ANALISIS PUTUSAN HAKIM ATAS PERKARA PERDATA NOMOR 25/PDT.G/2011/PN-RAP
D. Analisis Hasil Penetapan Pengadilan Negeri Rantauprapat
f Pengadilan Negeri Rantauprapat memberikan Putusan Nomor Nomor 25/PDT.G/2011/PN-RAP tanggal 02 Agustus 2012 yang amarnya sebagai berikut:
I. Dalam Konpensi : A. Dalam Eksepsi :
Menolak Eksepsi Tergugat I,II,III,IV,V,VI dan Turut Tergugat III ; B. Dalam Pokok Perkara :
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebahagian ;
2. Menyatakan perbuatan Tergugat I,II,III,IV,V,VI,VII dan VIII adalah perbuatan yang melanggar dan melawan hukum (onrechtmatigigedaad);
3. Menyatakan tanah terperkara seluas 124 (seratus dua puluh empat) Ha yang terletak di Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu adalah sah milik Penggugat;
4. Menyatakan sah dan berkekuatan hukum Surat Penjanjian/Ganti Rugi Penggugat;
5. Menyatakan surat-surat penyerahan/ganti rugi yang telah diperbuat oleh Tergugat VI dan Turut Tergugat I kepada Tergugat I,II yang diwakili Tergugat IV dan V dengan diketahui Tergugat VI, Tergugat VII dan Tergugat VIII adalah tidak sah secara hukum dan dinyatakan batal demi hukum serta tidak mempunyai kekuatan hukum.
6. Memerintahkan kepada Tergugat I dan Tergugat II,III dan IV untuk mengembalikan/menyerahkan tanah terperkara seluas 124 Ha berikut segala tanaman yang ada di atasnya yang terletak di Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu kepada Penggugat dalam keadaan Baik ;
7. Menghukum Tergugat I,II,III,IV dan secara renteng untuk membayar uang paksa (dwangsom) kepada Penggugat sebesar Rp.1.000.000,- (sejuta rupiah) setiap hari apabila Tergugat I,II,III,IV dan V lalai melaksanakan putusan ini terhitung sejak putusan ini berkekuatan hukum tetap ;
8. Menghukum Turut Tergugat III,IV dan V untuk mengeluarkan (dienclave) tanah terperkara seluas 124 (seratus dua puluh empat)Ha dari permohonan Hak Guna Usaha (HGU) TI dan II ;
9. Menghukum Tergugat-Tergugat dan para Turut Tergugat untuk tunduk dan patuh kepada putusan ini ;
10. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya ;
II. Dalam Rekonpensi
Menolak gugatan rekonpensi Penggugat d.r/Tergugat VI d.k untuk seluruhnya;
III. Dalam Konpensi dan Rekonpensi :
Menghukum Tergugat I,II,III,IV,V dan VI d.k/Penggugat d.r untuk membayar ongkos perkara yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp.
5.199.250,- (lima juta seratus sembilan puluh sembilan ribu dua ratus lima puluh ribu rupiah);
Penyelesain sengketa hak atas tanah antara pihak penggugat dan pihak tergugat di Pengadilan Negeri Rantauprapat dengan nomor perkara 25/PDT.G/2011/PN-RAP dengan metode penyelesaian sengketa secara litigasi sudahlah tepat dilakukan karena prose penyelesaian melalui mediasi yang telah di lakukan oleh kedua belah pihak tidak menemui titik terang karena
Hakim dalam menjatuhkan putusan diatas sudahlah tepat dan berpedoman dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hak milik atas tanah.
Hal ini dapat dilihat bahwa hakim berpedoman dengan alat-alat bukti yang telah diajukan oleh kedua belah pihak baik itu alat bukti surat dan keterangan saksi yang telah diperiksa dalam persidangan.
Hakim menilai bahwa dengan pertimbangan-pertimbangan hukumnya bahwa dalil-dali yang diajukan ataupun didalilkan oleh pihak Penggugat dalam proses selama persidangan dapat dibuktikan kebenarannya dan berkekuatan hukum.
Perjanjian Ganti rugi yang diajukan oleh Pihak Penggugat sebagai bukti surat
merupakan alat bukti yang sah yang dimana menurut Pasal 1320 KUH Perdata, suatu perjanjian adalah sah apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:
e. Kesepakatan antara para pihak f. Cakap hukum
g. Sebab sesuatu hal tertentu h. Suatu sebab yang halal
Keempat unsur diatas sudah terpenuhi didalam perjanjian Ganti Rugi yang diajukian oleh pihak Penggugat. Tanah yang menjadi objek perkara dibeli Penggugat pada tahun 2000 dari keluarga Syahban Harun Panjaitan dan Rosni Siregar yang Pembelian tanah tersebut dilakukan tanpa adanya sengketa diatas tanah tersebut dan kedua belah pihak sepakat untuk melakukan jual beli atas tanah tersebut. Penggugat memberikan sejumlah uang kepada pihak penjual tanah kesepakatan bersama seperti yang tertuang didalam Perjanjian Ganti rugi tersebut.
Permasalahan dalam perkara ini sebenarnya lebih mengarah kepada adanya dua alas hak atas tanah atau lebih dikenal dengan sebutan sertifikat ganda. Pihak Tergugat yang mengaku memiliki hak atas tanah merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang dapat merugikan pihak Penggugat. Tergugat I sampai Tergugat V memperoleh tanah dari Tergugat VI yang tertuang dalam Perjanjian Ganti Rugi tanpa melihat ataupun menelusuri kondisi tanah yang akan dibeli.
Perilaku Tergugat I sampai tergugat V yang mendaftarkan tanahnya sebagai Hak Guna Usaha ke kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Labuhan Batu ini sangatlah bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Hal ini
merupakan akibat dari pelaksanaan pendaftaran tanah yang belum tertib dan sistem pendaftaran tanah secara negatif.
Adanya kelalaian (culpa) atau karena kesengajaan (dolus) yang dilakukan Kecamatan Panai Tengah dalam pembuatan surat tidak dalam sengketa atas tanah objek perkara sehingga Pihak Tergugat mendaftarkan tanah objek perkara ke kantor Badan Pertanahan Kabupaten Labuhan Batu. Oleh karena perbuatan karena kelalaian atau kesengajaan akan menghasilkan sertifikat yang cacat hukum.
Kesalahan atas subjek hukum dalam sertifikat maupun kesalahan atas objek hukum dalam sertifikat sering terjadi dalam pelaksanaaan pendaftaran tanah. Kesalahan dalam pembuatan sertifikat bisa saja karena adanya unsur-unsur penipuan (bedrog), kesesatan (dwaling) dan atau paksaan (dwang) dalam pembuatan data fisik maupun data yuridis yang dibukukan dalam buku tanah. Sertifikat hak atas tanah yang diterbitkan dapat batal demi hukum. Sedangkan bagi subjek yang melakukan hal tersebut dapat dikatakan telah melakukan perbuatan melawan hukum (onrecht matigedaad). Termasuk perbuatan tersebut dilakukan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhan Batu karena kurang teliti dalam pengecekan pengukuran tanah, dan pembuatan surat palsu yang dilakukan Kecamatan Panai Tengah, maka perbuatan tersebut dapat dikategorikan penyalahgunaan kewenangan dari Pejabat Tata Usaha Negara.
Berdasarkan analisis tersebutlah maka putusan Pengadilan atas perkara ini sudahlah tepat dan adil sehingga pihak Penggugat tidak merasa hak-haknya tidak diambil orang dan mendapat keadilan.
BAB V
PENUTUP