BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4. Analisis
Untuk membahas, mengolah serta menganalisi data yang telah dikumpulkan akan digunakan Analisis SWOT sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Dengan analisis itu, digunakan untuk: Pertama, menilai lingkungan eksternal. Kedua, melakukan analisis yang cermat dengan menggabungkan faktor-faktor di atas untuk mengidentifikasi isu-isu strategis yang perlu dikembangkan oleh organisasi, membangun kekuatan dan mengambil keuntungan dari peluang seraya meminimalkan atau mengatasi kelemahan dan ancaman.
Faktor internal merupakan faktor yang dikontrol oleh organisasi sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang tidak dikontrol oleh organisasi. Faktor internal meliputi kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weaknesses) dan faktor eksternal meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Untuk mengenali kekuatan dan kelemahan internal, organisasi dapat memantau sumber daya (resources), strategi sekarang (present strategy/process), dan kinerja (performance) sedangkan untuk
mengenali peluang dan ancaman eksternal, organisasi dapat memantau tren yang ada (trends), permintaan pasar (market demand) dan saingan (competitor).
Mengacu kepada pendapat di atas, berkaitan dengan fokus dalam penelitian ini dan berdasarkan data yang dapat dihimpun selama dilapangan yang terkait dengan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Toba Samosir, maka perlu untuk melakukan identifikasi terhadap faktor-faktor internal dan eksternal. Selanjutnya dapat diketahui isu-isu strategis yang dihadapi oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Toba Samosir dalam rangka menyusun strategi yang tepat untuk meningkatkan pajak daerah , khususnya yang sesuai dengan fokus penelitian yaitu mengenai pajak hotel, adalah dengan membangun kekuatan dan mengambil keuntungan dari peluang seraya meminimalkan atau mengatasi kelemahan dan ancaman.
4.4.1. Lingkungan Internal a. Kekuatan
Kekuatan adalah merupakan salah satu bagian dari faktor internal yang berhubungan dengan fokus penelitian. Berikut ini akan dibahas faktor-faktor yang merupakan bagian dari kekuatan yang dimiliki DPPKKD dalam menemukan strategi yang tepat dalam rangka meningkatkan pajak hotel, yaitu:
1. Tingkat pendidikan pegawai yang memadai.
Pada hakikatnya setiap perkembangan suatu organisasi mengacu pada usaha untuk meningkatkan kualitas Sumber kerjanya. Jika kita lihat beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan oragnisasi maka faktor sumber daya manusia tetap merupakan faktor yang paling penting. Dalam hal ini tenaga kerja yang ada mempengaruhi, karena bil tenaga kerja yang digunakan dalam kemampuan terbatas maka produktivitas juga akan terbatas seiring dengan kemampuan dan kualitasnya.
Dalam penerimaan CPNS, kualifikasi CPNS yang dibutuhkan untuk memangku suatu posisi sangat memperhatikan tingkat pendidikan dan kemampuan yang bersangkutan, karena dengan semakin tinggi tingkat pendidikan seorang CPNS, maka dia diharapkan memiliki pengetahuan atau wawasan yang lebih luas. Secara umum dapat dikatakan tingkat pendidikan dapat mencerminkan kemampuan intelektual dan jenis keterampilan yang dimiliki oleh pegawai tersebut. Sudah menjadi kebiasaan dan hal yang umum bahwa jenis-jenis dan tingkat pendidikan pegawai yang biasa digunakan untuk mengukur dan menilai kemampuan pegawai.. Mungkin juga masih ada dan banyak hal lain yang mempengaruhi kemampuan seorang pegawai selain tingkat pendidikan, artinya bahwa seseorang yang memiliki tingkat kemampuan intelektual yang tinggi tidak mengecap pendidikan yang tinggi.
Hal ini ternyata juga telah disadari dan menjadi suatu kebutuhan pokok di DPPKKD Kabupaten Toba Samosir, dimana DPPKKD menyadari bahwa pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan pengembangan pegawai dengan cukup baik dan permintaan penempatan Pegawai pada DPPKKD dengan pendidikan minimal lulusan menengah atas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Toba Samosir didapat:
“…Dalam tiga tahun belakangan ini, Pemda telah melakukan penerimaan CPNS dari umum dengan syarat minimal sarjana. Khusus untuk CPNS yang akan ditempatkan ke DPPKKD, semuanya merupakan sarjana ekonomi. Begitu pula para staf yang belum sarjana kita upayakan minimal lulusan menengah atas. Disamping itu kita juga melakukan peningkatan kemampuan pegawai dengan pelatihan-pelatihan atau studi banding ke berbagai daerah yang kita anggap kemampuan pegawainya lebih baik dari pada kita. Contohnya, tahun 2008 lalu kita studi banding ke Kabupaten Sragen. Hal ini perlu terus kita lakukan untuk meningkatkan kemampuan pegawai, karena beban kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan di DPPKKD lebih tinggi dari satker lainnya...”
Gambaran mengenai hal ini dapat dilihat pada bagan 4.4. (Hal: 67). Berdasarkan bagan tersebut diketahui bahwa pegawai pada DPPKKD Kab. Toba Samosir terdiri sebagian besar telah berpendidikan tinggi dimana 2 (dua) diantaranya adalah lulusan pasca sarjana atau sebesar 8%, kemudian ada 11 (sebelas) orang yang lulusan sarjana atau sebesar 46%, dan 1 (satu) orang merupakan lulusan Diploma atau sebesar 4% sedangkan sisanya 10 (sepuluh) orang lagi berpendidikan menengah yaitu sebesar 42%.
2. Jumlah Pegawai yang mencukupi.
Tingkat pendidikan yang mencukupi namun dengan jumlah SDM yang sedikit tetap tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Namun hal ini tidak terjadi pada DPPPKKD Kabupaten Toba Samosir. Luas wilayah yang cukup besar mengharuskan DPPKKD memenuhi kebutuhan akan pegawainya, disamping beban kerja yang cukup banyak.
Tabel 4.4. dan 4.5. (Hal: 61-62) telah memberikan gambaran jumlah pegawai pada DPPKKD Kabupaten Toba Samosir. Dengan jumlah pegawai sebanyak 52 orang dan honorer sebanyak 21 orang, Kepala DPPKKD merasa jumlah tersebut telah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada di DPPKKD. Kepala DPPKKD mengatakan bahwa dengan jumlah yang ada saat ini koordinasi antar pegawai masih mudah untuk dilakukan, Kepala DPPKKD mengkhawatirkan apabila jumlah ini ditambah lagi justru akan menyulitkan koordinasi dan pengawasan terhadap seluruh pegawai, berikut hasil wawancaranya:
”...jumlah pegawai yang sekarang saya rasa cukup, karena dengan jumlah yang lebih besar sekalipun tidak akan menjamin pekerjaan itu dapat terselesaikan dengan lebih baik. Selain itu apabila jumlah pegawai lebih besar lagi hal itu akan menyulitkan saya dan beserta kepala bidang untuk melakukan pengawasan dan penilaian terhadap masing-masing pegawai. Saya optimis dengan kualitas pendidikan pegawai di DPPKKD, jumlah yang ada sekarang dapat memberikan hasil yang maksimal.”
3. Tersedianya anggaran yang cukup.
Tersedianya anggaran yang mencukupi akan memungkinkan organisasi untuk mengembangkan dirinya, termasuk di dalamnya pemberian insentif kepada para pegawai. Insentif dimaksud dapat meningkatkan motivasi kerja pegawai dalam pelaksanaan tupoksinya. Sekaitan dengan DPPKKD Kabupaten Toba Samosir, dana operasional yang tersedia setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Bagan 4.5.
Jumlah Anggaran DPPKKD Tahun 2008-2010
34.984.051.588 36.697.825.900 46.375.780.000 0 5.000.000.000 10.000.000.000 15.000.000.000 20.000.000.000 25.000.000.000 30.000.000.000 35.000.000.000 40.000.000.000 45.000.000.000 50.000.000.000 Ju m lah A n g g ar an 2008 2009 2010 Tahun Anggaran Sumber: DPPKKD, Tahun 2010
Berdasarkan bagan di atas dapat dilihat bahwa dana operasional DPPKKD Kabupaten Toba Samosir pada 3 (tiga) tahun terakhir selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 anggaran DPPKKD mengalami peningkatan sebesar Rp 1.713.774.321,- atau sekitar 4,66% dari tahun sebelumnya. Bahkan pada tahun 2010 ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar Rp 9.677.954.100,- atau sekitar 20,86% dari tahun 2009.
Hasil wawancara dengan Kepala DPPKKD diperoleh bahwa:
”..Saya tidak bisa mengatakan anggaran yang tersedia saat ini cukup, namun saya juga tidak mengatakan kurang. Sudah sepantasnya DPPKKD membutuhkan anggaran yang cukup besar setiap tahunnya, karena Dinas ini adalah ujung tombak dari keberlangsungan sistem pemerintahan Kabupaten Toba Samosir, atau bisa dikatakan inilah dapur Pemerintah Kabupaten Toba Samosir. Oleh karena itu setiap tahunnya kita membutuhkan anggaran yang cukup besar agar dapat membiayai segala kegiatan yang kita programkan. Namun puji syukur dengan anggaran yang tersedia selama ini, telah dapat
membiayai program-program yang kita rencanakan, untuk memperoleh sumber-sumber dana guna pembiayaan segala kegiatan Pemerintah
Kabupaten Toba Samosir.”
Dengan adanya anggaran yang memadai, maka diharapkan DPPKKD dapat lebih kreatif dan inovatif dalam merencanakan program kegiatan yang akan dilaksanakan sehingga memberikan hasil akhir, PAD yang terus bertambah..
4. Sarana dan Prasarana yang memadai.
Sarana dan prasarana merupakan unsur penunjang yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi. Setiap pekerjaan yang akan dikerjakan senantiasa membutuhkan suatu sarana maupun prasarana. Semakin lengkap ketersediaan sarana dan prasarana maka akan semakin mudah pula suatu organisasi untuk menyelesaikan segala bentuk pekerjaannya.
DPPKKD yang merupakan salah satu instansi ”bonafit” di Kabupaten Toba Samosir senantiasa harus melengkapi seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Berdasarkan tabel 4.6. (Hal: 63) dapat kita lihat bahwa dengan jumlah pegawai sebanyak 52 orang dan 21 orang honorer, sarana dan prasarana yng tersedia dirasa telah mencukupi. Sepeda motor sebanyak 23 unit, Komputer 23 unit, labtop 18 unit, Meja 76 set, Printer 31, kursi 74 unit serta mobil dinas 2 unit telah menggambarkan ketercukupan sarana dan prasarana yang tersedia pada DPPKKD.
Kepala Bidang Pendapatan dalam hasil wawancara juga sependapat dengan hal tersebut, bahwa dalam hal memungut pajak daerah dan retribusi daerah bidang pendapatan tidak mengalami kendala yang cukup berarti dalam hal ketersediaan
sarana dan prasarana. Berikut petikan hasil wawancara dengan Kepala Bidang Pendapatan:
”...khusus dalam hal sarana dan prasarana saya merasa Dinas ini termasuk yang paling lengkap sarana dan prasarananya. Jumlah sepeda motor yang 23 unit memudahkan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah dari wajib pajak. Kita tidak perlu lagi harus menggunakan kendaraan pribadi pegawai ataupun harus bersusah payah menggunakan angkutan umum. Demikian juga di kantor, tidak ada masalah dengan sarana dan prasarana.”
Ketersediaan sarana dan prasarana merupakan modal pokok dari DPPKKD dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing bidang maupun seksi. Walaupun dalam beberapa hal masih ada kekurangan namun secara umum sarana dan prasana yang tersedia dirasa telah mencukupi dalam pelaksanaan kerja sehari-hari.
5. Adanya insentif pegawai
DPPKKD merupakan salah satu dari tiga SKPD di Kabupaten Toba Samosir yang dianggap “basah” dalam arti tingginya tingkat kesejahteraan pegawai dihubungkan dengan insentif yang mereka terima. Hal ini dilakukan karena bebam kerja yang ada di DPPKKD dianggap lebih berat daripada SKPD lain yang ada di kabupaten Toba Samosir. Selain itu DPPKKD juga dianggap rawan untuk terjadinya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), maka untuk mecegah terjadinya hal tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Toba Samosir memberikan insentif kepada seluruh pegawai yang ada di DPPKKD.
Insentif adalah penghasilan tambahan atau penghargaan dalam bentuk uang yang diberikan kepada mereka yang dapat bekerja melampaui standar yang ditentukan. Insentif diberikan kepada pegawai bertujuan untuk memberikan tanggungjawab dan dorongan kepada karyawan untuk meningkatkan produktivitas atau atas beban kerja yang dikerjakannya yang melebihi standar yang telah ditentukan bagi individu maupun kelompok (Panggabean, 2002).
Secara spesifik tujuan pemberian insentif adalah dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
A. Bagi Perusahaan
Tujuan dari pemberian insentif dalam perusahaan khususnya dalam kegiatan produksi adalah untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan dengan jalan mendorong/merangsang agar karyawan:
a. Bekerja lebih bersemangat dan cepat b. Bekerja lebih disiplin
c. Bekerja lebih kreatif B. Bagi Karyawan
Adanya insentif maka karyawan akan mendapat keuntungan berupa: a. Standar prestasi dapat diukur secara kuantitatif
b. Standar prestasi di atas dapat digunakan sebagai dasar pemberian balas jasa yang diukur dalam bentuk uang
Atas dasar tujuan pemberian insentif diatas pula, DPPKKD memberikan insentif setiap bulannya kepada seluruh pegawai. Besarnya insentif yang diberikan berbeda-beda berdasarkan jabatan dan pangkat yang bersangkutan. Secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7.
Besar Insentif Pegawai pada DPPKKD Kabupate Toba Samosir
Jabatan Jumlah Insentif/bulan
Kepala Dinas Sekretaris Kepala Bidang Kepala Sub Bidang
Staf Gol. III Staf Gol II Rp 2.250.000,- Rp 1.750.000,- Rp 1.500.000,- Rp 1.000.000,- Rp 750.000,- Rp 500.000,- Sumber: DPPKKD Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010
Berdasarkan tabel di atas maka insentif yang diterima Kepala Dinas adalah sebesar Rp 2.250.000/bulan, Sekretaris sebesar Rp 1.750.000/bulan, Kepala Bidang sebesar Rp 1.500.000/bulan, Kepala Seksi sebesar Rp 1.000.000/bulan, staf golongan III sebesar Rp 750.000/bulan dan staf golongan II sebesar Rp 500.000/bulan. Besarnya insentif yang diterima setiap bulan oleh pegawai DPPKKD diharapkan dapat meningkatkan motivasi kerja pegawai yang merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki suatu organisasi serta menghindarkan terjadinya praktek-praktek KKN.
Hasil wawancara dengan Sekretaris DPPKKD Kabupaten Toba Samosir diperoleh bahwa:
”...insentif yang diberikan kepada seluruh pegawai di DPPKKD dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, walaupun harus kita akui peningkatan yang terjadi tidak terlalu signifikan, karena disesuaikan dengan anggaran yang ada. Hal ini terus kita upayakan karena selain untuk memotovasi pegawai juga
dibutuhkan untuk mensejahterakan pegawai yang ada di DPPKKD yang nantinya kita harapkan tidak terjadi lagi penyimpangan-penyimpangan dalam pekerjaan yang sering terjadi di lapangan.”
h. Kelemahan
1. Kurangnya penegakan sanksi
Penegakan sanksi yang tidak tegas terhadap para wajib pajak merupakan peluang terjadinya kebocoran dalam pengelolaan pajak daerah termasuk pajak hotel. Hal ini salah satunya terdapat celah yang didasarkan pada Perda Nomor 2 Tahun 2004 tentang Pajak Daerah, dimana para wajib pajak hotel dapat mengajukan keberatan untuk memenuhi kewajiban pajaknya kepada pemerintah dengan alasan tertentu. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi pemerintah daerah, sehingga pemerintah daerah harus mampu menerapkan sanksi yang tegas dan pengawasan yang baik untuk mengatasi ancaman tersebut.
Disamping hal tersebut di atas, masalah lain yaitu umumnya pemilik hotel di Kabupaten Toba Samosir adalah elit lokal yang memiliki posisi tawar yang tinggi dalam pemerintahan maupun dalam sosial budaya. Hal ini menyebabkan pemilik maupun manajemen hotel sering terlambat dalam membayar pajaknya bahkan terkadang sering juga pajak yang dibayarkan jauh dari yang ditetapkan oleh DPPKKD. Dalam hal ini DPPKKD sangat kesulitan untuk mengatasinya.
Hasil wawancara dengan Kepala Bidang Penagihan DPPKKD diperoleh keterangan bahwa;
”...sebenarnya Perda Nomor 2 Tahun 2004 terdapat celah-celah atau kelemahan-kelemahan yang membuat Wajib Pajak Hotel bisa saja menghindari kewajibannya, karena wajib pajak dapat mengajukan keberatan
dengan alasan-alasan tertentu yang telah diatur oleh Perda tersebut kepada walikota. Selain itu kita sama-sama tahu kalau sebagian besar pemilik hotel di Toba Samosir ini adalah orang-orang hebat yang memiliki kekuasaan. Hal ini menyebabkan kita sulit untuk berlaku tegas, karena pimpinan kita sendiri sepertinya juga segan terhadap mereka. Kalau sudah menghadapi pemilik atau pimpinan hotel-hotel tersebut kita seperti macan ompong yang tidak memiliki taring. Jika hal seperti ini terus terjadi tanpa ada tindakan tegas dari pimpinan saya pikir kesulitan ini akan menjadi semakin besar di kemudian hari. Kaitannya adalah Pemda Kabupaten Toba Samosir harus menerapkan sanksi yang tegas dan tidak pandang bulu kepada setiap wajib pajak yang ketahuan melakukan pelanggaran, sehingga hal ini merupakan shock therapy bagi wajib pajak yang lainnya”.
3. Sikap mental, disiplin, dan motivasi kerja pegawai yang masih rendah.
Hasil wawancara dengan Kepala DPPKKD Kabupaten Toba Samosir diperoleh informasi:
“Beberapa orang pegawai DPPKKD masih memiliki sikap mental, disiplin, dan motivasi kerja yang masih rendah. Hal ini terlihat dari para pegawai yang memiliki sikap seperti ”buruh”, dalam arti bekerja harus menunggu perintah dari atasan terlebih dahulu, dan akan merasa bebas bertindak sekehendaknya apabila atasannya tidak berada di tempat. Selain itu para pegawai sering tidak disiplin dalam menaati jam kerja, datang pukul setengah 8 pagi hanya untuk apel pagi, setelah itu akan ”menghilang” dari kantor dan kemudian datang kembali pada pukul 4 untuk apel sore. Namun walaupun jumlah pegawai yang seperti ini sedikit, hal ini dapat berpengaruh terhadap mental pegawai yang lain.”
Sementara itu, hasil wawancara dengan wajib pajak hotel daerah, diperoleh informasi sebagai berikut:
”...sudah beberapa kali kami kecewa kalau datang ke DPPKKD. Saat kami sudah nyampe sana pegawai yang mengurusi urusan kami masih belum berada di tempat. Kalau kami coba untuk mengurusnya dengan pegawai yang lain, banyak yang tidak mengerti. Sementara kalau kami harus menunggu pegawai yang kami cari, kami enggak tau jam berapa dia baru masuk kantor.
Kan tidak mungkin kami harus seharian disana untuk menungguin dia. Hal- hal seperti ini sebenarnya yang buat kami malas ke DPPKKD”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas ditemukan bahwa terdapat beberapa orang pegawai di DPPKKD yang masih belum memahami tugas pokok dan fungsinya. Situasi yang seperti ini jika terus berlanjut dapat berakibat fatal dan dapat mengancam kelangsungan organisasi DPPKKD atau Pemerintah Kabupaten Toba Samosir secara tidak langsung, karena hal ini menyebabkan para objek pajak enggan untuk mengurus pajak hotelnya hanya karena oknum pegawai di DPPKKD.
4. Patologi Birokrasi
Patologi birokrasi adalah himpunan dari perilaku-perilaku yang kadang- kadang disibukkan oleh para birokrat. Patologi Birokrasi yang terjadi di dunia merupakan proses alami dari rutinitas birokrasi itu sendiri. Patologi birokrasi sendiri akan menyebabkan terjadinya inefisiensi dalam pelaksanaan fungsi pemerintahan. Inefisiensi inilah yang menyebabkan krisis multidimensional (baik segi ekonomi, politik, sosial budaya, dan krisis moral). Fitur dari Patologi Birokrasi digambarkan seperti ”sikap menyisih berlebihan, pemasangan taat pada aturan atau rutinitas- rutinitas dan prosedur-prosedur, perlawanan terhadap perubahan, dan desakan picik atas hak-hak dari otoritas dan status”. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan sebagian kecil dari Patologi Birokrasi.
Patologi birokrasi juga merupakan suatu penyakit yang menggerogoti DPPKKD. Hal ini pula yang menyebabkan terjadinya inefisiensi kinerja para pegawai
di DPPKKD sebagai bagian dari birokrasi di Kabupaten Toba Samosir. Ha ini senada dengan apa yang diungkapkan Kepala DPPKKD yang mengatakan sebagai berikut:
”...patologi birokrasi memang sudah mendarah daging hampir di seluruh birokrasi negara kita ini, Kabupaten Toba Samosir salah satunya. Harus saya akui bahwa praktek-praktek seperti masih sering terjadi. Saya selaku pimpinan sangat sulit untuk mengawasi para pegawai secara langsung agar tidak terlibat dengan praktek-praktek Patololgi birokrasi. Namun untuk meminimalisir terjadinya hal tersebut kita telah melakukan beberapa langkah, antara lain dengan pemberian insentif yang kita harapkan dapat menigkatkan kesejahteraan pegawai sehingga mereka tidak lagi melakukan praktek-praktek KKN untuk menambah penghasilan mereka.”
Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu wajib pajak hotel di Kabupaten Toba Samosir, yaitu Pimpinan Hotel Dizon yang mengatakan sebagai berikut:
”...seringkali kami malas untuk mengurus pajak hotel kami, karena terlalu berbelit-belit dan lama. Kalau pengurusan mau cepat kita harus memberikan uang rokok untuk mereka, padahal kita kesana juga mau ngasih uangnya sama mereka (membayar pajak hotel). Mereka juga suka pilih bulu dalam melayani kita. Kalau orang-orang dari hotel tertentu biasanya lebih diutamakan, tp kalau hotelnya kecil seperti kita punya, sering di anak tirikan.”
Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan di atas, ditemukan bahwa masih ada gejala Patologi Birokrasi di DPPKKD. Disamping hal ini merugikan masyarakat atau para wajib pajak, kondisi semacam ini jika terus terjadi dapat menggangu efektivitas kinerja dari pegawai DPPKKD itu sendiri dan dampak yang paling buruk bahwa hal tersebut dapat menjadi budaya birokrasi yang merusak mindset dari pegawai secara keseluruhan. Efek lain dari hal tersebut yakni pelayanan yang semakin lambat dan produktivias yang terus menerus rendah.
Jika kita merujuk pada tujuan dari dilaksanakannya Otonomi Daerah, hal-hal tersebut di atas sudah sepantasnya tidak terjadi lagi. Sudah saatnya masyarakat dilayani sebagai ”Raja” dan sudah saatnya pula pegawai menyadari bahwa mereka adalah pelayan daripada ”Raja” tersebut. Semangat otonomi daerah semakin terbuka bagi setiap pemerintah daerah untuk mendekatkan pemerintah kepada masyarakat, sehingga patologi birokrasi dapat ditekan dan mungkin dihindarkan.
4.4.2. Lingkungan Eksternal a. Peluang
1. Kabupaten Toba Samosir merupakan salah satu tujuan wisata di Sumatera Utara. Wilayah Kabupaten Toba Samosir yang bergunung dan berbukit mengitari lembah serta menjulur ke Danau Toba sebagai danau terluas di Asia Tenggara, menjadikan Kabupaten Toba Samosir memiliki potensi yang cukup tinggi sebagai daerah tujuan wisata. Keindahan alam ini juga didukung kelestarian kehidupan flora dan fauna, budaya masyarakat serta adat istiadat penduduk asli yang unik dan didukung oleh musik tradisional khas Batak. Berbagai peninggalan bersejarah juga menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari keberadaan Danau Toba. Oleh karena itu, dari empat pilar pokok pembangunan Kabupaten Toba Samosir, sektor pariwisata merupakan salah satunya. Hal ini didukung oleh pernyataan yang diberikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba Samosir sebagai berikut:
“kalau kita mendengar nama Toba samosir, pasti otomatis terlintas dipikiran kita Danau Toba. Nama Danau Toba begitu terkenal keindahannya bahkan sampai ke mancanegara. Wisatawan tiap tahunnya berdatangan untuk berwisata ke Toba samosir baik mancanegara maupun lokal, menikmati keindahan alam kita ini. Banyak sekali sebenarnya potensi wisata kita di Toba Samosir ini, selain Danau Toba, ada juga Mual Sirambe yang di Desa Bonan Dolok, trus Liang Sipege di Desa Hutagaol, Sampuran atau air terjun di Desa