• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mann-Whitney Test

HASIL PENELITIAN

5.3 Analisis Hasil Penelitian

5.3 Analisis Hasil Penelitian

Data hasil penelitian ini tidak dapat dilakukan uji statistik parametrik ANOVA dan LSD karena berdasarkan uji normalitas terdapat 4 kelompok data yang nilainya tidak terdistribusi normal yaitu konsentrasi 100%, 80%, 60%, dan kontrol negatif. Hal ini dikarenakan hasil yang diperoleh dari jumlah bakteri adalah 0 CFU/ml (steril). Sehingga pada penelitian ini uji statistik yang digunakan adalah uji statistik non-parametrik Kruskal Wallisdan Mann-Whitney.

Tabel 2. Hasil uji efek antibakteri ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana

Mill.) terhadap Porphyromonas gingivalis menggunakan uji non parametrik

Kruskal-Wallis

Tabel 3 menunjukkan hasil uji statistik Kruskal-Wallis diperoleh nilai p value = 0,000 (p<0,05). Hal ini berarti bahwa ekstrak etanol biji alpukat (Persea americanaMill.) memiliki efek antibakteri yang signifikan terhadap Porphyromonas gingivalis. Dari hasil pengujian yang memiliki nilai median dan interquartile range

adalah konsentrasi 50% dengan nilai median sebesar 1,75 dan interquartile range

sebesar 0,75, serta kontrol positif dengan nilai median sebesar 35,5 dan interquartile range sebesar 5. Setelah dilakukan uji non-parametrik Kruskal-Wallis, selanjutnya

No Konsentrasi N Median ±Interquartile range p value

1 100% 4 0 0,000 2 80% 4 0 3 60% 4 0 4 50% 4 1,75 ± 0,75 5 Kontrol Negatif 4 0 6 Kontrol Positif 4 35,5 ± 5

53

dilakukan uji Mann-Whitney untuk memlihat perbedaan efek antimikroba antar kelompok perlakuan mana yang bermakna.

Tabel 3. Hasil uji Mann-Whitney efek antibakteri ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap Porphyromonas gingivalis antar kelompok (p < 0,05)

Tabel 4 merupakan tabel hasil uji statistik non-parametrik Mann-Whitney yang menunjukkan nilai signifikansi antar kelompok konsentrasi dari konsentrasi 100% hingga 50% serta kontrol positif dan kontrol negatif. Apabila p value < 0,05 berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok yang dibandingkan, sebaliknya jika p value> 0,05 berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok yang dibandingkan. Hasil uji pada tabel 4 menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara setiap konsentrasi 100% yang dibandingkan dengan konsentrasi 50% dan kontrol positif, konsentrasi 80% yang dibandingkan dengan konsentrasi

No Konsentrasi Konsentrasi p value

1 100% 80% 1,000 60% 1,000 50% 0,011 Kontrol (-) 1,000 Kontrol (+) 0,014 2 80% 60% 1,000 50% 0,011 Kontrol (-) 1,000 Kontrol (+) 0,014 3 60% 50% 0,011 Kontrol (-) 1,000 Kontrol (+) 0,014 4 50% Kontrol (-) 0,011 Kontrol (+) 0,018 5 Kontrol (-) Kontrol (+) 0,014

54

50% dan kontrol positif, konsentrasi 60% yang dibandingkan dengan 50% dan kontrol positif, konsentrasi 50% yang dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negatif, serta kontrol negatif yang dibandingkan dengan kontrol positif yang menunjukkan p value< 0,05. Perbandingan antara konsentrasi 100% dengan 80%, 60%, dan kontrol negatif menunjukkan p value > 0,05 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan (Tabel 4).

55

BAB 6 PEMBAHASAN

Penelitian eksperimental laboratorium secara in vitro mengenai ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap Porphyromonas gingivalis adalah untuk membuktikan bahwa ekstrak biji alpukat memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan Porphyromonas gingivalis.Pada penelitian ini ekstraksi biji alpukat dilakukan dengan pelarut etanol. Pelarut etanol adalah pelarut yang dapat melarutkan seluruh bahan aktif yang terkandung dalam suatu bahan alami, baik bahan aktif yang bersifat polar, semipolar maupun non polar. Etanol yang digunakan dalam penelitian ini adalah 70% yangmampu untuk menarik zat-zat aktif pada biji alpukat (Persea americana Mill.). Selain itu, penggunaan etanol 70% juga lebih aman jika dibandingkan dengan metanol yang bersifat toksik. Proses ekstraksi dilakukan dengan cara perkolasi yaitu dengan menggunakan pelarut yang selalu baru hingga proses penyaringan seluruh zat aktif sempurna yang ditandai dengan perubahan warna cairan ekstrak menjadi jernih. Dengan proses ini diharapkan seluruh zat-zat aktif dapat ditarik dengan sempurna. Dari hasil ekstraksi didapatkan ekstrak kental biji alpukat sebanyak 60 gram.

Uji aktivitas antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis dilakukan dengan cara metode dilusi untuk mencari nilai KHM yang dilanjutkan dengan metode Pour Plate untuk mencari nilai KBM. Metode dilusi dipilih karena bahan coba dapat berkontak langsung dengan mikroorganisme sehingga dapat diketahui nilai KHM dengan mengamati perubahan kekeruhan pada tabung uji coba.Metode Pour Plate

dilakukan untuk mengetahui nilai KBM bahan coba dengan cara menghitung jumlah koloni bakteri yang telah diberi ekstrak sesuai dengan konsentrasi yang ditentukan sehingga hasil penelitian akan lebih representatif.

Pengujian efek antibakteri ekstrak etanol biji alpukat diawali dengan pencarian nilai KHM terlebih dahulu. KHM dilihat dari konsentrasi minimal bahan coba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri setelah diinkubasi 24 jam yang ditandai

56

dengan adanya perubahan warna pada tabung dilusi menjadi jernih. Pada awalnya konsentrasi yang digunakan adalah pengenceran ganda yaitu 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,125%. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi dibawah 50% mulai terlihat adanya kekeruhan yang setara jika dibandingkan dengan kontrol positif setelah diinkubasi selama 24 jam. Oleh karena itu dapat disimpulkan nilai KHM esktrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) adalah pada konsentrasi 50%.

Selanjutnya esktrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) dengan konsentrasi 100%, 50%, dan kontrol positif yang ada pada tabung dilusi dilakukan penanaman pada TSA dengan metode Pour Plate dan direplikasi sebanyak 4 kali pengulangan. Hasil menunjukkan ekstrak pada konsentrasi 100% tidak ditemui pertumbuhan bakteri (steril) sedangkan konsentrasi 50% terbentuk koloni bakteri dengan rata-rata 1,75x107CFU/ml dan kontrol positif terbentuk koloni bakteri dengan rata-rata 35,5X107 CFU/ml.

Adanya rentang yang cukup jauh antara 100% - 50%, dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan metode yang sama yaitu dilusi dan Pour Plate dengan konsentrasi 80% dan 60% untuk mendapatkan nilai KBM yang lebih rinci. Hasil dilusi tabung kedua konsentrasi tersebut menunjukkan tidak ada kekeruhan dan hasil penghitungan jumlah koloni menunjukkan 0 CFU/ml (steril). Oleh karena itu, dapat disimpulkan nilai KBM esktrak biji alpukat (Persea americana Mill.) pada penelitian ini adalah pada konsentrasi 60%.

Beberapa penelitian mengenai efek antibakteri biji alpukat juga telah dilakukan untuk menguji bakteri lain. Penelitian yang dilakukan oleh Christianto CW et al

menunjukkan ekstrak biji alpukat dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans pada konsentrasi 20%.49Asri D melakukan penelitian esktrak etanol biji alpukat (Persea americanaMill.) yang menunjukkan bahwa pada konsentrasi 10% ekstrak biji alpukat masih dapat menghambat pertumbuhan E. faecalis dengan diameter zona hambat 2,32 ± 0,12 mm.31Penelitian Idris S et al mengenai ekstrak biji alpukat (Persea americanaMill.) juga memperlihatkan efek antibakteri terhadap C. ulcerans dan S. aureus dengan zona hambat pada ekstrak etilasetat masing-masing 32

57

mm dan 12 mm, sedangkan pada ekstrak metanol dari biji alpukat (Persea americana

Mill.) memiliki zona hambat 37 mm dan 15 mm.30

Adanya perbedaan hasil dari beberapa penelitian di atas kemungkinan disebabkan karena kualitas ekstrak yang dihasilkan dan bakteri yang diuji berbeda. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas ekstrak diantaranya adalah jenis pelarut yang digunakan dan kualitas bahan coba. Ekstrakdengan pelarut metanol lebih baik dalam mengikat zat-zat aktif yang bersifat polar dibandingkan dengan etanol, kloroform, dan air, tetapi pelarut metanol memiliki kekurangan yaitu bersifat lebih toksik dibandingkan dengan yang lainnya.47Dalam penelitian ini dipilih ekstrak etanol karena relatif aman, tidak bersifat toksik dan bisa digunakan untuk melarutkan berbagai senyawa yang tidak dapat larut air. Kualitas bahan coba juga dapat mempengaruhi kualitas ekstrak dimana faktor biologis seperti perbedaan daerah dan keadaan geografis tanah kemungkinan mempengaruhi kadar senyawa aktif yang terdapat dalam biji alpukat (Persea americana Mill.). Lamanya proses pengeringan biji alpukat sebelum dilakukan ekstraksi juga kemungkinan dapat mempengaruhi senyawa aktif biji alpukat, karena semakin lama proses pengeringan semakin banyak zat aktif yang hilang akibat terjadinya penguapan.

Jenis bakteri yang berbeda juga menjadi salah satu penyebab perbedaan hasil penelitian. Hal ini dikarenakan adanya morfologi yang berbeda antara bakteri gram positif dan negatif. Pada bakteri gram negatif membran luarnya terdiri dari protein, fosfolipid, dan lipopolisakarida (LPS). LPS pada gram negatif disebut juga sebagai endotoksin yang menyebabkan bakteri gram negatif lebih patogen dari bakteri gram positif. Selain itu, struktur lapisan membran luar ini juga mampu menghalangi molekul besar untuk masuk dari luar seperti zat-zat antibakteri. Vesikel merupakan faktor virulensi lainnya yang hanya dimiliki bakteri gram negatif. Vesikel mampu menghasilkan enzim yang menginaktivasi antibakteri dan juga mampu mentransfer materi antibakteri tersebut ke sel bakteri lainnya.48

Beberapa penelitian juga telah dikembangkan mengenai penggunaan bahan alami sebagai antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis. Penelitian yang dilakukan oleh Vivi L (2014) menunjukkan bahwa ekstrak etanol lerak mempunyai

58

daya antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis dengan diperolehnya nilai KBM pada konsentrasi 25%.25Hendy (2015) melakukan penelitian ekstrak umbi lobak terhadap Porphyromonas gingivalis diperoleh nilai KHM dan KBM masing-masing 6,25% dan 12,5%.26 Adanya perbedaan daya antibakteri dari beberapa hasil penelitian tersebut dapat dikarenakan oleh perbedaan jenis dan kadar senyawa aktif yang ada pada masing-masing bahan alami.

Efek antibakteri yang ditimbulkan oleh biji alpukat (Persea americanaMill.) terhadap Porphyromonas gingivalis kemungkinan disebabkan oleh senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) memiliki kandungan seperti flavonoid, saponin, tanin, dan steroid yang berperan sebagai antibakteri. Mekanisme flavonoid sebagai antimikroba dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu menghambat sintesis asam nukleat, menghambat fungsi membran sel dengan membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut sehingga merusak membran sel bakteri dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler, serta menghambat metabolisme energi yang dibutuhkanuntuk biosintesis makromolekul.45

Saponin dapat menjadi antibakteri karena zat aktif permukaannya mirip deterjen, akibatnya saponin akan menurunkan tegangan permukaan dinding sel bakteri dan merusak permeabilitas membran sehingga saponin dapat berdifusi ke dalam sel kemudian mengikat membran sitoplasma sehingga mengganggu dan mengurangi kestabilan membran sel menyebabkan sitoplasma bocor keluar dari sel yang menyebabkan kematian sel.45

Tanin merupakan senyawa fenolik polimer yang memiliki sifat sebagai antibakteri dan astringent (bersifat menciutkan).Efek antibakteri tanin berhubungan dengan kemampuannya untuk memprepitasi protein, melalui reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzimdan fungsi materi genetik, inkativasi adhesi sel mikroba, dan mengganggu transport protein pada lapisan dalam sel. Steroid dapat berinteraksi dengan membran fosfolipid sel yang bersifat permeabel terhadap senyawa-senyawa lipofilik sehingga menyebabkan integritas membran menurun serta morfologi membran sel berubah yang menyebabkan sel rapuh dan lisis.31,44,45

59

Penelitian ini membuktikan bahwa ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) memiliki efek antibakteri secara in vitro terhadap Porphyromonas gingivalis dengan konsentrasi minimal yang menghambat pertumbuhan bakteri pada konsentrasi 50% dan konsentrasi minimal yang dapat membunuh bakteri pada konsentrasi 60%. Hal ini kemungkinan menunjukkan hasil yang berbeda jika diaplikasikan dalam saluran akar karena bakteri yang terdapat dalam saluran akar adalah polimikrobial dan bakteri Porphyromonas gingivalis juga sebagai salah satu bakteri yang ada di dalam saluran akar dapat memiliki kemampuan membentuk dan mendukung suatu lapisan biofilm. Selain itu, ekstrak kental yang dihasilkan oleh biji alpukat (Persea americana Mill.) dapat menjadi halangan dalam pembuatannya sebagai bahan irigasi. Hal ini dikarenakan salah satu syarat bahan irigasi adalah memiliki tegangan permukaan yang rendah dan memiliki flow rate yang tinggi. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) untuk dijadikan bahan irigasi. Berdasarkan pembahasan diatas maka hipotesis penelitian ini yaitu ada efek antibakteri ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap Porphyromonas gingivalis diterima.

60

BAB 7

Dokumen terkait