• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS STRUKTUR TEKS DAN MUSIK ONANG-ONANG

5.1 Analisis Struktur dan Semiotik Teks Onang-onang

5.1.3 Analisis hermeneutik isi teks onang-onang

Semiotik adalah salah satu teori yang menekankan pada aspek pembaca, yaitu pembacaan heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur bahasa atau arti gramatikalnya, sedangkan pembacaan

hermeneutik atau retroaktif adalah pembacaan dengan pemberian makna atau tafsir

dari teks itu. Makna atau tafsir tersebut seringkali diungkapkan dengan menggunakan majas metafora yaitu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain (Becker,

1978:317) atau menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (Altenbernd, 1970:15).60

Majas metafora ini adalah bahasa kiasan, bahasa indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum yang dapat merubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu (Dale, et.al., 1971:220). Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa imajinatif, bukan dalam pengertian yang benar-benar secara alamiah (Warriner, et.al., 1977:602).61

Secara semiotik metaforis teks onang-onang sarat dengan penggambaran atau deskripsi yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan penyajinya. Baik pribadinya, hubungannya dengan alam, lingkungan maupun aspek sosial kemasyarakatannya. Aspek-aspek tersebut bersangkut paut dengan keadaan diri yang punya acara, latar belakang, nasehat, maupun harapan akan masa depan yang kesemuanya dituangkan secara heuristik (denotatif) maupun hermeneutik (konotatif).

Adapun maksud-maksud tertentu yang dalam penuturannya disampaikan secara hermeneutik (konotatif) adalah terkait erat dengan etika berbahasa bagi masyarakat Mandailing. Dalam etika berbicara bagi masyarakat ini, adalah hal yang

60

Pradopo, op. cit., 66

61

Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Semantik (Bandung: Angkasa, 1995), 112.

tidak lazim apabila suatu maksud disampaikan secara langsung. Misalnya, dalam menyebut nama seseorang yang dihormati karena umur atau derajat kekerabatannya lebih tinggi, haruslah menggunakan unsur metaforik. Keluarga tuan rumah yang mengadakan upacara adat disebut dengan suhut, sebutan kepada ibu yang telah membesarkan atau pun sebutan kepada anak perempuan yang disayangi biasanya disebut dengan inang, sebutan kata amang yang seharusnya mengartikan ayah, namun dikonteks ini merupakan sebutan kepada anak laki-laki yang dikasihi, ibu yang telah membesarkan si anak laki-laki yang mengadakan upacara disebut dengan

inanta soripada.

Pada percakapan adat (rana adat), unsur-unsur metaforik ini juga sangat umum dipakai, bahkan boleh dikatakan menjadi keharusan. Tinggi rendahnya bobot seorang parhata-hata (juru bicara adat), salah satunya adalah diukur berdasarkan kemampuannya berkomunikasi dengan menggunakan unsur-unsur metaforik ini, sebagai contoh :

Mula targompang ko inang tar sulandit i Jikalau kamu terjatuh nak karena terpeleset Di tiop ko padang baya tobu i

Kamu berpegang pada batang tebu itu Marompa ho inang baya marambit on

Menggendong anak lah kamu nak dengan kain gendong ini Adong buse baya di togu-togu i

Ada pula lagi yang dipapah

Kata-kata di atas adalah semacam harapan atau keinginan yang maksudnya ialah bahwa setiap orang yang menikah tentulah berharap mendapatkan keturunan yang banyak. Dipandang dari sisi semiotik metaforis, dalam penyampaian maksud atau keinginan penyajinya, teks onang-onang ada kata yang menggunakan istilah- istilah kekerabatan, nama-nama benda, binatang, tumbuhan maupun benda-benda atau situasi alam sebagai perlambangan (simbol, signs). Tanda atau simbol-simbol ini berasal dari tempat dimana upacara berlangsung, alam sekitar atau dari tempat lain yang secara umum sudah dikenal oleh masyarakat pendukungnya.

Selain itu di dalam teks onang-onang ini, ditemukan pula kata-kata yang pengertiannya tergantung atau terikat kepada kata-kata atau kalimat sebelum dan sesudahnya (baya, ile, onang, taronang,) dalam artian bahwa kalimat tersebut baru mempunyai arti hanya apabila dikaitkan dengan kalimat di atasnya atau dengan kalimat berikutnya. Secara harafiah arti atau maksudnya baru muncul dan akan berubah-ubah sesuai kalimat yang mendahului dan didahuluinya.

munculnya kalimat ini adalah akibat luapan emosi perasaan si penyaji onang-

onang. Dalam keadaan yang demikian rasa haru bahagia tidak ada lagi kata-kata atau

pun kalimat yang tepat yang dapat dipakai untuk menggambarkan bahagianya

perasaan tersebut.62

Tampaknya, fungsi kata-kata ini juga dipergunakan untuk mendukung efek artistik serta upaya penyesuaian jumlah suku kata dengan melodi lagu yang disajikan sebelum akhirnya diselesaikan pada nada terminalnya.

Selain itu, secara heuristik (arti gramatikal) kata: baya, pada setiap kata sebelumnya “ile onang… baya onang….” Mengartikan bahwa rasa besar yang timbul dari dalam diri yang mengkondisikan kedalaman rasa syukur yang tercurah. Kata “baya” yang sesungguhnya bisa berubah-ubah maknanya dikarenakan kondisinya. Sedangkan secara melodis, dapat dilihat bahwa pada bagian munculnya kata-kata tersebut di atas, terdapat penurunan tensi (Inggris: tension) pada melodi lagu, setelah sebelumnya mengalami ketegangan baik secara sillabis maupun melismatis.

Onang. Dalam bahasa Mandailing kata „onang‟ artinya adalah nyanyian,

namun pengertian ini tidak berlaku secara umum, sebab nyanyian dalam bahasa Mandailing adalah „ende‟. Dalam konteks bernyanyi di acara perkawinan ini dapat diartikan sebagai pemberitahuan ataupun pengajak bagi penonton sebagai ungkapan isi hati maksud acara yang dilaksanakan pada hari itu. Sebagai suatu narasi lagu yang mendeskripsikan latar belakang dari si empunya acara dan harapan-harapan yang

62

Menurut Brodbeck (1963) makna kalimat seperti ini disebut makna psikologis atau makna intensional karena maknanya tidak terletak pada kata-kata, tetapi pada pikiran orang, pada persepsinya yang terbentuk karena pengalaman individu. Lihat Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), 278.

tercapai maupun yang akan diinginkan kedepannya kepada kedua pengantin dan seluruh keluarga.

Ale. Kata ale, le, allai le, adalah ungkapan penyerahan isi hati pada situasi atau kondisi yang dialami oleh seseorang yang merasakan nikmat tersendiri dalam memberikan nasehat dan ungkapan isi hati yang tertanam dari dulunya. Kata ini juga berarti permohonan atau ungkapan memelas dari orang tua yang memestakan anaknya karena mereka tidak ingin nantinya keluarga mereka larut dalam ketidak tahuan beradat.

Taronang. Kata taronang adalah yang bermaksud bahwasanya “onang” yang

di awal tadi sudah tersampaikan maksud dan tujuannya. Kata “onang” tadi yang berartikan sebagai pemberitahuan dan pengajak bagi yang mendengar, maka kata “taronang” adalah yang bermaksud menegaskan kembali agar isi dari pemberitahuan tadi benar-benar masuk ke dalam hati dan sanubari si pendengar.

Selanjutnya adalah analisis semiotik teks dari onang-onang. Pada bagian ini terjemahan dari setiap teks onang-onang tidak akan disertakan lagi, oleh karena hal ini sudah dilakukan pada pembahasan sebelumnya yaitu pada halaman 160-166.

Dokumen terkait