HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Hirarki Proses (AHP)
Dari hasil Focus Group Dicussions (FGD) yang merupakan draft II kemudian digunakan sebagai acuan di dalam menyimpulkan strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim) Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya Provinsi Sulawesi Selatan (draft III). Pengambilan bobot untuk menyusun prioritas dengan Analysis Hierarchy Process menggunakan software AHP yaitu Expert Choise 11 terhadap beberapa responden yaitu :
1) Dinas Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa 2) Dinas Pertanian Kabupaten Gowa
3) Pemerintah Desa Mangempang 4) Kepala Dusun Mangempang 5) Tokoh Agama Desa MAngempang 6) Ketua Gabungan Kelompok Tani
Proses penyusunan hirarki merupakan cara untuk mendapatkan pemecahan masalah dengan mempertimbangkan kriteria atau komponen untuk mencapai tujuan. Berikut adalah skema partisipan serta hasil sintesa AHP tiap partisipan.
70
Gambar 7. Partisipan AHP
Beberapa strategi yang telah ditelah disepakati dalam kegiatan Focus Group Discussions (FGD) kemudian disusun secara hierarki dengan melakukan wawancara terstruktur terhadap stakeholder. Berikut adalah hasil hirarki yang telah dilakukan berdasarkan pendapat setiap partisipan (stakeholder):
a. Kelompok Tani
Gambar 8. Skala prioritas hasil sintesa AHP menurut kelompok tani tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim dengan nilai inconsistensi 0.20. Dimana nilai inconsistensi lebih kecil 0.25 sehingga data tersebut dalam batas penerimaan.
PARTICIPANT
Tokoh Agama Ketua
Gapoktan
Kepala Dusun
Kepala Desa
Dinas Pertanian
Dinas BLHD
Kompilasi Semua Partisipan
71
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa hasil sintesis AHP menurut kelompok tani untuk strategi pengembangan program kampung iklim komponen sarana dan prasarana memperoleh nilai 0,408, komponen Sumber Daya Manusia (SDM) memperoleh nilai 0,293, komponen kegiatan memperoleh nilai 0,235 dan untuk komponen kearifan lokal memperoleh nilai 0,064.
Gambar 9. Hasil sintesis AHP menurut kelompok tani dari gabungan tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim)
72
b. Tokoh Agama
Gambar 10.Skala prioritas hasil sintesa AHP menurut tokoh agama tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim dengan nilai inconsistensi 0.10. Dimana nilai inconsistensi lebih kecil 0.25 sehingga data tersebut dalam batas penerimaan.
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa hasil sintesis AHP menurut tokoh agama untuk strategi pengembangan program kampung iklim komponen sarana dan prasarana memperoleh nilai 0,479, komponen Sumber Daya Manusia (SDM) memperoleh nilai 0,238, komponen kegiatan memperoleh nilai 0,199 dan untuk komponen kearifan lokal memperoleh nilai 0,084.
73
Gambar 11. Hasil sintesis AHP menurut tokoh agama dari gabungan tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim)
c. Kepala Dusun
Gambar 12.Skala prioritas hasil sintesa AHP menurut kepala dusun tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim dengan nilai inconsistensi 0.13. Dimana nilai inconsistensi lebih kecil 0.25 sehingga data tersebut dalam batas penerimaan.
74
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa hasil sintesis AHP menurut kepala dusun untuk strategi pengembangan program kampung iklim komponen sarana dan prasarana memperoleh nilai 0,473, komponen Sumber Daya Manusia (SDM) memperoleh nilai 0,226, komponen kegiatan memperoleh nilai 0,226 dan untuk komponen kearifan lokal memperoleh nilai 0,074.
Gambar 13.Hasil sintesis AHP menurut kepala dusun dari gabungan tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim)
75
d. Pemerintah Desa (Kepala Desa)
Gambar 14.Skala prioritas hasil sintesa AHP menurut kepala desa tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim dengan nilai inconsistensi 0.11. Dimana nilai inconsistensi lebih kecil 0.25 sehingga data tersebut dalam batas penerimaan.
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa hasil sintesis AHP menurut pemerintah desa untuk strategi pengembangan program kampung iklim komponen sarana dan prasarana memperoleh nilai 0,481, komponen Sumber Daya Manusia (SDM) memperoleh nilai 0,280, komponen kegiatan memperoleh nilai 0,190 dan untuk komponen kearifan lokal memperoleh nilai 0,050.
76
Gambar 15.Hasil sintesis AHP menurut pemerintah desa dari gabungan tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim).
e. Dinas Pertanian Kabupaten Gowa
Gambar 16. Skala prioritas hasil sintesa AHP menurut dinas pertanian tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim dengan nilai inconsistensi 0.22. Dimana nilai inconsistensi lebih kecil 0.25 sehingga data tersebut dalam batas penerimaan.
77
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa hasil sintesis AHP menurut Dinas Pertanian Kabupaten Gowa untuk strategi pengembangan program kampung iklim komponen Sumber Daya Manusia (SDM) memperoleh nilai 0,689 komponen sarana dan prasarana memperoleh nilai 0,190, komponen kearifan lokal memperoleh nilai 0,082 dan untuk komponen kegiatan memperoleh nilai 0,039.
Gambar 17.Hasil sintesis AHP menurut Dinas Pertanian Kabupaten Gowa dari gabungan tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim).
78
f. Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa
Gambar 18.Skala prioritas hasil sintesa AHP menurut BLHD tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim dengan nilai inconsistensi 0.18. Dimana nilai inconsistensi lebih kecil 0.25 sehingga data tersebut dalam batas penerimaan.
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa hasil sintesis AHP menurut Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa untuk strategi pengembangan program kampung iklim komponen Sumber Daya Manusia (SDM) memperoleh nilai 0,407, komponen kearifan lokal memperoleh nilai 0,295 komponen sarana dan prasarana memperoleh nilai 0,179, dan untuk komponen kegiatan memperoleh nilai 0,119.
79
Gambar 19.Hasil sintesis AHP menurut BLHD Kabupaten Gowa dari gabungan tiap komponen strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim).
Berdasarkan wawancara dengan pihak kelompok tani, tokoh agama, kepala dusun dan pemerintah desa serta hasil sintesis AHP (Gambar 6, 8, 10 dan 12) menunjukkan bahwa komponen pengembangan sarana dan prasarana merupakan hal prioritas dalam pengembangan strategi program kampung iklim, karena tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai seluruh kegiatan tidak akan berjalan dengan lancar, dan tidak akan menghasilkan Sumber Daya Manusia yang handal.
Hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad Yuri Gagarin, Saleh Pallu dan Baharuddin (2011) yang meyatakan bahwa sarana dan prasarana suatu
80
daerah akan sangat berpengaruh terhadap kinerja sumber daya manusia dan mendukung berjalannya suatu kegiatan.
Sedangkan untuk wawancara dengan pihak Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa dan Dinas Pertanian Kabupaten Gowa serta hasil sintesis AHP (Gambar 15 dan 17) menunjukkan bahwa komponen pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan hal prioritas dalam pengembangan program kampung iklim, karena sumber daya manusia merupakan kunci utama memperoleh hasil maksimal bagi suatu kegiatan. Hal ini didukung oleh Sunarta (2010) yang mengatakan bahwa sumber daya manusia merupakan salah satu asset yang tidak dapat tergantikan bagi suatu organisasi dalam mendukung keberlangsungannya.
81
g. Komparasi Strategi Keseluruhan Paritisipan
Gambar 20.Hasil sintesis AHP keseluruhan partisipan untuk melihat keseluruhan skala prioritas untuk semua komponen strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim).
Berdasarkan gambar diatas hasil sintesis AHP seluruh partisipan untuk strategi pengembangan program kampung iklim (Proklim) menunjukkan bahwa urutan prioritas strategi yang diperlukan yaitu mendayagunakan tokoh masyarakat 0,127, perbaikan jalan tani 0,113, pelatihan memanfaatkan hasil-hasil pertanian 0,093, penyuluhan terkait pengembangan Proklim 0,074, pembuatan saluran irigasi 0,074,
82
menggalakkan kegiatan bergotong-royong 0,058, menambah pembuatan embung 0,050, membiasakan masyarakat desa menggunakan pupuk organik 0,049, mengadakan rapat koordinasi 0,043, mengadakan kegiatan appadekko dan accuku 0,043, memberikan bantuan teknologi traktor dan mesin penggiling padi 0,043, , memberikan bantuan dana 0,039, pelatihan untuk menambah pengetahuan agrowisata 0,035, pembenahan infrastruktur desa 0,029, memberikan bantuan pupuk 0,029, melakukan sosialisasi secara intensif 0,027, memberikan bantuan bibit pohon sesuai keadaan geografis 0,027 dan menggalakkan kegiatan penanaman pohon 0,024, membuat kebun percontohan 0,022.