• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Analisis Hasil Penelitian

Statistik deskriptif ini memberikan gambaran mengenai nilai minimum, nilai

maksimun, nilai rata-rata serta standar deviasi data yang digunakan dalam

penelitian

Tabel 4.4

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance

HARGA SAHAM 50 50.000 800.000 2.70260E2 216.996926 4.709E4

DEBT TO EQUITY RATIO 50 .040 3.820 .99300 .810161 .656

PRICE EARNING RATIO 50 1.390 649.350 4.80328E1 120.822980 1.460E4

RETURN ON EQUITY 50 .001 24.550 3.32872 5.202873 27.070

Valid N (listwise) 50

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Berdasarkan data dari tabel 4.4 dapat dijelaskan bahwa :

a) variabel Debt Equity Ratio (X1) memiliki sampel (N) sebanyak 50, dengan

nilai minimum (terkecil) 0,04, nilai maksimum (terbesar) 3,8220 dan mean

(nilai rata-rata) 0,99300. Standar Deviation (simpangan baku) variabel ini

adalah 0,810161 ,

b) variabel Price Earning Ratio (X2) memiliki sampel (N) sebanyak 50, dengan

nilai minimum (terkecil) 1,390, nilai maksimum (terbesar) 649,350 dan mean

(nilai rata-rata) 4,8032. Standar Deviation (simpangan baku) variabel ini

adalah 120,822980 ,

c) variabel Return on Equity (X3) mem iliki sampel (N) sebanyak 50, dengan

(nilai rata-rata) 3.32872 . Standar Deviation (simpangan baku) variabel ini

adalah 5.202873,

d) jumlah sampel yang ada sebanyak 50.

2. Pengujian Asumsi Klasik

Salah satu satu syarat yang menjadi dasar penggunaan model regresi berganda

dengan metode estimasi Ordinary Least Square (OLS) adalah dipenuhinya semua

asumsi klasik, agar hasil pengujian bersifat tidak bias dan efisien (Best Linear

Unbiased Estimator). Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini dilakukan

dengan bantuan program statistik. Menurut Imam Ghozali (2005:123), asumsi

klasik yang harus dipenuhi adalah:

• Berdistibusi normal.

Non-Multikolinearitas, artinya antara variabel independen dalam model regresi tidak memiliki korelasi atau hubungan secara sempurna ataupun mendekati sempurna.

Non-Autokorelasi, artinya kesalahan pengganggu dalam model regresi tidak saling berkorelasi.

Non-Heterokedastisitas, artinya variance variabel independen dari satu pengamatan ke pengamatan lain adalah konstan atau sama.

a. Uji Normalitas

Uji data statistik dengan model Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk

mengetahui apakah data sudah terdistribusi secara normal atau tidak. Imam

Ghozali (2005:115), memberikan pedoman pengambilan keputusan rentang data

mendekati atau merupakan distribusi normal berdasarkan uji Kolmogorov Smirnov

a) nilai sig. atau signifikan atau probabilitas <0,05, maka distribusi data adalah

tidak normal,

b) nilai sig. atau signifikan atau probabilitas > 0,05, maka distribusi data adalah

normal.

Hasil uji normalitas dengan menggunakan model Kolmogorov-Smirnov adalah

seperti yang ditampilkan berikut ini.

Tabel 4.5

Hasil Uji Normalitas (1)

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Berdasarkan hasil uji statistik dengan model Kolmogorov-Smirnov seperti

yang terdapat dalam tabel 4.5 dapat disimpulkan bahwa data tidak terdistribusi

normal, hal ini dapat dilihat dari nilai Asymp.Sig.(2-tailed) Kolmogorov-Smirnov

yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,039. Karena data tidak terdistribusi

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

HARGA SAHAM DEBT TO EQUITY RATIO PRICE EARNING RATIO RETURN ON EQUITY N 50 50 50 50

Normal Parametersa Mean 270.26000 .99300 48.03280 3.32872 Std. Deviation 216.996926 .810161 120.822980 5.202873

Most Extreme Differences Absolute .198 .156 .350 .261

Positive .198 .156 .346 .255

Negative -.155 -.120 -.350 -.261

Kolmogorov-Smirnov Z 1.401 1.105 2.473 1.847

normal, maka dilakukan tindakan perbaikan (treatment) agar model regresi

memenuhi asumsi normalitas. Dalam penelitian ini penulis melakukan

transformasi data ke model logaritma natural (Ln) kemudian, data diuji ulang berdasarkan asumsi normalitas.

Hasil uji statistik dengan model Kolmogorov-Smirnov yang baru setelah

dilakukan transformasi data yang tidak normal tersebut dapat dilihat pada tabel

4.5.

Tabel 4.6

Hasil Uji Normalitas (2)

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa hasil pengujian statistik dengan model

Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa data telah terdistribusi normal karena nilai Asymp.Sig (2-tailed) Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05 yaitu

sebesar 0,215. Berikut ini ditampilkan hasil uji normalitas dengan menggunakan

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

LN HARGA SAHAM LN DEBT TO EQUITY RATIO LN PRICE EARNING RATIO LN RETURN ON EQUITY N 50 50 50 50

Normal Parametersa Mean 5.26769 -.41822 2.64049 -.81289

Std. Deviation .843301 1.081197 1.385232 2.554828

Most Extreme Differences Absolute .149 .155 .100 .134

Positive .144 .079 .100 .134

Negative -.149 -.155 -.080 -.130

Kolmogorov-Smirnov Z 1.055 1.094 .704 .949

Asymp. Sig. (2-tailed) .215 .182 .704 .329

Gambar 4.1 Uji Normalitas data

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Grafik histogram di atas menunjukkan bahwa data telah terdistribusi secara

normal. Hal ini dapat dilihat dari grafik histogram yang menunjukkan distribusi

data mengikuti garis diagonal yang tidak menceng (skewness) kiri maupun

menceng ke kanan. Hal ini juga didukung dengan hasil uji normalitas dengan

Gambar 4.2 Uji Normalitas data

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Menurut Ghozali (2005:112), pendeteksian normalitas dapat dilakukan

dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik, yaitu jika

data (titik) menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal,

hal ini menunjukkan data yang telah terdistribusi normal. Gambar 4.2

menunjukkan bahwa data (titik) menyebar di sekitar dan mendekati garis

diagonal. Hal ini sejalan dengan hasil pengujian dengan menggunakan histogram

bahwa data telah terdistribusi normal. Karena secara keseluruhan data telah

terdistribusi secara normal, maka dapat dilakukan pengujian asumsi klasik

b. Uji Multikolinieritas

Untuk melihat ada atau tidaknya multikolinieritas dalam model regresi dapat

dilihat dari:

1) nilai tolerence dan lawannya, 2) Variance Inflatin Factor (VIF).

Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerence mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi, nilai Tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF = 1/tolerence). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya mutikolineritas adalah nilai Tolerence < 0,10 atau sama dengan VIF > 10 Imam Ghozali (2005:91).

Tabel 4.7

Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1(Constant)

DEBT TO EQUITY RATIO .917 1.090

PRICE EARNING RATIO .960 1.042

RETURN ON EQUITY .919 1.088

a. Dependent Variable: HARGA SAHAM

Dependent variabel : LNHS

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa nilai tolerance dari

masing-masing variabel independen lebih besar dari 0.1, yaitu untuk variabel

DER sebesar 0.917; variabel PER sebesar 0.960; variabel ROE sebesar 0.919;

Nilai VIF dari masing-masing variabel independen diketahui kurang dari 10, yaitu

sebesar 1.088. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini

tidak terdapat multikolinearitas.

c. Uji Autokorelasi

Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk

menentukan adanya autokorelasi atau tidak dapat diketahui dari nilai

Durbin-Watsonnya.

Tabel 4.8

Pengujian Autokorelasi

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan SPSS dapat diketahui bahwa

nilai Durbin-Watson dalam penelitian ini sebesar 1.591. Sugiyono (2007:76)

mengemukakan bahwa “terjadinya Autokorelasi jika nilai Durbin Watson (DW)

memiliki nilai lebih dari 5 (≥5)”. M aka nilai Durbin-Watson sebesar 1.591 memiliki arti tidak terdapat gejala autokorelasi positip maupun negatip antar

variabelnya. Tabel di atas juga memperlihatkan bahwa angka adjusted R square

atau koefisien determinasi bernilai 0.037. Angka mengindikasikan bahwa 3.7%

variasi atau perubahan dalam harga saham dapat dijelaskan oleh DER, PER, dan

ROE. Sedangkan sisanya 96.3% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .310a .096 .037 .827383 1.591

a. Predictors: (Constant), LN RETURN ON EQUITY, LN DEBT TO EQUITY RATIO, LN PRICE EARNING RATIO

dimasukkan dalam dalam model penelitian. Standard error of estimate

menunjukkan angka sebesar 0.827383. Semakin kecil angka ini akan membuat

model regresi semakin tepat dalam memprediksi harga saham.

d. Uji Heteroskedastisitas

Imam Ghozali (2005:105) menyatakan “uji heteroskedastisitas bertujuan

untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari

residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari satu

pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika

berbeda disebut heteroskedastisitas”. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi

heteroskedastisitas.

Cara mendeteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas adalah dengan

melihat grafik scatterplot yang dihasilkan dari pengolahan data menggunakan

program SPSS. Dasar pengambilan keputusannya menurut Imam Ghozali

(2005:105) adalah sebagai berikut:

1. jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

2. jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Berikut ini dilampirkan grafik scatterplot untuk menganalisis apakah terjadi gejala heteroskedastisitas atau tidak dengan cara mengamati penyebaran titik-titik pada grafik.

Gambar 4.3

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak dengan

tidak adanya pola yang jelas serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0

pada sumbu Y. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas,

2. Analisis Regresi

Adapun hasil regresi linier berganda pengaruh rasio keuangan terhadap

harga saham perusahaan industri makanan dan minuman yang terdaftar di BEI

adalah sebagai berikut :

Tabel 4.9

Hasil Analisis Regresi

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.952 .258

LN DEBT TO EQUITY RATIO .189 .116 .242

LN PRICE EARNING RATIO .137 .093 .225

LN RETURN ON EQUITY -.039 .051 -.119

a. Dependent Variable: LN HARGA SAHAM

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Berdasarkan data di atas dapat dirumuskan suatu persamaan regresi untuk

return saham perusahaan perbankan sebagai berikut :

Keterangan :

Y = Harga saham

X1 = Debt Equity Ratio (DER)

X2 = Price Earning Ratio (PER)

X3 = Return on Equity (ROE)

e = Tingkat Kesalahan Pengganggu

Koefisien-koefisien persamaan regresi linier berganda di atas dapat

diartikan sebagai berikut :

a.konstanta (a) sebesar 4,952 mempunyai arti apabila rasio keuangan sama

dengan nol maka harga saham perusahaan real estate dan property bernilai

positif sebesar 4952,

b.koefisien regresi DER sebesar 0,189 mempunyai arti setiap kenaikan rasio

ROA sebesar 1 satuan akan berpengaruh positip terhadap harga saham

perusahaan real estate dan property sebesar 189 satuan,

c.koefisien regresi PER sebesar 0,137 mempunyai arti setiap kenaikan rasio

ROE sebesar 1 satuan akan berpengaruh negatip terhadap harga saham

perusahaan real estate dan property sebesar 137 satuan,

d.koefisien regresi ROE sebesar 0,039 mempunyai arti setiap kenaikan rasio

sebesar 1 satuan akan berpengaruh negatip terhadap harga saham

4. Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian ini hipotesis diuji dengan menggunakan analisis regresi

berganda. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program statistik, maka

diperoleh hasil yang dapat dilihat pada tabel 4.9.

Tabel 4.10

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .310a .096 .037 .827383 1.591

a. Predictors: (Constant), LN RETURN ON EQUITY, LN DEBT TO EQUITY RATIO, LN PRICE EARNING RATIO

b. Dependent Variable: LN HARGA SAHAM

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Pada tabel 4.10, dapat dilihat hasil analisa regresi secara keseluruhan. Nilai R

sebesar 0,310 menunjukkan bahwa korelasi atau keeratan hubungan harga saham

dengan debt equity ratio (DER), price earning ratio (PER), dan return on equity

(ROE) mempunyai hubungan yang rendah yaitu sebesar 31% karena menurut

Sugiyono (2007:250), jika angka R berada diatas 0,399 atau 39% maka hubungan

antara variabel independen dengan variabel dependennya tinggi.

Nilai Adjusted R Square (Adj R2) sebesar 0,037 atau 3,7% mengindikasikan

bahwa variasi dari kedua variabel independennya hanya mampu menjelaskan

variasi variabel dependen sebesar 3,7% dan sisanya 96,3% (100% - 3,7%)

dijelaskan oleh faktor-faktor lain.

Pengujian hipotesis secara statistik dilakukan dengan menggunakan uji t dan

a. Uji t (t-test)

Uji t dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel

independen terhadap variabel dependen secara parsial. Dalam uji t digunakan

hipotesis seperti yang terlihat berikut ini.

H0: b1,b2,b3 = 0, artinya Debt Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER)

dan Return on Equity (ROE) tidak mempunyai pengaruh

terhadap harga saham secara parsial pada perusahaan real

estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Ha: b1,b2,b3≠ 0, artinya Debt Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER)

dan Return on Equity (ROE) mempunyai pengaruh terhadap

harga saham secara parsial pada perusahaan real estate dan

property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Kriteria:

H0 diterima dan Ha ditolak jika t hitung < t tabel untuk α = 5%

Ha diterima dan H0 ditolak jika t hitung > t tabel untuk α = 5%

Tabel 4.10 menunjukkan hasil pengujian statistik t sehingga dapat menjelaskan

Tabel 4.11 Uji Statistik t Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.952 .258 19.184 .000

LN DEBT TO EQUITY RATIO .189 .116 .242 1.621 .112

LN PRICE EARNING RATIO .137 .093 .225 1.474 .147

LN RETURN ON EQUITY -.039 .051 -.119 -.777 .441

a. Dependent Variable: LN HARGA SAHAM

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Dari Tabel 4.11 dapat kita lihat bahwa variabel DER, PER, ROE secara

parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham karena probabilitas

signifikansi variabel-variabel tersebut di atas 0.05, sehingga dapat disimpulkan

bahwa harga saham tidak dipengaruhi secara langsung oleh variabel DER, PER,

ROE. Tabel 4.11 menunjukkan hasil pengujian statistik t sehingga dapat

menjelaskan pengaruh variabel independen secara parsial.

1) Pengaruh Debt Equity Ratio (DER) terhadap harga saham

a) Nilai signifikansi sebesar 0,112 menunjukkan bahwa nilai Sig. untuk uji t

individual (parsial) lebih besar dari 0,05. Hal ini sesuai dengan hasil

pengujian statistik yang membandingkan antara t hitung dengan t tabel yaitu

Debt Equity Ratio (DER) secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap

harga saham pada tingkat kepercayaan 95%.

b) Variabel Debt Equity Ratio (DER) memiliki t hitung 1,621 dengan nilai

diperoleh t tabel sebesar 2,008559. Hal ini menunjukkan bahwa t hitung

sebesar 1,621 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,008559 sehingga Ho diterima

dan Ha ditolak artinya, DER tidak mempunyai pengaruh terhadap harga

saham secara parsial pada perusahaan real estate dan property yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia .

2. Pengaruh Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham

a) Nilai signifikansi sebesar 0,147 menunjukkan bahwa nilai Sig. untuk uji t

individual (parsial) lebih besar dari 0,05. Hal ini sesuai dengan hasil

pengujian statistik yang membandingkan antara t hitung dengan t tabel yaitu

rasio ROE tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham secara parsial

pada tingkat kepercayaan 95%.

b)Variabel rasio Price Earning Ratio (PER) memiliki t hitung 1,474 dengan nilai

signifikansi 0,147 lebih besar dari 0,05. Dengan menggunakan tabel t,

diperoleh t tabel sebesar 2,008559. Hal ini menunjukkan bahwa t hitung

sebesar 1,474 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,008559 sehingga H0 diterima

dan Ha ditolak dimana artinya, PER tidak mempunyai pengaruh terhadap

harga saham secara parsial pada perusahaan real estate dan property yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap Harga Saham

a) Nilai signifikansi sebesar 0,441 menunjukkan bahwa nilai Sig. untuk uji t

individual (parsial) lebih besar dari 0,05. Hal ini sesuai dengan hasil

rasio ROE tidak berpengaruh terhadap harga saham secara parsial pada

tingkat kepercayaan 95%.

b) Variabel rasio Return on Equity (ROE) memiliki t hitung 0,777 dengan nilai

signifikansi 0,441 lebih besar dari 0,05. Dengan menggunakan tabel t,

diperoleh t tabel sebesar 2,008559. Hal ini menunjukkan bahwa t hitung

sebesar 0,777 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,008559 sehingga HA diterima

dan H0 ditolak dimana artinya, ROE tidak mempunyai pengaruh terhadap

harga saham secara parsial pada perusahaan real estate dan property yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

b. Uji F

Uji F ini dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel

independen variabel dependen secara simultan. Dalam uji F digunakan hipotesis

yang disebutkan dibawah ini.

H0: b1,b2,b3 = 0, artinya rasio DER, PER, dan ROE tidak mempunyai pengaruh

terhadap harga saham secara simultan pada perusahaan real

estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Ha: b1,b2,b3 ≠ 0, artinya rasio DER, PER, dan ROE mempunyai pengaruh

terhadap harga saham secara simultan pada perusahaan real

Kriteria:

H0 diterima dan Ha ditolak jika F hitung < F tabel untuk α = 5%

Ha diterima dan H0 ditolak jika F hitung > F tabel untuk α = 5%

Tabel 4.12 Hasil Uji F

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 3.357 3 1.119 1.635 .194a

Residual 31.490 46 .685

Total 34.847 49

a. Predictors: (Constant), LN RETURN ON EQUITY, LN DEBT TO EQUITY RATIO, LN PRICE EARNING RATIO

b. Dependent Variable: LN HARGA SAHAM

Sumber : Output SPSS, diolah Peneliti, 2011

Hasil uji F yang ditampilkan dalam tabel 4.12 menunjukkan bahwa nilai F

hitung adalah 1,635 dengan tingkat signifikansi 0,194 yang lebih besar dari 0,05.

Dengan menggunakan tabel F diperoleh nilai F tabel sebesar 2,802355. Hal

tersebut menunjukkan bahwa F hitung sebesar 1,635 lebih kecil dari F tabel

sebesar 2,802355 sehingga Ha diterima dan Ho ditolak, artinya variabel bebas

yaitu Debt Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER), dan Return on Equity

5. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial, variabel independen

yaitu ROE, DER, PER tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel

dependen yaitu harga saham.

Dari hasil pengujian secara parsial dapat diketahui bahwa ROE tidak

memiliki pengaruh terhadap return saham pada tingkat kepercayaan 95%. Hal ini

ditunjukkan oleh nilai t hitung sebesar 1,621 yang lebih kecil dari t tabel sebesar

2,008559. Hasil pengujian menunjukkan bahwa hasil penelitian ini tidak sejalan

dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan Citra Noveli Sitepu (2010) yang

menunjukkan bahwa secara parsial, ROE memiliki pengaruh terhadap return

saham pada tingkat kepercayaan 95%.

Debt equity Ratio (DER) secara parsial tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan harga saham pada tingkat kepercayaan 95%, Hal ini ditunjukkan oleh

nilai t hitung sebesar 1,474 yang lebih kecil dari t tabel sebesar 2,008559. Hasil

ini sesuai dengan hasil penelitian Citra Noveli Sitepu (2010) yang menemukan

bahwa variabel DER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan

harga saham pada perusahaan industri makanan dan minuman, DER tidak

memiliki pengaruh terhadap return saham pada tingkat kepercayaan 95%.

Price Earning Ratio (PER) secara parsial tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap perubahan harga saham, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai t

hitung sebesar -0,777 yang lebih kecil dari t tabel sebesar 2,008559. Hasil ini

variabel PER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga

saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio keuangan yang terdiri dari ROE,

DER, PER secara simultan tidak berpengaruh terhadap return saham perusahaan

real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Return saham juga dipengaruhi

oleh faktor eksternal seperti kondisi ekonomi secara keseluruhan, pengumuman

laporan keuangan dan data keuangan lainnya, faktor psikologis pembeli saham,

permintaan dan penawaran, tingkat suku bunga, harga komoditas, inflasi,

peraturan perpajakan, kebijakan pemerintah, kurs valuta asing, tingkat bunga

pinjaman luar negeri, kondisi ekonomi internasional, jumlah uang yang beredar,

dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai pengaruh rasio keuangan

ditunjukkan oleh nilai adjusted R square= 0.036 yaitu persentase pengaruh rasio

ROE, DER, PER terhadap return saham perusahaan real estate adalah sebesar

3,6%, sehingga variabel lain diluar rasio tersebut (faktor eksternal) yang

menjelaskan variasi return saham perusahaan real estate di Bursa Efek Indonesia

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait