VI. ANALISIS PRIORITAS STRATEGI BAURAN PEMASARAN
6.2 Analisis Hasil Pengolahan Horizontal
6.2.2 Analisis Hasil Pengolahan Horizontal Strategi Pemasaran
Pengolahan tingkat tiga untuk tujuan meningkatkan penjualan memilki rasio inkonsistensi yang sudah memenuhi persyaratan dengan nilai 0,00 (0 %). Hasil pengolahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 14 dan Lampiran 8.
Tabel 14. Hasil Pengolahan Horizontal Prioritas Strategi Bauran Pemasaran Gaga Mie 100 PT JTFI Untuk Meningkatkan Penjualan
Tujuan
Strategi Bauran Pemasaran
Bobot Prioritas Rasio Inkonsistensi Produk 0,375 1 Harga 0,232 2 Tempat 0,170 4 Meningkatkan Penjualan Promosi 0,223 3 0,00
Pada pengolahan tingkat empat juga telah memenuhi rasio inkonsistensi dengan nilai 0,04 (4 %) untuk strategi produk, 0,00 (0 %) untuk strategi harga, 0,02 (2 %) untuk strategi tempat, dan 0,01 (1 %) untuk strategi promosi. Hasil pengolahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 15 dan Lampiran 9.
Tabel 15. Hasil Pengolahan Horizontal Prioritas Strategi Sub Faktor Bauran Pemasaran Gaga Mie 100 PT JTFI Untuk Tujuan Meningkatkan Penjualan
Strategi Bauran Pemasaran
Sub Faktor
Bauran Pemasaran Bobot Prioritas
Rasio Inkonsistensi Kualitas 0,388 1 Kuantitas (ukuran/berat) 0,157 3 Desain Kemasan 0,152 4 Produk Merek 0,303 2 0,04 Biaya Opersional 0,287 2 Segmentasi konsumen 0,137 3 Harga
Harga Produk Pesaing 0,576 1
0,00 Kemudahan Mendapatkan 0,500 1 Ketersediaan Produk 0,338 2 Tempat Kebersihan Tempat 0,162 3 0,02 Iklan Televisi 0,258 1 Iklan Reklame 0,076 7
Potongan Harga (Discount) 0,141 3 Peragaan (Demo) 0,079 6 Pemberian Hadiah 0,240 2 Hubungan Masyarakat 0,110 4 Promosi Pemasaran Langsung 0,095 5 0,01
Hasil pengolahan horizontal strategi pemasaran untuk tujuan meningkatkan penjualan, yang menjadi prioritas pertama dalam strategi bauran pemasaran adalah strategi produk dengan bobot 0,375. Produk yang menjadi salah satu andalan PT JTFI adalah Gaga Mie 100, dengan demikian produk ini harus menjadi Icon perusahaan tersebut. Produk yang menjadi andalan tentunya harus unggul dari berbagai sisi yang bisa memuaskan konsumen, dilihat dari kualitas, kuantitas, desain kemasan yang menarik, serta merek yang digunakan. Pada penentuan prioritas sub faktor produk, yang menjadi prioritas pertama adalah
kualitas dengan bobot 0,388. Produk yang unggul dari kualitas akan memuaskan konsumen, dan menyebabkan konsumen melakukan pembelian ulang terhadap produk tersebut, maka dengan demikian penjualan akan terus meningkat. Kualitas yang dimaksud adalah yang bisa memuaskan konsumen baik secara keamanan, kebersihan, serta cita rasa yang tepat dengan keinginan konsumen.
Prioritas kedua untuk mencapai tujuan meningkatkan penjualan adalah strategi harga dengan bobot 0,232, dan sub faktor utamanya penentuan harga berdasarkan harga produk pesaing dengan bobot 0,576. Penetapan harga yang tepat akan menarik konsumen untuk membeli Mie Instant yang diproduksi PT JTFI, salah satunya dengan memperhatikan perkembangan harga produk pesaing. Jika kualitas dan tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk pesaing lebih tinggi, maka penentuan harga produk tidak bisa melebihi harga pesaing. Harga produk yang lebih murah akan menjadi pertimbangan konsumen untuk melakukan pembelian, dengan demikian menyebabkan penjualan akan meningkat. Prioritas ketiga adalah strategi promosi dengan bobot 0,223. Promosi merupakan faktor penting dalam meningkatkan penjualan karena merupakan media yang dapat menginformasikan keunggulan produk yang dipasarkan perusahaan. Berdasarkan hasil pengolahan, sub faktor yang menjadi prioritas pertama dalam strategi promosi adalah iklan televisi dengan bobot 0,258. Iklan televisi dapat meningkatkan volume penjualan karena dengan cakupannya pemberian informasi yang luas, kemungkinan besar semakin banyak konsumen yang mengetahui produk Gaga Mie 100. Iklan yang dilakukan di televisi harus menarik dan tepat pada sasaran. Iklan yang lebih menonjolkan keunggulan
produk, baik dari segi kualitas, harga yang ekonomis, serta faktor keuntungan lain sehingga menarik perhatian konsumen untuk membeli produk tersebut.
Prioritas keempat adalah strategi tempat/saluran distribusi dengan bobot 0,170, dan sub faktor utamanya adalah kemudahan mendapatkan produk dengan bobot 0,500. Peningkatan penjualan tentunya didukung oleh distribusi yang bisa memudahkan konsumen untuk mendapatkan produk yang ditawarkan tesebut. Kemudahan tersebut bisa diciptakan dengan adanya jalur distribusi yang ditambah dan berada di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh konsumen sasaran. Selain melalui distributor, juga bisa dilakukan dengan pemasaran langsung seperti pada acara bazar dan acara hiburan yang bisa mendatangkan banyak orang yang tentunya konsumen sasaran Gaga Mie 100.
6. 2. 3 Analisis Hasil Pengolahan Horizontal Strategi Pemasaran Untuk Tujuan Menghadapi Persaingan
Pengolahan tingkat tiga untuk tujuan menghadapi persaingan memilki rasio inkonsistensi yang sudah memenuhi persyaratan dengan nilai 0,00 (0 %). Hasil pengolahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 16 dan Lampiran 8.
Tabel 16. Hasil Pengolahan Horizontal Prioritas Strategi Bauran Pemasaran Gaga Mie 100 PT JTFI Untuk Menghadapi Persaingan
Tujuan
Strategi Bauran Pemasaran
Bobot Prioritas Rasio Inkonsistensi Produk 0,252 2 Harga 0,239 3 Tempat 0,150 4 Menghadapi Persaingan Promosi 0,359 1 0,00
Pada pengolahan tingkat empat untuk tujuan menghadapi persaingan juga telah memenuhi rasio inkonsistensi. Pada strategi produk rasio inkonsistensinya 0,03 (3 %), untuk strategi harga 0,00 (0 %), untuk strategi tempat/saluran
distribusi 0,00 (0 %), untuk strategi promosi 0,02 (2 %). Hasil pengolahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 17 dan Lampiran 10.
Tabel 17. Hasil Pengolahan Horizontal Prioritas Strategi Sub Faktor Bauran Pemasaran Gaga Mie 100 PT JTFI Untuk Tujuan Menghadapi Persaingan
Strategi Bauran Pemasaran
Sub Faktor
Bauran Pemasaran Bobot
Rasio Inkonsistensi Kualitas 0,313 1 Kuantitas (ukuran/berat) 0,265 3 Desain Kemasan 0,120 4 Produk Merek 0,301 2 0,03 Biaya Opersional 0,259 2 Segmentasi konsumen 0,140 3 Harga
Harga Produk Pesaing 0,602 1
0,00 Kemudahan Mendapatkan 0,484 1 Ketersediaan Produk 0,289 2 Tempat Kebersihan Tempat 0,227 3 0,00 Iklan Televisi 0,272 1 Iklan Reklame 0,146 3
Potongan Harga (Discount) 0,122 4 Peragaan (Demo) 0,086 7 Pemberian Hadiah 0,155 2 Hubungan Masyarakat 0,119 5 Promosi Pemasaran Langsung 0,100 6 0,02
Hasil pengolahan horizontal strategi pemasaran untuk tujuan menghadapi persaingan, yang menjadi prioritas pertama adalah strategi promosi dengan bobot 0,359, dan sub faktor utamanya iklan televisi dengan bobot 0,272. Persaingan yang semakin ketat salah satunya ditunjukan dengan adanya promosi yang besar-besaran dilakukan oleh perusahaan. Iklan yang ditayangkan di televisi adalah media yang sangat bagus untuk mendominasi tingkat persaingan tersebut. Iklan tersebut adalah iklan yang bisa menyampaikan pesan dari produk serta tepat pada sasaran. Berdasarkan segmentasi produk Gaga Mie 100 yaitu menengah ke bawah, maka tayangan televisinya pun yang diperuntukan untuk kalangan tersebut, sehingga persaingan bisa dihadapi secara efektif dan efisien
Prioritas kedua adalah strategi produk dengan bobot 0,252, dan sub faktor utamanya adalah kualitas produk dengan bobot 0,313. Persaingan produk Mie Instant di pasaran yang juga mencolok adalah adanya produk-produk yang menawarkan kualitas dengan berbagai keunggulannya masing-masing. Keunggulan yang membedakan produk satu dengan yang lain akan menyebabkan produk tersebut mempunyai daya saing.
Prioritas ketiga adalah strategi harga dengan bobot 0,239, dan yang menjadi sub faktor utamanya adalah harga produk pesaing dengan bobot 0,602. Dalam persaingan, harga dapat dijadikan indikator. Harga produk yang bersaing adalah harga yang sesuai dengan kemampuan konsumen yang menjadi sasaran. Konsumen sebagai pengguna tentunya selain mempertimbangkan faktor kualitas produk, juga akan membandingkan harga antara produk yang satu dengan yang lain. Pada saat penentuan harga produk, tentunya perusahaan harus lebih jeli dalam melihat perkembangan harga produk pesaingnya. Sebagaiman telah disebutkan sebelumnya, jika menurut konsumen kualitas produk Gaga Mie 100 di bawah pesaingnya, maka penentuan harga tidak boleh lebih dari harga pesaing tersebut.
Prioritas keempat adalah strategi tempat/saluran distribusi dengan bobot 0,150, dan sub faktor utamanya adalah kemudahan mendapatkan dengan bobot 0,484. Persaingan produk di pasaran bisa dihadapi dengan adanya pendistribusian yang lebih tepat sasaran, sehingga lebih memudahkan konsumen mendapatkan produk yang ditawarkan tersebut. Produk yang mudah didapatkan akan menjadi pilihan terakhir walaupun terkesan sebagai produk pengganti, akan tetapi apabila kondisi tersebut berlangsung lama, maka akan memberikan citra baik bagi produk
pengganti tersebut, dan akhirnya persaingan yang terjadi bisa dihadapi dengan memperbaiki citra atau pelayanan yang diberikan.
6. 2. 4 Analisis Hasil Pengolahan Horizontal Strategi Pemasaran Untuk Tujuan Meningkatkan Keuntungan
Rasio inkonsistensi pada pengolahan horizontal tingkat tiga ini sudah memenuhi persyaratan. Rasio inkonsistensi bernilai 0,00 (0 %). Hasil pengolahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 18 dan Lampiran 8.
Tabel 18. Hasil Pengolahan Horizontal Prioritas Strategi Bauran Pemasaran Gaga Mie 100 PT JTFI Untuk Meningkatkan Keuntungan
Tujuan
Strategi Bauran Pemasaran
Bobot Prioritas Rasio Inkonsistensi Produk 0,177 3 Harga 0,430 1 Tempat 0,167 4 Meningkatkan Keuntungan Promosi 0,226 2 0,00
Pada pengolahan tingkat empat untuk tujuan meningkatkan keuntungan juga telah memenuhi rasio inkonsistensi. Pada strategi produk rasio inkonsistensinya bernilai 0,01 (0 %), untuk strategi harga 0,00 (0 %), untuk strategi tempat/saluran distribusi 0,02 (2 %), untuk strategi promosi 0,01 (1 %). Hasil pengolahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 19 dan Lampiran 11.
Tabel 19. Hasil Pengolahan Horizontal Prioritas Strategi Sub Faktor Bauran Pemasaran Gaga Mie 100 PT JTFI Untuk Tujuan Meningkatkan Keuntungan
Strategi Bauran Pemasaran
Sub Faktor
Bauran Pemasaran Bobot Prioritas
Rasio Inkonsistensi Kualitas 0,260 2 Kuantitas (ukuran/berat) 0,378 1 Desain Kemasan 0,154 4 Produk Merek 0,208 3 0,01 Biaya Opersional 0,522 1 Segmentasi konsumen 0,142 3 Harga
Harga Produk Pesaing 0,336 2
0,00 Kemudahan Mendapatkan 0,388 2 Ketersediaan Produk 0,417 1 Tempat Kebersihan Tempat 0,194 3 0,02 Iklan Televisi 0,192 1 Iklan Reklame 0,089 7
Potongan Harga (Discount) 0,157 3 Peragaan (Demo) 0,128 5 Pemberian Hadiah 0,113 6 Hubungan Masyarakat 0,170 2 Promosi Pemasaran Langsung 0,150 4 0,01
Prioritas pertama untuk meningkatkan keuntungan adalah strategi harga dengan bobot 0,430 dan sub faktor utamanya adalah biaya operasional dengan bobot 0,522. Penentuan harga berdasarkan biaya operasional produk tentunya menjadi faktor utama karena berhubungan dengan besarnya penerimaan dari penjualan produk tersebut. Harga produk yang terlalu tinggi tidak akan mendatangkan keuntungan yang besar, karena tidak menutupi biaya operasional yang digunakan. Kondisi yang dialami PT JTFI dengan produk Gaga Mie 100 adalah adanya kenaikan harga bahan baku utama yaitu terigu. Apabila prioritas tujuan dari strategi pemasarannya ingin meningkatkan keuntungan, maka dalam penentuan harga produk Gaga Mie 100 tidak bisa tergantung dengan harga produk pesaing, tetapi harus berdasarkan biaya operasionalnya. Penentuan harga ini dilakukan karena para pesaing cenderung bertahan pada harga semula, tidak
terpengaruh dengan adanya kenaikan harga terigu. Para pesaing lebih bertahan karena memilki cadangan terigu yang memadai dengan memproduksinya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Indofood dengan produknya yang bermerek Indomie.
Prioritas kedua adalah strategi promosi dengan bobot 0,226, dan sub faktor utamanya adalah iklan televisi dengan bobot 0,192. meskipun promosi yang dilakukan dengan menggunakan media televisi cukup mahal, tetapi cakupan dalam penyampaian informasi lebih luas dan cepat diterima oleh konsumen, dibandingkan dengan media lain. Informasi yang diterima tersebut secara tidak langsung memberikan keuntungan, karena kemungkinan besar pembelian terhadap produk tersebut akan meningkat.
Prioritas ketiga adalah strategi produk dengan bobot 0,177, dan sub faktor utamanya adalah kuantitas dengan bobot 0,378. Peningkatan keuntungan suatu penjualan produk juga dapat diperoleh dari penyesuaian kuantitas yang meliputi ukuran dan berat produk itu sendiri, artinya sedikit saja kita mengurangi kuantitas dari produk, maka biaya produksi yang digunakan dapat diturunkan. Penurunan biaya produksi mengakibatkan lebih leluasanya dalam penentuan harga pokok produk. Penentuan harga produk yang lebih tinggi dari harga pokok produk akan mendatangkan keuntungan yang besar.
Prioritas keempat adalah strategi tempat/saluran distribusi dengan bobot 0,167, dan sub faktor utamanya adalah ketersediaan produk dengan bobot 0,417. Tempat/saluran distribusi harus menjamin adanya ketersediaan produk pada saat adanya permintaan dari konsumen. Apabila adanya permintaan yang tinggi dan perusahaan dapat memenuhi permintaan tersebut, maka akan memberikan kepercayaan bagi konsumen. Kepercayaan dari konsumen merupakan keuntungan
jangka panjang yang didapatkan perusahaan. Bagan hasil analisis horizontal untuk masing-masing tujuan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 5. Bagan Hasil Analisis Horizontal