BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
6.1. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman 82
Pemilihan responden untuk menyusun strategi yang tepat untuk mempertahankan pelanggan pada Terminal Petikemas Makassar dilakukan berdasarkan teknik purposive sampling dengan pertimbangan bahwa responden adalah pelaku yang mempunyai "sense" tentang Terminal Petikemas Makassar dan permasalahannya, merasakan akibat suatu masalah atau punya kepentingan terhadap masalah tersebut. Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah para pejabat kunci pada PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) yang berada di Kantor Pusat yang berkaitan dengan penetapan strategi pengembangan pelabuhan dan General Manager serta Manager Terminal Petikemas Bitung, Cabang Bitung, Terminal Petikemas Makassar dan Cabang Makassar, yaitu sebanyak 30 (tiga) orang sebagai berikut :
1. Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero);
2. Direktur Fasilitas dan Peralatan Pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero);
3. Sekretaris Perusahaan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero);
4. Kepala Biro Perencanaan dan Strategi Perusahaan 5. General Manager Terminal Petikemas Makassar;
6. General Manager Cabang Makassar PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero);
7. General Manager Terminal Petikemas Bitung;
8. General Manager Cabang Bitung PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) 9. Senior Manager Aneka Usaha dan Properti PT Pelabuhan Indonesia IV
(Persero);
10. Senior Manager Pelayanan Terminal PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero);
11. Senior Manager Pengembangan Usaha dan Pentarifan
12. Senior Manager Administrasi Sumber Daya Manusia PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero);
13. Asisten Kepala Biro/Asisten Senior Manager
14. Manager Cabang Bitung (Teknik, Pelayanan Barang dan Aneka Usaha dan Pelayanan Kapal);
15. Manager Cabang Makassar (Teknik, Pelayanan Barang dan Aneka Usaha dan Pelayanan Kapal);
16. Manager Terminal Petikemas Bitung (Teknik, dan Operasi);
17. Manager Terminal Petikemas Makassar (Teknik, dan Operasi);
18. Pemakai Jasa
Untuk memperoleh hasil analisa yang objektif antara pelabuhan Bitung dan Makassar New Port sebagai International Hub Port, maka kepada para responden disebarkan dan diwawancarai dengan key faktor yang sama, sehinggan dapat diidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
dari Pelabuhan Bitung dan Makassar New Port.
6.1.1 Matriks Evaluasi Internal
A. Faktor Kekuatan Internal (Strength)
Identifikasi faktor kunci dari kekuatan internal berikut penjelasannya adalah sebagai berikut :
1) Lokasi pelabuhan yang strategis
Pelabuhan Makassar terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, berada pada jalur Alur Laut kepulauan Indonesia (ALKI 2) melewati laut Sulawesi-Selat Makassar-Lautan Flores-Sulawesi-Selat Lombok dan Pelabuhan Bitung berada pada jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI III) melintasi Samudera Pasifik-Selat Maluku-Laut Seram- Laut Banda. Kedua pelabuhan tersebut masuk dalam jalur Tol Laut yang merupakan program pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan dan disterilisasi harga di Wilayah Indonesia Bagian Timur. Dengan adanya Program Tol Laut diharapkan akan terjadi pengurangan biaya logistic melalui konetivitas laut yang efektif berupa adanya kapal yang melayari secara rutin dan terjadwal dari barat sampai ke timur
2) Dukungan Penuh Manajemen PT Pelindo IV (Persero) untuk pengembangan dan pemenuhan pendanaan
Pembangunan Makassar New Port telah mulai dilaksanaankan sejak tahun 2015 dengan menggunakan sumber Dana Internal PT Internal PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) sedangkan untuk pengembangan Pelabuhan Bitung dengan menggunakan sumber dana Penyertaan
Modal Negara, PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) saat ini sedang melaksanakan pembangunan perpanjangan dermaga 131 m dan reklamasi 5 Ha
3) Kegiatan pembangunan pelabuhan sebagai International hub port telah mulai dilaksanakan
Dengan menggunakan sumber dana Internal PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) telah melakukan pembangunan Makassar New Port tahap I dan dengan kapasaitas 800.000 teus/tahun, dan direncanakan akan siap dioperasikan pada akhir tahun 2018, sedangkan untuk pengembangan Makassar New Port dengan kapasitas terpasang 3.500.000 teus/tahun direncanakan selesai pada tahun 2025.
Pelabuhan Bitung dengan menggunakan sumber dana Penyertaan Modal Negara telah melaksanakan perpanjangan dermaga 131 m’ dan lapangan penumpukan dengan luas 5 Ha dengan demikan total kapasitas terpasang pelabuhan bitung adalah 700.000 teus/tahun, dan untuk pengembangan pelabuhan Bitung selanjutanya PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) masih melihat perkembangan dari Kawasan Ekonomi Khusus Bitung yang sampai saat ini masa dalam tahap pembebasan lahan.
4) Memiliki backup area pengembangan yang dapat melayani angkutan petikemas nasional dan internasional minimal 3.500.000 teus/tahun Makasar New Port memiliki backup area pengembangan untuk tahap I seluas 125 ha, untuk lapangan penumpukan petikemas seluas 50 Ha
dengan kapasitas terpasang untuk tahap I sebesar 2.400.000 teus/tahun dan tahap II seluas 150 Ha, untuk petikemas seluas 50 Ha dengan kapasitas terpasanga 2.500.000 teus/tahun. Kedalaman kolam untuk tahap I dan II adalah 16 M LWS.
Untuk memujudkan Bitung sebagai International hub port akan dilakukan revitalisasi pelabuhan Bitung dan Terminal Petikemas Bitung, dan akan diperuntukkan untuk kegiatan petikemas, sedangan kegiatan penumpang dan general cargo akan direlokasikan ke Kawasan Ekonomi Khusus, dengan revitalisasi tersebut luas backup area pelabuhan Bitung adalah seluas 30 Ha dengan kapasitas terpasang 1.500.000 teus/tahun, dengan kedalaman kolah 14 m LWS
5) Telah melayani angkutan alih muat (transhipment) petikemas nasional dan internasional
Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan telah menjadi transhipment bagi pelabuhan-pelabuhan yang berada di wilayah Indonesia Timur, sampai dengan saat ini pelabuhan Bitung belum melayani petikemas transhipment.
6) Memiliki hubungan yang baik dengan para stakeholder, serikat pelabuhan, dan pemerintah daerah
Untuk kegiatan pelayaran internasional, pemerintah, PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) dan pelayaran, melakukan kesepakatan, dimana pemerintah daerah menjamin kesediakan komiti eksport, hal ini dibuktikan dengan dilaksanakannya Direct Call di Terminal Petikemas
Makassar dan Direct Call tersebut mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.
PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) juga telah melakukan kerjasama dengan pelayaran untuk melakukankan pelayaran internasional Bitung-Davao(Filipina), tetapi karena kurangnya komuditi yang akan dieksport maka kegiatan pelayaran tersebut tidak dilaksankan lagi.
6.1.2. Faktor Kelemahan Internal (Weaknes)
Selain terdapat kekuatan, pelabuhan juga memiliki kelemahan-kelemahan yang harus mampu diperbaiki. Berikut ini adalah hasil identifikasi kelemahan:
1) Adanya ketidakseimbangan cargo/inbalance cargo,
Ketidakseimbangan cargo dialami semua pelabuhan yang berada di Wilayah Indonesia Timur, demikian juga pelabuhan Bitung dan Makassar.
2) Kesenjangan dalam hal keterampilan, karena tidak adanya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan sumber daya manusia.
Sumber Daya Manusia merupakan hal yang sangat penting menunjang keberhasilan pelayanan jasa kepelabuhan dan kepuasan stakeholder sebagai tolok ukurnya. Dalam mengopesikan suatu pelabuhan dibutuhkan kompetensi SDM yang menguasai antara lain : operasi pelabuhan, teknik kepelabuhanan, unsur logistik dan manajemen kepelabuhanan.
Pelabuhan Makassar merupakan pelabuhan kelas Utama, sehingga secara kompetensi Makassar memilki keungulana SDM dibandingkan dengan pelabuhan Bitung sebagai pelabuhan Kelas I.
3) Biaya besar dan waktu yang cukup lama untuk pengembangan Pelabuhan
Untuk pembangunan pelabuhan dibutuhkan biaya yang besar dengan waktu pengembalian investasi yang cukup lama serta waktu pelaksanaan konstruksi yang lebih dari 1 tahun anggaran, dengan nilai investasi yang besar dan pengembalian yang cukup lama.
4) Kegiatan promosi dan pemasaran yang dilakukan masih sangat kurang, sehingga pertumbuhan customer baru sangat kecil.
Aktor eksternal yang menaungi bisnis kepelabuhanan nasional terdiri dari dua elemen, yaitu yang berada di dalam negeri sendiri dan yang lainnya berasal dari luar negeri. Melakukan temu bisnis dengan para stakeholder diharapkan dapat meningkatkan trafik jasa kepelabuhanan.
5) Ketergantungan terhadap vendor peralatan dan teknologi informasi yang cukup tinggi.
Sebagian besar suprastruktur pelabuhan berasal dari luar indonesia sehingga ketergantungan pelabuhan terhadap vendor peralatan sangat besar, demikian juga dengan sistem informasi yang digunakan di pelabuhan, sehingga ketergantung terhadap vendor sangat besar dalam menunjang kelancaran operasional pelabuhan.
6.1.3. Faktor Peluang Eksternal (Opportunity)
Berdasarkan hasil analisis observasi dan wawancara yang dilakukan diperoleh beberapa peluang yang dapat dikembangkan oleh pelabuhan adapun peluang tersebut antara lain:
1) Peran pemerintah daerah yang sangat mendukung terlaksananya International Hub Port
Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan sangat sangat mendukung terlaksananya International hub port di Makassar, hal ini dapat dilihat dari dukungan Pemerintah Daerah pada pengembangan Makassar New Port, dimana sesuai dengan perjanjian kesepakatan untuk pembangunan Makassar New Port, pemerintah daerah bersama-sama dengan pemerintah pusat yang menyiapkan jalan masuk ke lokasi Makassar New Port dan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) akan melaksanakan kegiatan pembangunan Makassar New Port sesuai dengan konses yang telah disepakati dengan Otoritas Pelabuhan Makassar.
Lokasi pengembangan pelabuhan Bitung sebagai International hub port sampai saat ini menjadi dalam tahap studi, pemerintah Daerah Sulawesi Utara mengusulkan lokasi pengembangan pelabuhan Bitung sebagai International hub port di lokasi Kawasan Ekonomi Khusus
2) Memiliki konektivitas pelabuhan laut dengan Kawasan Industri/Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Sulawesi Selatan telah memiliki Kawasan Industri yang berjalak kurang lebih + 12 KM dari Makasar New Port.
Berdasarkan PP No 32 tahun 2014 tanggal 16 Mei 2014, telah ditetapkan Kawasan Ekonomi Khusus yang berlokasi di Tanjung Merah dan berjarak kurang lebih + 9 KM dari pelabuhan Bitung
3) Merupakan bagian dari konsolidasi program tol laut pemerintah
Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Bitung merupakan pelabuhan yang termasuk dalam program “Tol Laut” Pemerintah Pusat
Sumber : PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)
Gambar 6.9 Peta jalur Tol Laut Indonesia
4) Telah melayani pelayaran internasional
Pelabuhan Makassar telah melakukan direct call dengan menggandeng perusahaan pelayaran global berbasis di Hongkong SITC container dengan rute Hongkong-Makassar-Jakarta- Serawak-Manila-Hongkong.
Pelabuhan Bitung [ada tahun 2014 telah melaksanakan direct call yang dilayani oleh Maersk Line dengan rute Papua New Guinea melalui Port Moresby-Port Noro, Lea Kemudian ke Bitung dan terakhir ke Tanjung Pelepas Malaysia, namun kegiatan tersebut telah dihentikan karena kurangnya muatan balik, sehingga mungkin bagi Mersk Line jalur pelayaran tersebut tidak ekonomis lagi.
5) Dukungan perusahaan pelayaran terhadap terwujudnya International Hub Port.
Pelabuhan membutuhkan kolaborasi dan dukungan penuh perusahan pelayaran demi kelangsungan, pengembangan dan pembangunan pelabuhan. Diharapkan dapat terbentuk kesepahaman untuk mewujudkan sinergi berdasarkan profesionalisme dan mempererat ikatan yang telah terjalin antara pelabuhan dan perusahaan pelayaran sehingga dapat memberikan pelayanan dan inovasi yang lebih baik dalam mewujudkan international hub port .
6) Potensi untuk memperluas pangsa pasar dan kegiatan dengan cara melakukan kerjasama dengan pihak lain
6.1.4. Ancaman Pelabuhan Makassar
Lebih lanjut dilakukan analisis terkait ancaman/tantangan yang sedianya akan dihadapi oleh pelabuhan, antara lain:
1) Kepastian Regulasi pemerintah terhadap pengelolaan pelabuhan yang bisa berubah setiap saat
2) Persaingan yang sangat ketat dengan berbagai pelabuhan International Hub Port di negara lain, khususnya negara tetangga yang lebih unggul dari berbagai aspek dibandingkan Pelabuhan Makassar dan Bitung 3) Adanya konflik kepentingan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah terkait pengelolaan pelabuhan
4) Tuntutan dari para stakeholder untuk terus meningkatkan kinerja pelayanan dengan biaya yang semakin murah.
5) Rentan terhadap perubahan teknologi transportasi laut yang sangat cepat perubahannya
Perubahan pola transportasi laut yang begitu cepat mengalami perubahan, saat ini pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Bitung masih dapat disandari oleh kapal – kapal Generasi kedua, yaitu type Celullar Containership, dengan panjang (LOA) : 215 meter dan kedalaman draft maksimal – 10 mLWS dengan kapasitas muat petikemas 1.000 Teus – 2.500 Teus perkapal.
Untuk menjadi International Hub Port, pelabuhan harus bisa melayani kapal-kapal dengan type Post Panamax Plus
6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14)
Sumber : PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)
Gambar 6.10 Type dan ukuran Kapal Kontainer