat, Jakarta
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2004. Buku Petunjuk Teknik Penulisan Proposal, Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan