Jumlah Harta Jumlah Hutang
C. Analisis Historis
SHU Bersih Modal =
95.085.528,06
601.274.068,69
= 15,8 % C. Analisis HistorisUntuk mengetahui perkembangan keadaan keuangan KPN ”HARAPAN BERSAMA” Sekretariat Daerah Kabupaten Bulungan dapat digunakan analisis historis.
Analisis historis membandingkan rasio-rasio keuangan sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio keuangan sebelumnya atau di waktu-waktu yang lalu. Di dalam analisis historis dapat dilihat kenaikan atau penurunan kinerja keuangan yang dicapai oleh setiap organisasi setiap tahunnya.
1. Rekapitulasi Hasil-hasil Perhitungan Rasio-Rasio Keuangan KPN ”HARAPAN BERSAMA” Sekretariat Daerah Kabupaten Bulungan dari Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2011
Rekapitulasi hasil perhitungan rasio-rasio keuangan KPN ”HARAPAN BERSAMA” Sekretariat Daerah Kabupaten Bulungan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 dapat dilihat pada tabel 5 berikut
2. Analisis Perkembangan Rasio-rasio keuangan KPN ”HARAPAN BERSAMA” Kopertis Wilayah Kabupaten Bulungan (2008 – 2011)
Dari rangkuman atau rekapitulasi perhitungan rasio-rasio keuangan KPN ”HARAPAN BERSAMA” dari tahun buku 2008 sampai dengan tahun buku 2011, maka dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” disajikan dalam 2 (dua) jenis yaitu rasio lancar dan rasio cepat. Kedua jenis rasio ini paling umum digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi/membayar kewajiban jangka pendeknya. Rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” pada tahun 1997 sangat rendah yakni rasio lancar 109 % atau 1,09 kali, sedangkan rasio cepat hanya 106 % atau 1,06 kali. Jika dibandingkan dengan rasio-rasio penilaian (rasio tertimbang) yang ditetapkan oleh Dinas Koperasi untuk menilai kesehatan koperasi yaitu untuk rasio likuiditas paling rendah 125 % atau 1,25 kali. Maka rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” baik rasio lancarnya maupun terhadap rasio cepatnya tergolong agak rendah (kurang sehat). Penyebab rendahnya rasio likuiditas disebabkan karena di samping krisis moneter yang menyebabkan
harga-harga sangat berfluktuasi tinggi, juga karena kesalahan kebijakan pengurus yang menyalurkan pinjaman (kredit) kepada non anggota. Piutang kepada non anggota tidak efektif pengembaliannya. Pada tahun buku 1998 rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” sudah mulai membaik yakni rasio lancar sebesar 137 % atau 1,37 kali dan rasio cepat sebesar 131 % atau 1,31 kali. Naiknya rasio likuiditas dipengaruhi oleh karena di samping pengembalian pinjaman (kredit) dari non anggota walaupun masih rendah jumlahnya, juga disebabkan karena kebijakan pengurus untuk lebih efektif dalam pengadaan barang-barang kebutuhan anggota. Jika dibandingkan dengan rasio standar yang ditetapkan oleh Dinas (departemen) Koperasi, maka rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” sudah tergolong baik. Namun jika dibandingkan dengan rasio-rasio industri, maka rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” masih tergolong rendah. Pada tahun buku 2010 rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” semakin membaik yakni rasio lancar 234 % (2,34 kali), sedangkan rasio cepatnya sebesar 216 % (2,16 kali). Membaiknya rasio likuiditas disebabkan karena piutang kepada non anggota semakin berkurang, juga karena akumulasi modal dari anggota (simpanan wajib) yang bertumbuh setiap bulan, serta usaha-usaha baik usaha simpan pinjam (perkreditan) dan volume penjualan koperasi semakin meningkat. Selain dari perbaikan usaha pengurus juga senantiasa menjaga agar beban usaha koperasi tidak terlalu tinggi. Pada tahun buku 2011
rasio likuiditas semakin membaik yakni rasio lancar 350 % (3,50 kali) sedangkan rasio cepat sebesar 327 % (3,27 kali). Membaiknya rasio likuiditas KPN
”HARAPAN BERSAMA” disebabkan karena
pengembalian/pembayaran kredit (pinjaman) dari non anggota yang jumlahnya cukup besar, juga karena diversifikasi kebutuhan anggota yang disediakan oleh KPN ”HARAPAN BERSAMA” semakin nampak. Barang-barang elektronik sudah dapat ditingkatkan untuk memenuhi barang-barang kebutuhan anggota sudah dapat dipastikan, sehingga kegiatan operasional koperasi secara berangsur-angsur hidup dan memberi kepuasan kepada anggota. Rasio likuiditas KPN ”HARAPAN BERSAMA” telah melampaui rasio-rasio standar koperasi; demikian halnya dengan rasio-rasio industri atau di atas 200 %.
b. Rasio solvabilitas atau leverage KPN ”HARAPAN BERSAMA” pada tahun 2008 sangat rendah yakni 115 %, artinya setiap Rp. 1 hutang hanya dijamin dengan aktiva Rp. 1,15. pada tahun buku 2008 KPN ”HARAPAN BERSAMA” Sekretariat Daerah Kabupaten Bulungan benar-benar kurang sehat. Besarnya hutang mencapai 86 % dari total aktiva. Alternatif yang harus ditempuh pengurus untuk menghindari keadaan insolvabel adalah mengurangi hutang untuk tahun buku berikutnya, dan meningkatkan penagihan kepada peminjam yang berasal dari non anggota. Pada tahun buku 2009 rasio solvabilitas KPN ”HARAPAN BERSAMA” cenderung naik, yakni mencapai 140 %, sudah baik jika rasio standar (tertimbang) dari Departemen
Koperasi yang besarnya 110 %, tetapi rendah jika dibandingkan dengan rasio-rasio industri yaitu 200 %. Pada tahun buku 2010 dan 2011, rasio solvabilitas atau leverage KPN ”HARAPAN BERSAMA” semakin membaik, yaitu 254 % (2010) dan 384 % (2011). Sedangkan rasio hutang masing-masing sebesar 39,33 % (2010) dan 26 % pada tahun buku 2011. rendahnya rasio hutang tersebut menunjukkan bahwa hutang-hutang KPN ”HARAPAN BERSAMA” sangat aman dan mudah dikembalikan.
c. Rasio aktifitas KPN ”HARAPAN BERSAMA” selama tahun 2008 sampai dengan tahun buku 2011 relatif stabil, atau cukup baik. Khusus untuk tahun buku 2008 rasio aktivitas mencapai 5,98 kali, karena volume penjualan memang cukup tinggi khususnya pada barang-barang kebutuhan anggota yang tergolong kebutuhan sehari-hari (sembilan bahan pokok). Pada tahun buku 2009 rasio aktifitas 2,57 kali, demikian halnya pada tahun buku 2010 dan tahun buku 2000 rasio aktifitas masing-masing sebesar 3,70 kali dan 3,81 kali. Rasio-rasio tersebut menyimpan persediaan dalam jumlah besar atau berlebihan. Pada prinsipnya bahwa untuk koperasi tidak perlu menyimpan persediaan dalam jumlah besar karena hal itu tidak produktif. Di samping hal tersebut anggota sebagai konsumen atau pelanggan di koperasi sangat membutuhkan barang-barang yang relatif baru, sehingga kalau menyimpan barang-barang cukup lama di koperasi kemungkinan untuk tidak laku. Rasio-rasio industri yaitu 2,50 kali berarti rasio efektivitas KPN ”HARAPAN BERSAMA”
termasuk baik artinya selama 4 tahun lebih tinggi dari rasio industri.
d. Rasio profitabilitas atau rentabilitas.
- Rasio ini dinyatakan sebagai margin laba bersih atas penjualan mempunyai kecenderungan semakin tinggi dari tahun ke tahun (2008 – 2011), dimana pada tahun buku 2008 sebesar 6 %, pada tahun buku 2009 sebesar 16 %, pada tahun buku 2010 sebesar 37,8 % dan pada tahun buku 2011 sebesar 52,6 %. Margin laba atas penjualan pada tahun buku 2008 tergolong rendah (6 %) hal itu disebabkan karena adanya piutang ke non anggota yang tergolong tidak
efektif pengembaliannya sehingga
mempengaruhi kegiatan operasi koperasi. Di samping hal tersebut, juga merupakan tahun-tahun awal krisis moneter sehingga kepastian harga barang-barang kebutuhan anggota sulit untuk ditanggulangi dalam jangka pendek. Berbeda halnya pada tahun buku berikutnya 2009, 2010 dan tahun buku 2011, walaupun harga barang-barang masih berfluktuasi, namun dapat dengan mudah untuk disesuaikan. Bila dibandingkan dengan rasio industri yaitu 50 % maka dapat dikatakan bahwa laba (SHU) per rupiah penjualan cukup baik (2008) dan berangsur-angsur semakin baik untuk tahun buku 2008 sampai dengan tahun buku 2011. - Sedangkan untuk rasio yang dinyatakan sebagai
”HARAPAN BERSAMA” ada kencederungan semakin membaik dari tahun ke tahun. Walaupun pada tahun 2008 dan tahun buku 2010 cukup rendah yakni hanya 3,6 % dan 5,2 %. Rendahnya hasil pengembalian atas modal pada tahun 2008 dan tahun 2009 adalah akibat dari piutang dari non anggota yang tidak lancar pengembaliannya dan juga akibat dari fluktuasi harga-harga barang yang tidak menentu. Sedangkan pada tahun buku 2010 dan tahun buku 2011 mengalami kenaikan tajam yang diakibatkan dari adanya pengembalian pinjaman (kredit) dari non anggota yang cukup besar dan kebijakan pengurus dan pengelola dalam penataan unit-unit usaha koperasi yang meliputi baik sistem peminjaman (kredit) baik kepada anggota maupun terhadap non anggota dibanding dengan unit simpan pinjam, sedangkan untuk unit usaha pertokoan diadakan penganekaragaman barang-barang yang dapat menyentuh langsung kebutuhan anggota. Sedangkan barang-barang yang relatif mahal harganya ditangguhkan kembali sementara sambil menunggu stabilnya harga barang-barang (harga pasar).