ADAT PERKAWINAN MANDAILING DI PANYABUNGAN 4.1 Dalian Na Tolu
4.5 Pesta Adat Memberangkatkan Boru
4.5.3 Panaek gordang (menaikkan gondang )
4.5.3.4 Tampilnya onang-onang pada upacara perkawinan
Onang-onang adalah sebuah nyanyian pengiring tor-tor pada adat perkawinan
Mandailing. Akan tetapi tidak jarang pula digunakan dalam acara seremonial adat masyarakat Mandailing. Nyanyian ini mengandung makna pujian atau do‟a-do‟a ataupun harapan yang dilaksanakan dalam acara yang dimaksud dan kembali kepada Sang Pencipta (adat yang berdasarkan dari ketentuan agama). Dengan kata lain,
Onang-onang dapat terbagi atas dua bentuk, yaitu Onang-onang dalam konteks
sukacita atau siriaon dan bentuk Onang-onang dalam konteks dukacita atau siluluton. Namun setelah masuknya Islam di Mandailing, onang-onang dalam konteks siluluton (duka cita) telah dihapuskan.
Onang-onang lazimnya dipergunakan dalam konteks ritual perkawinan,
dimana Onang-onang memberikan petuah atau pesan kehidupan kepada individu
47
Hasil wawancara dengan Ridwan Nasution (pargondang, paruning-uning, paronang-onang) pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 09:23 melalui telepon.
yang melakukan perkawinan, Onang-onang juga dapat dipergunakan sebagai bentuk petuah orangtua kepada anak-anaknya. Satu hal yang menjadi kekhususan onang-
onang ini adalah dimana lirik yang dinyanyikan oleh penyanyi (Mandailing :
Paronang-onang) pada acara perkawinan ini dilakukan secara spontan saat acara
berlangsung tanpa ada penulisan lirik dan nyanyian harus sesuai isinya setelah mereka mendapatkan deskripsi tentang “bayo pangoli” dan “boru na nioli” dan mengungkapkan status sosial penarinya (Mandailing : Panortor) dan suasana saat acara berlangsung.
Onang-onang mulai dinyanyikan setelah acara pembukaan atau disebut
dengan panaek gondang. Onang-onang memiliki ritmis yang tetap dan berulang- ulang. Onang-onang selalu dimulai oleh bunyi dari alat musik suling kemudian di lanjutkan oleh nyanyian pengiring tor-tor (Mandailing : Onang-onang) yang dinyanyikan penyanyi (Mandailing : Paronang-onang).
Onang-onang memiliki makna kiasan yang terdapat pada teks nyanyian.
Makna tersebut memiliki keterkaitan antara kalimat sebelumnya dengan kalimat sesudahnya. Pada lirik juga terdapat kata tambahan atau pengurangan yang sebenarnya tidak memiliki arti, namun fungsinya untuk mengikuti iringan musik agar tidak terjadi kejanggalan atau tertinggal.
Setiap paronang-onang terlebih dahulu harus mengetahui maksud dan tujuan pelaksanaan upacara tersebut. Selain itu ia juga harus tahu kepada siapa nyanyian itu ditujukan, agar paronang-onang dapat menyesuaikan isi dan syair lagu yang dinyanyikannya. Misalnya, dalam upacara perkawinan, gondang yang pertama adalah
Gondang Suhut Sihabolonan, maka paronang-onang harus menyesuaikan isi onang-
onang tersebut sesuai dengan upacara perkawinan tersebut dan latar belakang
kehidupan suhut sihabolonan. Oleh sebab itu syair onang-onang tidak mempunyai teks yang pasti, melainkan diciptakan oleh paronang-onang secara spontan.
Setiap paronang-onang tentu berbeda dalam menciptakan versinya, semakin kaya perbendaharaan hata sastra yang di kuasai paronang-onang akan semakin baik pula lirik yang dipergunakan dalam nyanyiannya. Panjang lagu onang-onang tidak ditentukan waktunya, ini tergantung kepada paronang-onang itu sendiri, juga melihat stuasi waktu yang disediakan dalam upacara ini.
Pada onang-onang terdapat bait-bait kata pembukaan, sebagai pemberitahuan kepada kerabat yang hadir bahwa acara penampilan onang-onang (gondang) mulai dibuka atau ditampilkan. Oleh karena itu bagian pembukaan ini hanya ditampilkan satu kali saja yakni pada onang-onang yang mengiringi Gondang Suhut Sihabolonan, yang merupakan gondang pertama dari setiap penampilan gondang. Paronang-onang
menyampaikan kata pembukaan ini kepada seluruh kerabat yang hadir dan juga kepada orang yang menortor. Dalam isi pembukaan tersebut paronang-onang biasanya menyampaikan suatu pesan yang ditujukan kepada masyarakat Mandailing umumnya, dan khusunya pada kerabat yang hadir pada saat upacara itu, agar tetap mempertahankan nilai-nilai yang terkandung dalam musik gondang, baik dari aturan penampilannya maupun dari maknanya.
Onang-onang juga berisikan lirik-lirik yang merupakan penjelasan maksud
upacara, yang ditujukan kepada kerabat yang hadir. Apabila ditinjau dari kata yang terdapat pada bagian ini, maka paronang-onang berperan sebagai penyambung lidah
panortor (suhut sihabolonan) guna menjelaskan maksud dari upacara tersebut,
sehingga dari isi bagian ini orang dapat lebih banyak mengetahui tentang maksud upacara yang sedang dilaksanakan. Paronang-onang dalam menyampaikan penjelasan tersebut, sudah tentu akan menyesuaikan syairnya dengan upacara yang sedang dilaksanakan. Misalnya, dalam upacara perkawinan paronang-onang akan menjelaskan bahwa pelaksanaan upacara itu adalah untuk menyambut menantu mereka. Dalam penjelasan tersebut paronang-onang akan menceritakan pula identitas dari masing-masing pengantin, contohnya seperti pengantin itu berasal dari marga
apa, anak nomor berapa, dan tempat tinggalnya dimana. Isi bagian lirik ini selalu ditampilkan pada setiap onang-onang.
Dalam onang-onang terdapat juga bagian yang menceriterakan latar belakang dari setiap panortor kepada seluruh kerabat yang hadir. Ceritera ini hanyalah mengenai hal yang baik-baik saja, sedangkan hal yang tidak baik mengenai penortor tidak pernah diceriterakan. Adapun ceritera latar belakang yang akan disampaikan adalah mengenai identitas dan keberhasilan dari setiap panortor, misalnya, kedudukan si panortor di dalam pesta itu sebagai apa, berasal dari marga mana, dan kedudukannya di tengah-tengah masyarakat dan lain-lain. Oleh karena itu paronang-
onang secara umum harus pula mengetahui atau mengenai pribadi setiap orang yang
manortor.
Apabila ditinjau dari arti kata dalam liriknya, maka fungsi dari bagian nyanyian ini merupakan suatu penjelasan untuk memperkenalkan si panortor kepada seluruh kerabat yang hadir, sehingga dari sana orang dapat mengetahui bagaimana hubungan si panortor terhadap pihak suhut sihabolonan, sekaligus juga orang menentukan tuturnya (kedudukan) dalam peradatan. Dengan demikian bagian nyanyian ini akan ditampilkan pada setiap onang-onang.
Bagian lirik yang berisikan kata-kata pujian juga terdapat pada onang-onang. Isi pujian ini ditujukan kepada setiap yang menortor. Dalam penyampaian pujian tersebut, paronang-onang selalu memperhatikan kedudukan si panortor, baik dalam peradatan, dalam pekerjaan, atau pun dalam kehidupan sehari-hari. Sama dengan menceriterakan latar belakang parnortor, paronang-onang selalu memberikan pujian mengenai hal-hal yang baik saja. Jika suhut inanta soripada yang menortor misalnya, maka paronang-onang akan memberikan pujian tentang kebijaksanaan sebagai istri atau kepandaiannya dalam mendidik anak. Jika mora yang manortor, maka isi pujiannya akan mengenai kesedian mora dalam memberikan berkat dan kesediaan mora dalam menghadiri upacara tersebut. Begitu pula kalau anak boru yang
manortor mata kata pujian yang diberikan akan mengenai kerajinan mereka dalam
membantu pelaksanaan pekerjaan di pesta tersebut.
Dalam onang-onang terdapat juga bagian yang berisikan nasehat. Nasehat ini ditujuakan kepada pihak parnortor. Isi nasehat yang dismapaikan paronang-onang tentu saja harus disesuaikan dengan kedudukan yang manortor. Misalnya jika pihak
suhut yang manortor, isi nasehat yang disampaikan padanya adalah untuk
mengingatkan pihak suhut agar tidak juga mengucapkan syukur kepada Tuhan atas terlaksanaannya upacara tersebut. Jika pengantin (namora pule) yang manortor, maka
isi nasehat yang diberikan ialah untuk hidup seia-sekata, sepenanggungan, baik dalam suasana duka maupun suka.
Dibagian akhir lirik onang-onang terdapat juga bagian yang berisikan doa, untuk meminta perlindungan kepada Tuhan, meminta agar diberi umur yang panjang, diberikan kesehatan, dan meminta rejeki yang baik dalam kehidupannya. Bagian doa ini ditampilkan pada setaip penampilan gondang, ditujukan kepada setiap penortor dan kepada kerabat yang hadir. Dalam penyampain doa ini kadang-kadang paronang-
onang berperan sebagai wakil dari yang menortor, dalam meminta perlindungan pada
Tuhan, kadang-kadang ia berperan sebagai wakil dari seluruh kerabat yang hadir, yakni pada waktu menyampaikan doa yang ditujukan pada pihak suhut sihabolonan dan kedua pengantin.